Teka-teki minuman yang datang sesaat bukan sekadar tentang dahaga yang terpuaskan, melainkan sebuah fenomena budaya dan psikologis yang akrab dalam keseharian. Bayangkan suara lonceng atau seruan khas yang tiba-tiba memecah kesunyian siang yang terik atau keheningan malam yang larut; suara itu sendiri sudah menjadi sebuah pertanda, sebuah teka-teki yang otak kita segera berusaha pecahkan: minuman apa yang dibawa, dan apakah ini saat yang tepat untuk menyambutnya?
Dari sudut pandang arkeologi linguistik, panggilan penjaja keliling berevolusi menjadi kode budaya. Sementara psikoakustik mengungkap bagaimana bunyi spesifik memicu memori rasa dan harapan akan kesegaran. Kehadiran mereka sering kali terasa tepat waktu secara psikologis, bertepatan dengan titik jenuh dalam siklus energi harian kita, sehingga secangkir minuman yang datang itu berperan sebagai simbol transisi alami antara satu fase aktivitas ke fase berikutnya.
Arkeologi Linguistik dalam Sajak Penjaja Minuman
Frasa “teka-teki minuman yang datang sesaat” bukan sekadar metafora puitis. Ia adalah artefak linguistik hidup yang merekam evolusi komunikasi di pasar tradisional dan permukiman padat. Asal-usulnya berakar pada budaya lisan, di mana penjaja keliling harus menciptakan identitas audial yang unik, mudah diingat, dan mampu menembus kebisingan latar sehari-hari. Proses ini adalah bentuk purba dari branding audial, di mana teriakan, nyanyian, atau bunyi alat menjadi sandi yang hanya dipahami oleh komunitas tertentu.
Dari perspektif evolusi bahasa, frasa ini lahir dari kebutuhan efisiensi dan daya tarik. Kata “teka-teki” muncul karena seringkali, teriakan atau lagu penjaja menggunakan kiasan, singkatan, atau pelafalan yang berubah dari makna aslinya. Seiring waktu, terjadi proses fonologis seperti reduplikasi, asimilasi bunyi, atau penghilangan suku kata agar lebih enak didengar dan diteriakkan. Misalnya, panggilan untuk “es dawet” bisa berubah menjadi “eeet…
dawet!” dengan penekanan dan intonasi khusus. Perubahan semantik juga terjadi; sebutan untuk suatu minuman bisa menjadi lebih umum atau justru mengkhusus. “Sekoteng”, misalnya, di beberapa daerah merujuk pada minuman jahe dengan kacang dan pacar cina, tetapi di tempat lain bisa berarti wedang jahe biasa. Evolusi ini adalah dialog tanpa henti antara penjaja yang ingin dagangannya dikenal dan pembeli yang membutuhkan kode cepat untuk memuaskan dahaga.
Pemetaan Variasi Sebutan Penjaja Minuman Keliling
Variasi sebutan untuk penjaja minuman keliling di Indonesia sangat kaya, dipengaruhi oleh faktor geografis, waktu operasi, dan teknologi sederhana yang digunakan. Tabel berikut memetakan beberapa contohnya.
| Wilayah (Contoh) | Waktu Operasi | Alat/Identitas Audial | Variasi Sebutan Populer |
|---|---|---|---|
| Jawa Tengah & Yogyakarta | Pagi hingga siang | Dandang logam (dipukul), gerobak | Penjual “Es Teh” atau “Wedang” |
| Jakarta & sekitarnya | Sore hingga malam | Lonceng tangan, gerobak dorong | “Es Dung… Dung!” (dari bunyi lonceng), Penjual “Sekoteng” |
| Bandung & Priangan | Malam hari | Banci (alat press tebu), mesin diesel | Penjual “Es Tebu”, “Tebu Es” |
| Pedesaan Jawa Timur | Siang terik | Jerigen plastik (dipukul), pikulan | Penjual “Es Cincau”, “Es Kacang Hijau” |
Metamorfosis Panggilan Menjadi Teka-Teki Budaya
Proses sebuah panggilan berubah menjadi teka-teki budaya dalam ingatan kolektif melalui siklus pengulangan, distorsi, dan emosi bersama. Awalnya, panggilan itu fungsional: menginformasikan kehadiran dan barang dagangan. Namun, karena didengar berulang-ulang di konteks yang sama—saat lelah, haus, atau rindu camilan—ia mulai terikat dengan memori sensorik dan emosional. Lalu, dalam transmisi lisan antar generasi atau antar individu, terjadi distorsi. Anak-anak menirukan dengan pelafalan yang salah, tetangga menyebutnya dengan logat daerah, hingga akhirnya tercipta versi baru yang diterima komunitas.
Makna literal bisa memudar, digantikan oleh perasaan nostalgia atau asosiasi terhadap suatu waktu dan tempat.
Contoh nyata adalah nyanyian penjaja “Bubur Kacang Ijo…!” di perkotaan. Pada era 90-an, teriakan ini sering terdengar dengan irama khusus. Kini, dalam percakapan generasi yang mendengarnya, frasa itu sering dikenang sebagai “suara yang menandai hari Minggu pagi yang tenang” atau disingkat menjadi “Bubur… Ijo…!” dengan intonasi tertentu. Kata “Ijo” sendiri telah mengalami perluasan makna, tidak hanya merujuk pada warna hijau kacang, tetapi menjadi simbol dari keseluruhan pengalaman membeli bubur tersebut.
Psikoakustik dan Ekspektasi Rasa di Balik Teriakan Penjual
Hubungan antara bunyi yang dihasilkan penjaja minuman dan persepsi kita tentang rasa minuman tersebut lebih dalam dari yang kita duga. Ini adalah bidang di mana psikoakustik—studi tentang persepsi suara—bertemu dengan psikologi kognitif. Otak kita adalah mesin asosiatif yang sangat cepat. Bunyi spesifik dari lonceng, gerobak berderit, atau seruan parau tidak hanya menandakan kehadiran penjual, tetapi juga membangkitkan gambaran mental tentang kesegaran, suhu, dan bahkan tekstur minuman yang akan kita terima.
Misalnya, dentingan es batu yang saling bertumbukan dalam wadah styrofoam langsung memicu sensasi dingin dan segar di pikiran. Desis gas dari kompor portabel yang mendidihkan air untuk teh atau kopi menciptakan ekspektasi akan kehangatan dan aroma yang harum. Bunyi ini bekerja sebagai preview sensorik. Mereka adalah bagian pertama dari “teka-teki” yang memberi petunjuk kepada otak tentang pengalaman multisensorik yang akan menyusul.
Dalam banyak hal, kepuasan meminumnya sudah dimulai sejak kita mendengar suara khas penjajanya. Otak telah menyiapkan respons fisiologis, seperti air liur atau perasaan rileks, bahkan sebelum transaksi terjadi.
Elemen Bunyi Pemicu Memori Sensorik
Beberapa elemen bunyi memiliki kekuatan khusus untuk membangkitkan memori sensorik terkait minuman tertentu.
- Denting dan Gemerisik Es: Suara es yang digerakkan atau dituang langsung diasosiasikan dengan minuman dingin seperti es teh, es campur, atau soda. Bunyi ini membangkitkan sensasi dingin di kerongkongan.
- Desis Uap atau Gas: Suara air mendidih atau uap yang keluar dari ceret adalah kode audial untuk minuman panas seperti wedang jahe, sekoteng, atau kopi tubruk. Bunyi ini memicu harapan akan kehangatan dan aroma yang kuat.
- Bunyi “Tek” dari Pembuka Botol: Meski lebih modern, bunyi khas pembuka botol logam adalah sinyal universal untuk minuman berkarbonasi dingin. Ia membangkitkan ekspektasi akan sensasi geli dari gelembung soda.
- Gesekan dan Tumbukan Gelas/Botol Kaca: Suara gelas atau botol saling bersentuhan di dalam keranjang atau gerobak menciptakan suasana “kedai minuman” portabel, sering dikaitkan dengan minuman tradisional seperti bir pletok atau jus yang dijual dalam botol.
Alur Kognitif Pemecahan Teka-Teki Audial
Proses otak memecahkan “teka-teki” suara penjaja hingga memutuskan membeli adalah alur yang cepat dan otomatis. Pertama, suara ditangkap dan diidentifikasi sebagai “bukan ancaman” dan “berpotensi memberi reward”. Lalu, memori jangka panjang diakses untuk mencocokkan pola suara dengan pengalaman masa lalu. Jika cocok—misalnya, suara lonceng itu sama dengan suara penjual es keliling masa kecil—maka emosi positif (nostalgia, kenyamanan) akan diaktifkan. Bersamaan dengan itu, sistem imajinasi sensorik membentuk gambaran tentang minuman, disusul oleh respons fisiologis seperti rasa haus.
Keputusan untuk membeli seringkali adalah ratifikasi dari rangkaian proses bawah sadar ini.
Teori Skema kognitif menjelaskan hal ini. Otak kita memiliki skema atau template untuk berbagai pengalaman, seperti “membeli minuman dari penjaja keliling”. Skema ini berisi elemen-elemen: suara panggilan, visual gerobak, rasa minuman, dan perasaan puas. Ketika satu elemen (suara) diaktifkan, seluruh skema itu terpicu, memudahkan kita untuk mengenali situasi dan mengambil tindakan yang sesuai—dalam hal ini, memanggil penjaja dan membeli. Seperti dikatakan psikolog kognitif, “Persepsi adalah persiapan untuk bertindak.”
Kronobiologi Kedatangan Penjaja Minuman di Titik Jenuh Aktivitas
Perasaan bahwa penjaja minuman datang di saat yang “sangat tepat” seringkali bukan kebetulan semata. Fenomena ini memiliki dasar dalam kronobiologi—studi tentang ritme biologis alami tubuh—dan psikologi siklus energi harian. Tubuh dan pikiran kita mengalami fluktuasi energi, fokus, dan suasana hati sepanjang hari, sering mengikuti pola yang dapat diprediksi. Kehadiran penjaja minuman, dengan janji kesegaran atau kehangatannya, secara tidak sadar dirancang atau berevolusi untuk menyelaraskan dengan titik-titik jenuh atau penurunan dalam siklus tersebut.
Secara psikologis, momen “sesaat” itu adalah momen transisi. Misalnya, di kantor, titik jenuh sering terjadi sekitar pukul 10:30 pagi (setelah 2-3 jam kerja intens) dan 3:30 sore (setelah makan siang dan mengalami “post-lunch dip”). Pada saat-saat itu, konsentrasi menurun, rasa lelah mental muncul, dan tubuh mungkin mulai dehidrasi. Datangnya penjaja minuman menawarkan interupsi yang disambut baik—sebuah alasan untuk berhenti sejenak, meregangkan badan, dan memberikan “reward” berupa stimulus sensorik baru (rasa, aroma).
Ritual membeli dan meminumnya menjadi pembatas psikologis yang memisahkan satu blok kerja dengan blok berikutnya, membantu reset fokus. Di lingkungan perumahan, pola serupa terjadi: penjaja sore hari datang saat aktivitas rumah tangga mencapai puncak atau saat keluarga berkumpul setelah hari yang panjang, menawarkan titik rileksasi bersama.
Korelasi Jenis Minuman dengan Waktu dan Kebutuhan
Jenis minuman yang dijajakan juga sering berkorelasi dengan waktu kedatangannya, mencerminkan kebutuhan fisiologis dan mental yang berbeda pada jam-jam tertentu.
Pernah nggak sih, kita dikejutkan oleh teka-teki minuman yang datang sesaat? Rasanya seperti misteri kecil di tengah hari. Nah, hidup kita juga penuh teka-teki serius, lho. Contohnya, efek paparan sinar matahari berlebihan. Secara ilmiah, Paparan sinar UV tinggi pada sel dapat mengakibatkan mutasi , sebuah proses kompleks yang bisa mengganggu kode genetik.
Jadi, mirip seperti teka-teki minuman tadi, tubuh kita juga punya “teka-teki” internal yang perlu kita pahami dan jaga dari ancaman eksternal.
| Jenis Minuman | Waktu Kedatangan Tipikal | Kebutuhan Fisiologis | Kebutuhan Mental/Emosional |
|---|---|---|---|
| Kopi atau Teh Panas | Pagi hari (06:00 – 09:00) | Meningkatkan kewaspadaan, termoregulasi di udara pagi | Membantu transisi dari tidur ke mode kerja, ritual awal hari |
| Es Teh, Jus, atau Es Kelapa | Siang hingga sore terik (11:00 – 15:00) | Rehidrasi, pendinginan tubuh, penambah energi cepat dari gula | Penghilang rasa jenuh, penyegar di tengah kepenatan |
| Wedang Jahe, Sekoteng, Bajigur | Sore hingga malam (16:00 – 21:00) | Menghangatkan tubuh, menenangkan pencernaan | Rileksasi, penanda akhir aktivitas, pengikat obrolan keluarga |
| Susu atau Minuman Hangat lain | Malam hari (setelah 20:00) | Membantu tidur (jika mengandung prekursor melatonin seperti pada susu) | Kenyamanan, nostalgia, ritual sebelum tidur |
Konsep “Sesaat” sebagai Jendela Peluang Emosional
Kata “sesaat” di sini melampaui ukuran waktu kronometris. Ia merujuk pada jendela peluang emosional yang sempit—momen ketika ketegangan antara kelelahan dan keinginan untuk melanjutkan aktivitas mencapai puncaknya. Bayangkan sebuah ruang kantor pada pukul tiga sore. Suasana sunyi yang terpantang, hanya terdengar ketikan keyboard yang mulai tidak bersemangat dan kipas angin yang berputar. Pandangan beberapa orang sudah mulai kosong menatap layar.
Ada rasa haus yang tidak spesifik, lebih pada keinginan untuk sesuatu yang memecah monotoni. Di saat seperti itulah, dari kejauhan, terdengar denting lonceng atau teriakan samar. Suara itu tidak sekadar mengumumkan kehadiran minuman, tetapi menawarkan sebuah penyelamatan kecil, sebuah alasan untuk bangkit dan mengalihkan perhatian. “Sesaat” itu adalah momen ketika penawaran tersebut bertemu dengan kesediaan psikologis untuk menerimanya. Di rumah, momen ini bisa terjadi saat seorang ibu sedang kehabisan ide untuk camilan anak, atau saat seseorang merasa kesepian di teras rumah pada senja hari.
Kedatangan penjaja menjadi peristiwa kecil yang memberi struktur dan kejutan pada waktu yang otherwise flat.
Minuman sebagai Simbol Transisi dalam Narasi Keseharian: Teka-teki Minuman Yang Datang Sesaat
Dalam narasi keseharian kita, minuman yang datang secara mendadak sering berperan sebagai penanda transisi yang kuat. Ia berfungsi seperti tanda baca dalam sebuah kalimat kehidupan—sebuah koma untuk jeda sejenak, atau titik untuk mengakhiri satu paragraf aktivitas dan memulai paragraf baru. Rutinitas personal cenderung bersifat linear dan repetitif, namun kehadiran elemen eksternal seperti penjaja minuman dapat menyuntikkan momen diskret yang memisahkan satu fase dari fase lainnya.
Proses memutuskan untuk membeli, menunggu penyajian, dan kemudian menikmati minuman itu menciptakan sebuah ritus peralihan mikro.
Peran simbolik ini muncul karena minuman melibatkan banyak indra dan membutuhkan perhatian kita sepenuhnya, meski hanya untuk beberapa menit. Saat kita berhenti dari mengetik untuk menyeruput kopi panas, atau beranjak dari tempat duduk untuk membeli es teh, kita secara fisik dan mental memindahkan diri dari konteks sebelumnya. Ritual kecil ini memungkinkan disosiasi sementara dari tugas atau perasaan yang mendominasi. Secangkir minuman hangat bisa menjadi penanda akhir dari periode kerja fokus dan awal dari periode istirahat.
Sebotol minuman dingin bisa menjadi sinyal peralihan dari panasnya aktivitas di luar ruangan ke kenyamanan dalam ruangan. Dalam arti tertentu, minuman itu adalah objek transisional yang membantu kita bergerak dari satu keadaan emosional atau kognitif ke keadaan lainnya dengan lebih mulus.
Contoh Interupsi dan Awal Babak Baru oleh Secangkir Minuman
Source: tstatic.net
Bagaimana secangkir minuman dapat menginterupsi suatu keadaan emosi dan memulai babak baru dapat dilihat dari beberapa contoh konkret.
- Menginterupsi Kesedihan: Seseorang yang baru menerima kabar buruk mungkin duduk terdiam. Kedatangan penjaja wedang jahe dan keputusan untuk membelinya memaksa ia untuk bangun, membuka pintu, berinteraksi singkat, dan merasakan kehangatan di tangannya. Sensasi fisik yang menenangkan itu dapat menginterupsi spiral pikiran sedih, memberi jeda yang memungkinkan perspektif baru muncul, meski kecil.
- Menginterupsi Kejenuhan: Di tengah membosankannya pekerjaan administratif, teriakan penjual es campur mengalihkan perhatian. Rasa manis-dingin-segar yang meledak di mulut memberikan “kejutan sensorik” yang menyegarkan pikiran, seringkali diikuti oleh kembalinya semangat atau ide baru untuk menyelesaikan pekerjaan yang tadi terasa buntu.
- Menginterupsi Kegembiraan yang Kacau: Saat pesta atau kumpulan keluarga menjadi terlalu riuh, proses membuat dan membagikan segelas teh atau kopi kepada tamu dapat menjadi momen penenang kolektif. Aktivitas bersama ini menurunkan intensitas, menciptakan transisi alami dari fase hiruk-pikuk ke fase obrolan yang lebih tenang dan intim.
Adegan Fiksi: Titik Balik Simbolik, Teka-teki minuman yang datang sesaat
Arman telah memandangi layar komputernya selama dua jam, kata-kata untuk novelnya mandek di paragraf yang sama. Frustrasi mulai merayap, dibarengi keraguan apakah ia memang penulis yang baik. Suasana kamar yang pengap semakin menekan. Tiba-tiba, dari jalanan di bawah, terdengar jelas teriakan, “Es teh… es teh manis…!” dengan irama yang familiar.
Suara itu seperti penarik perhatian dari dunia lain. Tanpa pikir panjang, ia beranjak, mengambil dompet, dan turun. Proses memilih, melihat penjaja menuangkan teh kental ke gelas, menambahkan es yang berderak, dan gula, memberinya waktu hening. Saat butiran gula terakhir larut, seolah teka-teki dalam kepalanya juga menemukan bentuk. Kembali ke kamar, gelas dingin di tangan, ia duduk dan membaca kembali paragraf terakhir.
Kali ini, ia tahu harus melanjutkan ke mana. Es teh itu bukan lagi sekadar minuman, melainkan tanda bahwa jeda telah diambil, dan sekarang adalah waktu untuk mulai menulis lagi dengan sudut pandang yang sedikit lebih segar.
Dekonstruksi Bahan Mentah Menjadi Janji Kesegaran di Depan Mata
Proses menyaksikan penjaja minuman menyiapkan pesanan kita adalah pemecahan teka-teki secara visual yang sangat memuaskan. Dari sekumpulan bahan mentah yang terpisah—bubuk, sirup, es, air, daun, atau buah—mata dan pikiran kita mengamati setiap gerakan yang mengubahnya menjadi sebuah kesatuan yang dikenali sebagai minuman favorit. Proses ini membangun antisipasi dan memperkuat persepsi tentang kesegaran dan keaslian. Kita merasa menjadi bagian dari penciptaan itu, dan karena melihatnya dibuat dari “nol”, kita lebih mempercayai kualitasnya dibandingkan minuman yang sudah jadi dalam kemasan tertutup.
Proses mental ini melibatkan pemantauan berurutan. Pertama, mata mengidentifikasi setiap bahan yang dikeluarkan: itu daun teh, itu jahe segar, itu gula merah. Ini memvalidasi keaslian. Lalu, kita mengamati tindakan transformatif: daun teh diseduh dengan air mendidih, jahe digeprek, es diremukkan. Setiap langkah adalah petunjuk yang mengarah ke gambaran akhir.
Gerakan yang terampil dan ritmis dari penjaja menambah elemen performatif, meningkatkan nilai pengalaman. Pada akhirnya, ketika semua bahan disatukan dalam gelas—teh cokelat pekat bertemu es putih, diaduk hingga berubah menjadi warna yang lebih terang—terjadi momen “aha!” di mana teka-teki visual terpecahkan. Hasil akhirnya sesuai dengan skema mental kita tentang “es teh” atau “wedang jahe”. Kepuasan datang bahkan sebelum minuman itu menyentuh bibir.
Langkah Persepsi Visual dari Bahan ke Minuman
Berikut adalah prosedur langkah demi langkah yang umumnya dirasakan oleh mata dan pikiran saat mengamati penyajian.
Momen “aha!” seringkali terjadi pada langkah penyatuan akhir. Sebelumnya, bahan-bahan adalah entitas terpisah: cairan pekat di dasar, tumpukan es di atasnya, mungkin potongan buah mengambang. Saat pengadukan terakhir atau saat penjaja menuangkan cairan pelengkap, semua elemen tiba-tiba berfusi menjadi warna dan tekstur yang harmonis. Seperti puzzle yang kepingan terakhirnya ditempatkan, segala sesuatu menjadi jelas dan utuh. Inilah puncak dari dekonstruksi visual, saat janji kesegaran menjadi nyata di depan mata.
Interpretasi Elemen Visual dalam Penyajian
Setiap elemen visual dalam proses penyajian membawa interpretasi dan perasaan sendiri, yang kemudian membentuk persepsi menyeluruh tentang minuman tersebut.
| Elemen Visual | Interpretasi Langsung | Perasaan yang Dibangkitkan | Asosiasi Budaya yang Mungkin |
|---|---|---|---|
| Warna Cerah (hijau daun, merah sirup) | Kesegaran alami, rasa buah yang kuat. | Gembira, bersemangat, segar. | Kekayaan alam tropis, keberagaman rasa. |
| Uap atau Kabut Dingin | Minuman panas atau dingin yang ekstrem. | Antisipasi, kenyamanan (panas) atau penyegaran (dingin). | Kedai minuman tradisional, suasana pagi atau malam. |
| Gerakan Cepat dan Terampil (mengaduk, menuang dari ketinggian) | Kepiawaian, pengalaman, proses yang telah matang. | Terkesan, percaya pada kualitas, hiburan. | Keahlian kerajinan tangan, nilai dari pekerjaan yang dikuasai. |
| Kondensasi pada Gelas (embun) | Dinginnya es, kesegaran yang nyata. | Haus yang langsung terbayang, kepuasan yang akan datang. | Musim panas, terik matahari, pelepas dahaga yang diidamkan. |
Kesimpulan
Jadi, teka-teki minuman yang datang sesaat pada akhirnya adalah tentang lebih dari sekadar transaksi jual beli sederhana. Ia adalah pertemuan singkat yang penuh makna antara penjaja dan pembeli, di mana bahasa, bunyi, waktu, dan ritual penyajian menyatu menjadi sebuah pengalaman sensorik dan emosional yang unik. Fenomena ini mengajarkan bahwa dalam ritme rutinitas yang sering kali monoton, terdapat momen-momen kecil yang penuh kejutan dan kehangatan, yang datang sesaat, tepat ketika kita paling membutuhkannya, baik secara fisik maupun mental.
Jawaban yang Berguna
Apakah fenomena “penjaja minuman keliling” masih relevan di era digital dan layanan pesan-antar online?
Masih relevan, karena menawarkan pengalaman langsung yang tidak bisa digantikan: interaksi manusia, sensasi mendengar dan melihat proses pembuatan di depan mata, serta elemen kejutan dan spontanitas yang tidak terjadwal oleh aplikasi.
Mengapa beberapa orang merasa sangat nostalgia ketika mendengar suara penjaja minuman tertentu?
Suara tersebut berfungsi sebagai “pemicu memori episodik” yang kuat, langsung mengaktifkan ingatan masa kecil atau momen spesifik di masa lalu, terkait dengan konteks emosional dan sensorik (seperti rasa, cuaca, atau suasana) yang menyertainya.
Bagaimana jika suara atau panggilan penjaja tidak kita kenali? Apakah kita tetap tertarik?
Ketidaktahuan justru bisa meningkatkan rasa penasaran, membentuk “teka-teki” yang baru. Otak akan mencoba mencocokkan suara dengan database pengalaman sebelumnya, dan proses pencarian jawaban ini sendiri bisa memotivasi seseorang untuk mendekat dan melihat langsung.
Apakah ada perbedaan psikologis antara membeli minuman dari penjaja keliling dengan membuatnya sendiri di rumah?
Ada. Membeli dari penjaja keliling mengandung elemen antisipasi, hadiah (self-reward), dan interaksi sosial mikro yang memperkaya pengalaman. Sementara membuat sendiri lebih bersifat utilitarian dan terkontrol, sering kali kehilangan elemen kejutan dan “rasa kemenangan” setelah memecahkan “teka-teki” kedatangannya.