Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung Aturan dan Contoh Lengkap

Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh mungkin terdengar seperti detail teknis yang kaku, tapi percayalah, di balik sepasang tanda kurung itu tersimpan cerita tentang sejarah, keakuratan, dan bahkan psikologi membaca. Bayangkan, dua tanda baca kecil itu bisa membedakan antara penemu pertama suatu spesies dengan ilmuwan yang memindahkannya ke genus baru. Dunia tatanama biologi punya logikanya sendiri, dan memahami aturan ini adalah kunci untuk membaca “kode batang” alam semesta dengan benar.

Mulai dari halaman buku teks klasik yang dipenuhi nama Latin berderet hingga database digital modern yang mensyaratkan presisi mutlak, tanda kurung ini memainkan peran penting. Mereka bukan sekadar hiasan atau penambah informasi biasa, melainkan penanda resmi yang diatur kode internasional. Mari kita selami lebih dalam bagaimana aturan ini terbentuk, dampaknya terhadap ilmu pengetahuan, dan tentu saja, contoh-contoh praktis agar kita tidak keliru saat menulis nama si raja hutan, Panthera leo (Linnaeus, 1758), atau flora dan fauna lainnya.

Asal-usul Filosofis Tanda Kurung dalam Tatanama Biologi

Penggunaan tanda kurung dalam penulisan nama ilmiah spesies bukan sekadar hiasan atau konvensi kosong. Ia berakar dari perkembangan filosofi sains itu sendiri, khususnya dalam upaya untuk menyeimbangkan antara penghormatan pada sejarah penemuan dengan kejelasan dan stabilitas nomenklatur. Pada awal perkembangannya, nama spesies sering ditulis disertai nama penemu atau “author” secara langsung setelah nama genus dan spesies, tanpa pemisahan khusus. Namun, seiring bertambahnya pengetahuan dan revisi taksonomi, sebuah spesies sering kali dipindahkan dari genus asalnya ke genus baru berdasarkan karakter morfologi atau genetik yang lebih tepat.

Kode Internasional Tatanama Zoologi (ICZN) dan Tumbuhan (ICN) kemudian menetapkan aturan baku: ketika sebuah spesies dipindahkan ke genus yang berbeda dari genus tempat ia pertama kali dideskripsikan, nama author asli harus ditempatkan di dalam tanda kurung. Tanda kurung ini berfungsi sebagai penanda sejarah. Ia mengakui otoritas ilmuwan yang pertama kali mendeskripsikan organisme tersebut, sekaligus secara visual mengisyaratkan bahwa konteks genusnya telah berubah.

Tanpa kurung, pembaca akan mengira bahwa author tersebut yang menempatkan spesies itu dalam genus yang sekarang, yang secara historis tidak akurat.

Dampak Visual dan Alur Baca

Keberadaan tanda kurung menciptakan lapisan pembacaan yang berbeda. Bagi pembaca awam, kurung sering diabaikan atau dibaca sebagai informasi sekunder, sehingga fokus tetap pada nama genus dan spesiesnya. Bagi taksonom atau peneliti, kurung adalah sinyal instan tentang stabilitas taksonomi dan riwayat revisi suatu nama. Dari sudut pandang desain komunikasi sains, tanda kurung adalah alat tipografi yang genius—ia memampatkan informasi historis yang krusial tanpa mengganggu aliran utama nama baku yang digunakan saat ini.

Implikasinya, halaman teks yang penuh dengan nama bersimbol kurung menjadi peta visual dari dinamika ilmu pengetahuan itu sendiri, di mana setiap kurung menandai sebuah titik revisi dan pemahaman yang lebih mendalam.

Nama Umum Penulisan Tanpa Kurung (Author Awal) Penulisan dengan Kurung (Author Dipindahkan) Alasan Perpindahan Author
Harimau Sumatra Felis tigris sondaica Temminck, 1844 Panthera tigris sondaica (Temminck, 1844) Spesies tigris dipindahkan dari genus Felis ke genus Panthera.
Bunga Bangkai Amorphophallus titanum Becc. Amorphophallus titanum (Becc.) Becc. Beccari pertama kali mendeskripsikannya dalam genus lain (Conophallus?), lalu memindahkannya sendiri ke Amorphophallus. Author dalam kurung adalah deskriptor pertama, author di luar kurung adalah yang memindahkan.
Ikan Cupang Macropodus pugnax Cantor, 1849 Betta pugnax (Cantor, 1849) Spesies pugnax direvisi dan ditempatkan dalam genus Betta, bukan Macropodus lagi.

ICZN Pasal 51.3: “Jika suatu spesies atau subspecies dipindahkan ke dalam genus yang berbeda dari genus tempat nama tersebut semula ditempatkan, atau dianggap sebagai milik genus yang berbeda, nama author asli, jika dikutip, harus ditempatkan dalam tanda kurung.”

Interpretasi Kesalahan Penempatan Kurung pada Basis Data Digital: Penulisan Nama Ilmiah Spesies Dalam Kurung: Aturan Dan Contoh

Di era digital, penulisan nama ilmiah yang akurat menjadi fondasi bagi algoritma pencarian dan integrasi data. Basis data taksonomi seperti GBIF atau ITIS memproses string teks nama ilmiah, di mana tanda kurung memiliki makna spesifik sebagai penanda pemindahan author. Kesalahan penempatan kurung—seperti lupa memberi kurung atau salah meletakkannya—dapat menyebabkan algoritme salah mengidentifikasi author asli dan status taksonomi nama tersebut.

BACA JUGA  Jelaskan Bentuk‑Bentuk Demokrasi Dari Langsung Hingga Partisipatif

Risikonya adalah data yang terfragmentasi. Pencarian untuk ” Panthera tigris sondaica (Temminck, 1844)” mungkin tidak akan menggabungkan hasilnya dengan entri yang keliru ditulis sebagai ” Panthera tigris sondaica Temminck, 1844″ tanpa kurung. Bagi mesin, kedua entri itu berbeda karena struktur penulisannya berbeda. Hal ini dapat menyebabkan duplikasi data, pelacakan literatur yang tidak lengkap, dan bahkan kesalahan dalam analisis keanekaragaman hayati jika pemetaan taksonomi tidak konsisten.

Prosedur Verifikasi Keakuratan Penulisan

Sebelum mempublikasikan daftar nama ilmiah, verifikasi berikut dapat dilakukan untuk memastikan penulisan author dan kurung sudah tepat.

  • Lacak publikasi asli deskripsi spesies untuk memastikan genus awal tempat spesies itu dideskripsikan.
  • Periksa sumber taksonomi terkini (misalnya, revisi genus atau famili) untuk konfirmasi genus yang berlaku saat ini.
  • Bandingkan nama author dan tahun pada publikasi asli dengan yang tercantum di basis data otoritatif seperti Catalogue of Life atau World Register of Marine Species.
  • Pastikan bahwa jika genus saat ini berbeda dengan genus asli, nama author dan tahun berada di dalam tanda kurung. Jika sama, author ditulis tanpa kurung.
  • Gunakan alat pemeriksa seperti validator nomenklatur yang tersedia secara online untuk memastikan format penulisan sudah sesuai aturan.

Contoh Dampak Kesalahan Kurung dalam Pelacakan Literatur

Bayangkan seorang peneliti mencari semua studi tentang siput laut Littorina saxatilis. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Olivi pada 1792 sebagai Turbo saxatilis. Penulisan yang benar untuk nama saat ini adalah Littorina saxatilis (Olivi, 1792). Jika sebuah database kunci memasukkan data sebagai Littorina saxatilis Olivi, 1792 (tanpa kurung), sistem mungkin menganggap ini sebagai entri yang terpisah dari entri yang benar.

Akibatnya, ketika peneliti melakukan pencarian dengan format yang benar, studi-studi yang terikat pada entri salah tersebut bisa terlewatkan, menyebabkan tinjauan literatur yang tidak komprehensif.

Jenis Kesalahan Penulisan Dampak pada Pencarian Database Contoh Salah Contoh Benar yang Telah Dikoreksi
Author tanpa kurung padahal genus berubah Nama dianggap sebagai kombinasi baru oleh author tersebut, menyebabkan kesalahan historis dan kegagalan penggabungan data. Canis lupus Linnaeus, 1758 Canis lupus Linnaeus, 1758 (Benar, karena Linnaeus memang menempatkannya di genus Canis sejak awal).
Author dalam kurung padahal genus tidak berubah Nama dianggap telah mengalami revisi genus, menimbulkan kebingungan tentang stabilitas taksonomi. Homo sapiens (Linnaeus, 1758) Homo sapiens Linnaeus, 1758
Kurung hanya pada tahun, bukan pada author dan tahun Parsing oleh algoritme menjadi kacau, karena format tidak standar. Escherichia coli (Migula, 1895) Escherichia coli (Migula) Castellani & Chalmers, 1919
Penempatan titik setelah kurung yang salah Dapat mengganggu pembacaan dalam sitasi berurutan. Quercus alba L.) Quercus alba L.

Nuansa Psikologis Membaca dan Mengingat Nama Ilmiah dengan Struktur Kurung

Cara otak kita memproses dan menyimpan nama ilmiah yang disertai author dipengaruhi secara signifikan oleh kehadiran tanda kurung. Memori jangka panjang kita cenderung mengkodekan informasi dalam chunk atau potongan. Nama binomial seperti Panthera tigris adalah satu chunk yang utuh. Ketika ditambahkan informasi author “Linnaeus”, ia menjadi chunk tambahan. Tanda kurung secara psikologis mengemas chunk tambahan ini sebagai informasi parenthetical—yaitu informasi yang kontekstual, historis, dan sering kali dapat dipisahkan dari identitas inti objek untuk keperluan ingatan jangka pendek.

Artinya, saat mengingat suatu spesies, otak kita lebih mudah mengingat Panthera tigris daripada detail apakah author-nya dalam kurung atau tidak, atau siapa author-nya. Informasi dalam kurung disimpan di “folder” memori yang berbeda, yang biasanya baru diakses ketika diperlukan konteks sejarah atau akurasi nomenklatur. Berbeda dengan penulisan tanpa kurung, di mana nama author terintegrasi secara linear dengan nama spesies, sehingga mungkin lebih mudah melekat sebagai satu kesatuan rangkaian kata.

Beban Kognitif dan Tata Letak Visual

Membaca teks biologis padat yang dipenuhi nama-nama bersimbol kurung menciptakan beban kognitif yang lebih tinggi. Mata harus melompati atau memproses simbol tambahan tersebut, yang dapat memperlambat kecepatan baca untuk mereka yang tidak terbiasa. Tata letak halaman buku teks taksonomi klasik seringkali terlihat sangat padat, dengan kolom-kolom berisi daftar spesies dimana tanda kurung muncul berulang seperti pola bata yang tersusun rapat.

Setiap kurung adalah jeda visual kecil, pemisah antara yang sekarang dan yang dulu. Bagi siswa, halaman seperti ini bisa terasa menakutkan dan kompleks. Namun, bagi ahli, pola ini justru memudahkan scanning cepat untuk menemukan status taksonomi—keberadaan kurung langsung memberi tahu bahwa spesies tersebut memiliki riwayat revisi.

Pengalaman belajar dari tata letak seperti itu bersifat dualistik. Di satu sisi, ia melatih pembaca untuk memilah informasi inti dan sekunder. Di sisi lain, ia berpotensi membuat pembelajaran hafalan nama menjadi lebih berat karena adanya “gangguan” grafis yang terus-menerus. Desain buku teks modern sering berusaha mengurangi beban ini dengan menggunakan tipografi yang lebih jelas atau menyajikan informasi author dalam catatan kaki atau appendix, meskipun untuk kepatuhan nomenklatur, penulisan dalam kurung di teks utama tetap wajib.

Dari “Species Plantarum” (1753) oleh Carl Linnaeus: “Cornus mas. 1. CORNUS fubtus glabris, follis ovatis acuminatis, cymis quadrifloris.” Di sini, tidak ada author yang dicantumkan karena Linnaeus adalah author untuk semua nama dalam bukunya. Penulisan author menjadi konvensi yang muncul kemudian.

Dari publikasi zoologi abad ke-19, “Proceedings of the Zoological Society of London” (1835): “Felis pardus, Linn.” Gaya ini sederhana, author disingkat dan ditempatkan langsung setelah nama, tanpa kurung, karena belum ada kebutuhan untuk menandai pemindahan genus secara sistematis.

Dari jurnal botani abad ke-20, “Kew Bulletin” (1950): “Elaeocarpus angustifolius Blume, Mus. Bot. Lugd.-Bat. 2: 12 (1856).” Gaya sudah lebih formal dengan detail publikasi. Kurung mulai konsisten digunakan untuk tahun publikasi, dan nantinya berkembang untuk menandai pemindahan author.

Aturan penulisan nama ilmiah spesies dalam kurung, seperti Panthera tigris (Harimau Sumatera), memang punya logika ketat layaknya kode taksonomi. Nah, prinsip ketelitian dan sistem hierarki ini ternyata punya resonansi di dunia karir. Ambil contoh, untuk memahami tanggung jawab dan strategi di puncak, kamu bisa simak ulasan tentang 3 Alasan Menjadi Direktur. Setelah itu, kembali ke dunia biologi, penerapan aturan baku tadi justru memudahkan identifikasi universal, mirip bagaimana seorang direktur memberikan arah yang jelas bagi perusahaannya.

Transformasi Konvensi Kurung dalam Disiplin Ilmu Non-Biologi

Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh

BACA JUGA  Hasil Perhitungan Dari Masa Lalu Hingga Filosofi Keputusan Modern

Source: z-dn.net

Pemikiran untuk memisahkan identitas objek dengan otoritas pemberi namanya menggunakan tanda kurung bukanlah hal yang unik di biologi. Berbagai disiplin ilmu yang memiliki sistem klasifikasi dan nomenklatur formal telah mengadopsi atau mengembangkan konvensi serupa. Hal ini muncul dari kebutuhan universal yang sama: menjaga stabilitas nama sebuah entitas sambil mengakui sejarah dan konteks penamaannya. Dalam filologi, misalnya, ketika sebuah naskah atau varian bacaan dikutip, sering disertai dengan nama editor atau penyusun yang mengusulkan pembacaan tersebut dalam kurung, terutama jika edisi yang digunakan adalah edisi kritis yang merevisi edisi sebelumnya.

Di bidang klasifikasi benda seni atau artefak arkeologi, sistem katalog sering mencantumkan nomor inventaris diikuti dengan nama museum atau kolektor yang pertama kali mendokumentasikannya, terkadang dalam format yang mengingatkan pada author biologi. Pemetaan geologi untuk unit batuan juga memiliki konvensi penamaan resmi yang mencakup nama lokasi tipe dan sering kali nama geolog yang pertama kali mendeskripsikan unit tersebut secara formal, meskipun tidak selalu menggunakan kurung.

Analogi ini menunjukkan bahwa tatanama biologi adalah bagian dari tradisi intelektual yang lebih luas dalam sains untuk mengaitkan informasi dengan sumbernya secara ringkas dan terstruktur.

Perbandingan dengan Standar Kutipan Arkeologi, Penulisan Nama Ilmiah Spesies dalam Kurung: Aturan dan Contoh

  • Objek: Biologi memberi nama pada organisme hidup, sedangkan arkeologi memberi kode atau nama pada artefak, fitur, atau situs.
  • Unsur Nama: Nama spesies terdiri dari Genus + epitet spesifik + author. Artefak sering memiliki kode situs (mis., lokasi), nomor lapisan, dan nomor artefak (mis., SB1.123).
  • Pencatatan “Pemberi Nama”: Dalam biologi, author yang mendeskripsikan secara ilmiah dicantumkan. Dalam arkeologi, penemu atau penggali pertama dari suatu lapisan/situs sering dicatat dalam publikasi penggalian, tetapi tidak selalu menjadi bagian dari kode artefak yang baku seperti author dalam biologi.
  • Revisi: Jika klasifikasi artefak berubah (misalnya, dari “kapak tangan” menjadi “serpih inti”), nama jenisnya direvisi, mirip dengan revisi genus. Namun, “author” atau penemu artefak tetap sama dan tercatat dalam literatur primer, analog dengan author dalam kurung yang tetap diakui meski genus berubah.
Bidang Ilmu Objek yang Diberi Nama Konvensi Penulisan “Pemberi Nama” Persamaan dengan Tatanama Biologi
Filologi (Kritik Teks) Varian bacaan dalam sebuah naskah Varian ditulis, diikuti dengan nama editor yang mengusulkannya dalam kurung (contoh: “καλὸς (West)” untuk bacaan yang diusulkan editor West). Memisahkan entitas (bacaan) dengan otoritas yang mengusulkannya, mirip memisahkan nama spesies dengan author deskriptornya.
Klasifikasi Seni/Keramik Jenis atau bentuk artefak keramik (mis., Roman Terra Sigillata) Sering diberi kode tipe oleh peneliti pertama yang mengklasifikasikannya (mis., “Dragendorff 37”), dimana “Dragendorff” adalah sang klasifikator. Nama jenis tidak bisa dilepaskan dari nama klasifikatornya, yang fungsinya setara dengan author dalam biologi.
Geologi (Stratigrafi) Unit batuan formal (Formasi, Anggota) Nama unit resmi mencakup lokasi tipe dan dapat disertai nama peneliti dan tahun publikasi deskripsi resminya dalam referensi (mis., Formasi Nanggulan, diterangkan oleh Van Bemmelen, 1949). Penamaan bersifat binomial (nama unit + lokasi/karakter) dan dikaitkan dengan deskriptor pertama secara formal dalam literatur.

Analogi Kompleks dari Bidang Hukum

Dalam sistem hukum common law, penulisan nama kasus pengadilan memiliki struktur yang menarik untuk dianalogikan. Sebuah kasus ditulis sebagai, misalnya, ” Donoghue v Stevenson [1932] UKHL 100″. Di sini, ” Donoghue v Stevenson” adalah identitas kasusnya (analog dengan genus dan spesies). Tahun “[1932]” dan badan pengadilan “UKHL” (House of Lords) memberikan konteks yurisdiksi dan waktu (analog dengan tahun publikasi). Yang menarik, ketika sebuah kasus terkenal direferensi ulang atau dipindahkan konteks hukumnya dalam sebuah kompilasi atau revisi hukum, penulis hukum mungkin akan menulis ” Donoghue v Stevenson [1932] UKHL 100 (sebagaimana dikutip dalam Grant v Australian Knitting Mills [1936])”.

BACA JUGA  Interferensi Warna Cahaya pada Lapisan Minyak di Siang Hari Pelangi Tak Terduga

Frasa dalam kurung “(sebagaimana dikutip dalam…)” berfungsi persis seperti author dalam kurung di biologi: ia menunjukkan otoritas atau konteks baru dimana prinsip kasus asli tersebut sekarang ditempatkan atau diinterpretasikan, sambil tetap mengakui sumber aslinya.

Dampak Typografi dan Pemilihan Font terhadap Kejelasan serta Otoritas Tanda Kurung

Dalam naskah ilmiah, kejelasan visual tanda kurung adalah hal yang krusial. Kurung yang ambigu dapat dengan mudah dikira sebagai notasi matematika, simbol sastra, atau sekadar kesalahan ketik. Pemilihan font, ketebalan, dan spasi di sekitar kurung yang berisi nama author perlu diperhatikan untuk memastikan bahwa pembaca—baik manusia maupun mesin—dapat langsung mengenalinya sebagai penanda nomenklatur, bukan elemen lain. Font yang terlalu ramai atau dekoratif dapat membuat kurung menyatu dengan huruf atau simbol di sekitarnya, mengurangi kejelasan fungsinya sebagai pembatas informasi.

Rekomendasi teknis typografi untuk dokumen digital yang akan diolah mesin (seperti untuk dikirim ke basis data) adalah menggunakan font monospace sederhana seperti Courier atau font sans-serif yang bersih seperti Arial atau Helvetica saat menginput data. Hal ini meminimalkan risiko karakter kurung direpresentasikan sebagai simbol lain. Yang terpenting adalah konsistensi: gunakan jenis kurung yang sama (biasanya kurung biasa “()”) di seluruh dokumen, dan pastikan tidak ada spasi antara nama belakang author dan kurung buka, namun ada spasi setelah kurung tutup sebelum kata berikutnya, kecuali diikuti tanda baca lain.

Perbandingan Tampilan Kurung pada Font Umum

Pada font serif seperti Times New Roman, kurung memiliki ketebalan yang bervariasi (thick-thin) dan ujungnya yang meruncing (serif). Tanda kurung buka di Times New Roman terlihat seperti garis melengkung dengan tebal di bagian tengah dan tipis di ujung, menyatu dengan gaya huruf yang klasik dan formal. Di Georgia, kurungnya lebih bulat dan tebalnya lebih konsisten, memberikan kesan yang sedikit lebih kokoh.

Di font sans-serif seperti Arial, kurung adalah garis melengkung dengan ketebalan yang seragam dari ujung ke ujung, tanpa hiasan apapun. Tampilannya sangat netral dan jelas, mengurangi kemungkinan salah baca. Calibri, sebagai font default sans-serif modern, memiliki kurung dengan ketebalan yang sedikit bervariasi namun tetap sederhana, dengan ujung yang membulat halus.

Kesalahan Typografi Umum yang Mengurangi Fungsi Kurung

  • Menggunakan kurung siku “[ ]” atau kurung kurawal ” ” sebagai pengganti kurung biasa “()”. Mesin pembaca mungkin menginterpretasikannya sebagai bagian dari kode atau notasi yang berbeda.
  • Memberi spasi antara nama author dan kurung buka, misalnya: Panthera tigris ( Temminck, 1844). Spasi ini dapat mengganggu parsing string oleh program komputer.
  • Menggunakan font simbol atau font khusus dimana karakter kurung dirender sebagai bentuk dekoratif (seperti hati atau ornamen) karena kesalahan encoding.
  • Ketebalan garis kurung yang terlalu tipis hingga hampir hilang saat dokumen difaks atau dicetak dengan resolusi rendah, membuatnya terlihat seperti koma atau titik.
  • Menggabungkan tanda kurung dengan format miring ( italic). Nama genus dan spesies dimiringkan, tetapi tanda kurung dan nama author di dalamnya seharusnya tetap tegak (roman). Jika seluruhnya dimiringkan, pembedaan visual antara elemen nama dan informasi author menjadi berkurang.

Kesimpulan Akhir

Jadi, setelah menelusuri asal-usul filosofis, risiko teknis di database, hingga nuansa psikologis membacanya, menjadi jelas bahwa tanda kurung dalam penulisan nama ilmiah jauh lebih dari sekadar konvensi. Mereka adalah infrastruktur tak kasat mata yang menjaga integritas ilmu pengetahuan. Setiap kurung yang tepat letaknya adalah bentuk penghormatan pada sejarah penemuan dan jaminan keakuratan untuk penelitian di masa depan. Dengan menguasai aturan ini, kita bukan cuma menulis nama dengan benar, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan ilmiah yang telah berlangsung berabad-abad, menjaga agar setiap spesies memiliki cerita yang tak terputus.

FAQ Lengkap

Apakah tanda kurung hanya digunakan untuk nama spesies hewan dan tumbuhan?

Tidak. Konvensi serupa juga diterapkan dalam tatanama kelompok lain seperti bakteri (dengan kode ICNP) dan virus, meski aturan spesifiknya bisa berbeda. Inti pemindahan author ke dalam kurung saat terjadi revisi taksonomi tetap konsisten.

Bagaimana jika nama author sudah terkenal dan disingkat seperti “L.” untuk Linnaeus, apakah tetap dikurung?

Ya, aturan penempatan dalam kurung tetap berlaku terlepas dari bentuk singkatan atau kepanjangan nama author. Contohnya, jika
-Rosa canina* yang awalnya dideskripsikan oleh Linnaeus dipindahkan marga, penulisannya menjadi
-Rosa canina* (L.). Singkatannya ikut dikurung.

Apakah dalam komunikasi informal atau media populer kita harus selalu menuliskan author dalam kurung?

Tidak harus. Untuk audiens umum, seringkali hanya nama genus dan spesies yang digunakan (contoh:
-Panthera tigris*). Penulisan author dalam kurung lebih krusial dalam konteks ilmiah, publikasi penelitian, dan database untuk memastikan keakuratan referensi.

Bagaimana cara membedakan tanda kurung untuk author dengan tanda kurung yang berisi informasi lain seperti tahun atau catatan?

Urutan penulisan baku adalah: nama genus, epitet spesies, author (dalam kurung jika dipindah), kemudian tahun publikasi. Contoh:
-Felis silvestris* Schreber, 1777 (tanpa kurung untuk author asli) vs.
-Felis catus* (Linnaeus, 1758) (dengan kurung karena dipindah dari genus lain). Informasi lain biasanya diletakkan setelah rangkaian ini.

Apakah mungkin sebuah nama spesies memiliki dua pasang tanda kurung?

Sangat jarang dan umumnya dianggap tidak sesuai konvensi. Tanda kurung khusus untuk menandai pemindahan author. Jika ada informasi tambahan lain (misalnya subgenus), biasanya diwakili dengan tanda baca atau format lain, bukan kurung ganda, untuk menghindari kerancuan.

Leave a Comment