Teori Kesantunan Sachiko Ide dan Konsep Wakimae sebagai Fondasi

Teori Kesantunan Sachiko Ide ini bak kunci rahasia buat ngertiin gimana orang Jepang ngomong, yang ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar bilang “tolong” dan “terima kasih”. Kalau teori Barat fokus pada strategi individu buat jaga muka, Ide justru ngajak kita nyelam ke dalam budaya kolektif di mana kesantunan itu bukan pilihan, tapi kewajiban sosial yang sudah ditata rapi. Di sini, kamu akan nemuin bahwa setiap ucapan adalah cerminan dari posisi sosial, keakraban, dan situasi yang melekat erat dalam konsep “wakimae”.

Melalui teorinya, Sachiko Ide mendobrak dominasi perspektif Barat dengan memperkenalkan wakimae, atau kemampuan untuk mendiskernir dan menyesuaikan diri dengan norma sosial. Konsep ini menjadi jantung dari kesantunan linguistik Jepang, yang memanifestasikan diri dalam beragam bentuk keigo seperti sonkeigo, kenjōgo, dan teineigo. Intinya, kesantunan ala Ide bukan tentang jadi orang yang paling sopan, tapi tentang jadi orang yang paling tepat dalam membaca ruang dan hubungan.

Pengantar dan Konteks Teori Sachiko Ide: Teori Kesantunan Sachiko Ide

Pada era 1980-an, ketika teori kesantunan universal ala Brown dan Levinson mendominasi percakapan akademis, muncul suara kritis dari seorang linguis Jepang, Sachiko Ide. Ia merasa ada yang kurang pas. Teori Barat yang sangat menekankan pada strategi individu untuk “menyelamatkan muka” (face-saving) terasa seperti memakai kacamata yang salah untuk melihat masyarakat Jepang. Ide melihat bahwa kesantunan di Jepang bukan sekadar pilihan strategis, melainkan lebih merupakan kewajiban sosial yang telah diatur sedemikian rupa.

Latar belakang inilah yang melahirkan pemikirannya, yang menawarkan perspektif berbeda dengan menempatkan budaya kolektivis sebagai jantung pemahaman.

Perbedaan mendasar terletak pada orientasinya. Jika Brown dan Levinson melihat kesantunan sebagai tindakan yang dihitung secara rasional oleh individu untuk meminimalkan ancaman terhadap wajah (face), Ide memperkenalkan konsep “wakimae” (discernment) sebagai fondasi. Wakimae ini bukan tentang memilih strategi, tetapi tentang mengenali dan menempatkan diri dengan tepat dalam struktur sosial yang telah ada. Kesantunan, dalam pandangan Ide, adalah soal memenuhi ekspektasi sosial, bukan sekadar menghindari konflik.

Pendekatan ini membuka mata banyak peneliti bahwa ada dunia kesantunan di luar model Barat yang individualistik.

Konsep Kunci Wakimae sebagai Fondasi, Teori Kesantunan Sachiko Ide

Teori Kesantunan Sachiko Ide

Source: slidesharecdn.com

Wakimae, yang sering diterjemahkan sebagai “pengetahuan akan tempat yang semestinya” atau “discernment”, adalah prinsip utama yang mengatur interaksi sosial di Jepang. Konsep ini mengandaikan bahwa setiap individu memiliki posisi relatif dalam jaringan sosial berdasarkan faktor seperti usia, status, keakraban, dan konteks situasi. Tugas penutur adalah “mendiskern” atau memahami posisi ini dengan tepat, lalu menyesuaikan bahasa dan perilakunya sesuai dengan norma yang berlaku untuk posisi tersebut.

Di sini, ketidakpatuhan bukanlah pilihan yang bebas risiko, melainkan pelanggaran terhadap tatanan sosial yang dapat mengakibatkan kecanggungan atau bahkan sanksi sosial.

Prinsip Dasar dan Konsep Inti Wakimae

Makna wakimae jauh lebih dalam dari sekadar sopan santun biasa. Ia adalah kompas linguistik yang secara otomatis mengarahkan pilihan kata, nada suara, dan bahkan gerak tubuh. Prinsip ini beroperasi dengan asumsi bahwa harmoni kelompok lebih penting daripada ekspresi keinginan individu. Dengan kata lain, bahasa yang Anda gunakan harus mencerminkan pengakuan Anda terhadap hierarki dan hubungan sosial yang ada, bukan hanya keinginan pribadi Anda untuk dianggap sopan.

BACA JUGA  Unsur Terpenting Sosialisasi Fondasi Membentuk Individu

Penerapan wakimae dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial dan kontekstual yang saling berkait. Faktor-faktor ini seperti kode tak terlihat yang harus dibaca oleh setiap penutur sebelum memulai percakapan. Pemahaman yang keliru terhadap salah satu faktor dapat menyebabkan penggunaan bahasa yang tidak tepat, yang bisa dianggap merendahkan atau justru berlebihan.

Faktor Konteks Penjelasan Manifestasi Linguistik Contoh
Status Sosial (Posisi) Perbedaan jabatan di kantor, senioritas di sekolah atau klub, pengalaman kerja. Menggunakan bahasa hormat (sonkeigo) kepada atasan, dan bahasa sederhana (futsūtai) kepada rekan sejawat atau bawahan.
Tingkat Keakraban (Uchi/Soto) Konsep “dalam kelompok” (uchi) dan “luar kelompok” (soto). Anggota keluarga, teman dekat adalah uchi; kolega, atasan, orang asing adalah soto. Menggunakan kata ganti informal seperti “ore” (aku) dan “omae” (kamu) di dalam uchi, tetapi nama dengan akhiran “-san” atau kata ganti formal di lingkungan soto.
Setting Situasi Acara resmi (rapat, presentasi, upacara) versus situasi santai (ngopi di kafe, obrolan di rumah). Bentuk kata kerja teineigo (desu/masu) wajib dalam situasi formal, sementara bentuk biasa (da/dearu) dapat digunakan dalam situasi informal.
Jenis Kelamin (Norma Sosial) Ekspektasi masyarakat terhadap cara berbicara perempuan dan laki-laki, meski semakin luntur. Perempuan cenderung diharapkan menggunakan bahasa yang lebih halus dan kata seru tertentu (wa, kashira), sementara laki-laki menggunakan bentuk yang lebih tegas.

Manifestasi Linguistik dan Praktik Kesantunan

Penerapan wakimae paling kasat mata terwujud dalam sistem kebahasaan Jepang yang kompleks dan terstruktur rapi. Sistem ini bukan hiasan, melainkan cerminan langsung dari hierarki dan hubungan sosial. Pilihan kata ganti, bentuk kata kerja, dan kosakata berubah secara dinamis sesuai dengan siapa yang berbicara, kepada siapa, dan dalam keadaan apa. Inilah yang membuat pembelajaran bahasa Jepang bagi penutur asing menjadi tantangan sekaligus pintu masuk memahami budaya Jepang secara mendalam.

Sebagai contoh konkret, perhatikan variasi kalimat sederhana “Tuan Tanaka akan pergi”:

  • Kepada atasan tentang Tanaka: Tanaka-shachō wa irasshaimasu. (Menggunakan sonkeigo untuk menghormati Tanaka sebagai orang ketiga yang diagungkan).
  • Kepada rekan kerja: Tanaka-san wa ikimasu. (Menggunakan bentuk teineigo standar).
  • Kepada teman dekat tentang Tanaka yang juga teman: Tanaka wa iku. (Menggunakan bentuk biasa/futsūtai).

Variasi ini menunjukkan bagaimana subjek (Tanaka) dan hubungan antara pembicara-pendengar mengubah seluruh konstruksi kalimat. Sistem ini secara teknis terbagi dalam tiga jenis keigo utama:

  • Sonkeigo (Bahasa Hormat): Digunakan untuk mengangkat atau menghormati tindakan/status lawan bicara atau orang ketiga yang dibicarakan. Contoh: irassharu (pergi/ datang), ossharu (berkata). Fungsinya menunjukkan rasa hormat yang tinggi.
  • Kenjōgo (Bahasa Rendah Hati): Digunakan untuk merendahkan diri sendiri atau kelompok sendiri untuk mengangkat lawan bicara. Contoh: mairu (pergi/ datang), mōsu (berkata). Fungsinya menunjukkan kerendahan hati pembicara.
  • Teineigo (Bahasa Sopan Standar): Bentuk dasar kesopanan, ditandai dengan akhiran -desu dan -masu. Tidak secara khusus mengangkat atau merendahkan, tetapi menjaga jarak sosial yang sopan. Contoh: ikimasu (pergi), shimasu (melakukan).

Aplikasi dan Contoh Analisis dalam Konteks Nyata

Mari kita analisis sebuah transkrip percakapan fiktif di sebuah perusahaan Jepang antara Yamada (staff junior) dan Kobayashi (section chief).

Yamada: Kobayashi-kachō, ashita no kaigi no shiryō, o-jami shite mo yoroshii deshō ka? (Kepala bagian Kobayashi, untuk bahan rapat besok, bolehkah saya mengganggu (Anda) untuk meninjaunya?)
Kobayashi: A, Yamada-kun. Ii yo. Chotto mite moraou ka. (Ah, Yamada. Boleh. Bisa aku minta tolong untuk melihatnya?)

Di sini, wakimae terlihat jelas. Yamada menggunakan kata hormat “o-jami suru” (versi kenjōgo dari “mengganggu/meninjau”) dan pola permintaan yang sangat halus “mo yoroshii deshō ka” untuk menunjukkan penghormatan pada status atasan. Kobayashi, sebagai atasan, merespons dengan izin informal “Ii yo” dan menggunakan pola “mite moraou” (bisa aku minta tolong lihat) yang meski tetap sopan, menunjukkan posisi superiornya untuk meminta sesuatu kepada bawahan tanpa perlu bahasa hormat yang berlebihan.

BACA JUGA  Sifat Lampu 100 Watt 220 Volt dan Segala Hal yang Perlu Diketahui

Skenario pergeseran dapat terjadi jika mereka bertemu di bar setelah kerja dalam situasi nomikai (pesta minum). Hierarki resmi seringkali dilonggarkan. Kobayashi mungkin berkata, ” Yamada, nomu?” (Yamada, minum?), menggunakan nama tanpa gelar dan bentuk kata kerja biasa. Yamada mungkin masih tetap menggunakan “-masu” untuk beberapa saat, tetapi jika suasana sudah cair, ia mungkin beralih ke bentuk yang lebih santai. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana wakimae bersifat dinamis dan konteks-situasional, bukan kaku mutlak.

Ide sendiri menegaskan bahwa “Wakimae adalah kesadaran akan tempat seseorang dalam hubungannya dengan orang lain dan konteks tertentu, dan itu diwujudkan melalui pilihan bentuk linguistik yang sesuai.” Ini bukan pilihan bebas, tetapi kewajiban yang diinternalisasi.

Perspektif Kritis dan Perkembangan Teori

Kelebihan utama teori Sachiko Ide adalah kemampuannya memberikan penjelasan yang lebih kaya dan kontekstual untuk masyarakat kolektivis seperti Jepang, Korea, atau Tiongkok. Teori ini berhasil menantang hegemoni teori kesantunan Barat dan membuka jalan bagi pendekatan yang lebih sensitif budaya. Ia mengingatkan kita bahwa apa yang dianggap “universal” sering kali hanya merupakan generalisasi dari norma budaya tertentu.

Namun, batasannya juga ada. Konsep wakimae yang sangat terikat konteks Jepang membuat penerapannya yang ketat di luar budaya tersebut menjadi sulit. Masyarakat dengan individualisme tinggi mungkin memiliki mekanisme kesantunan yang lebih cair dan strategis. Selain itu, teori ini dikritik karena dianggap terlalu deterministik, seolah-olah penutur hanya pasif mengikuti aturan tanpa ruang untuk manuver strategis. Pada kenyataannya, bahkan di Jepang, penutur bisa “melanggar” wakimae secara sengaja untuk mencapai efek tertentu, seperti menunjukkan keakraban atau justru ketidaksetujuan.

Pemikiran Ide telah mempengaruhi studi lintas budaya dengan mendorong para peneliti untuk mencari “prinsip tertinggi” kesantunan yang mungkin berbeda-beda di setiap budaya, alih-alih memaksakan satu model. Dalam dunia digital dan media sosial, konsep wakimae tetap relevan namun berubah bentuk. Penggunaan emoji, pilihan kata dalam tweet, atau bahkan keputusan untuk menggunakan bahasa formal versus slang di platform seperti LinkedIn versus Twitter, semuanya mencerminkan proses “discernment” baru tentang audiens, ruang digital, dan identitas online yang ingin ditampilkan.

Teori Kesantunan Sachiko Ide mengajak kita melihat bahwa sopan santun itu nggak cuma soal basa-basi, tapi terkait erat dengan struktur sosial dan konteks budaya. Nah, dalam konteks ekonomi, prinsip kesantunan ini juga relevan banget untuk menilai transaksi yang adil. Contohnya, ada 3 contoh jual beli yang dianggap batil yang sebenarnya melanggar etika dasar dalam hubungan sosial-ekonomi. Dengan memahami hal ini, kita bisa menerapkan esensi teori Sachiko Ide untuk membangun interaksi pasar yang lebih manusiawi dan penuh respek.

BACA JUGA  Isi dan Penerapan Surah An‑Nisa Ayat 59 Panduan Ketaatan dan Penyelesaian Konflik

Visualisasi Konsep untuk Pemahaman Mendalam

Bayangkan sebuah diagram alur yang menggambarkan proses pengambilan keputusan linguistik berdasarkan wakimae. Diagram itu dimulai dari kotak tengah bertuliskan “Individu akan Berbicara”. Dari sana, muncul beberapa cabang pertanyaan yang harus dijawab secara instan: “Siapa lawan bicaranya? (Status/Usia)”, “Apa hubungannya? (Uchi/Soto)”, dan “Di mana situasinya?

(Formal/Informal)”. Jawaban dari ketiga pertanyaan ini mengalir ke sebuah prosesor pusat bertanda “Wakimae (Pengetahuan Akan Tempat)”. Prosesor ini kemudian mengeluarkan output berupa “Pilihan Sistem Linguistik”: apakah sonkeigo, kenjōgo, teineigo, atau bentuk biasa. Diagram ini tidak memiliki loop umpan balik strategis, yang justru menunjukkan sifatnya yang lebih otomatis dan berdasarkan norma.

Untuk infografis perbandingan, gambarlah dua kolom. Kolom kiri berjudul “Kesantunan Wakimae (Basis Masyarakat)”. Gambarnya adalah sebuah piramida sosial yang stabil, dengan setiap bata di dalamnya tersambung rapat. Panah-panah kecil dari individu mengarah ke atas dan ke bawah dalam piramida, menunjukkan bahasa yang disesuaikan dengan posisi. Slogannya: “Bahasa untuk Menjaga Posisi dan Harmoni Sosial”.

Kolom kanan berjudul “Kesantunan Strategis (Basis Individu)”. Gambarnya adalah dua lingkaran yang mewakili individu yang saling berhadapan, dengan garis putus-putus yang merepresentasikan jarak sosial yang fleksibel. Panah-panah bolak-balik antara kedua lingkaran menunjukkan negosiasi strategis. Slogannya: “Bahasa untuk Menegosiasikan Jarak dan Menyelamatkan Muka”. Kontras ini menyoroti perbedaan fundamental antara kesantunan sebagai kewajiban versus sebagai alat.

Penutupan Akhir

Jadi, gimana? Teori Kesantunan Sachiko Ide ini nggak cuma buat akademisi, tapi juga buat kita yang penasaran kenapa interaksi di Jepang terasa begitu tertib dan penuh pertimbangan. Ia mengingatkan bahwa di balik tata bahasa yang rumit, ada sistem nilai masyarakat yang bekerja dengan presisi tinggi. Dengan memahami wakimae, kita jadi punya lensa baru buat melihat bahwa kesantunan bisa jadi bentuk penghormatan tertinggi pada harmoni sosial, bukan sekadar basa-basi.

Coba deh, amati percakapan di sekitarmu, kira-kira ada nggak sih prinsip serupa yang bekerja?

Pertanyaan yang Kerap Ditanyakan

Apakah Teori Sachiko Ide hanya berlaku untuk bahasa Jepang?

Pada awalnya dikembangkan dari konteks Jepang, namun konsep “wakimae” (diskresi/penyesuaian sosial) memberikan kerangka untuk menganalisis kesantunan berbasis komunitas di budaya lain yang juga sangat menghargai hierarki dan konteks, seperti Korea atau Jawa.

Teori Kesantunan Sachiko Ide mengajarkan kita untuk menempatkan diri dengan penuh konteks dan kepekaan dalam berinteraksi, mirip seperti prinsip keseimbangan dalam reaksi kimia. Nah, kalau kamu penasaran bagaimana caranya menyeimbangkan persamaan rumit seperti Setarakan 6KI+3H2SO4+NaClO3→3I2+3K2SO4+NaCl+3H2O , di situlah letak seninya: setiap unsur harus dapat porsi yang tepat agar hasilnya harmonis. Pada akhirnya, baik dalam sains maupun komunikasi, kunci utamanya adalah menciptakan keseimbangan yang elegan dan beretika.

Apa perbedaan paling mendasar antara wakimae dan strategic politeness ala Brown & Levinson?

Wakimae berorientasi pada kewajiban dan aturan sosial (kesantunan sebagai kode), sementara strategic politeness berorientasi pada strategi individu untuk meminimalkan ancaman terhadap muka (face) lawan bicara (kesantunan sebagai pilihan).

Bagaimana konsep wakimae terlihat dalam komunikasi digital atau media sosial?

Wakimae tetap berlaku, misalnya dalam pemilihan kata ganti dan tingkat formalitas di email kerja, penggunaan stiker yang sesuai dengan status penerima, atau penyesuaian gaya bahasa saat berkomentar di akun publik figur yang dihormati.

Apakah penerapan wakimae membuat komunikasi menjadi kaku dan tidak autentik?

Tidak selalu. Bagi penutur asli, mengikuti aturan wakimae justru dianggap sebagai bentuk keautentikan dan kedewasaan sosial. Kepatuhan pada norma dianggap sebagai ekspresi diri yang tepat dalam kerangka budaya mereka.

Bagaimana jika seseorang melanggar prinsip wakimae dalam percakapan?

Pelanggaran bisa dianggap sebagai ketidaktahuan, ketidaksopanan, atau bahkan sikap menantang struktur sosial. Namun, dalam konteks tertentu dengan non-penutur asli, biasanya dimaklumi sebagai kesalahan budaya.

Leave a Comment