Sejarah dan Perkembangan Internet bukan sekadar cerita tentang kabel dan kode, melainkan sebuah epos kolaborasi manusia yang mengubah cara kita mengetahui, berkomunikasi, dan bahkan berpikir. Bayangkan sebuah ide yang lahir dari ketegangan Perang Dingin, yang awalnya hanya menghubungkan empat komputer di universitas, tumbuh menjadi jaringan saraf global yang menyentuh hampir setiap aspek kehidupan modern. Narasi ini dimulai dari mimpi para visioner tentang “interconnected galaxy of computers” jauh sebelum kita semua tergantung pada gawai di genggaman tangan.
Perjalanannya adalah sebuah tapestri yang ditenun dari terobosan teori packet switching, persaingan ideologis antara model jaringan, dan semangat gotong royong komunitas akademik yang luar biasa. Dari ARPANET yang angkuh hingga protokol TCP/IP yang menjadi lingua franca digital, setiap babak perkembangan internet memperlihatkan bagaimana solusi teknis yang elegan mampu mengatasi batasan fisik dan birokrasi. Revolusi berikutnya, World Wide Web, kemudian mengubah infrastruktur yang rumit itu menjadi ruang yang bisa dijelajahi dan dinikmati oleh siapa saja, membuka gerbang menuju era informasi yang sepenuhnya baru.
Asal-Usul dan Konsep Awal Jaringan Komputer
Sebelum internet menjadi jaringan global yang kita kenal, ide untuk menghubungkan komputer telah lama menggelayuti para visioner. Konsep awalnya bukan tentang berbagi meme atau streaming film, melainkan solusi pragmatis: bagaimana memaksimalkan penggunaan komputer yang mahal dan langka, serta menciptakan sistem komunikasi yang tahan banting, terutama dalam konteks Perang Dingin. Dari kebutuhan inilah, benih-benih teori jaringan modern mulai tumbuh.
Perkembangan Ide Jaringan dan Packet Switching
Pada era 1960-an, jaringan telepon yang dominan menggunakan sistem circuit-switching, di mana jalur komunikasi khusus didedikasikan untuk satu panggilan dari awal hingga akhir. Sistem ini dianggap tidak efisien untuk komunikasi data antar komputer. Sebagai jawaban, muncul konsep revolusioner packet-switching, yang diusulkan secara independen oleh Paul Baran di RAND Corporation dan Donald Davies di National Physical Laboratory (NPL) Inggris.
Dalam konsep ini, data dipecah menjadi paket-paket kecil yang dikirim secara terpisah melalui berbagai rute di jaringan, lalu disusun kembali di tujuan. Metode ini lebih tangguh dan efisien, menjadi fondasi teknis utama internet.
| Karakteristik | Circuit-Switching | Packet-Switching |
|---|---|---|
| Sifat Jalur | Dedikasi dan Eksklusif | Dibagi (Shared) |
| Efisiensi Bandwidth | Rendah (jalur menganggur saat tidak ada data) | Tinggi (banyak paket berbagai sumber bisa bergantian) |
| Ketahanan | Rentan (gangguan di jalur putuskan koneksi) | Tangguh (paket bisa dialihkan ke rute lain) |
| Contoh Penerapan | Jaringan Telepon Tradisional (PSTN) | Internet, Jaringan Data Modern |
Tokoh Kunci dan Lembaga Penelitian
Selain Baran dan Davies, beberapa nama dan institusi lain sangat berperan. J.C.R. Licklider dari ARPA (Advanced Research Projects Agency) memimpikan “Intergalactic Computer Network” yang memengaruhi arah pendanaan penelitian. Leonard Kleinrock di UCLA mengembangkan teori matematika antrian yang mendukung packet switching. Institusi seperti MIT, Stanford, dan NPL menjadi pusat pengembangan ide-ide awal ini.
Revolusi digital yang kita nikmati hari ini berakar dari sejarah internet yang panjang, dimulai dari ARPANET di era Perang Dingin. Perkembangannya yang eksponensial ternyata punya korelasi menarik dengan geopolitik dan potensi ekonomi regional, misalnya dalam pengelolaan Negara, Geografi, dan Manfaat Sumber Daya Alam di Asia Tenggara. Infrastruktur digital kini menjadi tulang punggung untuk mengoptimalkan sumber daya alam tersebut, membuktikan bahwa jejaring internet telah berevolusi dari proyek militer menjadi fondasi kemajuan ekonomi yang inklusif.
Garis Warna Menuju ARPANET
Perjalanan menuju jaringan pertama dipenuhi oleh penemuan-penemuan kritis. Berikut adalah tonggak pentingnya:
- Akhir 1940-an – 1950-an: Lahirnya komputer digital pertama dan teori komunikasi informasi oleh Claude Shannon.
- 1961: Leonard Kleinrock menerbitkan karya seminal tentang teori antrian packet-switching.
- 1962-1964: Paul Baran mempublikasikan laporan tentang “Distributed Communications” dan Donald Davies menciptakan istilah “packet”.
- 1966: Bob Taylor di ARPA mendapatkan dana untuk memulai proyek jaringan, yang kemudian dipimpin oleh Larry Roberts.
- 1968: ARPA mengeluarkan RFQ (Request for Quotation) untuk membangun Interface Message Processors (IMP), dan kontrak dimenangkan oleh Bolt, Beranek and Newman (BBN).
Lahirnya ARPANET dan Protokol Dasar
Dari teori dan mimpi, ARPANET akhirnya menjadi kenyataan fisik. Proyek yang didanai oleh Departemen Pertahanan AS ini bukanlah proyek militer rahasia, melainkan upaya terbuka untuk menciptakan jaringan bersama antar universitas dan pusat penelitian. Momen bersejarahnya dimulai dengan sebuah percobaan sederhana antara dua mesin yang terpisah ratusan mil.
Kronologi Pembangunan Node Pertama
Pada tahun 1969, BBN berhasil membangun IMP pertama, yang pada dasarnya adalah komputer mini khusus yang berfungsi sebagai router. IMP pertama dipasang di UCLA pada September 1969, dihubungkan ke komputer host SDS Sigma 7 milik Kleinrock. IMP kedua dipasang di Stanford Research Institute (SRI) pada Oktober, terhubung ke komputer SDS-
940. Tanggal 29 Oktober 1969, pukul 22:30, percobaan transmisi pertama dilakukan.
Charley Kline dari UCLA mencoba mengirim perintah “login” ke SRI. Sistemnya crash setelah mengirim huruf “l” dan “o”. Sekitar satu jam kemudian, percobaan kedua berhasil mengirimkan perintah lengkap. Dua node ARPANET pertama telah tersambung.
Network Control Protocol (NCP)
Agar host-host yang berbeda bisa berkomunikasi, dibutuhkan aturan bersama. NCP adalah protokol pertama yang menjembatani hal ini, diimplementasikan sekitar 1970. NCP bertindak sebagai lapisan antara aplikasi jaringan dan perangkat keras IMP. Ia menangani pembentukan koneksi, aliran data, dan penanganan error antar host. Dengan NCP, aplikasi seperti email (yang pertama kali dibuat pada 1971) dan transfer file bisa berjalan.
NCP adalah cikal bakal dari keluarga protokol yang lebih kompleks nantinya.
Topologi ARPANET Akhir 1969
Pada akhir tahun 1969, ARPANET memiliki empat node yang membentuk jaringan kecil. Keempat node tersebut terletak di: Universitas California, Los Angeles (UCLA); Stanford Research Institute (SRI) di Menlo Park; Universitas California, Santa Barbara (UCSB); dan Universitas Utah di Salt Lake City. Sambungan fisiknya menggunakan saluran telepon leased line berkecepatan 50 kbps. Jaringan ini membentuk topologi yang hampir seperti persegi, di mana setiap node terhubung ke node lainnya melalui IMP, meskipun secara geografis tersebar di Barat AS.
Bayangkan sebuah peta dengan empat titik yang saling terhubung oleh garis, mewakili kelahiran sebuah jaringan yang akan berkembang tak terkira.
Tantangan Teknis dan Solusi
Para insinyur ARPANET menghadapi tantangan besar. Mereka harus membuat perangkat keras IMP yang andal, merancang algoritma routing agar paket data menemukan jalur terbaik, dan mengatasi masalah sinkronisasi antara host yang berbeda. Solusi mereka sering kali elegan dan menjadi standar. Misalnya, mereka mengembangkan algoritma routing distributed adaptive, di mana setiap IMP secara berkala bertukar informasi tentang kondisi jaringan dengan tetangganya untuk menghitung rute terbaik.
Tantangan keandalan diatasi dengan desain IMP yang redundan dan protokol yang memungkinkan pengiriman ulang paket yang hilang.
Transisi ke TCP/IP dan Terbentuknya Internet
ARPANET sukses, tetapi ia hanyalah satu jaringan di antara banyak jaringan lain yang mulai bermunculan dengan teknologi berbeda (seperti satelit atau radio paket). Masalah baru muncul: bagaimana membuat semua jaringan yang heterogen ini bisa saling berbicara? Jawabannya datang dari sepasang protokol yang menjadi jantung internet hingga hari ini: TCP/IP.
Dari NCP ke TCP/IP
NCP dirancang untuk jaringan homogen ARPANET. Ketika kebutuhan untuk interkoneksi antar jaringan ( internetworking) mengemuka, kekakuan NCP menjadi penghalang. Vinton Cerf dan Bob Kahn kemudian merancang Transmission Control Protocol (TCP) dan Internet Protocol (IP) pada 1974. IP bertugas untuk membawa paket data melintasi batas-batas jaringan yang berbeda dengan sistem pengalamatan universal. TCP bertugas memastikan pengiriman data yang andal dan terurut.
Transisi besar-besaran dari NCP ke TCP/IP terjadi pada 1 Januari 1983, yang dikenal sebagai “Flag Day”. Setelah tanggal itu, ARPANET sepenuhnya berjalan di atas TCP/IP, menandai lahirnya “internet” dalam pengertian modern.
Model TCP/IP vs Model OSI
Untuk memahami bagaimana protokol bekerja berlapis, sering digunakan perbandingan dengan model referensi teoretis OSI. Berikut perbedaannya:
| Lapisan Model TCP/IP (4 Lapis) | Lapisan Model OSI (7 Lapis) | Fungsi Utama |
|---|---|---|
| Aplikasi | Aplikasi, Presentasi, Sesi | Antarmuka untuk aplikasi (HTTP, SMTP, FTP) |
| Transport | Transport | Komunikasi end-to-end, keandalan data (TCP, UDP) |
| Internet | Jaringan | Routing dan pengalamatan logis (IP) |
| Link/Jaringan Akses | Data Link, Fisik | Transmisi data di media fisik (Ethernet, WiFi) |
Peran Request for Comments (RFC)
Internet dibangun dengan filosofi keterbukaan dan konsensus. RFC adalah mekanisme inti dari filosofi ini. Setiap proposal teknis, standar, atau bahkan lelucon tentang protokol internet didokumentasikan dalam seri RFC. Dokumen ini tersedia untuk umum, dikritik, dan diperdebatkan oleh komunitas teknis global sebelum diadopsi. RFC #1, ditulis oleh Steve Crocker pada 1969, membahas tentang protokol host.
Proses ini menghindari ketergantungan pada satu vendor dan memastikan internet berkembang secara kolektif.
Perkembangan internet dari ARPANET hingga era AI hari ini adalah buah evolusi teknologi, bukan biologis. Mirip seperti konsep Hal yang Bukan Adaptasi Fisiologi , jaringan global ini lahir dari rekayasa sosial dan kebutuhan komunikasi. Jadi, sejarah internet adalah narasi tentang bagaimana manusia mengadaptasi ide, bukan tubuh, untuk terhubung tanpa batas.
Dampak Adopsi TCP/IP
Adopsi TCP/IP adalah katalis utama. Protokol yang ringan dan fleksibel ini memungkinkan jaringan akademik dan penelitian lain, seperti NSFNET di AS, JANET di Inggris, dan lainnya, untuk dengan mudah terhubung ke ARPANET. Interoperabilitas ini menciptakan efek jaringan yang eksponensial. NSFNET, yang awalnya menghubungkan pusat superkomputer, kemudian menjadi tulang punggung internet sipil yang menggantikan peran militer ARPANET, membuka jalan bagi pertumbuhan komersial di dekade berikutnya.
Revolusi World Wide Web dan Akses Publik
Hingga akhir 1980-an, internet adalah alat yang powerful namun bersifat teknis, digunakan terutama oleh akademisi, peneliti, dan penggemar komputer. Antarmukanya berupa baris perintah yang kurang ramah. Revolusi terjadi ketika seorang ilmuwan di CERN, Swiss, bernama Tim Berners-Lee, menciptakan sistem yang membuat internet mudah dijelajahi oleh siapa saja: World Wide Web.
Internet vs World Wide Web
Source: slidesharecdn.com
Penting untuk membedakan keduanya. Internet adalah infrastruktur fisik global—jaringan dari jaringan yang terdiri dari kabel, router, server, dan protokol seperti TCP/IP. Ia seperti jaringan jalan raya dan jalur komunikasi. World Wide Web (WWW) adalah salah satu layanan yang berjalan di atas internet, sebuah sistem untuk mengakses informasi yang saling tertaut (hypertext) melalui browser. Layanan lain di internet termasuk email, FTP, dan VoIP.
Web adalah yang paling populer karena antarmukanya yang intuitif.
Garis Warna Penemuan Tim Berners-Lee
Dalam kurun waktu singkat, Berners-Lee menciptakan tiga komponen fundamental web:
- 1989-1990: Mengajukan proposal untuk “Mesh” dan kemudian menciptakan HyperText Markup Language (HTML), bahasa markup untuk membuat halaman web.
- 1990: Merancang HyperText Transfer Protocol (HTTP), protokol sederhana untuk meminta dan mengirimkan halaman web antara klien dan server.
- 1990: Mengembangkan Uniform Resource Identifier (URL), sistem alamat untuk mengidentifikasi sumber daya di web.
- Akhir 1990: Membuat server web pertama (httpd) dan browser web pertama (WorldWideWeb, yang juga merupakan editor).
- 6 Agustus 1991: Memposting ringkasan proyek WWW ke kelompok diskusi alt.hypertext, yang dianggap sebagai peluncuran web ke publik.
Ledakan Popularitas Web di Awal 1990-an
Beberapa faktor bersatu menyebabkan web meledak. Pertama, dirilisnya browser Mosaic pada 1993 oleh NCSA. Berbeda dengan browser sebelumnya, Mosaic gratis, mudah diinstal, dan yang terpenting, menampilkan gambar dan teks dalam satu halaman secara terintegrasi. Kedua, sikap terbuka CERN yang melepaskan kode sumber web ke domain publik pada 1993, mendorong inovasi cepat. Ketiga, internet yang telah matang dengan TCP/IP dan jaringan seperti NSFNET menyediakan infrastruktur yang siap.
Kombinasi ini menjadikan web sebagai “killer app” internet.
Contoh Kode HTML Sederhana Halaman Web Pertama
Halaman web awal sangat sederhana. Berikut adalah contoh yang mencerminkan semangatnya:
<html>
<head>
<title>Halaman Pertamaku</title>
</head>
<body>
<h1>Selamat Datang di Web!</h1>
<p>Ini adalah <em>paragraf</em> pertamaku.</p>
<p>Kunjungi <a href=”http://info.cern.ch”>server web pertama</a>.</p>
</body>
</html>
Setiap elemen memiliki fungsi: Tag <html> membungkus seluruh dokumen. <head> berisi meta-informasi seperti judul di tab browser ( <title>). <body> adalah area konten utama. <h1> membuat heading besar. <p> menandai paragraf.
<em> untuk penekanan (biasanya miring). Yang paling powerful adalah tag <a href="..."> yang membuat hyperlink, jantung dari konsep “web” atau jaringan.
Era Komersialisasi dan Web 2.0
Setelah web membuka pintu bagi publik, pertanyaan selanjutnya adalah: bisakah ini menghasilkan uang? Awalnya, penggunaan internet untuk bisnis komersial dibatasi oleh “Acceptable Use Policy” NSFNET. Namun, setelah NSFNET dinonaktifkan pada 1995 dan infrastruktur diserahkan kepada penyedia komersial, era komersialisasi pun dimulai dengan bebas. Internet berubah dari taman bermain akademis menjadi pusat perbelanjaan, ruang redaksi, dan plaza sosial global.
Titik Balik Komersialisasi
Titik balik kuncinya adalah keputusan National Science Foundation (NSF) untuk mencabut restriksi komersial pada tulang punggung internetnya, NSFNET, dan mendorong pembentukan Network Access Points (NAPs) yang dikelola swasta. Ini terjadi sekitar 1994-1995. Bersamaan dengan itu, perkembangan teknologi enkripsi seperti SSL (diciptakan oleh Netscape) mulai memberikan kepercayaan untuk transaksi keuangan online. Perusahaan dot-com pun mulai bermunculan seperti jamur di musim hujan.
Perbandingan Web 1.0 dan Web 2.0
| Aspek | Web 1.0 (~1991-2004) | Web 2.0 (~2004-sekarang) |
|---|---|---|
| Dinamika Konten | Statis, Dibaca saja | Dinamis, Dapat Dibaca & Ditulis |
| Peran Pengguna | Konsumen Pasif | Kreator & Kontributor Aktif |
| Arsitektur | Client-Server Sederhana | Aplikasi Web Interaktif, API, AJAX |
| Contoh | Encyclopaedia Britannica Online, Situs Brochure Perusahaan | Wikipedia, Facebook, YouTube, Twitter |
Peran Mesin Pencari, E-commerce, dan Media Sosial
Ketiga elemen ini saling menguatkan. Mesin pencari seperti Google (berdiri 1998) memecahkan masalah penemuan informasi di web yang semakin luas. E-commerce seperti Amazon dan eBay mentransformasi ritel dan kepercayaan pada transaksi online. Media sosial seperti Friendster, MySpace, dan kemudian Facebook, mengalihkan pusat gravitasi web dari halaman menjadi orang dan hubungannya. Pola penggunaan berubah dari sekadar mencari informasi menjadi berinteraksi, berbelanja, berbagi kehidupan, dan membangun identitas digital.
Ekosistem Web Modern
Bayangkan ekosistem web modern sebagai sebuah kota digital yang kompleks. Di pusatnya adalah pengguna dengan perangkatnya (smartphone, laptop). Mereka berinteraksi dengan berbagai platform raksasa (Google, Meta, Amazon, TikTok) yang berfungsi sebagai pusat perbelanjaan, taman, dan gedung perkantoran sekaligus. Di platform ini, konten (postingan, video, ulasan) terus-menerus diciptakan dan dikonsumsi oleh pengguna. Setiap interaksi menghasilkan data yang dikumpulkan, dianalisis, dan digunakan untuk menargetkan iklan, meningkatkan rekomendasi, dan membangun kecerdasan buatan.
Platform juga saling terhubung melalui API, memungkinkan satu layanan menggunakan fungsi layanan lain (seperti login dengan akun Google). Ekosistem ini didukung oleh infrastruktur cloud computing yang tersebar di seluruh dunia.
Infrastruktur Modern dan Tren Masa Depan
Di balik antarmuka yang mulus dari aplikasi kita, internet fisik telah mengalami evolusi luar biasa. Dari bunyi derit modem 56k, kita sekarang menikmati streaming 4K tanpa buffer di ponsel. Evolusi ini didorong oleh kebutuhan bandwidth yang meledak dan aplikasi baru yang menuntut latensi rendah. Internet bukan lagi sekadar jaringan komputer, tetapi sistem saraf bagi masyarakat digital.
Evolusi Infrastruktur Fisik, Sejarah dan Perkembangan Internet
Jalan tol datanya terus diperlebar dan dipercepat. Dimulai dari saluran telepon tembaga dengan modem dial-up (hingga 56 kbps), kemudian beralih ke kabel coaxial untuk broadband DSL dan TV kabel (hingga puluhan Mbps). Lompatan besar terjadi dengan masifnya peletakan kabel fiber optik yang menggunakan cahaya, memberikan kecepatan hingga Gbps dan menjadi tulang punggung jaringan inti (backbone) global. Di sisi akses nirkabel, evolusi dari 2G (suara & SMS), 3G (data dasar), 4G LTE (broadband mobile), hingga 5G yang menjanjikan kecepatan sangat tinggi, kapasitas masif, dan latensi sangat rendah untuk mendukung IoT dan aplikasi real-time.
Pengaruh Cloud Computing, IoT, dan Big Data
Ketiga tren ini mengubah arsitektur jaringan dari terpusat menjadi terdistribusi dan sangat padat. Cloud computing memindahkan komputasi dan penyimpanan ke pusat data raksasa, mengubah internet menjadi sebuah utilitas. Internet of Things (IoT) menambahkan miliaran perangkat “bodoh” (sensor, kamera, alat rumah) ke jaringan, menciptakan lalu lintas data kecil-kecil tetapi dalam jumlah luar biasa banyak. Big Data dan analitik membutuhkan pergerakan dan pemrosesan data set dalam skala eksabita di seluruh dunia.
Kombinasi ini menuntut jaringan yang tidak hanya cepat, tetapi juga cerdas, dapat diprogram, dan aman.
Tantangan Kontemporer
Pertumbuhan pesat membawa masalah kompleks. Net Neutrality memperdebatkan apakah penyedia layanan internet boleh membedakan perlakuan terhadap lalu lintas data. Keamanan siber menjadi ancaman eksistensial dengan maraknya ransomware, peretasan, dan serangan pada infrastruktur kritis. Kesenjangan digital tetap ada, baik antara negara maju dan berkembang, maupun antara wilayah urban dan rural di negara yang sama, menghambat akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan layanan.
Prediksi Tren Pembentuk Internet Masa Depan
Berdasarkan perkembangan saat ini, beberapa teknologi berpotensi membentuk fase berikutnya:
- Komputasi Tepi (Edge Computing): Proses data akan lebih banyak dilakukan di “tepi” jaringan, dekat dengan sumber data (misal, di menara 5G atau perangkat IoT), untuk mengurangi latensi dan beban jaringan inti. Contoh: mobil otonom membuat keputusan secara real-time.
- Jaringan 6G dan Satelit LEO: Setelah 5G, riset 6G telah dimulai, menargetkan kecepatan terahertz dan integrasi dengan AI. Konstelasi satelit Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink bertujuan menyediakan internet broadband berkecepatan tinggi ke area terpencil.
- Internet Kuantum: Penelitian jaringan yang aman berdasarkan prinsip entanglement kuantum, yang bisa merevolusi kriptografi dan komputasi terdistribusi.
- Web 3.0 dan Semantik: Visi web di mana mesin dapat memahami makna informasi (bukan hanya kata kunci), didukung oleh AI dan mungkin teknologi blockchain untuk desentralisasi data dan identitas.
Ringkasan Akhir: Sejarah Dan Perkembangan Internet
Melihat rentang panjang Sejarah dan Perkembangan Internet, yang paling menakjubkan bukanlah kecepatan prosesornya atau lebar pita koneksinya, melainkan sifat dasarnya yang terbuka dan terdesentralisasi. Internet pada intinya adalah sebuah protokol kesepakatan, sebuah konsensus teknis yang memungkinkan keberagaman tak terbatas untuk tumbuh di atasnya. Dari halaman HTML statis pertama hingga dinamika media sosial dan komputasi awan yang kita kenal sekarang, internet terus membuktikan dirinya sebagai kanvas paling luas yang pernah ada untuk inovasi manusia, meskipun diwarnai tantangan keamanan, kesetaraan akses, dan netralitas jaringan.
Masa depannya, yang akan dibentuk oleh IoT, AI, dan jaringan generasi berikutnya, tetap berpijak pada fondasi yang diletakkan oleh para perintisnya puluhan tahun lalu. Esensi internet sebagai alat penghubung dan pemberdaya tidak pernah berubah, hanya skalanya yang terus meledak. Memahami sejarahnya bukan sekadar untuk mengagumi pencapaian teknis, tetapi lebih untuk menyadari bahwa jaringan global ini adalah warisan yang hidup, sebuah proyek bersama yang belum selesai, dan tanggung jawab kita bersama untuk membentuk babak selanjutnya agar tetap terbuka, aman, dan bermanfaat bagi semua.
Pertanyaan Populer dan Jawabannya
Apakah internet sama dengan WiFi?
Tidak. Internet adalah jaringan global yang menghubungkan jaringan komputer di seluruh dunia. WiFi adalah teknologi nirkabel lokal yang memungkinkan perangkat seperti ponsel dan laptop terhubung ke jaringan lokal (seperti router rumah), yang kemudian biasanya terhubung ke internet. WiFi hanyalah salah satu metode “akses terakhir” ke infrastruktur internet yang jauh lebih besar.
Siapa yang sebenarnya “memiliki” internet?
Tidak ada satu entitas pun yang memiliki internet secara keseluruhan. Internet adalah jaringan dari jaringan-jaringan (network of networks). Masing-masing jaringan fisik (kabel, satelit, seluler) dimiliki oleh perusahaan swasta, pemerintah, lembaga penelitian, atau penyedia layanan internet. Yang disepakati bersama adalah standar protokol teknis (seperti TCP/IP) yang dikelola oleh organisasi sukarela seperti IETF dan ICANN.
Mengapa transisi dari NCP ke TCP/IP sangat krusial?
NCP (Network Control Protocol) dirancang khusus untuk jaringan ARPANET yang homogen. TCP/IP jauh lebih fleksibel dan tangguh karena dirancang sebagai protokol “jaringan dari jaringan”. Ia dapat menyatukan berbagai jenis jaringan fisik yang berbeda (seperti satelit, radio, kabel telepon) ke dalam satu jaringan logis yang kohesif. Inovasi inilah yang memungkinkan ekspansi internet secara masif melampaui batas ARPANET.
Apa perbedaan utama antara Web 1.0, Web 2.0, dan Web 3.0 yang sering disebut-sebut?
Web 1.0 adalah web statis dan read-only, dimana pengguna kebanyakan hanya mengonsumsi informasi. Web 2.0 adalah web interaktif dan sosial, ditandai dengan media sosial, wiki, dan konten buatan pengguna (user-generated content). Konsep Web 3.0 masih berkembang, sering dikaitkan dengan web semantik (dimana mesin memahami makna data), desentralisasi menggunakan teknologi seperti blockchain, dan pengalaman internet yang lebih imersif seperti metaverse.
Bagaimana cara kerja “packet switching” yang menjadi jantung internet?
Data yang dikirim (seperti email atau file) dipecah menjadi potongan-potongan kecil yang disebut paket. Setiap paket berisi alamat tujuan dan urutannya. Paket-paket ini kemudian dikirim secara independen melalui berbagai rute di jaringan, memanfaatkan jalur yang tersedia secara dinamis. Di tujuan, paket-paket ini disusun kembali sesuai urutannya. Ini berbeda dengan “circuit switching” (seperti telepon lama) yang memesan satu jalur khusus untuk seluruh durasi komunikasi.