Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur Titik Balik Sejarah Nusantara

Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur itu bukan sekadar pindah alamat kerajaan, lho. Bayangkan, seluruh tatanan politik, budaya, dan kehidupan sosial yang sudah berabad-abad berakar di Jawa Tengah tiba-tiba harus dibongkar pasang di tanah yang baru. Peristiwa monumental ini lebih dari migrasi fisik; ini adalah strategi survival, respons terhadap tekanan alam dan konflik, sekaligus babak baru yang membentuk wajah peradaban Jawa selanjutnya.

Narasi perpindahan ini penuh dengan drama kekuasaan, ketangguhan manusia, dan transformasi budaya yang meninggalkan jejak hingga kini.

Dari dataran subur di sekitar Yogyakarta dan Magelang, pusat gravitasi kekuasaan bergeser ke wilayah di sekitar Sungai Brantas. Perjalanan panjang keluarga kerajaan beserta abdi dan rakyatnya melintasi medan yang belum sepenuhnya terjamah, menandai akhir dari era pembangunan candi-candi megah seperti Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah. Di tanah timur, sebuah identitas baru mulai disusun, dengan pola pemerintahan, ekspresi seni, dan strategi geopolitik yang berbeda, membuka jalan bagi kemunculan kerajaan-kerajaan besar seperti Kediri, Singhasari, dan akhirnya Majapahit.

Latar Belakang dan Konteks Sejarah: Pemindahan Kerajaan Mataram Lama Ke Jawa Timur

Sebelum pusat kerajaan bergeser ke timur, Kerajaan Mataram Kuno atau Medang berjaya di dataran Jawa Tengah bagian selatan. Ibu kota yang berpusat di sekitar wilayah Yogyakarta dan Magelang sekarang ini meninggalkan warisan megah seperti Candi Borobudur dan Prambanan. Namun, di balik kemegahan arsitektur dan budaya, kerajaan ini menghadapi tekanan yang kompleks. Kehidupan politik dan sosial pada akhir abad ke-10 diguncang oleh serangkaian peristiwa yang akhirnya memaksa penguasa untuk mencari tanah baru.

Faktor pendorong perpindahan ini bersifat multidimensi. Bencana alam, khususnya letusan gunung berapi yang masif, diduga kuat menjadi pemicu utama. Erupsi Gunung Merapi pada periode itu bukan hanya mengancam keselamatan, tetapi juga merusak lahan pertanian dan infrastruktur vital. Di sisi lain, konflik internal perebutan takhta dan melemahnya otoritas pusat turut memperkeruh situasi. Tekanan dari luar, meski kurang terdokumentasi secara detail, juga mungkin muncul dari dinamika perdagangan dan kekuatan maritim yang mulai menguat.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat keputusan untuk bermigrasi ke timur menjadi sebuah keniscayaan strategis.

Garis Waktu Penting Perpindahan Kerajaan, Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur

Transisi kekuasaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur bukanlah peristiwa yang terjadi dalam semalam, melainkan sebuah proses yang berlangsung dalam kurun waktu beberapa dekade. Garis waktu berikut merangkum momen-momen kunci dalam perjalanan panjang tersebut.

  • Akhir Abad ke-10 (sekitar 928-929 M): Raja Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan dari Medang di Jawa Tengah ke wilayah di sekitar Sungai Brantas, Jawa Timur. Peristiwa ini sering dianggap sebagai titik awal resmi.
  • Periode Awal Abad ke-11: Konsolidasi kekuasaan di Jawa Timur di bawah Dinasti Isyana (Wangsa Isyana) yang didirikan oleh Mpu Sindok. Pembangunan kompleks percandian baru mulai dilakukan.
  • Pertengahan Abad ke-11: Puncak kekuasaan Airlangga, yang berhasil mempersatukan kembali kerajaan yang terpecah. Ia membangun ibu kota baru di Kahuripan dan melakukan modernisasi besar-besaran dalam tata kelola kerajaan.
  • Awal Abad ke-12: Sepeninggal Airlangga, kerajaan dibagi menjadi dua: Kadiri dan Janggala. Kadiri kemudian menjadi penerus utama warisan Mataram di Jawa Timur dan mengalami masa keemasan sastra.
BACA JUGA  Cerita Liburan ke Taman Flora Surabaya Oase Hijau di Kota

Proses dan Rute Perpindahan

Migrasi massal sebuah kerajaan beserta aparat birokrasi, kaum bangsawan, tentara, dan rakyatnya adalah sebuah operasi logistik yang luar biasa pada masanya. Perjalanan dari jantung Jawa Tengah menuju lembah Sungai Brantas di Jawa Timur diperkirakan melewati rute darat dan sungai. Keluarga kerajaan beserta pengawal utamanya mungkin melakukan perjalanan yang lebih cepat, sementara masyarakat umum yang membawa barang dan ternak bergerak dalam rombongan besar yang lambat, menyusuri jalur-jalur yang sudah dikenal atau membuka jalur baru.

Lokasi-lokasi strategis seperti pertemuan sungai, dataran tinggi yang aman dari banjir, dan wilayah yang subur menjadi titik persinggahan penting. Daerah seperti Madiun dan wilayah sekitar Gunung Wilis mungkin menjadi tempat perhentian sementara sebelum akhirnya menetap di daerah yang kini dikenal sebagai sekitar Jombang, Kediri, atau Sidoarjo. Pemilihan lokasi akhir sangat bergantung pada pertimbangan strategis pertahanan, kesuburan tanah, dan akses ke jaringan perdagangan.

Perbandingan Aspek dalam Perjalanan Migrasi

Proses migrasi ini melibatkan berbagai kelompok dengan tantangan dan cara perjalanan yang berbeda. Tabel berikut memberikan gambaran perbandingannya berdasarkan sumber sejarah dan kajian arkeologi.

Kelompok Masyarakat Moda Transportasi Dominan Tantangan Utama Perkiraan Waktu Tempuh
Keluarga Kerajaan & Bangsawan Tandu, kuda, kereta berkuda Keamanan dari pemberontakan atau penyergapan, kenyamanan selama perjalanan. Beberapa minggu hingga sebulan
Pasukan & Pengawal Berjalan kaki, kuda Mengamankan rombongan panjang, mencari sumber air dan makanan di jalur yang mungkin belum sepenuhnya aman. Mengikuti kecepatan rombongan utama
Pendeta & Ahli Agama Tandu, berjalan kaki Menyelamatkan naskah-naskah suci, benda ritual, dan menjaga kesinambungan upacara keagamaan selama di perjalanan. Mengikuti kecepatan rombongan utama
Rakyat Jelata & Pengrajin Berjalan kaki, gerobak dorong/tarik Membawa alat hidup dan ternak, ketahanan fisik, ancaman penyakit, keterbatasan logistik. Beberapa bulan, dengan banyak persinggahan

Dampak terhadap Struktur Kekuasaan dan Birokrasi

Pemindahan ibu kota bukan sekadar pindah alamat, melainkan momentum untuk menata ulang kontrak sosial antara raja dan kerajaannya. Di lokasi baru, legitimasi Mpu Sindok sebagai penerus takhta harus ditegaskan kembali. Ia melakukan ini dengan cerdik melalui prasasti-prasasti yang menegaskan hubungannya dengan penguasa sebelumnya, sambil sekaligus menampilkan diri sebagai pemimpin baru yang membawa harapan dan perlindungan di tanah yang baru. Legitimasi itu diperkuat dengan dukungan dari para brahmana dan elit lokal yang telah lebih dulu bermukim di Jawa Timur.

Struktur birokrasi pun beradaptasi. Wilayah baru di Jawa Timur memiliki karakter geografis dan sosial yang berbeda. Lembah Sungai Brantas yang subur namun rentan banjir memerlukan pengelolaan air yang lebih terpusat dan masif. Kerajaan kemudian mengembangkan sistem simā (tanah perdikan) yang diberikan kepada komunitas keagamaan untuk membuka lahan dan mengelola sumber daya, yang sekaligus menjadi cara untuk mengintegrasikan wilayah dan populasi baru ke dalam administrasi kerajaan.

Model ini terbukti efektif dalam memperluas pengaruh negara ke daerah-daerah pedalaman.

Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur kerap dibahas sebagai peristiwa politik dan strategis murni. Namun, jika kita tilik lebih dalam, narasi perpindahan ini juga mengandung unsur cerita rakyat yang membentuk memori kolektif, mirip dengan bagaimana kita mengkategorikan Dongeng Sang Kancil termasuk legenda, epos, fabel, atau sage. Analisis terhadap kedua warisan budaya ini—yang satu sejarah faktual, yang lain cerita moral—justru memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana sebuah peradaban besar seperti Mataram terus bertransformasi dan meninggalkan jejaknya.

BACA JUGA  Penempatan Baris Puisi yang Tepat Rahasia Struktur dan Makna

Adaptasi dalam Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan mengalami penyempurnaan pasca relokasi. Hierarki kerajaan tetap mempertahankan pola tradisional dengan raja di puncak, diikuti oleh para rakryan (pejabat tinggi), dan para watěk (kepala daerah). Namun, di Jawa Timur terjadi konsolidasi kekuasaan yang lebih kuat di tangan raja dalam mengatur perdagangan dan logistik, terutama yang terkait dengan pelabuhan. Jabatan-jabatan baru yang berkaitan dengan pengelolaan sungai, pelabuhan (bandar), dan perdagangan antar-pulau mulai mendapatkan porsi yang lebih penting dalam struktur birokrasi, mencerminkan pergeseran orientasi ekonomi kerajaan.

Transformasi Budaya dan Arsitektur

Perpindahan ke Jawa Timur menandai babak baru dalam ekspresi budaya material kerajaan. Jika di Jawa Tengah seni dan arsitektur ditandai dengan monumentalisasi yang agung, simetris, dan penuh dengan relief naratif yang detail seperti pada Borobudur, maka di Jawa Timur awal terjadi proses transformasi. Ciri-cirinya mulai bergeser menuju bentuk yang lebih ramping, vertikal, dan dengan hiasan yang cenderung lebih simbolis. Bahan baku juga berubah, dari penggunaan batu andesit besar di Jawa Tengah ke bata merah yang lebih dominan di Jawa Timur, meski tetap dengan alas batu andesit.

Candi-candi yang dibangun pada fase awal pemukiman di Jawa Timur, seperti kelompok Candi Gunung Gangsir di Porong atau Candi Lor di Nganjuk, menunjukkan karakter transisi ini. Candi-candi ini seringkali lebih sederhana, menggunakan bata, dan memiliki bentuk tubuh yang tinggi dengan atap bertingkat. Relief yang ada tidak lagi mengisahkan epik panjang, tetapi lebih menampilkan figur-figur simbolis seperti makara atau kinara-kinari. Perubahan ini bukan semata soal estetika, tetapi juga adaptasi terhadap bahan lokal, kondisi tanah, dan mungkin pula perubahan dalam fokus ritual keagamaan.

Suasana Pembangunan Ibu Kota Baru

Semangat membangun dan harapan di tanah baru terekam dalam beberapa prasasti. Salah satu semangat itu tergambar dari kutipan prasasti Mpu Sindok berikut, yang menggambarkan perintah untuk membangun sebuah tempat suci.

“… maka diperintahkanlah kepada semua orang yang berkewajiban, agar bersama-sama membangun sebuah lingga di perbukitan setiap tahunnya, di mana tanahnya subur dan airnya melimpah, sebagai tempat pemujaan yang akan membawa kesejahteraan bagi seluruh negeri…”

Kutipan ini mengesankan sebuah proyek kolektif yang ditujukan untuk menancapkan keberadaan dan memohon berkah di wilayah yang baru ditinggali. Pilihan kata “tanahnya subur dan airnya melimpah” juga menunjukkan pertimbangan praktis sekaligus rasa syukur atas kondisi geografis lokasi baru tersebut.

Interaksi dengan Kekuatan Regional dan Warisan

Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur

Source: slidesharecdn.com

Keberadaan di Jawa Timur membawa Kerajaan Medang yang baru ke dalam peta politik dan ekonomi yang berbeda. Mereka kini berinteraksi lebih intens dengan kekuatan-kuatan maritim di Nusantara bagian timur, seperti Sriwijaya yang pengaruhnya masih kuat, serta kerajaan-kerajaan di Bali dan Kalimantan. Hubungan ini berlangsung dalam dinamika yang kompleks, mencakup diplomasi, pertukaran budaya, dan juga persaingan. Pernikahan politik, seperti yang dilakukan Airlangga yang menikahi putri dari Bali, menjadi strategi untuk memperkuat aliansi dan legitimasi.

Warisan permanen dari pemindahan ini masih dapat kita telusuri hingga kini. Nama-nama wilayah seperti Kediri, Jombang, dan Malang yang berkembang dari pusat-pusat kekuasaan masa lalu adalah warisan langsung. Tradiisi sastra Jawa Kuno mencapai puncaknya di era Kerajaan Kadiri, dengan karya-karya seperti Kakawin Bharatayuddha. Silsilah banyak kerajaan di Jawa Timur kemudian, termasuk Majapahit, mengaku sebagai penerus sah dari garis Mpu Sindok dan Airlangga, menunjukkan betapa kuatnya warisan legitimasi yang ditinggalkan.

BACA JUGA  Perbandingan Trigonometri Kosekan untuk Sudut Lancip dengan tan a = 1/2

Inovasi Pasca Relokasi

Menghadapi lingkungan baru, kerajaan mengembangkan sejumlah terobosan penting dalam berbagai bidang untuk memastikan kelangsungan dan kejayaannya.

Pemindahan Kerajaan Mataram Lama ke Jawa Timur pada abad ke-10 bukan sekadar pindah alamat, tapi perhitungan strategis yang matang, mirip dengan analisis rasio keuangan dalam soal Uang Dina dan Santi 4:5, Dina Rp80.000, jumlah. Jika Dina punya Rp80.000, totalnya bisa dihitung; begitu pula keputusan Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan, ia menghitung total risiko dan peluang demi kelangsungan dinasti di tanah baru yang lebih menjanjikan.

  • Pertanian: Pengembangan sistem irigasi dan pengelolaan air yang lebih maju di lembah Brantas, yang memungkinkan intensifikasi pertanian padi dan mendukung pertumbuhan populasi.
  • Perdagangan: Kebijakan aktif mengembangkan bandar-bandar di hilir sungai (seperti Hujung Galuh, cikal bakal Surabaya) yang menjadi pintu gerbang perdagangan antar-pulau, meningkatkan peran kerajaan dalam jaringan rempah Nusantara.
  • Kemiliteran: Penguatan angkatan laut ( jong) untuk mengamankan jalur perdagangan dan wilayah pesisir, sekaligus mengimbangi kekuatan maritim kerajaan lain. Infanteri juga beradaptasi dengan medan baru yang lebih banyak dataran rendah dan aliran sungai.
  • Administrasi: Penyempurnaan sistem bagi hasil dan pungutan yang lebih teratur, serta penguatan peran prasasti sebagai alat hukum dan pengesahan kepemilikan tanah di wilayah kolonisasi baru.

Ringkasan Penutup

Jadi, kalau dipikir-pikir, pemindahan ini ibarat reset dan restart sebuah peradaban besar. Dari reruntuhan dan ketegangan di Jawa Tengah, lahir sebuah dinamika baru di Jawa Timur yang justru lebih gesit, lebih terbuka pada maritim, dan lebih adaptif. Warisannya bukan cuma ada di buku sejarah, tapi juga dalam nama-nama tempat, tradisi, dan bahkan dalam struktur politik Jawa yang terus berevolusi. Peristiwa ini mengajarkan satu hal: dalam sejarah, kejatuhan di satu tempat seringkali adalah batu pijakan untuk kebangkitan yang lebih gemilang di tempat lain.

Jejak Mataram Lama mungkin memudar di Jawa Tengah, tetapi roh dan pelajarannya hidup kembali dalam kemegahan yang berbeda di timur.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah pemindahan ini berarti Kerajaan Mataram Kuno runtuh?

Tidak sepenuhnya runtuh, tetapi mengalami transformasi mendalam. Inti pemerintahannya, otoritas raja, dan legitimasi dinastinya tetap berlanjut, namun dengan lokasi pusat, konteks geopolitik, dan ekspresi budaya yang baru. Lebih tepat disebut sebagai relokasi dan regenerasi kerajaan.

Benarkah letusan gunung berapi menjadi satu-satunya penyebab?

Letusan gunung (diduga Gunung Merapi) adalah faktor pendorong utama yang sangat signifikan karena merusak lahan pertanian dan permukiman. Namun, ini diperburuk oleh faktor lain seperti konflik perebutan takhta (perang saudara) dan kemungkinan tekanan dari Sriwijaya, membuat relokasi menjadi pilihan strategis.

Bagaimana nasib candi-candi besar di Jawa Tengah setelah ditinggalkan?

Candi-candi seperti Borobudur dan Prambanan tidak dihancurkan, tetapi secara bertahap ditinggalkan dan tertutup abu vulkanik serta semak belukar. Mereka tetap menjadi situs spiritual, tetapi pemeliharaan aktif dan pembangunan baru oleh pusat kerajaan terhenti, menggeser fokus pembangunan ke Jawa Timur.

Apakah semua penduduk Jawa Tengah ikut pindah?

Tidak. Migrasi besar-besaran terutama dilakukan oleh keluarga kerajaan, bangsawan, tentara, abdi dalem, dan para pengrajin atau ahli yang melekat pada istana. Masyarakat biasa di pedesaan banyak yang tetap tinggal dan melanjutkan hidup, meski mungkin di bawah pengaruh politik yang berubah.

Apa bukti sejarah langsung yang menceritakan peristiwa pemindahan ini?

Informasi utama berasal dari prasasti dan naskah kuno seperti Prasasti Pucangan (Calcuta Stone) yang menyebutkan perpindahan pusat kerajaan, serta kitab Pararaton dan Nagarakretagama yang memberikan narasi sejarah tentang periode transisi dan kerajaan-kerajaan penerus di Jawa Timur.

Leave a Comment