Sistem Kabinet yang Dianut Syahrir Bentuk Awal Parlementer Indonesia

Sistem Kabinet yang Dianut Syahrir bukan sekadar babak pertama dalam buku sejarah pemerintahan kita, tapi sebuah eksperimen politik yang lahir dari kepungan revolusi. Bayangkan, negara yang masih seumur jagung harus merancang tata kelola di tengah desing peluru dan diplomasi yang panas. Syahrir dan kawan-kawannya memilih jalan parlementer, sebuah sistem yang dianggap lebih cair dan kooperatif untuk mengakomodasi berbagai kekuatan politik yang baru tumbuh, jauh dari model presidensial yang lebih sentralistik sebelumnya.

Kabinet ini berdiri di persimpangan zaman, menjembatani fase perjuangan fisik menuju meja perundingan. Dengan komposisi menteri yang diambil dari berbagai lapisan, termasuk para intelektual sosialis dan tokoh pergerakan, kabinet Syahrir berusaha membangun fondasi negara dengan dua tangan: satu tangan menengadah untuk pengakuan kedaulatan di forum internasional, tangan lainnya mengepal untuk menjaga stabilitas dalam negeri yang masih rentan perpecahan. Inilah upaya pertama untuk menerjemahkan kedaulatan rakyat ke dalam mekanisme pemerintahan yang bertanggung jawab kepada parlemen.

Konsep Dasar Sistem Kabinet Syahrir

Ketika Sutan Syahrir diangkat sebagai Perdana Menteri pertama Indonesia pada November 1945, ia membawa serta sebuah konsep pemerintahan yang saat itu dianggap lebih sesuai dengan kondisi revolusi: sistem kabinet parlementer. Inti dari sistem ini adalah bahwa kekuasaan eksekutif dipegang oleh sebuah kabinet (dewan menteri) yang dipimpin oleh seorang perdana menteri, bukan presiden. Kabinet ini bertanggung jawab penuh kepada parlemen (Komite Nasional Indonesia Pusat/KNIP), yang berarti parlemen memiliki hak untuk menjatuhkan kabinet melalui mosi tidak percaya.

Prinsip utamanya adalah kolektivitas dan pertanggungjawaban kepada wakil rakyat. Syahrir, dengan latar belakang pemikiran sosialis-demokrat yang kuat, percaya bahwa sistem ini lebih demokratis dan dapat mencegah konsentrasi kekuasaan di satu tangan, sekaligus lebih lincah dalam merespon dinamika politik yang sangat cepat berubah pasca-proklamasi.

Perbandingan Sistem Presidensial Awal dan Parlementer Syahrir

Pergantian dari sistem presidensial ke parlementer bukan sekadar perubahan administratif, melainkan pergeseran filosofi ketatanegaraan yang fundamental. Berikut tabel yang merangkum perbedaan mendasar antara kedua sistem tersebut pada masa awal kemerdekaan.

Aspek Sistem Presidensial (Agustus-Nov 1945) Sistem Parlementer Syahrir (Nov 1945) Dampak Langsung
Pemimpin Eksekutif Presiden (Ir. Soekarno) Perdana Menteri (Sutan Syahrir) Pemisahan peran simbol kepala negara (Soekarno) dan kepala pemerintahan (Syahrir).
Sumber Kekuasaan Kabinet Ditunjang oleh Presiden, bertanggung jawab kepada Presiden. Berdasarkan dukungan mayoritas di parlemen (KNIP), bertanggung jawab kepada parlemen. Kabinet harus membangun koalisi dan negosiasi politik dengan partai/kelompok di KNIP.
Hubungan dengan Legislatif Presiden dan legislatif (KNIP) berada dalam posisi yang lebih terpisah. Kabinet merupakan bagian dari dan dapat dijatuhkan oleh legislatif. Dinamika politik sangat dinamis, kabinet rentan jatuh jika dukungan parlemen hilang.
Konteks Pengambilan Keputusan Lebih sentralistik, di bawah kepemimpinan tunggal Presiden. Lebih kolegial dan berdasarkan musyawarah dalam kabinet serta dengan fraksi-fraksi di parlemen. Proses kebijakan bisa lebih lambat tetapi dianggap lebih representatif.

Karakteristik Khusus Kabinet Syahrir

Meski mengadopsi model parlementer ala Eropa Barat, kabinet Syahrir memiliki ciri khas yang lahir dari rahim revolusi Indonesia. Pertama, ini adalah kabinet yang relatif “non-politik” dalam komposisinya. Syahrir sengaja mengangkat menteri-menteri yang lebih berbasis kompetensi dan intelektual, banyak dari kalangan pemuda dan sosialis, dibandingkan hanya membagi-bagi jatah kursi berdasarkan kekuatan partai. Kedua, kabinet ini beroperasi dalam suasana dualisme kekuasaan yang unik, di mana otoritas formalnya harus berhadapan dengan kekuatan revolusioner yang lebih loyal kepada Presiden Soekarno dan panglima militer.

Sistem kabinet parlementer yang diusung Syahrir pasca-kemerdekaan adalah respons pragmatis terhadap realitas politik saat itu. Namun, sebelum kabinet ini terbentuk, kabar kemerdekaan harus disebarluaskan dulu oleh para Tokoh Penyebar Berita Proklamasi dengan penuh risiko. Dari sanalah legitimasi rakyat mengalir, yang kemudian menjadi fondasi bagi Syahrir untuk membangun sistem pemerintahan yang lebih stabil dan kolektif melalui kabinetnya.

BACA JUGA  Bukti Sejarah Awal Kedatangan Islam di Jawa Jejak Akulturasi dan Perdagangan

Ketiga, fokus kebijakannya hampir sepenuhnya eksternal, yaitu mengupayakan pengakuan kedaulatan melalui jalur diplomasi, sambil berusaha menahan gejolak perlawanan fisik yang lebih radikal di dalam negeri.

Konteks Sejarah dan Latar Belakang Pembentukan

Kabinet Syahrir lahir bukan dari ruang hampa, melainkan dari situasi genting yang hampir memecah-belah republik bayi. Setelah proklamasi, pemerintahan berjalan dengan sistem presidensial di bawah Soekarno-Hatta. Namun, tekanan Sekutu (diboncengi NICA) yang ingin mengambil-alih kekuasaan pasca Jepang menciut, memunculkan perdebatan strategi perjuangan. Kelompok yang lebih radikal, termasuk banyak elemen pemuda dan tentara, menginginkan perlawanan fisik total. Sementara itu, kelompok lain, termasuk Syahrir dan kelompok sosialisnya, melihat bahwa diplomasi dan pengakuan internasional adalah senjata yang tak kalah penting.

Kondisi sosial dan keamanan pun kacau. Inflasi meroket, peredaran mata uang asing tak terkendali, dan sentimen anti-Belanda memuncak. Di tengah situasi ini, KNIP yang awalnya berfungsi sebagai pembantu presiden, merasa perlu peran yang lebih besar. Maklumat Wakil Presiden Mohammad Hatta tanggal 3 November 1945 tentang pembentukan partai politik menjadi pemicu formal bagi munculnya multi-partai, yang kemudian mendorong tuntutan untuk sistem pemerintahan yang lebih representatif, yaitu parlementer.

Faktor Pendorong Dianggapnya Sistem Parlementer sebagai Solusi

Ada beberapa alasan mengapa sistem parlementer dianggap jawaban yang tepat saat itu. Pertama, sistem ini dipandang mampu mengakomodasi suara berbagai partai dan kelompok yang baru terbentuk, sehingga meredam potensi konflik internal. Kedua, dengan membuat kabinet bertanggung jawab kepada parlemen (KNIP), diharapkan tercipta check and balance yang mencegah otoritarianisme baru. Ketiga, secara citra internasional, sistem parlementer lebih diterima dan dikenali oleh dunia Barat, yang akan mempermudah jalan diplomasi.

Terakhir, sistem ini memungkinkan Soekarno dan Hatta tetap menjadi simbol pemersatu bangsa di posisi presiden dan wakil presiden, sementara tugas pemerintahan harian yang berat dan berisiko dijalankan oleh kabinet di bawah Syahrir.

Timeline Menuju Kabinet Syahrir

Peristiwa-peristiwa penting berikut menunjukkan betapa cepatnya perubahan sistem pemerintahan terjadi dalam hitungan minggu.

  • 14 November 1945: Kabinet Presidensial pertama di bawah Soekarno mengundurkan diri, menyadari kebutuhan akan bentuk pemerintahan baru yang lebih responsif.
  • 16-17 November 1945: Sidang KNIP menghasilkan keputusan monumental: perubahan sistem pemerintahan dari presidensial menjadi parlementer. KNIP berubah fungsi dari pembantu presiden menjadi parlemen.
  • 20 November 1945: Sutan Syahrir, tokoh intelektual sosialis yang populer di kalangan pemuda dan dianggap memiliki wawasan internasional yang luas, ditunjuk oleh KNIP untuk membentuk kabinet.
  • 14 November 1945 (secara resmi): Kabinet Syahrir I dilantik. Tanggal ini sering dianggap sebagai awal resmi berlakunya sistem parlementer di Indonesia.

Struktur, Komposisi, dan Dinamika Kabinet: Sistem Kabinet Yang Dianut Syahrir

Kabinet Syahrir I dikenal sebagai “kabinet profesional” atau “kabinet intelektual” karena komposisinya yang tidak terlalu terikat pada kepentingan partai besar. Syahrir lebih memilih orang-orang yang dianggap cakap dan sepaham dengan garis politik diplomasinya. Kabinet ini beranggotakan 14 menteri, dengan portofolio yang disesuaikan dengan kebutuhan mendesak negara yang sedang berjuang.

Susunan Personalia dan Menteri Kunci

Beberapa nama kunci dalam kabinet ini antara lain Amir Sjarifuddin (Menteri Penerangan dan Menteri Keamanan Rakyat), yang juga berasal dari sayap sosialis dan menjadi tangan kanan Syahrir. Soewandi Sastrosoewondo, seorang ahli hukum, menjabat Menteri Kehakiman. Untuk urusan ekonomi, Syahrir menunjuk Darmawan Mangunkusumo sebagai Menteri Kemakmuran. Yang menarik, jabatan Menteri Luar Negeri dipegang oleh Syahrir sendiri, menegaskan betapa prioritas utama kabinet ini adalah diplomasi luar negeri.

Latar belakang mereka umumnya adalah kaum terpelajar, berlatar belakang pergerakan non-koperasi dengan Belanda, dan banyak yang pernah aktif dalam jaringan underground melawan Jepang.

Dinamika Koalisi dan Hubungan dengan Partai Politik

Meski disebut “kabinet non-partai”, dukungan politik tetap dibutuhkan. Kabinet Syahrir terutama bersandar pada dukungan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang didirikan oleh Syahrir sendiri, dan juga kelompok-kelompok progresif di KNIP. Namun, hubungan dengan partai besar seperti Masyumi dan PNI, yang baru terbentuk, tidak selalu mulus. Kedua partai besar ini seringkali lebih dekat dengan kelompok yang mengedepankan perjuangan fisik. Dinamika ini menciptakan pemerintahan koalisi yang rapuh, di mana Syahrir harus terus-menerus melakukan lobi dan negosiasi untuk mempertahankan dukungan mayoritas di parlemen, sambil menjaga garis politik diplomasinya yang sering dikritik sebagai terlalu lunak.

BACA JUGA  Hitung Kecepatan Aliran pada Ujung Pipa Berdiameter 8 cm

Mekanisme Pertanggungjawaban Kabinet kepada Parlemen

Inti dari sistem parlementer adalah mekanisme pertanggungjawaban ini. Berikut adalah bagan deskriptif yang menggambarkan alur hubungan tersebut.

  • KNIP (Parlemen) memiliki kewenangan tertinggi dalam memberikan mandat pemerintahan.
    • Melalui proses pemungutan suara, KNIP menunjuk Perdana Menteri (Syahrir) untuk membentuk kabinet.
    • Kabinet yang telah dibentuk kemudian menjalankan pemerintahan sehari-hari.
    • Selama masa kerjanya, Kabinet wajib melaporkan dan mempertanggungjawabkan kebijakannya secara berkala kepada sidang-sidang KNIP.
    • Anggota KNIP dapat mengajukan interpelasi (pemanggilan keterangan), mosi, atau bahkan mosi tidak percaya jika kebijakan kabinet dianggap menyimpang atau tidak memuaskan.
    • Jika mosi tidak percaya disetujui mayoritas anggota KNIP, maka Kabinet harus mengundurkan diri dan diganti dengan kabinet baru yang masih mendapat dukungan parlemen.

Kebijakan dan Program Pemerintahan Utama

Dengan fokus “perjuangan di meja perundingan”, kabinet Syahrir menitikberatkan programnya pada upaya mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari dunia internasional. Namun, di dalam negeri, masalah ekonomi dan konflik internal juga tak bisa diabaikan.

Program Prioritas Diplomasi Internasional

Syahrir merancang tiga program utama diplomasi. Pertama, melakukan pendekatan dan negosiasi langsung dengan Belanda, meski penuh tekanan, dengan tujuan mencari penyelesaian konflik secara damai. Kedua, aktif memanfaatkan forum internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan membuka perwakilan di luar negeri untuk menyuarakan kasus Indonesia. Ketiga, yang paling cerdik, adalah upaya mendapatkan pengakuan de facto dan de jure dari negara-negara lain, terutama negara-negara Arab dan Asia, untuk mengisolir Belanda secara diplomatik dan membangun opini dunia yang mendukung Indonesia.

Upaya Menstabilkan Perekonomian

Kondisi keuangan Republik sungguh memprihatinkan. Pemerintah menghadapi hiperinflasi, beredarnya tiga mata uang (uang Jepang, uang NICA, dan ORI yang baru diterbitkan), serta blokade ekonomi Belanda. Kabinet Syahrir berusaha mengatasi ini dengan beberapa langkah, seperti mengeluarkan Undang-Undang Pokok Bank Negara Indonesia pada 1946 untuk mengatur perbankan, menggalakkan produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pokok, dan berusaha membuka jalur perdagangan alternatif untuk menembus blokade.

Namun, upaya-upaya ini sangat terhambat oleh situasi keamanan yang tidak stabil dan keterbatasan sumber daya.

Pendekatan Menyelesaikan Konflik Internal

Di dalam negeri, kabinet menghadapi tantangan dari kelompok-kelompok yang ingin terus berperang. Syahrir mengambil pendekatan persuasif dan integratif. Ia berusaha membawa kelompok-kelompok perlawanan yang sering bertindak sendiri-sendiri ke dalam struktur tentara resmi (TKR). Selain itu, melalui pidato dan penerangan, kabinet berusaha meyakinkan publik tentang pentingnya jalur diplomasi. Namun, pendekatan ini sering dianggap terlalu lemah dan kompromistis oleh kalangan militer dan politisi radikal, menciptakan ketegangan yang terus membayangi pemerintahannya.

Tantangan, Oposisi, dan Akhir Pemerintahan

Pemerintahan Syahrir berjalan di atas tali yang sangat tipis. Di satu sisi, ia harus berunding dengan Belanda yang sering berlaku curang. Di sisi lain, ia harus menghadapi oposisi keras dari dalam negeri yang menilai diplomasinya sebagai bentuk penyerahan. Kabinetnya jatuh-bangun tiga kali (Kabinet Syahrir I, II, dan III) dalam rentang waktu kurang dari dua tahun, menunjukkan betapa rapuhnya dukungan politik yang dimilikinya.

Tantangan Utama dari Dalam dan Luar, Sistem Kabinet yang Dianut Syahrir

Tantangan terbesar datang dari dua front. Dari dalam koalisi pemerintah sendiri, partai-partai besar seperti Masyumi dan PNI seringkali tidak sepenuh hati mendukung kebijakan Syahrir, terutama setelah ditandatanganinya Perundingan Linggajati pada 1947 yang dianggap terlalu menguntungkan Belanda. Dari luar, oposisi paling keras datang dari kelompok sayap kiri di bawah Tan Malaka yang tergabung dalam “Persatuan Perjuangan”, yang menuntut “100% kemerdekaan” dan menolak segala bentuk perundingan.

Selain itu, kalangan militer juga banyak yang tidak puas karena merasa perjuangan fisik mereka dikorbankan untuk diplomasi.

Momen Kritis yang Melemahkan Posisi Kabinet

Peristiwa penandatanganan Perundingan Linggajati (25 Maret 1947) menjadi titik balik yang sangat kritis. Meski berhasil mendapatkan pengakuan de facto Belanda atas kekuasaan Republik di Jawa, Madura, dan Sumatera, isi perjanjian yang membentuk negara federal (RIS) dianggap sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita republik kesatuan. Oposisi meledak hebat. Momen lain adalah agresi militer Belanda pertama (21 Juli 1947), yang secara telak membuktikan bahwa jalur diplomasi yang ditempuh Syahrir gagal mengamankan kedaulatan Republik dari ancaman militer Belanda.

Membahas sistem kabinet parlementer yang dianut Syahrir, kita bicara tentang fondasi energi politik. Tapi, energi fisik manusia justru bersumber dari Zat Gizi dengan Energi Tertinggi pada Manusia , yaitu lemak, yang memberi daya tahan luar biasa. Mirip seperti itu, ketangguhan kabinet Syahrir diuji dalam dinamika revolusi yang penuh tekanan, membutuhkan stamina politik yang tak mudah surut.

BACA JUGA  Tujuan Utama Sekutu Datang ke Indonesia Pasca PD II

Kegagalan inilah yang akhirnya menggerus legitimasi Syahrir hingga habis.

Rangkaian Peristiwa Menuju Pengunduran Diri

  • Penandatanganan Perundingan Linggajati memicu kemarahan luas dari berbagai fraksi politik dan militer.
  • Agresi Militer Belanda I pada Juli 1947 menjadi bukti kegagalan diplomasi dan melemahkan posisi Syahrir secara signifikan.
  • Tekanan politik dari dalam KNIP dan partai-partai besar, terutama setelah agresi, semakin meningkat.
  • Syahrir kehilangan dukungan mayoritas di parlemen karena banyak anggotanya yang menarik dukungan.
  • Pada tanggal 27 Juni 1947, Sutan Syahrir mengajukan pengunduran diri dari jabatan Perdana Menteri kepada Presiden Soekarno, mengakhiri periode kepemimpinannya.

Warisan dan Dampak terhadap Sistem Ketatanegaraan

Meski berumur pendek dan penuh kontroversi, sistem kabinet Syahrir meninggalkan jejak yang dalam dalam pola pemerintahan Indonesia. Periode ini meletakkan fondasi praktis sistem parlementer yang kemudian bertahan (dengan segala pasang-surutnya) hingga dekret presiden 1959. Ia memperkenalkan budaya politik di mana kabinet harus sensitif terhadap suara parlemen, sekaligus menunjukkan betapa sulitnya membangun koalisi yang stabil dalam lanskap politik yang sangat majemuk.

Perbandingan Elemen Warisan Kabinet Syahrir dengan Praktik Sekarang

Beberapa elemen dari era Syahrir masih dapat kita temui ekoninya, meski dalam konteks sistem presidensial yang berbeda. Berikut tabel perbandingannya.

Elemen Warisan Kabinet Syahrir Manifestasi dalam Sistem Parlementer (1950-1959) Eko dalam Sistem Presidensial Sekarang Catatan Perkembangan
Kabinet Bertanggung Jawab ke Parlemen Menjadi inti sistem; kabinet sering jatuh karena mosi tidak percaya DPR. Tidak ada. Presiden/Kabinet bertanggung jawab kepada rakyat melalui pemilu. Pergeseran fundamental dari parlementer ke presidensial melalui UUD 1945 pasca amandemen.
Posisi Perdana Menteri sebagai Kepala Pemerintahan Tetap ada hingga 1959. Tidak ada. Presiden sekaligus sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Fungsi Perdana Menteri melebur sepenuhnya ke dalam jabatan Presiden.
Pembentukan Kabinet Berdasarkan Koalisi Parlemen Sangat dominan; kabinet adalah hasil koalisi partai pemenang pemilu. Kabinet dibentuk Presiden, tetapi komposisi sering merepresentasikan koalisi partai pendukung presiden di DPR. Logika koalisi tetap hidup, tetapi untuk mendukung program presiden, bukan untuk membentuk kabinet yang rentan dijatuhkan.
Diplomasi sebagai Ujung Tombak Perjuangan Diteruskan oleh kabinet-kabinet berikutnya. Menjadi pilar tetap politik luar negeri Indonesia, dengan prinsip bebas-aktif yang semakin dikokohkan. Warisan strategi perjuangan yang dianggap berhasil dan dipertahankan.

Signifikansi Periode Kabinet Syahrir Menurut Ahli

Sistem Kabinet yang Dianut Syahrir

Source: slidesharecdn.com

Para sejarawan dan ahli hukum tata negara memiliki penilaian beragam, namun umumnya sepakat bahwa periode ini merupakan eksperimen ketatanegaraan yang krusial. Seorang sejarawan terkemuka pernah memberikan catatan yang cukup berimbang:

“Kabinet Syahrir mewakili upaya pertama yang serius untuk menerapkan demokrasi parlementer ala Barat di Indonesia. Ia gagal bukan semata-mata karena kesalahan Syahrir, tetapi lebih karena kondisi revolusioner yang belum siap untuk mekanisme kompromi dan deliberasi parlementer. Namun, kegagalan itu justru mengajarkan pelajaran berharga tentang kompleksitas memadukan idealisme demokrasi dengan realitas geopolitik dan sosial budaya Indonesia yang sedang bergejolak. Ia adalah babak pembelajaran politik yang mahal dan menentukan.”

Pemungkas

Jadi, warisan Sistem Kabinet Syahrir itu seperti cetak biru pertama yang agak kusut tapi penuh makna. Ia menunjukkan bahwa sejak awal, Indonesia sudah bergumul dengan dialektika antara sistem presidensial dan parlementer, antara kekuatan eksekutif yang kuat dan kontrol legislatif yang ketat. Meski umurnya singkat dan diwarnai berbagai tantangan, eksperimen politik ini meninggalkan DNA parlementer dalam tubuh ketatanegaraan kita, yang pengaruhnya masih bisa dirasakan dalam dinamika hubungan pemerintah dan DPR hingga sekarang.

Pada akhirnya, periode Syahrir mengajarkan satu hal: membangun institusi di tengah gejolak adalah soal keberanian memilih bentuk, sekaligus kelenturan untuk menyesuaikannya dengan realitas yang terus berubah.

Panduan Pertanyaan dan Jawaban

Apakah sistem kabinet Syahrir murni mencontoh sistem parlementer Eropa?

Tidak sepenuhnya. Meski mengadopsi prinsip pertanggungjawaban kabinet kepada parlemen, sistem ini sangat disesuaikan dengan konteks revolusi Indonesia. Kabinet Syahrir lebih cair, dibentuk dalam situasi darurat, dan beroperasi tanpa konstitusi yang benar-benar mengatur detail sistem parlementer secara ketat seperti di Eropa.

Mengapa Syahrir yang relatif muda dan dari partai kecil bisa menjadi Perdana Menteri?

Syahrir dipilih karena dianggap sebagai figur yang dapat diterima berbagai pihak, memiliki jaringan internasional yang baik untuk diplomasi, dan tidak terlibat langsung dalam pemerintahan pendudukan Jepang. Latar belakangnya sebagai intelektual dan tokoh gerakan bawah tanah memberinya legitimasi di mata kelompok perjuangan.

Bagaimana hubungan antara Presiden Soekarno dan Kabinet Syahrir?

Hubungannya kompleks dan penuh ketegangan. Secara formal, kekuasaan eksekutif ada di tangan kabinet, tetapi Soekarno sebagai Proklamator dan Presiden memiliki pengaruh politik yang sangat besar. Sering terjadi tarik-ulur kebijakan antara visi diplomasi Syahrir dan pendekatan populis serta revolusioner Soekarno.

Apakah program ekonomi kabinet Syahrir berhasil mengatasi hiperinflasi pasca-kemerdekaan?

Kabinet melakukan upaya mendesak seperti mengeluarkan Oeang Republik Indonesia (ORI) dan negosiasi dengan Belanda, namun keberhasilannya sangat terbatas. Kondisi perang, blokade ekonomi Belanda, dan belum adanya otoritas moneter yang kuat membuat stabilisasi ekonomi menjadi salah satu tantangan terberat yang tidak terselesaikan sepenuhnya.

Apa pengaruh langsung jatuhnya kabinet Syahrir terhadap sistem pemerintahan Indonesia?

Jatuhnya kabinet Syahrir mengukuhkan pola pemerintahan parlementer yang tidak stabil dengan pergantian kabinet yang sering. Periode ini membentuk preseden bahwa kabinet bisa jatuh karena mosi tidak percaya dari parlemen, sebuah pola yang terus berlanjut hingga Demokrasi Parlementer berakhir pada 1959.

Leave a Comment