Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku Sang Penjaga Kedaulatan

Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku itu ibarat navigator ulung di tengah badai geopolitik abad ke-16. Bayangkan, di satu sisi ada persaingan sengit antara Portugis dan Spanyol yang saling serobot rempah-rempah, di sisi lain ada tugas mulia menyebarkan Islam dan menjaga stabilitas internal. Nah, sosok Sultan yang satu ini bukan cuma jadi penonton, tapi justru menjadi aktor utama yang piawai memainkan semua kartu di tangannya.

Berasal dari garis keturunan Kesultanan Ternate yang terhormat, Alauddin Syah naik takhta dalam situasi yang penuh gejolak. Kepemimpinannya menjadi titik balik penting, di mana ia tidak hanya membenahi administrasi pemerintahan dan pertahanan militer, tetapi juga menjalin diplomasi yang cerdik dengan bangsa-bangsa Eropa. Tujuannya jelas: memastikan kedaulatan dan kemakmuran rakyat Maluku tetap terjaga di tengah gelombang pengaruh asing yang datang silih berganti.

Latar Belakang dan Silsilah Sultan Alauddin Syah

Untuk memahami sosok Sultan Alauddin Syah, kita perlu menelusuri akarnya yang kuat dalam dinasti penguasa Ternate. Ia bukanlah figur yang muncul tiba-tiba, melainkan buah dari pohon genealogi yang telah berurat berakar dalam kekuasaan dan spiritualitas Islam di Maluku. Konteks zaman yang penuh gejolak juga membentuk karakternya, menjadikannya pemimpin yang tangguh di tengah badai perubahan.

Asal-usul dan Garis Keturunan dalam Kesultanan Ternate

Sultan Alauddin Syah, yang juga dikenal dengan nama Sultan Alauddin I, adalah putra dari Sultan Zainal Abidin, penguasa Ternate yang diyakini sebagai sultan pertama yang memeluk Islam. Posisinya dalam silsilah ini sangat strategis; ia adalah penerus langsung dari sosok yang telah meletakkan dasar-dasar kesultanan Islam di wilayah tersebut. Garis keturunannya menempatkannya sebagai poros antara era penerimaan Islam awal dan fase konsolidasi kekuasaan serta ekspansi pengaruh.

Keluarganya bukan hanya pemimpin politik, tetapi juga pusat penyebaran agama, menjadikan legitimasi kepemimpinannya bersifat multidimensional—ditopang oleh darah biru dan otoritas keagamaan.

Kondisi Sosial-Politik Maluku Menjelang Kepemimpinannya

Maluku pada masa itu lebih mirip arena pertarungan global dalam skala mini. Rempah-rempah, khususnya cengkeh yang hanya tumbuh di beberapa pulau, telah mengubah kepulauan ini menjadi magnet bagi kekuatan lokal dan asing. Persaingan antar kerajaan seperti Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo sangat sengit, seringkali dipicu oleh ambisi mengontrol perdagangan. Di tengah rivalitas lokal ini, bangsa Eropa—Portugis dan Spanyol—mulai mendarat, membawa serta teknologi militer baru, ambisi kolonial, dan agama Katolik.

Dunia Alauddin Syah adalah dunia yang sedang dalam transisi cepat, di mana keseimbangan kekuasaan lama goyah dan ancaman baru muncul di horizon.

Peristiwa Penting Pembentuk Jalan Hidup Sebelum Naik Takhta

Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku

Source: slidesharecdn.com

Kehidupan Alauddin Syah sebelum menduduki takhta dipenuhi oleh pengalaman yang membentuk visi politik dan ketangguhannya. Ia tumbuh dalam lingkungan istana yang menyadari betul ancaman Portugis, yang telah membangun benteng (São João Baptista de Ternate) dan mulai mencampuri urusan internal kesultanan. Sangat mungkin ia menyaksikan langsung ketegangan antara ambisi ayahnya atau pendahulunya dengan tekanan dari bangsa asing. Pengalaman ini memberinya pelajaran berharga: diplomasi dengan orang asing harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan dari posisi yang kuat.

Peristiwa-peristiwa seperti mungkinnya konflik internal, intrik suksesi, dan tekanan militer Portugis menjadi kawah candradimuka yang mempersiapkannya untuk memimpin di era yang paling menantang.

Kebijakan Pemerintahan dan Administrasi

Memegang tampuk kepemimpinan di tengah pusaran kepentingan yang kompleks, Sultan Alauddin Syah tidak hanya bereaksi terhadap keadaan. Ia merancang dan menerapkan serangkaian kebijakan yang sistematis untuk memperkuat pondasi kesultanannya dari dalam. Pemerintahannya menunjukkan perpaduan antara kearifan lokal dan kemampuan adaptasi terhadap realitas baru yang datang dari luar.

BACA JUGA  Tulis Pertanyaanmu di Sini Pertanyaan Simpel dan Jelas Lebih Cepat Terjawab

Struktur dan Sistem Administrasi Pemerintahan

Untuk mengelola wilayah kekuasaan yang tersebar di banyak pulau, Sultan Alauddin Syah mengandalkan struktur birokrasi yang telah dimodifikasi. Ia mengukuhkan peran Jogugu sebagai perdana menteri atau wakil sultan yang mengurusi administrasi harian. Di bawahnya, terdapat para Bobato (kepala wilayah atau menteri) yang memimpin distrik-distrik penting seperti Makian, Moti, dan Kayoa. Sistem ini memungkinkan kontrol yang terpusat namun dengan pendelegasian wewenang yang jelas untuk urusan lokal.

Ia juga memanfaatkan jaringan ulama dan kadi untuk menjaga hukum syariah, sehingga administrasi sekuler dan agama berjalan beriringan, memperkuat kohesi sosial berbasis Islam.

Kisah Sultan Alauddin Syah dalam memimpin Kerajaan Maluku tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Untuk memahami kompleksitas kebijakannya, kita perlu mengapresiasi Pasangan kata berantonim seperti ‘ekspansi’ dan ‘konsolidasi’ yang justru ia padukan dengan cerdik. Dialah arsitek yang membangun kedaulatan melalui diplomasi yang tangguh sekaligus ketegasan militer, menciptakan era keemasan yang tak mudah terulang.

Memperkuat Struktur Internal dan Hubungan dengan Bawahan

Kunci stabilitas kerajaan ada pada loyalitas daerah bawahan ( soa atau negeri-negeri). Alauddin Syah bekerja untuk mengonsolidasikan hubungan ini bukan hanya melalui ikatan feodal, tetapi juga melalui ikatan agama Islam dan kepentingan ekonomi bersama. Ia mungkin memberikan konfirmasi hak-hak tradisional para kepala daerah yang setia, sambil secara simultan menanamkan pejabat kepercayaannya di posisi-posisi kunci. Inisiatif ini bertujuan untuk mencegah pemberontakan dan memastikan aliran sumber daya—terutama rempah-rempah sebagai pajak—berjalan lancar ke pusat kekuasaan di Ternate.

Rincian Bidang Kebijakan Utama

Berikut adalah tabel yang merangkum beberapa bidang kebijakan utama Sultan Alauddin Syah, tindakan, serta dampaknya.

Bidang Kebijakan Tindakan yang Diambil Tujuan Dampak
Ekonomi & Perdagangan Mengatur monopoli perdagangan cengkeh, menetapkan titik-titik perdagangan resmi, dan bernegosiasi dengan bangsa Eropa. Mengendalikan harga rempah, memastikan pendapatan kesultanan, dan mengurangi penyelundupan. Peningkatan kemakmuran kas kesultanan, namun juga memicu ketegangan dengan Portugis yang ingin kontrol perdagangan bebas.
Agama & Sosial Mendukung aktif penyebaran Islam, membangun masjid dan sekolah agama (madrasah), menempatkan ulama dalam struktur pemerintahan. Memperkuat identitas kesultanan sebagai kerajaan Islam, mengkonsolidasikan kekuasaan melalui ideologi, dan menandingi pengaruh misionaris Katolik. Islamisasi yang lebih mendalam di Maluku Tengah, terbentuknya masyarakat yang lebih terikat pada hukum Islam, dan lahirnya literatur keagamaan lokal.
Militer & Pertahanan Memperkuat angkatan laut (hongi), membangun atau memperbaiki benteng pertahanan, dan menjalin aliansi militer dengan kerajaan lokal lainnya. Mempertahankan kedaulatan dari serangan Portugis/Spanyol dan kerajaan saingan, serta mengamankan jalur perdagangan laut. Kemampuan defensif yang lebih baik, ekspansi pengaruh ke wilayah perifer, dan posisi tawar yang lebih kuat dalam diplomasi.
Diplomasi & Politik Luar Bermain di antara Portugis dan Spanyol, mengirim utusan ke pusat kekuasaan Islam seperti Demak dan Johor, serta menjaga hubungan dengan penguasa lokal Maluku. Memanfaatkan persaingan Eropa, mencari pengakuan dan dukungan dari kekuatan Islam, serta mengisolasi musuh-musuh tradisional. Kesultanan tetap otonom lebih lama, mendapatkan akses senjata dan teknologi, namun juga menciptakan dinamika politik yang sangat rumit.

Peran dalam Persaingan dan Diplomasi Global

Inilah mungkin babak paling cemerlang dari kepemimpinan Sultan Alauddin Syah: kemampuannya bermain di papan catur geopolitik yang diisi oleh raja-raja lokal dan bangsa Eropa yang haus rempah. Ia tidak sekadar menjadi korban dari arus globalisasi awal, tetapi aktif mengarahkannya, meski dengan risiko yang sangat tinggi. Diplomasinya adalah perpaduan antara kelicikan, kesabaran, dan ketegasan.

Strategi Menghadapi Portugis dan Spanyol

Kedatangan Portugis dan Spanyol, dua raksasa Eropa yang juga saling bersaing, dihadapinya dengan strategi yang berbeda. Terhadap Portugis yang telah lebih dulu bercokol dan seringkali arogan, Alauddin Syah bersikap tegas dan berusaha membatasi pengaruh mereka. Ia menyadari bahwa keberadaan benteng Portugis adalah ancaman langsung terhadap kedaulatannya. Sementara terhadap Spanyol yang berpusat di Tidore (saingan tradisional Ternate), ia memanfaatkan mereka sebagai penyeimbang kekuatan Portugis.

Sikapnya tidak mutlak bermusuhan atau bersahabat, tetapi sangat pragmatis dan situasional, selalu dikalkulasi untuk keuntungan Ternate.

Perbandingan dengan Penguasa Lokal Maluku Lainnya

Jika dibandingkan dengan penguasa di Tidore yang cenderung lebih terbuka dan bersekutu erat dengan Spanyol, atau penguasa di Jailolo yang mungkin lebih terpecah, pendekatan Alauddin Syah terlihat lebih independen dan berorientasi pada kekuatan sendiri. Ia tidak mau menjadi boneka salah satu bangsa Eropa. Ia belajar dari kesalahan penguasa sebelumnya yang terlalu dekat dengan Portugis hingga akhirnya dikooptasi. Pendekatannya lebih kepada “meminjam” kekuatan asing untuk melawan ancaman asing lainnya atau musuh lokal, tanpa memberikan hati dan kedaulatan sepenuhnya.

Memanfaatkan Persaingan Antar Bangsa Eropa

Kecerdikannya dalam memainkan kartu diplomasi dapat dilihat dari beberapa tindakan konkret:

  • Lobi ke Kekuatan Islam: Ia mengirim utusan ke Kesultanan Demak dan Johor, bukan hanya untuk memperoleh pengakuan spiritual, tetapi juga untuk mendapatkan bantuan militer dan membentuk front persaudaraan Islam melawan pengaruh Kristen Eropa.
  • Barter Senjata dan Teknologi: Dari hubungannya dengan bangsa Eropa (baik yang resmi maupun melalui pedagang gelap), ia berusaha mendapatkan meriam, senapan, dan pengetahuan pembuatan benteng untuk memperkuat pertahanannya sendiri.
  • Politik Tarik-Ulur: Ia kerap memberikan konsesi perdagangan yang terbatas kepada satu pihak (misalnya Portugis) sebagai alat tekanan kepada pihak lain (Spanyol), dan sebaliknya, menjaga agar kedua pihak tetap saling curiga dan membutuhkannya sebagai sekutu.
  • Menjaga Opsi Terbuka: Dalam beberapa situasi, ia tidak segan untuk berkonfrontasi langsung dengan Portugis jika dirasa haknya dilanggar, tetapi juga tidak menutup pintu dialog sepenuhnya, karena perdagangan tetap menjadi sumber kekayaan.
BACA JUGA  Zat yang menjadi elektrolit saat dilarutkan dalam air dan rahasia ion-ionnya

Kontribusi pada Penyebaran Islam dan Budaya

Di balik narasi besar politik dan militer, Sultan Alauddin Syah meninggalkan warisan yang mungkin lebih abadi: kontribusinya dalam menjadikan Islam sebagai tulang punggung peradaban Maluku. Pemerintahannya bukan hanya tentang mengelola kekuasaan duniawi, tetapi juga tentang membangun identitas kolektif yang baru, yang bertahan jauh melampaui zamannya.

Upaya Mendukung Penyebaran Agama Islam

Alauddin Syah secara aktif menjadikan kesultanan sebagai motor dakwah. Ia mendukung penuh para mubaligh, baik yang berasal dari Jawa, Melayu, maupun Arab, untuk menyebarkan Islam ke pulau-pulau terluar. Kebijakan pemerintahannya seringkali mengikat loyalitas politik dengan penerimaan Islam; para kepala daerah yang masuk Islam mendapatkan konfirmasi kedudukan dan perlindungan. Ia juga mendirikan dan membiayai pusat-pusat pendidikan Islam ( madrasah) serta masjid, yang berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai pusat komunitas, pembelajaran, dan bahkan pengadilan agama.

Perkembangan Karya Budaya, Pendidikan, dan Keagamaan

Pada masanya, terjadi perkembangan signifikan dalam budaya tulis. Karya-karya keagamaan mulai ditulis atau disalin menggunakan aksara Arab-Melayu (Jawi). Tradisi lisan mulai dialihmediakan ke dalam bentuk tulisan. Seni arsitektur masjid juga berkembang, dengan ciri khas atap tumpang yang menunjukkan akulturasi dengan gaya lokal. Pendidikan agama menghasilkan kelas ulama lokal yang literat, yang kemudian menjadi penasihat sultan dan hakim.

Proses ini mentransformasi masyarakat Maluku dari komunitas yang berbasis klan dan adat semata menjadi masyarakat yang juga terikat oleh identitas keumatan ( ummah) yang lebih universal.

Penilaian Sejarah sebagai Pelindung Islam

Peran Alauddin Syah dalam membentengi dan menyebarkan Islam di Nusantara bagian timur mendapat pengakuan dari berbagai catatan sejarah. Salah satu penilaian yang menggambarkan posisinya adalah sebagai berikut:

“Sultan Alauddin Syah of Ternate is often remembered not just as a political ruler, but as a key patron who solidified the Islamic character of the Moluccan sultanates. His reign marked a turning point where Islam moved from being the religion of the court to becoming more deeply entrenched among the broader population, serving as a counterforce to the Christian missionary efforts of the Portuguese. He effectively positioned himself as the defender of the faith in the eastern archipelago.”

Kutipan di atas, yang merepresentasikan pandangan sejarawan, menegaskan bahwa warisannya berada pada ranah ideologis dan keagamaan, yang menjadi fondasi bagi legitimasi kesultanan-kesultanan Maluku selanjutnya.

Pencapaian Militer dan Pertahanan Wilayah: Peran Sultan Alauddin Syah Dalam Kerajaan Maluku

Di era di mana kekuatan seringkali menjadi bahasa utama diplomasi, Sultan Alauddin Syah paham bahwa kekuatan militer yang tangguh adalah prasyarat untuk bertahan dan berdaulat. Ia tidak hanya membangun angkatan perang untuk bertahan, tetapi juga untuk menegaskan hegemoni Ternate di kawasan yang penuh persaingan ini.

Ekspansi dan Pertahanan Kedaulatan

Di bawah komandonya, kekuatan angkatan laut Ternate, yang dikenal dengan armada hongi, diperkuat secara signifikan. Armada ini tidak hanya berfungsi patroli untuk mengawasi monopoli cengkeh, tetapi juga sebagai alat proyeksi kekuatan. Alauddin Syah berhasil mempertahankan inti wilayah kesultanan dari ancaman langsung Portugis yang bersarang di benteng mereka. Bahkan, terdapat indikasi bahwa pengaruh Ternate meluas ke beberapa wilayah di pesisir Papua (Papua Barat) dan Sulawesi Utara (seperti wilayah Minahasa dan Sangihe), meskipun lebih dalam bentuk pengaruh politik dan perdagangan daripada aneksasi langsung.

Keberhasilannya menjaga Ternate tetap independen di tengah tekanan asing yang intens adalah pencapaian militer-politik yang terbesar.

Tantangan Keamanan dan Strategi Militer, Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku

Tantangan utama berasal dari dua front: kekuatan Eropa dengan persenjataan superior yang bertahan di benteng-benteng, dan kerajaan-kerajaan lokal saingan (terutama Tidore yang didukung Spanyol). Strategi Alauddin Syah menghadapi hal ini bersifat hybrid. Terhadap benteng Portugis, ia menerapkan taktik blokade dan perang gerilya darat, memutus pasokan dan membuat garnisun mereka tidak nyaman. Terhadap rival lokal, ia menggunakan kombinasi ekspedisi laut langsung dan diplomasi untuk mengisolasi mereka.

BACA JUGA  Akun yang termasuk ke dalam aset lancar pengertian jenis dan peranannya

Ia juga memperkuat benteng-benteng tradisional Ternate dan kemungkinan membangun yang baru, belajar dari desain Eropa tetapi disesuaikan dengan medan lokal.

Pencapaian Penting dalam Bidang Militer

  • Konsolidasi Kekuatan Laut (Hongi): Mentransformasi armada tradisional menjadi kekuatan terorganisir yang disegani, mampu mengontrol jalur pelayaran dan perdagangan di wilayah pusat rempah.
  • Ketahanan terhadap Penaklukan Asing: Berhasil mencegah upaya Portugis untuk sepenuhnya menguasai dan menjajah Ternate secara de facto, menjaga inti kedaulatan kesultanan.
  • Proyeksi Pengaruh Regional: Ekspedisi militernya berhasil memperluas zona pengaruh Ternate ke wilayah perifer, memperkuat klaimnya sebagai kekuatan utama di Maluku.
  • Modernisasi Terbatas: Berinisiatif mengadopsi teknologi persenjataan baru (seperti meriam) dan mungkin teknik pertahanan benteng, menunjukkan kemampuan adaptasi taktis.
  • Membangun Aliansi Militer: Kemampuan menjalin kerja sama militer sementara dengan berbagai pihak (bahkan sesama penguasa lokal yang biasanya bersaing) untuk menghadapi ancaman bersama, seperti tekanan Portugis.

Warisan dan Dampak Kepemimpinan Jangka Panjang

Setelah debu pertempuran dan intrigu diplomasi mereda, apa yang tersisa dari seorang Sultan Alauddin Syah? Jawabannya bukan hanya dalam catatan sejarah, tetapi dalam pola-pola yang terus hidup, membentuk Maluku selama berabad-abad setelahnya. Kepemimpinannya meninggalkan cetak biru tentang bagaimana sebuah kerajaan lokal dapat bertahan dan bahkan berkembang di tengah gelombang globalisasi pertama.

Warisan Institusional dan Tradisi bagi Penerus

Sultan Alauddin Syah mewariskan model kesultanan Islam yang kuat dan otonom kepada penerusnya di Ternate. Struktur birokrasi yang ia perkokoh—dengan Jogugu, Bobato, dan integrasi ulama—terus dipakai dengan sedikit modifikasi. Tradisi diplomasi yang luwes namun berprinsip menjadi pelajaran berharga. Yang paling penting, ia meninggalkan legitimasi yang kuat: Ternate di bawahnya bukan lagi sekadar kerajaan penghasil rempah, tetapi sebuah kesultanan Islam yang diakui oleh dunia Melayu-Islam, dengan sultan yang berperan sebagai Zilullah fil-Ard (bayangan Tuhan di bumi) sekaligus pemimpin politik.

Dualitas legitimasi ini menjadi standar bagi sultan-sultan Ternate selanjutnya.

Pengaruh pada Perkembangan Sosial-Ekonomi Maluku

Kebijakan ekonominya yang ketat dalam mengelola cengkeh, meski memicu konflik, pada dasarnya menegaskan hak ulayat dan kedaulatan lokal atas sumber daya. Prinsip ini, meski kerap dilanggar oleh kekuatan kolonial berikutnya (VOC), menjadi dasar perlawanan dan tuntutan masyarakat Maluku di kemudian hari. Dari sisi sosial, Islamisasi yang ia dorong telah mengkristal menjadi identitas dominan masyarakat Maluku Tengah. Struktur masyarakat yang terikat pada masjid dan sistem nilai Islam menjadi ciri khas, membedakannya dari wilayah lain di Indonesia timur.

Pola permukiman dan hubungan kekerabatan juga mulai diwarnai oleh identitas keislaman ini.

Peninggalan Fisik dan Non-Fisik yang Dikenang

Warisan fisik Sultan Alauddin Syah mungkin sulit ditelusuri secara spesifik karena zaman dan konflik yang telah bergulir. Namun, masjid-masjid tua di Ternate dan pulau sekitarnya yang dibangun atau didukung pada era pemerintahannya adalah saksi bisu. Situs bekas istana (Kedaton) dan benteng-benteng tradisional Ternate juga mengandung memori dari zamannya. Warisan non-fisiknya jauh lebih nyata: tradisi lisan, hikayat, dan syair tentang kejayaan Ternate yang kerap menyebut namanya; semangat kemandirian dan ketahanan masyarakat Maluku dalam menghadapi tekanan luar; serta jaringan keilmuan Islam yang terus hidup.

Ia dikenang bukan sebagai sosok sempurna, tetapi sebagai pemimpin yang gigih membentengi kedaulatan dan identitas bangsanya di persimpangan sejarah yang paling genting.

Kesimpulan

Jadi, kalau ditarik benang merahnya, kepemimpinan Sultan Alauddin Syah itu meninggalkan cetak biru yang luar biasa bagi Nusantara. Warisannya bukan sekadar tembok benteng atau gelar kehormatan, melainkan sebuah legacy tentang bagaimana menjaga martabat lokal di panggung global. Ia mengajarkan bahwa kedaulatan itu bukan sesuatu yang diberikan, tetapi sesuatu yang diperjuangkan dengan kecerdikan, ketegasan, dan integritas. Hingga kini, semangatnya mengingatkan kita bahwa sejarah Maluku adalah tentang resistensi, adaptasi, dan identitas yang tak pernah benar-benar pudar.

Pertanyaan Populer dan Jawabannya

Apakah Sultan Alauddin Syah berkonflik dengan penguasa lokal lain di Maluku?

Ya, terdapat dinamika persaingan dan kerjasama. Sebagai penguasa Ternate, hubungannya dengan Kesultanan Tidore, misalnya, sering kali diwarnai ketegangan akibat persaingan pengaruh dan perebutan hegemoni atas kepulauan rempah, meski kadang juga bersatu menghadapi ancaman bangsa Eropa.

Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku bukan sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah strategi kompleks untuk mengonsolidasi kekuasaan. Seperti halnya kita perlu memahami logika di balik Menghitung Jumlah Rute Perjalanan A‑B‑C‑B‑A Tanpa Bus Sama , menganalisis langkah-langkah politiknya memerlukan ketelitian dalam memetakan setiap pilihan dan konsekuensinya. Dengan pendekatan sistematis itu, kita bisa lebih menghargai kecerdikan sang Sultan dalam merajut aliansi dan menjaga stabilitas kerajaan di tengah gelombang perubahan.

Bagaimana kehidupan pribadi dan keluarga Sultan Alauddin Syah?

Informasi detail terbatas, namun sebagai Sultan, ia tentu memiliki permaisuri dan anak yang akan meneruskan takhta. Kehidupan keluarganya juga tak lepas dari dinamika politik, seperti pernikahan strategis untuk memperkuat aliansi dengan kerajaan atau kesultanan lain.

Apakah ada peninggalan fisik langsung dari masa pemerintahannya yang masih bisa dilihat sekarang?

Beberapa benteng yang diperkuat atau dibangun pada masanya, seperti bagian dari Benteng Oranye di Ternate, meski telah mengalami banyak renovasi oleh penjajah berikutnya, diyakini memiliki fondasi dari era kepemimpinannya. Peninggalan non-fisik seperti tradisi dan silsilah lebih jelas terjaga.

Bagaimana akhir dari kepemimpinan Sultan Alauddin Syah?

Catatan sejarah tidak secara eksplisit merinci akhir hidupnya dengan dramatis. Ia meninggal setelah periode pemerintahan yang panjang, meninggalkan kesultanan yang lebih kuat kepada penerusnya. Transisi kekuasaan berjalan relatif stabil berkat fondasi pemerintahan yang telah ia kokohkan.

Leave a Comment