Standardisasi Na2S2O3 dengan Standar Primer Kunci Analisis Iodometri

Standardisasi Na2S2O3 dengan Standar Primer bukan sekadar rutinitas laboratorium, melainkan ritual penting yang menentukan keabsahan seluruh analisis iodometri selanjutnya. Bayangkan, keakuratan penentuan kadar vitamin C, klorin di kolam renang, atau logam berat di lingkungan, semua bergantung pada langkah krusial ini. Larutan natrium tiosulfat yang kita sebut Na2S2O3 ini, meski sering digunakan, sifatnya tidak stabil sehingga konsentrasinya harus ditetapkan ulang menggunakan batu uji yang sempurna: standar primer.

Proses ini menghadirkan perpaduan antara presisi sains dan keahlian praktis, di mana zat seperti kalium iodat (KIO3) atau kalium dikromat (K2Cr2O7) berperan sebagai pemberi standar mutlak. Melalui reaksi redoks yang elegan, titrasi yang cermat akan mengungkap konsentrasi sebenarnya dari Na2S2O3, mengubah larutan sekunder yang meragukan menjadi alat ukur yang dapat dipercaya. Pemahaman mendalam tentang prinsip, prosedur, dan faktor kritis dalam standardisasi ini menjadi fondasi bagi setiap analis kimia yang mengutamakan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendahuluan dan Konsep Dasar Standardisasi

Dalam dunia analisis kimia, terutama yang berbasis titrimetri, keakuratan mutlak suatu pengukuran bergantung pada pengetahuan yang pasti mengenai konsentrasi larutan yang kita gunakan. Proses untuk menentukan konsentrasi tepat suatu larutan ini dikenal sebagai standardisasi. Ini bukan sekadar rutinitas laboratorium, melainkan fondasi yang menjamin validitas setiap data yang dihasilkan kemudian.

Natrium tiosulfat (Na₂S₂O₃) adalah salah satu reagen kunci dalam titrasi iodometri dan iodimetri. Namun, larutan ini tidak bisa serta-merta dijadikan larutan baku primer. Sifatnya yang kurang stabil—mudah terurai oleh mikroorganisme, cahaya, dan keasaman—menjadikannya sebagai larutan baku sekunder. Artinya, konsentrasinya harus ditentukan ulang secara berkala dengan cara mentitrasikannya terhadap suatu zat yang status kemurnian dan kestabilannya tak diragukan, yaitu standar primer.

Suatu zat layak dikategorikan sebagai standar primer jika memenuhi kriteria ketat: memiliki kemurnian tinggi (minimal 99,9%), stabil secara kimia dan fisika selama penyimpanan, memiliki berat ekivalen yang relatif besar untuk meminimalkan kesalahan penimbangan, serta mudah larut dalam pelarut yang sesuai. Contoh klasiknya adalah kalium iodat (KIO₃) dan kalium dikromat (K₂Cr₂O₇).

Perbandingan Larutan Baku Primer dan Sekunder

Pemahaman perbedaan mendasar antara kedua jenis larutan baku ini penting untuk merancang analisis yang tepat. Berikut tabel yang merangkum karakteristik utamanya.

Sifat Larutan Baku Primer Larutan Baku Sekunder
Stabilitas & Kemurnian Sangat stabil dan kemurniannya terjamin. Kurang stabil, kemurniannya tidak sepenuhnya diketahui.
Contoh Zat KIO₃, K₂Cr₂O₇, Asam Oksalat. Na₂S₂O₃, NaOH, HCl, KMnO₄.
Cara Penentuan Konsentrasi Dibuat langsung dari penimbangan teliti dan pengenceran. Harus distandardisasi menggunakan larutan baku primer.
Penggunaan Utama Untuk standardisasi larutan lain (baku sekunder). Sebagai titran langsung dalam analisis rutin sampel.

Standar Primer untuk Standardisasi Na₂S₂O₃

Pemilihan standar primer yang tepat akan mempengaruhi presisi dan kemudahan prosedur standardisasi Na₂S₂O₃. Dua kandidat yang paling umum digunakan memiliki karakteristik yang sedikit berbeda, menawarkan pilihan berdasarkan pertimbangan praktis di laboratorium.

Kalium iodat (KIO₃) sering menjadi pilihan utama karena reaksinya dengan iodida bersifat stoikiometris dan langsung. Sementara itu, kalium dikromat (K₂Cr₂O₇) juga dapat digunakan, meskipun melalui mekanisme reaksi yang memerlukan kondisi keasaman tertentu. Masing-masing memiliki kelebihan dan batasan yang perlu dipertimbangkan.

Kelebihan dan Kekurangan Standar Primer Umum

Kalium iodat (KIO₃) memiliki berat ekivalen yang cukup besar (214.00 g/mol untuk reaksi menjadi I₂), sehingga kesalahan relatif penimbangan kecil. Zat ini stabil, tidak higroskopis, dan mudah dikeringkan. Kekurangannya, reaksinya memerlukan keasaman yang cukup dan kehadiran ion iodida berlebih dalam jumlah besar.

Kalium dikromat (K₂Cr₂O₇) juga sangat stabil, mudah diperoleh dalam kemurnian tinggi, dan tidak higroskopis. Namun, berat ekivalennya lebih kecil (49.03 g/mol), dan reaksinya tidak langsung dengan tiosulfat. Prosesnya melibatkan oksidasi iodida oleh Cr₂O₇²⁻ dalam suasana asam, yang kemudian I₂ yang terbentuk dititrasi. Prosedur ini menambah satu langkah dan memerlukan pengontrolan pH yang ketat.

BACA JUGA  Menghitung Jarak Orang ke Petir Berdasarkan Selang Waktu Suara dan Cahaya

Penampilan dan Penyimpanan Kalium Iodat

Kalium iodat murni hadir dalam bentuk kristal atau serbuk kristalin berwarna putih, menyerupai gula pasir halus tetapi dengan struktur yang lebih seragam. Teksturnya mudah mengalir dan tidak menggumpal di udara terbuka. Untuk menjamin kestabilannya, KIO₃ harus disimpan dalam botol reagen bertutup rapat, idealnya dari bahan gelas berwarna cokelat untuk melindungi dari cahaya berlebih. Tempatkan botol di dalam lemari kimia yang sejuk, kering, dan jauh dari sumber uap asam atau bahan pereduksi.

Penyimpanan yang benar akan membuatnya bertahan selama bertahun-tahun tanpa perubahan komposisi.

Langkah-Langkah Preparasi Standar Primer

Sebelum proses titrasi, standar primer harus dipersiapkan dengan sangat teliti. Urutan kerja berikut menjadi kunci akurasi awal.

  • Pengeringan: Keringkan KIO₃ dalam oven pada suhu 110 ± 5 °C selama 1-2 jam, lalu dinginkan dalam desikator hingga mencapai suhu ruang. Ini menghilangkan air higroskopis.
  • Penimbangan: Timbang secara teliti sejumlah tertentu KIO₃ (biasanya sekitar 0,10-0,15 g) menggunakan neraca analitik dengan ketelitian 0,1 mg. Gunakan botol timbang atau kaca arloji.
  • Pelarutan: Pindahkan secara kuantitatif kristal KIO₃ yang telah ditimbang ke dalam labu ukur (biasanya 100 mL). Larutkan dengan aquades bebas CO₂, dan pastikan semua bagian telah pindah.
  • Pengenceran hingga tanda: Tambahkan aquades hingga dasar meniskus tepat menyentuh garis tanda pada leher labu ukur. Homogenkan dengan mengocok labu secara terbalik beberapa kali.

Prinsip Reaksi dan Prosedur Titrasi

Inti dari standardisasi Na₂S₂O₃ dengan KIO₃ terletak pada prinsip iodometri tidak langsung. Dalam metode ini, suatu oksidator kuat (KIO₃) digunakan untuk menghasilkan sejumlah iodin (I₂) yang setara, yang kemudian akan dititrasi oleh larutan Na₂S₂O₃ yang konsentrasinya ingin kita ketahui.

Reaksi berlangsung dalam dua tahap utama. Pertama, KIO₃ dalam suasana asam lemah (biasanya dari penambahan asam) bereaksi dengan ion iodida berlebih (dari KI) untuk membebaskan iodin. Selanjutnya, iodin yang berwarna coklat tua ini direduksi kembali menjadi ion iodida tak berwarna oleh ion tiosulfat.

Prinsip Reaksi Iodometri dengan KIO₃

Reaksi pembebasan iodin berlangsung cepat ketika ion iodida dalam jumlah berlebih hadir. Persamaan reaksinya adalah: IO₃⁻ + 5I⁻ + 6H⁺ → 3I₂ + 3H₂O. Perhatikan bahwa satu mol KIO₃ menghasilkan tepat tiga mol I₂. Iodin yang terbentuk kemudian bereaksi dengan ion tiosulfat dengan perbandingan molar yang tetap: I₂ + 2S₂O₃²⁻ → 2I⁻ + S₄O₆²⁻ (ion tetrationat). Dari hubungan stoikiometri inilah konsentrasi Na₂S₂O₃ dapat dihitung.

Prosedur Titrasi Lengkap

Prosedur dimulai dengan memipet sejumlah volume tepat larutan baku primer KIO₃ (misalnya 25,00 mL) ke dalam labu Erlenmeyer. Kemudian, tambahkan sekitar 2 gram kalium iodida (KI) padat dan 5-10 mL asam klorida encer (sekitar 1 M) atau asam sulfat encer. Larutan akan segera berubah menjadi kuning kecoklatan akibat pembentukan I₂. Segera titrasi dengan larutan Na₂S₂O₃ dari buret. Saat warna larutan memudah menjadi kuning pucat, tambahkan 1-2 mL larutan indikator kanji.

Larutan akan berubah menjadi biru tua pekat. Lanjutkan titrasi setetes demi setetes dengan pengadukan konstan hingga warna biru hilang total dan larutan kembali jernih tak berwarna. Titik akhir titrasi ditandai dengan hilangnya warna biru secara permanen selama setidaknya 30 detik.

Perhitungan Stoikiometri Konsentrasi Na₂S₂O₃

Misalkan 0,1428 g KIO₃ (BM = 214,00 g/mol) dilarutkan dalam labu 250 mL. Konsentrasi KIO₃ adalah (0,1428 g / 214,00 g/mol) / 0,250 L = 0,002668 M. Jika 25,00 mL larutan ini dititrasi dan membutuhkan 24,50 mL Na₂S₂O₃, perhitungannya sebagai berikut. Mol KIO₃ dalam aliquot = 0,002668 M x 0,02500 L = 6,67 x 10⁻⁵ mol. Dari reaksi, 1 mol KIO₃ setara dengan 3 mol I₂, dan 1 mol I₂ setara dengan 2 mol S₂O₃²⁻.

Jadi, mol S₂O₃²⁻ = 6,67 x 10⁻⁵ mol KIO₃ x (3 mol I₂/1 mol KIO₃) x (2 mol S₂O₃²⁻/1 mol I₂) = 4,002 x 10⁻⁴ mol. Konsentrasi Na₂S₂O₃ = (4,002 x 10⁻⁴ mol) / (0,02450 L) = 0,01633 M.

Standardisasi larutan natrium tiosulfat (Na₂S₂O₃) dengan standar primer seperti K₂Cr₂O₇ merupakan prosedur kunci dalam analisis iodometri untuk menjamin akurasi titrasi. Dalam praktiknya, keraguan teknis sering muncul, dan saat Anda merasa Tolong bantu saya , mencari bimbingan ahli menjadi langkah krusial. Dengan demikian, pemahaman mendalam tentang reaksi redoks dan perhitungan stoikiometri dalam standardisasi ini akan mengokohkan validitas data analitik yang dihasilkan.

Mol Na₂S₂O₃ = 6 × Mol KIO₃
M Na₂S₂O₃ = (6 × massa KIO₃ (g) / BM KIO₃) / Volume Na₂S₂O₃ (L) yang digunakan

Fungsi Reagen dalam Prosedur Standardisasi, Standardisasi Na2S2O3 dengan Standar Primer

Setiap bahan yang ditambahkan memiliki peran spesifik untuk memastikan reaksi berjalan sempurna dan titik akhir dapat diamati dengan jelas.

Bahan Konsentrasi/Jumlah Fungsi Catatan
Kalium Iodat (KIO₃) ~0,1 N (sekitar 0,0167 M) Standar Primer Harus ditimbang teliti dan dilarutkan secara kuantitatif.
Kalium Iodida (KI) 2-3 g (berlebih) Pemberi ion I⁻ dan melarutkan I₂ yang terbentuk (sebagai I₃⁻). Harus jernih, tidak berwarna kekuningan (bebas I₂).
Asam Klorida (HCl) 1-2 M (5-10 mL) Menyediakan suasana asam untuk reaksi pembebasan I₂. Jangan gunakan asam nitrat atau pengoksidasi kuat lainnya.
Indikator Kanji 1% (1-2 mL) Membentuk kompleks biru tua intens dengan I₂. Ditambahkan saat warna I₂ sudah pudah (kuning pucat).
Natrium Tiosulfat (Na₂S₂O₃) ~0,1 N (larutan yang distandardisasi) Titran (pereaksi yang konsentrasinya dicari). Disimpan dalam botol gelap, diberi sedikit Na₂CO₃ sebagai stabilisator.
BACA JUGA  Perbedaan dan Persamaan Otonomi Daerah serta Desentralisasi dalam Tata Kelola

Faktor-Faktor Kritis dan Pengendalian Mutu

Keberhasilan standardisasi tidak hanya bergantung pada mengikuti prosedur, tetapi juga pada pemahaman terhadap titik-titik kritis dimana kesalahan dapat muncul. Dengan mengendalikan faktor-faktor ini, reprodusibilitas dan akurasi hasil dapat ditingkatkan secara signifikan.

Sumber kesalahan dapat berasal dari teknik dasar seperti pembacaan meniskus buret yang salah, transfer larutan yang tidak kuantitatif, hingga faktor kimiawi seperti dekomposisi reagen yang tidak disadari. Pengendalian mutu dimulai dari persiapan yang cermat dan dilanjutkan dengan eksekusi yang konsisten.

Sumber Kesalahan dan Cara Meminimalkannya

Kesalahan penimbangan standar primer dapat diminimalkan dengan menggunakan neraca analitik yang terkalibrasi dan teknik penimbangan yang benar (misalnya, penimbangan dengan selisih). Kehilangan I₂ karena volatilisasi selama titrasi dapat dikurangi dengan menjaga suhu larutan tetap dingin (jangan panas) dan menambahkan KI berlebih untuk mengikat I₂ sebagai I₃⁻. Reaksi samping antara I₂ dengan udara (oksidasi oleh O₂) dipercepat dalam cahaya terang dan suasana basa, sehingga titrasi harus dilakukan relatif cepat setelah pembentukan I₂ dan dalam kondisi asam lemah.

Kesalahan titik akhir akibat adsorpsi I₂ oleh kanji atau dekomposisi kanji yang lambat diatasi dengan menambahkan indikator tepat pada waktunya (saat warna kuning pucat) dan menghentikan titrasi tepat saat warna biru hilang, bukan ketika sudah sangat pucat.

Pengaruh Faktor Lingkungan terhadap Stabilitas

Larutan Na₂S₂O₃ sangat rentan terhadap cahaya dan mikroorganisme. Cahaya dapat mengkatalisis dekomposisi tiosulfat menjadi sulfat dan belerang, sementara bakteri mengonsumsi tiosulfat sebagai sumber energi. Oleh karena itu, larutan ini harus disimpan dalam botol gelap dan ditambahkan sedikit Na₂CO₃ (sekitar 0,1%) untuk menciptakan suasana basa lemah yang menghambat pertumbuhan bakteri dan dekomposisi asam. Indikator kanji juga tidak stabil dalam waktu lama, mudah terurai oleh mikroba.

Solusinya adalah dibuat segar atau diawetkan dengan sedikit garam merkuri(II) iodida atau dengan penyimpanan di kulkas. Keberadaan oksigen dari udara dapat mengoksidasi ion iodida menjadi iodin secara lambat, terutama dalam suasana asam dan adanya katalis seperti cahaya atau ion logam. Ini menyebabkan nilai titrasi menjadi lebih tinggi dari yang seharusnya.

Praktik Terbaik untuk Akurasi dan Presisi

Lakukan minimal tiga kali pengulangan titrasi hingga volume titran yang digunakan selisihnya kurang dari 0,1 mL. Pembacaan buret harus dilakukan dengan posisi mata sejajar dengan dasar meniskus untuk larutan tak berwarna seperti Na₂S₂O₃. Pengadukan selama titrasi harus efektif, baik dengan menggosok-gosok dasar labu Erlenmeyer secara memutar atau menggunakan stirrer magnetik, untuk memastikan pencampuran sempurna antara titran dan analit. Gunakan buret dengan ujung tip yang tajam untuk mengontrol tetesan dengan baik.

Selalu lakukan titrasi blanko jika diperlukan, misalnya untuk mengoreksi pengaruh iodida yang mungkin teroksidasi oleh udara.

Peringatan Penting Selama Praktikum

Hindari menambahkan indikator kanji terlalu awal. Penambahannya harus dilakukan saat larutan telah berwarna kuning pucat (setelah sebagian besar I₂ telah dititrasi). Jika ditambahkan saat I₂ masih banyak, kompleks kanji-I₂ yang terbentuk sangat kuat dan sulit didekomposisi oleh tiosulfat, menyebabkan titik akhir yang tidak tajam dan kesalahan positif.

Jangan biarkan larutan yang mengandung I₂ (berwarna coklat) terkena cahaya langsung atau dibiarkan terlalu lama sebelum dititrasi. Lakukan titrasi segera setelah penambahan asam dan KI. Warna biru yang muncul di titik akhir titrasi dapat kembali setelah beberapa menit karena oksidasi iodida sisa oleh udara. Titik akhir yang valid adalah hilangnya warna biru secara permanen selama minimal 30 detik.

Pastikan semua peralatan gelas bersih dan bebas dari zat pengoksidasi atau pereduksi. Bilas buret dengan larutan Na₂S₂O₃ yang akan digunakan beberapa kali sebelum diisi. Periksa kebocoran kran buret sebelum memulai.

Aplikasi dan Interpretasi Hasil

Nilai konsentrasi tepat Na₂S₂O₃ yang diperoleh dari standardisasi bukanlah akhir, melainkan awal dari serangkaian analisis kuantitatif. Larutan baku sekunder yang telah terstandardisasi ini menjadi alat ukur utama dalam berbagai penentuan, terutama yang melibatkan zat pengoksidasi.

Salah satu aplikasi klasiknya adalah dalam penentuan kadar klorin bebas (Cl₂) dalam pemutih atau air. Prinsipnya sama: klorin mengoksidasi ion iodida menjadi iodin, dan iodin yang terbentuk kemudian dititrasi dengan larutan Na₂S₂O₃ baku. Tanpa mengetahui konsentrasi pasti Na₂S₂O₃, perhitungan kadar klorin menjadi tidak bermakna.

BACA JUGA  Peran K₂Cr₂O₇ dalam Standardisasi Na₂S₂O₃ untuk Analisis Presisi

Contoh Lembar Kerja Pelaporan Data

Lembar kerja yang baik mencatat semua data mentah dan perhitungan secara sistematis, memungkinkan penelusuran ulang dan verifikasi.

Standardisasi Na₂S₂O₃ dengan standar primer seperti K₂Cr₂O₇ merupakan prosedur krusial dalam titrasi iodometri untuk menjamin akurasi data analitis. Dalam praktiknya, jika menemui kendala teknis, tak ada salahnya untuk Minta bantuan, kak dari mentor atau rekan yang lebih berpengalaman. Dengan demikian, proses kalibrasi larutan tiosulfat ini dapat diselesaikan dengan presisi tinggi, mendukung validitas hasil penelitian di laboratorium.

Parameter Pengulangan 1 Pengulangan 2 Pengulangan 3
Massa KIO₃ + wadah (g) 15,2345
Massa wadah kosong (g) 15,0917
Massa KIO₃ murni (g) 0,1428
Volume labu ukur KIO₃ (mL) 250,0
Volume aliquot KIO₃ (mL) 25,00 25,00 25,00
Volume akhir buret Na₂S₂O₃ (mL) 24,50 24,45 24,55
Volume awal buret Na₂S₂O₃ (mL) 0,00 0,00 0,00
Volume Na₂S₂O₃ digunakan (mL) 24,50 24,45 24,55
Konsentrasi Na₂S₂O₃ (M) 0,01633 0,01636 0,01630
Rata-rata Konsentrasi (M) 0,01633
Standar Deviasi (s) 0,000030
RSD (%) 0,18%

Interpretasi Standar Deviasi dan RSD

Standar deviasi (s) mengukur sebaran absolut data individual di sekitar nilai rata-ratanya. Dalam contoh di atas, s = 0,000030 M menunjukkan bahwa nilai-nilai titrasi sangat berdekatan satu sama lain. Relative Standard Deviation (RSD) atau koefisien variasi, yang dihitung dari (s / rata-rata) x 100%, memberikan gambaran presisi dalam persentase. RSD 0,18% dianggap sangat baik untuk titrasi manual, mengindikasikan teknik eksperimen yang konsisten dan terkendali.

Nilai RSD yang tinggi (misalnya >1%) menandakan adanya variasi yang tidak dapat diterima, yang mengharuskan pemeriksaan ulang terhadap teknik atau stabilitas reagen.

Ilustrasi Perubahan Warna Tahap Kritis

Setelah penambahan KI dan asam ke dalam larutan KIO₃ tak berwarna, larutan segera berubah menjadi kuning kecoklatan terang, mirip teh pekat. Warna ini berasal dari I₂ yang terbentuk. Selama titrasi dengan Na₂S₂O₃, warna coklat ini secara bertahap memudar, menjadi kuning sangat pucat seperti jerami. Pada titik inilah indikator kanji ditambahkan. Sejumlah kecil I₂ yang tersisa akan bereaksi dengan kanji, menghasilkan perubahan dramatis: larutan yang hampir tak berwarna tiba-tiba menjadi biru nila yang pekat dan gelap.

Titrasi dilanjutkan setetes demi setetes. Setiap tetes Na₂S₂O₃ akan menyebabkan warna biru memudar secara lokal, yang kemudian menyebar dengan pengadukan. Titik akhir tercapai ketika tetasan terakhir menyebabkan warna biru menghilang sepenuhnya dari seluruh larutan, mengembalikannya ke keadaan jernih dan tak berwarna semula.

Akhir Kata

Dengan demikian, proses Standardisasi Na2S2O3 dengan Standar Primer telah menegaskan posisinya sebagai gerbang utama menuju dunia analisis kuantitatif yang terpercaya. Lebih dari sekadar menghitung molaritas, ritual laboratorium ini adalah bentuk komitmen terhadap integritas data, di mana setiap tetes titran yang dicatat membawa bobot tanggung jawab ilmiah. Penguasaan terhadap detail prosedur, kewaspadaan terhadap faktor pengganggu, dan interpretasi hasil yang cerdas tidak hanya menghasilkan angka, tetapi juga membangun keyakinan.

Pada akhirnya, konsentrasi Na2S2O3 yang telah distandardisasi dengan teliti bukanlah titik akhir, melainkan awal yang kokoh untuk menjawab berbagai persoalan kimiawi di kehidupan nyata, dari pengawasan industri hingga pemantauan lingkungan.

Panduan FAQ: Standardisasi Na2S2O3 Dengan Standar Primer

Mengapa larutan Na2S2O3 tidak bisa dibuat langsung sebagai larutan baku primer?

Na2S2O3 tidak memenuhi syarat sebagai standar primer karena sifatnya yang kurang stabil. Senyawa ini mudah terdekomposisi oleh cahaya, udara (karbondioksida dan oksigen), dan mikroorganisme, sehingga konsentrasinya dapat berubah seiring waktu. Oleh karena itu, konsentrasinya harus selalu ditentukan melalui standardisasi menggunakan standar primer yang stabil.

Apakah indikator kanji bisa ditambahkan di awal titrasi?

Tidak disarankan. Indikator kanji sebaiknya ditambahkan mendekati titik akhir titrasi, yaitu ketika warna larutan kuning muda (dari iodium) hampir pudar. Penambahan terlalu awal dapat membentuk kompleks kanji-iodin yang kuat dan sulit terurai, sehingga dapat mengganggu proses pelepasan iodin dan menyebabkan titik akhir yang tidak tajam atau kesalahan pembacaan.

Bagaimana jika larutan Na2S2O3 yang telah distandardisasi berubah menjadi keruh setelah disimpan beberapa hari?

Standardisasi Na₂S₂O₃ dengan standar primer seperti K₂Cr₂O₇ merupakan praktik fundamental dalam kimia analitik untuk menjamin ketelitian titrasi iodometri. Prinsip ketepatan serupa juga diterapkan dalam perhitungan trigonometri, misalnya saat Menghitung Jarak Antara Kapal A dan B dari Pengamat di Mercusuar 12 m , di mana akurasi data sudut dan tinggi mutlak diperlukan. Demikian halnya, dalam standardisasi, ketelitian pengukuran volume dan kemurnian reagen menjadi kunci penentu reliabilitas hasil akhir analisis.

Kekeruhan menandakan dekomposisi, seringkali karena pertumbuhan bakteri atau pengendapan belerang. Larutan tersebut tidak boleh digunakan kembali dan harus dibuat baru. Untuk memperpanjang masa simpan, Na2S2O3 sebaiknya disimpan dalam botol gelap, di tempat sejuk, dan ditambahkan sedikit natrium karbonat (Na2CO3) untuk menjaga kondisi basa lemah yang menstabilkan.

Mana yang lebih baik sebagai standar primer, KIO3 atau K2Cr2O7?

Keduanya memiliki kelebihan. KIO3 umumnya lebih disukai karena berat ekivalennya yang lebih tinggi (mengurangi kesalahan penimbangan), sangat stabil, dan reaksinya langsung dengan iodida tanpa perlu kondisi khusus. K2Cr2O7 juga stabil dan murah, tetapi reaksinya dengan iodida berlangsung lambat dalam kondisi netral/asam, sehingga memerlukan pengaturan pH dan waktu tunggu, serta limbah kromiumnya bersifat toksik.

Leave a Comment