Orang yang Gagal Terapkan Norma Disebut Penyimpangan Sosial, sebuah frasa yang sering kita dengar namun mungkin belum sepenuhnya kita pahami maknanya. Dalam kehidupan bermasyarakat, aturan tak tertulis dan nilai-nilai yang berlaku berperan sebagai perekat sosial, menciptakan keteraturan dan harapan tentang bagaimana seharusnya seseorang bersikap. Ketika seseorang tidak dapat atau memilih untuk tidak mengikuti norma-norma yang telah disepakati bersama inilah, maka muncullah apa yang dalam sudut pandang sosiologis dikenal sebagai penyimpangan sosial.
Penyimpangan sosial bukanlah sekadar tentang pelanggaran hukum yang berujung pidana, melainkan sebuah spektrum perilaku yang luas. Mulai dari hal-hal yang dianggap sepele seperti datang terlambat ke pertemuan, hingga tindakan yang lebih serius seperti penganiayaan. Pemahaman terhadap konsep ini penting karena ia adalah cermin dinamika masyarakat, menunjukkan bagaimana nilai berubah, bagaimana kontrol sosial bekerja, dan bagaimana sebuah komunitas mendefinisikan dirinya sendiri melalui apa yang mereka anggap normal dan tidak normal.
Pengertian Dasar dan Konsep Terkait
Memahami mengapa seseorang disebut gagal dalam menerapkan norma dan dianggap sebagai penyimpangan sosial memerlukan pembedaan yang jelas antara beberapa konsep sosiologi dasar. Istilah-istilah ini sering kali tertukar dalam percakapan sehari-hari, padahal masing-masing memiliki makna dan konteks yang spesifik. Landasan pemahaman ini penting untuk melihat fenomena sosial bukan sekadar hitam putih, tetapi dengan nuansa yang lebih dalam.
Penyimpangan sosial, atau social deviance, dalam kajian sosiologi merujuk pada setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma yang diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Perilaku ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap aturan sosial yang telah mapan, terlepas dari apakah pelanggaran tersebut bersifat formal (melanggar hukum) atau non-formal (melanggar adat istiadat). Intinya, penyimpangan sosial adalah sebuah label yang diberikan masyarakat kepada tindakan yang dianggap keluar dari batas normalitas yang disepakati.
Perbedaan Norma Sosial, Nilai Sosial, dan Penyimpangan Sosial
Ketiga konsep ini saling berkaitan namun memiliki peran yang berbeda dalam mengatur masyarakat. Nilai sosial adalah keyakinan kolektif tentang apa yang dianggap baik, diinginkan, dan penting. Misalnya, masyarakat menjunjung tinggi nilai kejujuran. Norma sosial adalah aturan-aturan spesifik dan nyata yang lahir dari nilai-nilai tersebut, yang menjadi pedoman perilaku. Contoh norma yang lahir dari nilai kejujuran adalah “dilarang mencuri” atau “wajib mengembalikan barang yang dipinjam”.
Sementara itu, penyimpangan sosial adalah tindakan yang melanggar norma-norma tersebut. Sebagai contoh konkret, seorang siswa yang menyontek dalam ujian (penyimpangan sosial) telah melanggar norma akademik tentang kejujuran (norma sosial) yang bersumber dari nilai kejujuran (nilai sosial).
Faktor Kegagalan Menerapkan Norma
Kegagalan seseorang dalam menerapkan norma bukanlah fenomena yang terjadi dalam ruang hampa. Banyak faktor yang berperan, mulai dari tekanan internal hingga pengaruh eksternal yang kompleks. Faktor-faktor ini dapat bersifat individual, seperti kondisi psikologis, kurangnya pemahaman, atau pemberontakan terhadap aturan. Di sisi lain, faktor sosial seperti pergaulan dengan kelompok menyimpang, ketidakkonsistenan dalam penegakan norma, atau bahkan konflik antara norma yang berbeda dalam masyarakat juga dapat mendorong seseorang untuk berperilaku menyimpang.
Penyimpangan Sosial dan Tindakan Kriminal
Penting untuk ditekankan bahwa tidak semua penyimpangan sosial adalah tindakan kriminal. Tindakan kriminal adalah subset khusus dari penyimpangan sosial yang secara formal telah dilarang oleh hukum tertulis. Sementara itu, banyak penyimpangan sosial yang bersifat non-formal. Misalnya, mengenakan pakaian yang tidak lazim ke suatu acara resmi mungkin dianggap menyimpang dan mendapat cibiran sosial, tetapi hal itu bukanlah sebuah kejahatan. Demikian pula, pada masa lalu, tindakan yang sekarang dianggap kriminal seperti perdagangan manusia mungkin pernah dianggap sebagai norma di beberapa kebudayaan.
Perbandingan Perilaku Menyimpang Primer dan Sekunder
Sosiolog Edwin Lemert membedakan dua tingkat penyimpangan. Penyimpangan primer bersifat sementara dan sporadis, dimana pelaku masih diterima oleh masyarakat dan tidak mengidentifikasi dirinya sebagai seorang penyimpang. Sebaliknya, penyimpangan sekunder terjadi ketika individu tersebut menerima label “penyimpang” dan mulai menjadikan perilaku menyimpang tersebut sebagai gaya hidupnya.
| Aspek | Penyimpangan Primer | Penyimpangan Sekunder |
|---|---|---|
| Sifat | Sementara, spontan, atau tidak terencana | Berkelanjutan dan menjadi pola hidup |
| Identitas Diri | Pelaku tidak mengidentifikasi sebagai penyimpang | Pelaku menginternalisasi label sebagai penyimpang |
| Reaksi Masyarakat | Ringan, bisa dimaafkan, dianggap kesalahan biasa | Kuat, berupa stigma dan pengucilan sosial |
| Contoh | Siswa yang sekali waktu menyontek | Seseorang yang bergabung dengan geng kriminal |
Bentuk-Bentuk Penyimpangan Sosial
Penyimpangan sosial hadir dalam berbagai bentuk dan tingkat intensitas, mulai dari hal-hal yang dianggap sepele hingga yang mengancam tatanan sosial. Kategorisasi ini membantu kita untuk tidak menyamaratakan semua perilaku menyimpang, melainkan melihatnya dalam sebuah spektrum yang luas. Setiap lingkungan sosial juga memiliki standar normalitasnya sendiri, sehingga suatu perilaku bisa dianggap wajar di satu tempat tetapi menjadi penyimpangan serius di tempat lain.
Tingkatan dan Contoh Penyimpangan Sosial
Berdasarkan tingkatannya, penyimpangan sosial dapat dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Penyimpangan ringan sering kali hanya melanggar norma kesopanan atau kebiasaan, seperti bersendawa keras di tempat umum atau datang terlambat tanpa alasan yang jelas. Penyimpangan tingkat menengah mencakup pelanggaran yang sudah mulai mengganggu ketertiban, seperti perundungan ( bullying) atau penyebaran gosip. Sementara itu, penyimpangan berat melibatkan pelanggaran terhadap hukum pidana, seperti pencurian, penganiayaan, atau korupsi, yang dampaknya sangat merugikan masyarakat.
Penyimpangan dalam Berbagai Lingkungan
Source: kompas.com
Konteks lingkungan sangat menentukan definisi dari sebuah penyimpangan. Di lingkungan keluarga, membantah perintah orang tua atau mengabaikan tanggung jawab rumah dapat dianggap menyimpang. Di sekolah, perilaku seperti membolos, mencontek, atau tidak menghormati guru adalah bentuk penyimpangan terhadap norma akademik. Dalam masyarakat luas, penyimpangan dapat berupa vandalisme, ujaran kebencian, atau tidak mengikuti prosedur hukum yang berlaku. Setiap lingkungan ini memiliki mekanisme kontrol sosialnya masing-masing untuk mengatasi perilaku-perilaku tersebut.
Perubahan Persepsi terhadap Penyimpangan
Suatu perilaku yang dianggap menyimpang tidak selamanya akan tetap begitu. Norma masyarakat bersifat dinamis dan terus berevolusi seiring waktu. Perilaku yang dahulu tabu, seperti hubungan pra-nikah atau tattoo yang meluas, mungkin masih dianggap menyimpang oleh sebagian kelompok, tetapi tingkat penerimaannya secara sosial telah berubah drastis. Sebaliknya, perilaku seperti merokok di tempat umum yang dahulu dianggap normal, kini justru dilihat sebagai penyimpangan terhadap norma kesehatan di banyak negara.
Penyimpangan Individu dan Kelompok
Penyimpangan dapat dilakukan secara soliter maupun secara kolektif. Penyimpangan individu adalah perilaku yang dilakukan oleh seseorang sendiri yang melanggar norma, sementara penyimpangan kelompok dilakukan oleh sekumpulan orang yang memiliki kesepakatan untuk melanggar norma tertentu.
- Penyimpangan Individu: Seorang anak yang mencuri uang dari dompet orang tuanya, seorang karyawan yang memanipulasi data laporan, atau seorang pejalan kaki yang melanggar lampu merah.
- Penyimpangan Kelompok: Aksi tawuran antar pelajar, praktik korupsi yang terstruktur dalam suatu instansi, atau budaya bullying yang sistematis di suatu lingkungan kerja.
Penyimpangan Positif dan Negatif
Tidak semua penyimpangan berkonotasi buruk. Sosiologi juga mengenal adanya penyimpangan positif, yaitu perilaku yang meskipun melanggar norma yang berlaku, tetapi membawa dampak atau inovasi yang positif bagi masyarakat. Seorang ilmuwan yang menentang teori arus utama dengan penemuannya yang revolusioner pada awalnya mungkin dianggap menyimpang, tetapi akhirnya mengubah dunia menjadi lebih baik. Di sisi lain, penyimpangan negatif adalah pelanggaran norma yang memang merugikan, seperti penipuan atau kekerasan.
Dampaknya bagi masyarakat pun berbeda; penyimpangan positif dapat mendorong kemajuan, sedangkan penyimpangan negatif mengakibatkan kerusakan, ketakutan, dan disintegrasi sosial.
Dampak dan Implikasi dari Penyimpangan Sosial
Perilaku menyimpang bukanlah sebuah insiden yang berdiri sendiri. Ia bagai batu yang dilempar ke kolam, menciptakan riak-riak dampak yang menjalar dan memengaruhi banyak pihak, mulai dari pelaku langsung, korban, hingga struktur masyarakat secara keseluruhan. Memetakan dampak-dampak ini penting untuk merancang respons yang tepat, bukan hanya untuk menghukum, tetapi juga untuk memulihkan.
Dampak Multidimensi Perilaku Menyimpang, Orang yang Gagal Terapkan Norma Disebut Penyimpangan Sosial
Dampak dari sebuah penyimpangan sosial bersifat multidimensi. Bagi pelaku, konsekuensinya bisa berupa sanksi hukum, dikucilkan secara sosial, atau menerima stigma yang melekat lama. Bagi korban, dampaknya bisa fisik, psikologis, dan material, seperti trauma, kerugian finansial, atau rasa tidak aman. Bagi masyarakat luas, perilaku menyimpang yang meluas dapat mengikis rasa percaya, mengganggu ketertiban, dan bahkan mengancam stabilitas sosial jika tidak dikelola dengan baik.
Namun, secara paradoks, penyimpangan juga dapat memperkuat kohesi sosial dengan mempertegas batas antara perilaku yang dapat diterima dan yang tidak.
Mekanisme Pemberian Stigma Sosial
Proses pemberian label atau stigma adalah respons masyarakat terhadap penyimpangan. Mekanisme ini dimulai ketika masyarakat mengidentifikasi suatu tindakan sebagai menyimpang, kemudian memberikan cap atau label kepada pelakunya, seperti “pencuri”, “pembohong”, atau “anak nakal”. Label ini sering kali menjadi master status, yaitu status yang mengesampingkan semua identitas lain yang dimiliki seseorang. Seorang dokter yang tertangkap melakukan kejahatan, misalnya, mungkin akan lebih dikenal sebagai “dokter nakal” daripada sebagai seorang ayah atau anggota komunitasnya.
Stigma ini kemudian mempersulit pelaku untuk kembali ke kehidupan normal.
Fungsi Kontrol Sosial
Masyarakat tidak tinggal diam menghadapi penyimpangan. Kontrol sosial adalah segenap cara dan proses yang digunakan masyarakat untuk mengajak, mendorong, atau bahkan memaksa anggotanya untuk mematuhi nilai dan norma yang berlaku. Kontrol sosial dapat bersifat preventif, seperti sosialisasi dan pendidikan, yang bertujuan mencegah terjadinya penyimpangan. Ia juga dapat bersifat represif, seperti pemberian sanksi, hukuman, atau cercaan, yang bertujuan untuk menghentikan penyimpangan yang sedang terjadi dan mencegah pengulangannya.
Kontrol ini dijalankan oleh berbagai lembaga, mulai dari keluarga, sekolah, hingga aparat penegak hukum.
Pandangan Durkheim tentang Penyimpangan
Emile Durkheim, salah satu bapak sosiologi, memiliki pandangan yang unik tentang penyimpangan. Ia berargumen bahwa penyimpangan bukanlah sesuatu yang patologis atau abnormal, melainkan sesuatu yang tidak terhindarkan dan bahkan fungsional bagi masyarakat.
Dalam kajian sosiologi, individu yang gagal menerapkan norma disebut sebagai penyimpangan sosial—sebuah fenomena kompleks yang layak dipahami lebih dalam. Nah, kalau lo penasaran gimana tokoh-tokoh besar mengelola tekanan sosial hingga tak terjatuh dalam deviasi, lo harus baca Buku Biografi Itu. Di sana, kita belajar bahwa penyimpangan sering berawal dari kegagalan menginternalisasi nilai, bukan sekadar melanggar aturan.
“Tidak ada masyarakat yang imun terhadap penyimpangan. Bahkan, dalam sebuah masyarakat dimana kejahatan telah hilang sama sekali, penyimpangan sekecil apapun akan menimbulkan kegemparan yang luar biasa. Oleh karena itu, penyimpangan diperlukan; ia terkait erat dengan kondisi fundamental dari kehidupan sosial.”
Bagi Durkheim, penyimpangan berfungsi untuk memperjelas batas moral kolektif, memperkuat ikatan sosial di antara mereka yang menentang perilaku menyimpang, dan bahkan dapat mendorong perubahan sosial dengan menantang norma-norma usang.
Siklus Stigma dan Penyimpangan Berkelanjutan
Sebuah paradoks yang sering terjadi adalah bagaimana upaya kontrol sosial justru dapat memperparah penyimpangan melalui sebuah siklus yang dikenal sebagai labeling theory. Siklus ini dimulai ketika seorang individu melakukan penyimpangan primer. Masyarakat lalu memberinya stigma sebagai “penyimpang”. Stigma ini menyebabkan individu tersebut dikucilkan dari kelompok sosialnya yang normal. Akibatnya, satu-satunya komunitas yang menerimanya adalah komunitas penyimpang lainnya.
Di dalam komunitas baru inilah ia belajar nilai dan perilaku menyimpang yang lebih permanen, sehingga akhirnya ia menjalani penyimpangan sekunder. Dengan kata lain, label yang diberikan masyarakat justru mendorong seseorang untuk memenuhi ekspektasi dari label tersebut.
Studi Kasus dan Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari: Orang Yang Gagal Terapkan Norma Disebut Penyimpangan Sosial
Teori-teori sosiologi menjadi paling bermakna ketika diterjemahkan ke dalam konteks nyata. Melalui studi kasus dan contoh penerapan, kita dapat melihat bagaimana konsep-konsep seperti penyimpangan, stigma, dan reintegrasi bekerja dalam kehidupan kita sehari-hari, serta langkah-langkah praktis apa yang dapat diambil untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dan inklusif.
Studi Kasus: Reinventing Diri Setelah Sebuah Kesalahan
Bayangkan seorang remaja bernama Andi yang terbukti melakukan plagiarisme dalam sebuah lomba karya tulis nasional. Awalnya, ini adalah penyimpangan primer. Namun, reaksi di media sosial sangat keras; Andi diberi label “plagiator” dan “penipu”. Stigma ini membuatnya dikucilkan oleh teman-teman sebayanya dan dicoret dari berbagai kegiatan. Tertekan dan merasa tidak punya tempat lagi di komunitasnya, Andi justru semakin menarik diri.
Secara sosiologis, penyimpangan sosial terjadi ketika individu gagal menjalankan norma yang berlaku. Namun, menariknya, proses memahami penyimpangan ini bisa dianalogikan dengan cara kita mengapresiasi puisi , yaitu dengan mencari hubungannya dengan realitas kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kita tak hanya melihat pelanggaran norma sebagai kesalahan hitam putih, tetapi juga bisa menganalisis akar masalahnya secara lebih mendalam dan kontekstual.
Kasus ini menunjukkan bagaimana respons publik yang berlebihan tanpa jalur rehabilitasi dapat memicu seorang anak yang melakukan kesalahan untuk terkunci dalam identitas sebagai penyimpang.
Langkah Reintegrasi Sosial bagi Pelaku Penyimpangan
Masyarakat memiliki peran kunci dalam memutus siklus stigma. Reintegrasi sosial adalah proses untuk menerima kembali mantan pelaku penyimpangan ke dalam komunitas setelah mereka menyelesaikan masa hukum atau menunjukkan penyesalan. Langkah-langkahnya meliputi memberikan kesempatan kedua, misalnya dalam pekerjaan atau pendidikan, tanpa terus-menerus mengungkit kesalahan masa lalu. Komunitas juga dapat membentuk program mentoring atau dukungan kelompok yang memfasilitasi proses ini. Kuncinya adalah memisahkan pelaku dari perbuatannya; mengutuk perbuatannya, tetapi tidak mengutuk orangnya selamanya.
Perbandingan Pendekatan Penal dan Non-Penal
Dalam menangani penyimpangan, terutama yang berat, terdapat dua pendekatan utama. Pendekatan penal (hukum) bersifat represif dan berfokus pada pemberian hukuman, seperti penjara atau denda, untuk menimbulkan efek jera. Sementara pendekatan non-penal bersifat preventif dan rehabilitatif, berfokus pada addressing akar masalahnya. Pendekatan ini mencakup konseling, pendidikan karakter, pelatihan keterampilan, dan restorative justice yang mempertemukan pelaku dan korban untuk mencari penyelesaian. Untuk penyimpangan ringan dan menengah, pendekatan non-penal sering kali lebih efektif dalam mencegah pengulangan dibandingkan hanya mengandalkan hukuman.
Proses Terjadinya Penyimpangan Sosial pada Remaja
Masa remaja adalah periode pencarian identitas yang rentan terhadap penyimpangan sosial. Prosesnya seringkali dimulai dari rasa ingin tahu dan tekanan dari teman sebaya ( peer pressure). Seorang remaja mungkin mencoba merokok atau minum-minuman keras untuk diterima dalam suatu kelompok. Jika perilaku ini tidak segera dikoreksi oleh figur otoritas, baik orang tua maupun guru, dan justru mendapat penguatan dari kelompoknya, ia dapat berlanjut menjadi kebiasaan.
Kegagalan di akademik atau kurangnya perhatian di rumah juga dapat mendorong remaja mencari pengakuan dan rasa memiliki melalui perilaku menyimpang, seperti bergabung dengan geng yang memberikannya rasa hormat dan perlindungan.
Pencegahan Penyimpangan Sosial di Institusi Pendidikan
Sekolah sebagai microcosm masyarakat memiliki tanggung jawab besar dalam pencegahan penyimpangan sosial. Langkah-langkah yang dapat diterapkan bersifat komprehensif dan integratif.
- Penguatan Pendidikan Karakter: Mengintegrasikan nilai-nilai anti-korupsi, kejujuran, dan empati dalam kurikulum sehari-hari, bukan hanya sebagai materi hafalan.
- Menciptakan Iklim Sekolah yang Inklusif: Meminimalisir praktik perundungan dengan program peer counseling dan memastikan setiap siswa merasa dilihat dan didengar.
- Keterbukaan Komunikasi: Menyediakan channel bagi siswa untuk melaporkan masalah atau mencari bantuan tanpa takut dihakimi.
- Restorative Practices: Mengalihkan pendekatan disiplin dari yang bersifat menghukum ( zero tolerance) ke yang memulihkan, seperti mediasi konflik antara pelaku dan korban untuk memahami dampak perbuatannya.
- Kemitraan dengan Orang Tua: Membangun komunikasi yang intensif dengan orang tua untuk memantau perkembangan anak secara holistik.
Kesimpulan
Pada akhirnya, menyimpulkan bahwa orang yang gagal terapkan norma disebut penyimpangan sosial hanyalah langkah awal. Esensi yang lebih dalam adalah memahami bahwa penyimpangan adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sosial, sebuah fenomena kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Daripada sekadar memberikan stigma, pendekatan yang lebih konstruktif adalah dengan melihat akar permasalahan, memperkuat sistem pendukung, dan membuka ruang dialog untuk reintegrasi.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi penonton atau hakim, tetapi juga bagian dari solusi untuk menciptakan keteraturan yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Kumpulan FAQ
Apakah semua penyimpangan sosial itu jahat atau merugikan?
Tidak. Ada konsep yang disebut penyimpangan positif, dimana perilaku yang menyimpang justru membawa dampak baik dan inovasi bagi masyarakat di masa depan, seperti para pelopor ilmu pengetahuan yang awalnya dianggap menentang norma.
Mengapa seseorang yang melanggar norma tidak selalu dihukum oleh hukum?
Karena ruang lingkup norma lebih luas daripada hukum. Hukum hanya mengatur pelanggaran-pelanggaran berat yang telah dikodifikasi. Sementara norma mencakup aturan tidak tertulis seperti sopan santun dan adat istiadat, yang sanksinya lebih berupa cemoohan atau pengucilan sosial.
Bagaimana cara membedakan antara kesalahan biasa dengan penyimpangan sosial?
Penyimpangan sosial bersifat repetitif dan dianggap sebagai pola perilaku yang tidak sesuai oleh masyarakat luas. Sementara kesalahan biasa bersifat insidental, tidak berulang, dan seringkali langsung disadari dan diperbaiki oleh pelakunya.
Apakah stigma sosial bisa memperparah penyimpangan?
Ya, sangat mungkin. Pemberian stigma yang keras dapat memicu efek “self-fulfilling prophecy”, dimana seorang pelaku penyimpangan primer akhirnya menerima label tersebut dan terus-menerus mengulangi perilaku menyimpangnya karena telah dikucilkan (penyimpangan sekunder).