Perbedaan Utama Zwingli dan Luther tentang Interpretasi Ekaristi dalam Reformasi

Perbedaan Utama Zwingli dan Luther tentang Interpretasi Ekaristi bukan cuma perdebatan teologis kelas berat, tapi benturan pandangan yang membelah jalan Reformasi. Bayangkan dua tokoh kunci yang sama-sama melawan otoritas Gereja Roma, namun justru berseteru hebat soal makna sepotong roti dan segelas anggur dalam peribadatan. Perselisihan ini jauh dari sekadar diskusi kamar, ia menyentuh inti iman, mempengaruhi peta politik Eropa, dan meninggalkan warisan yang masih kita rasakan dalam kekristenan modern.

Pada intinya, konflik ini berpusat pada satu pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya terjadi saat Perjamuan Kudus dirayakan? Martin Luther, dengan semangatnya yang membara, bersikukuh pada kehadiran nyata Kristus. Sementara Ulrich Zwingli dari Zurich memandang ritual tersebut utamanya sebagai peringatan simbolis yang dilakukan dalam komunitas. Perbedaan fundamental inilah yang kemudian merembet ke cara menafsirkan Alkitab, peran iman, hingga fungsi sakramen itu sendiri, menciptakan celah yang sulit dijembatani antara gerakan Reformasi di Jerman dan Swiss.

Pendahuluan dan Konteks Historis: Perbedaan Utama Zwingli Dan Luther Tentang Interpretasi Ekaristi

Reformasi Protestan yang dimulai pada abad ke-16 bukanlah gerakan yang monolitik. Di balik seruan bersama “sola fide” dan “sola scriptura”, tersembunyi perbedaan teologis yang mendalam, dan salah satu yang paling panas adalah soal Ekaristi. Bagi para reformator, memahami apa yang sebenarnya terjadi di meja perjamuan bukan sekadar debat akademis, tetapi menyentuh inti hubungan antara manusia, Allah, dan komunitas beriman. Dua tokoh kunci yang berseteru dalam hal ini adalah Martin Luther dari Wittenberg dan Ulrich Zwingli dari Zürich.

Luther, seorang mantan biarawan Augustinian, memulai reformasi dengan fokus pada pembenaran oleh iman. Sementara Zwingli, seorang humanis dan pendeta yang terpengaruh oleh Erasmus, memulai reformasinya dengan penekanan pada pemurnian ibadah dari segala yang dianggapnya tidak alkitabiah. Perbedaan latar belakang ini membentuk lensa yang berbeda saat mereka membaca kitab suci. Perselisihan mereka tentang Ekaristi menjadi titik pecah yang jelas, menunjukkan bagaimana penafsiran yang berbeda atas ayat yang sama bisa mengarah pada doktrin yang bertolak belakang.

Peta Awal Pemikiran Luther dan Zwingli

Sebelum menyelami debat yang rumit, ada baiknya kita melihat peta pemikiran dasar kedua reformator ini dalam sebuah tabel perbandingan. Tabel ini merangkum titik awal perselisihan mereka sebelum berkembang menjadi perdebatan yang lebih kompleks.

Aspek Martin Luther Ulrich Zwingli
Latar Belakang Teolog, mantan biarawan; reformasi dimulai dari pergumulan pribadi tentang dosa dan anugerah. Humanis, pendeta; reformasi dimulai dari kritik terhadap praktik ibadah dan otoritas Paus.
Pendekatan terhadap Tradisi Konservatif; mempertahankan elemen tradisi Katolik yang tidak secara eksplisit ditolak Alkitab. Radikal; menolak segala praktik yang tidak memiliki dasar alkitabiah yang jelas.
Fokus Reformasi Awal Doktrin pembenaran oleh iman (sola fide) dan otoritas Kitab Suci (sola scriptura). Pemurnian ibadah dari “berhala” dan penegasan kedaulatan Allah.
Pandangan Awal tentang Ekaristi Menolak transubstansiasi, tetapi bersikukuh pada kehadiran nyata Kristus dalam roti dan anggur. Melihat Ekaristi sebagai peringatan simbolis yang bersifat spiritual, menolak kehadiran fisik.
BACA JUGA  Media-media Sosialisasi Pembentuk Kepribadian dan Nilai

Hakikat Kehadiran Kristus dalam Ekaristi

Inti dari debat Luther dan Zwingli berkisar pada satu pertanyaan mendasar: Di manakah tubuh Kristus yang bangkit dan naik ke sorga ketika Perjamuan Kudus diadakan? Jawaban atas pertanyaan ini membelah dunia Reformasi menjadi dua kubu yang sulit didamaikan.

Bagi Luther, pengalaman religiusnya yang dalam tentang anugerah membuatnya tidak bisa menerima Ekaristi sekadar sebagai simbol. Ia mempertahankan doktrin “Kehadiran Nyata” (Real Presence), tetapi menolak penjelasan filsafat Aristotelian tentang transubstansiasi yang diajarkan Gereja Katolik. Sebagai gantinya, Luther mengajukan konsep yang sering disebut “Consubstantiation” (meski ia sendiri tidak menggunakan istilah itu). Dalam pandangan ini, tubuh dan darah Kristus hadir “di dalam, dengan, dan di bawah” (in, with, and under) substansi roti dan anggur.

Kehadiran itu nyata, objektif, dan tidak bergantung pada iman peserta; iman hanya diperlukan untuk menerima manfaatnya.

Sebaliknya, Zwingli, dengan latar belakang humanismenya, mendekati masalah ini dengan logika yang ketat. Baginya, tubuh Kristus yang jasmani berada di sorga, di sebelah kanan Allah Bapa. Oleh karena itu, tidak mungkin tubuh yang sama hadir secara fisik di atas ribuan meja altar di seluruh dunia. Ia menekankan bahwa Yesus sering menggunakan bahasa kiasan (seperti “Akulah pintu,” “Akulah pokok anggur”). Dengan demikian, Ekaristi adalah sebuah memorial atau peringatan, suatu tindakan syukur ( eucharistia) dan pengakuan iman publik di mana umat mengingat pengorbanan Kristus secara spiritual, bukan fisik.

Roti dan anggur adalah simbol yang kuat, tetapi tetap hanya simbol.

Suara Langsung dari Dua Kubu

Perbedaan mendasar ini terdengar sangat jelas dalam tulisan mereka sendiri. Berikut adalah kutipan yang menggambarkan jurang pemisah antara kedua pemikiran tersebut.

“Sebab roti dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus yang sejati dan hakiki, bukan hanya sekedar tanda, yang diberikan kepada kita orang Kristen untuk dimakan dan diminum, sebagaimana ditetapkan oleh Kristus sendiri.”
– Martin Luther, Pengakuan Iman Augsburg, Pasal X (parafrase).

“Maka ‘ini adalah tubuhku’ harus dipahami sebagai ‘ini melambangkan tubuhku’. Dengan cara yang sama seperti ‘batu karang itu adalah Kristus’ (1 Kor 10:4) dipahami sebagai ‘batu karang itu melambangkan Kristus’.”
– Ulrich Zwingli, Penjelasan tentang Perjamuan Malam Tuhan.

Interpretasi terhadap Makna “Ini adalah Tubuh-Ku”

Semua perdebatan teologis yang rumit itu bermuara pada penafsiran atas empat kata sederhana dalam bahasa Latin: ” Hoc est corpus meum” (Ini adalah tubuh-Ku). Kata penghubung ” est” (adalah) menjadi medan pertempuran hermeneutika antara Luther dan Zwingli.

Luther mengambil pendekatan yang literal dan sederhana. Baginya, ketika Kristus berkata “ini adalah tubuh-Ku,” yang dimaksudkan persis seperti itu. Kata “adalah” harus dipahami dalam makna harfiahnya. Luther berargumen bahwa kita tidak berhak mengubah makna kata yang jelas hanya karena akal sehat kita tidak dapat memahaminya. Iman harus menerima firman Tuhan apa adanya, meskipun itu tampak mustahil secara logika.

“Akulah yang lebih ahli tata bahasa!” seru Luther dalam sebuah debat, menekankan bahwa tata bahasa biasa sudah cukup untuk memahami ayat tersebut tanpa perlu alegori.

BACA JUGA  Boleh Sholat Jika Kotoran Masih Tinggal di Dubur Hukum dan Batasannya

Metode Penafsiran yang Berbeda

Zwingli, di sisi lain, menerapkan metode penafsiran figuratif. Ia berpendapat bahwa Alkitab penuh dengan kiasan, dan konteks Perjamuan Terakhir adalah konteks perjanjian dan peringatan. Oleh karena itu, kata “adalah” di sini harus dimaknai sebagai “menandakan” ( significat) atau “merupakan lambang dari”. Zwingli banyak merujuk pada ayat-ayat lain di mana Yesus menggunakan metafora serupa untuk mendukung posisinya. Bagi dia, penafsiran harfiah Luther justru jatuh ke dalam kesalahan yang sama dengan Katolik, yaitu membuat doktrin yang bertentangan dengan akal sehat dan fakta bahwa tubuh Kristus ada di sorga.

Perbedaan metode ini menunjukkan dua arus dalam Reformasi: satu yang ingin mempertahankan kesinambungan dengan tradisi Kristen awal meski dengan pemahaman baru (Luther), dan satu yang ingin membersihkan iman dari segala hal yang tidak dapat diterangkan secara rasional dan alkitabiah secara eksplisit (Zwingli).

Peran Iman dan Fungsi Sakramen

Dari perbedaan tentang hakikat kehadiran Kristus, secara alami mengalirlah perbedaan tentang fungsi sakramen itu sendiri. Bagi Luther, Ekaristi adalah karunia Allah kepada umat-Nya. Bagi Zwingli, Ekaristi adalah respons umat kepada Allah.

Luther melihat Ekaristi sebagai “sarana anugerah” ( means of grace) yang paling sentral, bersama dengan Firman dan Baptisan. Melalui elemen-elemen jasmani (roti dan anggur), Allah secara nyata memberikan pengampunan dosa, penghiburan, dan penguatan iman kepada orang percaya. Iman diperlukan untuk menerima anugerah ini, tetapi kehadiran Kristus sendiri bersifat objektif. Sakramen ini adalah tempat di mana janji Allah diwujudnyatakan dan diserahkan kepada kita.

Zwingli memandang fungsi Ekaristi dari sudut yang berbeda. Baginya, sakramen ini terutama adalah sebuah tindakan publik dari komunitas beriman. Ini adalah momen syukur ( eucharistia = ucapan syukur) dan pengakuan iman di depan sesama anggota jemaat. Dengan ikut serta, seorang Kristen menyatakan ikatannya pada tubuh Kristus yang mistis, yaitu gereja. Fungsinya lebih bersifat subjektif dan komunal daripada sebagai saluran anugerah yang objektif.

Rincian Fungsi Sakramen Menurut Masing-Masing Teolog, Perbedaan Utama Zwingli dan Luther tentang Interpretasi Ekaristi

Berikut adalah poin-poin yang merinci fungsi Ekaristi menurut pandangan Luther dan Zwingli.

Fungsi Ekaristi Menurut Martin Luther:

  • Sarana Anugerah (Means of Grace): Saluran konkret di mana kasih karunia dan pengampunan Allah diberikan kepada orang percaya.
  • Penguat Iman (Nourishment of Faith): Seperti makanan jasmani menguatkan tubuh, Ekaristi menguatkan dan meneguhkan iman orang percaya dalam pergumulan hidup.
  • Janji yang Terlihat (Visible Promise): Merupakan tanda nyata dan meterai dari janji pengampunan Allah dalam Kristus.
  • Penghiburan bagi yang Berdosa: Memberikan kepastian dan penghiburan langsung bagi mereka yang digerogoti rasa bersalah.

Fungsi Ekaristi Menurut Ulrich Zwingli:

  • Peringatan (Memorial): Sebagai peringatan akan kematian Kristus di kayu salib, dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada perintah-Nya.
  • Pengakuan Iman Publik: Sebuah kesaksian publik di depan jemaat bahwa seseorang adalah bagian dari tubuh Kristus (gereja).
  • Ikatan Komunal: Memperkuat persekutuan dan kesatuan di antara sesama orang percaya.
  • Ucapan Syukur (Eucharistia): Utamanya adalah tindakan mengucap syukur kepada Allah atas penebusan yang telah dikerjakan Kristus.

Dampak dan Resonansi Perdebatan

Perdebatan ini bukan cuma soal teologi menara gading. Ia memiliki konsekuensi politik dan sosial yang sangat besar. Pada tahun 1529, Philip dari Hesse berharap bisa menyatukan kekuatan Protestan di Jerman dan Swiss untuk membentuk aliansi politik-militer melawan Kaisar Katolik Charles V. Namun, aliansi itu gagal karena perbedaan doktrin tentang Ekaristi dianggap terlalu fundamental. Perpecahan teologis menghalangi persatuan politik.

BACA JUGA  Cara Menggunakan Panduan yang Efektif untuk Semua Media

Upaya untuk mendamaikan kedua kubu pun dilakukan. Yang paling terkenal adalah Perdebatan Marburg (1529), di mana Luther dan Zwingli akhirnya bertemu muka. Bayangkan sebuah ruangan di Kastil Marburg: di satu sisi duduk Luther, dengan sikap tegas dan terkadang emosional, menulis kata ” Hoc est corpus meum” di atas meja dengan kapur dan menutupinya dengan kain beludru sebagai penekanan. Di sisi lain, Zwingli yang lebih kalem dan argumentatif mencoba meyakinkan dengan logika dan referensi alkitabiah.

Meski mereka menyepakati 14 dari 15 artikel iman, artikel tentang Ekaristi tetap menjadi batu sandungan. Luther bersikeras bahwa tubuh Kristus hadir secara fisik, sementara Zwingli menolaknya. Akhirnya, Luther menolak menyebut Zwingli sebagai “saudara” dalam Kristus, sebuah penolakan yang sangat pahit.

Jalan Tengah dari Bucer dan Calvin

Menyadari kebuntuan ini, reformator generasi berikutnya seperti Martin Bucer dari Strasbourg dan khususnya Yohanes Calvin dari Jenewa, mencoba mencari via media atau jalan tengah. Mereka tidak menerima kehadiran fisik lokal seperti Luther, tetapi juga menolak pandangan Zwingli yang murni simbolis. Calvin mengajarkan bahwa dalam Perjamuan Kudus, orang percaya, oleh kuasa Roh Kudus, diangkat secara spiritual ke sorga untuk menyatu dengan Kristus yang hidup.

Jadi, yang “naik” adalah iman kita, bukan tubuh Kristus yang turun. Kehadiran itu nyata dan spiritual, bukan fisik atau lokal, tetapi juga lebih dari sekadar mengingat. Posisi Calvin ini, meski tidak sepenuhnya memuaskan kedua belah pihak, menjadi fondasi bagi tradisi Reformed dan Presbyterian yang lebih luas, menunjukkan bahwa ada spektrum pemikiran di antara dua kutub ekstrem Luther dan Zwingli.

Penutupan

Perbedaan Utama Zwingli dan Luther tentang Interpretasi Ekaristi

Source: slidesharecdn.com

Jadi, meski perdebatan Marburg berakhir tanpa kesepakatan, warisannya justru memperkaya khazanah pemikiran Kristen. Pertarungan antara pandangan Luther dan Zwingli mengajarkan bahwa bahkan di dalam satu gerakan pembaruan, ruang untuk interpretasi tetap luas. Perbedaan itu bukan akhir dari segalanya, melainkan cermin dari dinamika pencarian akan kebenaran yang mendalam. Dari sini kita belajar, bahwa memahami akar perbedaan bukan untuk mempertajam sekat, tapi justru untuk menghargai kompleksitas sejarah dan keyakinan yang membentuk dunia hingga hari ini.

Detail FAQ

Apakah pandangan Zwingli sama dengan pandangan kebanyakan gereja Protestan modern?

Tidak sepenuhnya. Banyak gereja Protestan arus utama, seperti Lutheran, justru tetap menganut “Kehadiran Nyata” versi Luther. Pandangan Zwingli yang lebih simbolis lebih dekat dengan tradisi gereja-gereja Reformed seperti Presbyterian dan beberapa gereja Baptis, meski dengan nuansa berbeda.

Mengapa perdebatan ini dianggap sangat penting hingga mempengaruhi politik?

Karena pada era Reformasi, kesatuan doktrin adalah dasar untuk aliansi politik-militer. Ketika Luther dan Zwingli gagas bersatu dalam doktrin Ekaristi, rencana untuk membentuk front Protestan yang kuat melawan Kekaisaran Romawi Suci Katolik pun ikut gagal, sehingga memperlemah posisi politik mereka.

Adakah pihak ketiga yang mencoba mendamaikan mereka?

Ya, tokoh seperti Martin Bucer dari Strasbourg dan kemudian John Calvin berusaha mencari jalan tengah. Calvin, misalnya, menolak kehadiran fisik ala Luther tetapi juga menolak bahwa Ekaristi hanya sekadar simbol belaka. Ia mengusulkan konsep kehadiran spiritual Kristus yang nyata bagi orang percaya melalui Roh Kudus.

Apa dampak langsung perdebatan ini bagi jemaat biasa di abad ke-16?

Bagi jemaat, ini menyangkut pengalaman ibadah yang sangat personal. Di wilayah Lutheran, mereka menyambut roti dan anggur dengan keyakinan bahwa itu adalah tubuh dan darah Kristus yang memberi jaminan. Di wilayah Zwinglian, perayaan lebih menekankan pada aspek pengakuan iman bersama dan peringatan, yang bisa terasa lebih “sederhana” secara ritual.

Leave a Comment