Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung Aturan dan Contoh

Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh mungkin terdengar seperti detail teknis yang kaku, tapi percayalah, di balik sepasang tanda kurung itu tersimpan cerita panjang tentang petualangan ilmu pengetahuan. Ia bagai kapsul waktu kecil yang menyimpan sejarah perjalanan sebuah spesies dalam peta pengetahuan umat manusia, dari siapa yang pertama kali menemukannya, hingga bagaimana pemahaman kita tentang hubungan kekerabatannya berevolusi seiring waktu.

Tanpa memahami logika di balik kurung ini, kita bisa saja salah membaca cerita yang ingin disampaikan oleh sebuah nama ilmiah.

Topik ini membawa kita menyelami lebih dari sekadar aturan tata letak tanda baca. Kita akan menelusuri asal-usul historisnya yang berliku, memahami implikasi filogenetik yang serius, hingga mengurai kesalahan fatal yang sering terjadi. Dari buku teks klasik hingga basis data digital modern, aturan penulisan ini adalah bahasa universal yang menjaga konsistensi dan kejelasan komunikasi ilmiah di seluruh dunia, sebuah fondasi kecil namun krusial dalam bangunan besar ilmu taksonomi.

Menelusuri Asal Usul Historis Penggunaan Kurung dalam Taksonomi Linnaean

Untuk memahami mengapa nama ilmiah spesies kadang ditulis dengan nama penulisnya berada dalam kurung, kita perlu melakukan perjalanan mundur ke masa awal taksonomi modern. Tanda kurung itu bukan sekadar hiasan atau konvensi penulisan biasa; ia adalah sebuah tanda baca yang menyimpan riwayat perpindahan spesies dari satu genus ke genus lain. Kisahnya dimulai bahkan sebelum Carl Linnaeus merintis sistem binomial.

Pada era pra-Linnaeus, nama organisme seringkali berupa deskripsi panjang dalam bahasa Latin, yang disebut polinomial. Tidak ada konsistensi, dan satu spesies bisa memiliki banyak nama. Linnaeus, dalam karya monumentalnya Systema Naturae, menyederhanakan ini menjadi dua kata: genus dan epitet spesifik. Namun, pada edisi-edisi awal, nama penulis tidak secara konsisten dicantumkan. Seiring waktu, untuk memberikan kredit dan kejelasan, nama penulis yang pertama kali mendeskripsikan spesies mulai ditambahkan.

Awalnya, ketika sebuah spesies dipindahkan ke genus yang berbeda dari genus aslinya, nama penulis asli sering dihilangkan atau diganti, menyebabkan hilangnya informasi sejarah. Tanda kurung kemudian muncul sebagai solusi elegan untuk mempertahankan tautan sejarah tersebut.

Perkembangan Notasi Kurung dari Masa ke Masa, Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh

Penggunaan tanda kurung dalam taksonomi berkembang secara organik sebelum akhirnya dikodifikasi dalam aturan internasional. Perkembangannya dapat dilacak melalui tonggak-tonggak sejarah berikut:

  • Awal 1700-an (Pra-Standardisasi): Nama penulis jarang dicantumkan. Fokus utama adalah pada nama genus dan spesies. Jika ada, nama penulis ditulis setelah nama spesies tanpa tanda baca khusus.
  • Pertengahan hingga Akhir 1700-an: Praktik mencantumkan nama penulis (authoritas) menjadi lebih umum. Ketika suatu spesies dipindahkan, penulis baru yang memindahkannya akan menambahkan namanya setelah nama penulis asli, sering dengan kata “in” atau “ex”, menciptakan format yang berantakan.
  • Abad ke-19: Ahli botani mulai menggunakan tanda kurung secara informal untuk mengapit nama penulis asli ketika spesies ditempatkan di genus yang berbeda. Konvensi ini lambat laun diadopsi karena kepraktisannya. Dalam zoologi, praktik serupa muncul tetapi dengan penerapan yang kurang seragam.
  • 1905 (Kongres Botani Internasional di Wina): Aturan penggunaan tanda kurung untuk penulis asli dalam taksonomi tumbuhan secara resmi dikodifikasi dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan. Ini menjadi standar wajib.
  • 1961 (Kode Tatanama Zoologi Internasional, Edisi Revisi): Zoologi secara resmi mengadopsi aturan serupa, meskipun dengan beberapa perbedaan teknis dibandingkan aturan botani, yang kemudian diselaraskan dalam edisi-edisi berikutnya.
  • Era Modern (Post-1990-an): Penggunaan tanda kurung telah menjadi standar global dalam kedua disiplin. Basis data digital seperti Catalogue of Life dan GBIF mengandalkan format ini untuk melacak sejarah taksonomi dan menghubungkan data.

Perbedaan Awal antara Konvensi Botani dan Zoologi

Meskipun tujuannya sama, penerapan awal aturan kurung dalam botani dan zoologi pada abad ke-20 memiliki perbedaan mendasar yang menarik. Perbedaan ini mencerminkan perkembangan independen kedua disiplin ilmu tersebut sebelum upaya harmonisasi.

Aturan penulisan nama ilmiah spesies dalam kurung, seperti Homo sapiens (manusia), punya logika ketat untuk memastikan konsistensi ilmiah. Prinsip ketelitian serupa juga krusial dalam eksperimen kimia analitik, misalnya saat Penentuan pH dan pengendapan Fe³⁺ serta Mg²⁺ pada larutan NH₄OH/NH₄Cl , di mana akurasi simbol dan prosedur menentukan hasil. Nah, kembali ke biologi, pemahaman mendalam tentang konvensi penulisan ini sangat membantu agar komunikasi ilmiah kita tepat dan bebas ambiguitas, layaknya seorang profesional.

Aspect Botani (Pasca 1905) Zoologi (Awal Abad ke-20)
Dasar Hukum Dikodifikasi tegas dalam Kode Wina (1905). Belum dikodifikasi secara universal; bergantung pada praktik umum.
Penggunaan untuk Subgenus Tanda kurung juga digunakan untuk menyebutkan subgenus yang ditempatkan antara genus dan epitet spesifik. Penggunaan kurung untuk subgenus tidak umum; subgenus sering diabaikan atau ditulis tanpa kurung.
Penempatan Titik Titik (full stop) sering ditempatkan setelah kurung penutup jika diikuti oleh tahun. Pemisahan antara penulis dan tahun lebih variatif, sering menggunakan koma.
Penanganan Kombinasi Baru Nama penulis yang membuat kombinasi baru (yang memindahkan spesies) selalu dicantumkan setelah kurung. Nama penulis kombinasi baru kadang diimplikasikan dan tidak selalu ditulis, terutama dalam literatur populer.

Contih Perubahan Penulisan Sebelum dan Sesudah Standardisasi

Mari kita lihat contoh konkret pada spesies pohon jati. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Linnaeus sebagai Clematis tectona. Kemudian, ahli botani lainnya menyadari bahwa karakteristiknya lebih cocok ditempatkan dalam genus baru, Tectona. Berikut adalah perbandingan penulisannya sebelum dan setelah konvensi kurung distandardisasi.

Sebelum Standardisasi (Abad ke-19):
Tectona grandis L.f. (dengan asumsi penulis asli dihilangkan)
atau
Tectona grandis (L.) L.f. (format awal yang masih ambigu)

Sesudah Standardisasi (Modern):
Tectona grandis L.f.
Penjelasan: Nama penulis “L.f.” (Linnaeus filius, putra Linnaeus) adalah orang yang valid menerbitkan nama dalam genus Tectona. Karena epitet spesifik grandis berasal dari kombinasi lain (oleh Linnaeus dalam genus Clematis), nama penulis asli (Linnaeus) tidak lagi ditempatkan dalam kurung menurut aturan botani yang spesifik. Contoh ini justru menunjukkan kompleksitas aturan: kurung hanya digunakan jika nama penulis asli secara literal dipindahkan bersama epitetnya.

Untuk kasus di mana epitet spesifik baru diciptakan untuk genus baru, aturannya berbeda. Contoh yang lebih langsung adalah Quercus alba L. yang dipindahkan oleh seorang ahli lain menjadi Lithocarpus alba (L.) Nádr. Di sini, “(L.)” dengan jelas menunjukkan Linnaeus sebagai pemberi nama epitet alba.

Memahami Implikasi Filogenetik dari Kehadiran Tanda Kurung

Tanda kurung dalam nama ilmiah adalah lebih dari sekadar catatan kaki sejarah; ia adalah penanda geologis dalam lapisan taksonomi. Kehadirannya secara langsung mengomunikasikan bahwa pemahaman kita tentang hubungan evolusioner suatu organisme telah berubah. Ketika kita melihat ” Genus species (Penulis)”, kita sedang melihat bekas luka dari sebuah revisi klasifikasi, yang didorong oleh data morfologi, molekuler, atau fenetik yang baru.

BACA JUGA  Misteri pH Air Murni di Suhu 0°C Saat Kw 1 2×10⁻¹⁵

Pada dasarnya, kurung mengindikasikan bahwa penulis yang berada di dalamnya adalah orang yang pertama kali mendeskripsikan spesies tersebut, tetapi melakukannya dalam genus yang berbeda. Pemindahan ini terjadi karena analisis filogenetik yang lebih komprehensif menunjukkan bahwa spesies tersebut lebih berkerabat dekat dengan anggota genus lain, atau bahwa genus lamanya bersifat parafiletik (tidak mencakup semua keturunan dari nenek moyang yang sama). Dengan demikian, tanda kurung menjadi jembatan antara klasifikasi lama dan baru, memungkinkan kita untuk melacak bagaimana hipotesis hubungan kekerabatan berevolusi seiring waktu tanpa kehilangan jejak publikasi asli.

Status Taksonomi: Dalam Kurung, Sinonim, dan Spesies Inquirenda

Dalam literatur taksonomi, istilah “dalam kurung” sering disandingkan dengan status lain seperti sinonim dan spesies inquirenda. Memahami perbedaannya penting untuk menilai validitas dan kejelasan suatu nama.

Status Definisi Implikasi Contoh dalam Penulisan
Nama dalam Kurung Nama penulis asli yang dipertahankan setelah epitet spesifik dipindahkan ke genus yang berbeda. Nama spesies itu sendiri valid. Spesies tersebut diakui, tetapi penempatan genusnya telah direvisi. Status taksonomi aktualnya kuat. Panthera tigris (Linnaeus, 1758) [aslinya Felis tigris].
Sinonim Nama yang berbeda yang merujuk pada takson yang sama. Bisa sinonim junior (nama yang lebih baru) atau senior (nama yang lebih tua). Nama tersebut tidak lagi digunakan secara valid, tetapi tercatat dalam sejarah. Penggunaannya dianggap salah jika untuk takson yang valid. Felis tigris Linnaeus, 1758 adalah sinonim senior dari Panthera tigris (Linnaeus, 1758). Dalam penggunaan yang benar, hanya Panthera tigris yang dipakai.
Spesies Inquirenda Spesies yang deskripsi aslinya tidak memadai atau ambigu, sehingga identitasnya diragukan dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Status taksonominya tidak pasti. Tidak dapat ditempatkan dengan keyakinan dalam klasifikasi sampai ada revisi. Penulisannya tetap dengan nama asli, sering disertai tanda tanya atau dicetak miring dengan catatan “species inquirenda”. Contoh: Atta inquiens (nama fiktif untuk ilustrasi).

Prosedur Penelusuran Literatur Historis

Ketika menemukan nama dengan penulis dalam kurung, seorang peneliti atau kurator mungkin perlu mengonfirmasi alasan dan otoritas di balik pemindahan tersebut. Prosedur penelusurannya bersifat sistematis.

Langkah pertama adalah mengidentifikasi publikasi asli dari penulis yang ada dalam kurung. Sumber seperti “The Plant List” untuk tumbuhan atau “Zoological Record” untuk hewan dapat membantu menemukan referensi ini. Setelah publikasi asli ditemukan, langkah berikutnya adalah mencari publikasi yang memuat kombinasi baru (recombination). Biasanya, penulis yang namanya muncul setelah kurung (atau tanpa kurung jika tidak ada) adalah orang yang mempublikasikan pemindahan tersebut.

Pencarian dapat dilakukan melalui database ilmiah seperti Google Scholar, JSTOR, atau Biodiversity Heritage Library dengan menggunakan kombinasi nama genus baru dan epitet spesifik, serta nama penulis yang diduga melakukan rekombinasi. Membaca abstrak atau pendahuluan dari makalah rekombinasi tersebut biasanya akan mengungkap alasan pemindahan, apakah berdasarkan analisis morfologi baru, data DNA, atau revisi taksonomi menyeluruh terhadap suatu kelompok. Proses ini menegaskan bahwa taksonomi adalah ilmu yang dinamis dan berbasis bukti, di mana setiap tanda kurung merepresentasikan sebuah keputusan ilmiah yang dapat ditelusuri.

Kesalahan Fatal dan Ambiguitas Semantik dalam Penulisan Format Kurung

Ketepatan penulisan nama ilmiah, termasuk tanda bacanya, adalah hal yang krusial dalam komunikasi sains. Kesalahan sekecil apa pun dapat menimbulkan ambiguitas, mengaburkan makna, atau bahkan secara keliru menciptakan “nama baru” yang tidak valid. Di luar kesalahan dalam penempatan kurung itu sendiri, terdapat beberapa jebakan tanda baca umum yang sering mengganggu kejelasan penulisan.

Kesalahan-kesalahan ini biasanya muncul dari ketidakhafalan aturan atau penerjemahan yang ceroboh dari format visual ke teks biasa. Dalam konteks digital, di mana nama ilmiah sering diurai secara otomatis oleh algoritma, kesalahan tanda baca dapat menyebabkan salah indeks, menghubungkan data yang salah, atau membuat spesies “hilang” dalam pencarian. Oleh karena itu, presisi bukan hanya soal kerapian, tetapi tentang memastikan integritas rantai informasi ilmiah.

Kesalahan Penempatan Tanda Baca yang Mengubah Makna

Berikut adalah lima kesalahan umum selain kurung yang sering terjadi:

  • Penggunaan titik yang salah: Menempatkan titik setelah epitet spesifik (mis., Panthera tigris. Linnaeus) adalah kesalahan. Titik hanya digunakan untuk singkatan, seperti dalam “L.” untuk Linnaeus atau “sp. nov.” untuk spesies baru. Titik setelah tigris akan memutus nama tersebut.
  • Penggunaan koma yang keliru: Dalam zoologi, koma digunakan antara nama penulis dan tahun publikasi jika nama penulis tidak disingkat (mis., Panthera tigris Linnaeus, 1758). Menghilangkan koma atau meletakkannya di tempat lain (mis., sebelum kurung) membuat format menjadi tidak standar dan sulit dibaca mesin.
  • Penggunaan huruf kapital pada epitet spesifik: Epitet spesifik selalu dimulai dengan huruf kecil, bahkan jika berasal dari nama orang atau tempat (mis., Fitzroya untuk genus, tetapi fitzroyi untuk spesies). Menulisnya dengan huruf kapital dapat dianggap sebagai variasi ortografi yang tidak perlu.
  • Penyatuan genus dan spesies tanpa spasi: Penulisan Pantheratigris adalah kesalahan fatal karena genus dan epitet spesifik adalah dua kata terpisah. Ini akan gagal total dalam sistem pencarian berbasis kata kunci.
  • Penggunaan tanda petik atau garis miring yang tidak semestinya: Menambahkan tanda petik (mis., ‘Panthera tigris’) atau garis miring ( /Panthera tigris/) untuk penekanan adalah konvensi dari bidang lain dan tidak digunakan dalam tatanama biologis yang formal. Itu dapat mengindikasikan bahwa nama tersebut adalah nama umum atau istilah lain, bukan nama ilmiah.

Perbedaan Format “Genus (Penulis) tahun” dan “Genus (Subgenus) spesies”

Ambiguitas sering muncul ketika tanda kurung digunakan untuk dua tujuan berbeda: mengapit penulis dan mengapit subgenus. Perhatikan dua contoh blokquote berikut.

Format dengan Penulis dalam Kurung:
Aedes (Stegomyia) albopictus (Skuse, 1894)
Penjelasan: Di sini, Stegomyia adalah subgenus dari genus Aedes. Tanda kurung pertama mengapit subgenus. Tanda kurung kedua, yang mengapit “Skuse, 1894”, menunjukkan bahwa Skuse adalah penulis asli yang mendeskripsikan spesies ini, tetapi dalam genus yang berbeda (mungkin genus lain selain Aedes).

Format dengan Hanya Subgenus:
Culex (Culex) pipiens Linnaeus, 1758
Penjelasan: Di sini, subgenusnya adalah Culex yang sama dengan nama genusnya (subgenus tipe). Tidak ada penulis dalam kurung setelah nama spesies, yang berarti Linnaeus mendeskripsikan Culex pipiens dalam genus Culex dan penempatannya belum pernah direvisi ke genus lain. Kurung hanya berfungsi untuk menunjukkan kategori subgenus.

Panduan Visual Hierarki dan Jarak Spasi

Untuk menghindari kesalahan, berikut ilustrasi hierarki dan spasi yang benar dalam penulisan nama lengkap dengan authoritas. Bayangkan sebuah diagram yang tersusun secara horizontal. Paling kiri adalah nama genus, dicetak miring dan huruf pertamanya kapital. Jika subgenus disebutkan, ia ditempatkan tepat setelah genus, diapit kurung, dicetak miring, dan huruf pertamanya juga kapital. Kemudian, diikuti oleh epitet spesifik, dicetak miring, seluruhnya huruf kecil.

BACA JUGA  Berapa Jarak Yuli Jika Susi Lari 9 km dengan Kecepatan 3 Kali Lipat

Setelah itu, tanpa kursif, muncul nama penulis. Jika penulis ini adalah penulis asli yang dipindahkan, namanya diapit kurung. Setelah kurung penutup (atau langsung setelah nama penulis jika tidak pakai kurung), terdapat koma (dalam zoologi) atau spasi (dalam botani), lalu diikuti tahun publikasi. Jarak spasi hanya ada antara genus dan epitet spesifik, serta antara nama penulis/tahun dan elemen sebelumnya. Tidak ada spasi antara huruf terakhir epitet spesifik dan kurung pembuka nama penulis.

Visual ini menekankan bahwa kurung penulis dan subgenus adalah lapisan informasi yang berbeda dan terpisah secara hierarkis.

Aplikasi Teknis dalam Basis Data Digital dan Pengindeksan Literatur

Di era informasi digital, miliaran catatan spesies dari museum, herbarium, dan literatur tua sedang didigitalkan dan digabungkan ke dalam repositori global seperti Global Biodiversity Information Facility (GBIF) atau Integrated Taxonomic Information System (ITIS). Dalam skala masif ini, aturan penulisan kurung yang tampaknya sederhana berubah menjadi tantangan algoritmik yang kompleks. Konsistensi format menjadi kunci agar komputer dapat memahami bahwa Canis lupus Linnaeus, 1758 dan Canis lupus (Linnaeus, 1758) yang tercatat di dua database berbeda sebenarnya merujuk pada takson yang sama dengan sejarah yang sama.

Tantangan utamanya terletak pada penguraian (parsing) string teks nama ilmiah secara otomatis. Algoritma harus dapat membedakan antara kurung yang mengapit subgenus, kurung yang mengapit penulis, dan bahkan kurung yang mungkin merupakan bagian dari catatan lain yang ikut tersalin. Selain itu, variasi historis dalam penulisan (seperti penggunaan “ex” atau “in”) harus dinormalisasi ke dalam format standar modern agar dapat dibandingkan. Tanpa algoritma parsing yang canggih, upaya untuk menghubungkan data ekologi, genetik, dan distribusi dari berbagai sumber akan penuh dengan noise dan kesalahan tautan.

Representasi Format dalam Berbagai Database Global

Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh

Source: slidesharecdn.com

Berbagai database besar telah mengadopsi standar mereka sendiri, yang meskipun mirip, dapat memiliki perbedaan kecil dalam representasi. Perbedaan ini penting diketahui saat melakukan meta-analisis data dari banyak sumber.

Database Contoh Representasi Nama Penanganan Author dalam Kurung Keterangan
ITIS Panthera tigris (Linnaeus, 1758) Dipertahankan sebagai bagian dari string nama lengkap. Parsing otomatis untuk memisahkan author. Lebih mengikuti konvensi zoologi. Menyediakan field terpisah untuk “Author” yang berisi teks dalam kurung tersebut.
GBIF Panthera tigris Linnaeus, 1758 Seringkali dinormalisasi; author asli mungkin tercatat di field “acceptedNameAuthor” atau dalam tabel sinonim. Backbone taxonomy GBIF sering menghilangkan kurung pada nama yang diterima, tetapi menyimpan sejarah taksonomi di tempat lain.
Catalogue of Life (CoL) Panthera tigris (Linnaeus, 1758) Secara eksplisit mencantumkan dengan kurung sesuai aturan kode. Memiliki skema data yang jelas untuk author asli dan author kombinasi. Biasanya dianggap sebagai otoritas referensi yang sangat ketat terhadap aturan tatanama.
World Flora Online (WFO) Quercus alba L. Untuk botani, aturannya spesifik. Author dalam kurung hanya muncul pada rekaman sinonim atau saat menampilkan informasi kombinasi baru. Mengikuti International Code of Nomenclature for algae, fungi, and plants (ICN) secara ketat.

Prosedur Kurator Database Menghadapi Inkonsistensi

Ketika seorang kurator atau validator data menemukan entri lama dengan penulisan kurung yang tidak standar (misalnya, penulis tanpa kurung padahal seharusnya ada, atau sebaliknya), prosedur standar harus dijalankan untuk menjaga integritas basis data. Pertama, kurator tidak boleh serta-merta mengubah data mentah dari sumber aslinya. Sebaliknya, data asli disimpan dalam field terpisah sebagai “verbatim” atau “name as supplied”. Kedua, kurator harus melakukan penelusuran taksonomi menggunakan sumber otoritatif seperti Catalogue of Life, ITIS, atau publikasi revisi terkini untuk menentukan penulisan nama yang benar dan valid saat ini.

Ketiga, berdasarkan penelusuran itu, kurator akan mengisi field “scientificName” yang telah distandardisasi sesuai dengan aturan. Keempat, hubungan antara nama verbatim dan nama yang distandardisasi dicatat, biasanya dengan menandai nama verbatim sebagai “synonym” atau “variant spelling” dari nama yang valid. Prosedur ini memastikan bahwa informasi sejarah tidak hilang, sementara pada saat yang sama data dapat dihubungkan dan dianalisis secara konsisten dalam skala global.

Dampak Pedagogis Aturan Kurung terhadap Pembelajaran Taksonomi di Tingkat Dasar

Bagi mahasiswa biologi yang baru mempelajari taksonomi, kerumitan nama ilmiah dengan berbagai tanda kurung, titik, dan koma sering kali menjadi sumber kebingungan. Mereka mungkin sudah hafal bahwa nama spesies terdiri dari dua kata yang dicetak miring, tetapi memahami makna kontekstual di balik simbol-simbol tambahan itu adalah lompatan konseptual yang lain. Aturan kurung, khususnya, memperkenalkan dimensi waktu dan perubahan ke dalam sistem yang awalnya mungkin dipandang statis.

Kesulitan utama yang dihadapi mahasiswa biasanya bersifat semantik dan prosedural. Secara semantik, mereka kesulitan membedakan antara “siapa yang menemukan” dengan “siapa yang memberi nama saat ini”. Tanda kurung mengaburkan pemahaman naif tersebut. Secara prosedural, mereka sering bingung kapan harus menggunakan kurung dan kapan tidak, terutama ketika berhadapan dengan contoh dari botani dan zoologi yang memiliki nuansa berbeda. Tantangan ini diperparah oleh literatur yang tidak konsisten, di mana buku teks mungkin menyederhanakannya, sementara artikel jurnal menggunakan format lengkap.

Akibatnya, mahasiswa mungkin mengabaikan informasi authoritas sama sekali, yang berarti mereka kehilangan kemampuan untuk menelusuri sejarah taksonomi suatu organisme, sebuah keterampilan esensial dalam penelitian biologi.

Latihan Mengidentifikasi Authoritas Taksonomi

Berikut adalah latihan langkah demi langkah untuk melatih keterampilan membaca nama lengkap dengan kurung. Perhatikan contoh berikut dan ikuti pertanyaan pemandu.

Contoh: Lithocarpus alba (L.) Nádr.

Langkah 1: Identifikasi semua komponen. Genus: Lithocarpus. Epitet spesifik: alba. Ada dua nama penulis: “L.” dalam kurung, dan “Nádr.” di luar kurung.
Langkah 2: Tanyakan, “Siapa ‘L.’?” Ini adalah singkatan untuk Carolus Linnaeus.

BACA JUGA  Soal Matematika Selisih Pecahan Sisi Segitiga Penjumlahan Pecahan

Langkah 3: Tanyakan, “Apakah Linnaeus yang pertama kali mendeskripsikan spesies dengan epitet alba?” Ya, karena namanya ada dalam kurung.
Langkah 4: Tanyakan, “Apakah Linnaeus mendeskripsikannya dalam genus Lithocarpus?” Tidak. Karena namanya dalam kurung, berarti dia mendeskripsikannya dalam genus lain. Penelusuran akan menunjukkan bahwa Linnaeus awalnya menamainya Quercus alba L.
Langkah 5: Tanyakan, “Siapa ‘Nádr.’?” Ini adalah singkatan untuk ahli botani Karel Nádrázny.

Langkah 6: Tanyakan, “Apa peran Nádrázny?” Dia adalah orang yang memindahkan epitet alba dari genus Quercus ke genus Lithocarpus, sehingga menciptakan kombinasi baru Lithocarpus alba. Namanya ditempatkan di luar kurung sebagai authoritas dari kombinasi baru tersebut.
Dengan latihan ini, mahasiswa belajar bahwa nama ilmiah adalah sebuah kalimat sejarah yang ringkas.

Memperkaya Diagram Pohon Filogenetik dengan Informasi Kurung

Bayangkan sebuah diagram pohon filogenetik sederhana untuk keluarga kucing (Felidae). Cabang-cabangnya menunjuk ke berbagai genus seperti Panthera, Felis, Lynx, dll. Pada ujung cabang, biasanya hanya tertulis nama spesies seperti tigris, leo, pardus. Diagram ini dapat diperkaya secara informatif dengan menambahkan penulisan nama lengkap yang berkurung. Misalnya, pada cabang Panthera tigris, kita dapat menulis ” Panthera tigris (Linnaeus, 1758)”.

Anotasi kecil “(Linnaeus, 1758)” ini langsung memberi tahu pengamat bahwa harimau pertama kali dideskripsikan oleh Linnaeus. Lebih menarik lagi, jika kita menempatkan Acinonyx jubatus (cheetah) di pohon yang sama, dan menulis namanya tanpa penulis dalam kurung (karena genusnya tidak pernah berubah), atau dengan penulis yang berbeda, hal itu memberikan petunjuk visual tentang stabilitas taksonomi relatifnya dibandingkan dengan spesies lain yang pernah dipindahkan.

Dengan cara ini, diagram statis menjadi dinamis, menyampaikan tidak hanya hubungan kekerabatan tetapi juga narasi sejarah penemuan dan revisi klasifikasi.

Konvergensi Aturan dalam Disiplin Ilmu Lain dan Potensi Standarisasi Lintas Bidang: Penulisan Nama Ilmiah Spesies Dalam Kurung: Aturan Dan Contoh

Penggunaan tanda kurung untuk menyampaikan informasi historis atau hierarkis bukanlah monopoli taksonomi biologi. Berbagai disiplin ilmu telah mengembangkan konvensi penulisan simbol mereka sendiri untuk mencapai kejelasan dan ketepatan. Mempelajari konvensi dari bidang seperti kimia dan astronomi memberikan perspektif yang menarik: meskipun objek kajiannya berbeda, kebutuhan untuk mengomunikasikan informasi kompleks secara ringkas dan tidak ambigu adalah universal. Perbandingan ini juga menyoroti mengapa menciptakan satu standar universal untuk semua sains adalah tantangan yang sangat besar.

Dalam kimia, tanda kurung sangat penting. Mereka digunakan dalam rumus kimia untuk mengelompokkan atom poliatomik, seperti dalam Ca(OH)₂ untuk kalsium hidroksida. Kurung siku, [ ], digunakan untuk menunjukkan konsentrasi dalam persamaan kimia. Dalam tatanama senyawa organik, kurung digunakan untuk menunjukkan cabang pada rantai karbon. Meskipun fungsinya untuk mengelompokkan dan menjelaskan struktur, bukan sejarah, semangat untuk menghindari ambiguitas sama dengan taksonomi.

Dalam astronomi, penamaan varietas bintang atau katalog sering menggunakan singkatan dalam kurung, seperti “Betelgeuse (α Ori)”, yang berarti “Betelgeuse, yang juga merupakan bintang Alfa dalam rasi Orion”. Di sini, kurung berfungsi memberikan identifikasi alternatif atau kontekstual, mirip dengan cara taksonomi memberikan authoritas alternatif.

Peluang dan Hambatan Standarisasi Universal

  • Peluang: Standarisasi dapat mempermudah pengembangan alat pemrosesan bahasa alami dan AI yang dapat memahami literatur ilmiah lintas bidang. Ini juga akan menyederhanakan pendidikan sains, memberikan siswa satu set aturan tanda baca yang koheren. Dari sisi pertukaran data, metadata dari eksperimen biologi, kimia, dan lingkungan bisa terintegrasi lebih mulus jika konvensi penulisannya selaras.
  • Hambatan: Tradisi dan otoritas yang sudah mapan di setiap bidang sangat kuat. Kode tatanama biologi, sistem penamaan kimia IUPAC, dan konvensi IAU untuk astronomi masing-masing telah berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun. “Biaya” untuk mengubahnya sangat besar. Selain itu, kebutuhan setiap bidang spesifik berbeda. Kurung dalam kimia harus menangani struktur spasial molekul, sementara dalam biologi ia menangani alur waktu sejarah.

    Memaksa satu fungsi untuk semua konteks mungkin justru mengurangi kejelasan.

Contoh Hipotetis Nama Spesies dengan Konvensi Lain

Sebagai eksperimen pikiran, bayangkan jika penulisan nama spesies mengadopsi konvensi dari bidang geologi atau pemrograman komputer. Hasilnya bisa sangat tidak biasa, namun mengungkap nilai dari konvensi yang kita miliki sekarang.

Mengadopsi Konvensi Geologi (Stratigrafi):
Dalam geologi, unit batuan sering ditulis dengan singkatan zaman dalam kurung, misalnya “Batugamping Formasi Wonosari (Tmw)”. Jika diterapkan pada taksonomi, nama harimau mungkin ditulis: Panthera tigris (Mammalia, Carnivora, Felidae). Kurung akan berisi hierarki taksonomi lengkap, bukan hanya author. Format ini informatif tetapi sangat panjang dan berulang jika digunakan berkali-kali.

Mengadopsi Konvensi Pemrograman (Fungsi):
Dalam pemrograman, kurung digunakan untuk memasukkan argumen ke dalam fungsi, seperti print("Hello"). Jika nama spesies adalah sebuah “fungsi”, maka author adalah “argumen” yang mengoperasikan sejarah: tigris(“Linnaeus”, 1758). Panthera. Atau lebih ekstrem, genus dipandang sebagai “class” dan spesies sebagai “method”: Panthera.tigris(author=”Linnaeus”, year=1758). Format ini sangat terstruktur untuk mesin, tetapi sama sekali tidak praktis untuk komunikasi manusia dalam teks naratif.

Eksperimen ini memperkuat apresiasi terhadap sistem binomial dengan author dalam kurung yang kita gunakan saat ini. Ia adalah hasil evolusi panjang yang menemukan keseimbangan antara kepraktisan, informasi historis, dan kesesuaian untuk komunikasi ilmiah tertulis.

Akhir Kata

Jadi, lain kali Anda menjumpai nama ilmiah dengan tanda kurung, cobalah untuk melihatnya bukan sebagai sekadar hiasan atau formalitas. Lihatlah itu sebagai sebuah pintu kecil yang terbuka ke dalam sejarah taksonomi. Penguasaan terhadap aturan ini, meski terlihat teknis, sebenarnya adalah kunci untuk membaca narasi hidup makhluk tersebut dalam literatur ilmiah. Ia melatih ketelitian, menghargai sejarah, dan pada akhirnya, memperdalam pemahaman kita tentang pohon kehidupan yang begitu megah dan terus bertumbuh ini.

Tanya Jawab Umum

Apakah tanda kurung hanya digunakan saat nama genus berubah?

Tidak hanya itu. Tanda kurung terutama menandakan bahwa penulis (authority) yang pertama kali mendeskripsikan spesies tersebut menempatkannya dalam genus yang berbeda dengan genus yang digunakan sekarang. Perubahan genus itu sendiri bisa disebabkan oleh revisi taksonomi, temuan data filogenetik baru, atau koreksi kesalahan klasifikasi awal.

Bagaimana jika saya menemukan penulisan tanpa kurung padahal seharusnya ada, atau sebaliknya?

Itu adalah kesalahan yang cukup serius dalam konteks ilmiah karena dapat menyesatkan pembaca mengenai sejarah taksonomi spesies. Dalam karya tulis ilmiah, hal tersebut perlu dikoreksi dengan merujuk pada sumber otoritatif seperti database terkini (GBIF, ITIS, dll.) atau publikasi taksonomi revisi terbaru.

Apakah aturan kurung ini sama persis untuk tumbuhan, hewan, dan jamur?

Prinsip dasarnya serupa, tetapi ada perbedaan detail dalam kode nomenklatur (ICN untuk tumbuhan & jamur, ICZN untuk hewan). Salah satu perbedaan historis yang mencolok adalah dalam penempatan titik setelah singkatan penulis. Penting untuk selalu merujuk pada kode nomenklatur yang sesuai dengan organisme yang sedang dibahas.

Dalam penulisan populer atau media, apakah tanda kurung ini wajib dicantumkan?

Untuk keakuratan ilmiah, sangat disarankan. Namun, dalam konteks yang sangat umum dan untuk pembaca awam, seringkali hanya nama genus dan spesies (binomial) saja yang ditulis. Jika tujuan tulisan adalah edukasi atau menyajikan informasi yang lengkap, mencantumkan authority dengan kurung yang benar adalah praktik terbaik.

Bagaimana cara membedakan tanda kurung untuk author dengan tanda kurung untuk subgenus?

Posisinya berbeda. Nama author dalam kurung selalu mengikuti nama spesies (contoh:
-Canis lupus* (Linnaeus, 1758)). Sementara subgenus, jika ditulis, ditempatkan dalam kurung di antara nama genus dan nama spesies (contoh:
-Culex (Culex) quinquefasciatus*). Perhatikan urutan dan elemen yang mengikutinya.

Leave a Comment