Perbaikan Diksi dan Penulisan Kalimat Baku untuk Contoh Teks bukan sekadar urusan tata bahasa yang kaku, melainkan seni merajut kata agar pesan sampai dengan presisi dan elegan. Dalam dunia yang dipenuhi informasi, kemampuan menyusun kalimat yang efektif menjadi penanda kredibilitas sekaligus senjata ampuh untuk menarik perhatian pembaca dari berbagai kalangan.
Artikel ini akan mengajak pembaca menyelami prinsip-prinsip dasar pemilihan kata dan penyusunan kalimat, dilengkapi dengan analisis kesalahan umum serta studi kasus nyata. Dari teks narasi yang hidup hingga dokumen formal yang rigid, setiap contoh perbaikan akan menunjukkan bagaimana diksi yang tepat dan struktur yang baku mampu mengubah sebuah tulisan dari biasa menjadi luar biasa, memastikan tidak ada lagi makna yang tersesat di antara baris-baris kalimat.
Pentingnya Diksi dan Kalimat Baku
Dalam dunia tulis-menulis, baik untuk keperluan akademis, jurnalistik, maupun kreatif, kemampuan memilih kata dan menyusun kalimat bukan sekadar urusan teknis. Ini adalah fondasi komunikasi yang menentukan apakah pesan kita sampai dengan utuh atau justru tersesat dalam tafsir. Diksi yang tepat merujuk pada pemilihan kata yang sesuai dengan konteks, nuansa makna, dan kaidah kebakuan bahasa Indonesia. Sementara itu, kalimat baku adalah kalimat yang memenuhi standar kaidah tata bahasa, ejaan, dan logika yang berlaku, sehingga dapat dipahami dengan jelas oleh khalayak luas tanpa distorsi makna.
Dampak dari penggunaan diksi dan struktur kalimat yang baik sangat nyata. Kejelasan pesan menjadi utama; pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi untuk menebak-nebak maksud penulis. Lebih dari itu, kredibilitas penulis terbangun. Sebuah tulisan yang rapi dan sesuai kaidah menunjukkan sikap profesional, hati-hati, dan menghormati pembaca. Sebaliknya, tulisan yang amburadul sering kali dianggap ceroboh dan meragukan isinya, meskipun mungkin ide dasarnya brilian.
Perhatikan perbedaan sederhana ini:
Teks Awal: Kemarin gue ke tempat nongkrong yang baru, vibes-nya kekinian banget dan cozy, jadi betah nongkrong lama-lama.
Teks Perbaikan: Kemarin saya mengunjungi kafe baru itu. Suasananya terasa modern dan nyaman, sehingga saya betah berlama-lama di sana.
Teks perbaikan tidak hanya lebih baku, tetapi juga lebih universal dan siap dikomunikasikan dalam konteks yang lebih formal tanpa kehilangan esensi “santai”-nya.
Analisis Kesalahan Umum dalam Pemilihan Diksi
Kesalahan dalam memilih kata sering kali terjadi tanpa disadari, terlebih dengan pengaruh bahasa lisan dan serapan yang begitu kuat. Beberapa jenis kesalahan yang paling sering muncul adalah penggunaan kata tidak baku yang berasal dari pelafalan daerah atau penyederhanaan, penyerapan kata asing yang tidak mengikuti pola yang telah ditetapkan, serta malapropisme atau kekeliruan menggunakan kata yang bunyinya mirip namun maknanya berbeda jauh.
Kesalahan-kesalahan ini dapat mengaburkan maksud dan membuat tulisan terkesan tidak terurus.
Berikut adalah tabel yang merangkum beberapa contoh kesalahan diksi yang umum ditemui:
| Kata Tidak Baku | Kata Baku | Penjelasan Kesalahan | Contoh Kalimat Perbaikan |
|---|---|---|---|
| praktek | praktik | Penulisan serapan dari “practice” yang benar adalah ‘praktik’. | Dia sedang mempraktikkan teori yang dipelajarinya. |
| rubah (untuk binatang) | rubah | Kata baku untuk binatang adalah ‘rubah’, sedangkan ‘ubah’ berarti berubah. | Kita melihat seekor rubah melintas di pinggir hutan. |
| analisa | analisis | Kata serapan dari “analysis” yang benar adalah ‘analisis’. | Hasil analisis data menunjukkan tren yang positif. |
| karna | karena | Penyingkatan yang tidak baku. Penulisan yang benar adalah ‘karena’. | Acara ditunda karena hujan turun dengan lebat. |
Selain itu, dua penyakit kalimat yang sering muncul adalah pleonasme dan tautologi. Pleonasme adalah penggunaan kata yang berlebihan karena maknanya sudah tercakup dalam kata lain, sementara tautologi adalah pengulangan kata yang tidak perlu dengan sinonimnya. Contohnya: “Ia maju ke depan untuk menyampaikan pidato.” (Kata ‘maju’ sudah mengandung makna ‘ke depan’). Perbaikan: “Ia maju untuk menyampaikan pidato.” Contoh lain: “Para hadirin yang hadir dipersilakan duduk.” (Kata ‘hadirin’ sudah berarti ‘orang-orang yang hadir’).
Perbaikan: ” Hadirin dipersilakan duduk.”
Prinsip Penyusunan Kalimat Baku dan Efektif
Kalimat baku dan efektif adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Sebuah kalimat bisa saja baku secara struktur, tetapi belum tentu efektif dalam menyampaikan pesan. Ciri-ciri kalimat baku antara lain memiliki subjek dan predikat yang lengkap, menggunakan ejaan dan tanda baca yang tepat, serta bebas dari kontaminasi struktur bahasa daerah atau asing. Sementara itu, keefektifan kalimat lebih menekankan pada ketepatan penyampaian gagasan: padu, logis, hemat kata, dan tidak menimbulkan multitafsir.
Berbagai jenis ketidakefektifan sering mengganggu kelancaran membaca. Kalimat ambigu membuat pembaca bingung karena memiliki lebih dari satu tafsiran. Kalimat rancu terjadi karena pencampuran dua struktur yang berbeda. Kalimat bertele-tele menggunakan terlalu banyak kata untuk menyampaikan ide yang sederhana. Sedangkan kalimat tidak padu terjadi ketika ide-ide di dalamnya tidak terhubung dengan kohesif.
Untuk menguji keefektifan sebuah kalimat, beberapa langkah praktis berikut dapat diterapkan:
- Baca Keras-keras: Dengarkan alurnya. Jika terasa tersendat atau aneh, kemungkinan ada masalah struktur.
- Identifikasi Inti Kalimat: Temukan subjek, predikat, dan objek utamanya. Pastikan tidak ada elemen yang mengganggu kejelasan hubungan antarunsur ini.
- Hilangkan Kata yang Mubazir: Periksa apakah ada kata sifat, keterangan, atau frasa yang tidak memberikan informasi penting dan bisa dihapus.
- Uji Logika: Pastikan hubungan sebab-akibat, waktu, dan urutan ide berjalan secara logis dan tidak melompat-lompat.
- Periksa Keparalelan: Jika menggunakan rangkaian atau daftar, pastikan bentuk kata atau frasa yang digunakan paralel (konsisten).
Studi Kasus: Perbaikan Teks Narasi Deskriptif
Mari kita terapkan pemahaman tentang diksi dan kalimat baku pada sebuah teks narasi deskriptif. Teks berikut menggambarkan suasana pasar tradisional, namun sengaja disisipi berbagai kesalahan umum untuk dianalisis bersama.
Pagi-pagi banget, suasana pasar tradisonal rame banget. Para pedagang terlihat sibuk naruhin barang dagangannya di lapak. Aroma-aroma yang tajam, mulai dari bau ikan amis sampe wangi bunga kembang sepatu, campur aduk jadi satu. Pembeli pada nawar harga dengan suara yang berisik, sementara tukang becak ngetem nungguin penumpang di depan gerbang. Pemandangan yang chaotic tapi penuh warna dan hidup.
Perbaikan diksi dan penulisan kalimat baku sangat penting untuk memastikan sebuah teks, termasuk panduan teknis, mudah dipahami. Prinsip kejelasan ini juga berlaku dalam perhitungan teknis, misalnya saat Anda perlu memahami Cara Menghitung Kemiringan Tangga terhadap Dinding Tembok. Demikian pula, ketepatan istilah dan struktur kalimat yang runtut dalam contoh teks akan menghindarkan ambiguitas dan meningkatkan kualitas komunikasi tertulis secara signifikan.
Analisis baris per baris menunjukkan beberapa masalah: (1) penggunaan kata tidak baku (“banget”, “naruhin”, “amis”, “nawar”, “ngetem”), (2) penulisan kata yang salah (“tradisonal” seharusnya “tradisional”, “rame” seharusnya “ramai”), (3) struktur kalimat yang kurang variatif dan cenderung sederhana, serta (4) penggunaan kata serapan “chaotic” yang kurang tepat dalam konteks deskripsi berbahasa Indonesia.
Berikut adalah perbandingan antara teks asli dan versi perbaikannya:
| Teks Asli | Teks Perbaikan dan Penjelasan |
|---|---|
| Pagi-pagi banget, suasana pasar tradisonal rame banget. | Sejak dini hari, suasana pasar tradisional sudah ramai. (Kata tidak baku diganti, struktur diperhalus) |
| Para pedagang terlihat sibuk naruhin barang dagangannya di lapak. | Para pedagang terlihat sibuk menata barang dagangan di lapaknya. (“Naruhin” diganti kata baku “menata” yang lebih deskriptif) |
| Aroma-aroma yang tajam, mulai dari bau ikan amis sampe wangi bunga kembang sepatu, campur aduk jadi satu. | Aroma yang tajam, mulai dari anyir ikan hingga harum bunga sepatu, berbaur menjadi satu. (Kata tidak baku diganti, diksi diperkaya (“anyir”, “harum”), struktur diperketat) |
| Pembeli pada nawar harga dengan suara yang berisik, sementara tukang becak ngetem nungguin penumpang di depan gerbang. | Para pembeli sibuk menawar harga dengan suara riuh, sementara tukang becak berjejer menunggu penumpang di depan gerbang. (Kata tidak baku diganti, diksi diperjelas (“riuh”, “berjejer”)) |
| Pemandangan yang chaotic tapi penuh warna dan hidup. | Sebuah pemandangan yang semrawut namun penuh warna dan hidup. (Kata serapan diganti dengan padanan Indonesia yang tepat dan kuat: “semrawut”) |
Studi Kasus: Penyuntingan Teks Formal atau Ilmiah
Dalam ranah formal dan ilmiah, ketepatan diksi dan kejelasan struktur kalimat menjadi tuntutan mutlak. Sebuah kalimat yang terlalu panjang dan berbelit dapat mengaburkan inti penelitian atau argumen yang ingin disampaikan. Perhatikan paragraf berikut yang menyerupai bagian dari latar belakang proposal.
Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dikarenakan adanya fenomena menurunnya minat baca di kalangan remaja yang cukup signifikan akhir-akhir ini. Dimana berdasarkan survei awal, banyak remaja lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bermain gadget dibandingkan membaca buku. Oleh karena itu penulis ingin mengkaji lebih dalam tentang bagaimana peran perpustakaan digital dapat menjadi sebuah solusi alternatif guna meningkatkan kembali minat baca tersebut.
Analisis menunjukkan beberapa ketidakbakuan: (1) penggunaan kata depan dan konjungsi yang kurang tepat (“dikarenakan”, “dimana”), (2) kalimat yang dimulai dengan konjungsi (“Dimana berdasarkan…”) sehingga tidak memiliki subjek independen, (3) penggunaan kata “penulis” yang tidak konsisten dengan “peneliti” di awal, (4) frasa yang berlebihan seperti “cukup signifikan”, “sebuah solusi alternatif”, dan (5) struktur kalimat pasif yang dapat disederhanakan.
Berikut adalah versi teks yang telah disunting untuk lebih baku, jelas, dan langsung pada intinya:
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena penurunan minat baca di kalangan remaja.
Perbaikan diksi dan penulisan kalimat baku bukan sekadar urusan tata bahasa, melainkan fondasi untuk menyampaikan gagasan dengan presisi dan elegan. Dalam konteks yang lebih luas, upaya ini sejalan dengan Usaha Memajukan Bahasa Indonesia di Era Milenial Saat Ini , yang menekankan adaptasi tanpa kehilangan roh kebakuannya. Oleh karena itu, mengasah keterampilan menyusun teks contoh yang baik menjadi kontribusi nyata bagi kemajuan bahasa di ruang digital.
Survei awal menunjukkan bahwa banyak remaja lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawainya daripada membaca buku.
Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji peran perpustakaan digital sebagai alternatif solusi untuk meningkatkan kembali minat baca tersebut.
Alat dan Teknik Bantu untuk Self-Editing: Perbaikan Diksi Dan Penulisan Kalimat Baku Untuk Contoh Teks
Source: kibrispdr.org
Proses penyuntingan mandiri (self-editing) adalah keterampilan penting yang dapat diasah. Untuk melakukannya secara sistematis, diperlukan pendekatan terstruktur dan bantuan alat yang tepat. Sebelum menyelesaikan naskah, luangkan waktu untuk memeriksa ulang dengan kritis, berfokus pada aspek kebahasaan terlebih dahulu sebelum masuk ke konten ide.
Sebagai panduan, daftar periksa berikut dapat digunakan untuk memastikan konsistensi diksi dan kebakuan kalimat:
- Kebakuan Kata: Apakah semua kata yang digunakan sudah bentuk bakunya? Periksa kata-kata yang sering salah seperti “objek” vs “obyek”, “sistem” vs “sistim”.
- Keseragaman Istilah: Apakah istilah teknis yang sama ditulis secara konsisten di seluruh naskah? (Misal, tidak berganti-ganti antara “gawai”, “ponsel”, dan “telepon pintar”).
- Kelengkapan Kalimat: Apakah setiap kalimat memiliki subjek dan predikat yang jelas? Hindari kalimat fragment.
- Keparalelan: Apakah unsur-unsur dalam suatu rangkaian atau daftar memiliki bentuk gramatikal yang paralel?
- Kehematan Kata: Apakah ada kata, frasa, atau bahkan kalimat yang bisa dihapus tanpa mengubah makna?
- Ketepatan Ejaan dan Tanda Baca: Apakah penulisan huruf kapital, penyingkatan, dan tanda baca (koma, titik, dll) sudah sesuai PUEBI?
Teknik membaca keras (reading aloud) sangat efektif untuk mendeteksi kalimat yang janggal atau tidak lancar dibaca. Teknik lain adalah membaca dari akhir paragraf ke awal, kalimat per kalimat. Cara ini memutus alur logika dan memaksa fokus pada struktur setiap kalimat secara individual, sehingga kesalahan gramatikal lebih mudah terlihat. Untuk konfirmasi, selalu gunakan sumber rujukan primer seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring untuk memeriksa kebakuan kata dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) untuk memastikan ketepatan ejaan dan tanda baca.
Latihan Terapan dan Evaluasi Mandiri
Untuk mengasah kemampuan, cobalah perbaiki tiga kalimat bermasalah di bawah ini. Setiap kalimat memiliki fokus masalah yang berbeda: diksi, struktur, dan ejaan.
- Kita harus merubah mindset kita agar tidak gampang stress menghadapi perubahan. (Masalah: Diksi dan penyerapan).
- Rapat yang dipimpin oleh manajer itu membahas tentang anggaran, perekrutan karyawan baru, dan bagaimana meningkatkan penjualan. (Masalah: Struktur – ketidakparalelan).
- Anak-anak di era sekarang lebih familiar dengan teknologi digital ketimbang anak-anak jaman dulu. (Masalah: Ejaan dan diksi).
Selanjutnya, suntinglah paragraf pendek berikut ini menjadi lebih efektif dan baku:
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah yang ke-50, pihak sekolah akan mengadakan acara pentas seni dan bazar. Dimana acara tersebut akan diisi dengan berbagai pertunjukan dari siswa-siswi. Bagi para alumni yang ingin bernostalgia, diharapkan untuk hadir dan memeriahkan acara tersebut. Karena acara ini juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar seluruh warga sekolah dari masa ke masa.
Kunci Perbaikan:
Perbaikan diksi dan penulisan kalimat baku adalah fondasi utama untuk menyusun teks yang padu dan mudah dipahami. Upaya ini menjadi lebih efektif ketika kita memahami Fungsi Paragraf Pengembang sebagai kerangka yang mengorganisir ide pokok menjadi uraian yang koheren. Dengan demikian, pemilihan kata dan struktur kalimat yang tepat tidak hanya memperjelas maksud, tetapi juga memperkuat alur logika dalam setiap contoh teks yang disajikan.
Untuk tiga kalimat:
- Perbaikan: Kita harus mengubah pola pikir kita agar tidak mudah stres menghadapi perubahan. (Penjelasan: “merubah” adalah bentuk tidak baku dari “mengubah”. “Stress” sebaiknya diserap menjadi “stres”, dan “gampang” diganti dengan “mudah” untuk konteks lebih formal).
- Perbaikan: Rapat yang dipimpin oleh manajer itu membahas anggaran, perekrutan karyawan baru, dan peningkatan penjualan. (Penjelasan: Menghilangkan “tentang” dan menyamakan bentuk ketiga item menjadi frasa benda (nomina) yang paralel).
- Perbaikan: Anak-anak di era sekarang lebih akrab dengan teknologi digital ketimbang anak-anak zaman dulu. (Penjelasan: “Familiar” dapat diganti dengan padanan Indonesia “akrab”. “Jaman” adalah ejaan lama, yang baku adalah “zaman”).
Untuk paragraf:
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun sekolah yang ke-50, pihak sekolah akan mengadakan pentas seni dan bazar. Acara ini akan diisi dengan berbagai pertunjukan dari siswa. Para alumni juga diharapkan hadir untuk bernostalgia dan memeriahkan acara. Selain itu, acara bertujuan untuk menjalin silaturahmi antar seluruh warga sekolah dari masa ke masa.
Penjelasan: (1) Menghilangkan kata “dimana” dan menggabungkan kalimat, (2) Menghilangkan “siswa-siswi” karena “siswa” sudah netral gender, (3) Menyederhanakan kalimat ketiga yang bertele-tele, (4) Mengganti “Karena” dengan “Selain itu” untuk hubungan antarkalimat yang lebih smooth, dan (5) Menghilangkan kata “tersebut” yang berlebihan.
Penutupan
Pada akhirnya, menguasai diksi dan kalimat baku adalah proses berkelanjutan yang mengasah kepekaan berbahasa. Setiap kali melakukan penyuntingan, penulis tidak hanya memperbaiki teks, tetapi juga melatih diri untuk berpikir lebih jernih dan menyampaikan gagasan dengan lebih percaya diri. Komitmen pada kebakuan bahasa adalah investasi untuk membangun komunikasi yang kuat dan meninggalkan kesan mendalam di benak pembaca.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah menulis dengan kalimat baku membuat tulisan menjadi kaku dan tidak menarik?
Tidak sama sekali. Kalimat baku justru menjadi fondasi yang kuat untuk bereksperimen dengan gaya bahasa. Kekakuan sering kali berasal dari struktur yang rancu atau diksi yang tidak tepat. Setelah fondasi baku dikuasai, penulis justru memiliki kebebasan lebih untuk berkreasi dengan gaya personal tanpa mengorbankan kejelasan pesan.
Bagaimana cara membedakan kata baku dan tidak baku dalam percakapan sehari-hari yang sering digunakan?
Kata tidak baku sering muncul dari pengucapan lisan yang disingkat atau diubah, seperti “nggak” (tidak baku) vs “tidak” (baku). Cara terbaik adalah selalu merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring. Perhatikan juga kata serapan; penggunaan yang salah seperti “standard” (tidak baku) vs “standar” (baku) adalah hal umum.
Apakah software pemeriksa tata bahasa otomatis bisa menggantikan proses penyuntingan mandiri?
Tidak sepenuhnya. Software tersebut membantu menangkap kesalahan ejaan dasar atau struktur yang sangat kompleks, tetapi sering kali gagal memahami konteks, nuansa makna diksi, dan keindahan gaya bahasa. Telinga dan kepekaan manusia dalam membaca ulang, terutama dengan suara keras, tetap tidak tergantikan untuk menilai kelancaran dan efektivitas kalimat.
Kapan saat yang tepat untuk melakukan proses penyuntingan diksi dan kalimat dalam proses menulis?
Lakukan penyuntingan setelah draft pertama selesai. Pada tahap menulis awal, fokuslah pada menuangkan ide tanpa terlalu khawatir dengan kebakuan. Penyuntingan dilakukan pada tahap revisi, dimana penulis dapat membaca ulang naskah dengan pikiran yang lebih segar untuk mengidentifikasi masalah diksi, struktur, dan konsistensi.