Perbedaan Aufklärung dan Enlightenment di Prancis vs Inggris Gerakan Intelektual Abad 18

Perbedaan Aufklärung dan Enlightenment di Prancis vs Inggris bukan sekadar soal terjemahan bahasa, melainkan dua jalan berbeda menuju cahaya nalar di abad ke-18. Di tengah gemuruh revolusi pemikiran yang mengguncang Eropa, dua kekuatan intelektual ini muncul dengan karakter dan dampak yang membedakan nasib kedua bangsa. Jika kita menyelami atmosfer zaman itu, kita akan menemukan bahwa semangat yang sama untuk mencerahkan ternyata diejawantahkan dengan cara yang hampir bertolak belakang, dipengaruhi secara mendalam oleh konteks politik dan sosial tempatnya bertumbuh.

Sementara Prancis dengan Aufklärung-nya bergelut dalam bayang-bayang monarki absolut dan otoritas gereja yang kaku, melahirkan pemikiran-pemikiran yang radikal dan revolusioner, Inggris dengan Enlightenment-nya justru berkembang dalam iklim monarki konstitusional yang relatif stabil, memunculkan filsafat yang lebih empiris dan bertahap. Perbandingan ini bukan hanya kajian sejarah, tetapi kunci untuk memahami mengapa demokrasi, hak asasi, dan konsep negara modern lahir dengan wajah yang berbeda di kedua sisi Selat Inggris.

Perbedaan antara Aufklärung di Jerman dan Enlightenment di Inggris-Prancis tak hanya soal semantik, melainkan manifestasi konteks geografis dan politik yang membentuknya. Seperti dalam Penentuan Letak Tempat Berdasarkan Elevasi dari Permukaan Laut , posisi menentukan perspektif. Inggris yang ‘lebih tinggi’ secara geografis relatif terisolasi memunculkan empirisme praktis, sementara Prancis yang ‘datar’ secara topografi sosial melahirkan revolusi radikal, membuktikan bahwa latar ruang turut mengkondisikan arus pemikiran.

Pendahuluan: Makna dan Konteks Historis: Perbedaan Aufklärung Dan Enlightenment Di Prancis Vs Inggris

Abad ke-18 di Eropa diwarnai oleh gelombang pemikiran rasional yang ingin membebaskan manusia dari belenggu tradisi buta dan otoritas yang tak terbantahkan. Gerakan ini dikenal sebagai Enlightenment dalam bahasa Inggris dan Aufklärung dalam bahasa Jerman, yang kemudian sangat kuat mewarnai Prancis. Pada intinya, kedua gerakan ini berbagi semangat yang sama: keyakinan pada kekuatan akal budi (reason) sebagai alat utama untuk memahami dunia dan membangun tatanan masyarakat yang lebih baik, adil, dan maju.Namun, konteks historis tempat mereka tumbuh sangat berbeda, yang membentuk karakter dan ekspresinya.

Di Inggris, Enlightenment berkembang dalam atmosfer yang relatif stabil pasca Revolusi Agung 1688, yang menciptakan monarki konstitusional dan ruang bagi kebebasan sipil serta diskusi yang lebih terbuka. Sementara di Prancis, Aufklärung bertumbuh di bawah bayang-bayang monarki absolut Bourbon yang kaku dan sistem feodal yang timpang, diiringi oleh pengaruh Gereja Katolik yang sangat kuat dan sering kali represif. Perbedaan mendasar ini membuat semangat yang sama—rasionalitas dan kemajuan—menghasilkan nada dan prioritas yang berbeda.

Atmosfer intelektual Inggris cenderung lebih empiris, pragmatis, dan bertahap, sedangkan di Prancis lebih teoritis, kritis, dan radikal, seringkali ditujukan untuk menggulingkan fondasi lama secara menyeluruh.

Perbedaan Aufklärung dan Enlightenment di Prancis versus Inggris terletak pada nuansa radikalisme versus empirisme. Namun, dalam ranah teknis, prinsip transformasi ide ini mirip dengan cara kerja trafo yang mengubah tegangan, seperti yang dijelaskan dalam analisis mendalam tentang Hitung Tegangan Sekunder Trafo 800:200 pada 440 V. Persis seperti rasio lilitan menentukan output, konteks sosial-historis membentuk karakter gerakan pencerahan di kedua negara tersebut, menghasilkan manifestasi intelektual yang unik dan berdampak luas.

Karakteristik Filosofis dan Intelektual

Perbedaan konteks itu tercermin dalam para pemikir andalannya. Di Prancis, tokoh-tokoh seperti Voltaire, Denis Diderot, dan Jean-Jacques Rousseau menjadi ikon. Mereka adalah

  • philosophes* yang seringkali menulis dengan gaya sarkastik dan tajam, mengkritik segala hal mulai dari dogma gereja hingga kesewenang-wenangan aristokrasi. Fokus mereka adalah pada reformasi sosial, kebebasan berpikir, dan seringkali deisme—kepercayaan pada Tuhan yang tidak campur tangan, jauh dari otoritas gereja yang institusional. Diderot, dengan proyek monumentalnya
  • Encyclopédie*, bertujuan untuk mengumpulkan semua pengetahuan manusia dan menyebarkannya untuk mencerahkan publik.
BACA JUGA  Instruksi Jawaban Tanpa Alasan Ilmiah UTUL UGM 2017 Biologi dan Strateginya

Sebaliknya, Enlightenment Inggris dibangun di atas fondasi yang diletakkan oleh Francis Bacon dan diperkuat oleh Isaac Newton dengan hukum gravitasinya yang menunjukkan alam semesta yang teratur dan dapat dipahami. John Locke, dengan teori tabula rasa dan kontrak sosialnya, memberikan dasar filosofis untuk hak-hak alamiah dan pemerintahan yang berdasarkan persetujuan. David Hume kemudian mendorong empirisme hingga ke titik skeptisisme yang radikal.

Pendekatan mereka lebih metodis dan berakar pada observasi, berbeda dengan kecenderungan para

philosophe* Prancis yang lebih spekulatif dan retoris.

Perbandingan Pemikiran Kunci

Berikut adalah tabel yang merangkum perbedaan karakteristik pemikiran antara kedua tradisi tersebut.

Ciri Pemikiran Contoh Tokoh (Prancis) Karya Utama Konsep Inti
Kritis, radikal, anti-establishment Voltaire Candide, Treatise on Toleration Kebebasan beragama, kebebasan berbicara, ejekan terhadap fanatisme
Ensiklopedis, materialis Denis Diderot Encyclopédie Penyebaran pengetahuan untuk emansipasi, skeptisisme agama
Romantis, populis Jean-Jacques Rousseau The Social Contract, Emile Kedaulatan rakyat, kehendak umum, kembalinya ke alam
Ciri Pemikiran Contoh Tokoh (Inggris) Karya Utama Konsep Inti
Empiris, liberal John Locke Two Treatises of Government, An Essay Concerning Human Understanding Tabula rasa, hak hidup, kebebasan, properti; pemerintahan berdasarkan persetujuan
Mekanistik, ilmiah Isaac Newton Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica Hukum alam yang universal dan dapat dipahami melalui akal dan observasi
Skeptis, empiris radikal David Hume A Treatise of Human Nature, An Enquiry Concerning Human Understanding Skeptisisme terhadap kausalitas, penekanan pada impresi dan ide

Peran Agama dan Hubungan dengan Negara

Sikap terhadap agama menjadi salah satu pembeda paling mencolok. Di Prancis, Gereja Katolik adalah bagian integral dari

  • Ancien Régime*, pemilik tanah yang luas, dan penjaga ortodoksi yang bekerja sama dengan monarki. Kritik para
  • philosophe* terhadap gereja sangat keras dan frontal. Voltaire terkenal dengan seruannya “Écrasez l’infâme!” (Hancurkan si keji!) yang merujuk pada institusi gereja yang dianggap menghambat kemajuan. Mereka banyak menganut deisme, memisahkan Tuhan pencipta dari campur tangan gereja dalam urusan duniawi.

Di Inggris, situasinya lebih kompleks. Setelah pergolakan agama pada abad sebelumnya, terdapat ruang untuk diskusi yang lebih luas, meskipun Gereja Anglikan tetap mapan. Pemikir Inggris seperti Locke berargumen untuk toleransi beragama (meski awalnya tidak untuk Katolik dan Atheis), sementara Hume mengkritik agama dari sudut pandang filosofis yang skeptis. Perbedaannya terletak pada intensitas dan konfrontasinya. Hubungan dengan negara juga berbeda secara fundamental.

Pemikir Prancis sering berhadapan dengan otoritas, mengalami penyensoran, penjara, atau pengasingan. Sebaliknya, banyak pemikir Inggris seperti Locke dan Newton justru terlibat dalam struktur kekuasaan; Locke bahkan membantu merancang konstitusi untuk Carolina. Perbedaan ini terlihat jelas dalam pernyataan khas mereka.

Perdebatan antara Aufklärung Jerman yang sistematis dan Enlightenment Inggris yang empiris membentuk fondasi demokrasi modern. Refleksi ini relevan untuk membedah Pertanyaan Sulit tentang Membangun Demokrasi Indonesia dengan Logika , yang memerlukan sintesis khas antara nalar kritis dan konteks lokal. Pada akhirnya, memahami dialektika Prancis-Inggris itu justru mengajarkan bahwa jalan menuju pencerahan selalu plural, bukan monolitik.

“Manusia dilahirkan bebas, namun di mana-mana ia terbelenggu.” — Jean-Jacques Rousseau, Du Contrat Social. Pernyataan ini mencerminkan semangat radikal untuk membongkar seluruh struktur sosial politik yang ada.

“Tujuan pemerintahan adalah kebaikan umat manusia. Manakah yang terbaik bagi umat manusia? Bahwa orang-orang harus diperintah oleh aturan-aturan yang ditetapkan, disetujui oleh bersama…” — John Locke, Two Treatises of Government. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan yang lebih konstruktif dan institusional dalam membangun otoritas politik.

Medium dan Penyebaran Ide

Cara ide-ide ini disebarluaskan juga mencerminkan perbedaan sosial kedua negara. Di Prancis, karena kontrol ketat dari otoritas kerajaan, para

  • philosophe* menggunakan medium yang canggih dan seringkali bawah tanah.
  • Encyclopédie* karya Diderot dan d’Alembert adalah mahakarya yang tidak hanya menyajikan pengetahuan teknis tetapi juga menyelipkan kritik sosial dan agama di dalam entrinya, dibaca oleh kaum borjuis dan bangsawan yang progresif. Salon-salon yang dihost oleh wanita-wanita terpelajar seperti Madame Geoffrin menjadi ruang diskusi penting di mana bangsawan, penulis, dan seniman bertukar pikiran, menciptakan “Republik Huruf” yang egaliter secara intelektual.
BACA JUGA  Premis Bertentangan Hujan atau Cuaca Panas Dua Sisi Alam

Di Inggris, penyebaran ide lebih terbuka dan komersial. Pamflet, jurnal seperti

The Spectator*, dan buku-buku dicetak secara legal dan luas. Klub-klub diskusi seperti The Royal Society untuk ilmu pengetahuan atau klub-klub kopi untuk diskusi politik dan sosial menjadi jantung penyebaran ide. Audiensnya lebih luas, mencakup kelas menengah pedagang dan profesional yang melek huruf. Perbedaan ini menciptakan dampak sosial yang berbeda

di Prancis, pencerahan menciptakan kelas intelektual yang teralienasi dari rezim, sementara di Inggris, ide-ide baru lebih terintegrasi ke dalam percakapan publik dan evolusi politik yang ada.

Perbandingan Medium dan Dampaknya

Berikut adalah poin-poin yang membandingkan karakteristik penyebaran ide di kedua negara.

  • Karakteristik Publik: Publik Prancis lebih tersegmentasi; ide beredar di kalangan elit intelektual dan borjuis terpelajar sebelum meledak ke massa. Publik Inggris lebih terintegrasi secara komersial, dengan pasar literatur yang berkembang pesat.
  • Akses Informasi: Di Prancis, akses dibatasi oleh penyensoran resmi, sehingga karya sering diterbitkan secara anonim di luar negeri atau diselundupkan. Di Inggris, akses informasi relatif lebih bebas meski tetap ada hukum pencemaran nama baik dan penghasutan.
  • Metode Diseminasi: Prancis mengandalkan jaringan salon, buku-buku tebal (seperti Ensiklopédie), dan manuskrip yang beredar diam-diam. Inggris memanfaatkan media periodikal yang terbit rutin, pamflet murah, dan pertemuan klub yang teratur.

Dampak Sosial-Politik dan Revolusi

Perbedaan Aufklärung dan Enlightenment di Prancis vs Inggris

Source: aetnd.com

Dampak politik dari kedua gerakan ini sangat dramatis dan membentuk wajah dunia modern. Di Prancis, ide-ide Aufklärung tentang kebebasan, kesetaraan, dan kedaulatan rakyat yang dipopulerkan oleh Rousseau, serta kritik tajam terhadap ketidakadilan oleh Voltaire, menjadi bahan bakar intelektual bagi Revolusi Prancis 1789. Semboyan “Liberté, Égalité, Fraternité” adalah kristalisasi langsung dari semangat ini. Revolusi berusaha menerapkan konsep-konsep tersebut secara radikal dan utopis, seringkali dengan kekerasan, untuk membangun tatanan masyarakat baru dari puing-puing

Ancien Régime*.

Di Inggris dan koloni Amerikanya, pengaruh Enlightenment lebih bersifat evolusioner dan konstitusional. Pemikiran Locke secara langsung memengaruhi Bill of Rights Inggris 1689, yang membatasi kekuasaan raja. Lebih lanjut, argumen Locke tentang hak untuk memberontak melawan tirani menjadi dasar filosofis bagi Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat tahun 1776. Konstitusi AS, dengan pemisahan kekuasaan dan sistem checks and balances, adalah eksperimen besar dalam membangun pemerintahan berdasarkan akal budi, yang terinspirasi oleh Montesquieu (seorang Prancis, tetapi yang karyanya sangat dipengaruhi oleh studi tentang konstitusi Inggris) dan pemikir Enlightenment lainnya.

Implementasi Konsep Politik, Perbedaan Aufklärung dan Enlightenment di Prancis vs Inggris

Konsep Politik Implementasi di Prancis Implementasi di Inggris/Amerika Konsekuensi Jangka Panjang
Kedaulatan Rakyat Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara (1789), penghapusan monarki, Republik Pertama. Parlemen yang berdaulat (Inggris), “We the People” dalam Konstitusi AS (1787). Prancis: siklus revolusi dan reaksi. Inggris/AS: stabilisasi demokrasi perwakilan secara bertahap.
Hak Asasi Manusia Dideklarasikan secara universal, tetapi sering dilanggar selama Pemerintahan Teror. Diabadikan dalam Bill of Rights (1689) dan Amendemen Konstitusi AS (Bill of Rights, 1791). Menjadi dasar hukum internasional modern tentang HAM, dengan perjalanan penegakan yang berbeda.
Pemisahan Kekuasaan Dicoba tetapi kacau selama revolusi, baru stabil di Republik Kelima (1958). Diterapkan secara efektif dalam konstitusi AS (Eksekutif, Legislatif, Yudikatif). AS menjadi model stabil pemisahan kekuasaan. Prancis mengalami berbagai model sebelum menemukan keseimbangan.
Sekularisme Konfrontatif: penyitaan aset gereja, Cult of Reason, upaya menghapus pengaruh agama dari ruang publik. Pragmatis: toleransi beragama meningkat, tetapi gereja tetap memiliki peran sosial (terutama di Inggris). Prancis mengembangkan laïcité yang ketat. AS mengembangkan “dinding pemisah” antara gereja dan negara dengan interpretasi yang berkembang.

Perbandingan dalam Sastra dan Budaya

Semangat zaman ini juga tercermin dengan jelas dalam karya sastra dan seni. Sastra Aufklärung Prancis seringkali bersifat satir, filosofis, dan bertujuan untuk menggugah. Voltaire dalam

  • Candide* menggunakan perjalanan picaresque yang absurd untuk mengejek optimisme buta Leibniz dan menyoroti kekejaman serta kebodohan di dunia. Karya-karya ini cenderung didaktik, dengan karakter yang mewakili ide-ide tertentu. Sementara itu, drama Pierre de Beaumarchais,
  • The Marriage of Figaro*, penuh dengan kritikan sosial terhadap hak-hak istimewa aristokrat, yang bahkan dikatakan oleh Napoleon sebagai “revolusi yang sudah dalam tindakan.”
BACA JUGA  Asal Usul Surabaya Dari Legenda Hingga Fakta Sejarah

Dalam tradisi Inggris, sastra Enlightenment sering kali lebih fokus pada observasi sosial, moralitas, dan psikologi individu. Novel-novel sepertiRobinson Crusoe* karya Daniel Defoe merayakan individualisme, ketekunan, dan kepraktisan rasional. Samuel Johnson, melalui esai-esai dan kamusnya, berusaha menetapkan standar untuk bahasa dan pemikiran yang baik. Nada karya Inggris umumnya lebih reflektif, moralistik, dan kurang konfrontatif secara politik dibandingkan dengan sastra Prancis pada periode yang sama.

Ilustrasi Alegoris Semangat Zaman

Sebuah ilustrasi alegoris untuk Aufklärung Prancis mungkin menggambarkan seorang wanita perkasa yang mengenakan jubah biru-puti-merah, berdiri di atas puing-puing berupa mahkota, salib, dan rantai feodal. Di tangannya, ia memegang obor yang menyala-nyala menerangi gulungan bertuliskan “Raison” (Akal Budi) dan “Loi” (Hukum). Cahaya dari obor itu mengusir awan gelap ketidaktahuan yang dihuni oleh wajah-wajah takhayul dan tirani. Di latar belakang, bangunan klasik yang simetris, mewakili tatanan baru, sedang dibangun.

Adegan ini penuh dengan dinamika, konflik, dan semangat untuk menghancurkan demi membangun kembali.Sebuah ilustrasi untuk Enlightenment Inggris akan memiliki nuansa yang berbeda. Ilustrasi itu menggambarkan sebuah ruang klub kopi yang terang benderang. Di dalamnya, berbagai pria dari latar belakang berbeda—seorang saudagar dengan buku catatan, seorang bangsawan, seorang ilmuwan dengan teleskop miniatur—sedang berdiskusi dengan tenang di sekitar meja. Di dinding tergantung potret John Locke dan Isaac Newton, serta diagram mekanika.

Melalui jendela, terlihat pelabuhan yang sibuk dengan kapal-kapal dagang dan bangunan yang kokoh. Suasana ilustrasi ini adalah kolaborasi, kemajuan bertahap, dan akumulasi pengetahuan yang praktis, semuanya terjadi dalam kerangka tatanan sosial yang sudah mapan namun dapat diperbaiki.

Ulasan Penutup

Dengan demikian, jejak Aufklärung dan Enlightenment masih terasa hingga hari ini, membentuk fondasi dunia modern yang kita huni. Dari salun Paris yang penuh gugatan hingga klub diskusi London yang penuh debat, kedua gerakan ini mengajarkan bahwa jalan menuju pencerahan selalu plural, dibentuk oleh ruang dan waktu. Memahami perbedaannya bukan untuk memilah mana yang lebih unggul, tetapi untuk mengapresiasi kekayaan warisan intelektual Eropa yang, meski berbeda jalur, sama-sama berjuang membebaskan manusia dari belenggu dogma dan kebodohan.

Pada akhirnya, dialektika antara semangat revolusioner Prancis dan evolusioner Inggris ini terus menjadi percakapan yang relevan dalam upaya kita membangun masyarakat yang lebih rasional dan berkeadilan.

FAQ Terkini

Apakah istilah “Aufklärung” dan “Enlightenment” merujuk pada periode waktu yang sama?

Ya, keduanya secara umum merujuk pada gerakan intelektual dominan di abad ke-18, sering disebut sebagai “The Age of Enlightenment” atau “Zeitalter der Aufklärung”. Namun, puncak dan nuansa perkembangannya di Prancis dan Inggris bisa sedikit berbeda dalam garis waktu.

Mengapa gerakan di Jerman juga disebut “Aufklärung”? Apakah sama dengan di Prancis?

Tidak persis sama. “Aufklärung” adalah istilah bahasa Jerman untuk “Pencerahan”. Gerakan Aufklärung di wilayah berbahasa Jerman (seperti Prusia) memiliki karakter sendiri, seringkali lebih terintegrasi dengan negara (seperti di bawah Frederick yang Agung) dan lebih fokus pada reformasi dari atas, berbeda dengan sifat kritis dan terkadang subversif dari Aufklärung Prancis.

Bagaimana pengaruh Aufklärung Prancis terhadap koloni-koloni Inggris di Amerika?

Pengaruhnya signifikan, meski datang melalui filter Enlightenment Inggris. Pemikir seperti Locke dan Montesquieu (yang Prancis) sangat dibaca oleh Bapak Pendiri Amerika. Semangat republikanisme, hak alami, dan pemisahan kekuasaan dari Aufklärung Prancis memperkuat argumen untuk kemerdekaan dari Inggris, meski para founding fathers seringkali lebih berhati-hati terhadap ateisme radikal ala Prancis.

Adakah tokoh yang menjadi jembatan antara tradisi pemikiran Prancis dan Inggris?

Voltaire adalah contoh utama. Setelah diasingkan ke Inggris, ia sangat mengagumi sistem konstitusional dan pemikiran empiris Locke serta Newton. Karyanya, seperti “Letters on the English”, memperkenalkan ide-ide Inggris ke khalayak Prancis dan sekaligus mengkritik masyarakat Prancis dengan cara halus, menjadikannya penghubung penting antara dua dunia intelektual tersebut.

Leave a Comment