Penjelasan Pythagoras dan Cara Menghitung 8×36÷5+20÷2×37

Penjelasan Pythagoras dan Cara Menghitung 8×36÷5+20÷2×37 mungkin terdengar seperti gabungan dua dunia yang berbeda: satu tentang geometri klasik dan satunya lagi tentang aritmatika dasar. Tapi percayalah, di balik rumus segitiga siku-siku yang legendaris dan urutan operasi hitung yang bikin pusing, ada logika matematika yang sama-sama elegan dan terstruktur. Mari kita selami bagaimana teorema dari zaman Yunani kuno ini masih relevan dan bagaimana menyelesaikan perhitungan campuran dengan tepat, karena kedua hal ini adalah fondasi dari banyak pemecahan masalah.

Teorema Pythagoras, dengan rumus sederhana a² + b² = c², adalah alat fundamental untuk memahami hubungan spasial, mulai dari mengukur panjang tangga hingga menghitung jarak terpendek di peta. Sementara itu, ekspresi seperti 8×36÷5+20÷2×37 menguji pemahaman kita tentang aturan dasar operasi hitung atau yang sering disebut KABATAKU. Keduanya, meski tampak berbeda, sama-sama mengajarkan kita untuk berjalan selangkah demi selangkah, mengikuti prinsip yang benar, untuk sampai pada jawaban yang akurat.

Pengenalan Teorema Pythagoras: Penjelasan Pythagoras Dan Cara Menghitung 8×36÷5+20÷2×37

Sebelum kita terjun ke angka dan rumus, mari kita kenali dulu sosok di balik nama besar ini. Pythagoras adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani yang hidup sekitar abad ke-6 SM. Meskipun teorema ini sudah dikenal dan diterapkan oleh peradaban Babilonia dan Mesir kuno jauh sebelumnya, kontribusi Pythagoras dan sekolahnya terletak pada pembuktian matematis formal. Mereka mengubah pengetahuan praktis menjadi sebuah prinsip geometris universal yang kokoh.

Teorema Pythagoras secara sederhana menjelaskan hubungan khusus antara ketiga sisi pada sebuah segitiga siku-siku. Segitiga siku-siku adalah segitiga yang memiliki satu sudut tepat sebesar 90 derajat. Teorema ini menyatakan bahwa kuadrat dari panjang sisi miring (hipotenusa) sama dengan jumlah kuadrat dari panjang kedua sisi penyikunya (sisi yang membentuk sudut siku-siku). Dalam bahasa rumus, hubungan elegan ini ditulis sebagai:

a² + b² = c²

di mana c mewakili panjang sisi miring (hipotenusa), sementara a dan b adalah panjang kedua sisi penyiku.

Ilustrasi Segitiga Siku-Siku dan Hubungan Sisi-Sisinya

Bayangkan sebuah segitiga siku-siku yang digambar di atas kertas. Sisi alas (misalkan a) membentang horizontal, sisi tegak ( b) berdiri vertikal, dan keduanya bertemu membentuk sudut siku-siku di titik pertemuannya. Sisi miring atau hipotenusa ( c) adalah garis diagonal yang menghubungkan ujung dari sisi alas dengan ujung dari sisi tegak, membentuk sisi terpanjang dari ketiganya. Visualisasi ini adalah fondasi dari semua penerapan teorema Pythagoras.

Jika sisi alasnya 3 satuan dan sisi tegaknya 4 satuan, maka kuadrat sisi miring adalah 3² + 4² = 9 + 16 = 25. Akar kuadrat dari 25 adalah 5, sehingga panjang sisi miringnya adalah 5 satuan.

BACA JUGA  Menghitung Panjang Mikroskop Fokus 20 mm Okuler 5 cm Akomodasi 25 cm

Rumus Pythagoras dan perhitungan seperti 8×36÷5+20÷2×37 mengajarkan logika dan struktur yang ketat. Namun, ekspresi manusia tak selalu linear. Dalam pembacaan puisi, misalnya, ada Istilah gerakan tubuh dalam pembacaan puisi yang justru mengandalkan intuisi dan gestur. Kembali ke matematika, pemahaman mendalam tentang prinsip dasar—seperti teorema Pythagoras—adalah kunci untuk menyelesaikan perhitungan kompleks apa pun dengan presisi.

Penerapan Praktis Teorema Pythagoras

Teorema Pythagoras bukan sekadar teori di buku; ia hidup dalam berbagai aspek keseharian. Dari menghitung panjang tangga yang disandarkan ke dinding, menentukan jarak terpendek di peta, hingga merancang konstruksi bangunan, prinsip ini sangat berguna. Pemahaman tentang cara mencari sisi yang hilang adalah kunci memanfaatkannya.

Langkah Menghitung Panjang Sisi Miring

Misalkan kita mengetahui panjang kedua sisi penyiku sebuah segitiga siku-siku, yaitu 6 cm dan 8 cm. Untuk mencari panjang sisi miring (c), kita terapkan rumus a² + b² = c². Pertama, kuadratkan kedua sisi penyiku: 6² = 36 dan 8² =
64. Jumlahkan hasilnya: 36 + 64 =
100. Terakhir, cari akar kuadrat dari jumlah tersebut: √100 = 10.

Jadi, panjang sisi miringnya adalah 10 cm.

Langkah Mencari Panjang Sisi Penyiku

Bagaimana jika yang diketahui adalah sisi miring dan satu sisi penyiku? Misal, sisi miring (c) = 13 cm dan satu sisi penyiku (a) = 5 cm. Kita ingin mencari sisi penyiku lainnya (b). Rumusnya dimanipulasi menjadi b² = c²
-a². Hitung kuadrat dari sisi yang diketahui: 13² = 169 dan 5² =
25.

Kurangkan: 169 – 25 = 144. Akar kuadrat dari 144 adalah 12. Dengan demikian, panjang sisi penyiku yang belum diketahui adalah 12 cm.

Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Berikut adalah beberapa skenario nyata di mana Teorema Pythagoras memberikan solusi.

Situasi Variabel yang Diketahui Sisi yang Dicari Penerapan Rumus
Menyandarkan tangga ke dinding Jarak kaki tangga ke dinding (a), tinggi dinding (b) Panjang tangga (c) c = √(a² + b²)
Menghitung diagonal layar TV Panjang layar (a), lebar layar (b) Diagonal (c) c = √(a² + b²)
Menentukan jarak terpendek melintasi lapangan Panjang lapangan (a), lebar lapangan (b) Jarak diagonal (c) c = √(a² + b²)
Memastikan kecuraman atap Tinggi bubungan (b), setengah panjang bentang (a) Panjang kemiringan atap (c) c = √(a² + b²)

Analisis Ekspresi Matematika: 8×36÷5+20÷2×37

Matematika memiliki aturan main yang ketat, terutama saat berhadapan dengan ekspresi campuran. Aturan ini sering diingat dengan akronim KABATAKU (Kali, Bagi, Tambah, Kurang) atau BODMAS/PEMDAS dalam konteks internasional. Prinsipnya, operasi perkalian dan pembagian memiliki kedudukan yang sama dan dikerjakan dari kiri ke kanan, baru kemudian dilanjutkan dengan penjumlahan dan pengurangan yang juga dikerjakan dari kiri ke kanan.

Urutan Operasi Hitung yang Benar

Untuk menyelesaikan 8×36÷5+20÷2×37, kita harus mengabaikan naluri untuk berhitung secara berurutan dari kiri. Perkalian dan pembagian didahulukan sesuai urutan kemunculannya dari kiri ke kanan, sebelum melakukan penjumlahan.

Proses Perhitungan Langkah Demi Langkah

Mari kita uraikan perhitungannya dengan sistematis.

  1. Langkah 1: Kerjakan 8 × 36
    × 36 =

    288. Ekspresi sekarang menjadi

    288 ÷ 5 + 20 ÷ 2 × 37.

  2. Langkah 2: Kerjakan 288 ÷ 5
    ÷ 5 = 57.

    6. Ekspresi sekarang menjadi

    57.6 + 20 ÷ 2 × 37.

  3. Langkah 3: Kerjakan 20 ÷ 2
    ÷ 2 =

    10. Ekspresi sekarang menjadi

    57.6 + 10 × 37.

  4. Langkah 4: Kerjakan 10 × 37
    × 37 =

    370. Ekspresi sekarang menjadi

    57.6 + 370.

  5. Langkah 5: Kerjakan penjumlahan
    – 6 + 370 = 427.6.

Penyelesaian akhir dari ekspresi 8×36÷5+20÷2×37 adalah 427.6. Proses ini menegaskan bahwa tanpa mengikuti aturan operasi campuran, hasil yang diperoleh akan berbeda dan salah.

Hubungan antara Konsep Matematika Dasar dan Aljabar

Operasi dasar seperti perkalian, pembagian, dan penjumlahan yang baru saja kita terapkan adalah alfabet dari bahasa matematika. Teorema Pythagoras, yang terlihat sebagai konsep geometri, sebenarnya adalah anak kandung dari aljabar. Keduanya berbagi fondasi logika dan manipulasi simbol yang sama. Pemahaman kuat pada aritmatika dasar membuka jalan untuk memahami manipulasi aljabar dalam rumus seperti a² + b² = c².

Perbandingan Sifat Operasi Aritmatika dan Manipulasi Aljabar

Dalam ekspresi campuran 8×36÷5+20÷2×37, kita mematuhi hierarki operasi. Dalam rumus Pythagoras, kita melakukan hal serupa tetapi dengan variabel. Misalnya, untuk mencari a, kita memanipulasi rumus menjadi a = √(c²
-b²). Proses ini melibatkan pengurangan (operasi dasar) dan pengambilan akar kuadrat (konsep lanjutan), yang semuanya bertumpu pada pemahaman bahwa kedua sisi persamaan harus diperlakukan secara setara—prinsip yang juga berlaku dalam menyederhanakan ekspresi numerik.

Prinsip-prinsip matematika yang menjadi benang merah antara perhitungan aritmatika dasar dan Teorema Pythagoras antara lain:

  • Hierarki Operasi: Baik dalam hitung campuran maupun manipulasi rumus, urutan pengerjaan operasi adalah kunci mutlak untuk mendapatkan hasil yang benar.
  • Kesetaraan (Equality): Prinsip bahwa apa yang dilakukan di satu sisi persamaan harus juga dilakukan di sisi lainnya untuk menjaga keseimbangan, adalah jantung dari aljabar dan juga diterapkan saat memeriksa kebenaran perhitungan.
  • Proporsionalitas dan Hubungan Kuadrat: Dalam aritmatika, kita memahami bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang. Dalam Pythagoras, kita melangkah lebih jauh dengan melihat hubungan kuadrat, di mana sisi-sisi berhubungan bukan secara linear, tetapi melalui pangkat dua.
  • Generalisasi: Dari menghitung 3² + 4² = 5², kita menggeneralisasi menjadi a² + b² = c². Kemampuan untuk melihat pola dari contoh spesifik menuju prinsip umum adalah inti dari pemikiran matematis.

Integrasi Soal Cerita: Pythagoras dan Perhitungan Numerik

Penjelasan Pythagoras dan Cara Menghitung 8×36÷5+20÷2×37

Source: slidesharecdn.com

Keindahan matematika sering terlihat ketika beberapa konsep digabungkan untuk menyelesaikan satu masalah dunia nyata. Bayangkan sebuah skenario yang membutuhkan kita untuk menggunakan Teorema Pythagoras, kemudian hasilnya menjadi bagian dari sebuah perhitungan aritmatika campuran yang lebih besar, mirip dengan ekspresi yang telah kita analisis.

Ilustrasi Deskriptif Masalah

Seorang tukang kayu akan membuat sebuah sandaran tanaman berbentuk segitiga siku-siku dari papan. Dua potong papan penyiku sudah dipotong: satu sebagai alas sepanjang 8 desimeter, dan satu sebagai tegakan setinggi 6 desimeter. Untuk menyambung ujung kedua papan tersebut, ia membutuhkan papan ketiga sebagai sisi miring (hipotenusa). Setelah menemukan panjang papan ketiga yang dibutuhkan dalam desimeter, tukang kayu itu pergi ke toko.

Harga papan adalah 36 ribu rupiah per 5 desimeter. Karena panjang yang dibutuhkan tidak bulat, ia juga harus membeli papan tambahan sepanjang 20 desimeter untuk proyek lain, yang harganya 37 ribu rupiah per 2 desimeter. Berapa total biaya yang harus dibayar tukang kayu untuk pembelian papan tersebut?

Prosedur Penyelesaian Terstruktur, Penjelasan Pythagoras dan Cara Menghitung 8×36÷5+20÷2×37

Berikut adalah langkah-langkah sistematis untuk memecahkan masalah tersebut.

Rumus Pythagoras dan perhitungan seperti 8×36÷5+20÷2×37 mengajarkan kita logika matematika yang ketat. Namun, penerapan logika ini juga krusial dalam kehidupan nyata, misalnya saat menganalisis Berapa persen bunga tahunan tabungan Bapak untuk memaksimalkan keuntungan. Pada akhirnya, prinsip dasar yang sama tentang ketelitian dan urutan operasi tetap menjadi kunci, baik dalam menghitung sisi miring segitiga maupun dalam menyelesaikan persoalan numerik yang kompleks.

  • Langkah 1: Hitung panjang sisi miring (papan penyambung) dengan Teorema Pythagoras.
    Panjang alas (a) = 8 dm, tinggi (b) = 6 dm.
    c = √(a² + b²) = √(8² + 6²) = √(64 + 36) = √100 = 10 dm.
    Jadi, panjang papan ketiga yang dibutuhkan adalah 10 desimeter.
  • Langkah 2: Hitung biaya untuk papan penyambung.
    Harga papan: 36.000 rupiah per 5 dm.
    Biaya untuk 10 dm = (10 / 5) × 36.000 = 2 × 36.000 = 72.000 rupiah.
  • Langkah 3: Hitung biaya untuk papan tambahan proyek lain.
    Panjang papan tambahan: 20 dm. Harga: 37.000 rupiah per 2 dm.
    Biaya untuk 20 dm = (20 / 2) × 37.000 = 10 × 37.000 = 370.000 rupiah.
  • Langkah 4: Hitung total biaya.
    Total biaya = Biaya papan penyambung + Biaya papan tambahan.
    Total = 72.000 + 370.000 = 442.000 rupiah.

Perhatikan bahwa struktur perhitungan biaya papan penyambung, yaitu (10/5)×36000, dan papan tambahan, yaitu (20/2)×37000, jika digabungkan menjadi satu ekspresi numerik, akan membentuk 10÷5×36000 + 20÷2×37000, yang esensinya sangat mirip dengan logika dalam ekspresi 8×36÷5+20÷2×37 yang telah dibahas sebelumnya.

Ringkasan Terakhir

Jadi, baik saat kita menerapkan Pythagoras untuk mencari sisi miring atap rumah maupun saat kita teliti mengurutkan perkalian dan pembagian dalam sebuah hitungan panjang, esensinya adalah kedisiplinan proses. Matematika, pada intinya, adalah bahasa logika yang konsisten. Memahami dasar-dasar seperti ini bukan sekadar untuk menjawab soal ujian, tetapi melatih kerangka berpikir terstruktur yang bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan. Selamat bereksplorasi dengan angka dan bentuk, karena setiap persamaan yang berhasil dipecahkan membuka pintu pemahaman yang baru.

FAQ dan Solusi

Apakah Teorema Pythagoras hanya berlaku untuk segitiga siku-siku?

Ya, teorema ini secara spesifik hanya berlaku untuk segitiga siku-siku. Hubungan kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-sikunya tidak berlaku untuk jenis segitiga lainnya.

Bagaimana jika dalam perhitungan campuran seperti 8×36÷5+20÷2×37 tidak ada tanda kurung?

Tanpa tanda kurung, kita wajib mengikuti aturan prioritas operasi (KABATAKU/BODMAS): kerjakan perkalian dan pembagian dari kiri ke kanan terlebih dahulu, baru penjumlahan dan pengurangan. Itulah mengapa urutan pengerjaannya menjadi kunci.

Apakah sisi miring (hipotenusa) selalu sisi terpanjang dalam segitiga?

Benar. Dalam segitiga siku-siku, sisi miring selalu berhadapan dengan sudut siku-siku dan merupakan sisi yang paling panjang di antara ketiga sisinya.

Mengapa penting sekali belajar aturan KABATAKU sejak dasar?

Kesalahan dalam urutan operasi akan menghasilkan jawaban yang salah, meskipun angka-angkanya benar. Aturan ini memastikan konsistensi dan kesepakatan universal dalam menyelesaikan ekspresi matematika, yang menjadi dasar untuk aljabar dan konsep yang lebih kompleks.

Bisakah Teorema Pythagoras digunakan dalam tiga dimensi?

Bisa. Untuk mencari panjang diagonal ruang dalam balok, misalnya, teorema Pythagoras diterapkan dua kali secara berurutan, yang sering disebut rumus jarak dalam ruang tiga dimensi.

BACA JUGA  Perbandingan Berat Andi 24 kg dan Dito 30 kg Analisis Lengkap

Leave a Comment