Sistem Persamaan Linear Dua Variabel untuk Motor dan Mobil ternyata bukan sekadar deretan angka dan huruf yang bikin pusing di buku matematika. Bayangkan saja, konsep aljabar yang satu ini bisa jadi kunci untuk mengurai kemacetan, mengatur parkir, bahkan merencanakan logistik dengan lebih cerdas. Di balik hiruk-pikuk lalu lintas kota, ada pola matematis yang rapi menunggu untuk dipecahkan, di mana motor dan mobil berperan sebagai variabel X dan Y dalam sebuah persamaan kehidupan nyata.
Melalui pemodelan sederhana, kita bisa melihat bagaimana hubungan antara jumlah motor, mobil, lebar jalan, hingga tarif parkir bisa diterjemahkan ke dalam bentuk persamaan linear. Artikel ini akan mengajak kita menjelajah sisi praktis matematika, menunjukkan bahwa SPLDV adalah alat yang powerful untuk menganalisis, memprediksi, dan mengoptimalkan berbagai skenario transportasi sehari-hari. Dari perempatan macet hingga pembagian zona parkir, semua bisa dianalisis dengan logika yang elegan.
Mengurai Pola Lalu Lintas Perkotaan dengan Aljabar Sederhana
Bayangkan kita sedang berdiri di jembatan penyeberangan, melihat riuh kendaraan yang lalu lalang di bawah. Ratusan motor dan mobil bergerak dalam pola yang tampaknya acak. Namun, di balik kekacauan yang terlihat, terdapat pola matematis yang bisa kita tangkap. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) menawarkan lensa yang menarik untuk memotret dan memahami komposisi lalu lintas tersebut. Dengan mendefinisikan variabel X sebagai jumlah motor dan Y sebagai jumlah mobil di suatu ruas jalan pada waktu tertentu, kita dapat mulai memodelkan realitas yang kompleks menjadi bentuk yang terukur dan dapat dianalisis.
Setiap kendaraan membawa “koefisien” atau pengaruhnya sendiri terhadap sistem lalu lintas. Koefisien dalam persamaan linear ini bisa merepresentasikan kontribusi relatif setiap jenis kendaraan terhadap berbagai faktor, seperti penggunaan ruang jalan, produksi emisi, atau kapasitas angkut penumpang. Sebuah mobil, misalnya, memiliki “koefisien” konsumsi jalan yang lebih besar dibandingkan sebuah motor. Memahami perbandingan ini adalah kunci untuk membangun model yang akurat.
Koefisien Kendaraan dalam Model Lalu Lintas
Dalam persamaan linear, koefisien adalah angka yang mengalikan variabel. Dalam konteks lalu lintas, koefisien ini bisa kita artikan sebagai nilai rata-rata dampak satu unit kendaraan terhadap suatu parameter. Tabel berikut membandingkan koefisien hipotesis untuk motor dan mobil pada beberapa atribut.
| Atribut | Koefisien Motor (X) | Koefisien Mobil (Y) | Interpretasi dalam Persamaan |
|---|---|---|---|
| Konsumsi Jalan (m²) | 2 | 8 | 1 mobil setara dengan 4 motor dalam hal penggunaan ruang. |
| Emisi CO₂ (satuan relatif) | 1 | 3 | Emisi per mobil 3 kali lipat emisi per motor. |
| Muatan Penumpang (orang) | 2 | 5 | Kapasitas angkut rata-rata per kendaraan. |
| Tingkat Kemacetan (indeks) | 0.5 | 1.5 | Kontribusi relatif terhadap perlambatan arus. |
Pemodelan Kemacetan di Sebuah Perempatan
Misalkan di suatu perempatan, pengamat mencatat dua fakta. Pertama, total jumlah roda dari semua kendaraan (motor 2 roda, mobil 4 roda) yang terlihat adalah 100 roda. Kedua, total “indeks kemacetan” yang dihitung berdasarkan koefisien dari tabel di atas adalah 40. Kita bisa memodelkan ini menjadi sistem persamaan. Jika jumlah motor = X dan jumlah mobil = Y, maka persamaan untuk jumlah roda adalah 2X + 4Y = 100.
Persamaan untuk indeks kemacetan adalah 0.5X + 1.5Y = 40.
Kita selesaikan sistem ini. Simplifikasi persamaan pertama menjadi X + 2Y = 50 (dibagi 2). Dari sini, kita dapat X = 50 – 2Y. Substitusi ke persamaan kedua: 0.5(50 – 2Y) + 1.5Y = 40. Ini menjadi 25 – Y + 1.5Y = 40, sehingga 25 + 0.5Y = 40.
Maka 0.5Y = 15, dan Y = 30. Substitusi Y=30 ke X = 50 – 2(30), diperoleh X = -10. Hasil negatif untuk jumlah motor tidak mungkin dalam dunia nyata. Titik potong kedua garis ini memang ada secara matematis, tetapi berada di kuadran yang tidak bermakna secara fisik. Ini justru memberi insight berharga.
Dalam konteks lalu lintas, titik potong kedua garis persamaan merepresentasikan sebuah keadaan seimbang di mana kedua kondisi (seperti jumlah roda dan tingkat kemacetan) terpenuhi secara bersamaan. Jika titik potongnya memiliki koordinat positif, itu adalah solusi realistis untuk komposisi kendaraan. Jika salah satu koordinat negatif, seperti pada contoh, model kita mungkin kurang tepat atau kondisi yang diamati mustahil terjadi secara bersamaan dengan asumsi koefisien yang kita pakai—misalnya, tingkat kemacetan 40 terlalu tinggi untuk total 100 roda jika komposisinya wajar.
Simulasi Biaya Parkir dan Tarif Tol Menggunakan Dua Variabel
Pengelolaan area parkir komersial, seperti di pusat perbelanjaan atau terminal, seringkali menghadapi tantangan dalam memprediksi pendapatan dan mengoptimalkan ruang. Tarif parkir untuk motor dan mobil yang berbeda menciptakan dinamika pendapatan yang bisa dimodelkan dengan elegan menggunakan SPLDV. Model ini membantu pengelola untuk melakukan analisis “what-if”, mensimulasikan berbagai skenario jumlah kendaraan yang parkir dan menghitung pendapatan total, atau sebaliknya, mengurai total pendapatan yang terkumpul untuk mengetahui perkiraan komposisi kendaraan.
Sebuah studi kasus dapat diambil dari sebuah area parkir yang diketahui memiliki kapasitas maksimal 50 kendaraan (campuran motor dan mobil). Pada suatu hari tertentu, diketahui total pendapatan parkir adalah Rp 1.000.
000. Dengan tarif parkir motor Rp 10.000 dan mobil Rp 25.000, kita dapat merumuskan dua persamaan. Persamaan pertama untuk total kendaraan: X + Y =
50.
Persamaan kedua untuk total pendapatan: 10000X + 25000Y = 1.000.000.
Skenario Pendapatan Parkir Berdasarkan Komposisi
Sebelum menyelesaikan sistem untuk mencari X dan Y yang tepat, menarik untuk melihat bagaimana variasi komposisi mempengaruhi pendapatan. Tabel di bawah menunjukkan beberapa kemungkinan kombinasi.
| Motor (X) | Mobil (Y) | Pendapatan Motor | Pendapatan Mobil | Total Pendapatan |
|---|---|---|---|---|
| 40 | 10 | Rp 400.000 | Rp 250.000 | Rp 650.000 |
| 25 | 25 | Rp 250.000 | Rp 625.000 | Rp 875.000 |
| 10 | 40 | Rp 100.000 | Rp 1.000.000 | Rp 1.100.000 |
| 0 | 50 | Rp 0 | Rp 1.250.000 | Rp 1.250.000 |
Menentukan Komposisi Kendaraan dari Pendapatan, Sistem Persamaan Linear Dua Variabel untuk Motor dan Mobil
Untuk menemukan komposisi aktual yang menghasilkan pendapatan tepat Rp 1.000.000 dengan total 50 kendaraan, kita gunakan metode eliminasi. Kalikan persamaan X + Y = 50 dengan 10.000, menjadi 10.000X + 10.000Y = 500.
000. Kurangkan persamaan pendapatan (10.000X + 25.000Y = 1.000.000) dengan persamaan ini: (25.000Y – 10.000Y) = 1.000.000 – 500.000, sehingga 15.000Y = 500.000. Maka Y = 500.000 / 15.000 ≈ 33.33.
Karena jumlah kendaraan harus bilangan bulat, hasil ini mengindikasikan bahwa data total pendapatan Rp 1.000.000 dengan total 50 kendaraan mungkin telah dibulatkan atau terdapat selisih kas kecil. Hasil terdekat yang bulat adalah Y=33 dan X=17, yang menghasilkan pendapatan Rp 995.000, atau Y=34 dan X=16 yang menghasilkan Rp 1.010.000.
Visualisasi Grafik dan Area Solusi
Jika kita gambarkan kedua persamaan tersebut dalam grafik dua dimensi dengan sumbu X (motor) dan Y (mobil), garis pertama X+Y=50 akan berupa garis lurus yang memotong sumbu di (50,0) dan (0,50). Garis kedua 10000X + 25000Y = 1.000.000, setelah disederhanakan, juga akan membentuk garis lurus. Area solusi yang feasible bagi pengelola adalah semua titik koordinat dengan X dan Y bilangan bulat non-negatif yang terletak di bawah atau pada garis kapasitas (X+Y ≤ 50).
Titik potong kedua garis (jika ada koordinat bulat di sekitarnya) menunjukkan komposisi yang memenuhi kedua kondisi secara persis. Grafik dengan jelas menunjukkan trade-off: menambah mobil meningkatkan pendapatan, tetapi mengurangi jumlah total kendaraan yang bisa ditampung jika kapasitas tetap.
Optimasi Angkutan Logistik Terakhir dengan Pemodelan Linear
Dalam dunia logistik, khususnya pada bagian pengiriman terakhir atau last-mile delivery, efisiensi adalah kunci penentu keberhasilan dan profitabilitas. Perusahaan seringkali harus memutuskan kombinasi optimal antara menggunakan mobil pick-up untuk pengiriman volume besar dan motor kurir untuk pengiriman cepat dengan volume kecil. Persamaan linear dua variabel muncul sebagai alat perencanaan yang powerful untuk menyeimbangkan berbagai batasan dan tujuan ini. Dengan memodelkan kapasitas, biaya, dan permintaan, manajer logistik dapat beralih dari sekadar perkiraan ke keputusan yang berbasis data.
Model ini dimulai dengan mengidentifikasi batasan-batasan riil operasional. Batasan utama biasanya meliputi kapasitas barang total yang harus dikirim (dalam kubikasi atau berat), total jarak tempuh atau waktu kerja yang tersedia, dan anggaran biaya operasional maksimal. Setiap jenis kendaraan memiliki kontribusi yang berbeda terhadap setiap batasan ini. Sebuah mobil pick-up memiliki koefisien kapasitas besar tetapi koefisien biaya per kilometer yang juga tinggi.
Sebaliknya, motor kurir memiliki koefisien kapasitas kecil, koefisien biaya per kilometer rendah, dan koefisien kecepatan (efektivitas waktu) yang tinggi.
Transformasi Batasan Menjadi Persamaan
Misalkan sebuah usaha kuliner harus mengirim 120 paket dalam sehari ke berbagai lokasi. Setiap mobil pick-up dapat membawa 40 paket dengan biaya operasional Rp 200.000 per hari. Setiap motor kurir dapat membawa 10 paket dengan biaya Rp 50.000 per hari. Anggaran harian untuk pengiriman adalah Rp 700.
000.
Jika X adalah jumlah mobil dan Y adalah jumlah motor, maka kita punya dua batasan utama. Batasan kapasitas: 40X + 10Y ≥ 120 (minimal harus mengangkut 120 paket). Batasan anggaran: 200.000X + 50.000Y ≤ 700.000. Tujuan kita adalah memenuhi batasan kapasitas dengan biaya minimal, atau dengan kata lain, menemukan kombinasi (X,Y) yang memenuhi 40X+10Y ≥ 120 tetapi membuat nilai 200.000X+50.000Y serendah mungkin.
Perbandingan Solusi SPLDV dengan Pendekatan Tradisional
- Solusi Berbasis Perkiraan: Cenderung menggunakan “rule of thumb”, misalnya mengirim semua paket dengan motor karena dianggap lebih lincah. Hasilnya, butuh 12 motor dengan total biaya Rp 600.000. Ini memenuhi anggaran, tetapi mungkin tidak efisien dalam pengelolaan 12 kurir secara simultan.
- Solusi Berbasis SPLDV (Optimasi): Kita mencari titik potong antara garis batasan. Coba titik-titik feasible. Jika X=2 mobil (bawa 80 paket, biaya Rp 400.000), maka kekurangan 40 paket harus dipikul oleh Y=4 motor (biaya tambahan Rp 200.000). Total biaya Rp 600.000, sama dengan solusi pertama, tetapi hanya mengelola 6 kendaraan. Jika X=1 dan Y=8, total biaya Rp 600.000 juga.
Jika X=3, biaya sudah Rp 600.000 hanya untuk mobil (bawa 120 paket), tetapi melanggar batasan anggaran karena butuh motor untuk area sempit, misalnya. Analisis sistematis ini memberikan pilihan yang lebih terinformasi.
Langkah Menemukan Titik Optimum
Penyelesaian untuk kasus minimisasi biaya dengan dua batasan seperti ini seringkali melibatkan evaluasi pada titik-titik sudut daerah feasible. Pertama, kita gambarkan daerah yang memenuhi kedua pertidaksamaan. Titik-titik kandidat optimum biasanya adalah perpotongan garis-garis batasan. Cari titik potong garis 40X+10Y=120 dan 200.000X+50.000Y=700.
000.
Persamaan kedua bisa disederhanakan menjadi 4X+Y=14 (dibagi 50.000). Dari sini, Y = 14 – 4X. Substitusi ke persamaan kapasitas: 40X + 10(14-4X) = 120 -> 40X + 140 – 40X = 120 -> 140 =
120. Hasil yang kontradiktif ini menunjukkan kedua garis sejajar (gradiennya sama, -4). Artinya, tidak ada titik potong yang memenuhi keduanya secara persis.
Daerah feasible adalah area di antara dua garis sejajar. Titik dengan biaya terendah yang masih memenuhi kapasitas akan berada di garis kapasitas (40X+10Y=120). Uji beberapa titik integer pada garis ini: (X=0,Y=12) biaya=600.000; (X=1,Y=8) biaya=600.000; (X=2,Y=4) biaya=600.000; (X=3,Y=0) biaya=600.
000. Semua kombinasi di garis kapasitas memberikan biaya yang sama karena garis biaya sejajar dengan garis kapasitas.
Ini adalah insight yang sangat berharga: dalam skenario parameter ini, pengelola bebas memilih kombinasi apa pun di garis tersebut berdasarkan pertimbangan lain (seperti ketersediaan pengemudi) tanpa mengubah total biaya.
Memproyeksi Dampak Kebijakan Rambu Khusus pada Komposisi Kendaraan
Pemerintah kota sering kali menerapkan kebijakan lalu lintas, seperti larangan masuk bagi kendaraan bermotor roda dua di jalan tertentu pada jam sibuk atau pembatasan kendaraan bermotor roda empat berdasarkan plat nomor. Kebijakan seperti ini secara langsung menggeser komposisi lalu lintas di koridor yang terdampak. Dengan menggunakan model SPLDV, kita dapat membuat proyeksi teoretis tentang bagaimana pergeseran ini mungkin terjadi dan menganalisis efektivitas kebijakan sebelum diterapkan sepenuhnya.
Model ini berfungsi sebagai simulator kebijakan yang murah dan cepat.
Skenario teoretisnya adalah sebuah jalan protokol yang sebelumnya dilewati campuran motor (X) dan mobil (Y). Persamaan awal lalu lintas mungkin didasarkan pada hubungan historis, misalnya rasio motor terhadap mobil adalah 3:1, sehingga bisa dimodelkan sebagai X = 3Y atau X – 3Y = 0. Kemudian, sebuah kebijakan baru diterapkan, misalnya “larangan motor pada pukul 07.00-09.00”. Kebijakan ini secara efektif mengubah atau menambahkan sebuah persamaan kendala baru ke dalam sistem.
Persamaan baru itu bisa berupa X = 0 (jika larangan mutlak) atau X ≤ suatu nilai, yang dalam pemodelan linear sering diwakili dengan mengganti koefisien atau menambahkan persamaan pembatas.
Perubahan Parameter Sebelum dan Sesudah Kebijakan
Parameter lalu lintas seperti kecepatan rata-rata dan rasio kendaraan akan berubah. Sebelum kebijakan, dengan komposisi campuran, kecepatan rata-rata mungkin rendah karena interaksi yang kompleks. Setelah motor dilarang, meskipun jumlah kendaraan (Y) mungkin tetap atau bahkan bertambah sedikit (karena mode shift), koefisien gesekan lateral berkurang drastis. Dalam model, ini dapat direpresentasikan dengan mengubah koefisien pada persamaan yang memodelkan “arus lalu lintas”.
Nah, konsep Sistem Persamaan Linear Dua Variabel ternyata bisa kita temuin dalam kehidupan sehari-hari, lho. Misalnya, saat kita hitung biaya parkir motor dan mobil di suatu tempat. Kalau kamu masih bingung gimana cara menyusun dan menyelesaikan model matematikanya, tenang aja. Ada panduan lengkap yang bisa kamu akses di Help Me with Part Two untuk bantu pecahkan soal-soal seperti itu.
Dengan begitu, kamu jadi lebih paham cara aplikasikan rumus SPLDV untuk membandingkan tarif kedua kendaraan dengan tepat dan akurat.
Misalnya, persamaan arus Q (kendaraan per jam) = (kepadatan)* (kecepatan). Larangan motor mengubah hubungan antara kepadatan (yang sekarang hanya dihitung dari mobil) dan kecepatan, yang secara matematis terlihat sebagai perubahan gradien garis pada model.
Proyeksi Hasil Berbagai Variasi Kebijakan
Berdasarkan variasi parameter seperti tingkat kepatuhan, mode shift (pengalihan moda), dan perubahan volume kendaraan total, kita dapat memproyeksikan beberapa skenario hasil. Tabel berikut menunjukkan proyeksi hipotesis.
| Jenis Kebijakan | Parameter yang Diubah | Perkiraan Perubahan Rasio (Mobil:Motor) | Proyeksi Dampak pada Kecepatan Rata-Rata |
|---|---|---|---|
| Larangan Motor Jam Sibuk | X dipaksa ≈ 0 | Dari 1:3 menjadi 1:0 (hanya mobil) | Peningkatan signifikan (20-30%) |
| Ganjil-Genap Mobil | Y berkurang ~50% pada hari tertentu | Dari 1:3 menjadi ~0.5:3 (1:6) | Peningkatan sedang (10-15%), tapi motor meningkat |
| Pembatasan Masuk Semua Kendaraan | X+Y ≤ batas baru | Rasio tetap, tapi volume turun | Peningkatan stabil untuk semua |
| Tanpa Kebijakan Baru (Baseline) | Tidak ada | Tetap 1:3 | Stagnan atau menurun perlahan |
Interpretasi solusi dari sistem persamaan yang memodelkan kebijakan sangatlah penting. Solusi tunggal yang menghasilkan nilai X dan Y positif menunjukkan kebijakan tersebut dapat diterapkan dengan hasil komposisi yang pasti dan terprediksi. Banyak solusi (garis berhimpit) mengindikasikan kebijakan tersebut tidak cukup restriktif untuk mengarahkan komposisi ke satu titik tertentu; masih ada banyak kemungkinan. Tidak adanya solusi (garis sejajar) dalam konteks target tertentu (misalnya, target kecepatan minimum dan target polusi maksimum) adalah sinyal bahwa kebijakan tersebut mustahil memenuhi kedua target secara bersamaan dengan sumber daya yang ada, menandakan perlunya revisi atau kompromi.
Aljabar di Balik Pembagian Zona Parkir Sepeda Motor dan Mobil
Pengalokasian area parkir yang efisien di tempat terbatas, seperti halaman depan gedung atau lahan sempit di perkotaan, adalah penerapan praktis geometri dan aljabar. Seringkali, pengelola harus membagi sebuah area persegi panjang menjadi dua zona: satu untuk motor dan satu untuk mobil, dengan rasio luas atau kapasitas tertentu. Sistem persamaan linear dua variabel dapat membantu merancang pembagian ini secara presisi, di mana variabelnya bisa berupa panjang atau lebar dari masing-masing zona, atau bahkan jumlah unit kendaraan yang dapat ditampung.
Permasalahan dimulai dengan sebuah lahan parkir persegi panjang dengan luas total diketahui, misalnya 400 m². Ditetapkan bahwa zona parkir mobil harus 1.5 kali lebih luas daripada zona parkir motor. Selain itu, karena bentuk lahan dan akses masuk, terdapat batasan lain: total panjang garis pembatas yang memisahkan kedua zona adalah 30 meter. Dua kondisi ini dapat kita formulasikan sebagai sistem persamaan.
Jika kita misalkan luas zona motor = A dan luas zona mobil = B, maka persamaan pertama adalah A + B = 400. Persamaan kedua adalah B = 1.5A, atau -1.5A + B = 0.
Ilustrasi Denah Parkir yang Terbagi
Source: slidesharecdn.com
Bayangkan sebuah lahan persegi panjang dengan panjang 25 meter dan lebar 16 meter (sehingga luas 400 m²). Sebuah pembatas memanjang sejajar dengan sisi lebar membagi lahan menjadi dua bagian yang tidak sama. Bagian kiri, yang lebih sempit, adalah zona motor. Bagian kanan, yang lebih luas, adalah zona mobil. Panjang pembatas itu sendiri adalah 16 meter (sama dengan lebar lahan).
Variabel dalam persamaan kita, A dan B, secara langsung berkaitan dengan lebar masing-masing zona. Jika kita sebut lebar zona motor sebagai ‘a’ meter dan lebar zona mobil sebagai ‘b’ meter, dengan panjang kedua zona sama-sama 25 meter, maka A = 25a dan B = 25b. Persamaan A+B=400 menjadi 25a + 25b = 400, dan persamaan B=1.5A menjadi 25b = 1.5*(25a).
Menentukan Titik Potong dan Kapasitas Parkir
Menyelesaikan sistem persamaan luas yang sederhana: dari B = 1.5A dan A+B=400, substitusi menghasilkan A + 1.5A = 400, jadi 2.5A = 400. Maka A = 160 m² dan B = 240 m². Ini adalah titik potong dari dua garis persamaan yang merepresentasikan batasan luas total dan batasan rasio. Dalam denah kita, ini berarti luas zona motor 160 m² dan zona mobil 240 m².
Kembali ke variabel panjang dan lebar, karena panjang zona adalah 25 meter, maka lebar zona motor a = 160/25 = 6.4 meter, dan lebar zona mobil b = 240/25 = 9.6 meter. Koordinat titik potong pada grafik (A, B) = (160, 240) ini berkorespondensi dengan denah fisik dimana pembatas terletak 6.4 meter dari sisi kiri lahan (jika diukur sepanjang sisi panjang).
Perhitungan Praktis Jumlah Unit Kendaraan
Jika ditetapkan bahwa satu mobil membutuhkan luas parkir 12 m² (misal 2.4m x 5m) dan satu motor membutuhkan 1.2 m² (misal 0.6m x 2m), maka kapasitas masing-masing zona dapat dihitung. Zona motor seluas 160 m² dapat menampung 160 / 1.2 ≈ 133 unit motor. Zona mobil seluas 240 m² dapat menampung 240 / 12 = 20 unit mobil. Perhitungan ini mengonversi solusi aljabar murni (luas) menjadi sebuah rencana operasional yang langsung bisa diterapkan oleh petugas parkir di lapangan.
Kesimpulan: Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Untuk Motor Dan Mobil
Jadi, begitulah kisahnya. Sistem persamaan linear dua variabel ternyata punya cerita seru yang dekat dengan keseharian kita. Ia bukan lagi monster menakutkan di ruang kelas, melainkan sekutu yang bisa membantu kita memahami dinamika kota dengan lebih baik. Melalui motor dan mobil sebagai variabelnya, matematika menjadi jembatan yang menghubungkan teori dengan realitas yang sesungguhnya.
Dari simulasi kebijakan hingga optimasi bisnis, pemahaman tentang konsep ini membuka mata bahwa solusi atas banyak masalah seringkali tersembunyi dalam pola-pola yang teratur. Ketika kita berhasil menemukan titik potong yang tepat antara kedua garis persamaan, saat itulah kita menemukan keseimbangan, solusi, dan jawaban yang selama ini kita cari di tengah kesemrawutan lalu lintas kehidupan.
Detail FAQ
Apakah model SPLDV ini bisa diterapkan untuk jenis kendaraan lain, seperti truk atau bus?
Tentu bisa. Prinsipnya sama. Kita bisa menambahkan variabel baru (misalnya Z untuk truk) yang membuat sistem menjadi persamaan linear tiga variabel. Namun, untuk analisis yang lebih sederhana dan fokus pada interaksi dua kelompok dominan seperti motor dan mobil, SPLDV sudah sangat efektif.
Bagaimana jika data riil di lapangan tidak pernah menghasilkan solusi bilangan bulat, padahal jumlah kendaraan harus bulat?
Ini hal yang umum. Solusi dari model matematika seringkali berupa bilangan desimal. Dalam konteks nyata, kita harus melakukan interpretasi dan pembulatan. Misalnya, hasil 12.3 motor bisa diartikan sebagai pola rata-rata atau indikasi bahwa model perlu disesuaikan lagi dengan konstanta tertentu untuk mendapatkan solusi bulat.
Apakah metode eliminasi atau substitusi lebih baik untuk menyelesaikan masalah transportasi seperti ini?
Tidak ada yang lebih baik secara mutlak. Metode substitusi cocok jika koefisien salah satu variabel adalah 1, sering ditemui dalam masalah tarif parkir. Metode eliminasi lebih rapi untuk persamaan dengan angka yang kompleks, seperti dalam analisis dampak kebijakan. Pilihannya tergantung pada kerapihan bentuk persamaan yang kita buat.
Model ini terlihat ideal, apakah faktor psikologi pengendara atau hal mendadak seperti kecelakaan bisa dimasukkan?
Model SPLDV dasar memang mengasumsikan kondisi ideal dan hubungan yang linear. Faktor dinamis seperti psikologi pengendara atau kejadian tak terduga tidak bisa dimasukkan langsung. Namun, model ini bisa menjadi dasar atau “skenario normal” yang kemudian divariasikan dengan simulasi atau ditambahkan faktor probabilistik untuk pendekatan yang lebih realistis.