Total Panjang Dua Tali 2 3⁄5 m dan 4 3⁄4 m dalam Matematika Kehidupan

Total Panjang Dua Tali: 2 3⁄5 m dan 4 3⁄4 m bukan sekadar deretan angka di atas kertas. Angka-angka itu menyimpan cerita tentang presisi, kerajinan tangan, dan cara kita mengoptimalkan sumber daya di sekitar kita. Bayangkan dua gulungan tali dengan ukuran yang tidak bulat, siap untuk ditaklukkan dan diubah menjadi solusi. Dari mengikat beban hingga membentuk karya seni, setiap sentimeter dari bilangan campuran ini punya peran dan ceritanya sendiri.

Mengurai bilangan campuran seperti 2 3/5 dan 4 3/4 membuka pintu pemahaman tentang pengukuran praktis. Sebelum pita pengukur standar ada, pecahan adalah bahasa universal untuk membagi material fleksibel seperti tali. Diskusi ini akan menelusuri bagaimana angka-angka ini dihitung, dikonversi, dan diterapkan dalam skenario nyata, lengkap dengan tabel perbandingan dan langkah-langkah konversi yang jelas. Bahkan akan dibahas bagaimana seorang pengrajin mungkin memberi instruksi, “Siapkan tali yang panjangnya dua tiga per lima meter dan empat tiga perempat meter,” yang kemudian diterjemahkan ke dalam notasi matematika yang rapi.

Mengurai Makna Numerik dalam Konteks Pengukuran Tali Tradisional

Dalam dunia kerajinan dan pekerjaan tangan tradisional, angka-angka seperti 2 3⁄5 meter dan 4 3⁄4 meter bukan sekadar catatan panjang. Mereka adalah jejak dari sebuah proses pengukuran yang intim dan langsung, yang lahir dari interaksi fisik antara pengrajin dengan materialnya. Sebelum pita pengukur standar menjadi hal biasa, pengukuran sering kali merujuk pada bagian-bagian tubuh atau alat bantu sederhana, dan pecahan menjadi bahasa yang paling alamiah untuk menangkap sisa-sisa ukuran yang tidak bulat.

Bilangan campuran ini mencerminkan kebijaksanaan praktis. Seutas tali adalah benda yang fleksibel; ia bisa melar, melintir, dan tidak kaku seperti kayu. Mengukurnya dengan satuan penuh meter sering kali menyisakan bagian yang tidak genap. Pecahan seperti 3⁄5 dan 3⁄4 muncul secara visual dan taktis. Seorang pengrajin mungkin secara naluriah melipat tali menjadi beberapa bagian yang sama untuk memperkirakan potongan, dan hasil dari pembagian visual itu sering kali terungkap sebagai pecahan sederhana.

Angka 3⁄4, misalnya, sangat intuitif karena membagi sesuatu menjadi empat bagian dan mengambil tiga bagiannya adalah konsep yang mudah divisualisasikan dan diukur secara kasar dengan mata, jauh lebih mudah daripada menyebut 0.75 meter di tengah lapangan atau bengkel.

Representasi Numerik Panjang Tali

Memahami berbagai bentuk notasi dari panjang tali ini memungkinkan kita untuk berpindah antara intuisi praktis dan perhitungan teknis. Tabel berikut membandingkan representasi yang berbeda dan konteks penggunaannya.

Panjang Asli Pecahan Biasa (m) Desimal (m) Konteks Penggunaan Praktis
2 3⁄5 m 13⁄5 m 2.6 m Mengikat bingkai kayu sedang, membuat tali pengikat hewan ternak jarak dekat.
4 3⁄4 m 19⁄4 m 4.75 m Membuat jemuran sederhana, tali penyangga tenda, atau pengikat barang di atap kendaraan.
Total 147⁄20 m 7.35 m Proyek yang memerlukan sambungan, seperti membuat pembatas area atau tali panjang untuk menarik.

Langkah Konversi dan Penjumlahan

Proses konversi bilangan campuran ke bentuk lain serta penjumlahannya adalah keterampilan dasar. Berikut adalah langkah-langkah sistematisnya.

  • Konversi ke Pecahan Biasa: Kalikan bilangan bulat dengan penyebut, lalu tambahkan pembilang. Hasilnya menjadi pembilang baru dengan penyebut yang tetap.

    Contoh: 2 3⁄5 = (2 x 5) + 3 = 13 → 13⁄5.

    Contoh: 4 3⁄4 = (4 x 4) + 3 = 19 → 19⁄4.

  • Konversi ke Desimal: Bagi pembilang dengan penyebut, lalu tambahkan hasilnya ke bilangan bulat.

    Contoh: 3 ÷ 5 = 0.6 → 2 + 0.6 = 2.6 m.

    Contoh: 3 ÷ 4 = 0.75 → 4 + 0.75 = 4.75 m.

  • Penjumlahan dengan Pecahan: Samakan penyebutnya terlebih dahulu. Untuk 13⁄5 + 19⁄4, KPK-nya 20. Menjadi (52⁄20) + (95⁄20) = 147⁄20 m atau 7 7⁄20 m.
  • Penjumlahan dengan Desimal: Langsung jumlahkan: 2.6 + 4.75 = 7.35 m.

Komunikasi Praktis ke Notasi Formal, Total Panjang Dua Tali: 2 3⁄5 m dan 4 3⁄4 m

Di bengkel, instruksi lisan sering kali lebih mengutamakan kejelasan visual daripada ketepatan desimal. Seorang pengrajin mungkin akan berkata:

“Ambil tali yang pertama, ukurannya dua meter lebih tiga per lima. Yang kedua, empat tiga perempat. Kalau disambung, jadinya kira-kira tujuh meter lebih tujuh per dua puluh, cukup untuk kita lingkarkan di tiang itu.”

Komunikasi tersebut dapat diterjemahkan ke dalam notasi matematis yang formal sebagai: (2 + 3⁄5) + (4 + 3⁄4) = 7 + 7⁄
20. Atau, dalam bentuk persamaan: 2 3⁄5 m + 4 3⁄4 m = 7 7⁄20 m.

Implikasi Fraksional pada Kekuatan dan Penggunaan Tali: Total Panjang Dua Tali: 2 3⁄5 m Dan 4 3⁄4 m

Dalam aplikasi praktis, panjang yang dinyatakan dalam pecahan tidak hanya tentang ukuran, tetapi juga berhubungan dengan fungsi dan keamanan. Dengan asumsi material dan diameter tali identik, panjang mempengaruhi bagaimana tali tersebut menangani beban. Titik lemah sebuah tali sering kali berada pada simpul atau sambungan. Oleh karena itu, memiliki panjang yang tepat untuk menghindari sambungan yang tidak perlu atau memastikan ada cukup sisa tali untuk membuat simpul yang aman adalah hal krusial.

Panjang seperti 4 3⁄4 meter memberikan kelonggaran ekstra dibandingkan 4.5 meter yang bulat. Kelonggaran beberapa sentimeter itu bisa menjadi penyelamat untuk membentuk simpul pengunci yang lebih baik atau untuk membungkus objek beberapa kali guna meningkatkan gesekan. Secara teoritis, selama tidak ada kerusakan material, kapasitas beban tali seragam di sepanjang badannya. Namun, estimasi kekuatan selalu mempertimbangkan faktor keamanan, dan panjang yang memadai memungkinkan distribusi gaya yang lebih baik dan teknik pengikatan yang lebih optimal.

Skenario Penggunaan dan Panjang Minimal

Setiap panjang tali memiliki niche aplikasinya sendiri. Tabel berikut memetakan kedua tali tersebut ke dalam skenario hipotetis dengan pertimbangan panjang minimal yang aman untuk fungsi tersebut.

Panjang Tali Skenario Penggunaan Panjang Minimal yang Dianjurkan Pertimbangan
2 3⁄5 m (2.6 m) Mengikat barang pada motor ~2.5 m Harus cukup untuk melingkari barang dan rangka motor beberapa kali serta membuat simpul mati yang kuat.
4 3⁄4 m (4.75 m) Membuat jemuran tali antara dua titik ~4.5 m Harus menyisakan panjang untuk mengikat erat di kedua tiang dengan simpul yang tidak mudah melonggar.
Total 7.35 m Menyambung dan menarik benda berat ≥ 7 m Sambungan harus dibuat dengan teknik yang tepat (misal, simpul nelayan) yang memakan panjang tali, sehingga total panjang efektif berkurang.

Dominasi Pecahan dalam Kerajinan Tangan

Pecahan seperti 3⁄5 dan 3⁄4 lebih umum dalam kerajinan tangan dibandingkan desimal karena alasan yang sangat praktis: kemudahan pembagian visual dan fisik. Seorang pengrajin dapat dengan cepat melipat seutas tali menjadi lima bagian yang kurang lebih sama, menandai tiga bagian darinya, dan mendapatkan 3⁄5 panjang. Proses ini dilakukan tanpa alat hitung, murni berdasarkan penglihatan dan perasaan. Desimal seperti 0.6 meter tidak memberikan petunjuk visual yang jelas untuk membagi material.

Pecahan, khususnya dengan penyebut kecil, beroperasi dalam bahasa pembagian bagian-ke-bagian, yang merupakan bahasa alami ketika bekerja dengan material yang bisa dilipat, dipotong, dan dibagi secara manual.

Ilustrasi Penyambungan dalam Proyek Praktis

Bayangkan sebuah proyek membuat ayaman sederhana untuk tempat menjemur pot tanaman. Tali 4 3⁄4 m akan digunakan sebagai tali utama horizontal yang dibentangkan. Tali 2 3⁄5 m akan dipotong menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, masing-masing sekitar 30 cm, untuk mengikat anyaman vertikal. Presisi dalam mengukur dan memotong bagian-bagian kecil dari tali 2.6 m ini sangat penting. Jika setiap potongan diukur secara sembarangan sebagai “sekitar sepertiga meter” (0.33 m) padahal seharusnya tepat 0.3 m, maka setelah delapan potongan akan terjadi pemborosan atau kekurangan sebesar (0.03 x 8) = 0.24 meter.

Itu hampir satu potongan hilang. Dengan mengukur secara presisi menggunakan patokan pecahan—misalnya, membagi tali secara visual menjadi 26 bagian yang sama, di mana setiap bagian 10 cm—pengrajin dapat memaksimalkan penggunaan material dan menghindari sisa yang tidak terpakai atau kekurangan di akhir pekerjaan.

Nih, total panjang dua tali, 2⅗ m dan 4¾ m, kalau mau dijumlahin atau dibandingin, kita perlu cari penyebut yang sama dulu. Nah, konsep ini mirip kayak nyari KPK 13 dan 26 beserta penjelasannya yang intinya mencari kelipatan persekutuan terkecil. Setelah dapat KPK-nya, barulah pecahan panjang tali tadi bisa dioperasikan dengan mudah, sehingga kita tahu total atau selisihnya dengan tepat.

Transformasi Bilangan Campuran dalam Penyelesaian Masalah Ruang dan Bahan

Optimisasi material adalah inti dari efisiensi dalam proyek apa pun. Memiliki dua tali dengan panjang spesifik 2 3⁄5 m dan 4 3⁄4 m menantang kita untuk berpikir strategis tentang bagaimana memotong dan menggunakan mereka untuk memenuhi serangkaian kebutuhan yang lebih kecil. Pendekatan ini bukan sekadar menjumlahkan lalu memotong, tetapi melibatkan perencanaan urutan pemotongan dan pertimbangan untuk meminimalkan sisa yang tidak berguna.

Konsep optimisasi di sini berarti mencocokkan kebutuhan dengan panjang yang tersedia sedekat mungkin, sehingga sisa potongan masih cukup panjang untuk kegunaan lain.

Misalnya, jika daftar kebutuhan adalah potongan-potongan sepanjang 1.5 m, 2 m, 1.8 m, dan 1.9 m. Pendekatan naif adalah menjumlahkan total kebutuhan (7.2 m) dan melihat bahwa total tali kita 7.35 m, sehingga cukup. Namun, jika kita asal memotong dari kedua tali, kita bisa menghasilkan banyak sisa pendek yang tidak berguna. Strategi yang lebih cerdas adalah mencocokkan setiap kebutuhan dengan tali yang panjangnya paling mendekati: potong 2 m dari tali 2.6 m (sisa 0.6 m), potong 1.9 m dari tali 4.75 m (sisa 2.85 m), lalu potong 1.8 m dari sisa 2.85 m (sisa 1.05 m), dan akhirnya potong 1.5 m dari gabungan sisa 0.6 m + 1.05 m = 1.65 m (sisa 0.15 m).

Sisa akhir jauh lebih sedikit.

Prosedur Kreatif Pemanfaatan Tali

Untuk memenuhi target panjang yang mendekati atau melebihi total gabungan, diperlukan kreativitas dalam mengatur material.

  • Penyambungan Sebelum Pemotongan: Sambungkan kedua tali di awal menggunakan simpul sambung yang kuat dan ramping. Ini menciptakan satu tali panjang 7.35 m yang kemudian dapat dipotong sesuai pola yang diinginkan tanpa terkendala oleh batas masing-masing tali awal.
  • Pelipatan untuk Pembagian: Jika kebutuhan adalah beberapa potongan dengan panjang sama, lipat tali panjang (4 3⁄4 m) menjadi bagian-bagian yang sesuai. Misal, untuk mendapatkan tiga potongan ~1.58 m, lipat tali menjadi tiga bagian yang kurang lebih sama dan potong di lipatan.
  • Penggunaan Parsial dengan Penyimpanan Sisa: Jangan langsung memotong seluruh kebutuhan dari satu tali. Gunakan tali 2 3⁄5 m untuk kebutuhan pendek (di bawah 2 m), dan simpan tali 4 3⁄4 m untuk kebutuhan panjang atau sebagai cadangan. Sisa-sisa dari tali pertama dapat digabungkan untuk kebutuhan kecil lainnya.
  • Kombinasi Potongan dan Sambungan: Untuk target panjang yang lebih besar dari masing-masing tali tetapi lebih kecil dari total (misal, 5 m), potong sebagian dari tali yang lebih panjang dan sambungkan dengan tali yang lebih pendek secara utuh, daripada menyambung dua potongan sisa.

Perbandingan Dua Pendekatan Manajemen Tali

Dalam mengerjakan dua tugas berbeda—misalnya, mengikat palet (butuh 3 m) dan membuat gantungan tanaman (butuh 4 m)—terdapat dua filosofi yang kontras.

Pendekatan “Penjumlahan Lalu Penggunaan”: “Kita punya total 7.35 meter. Untuk palet, ambil 3 meter dari mana saja. Sisa 4.35 meter, kita potong 4 meter untuk gantungan, sisanya 0.35 meter jadi kecil sekali.” Pendekatan ini fleksibel tetapi berisiko meninggalkan sisa yang sangat pendek dan tidak terencana.

Pendekatan “Penggunaan Parsial Lalu Penjumlahan Sisa”: “Gunakan tali 4 3⁄4 meter yang utuh untuk gantungan 4 meter, sisa 0.75 meter disimpan. Lalu, ambil tali 2 3⁄5 meter untuk palet 3 meter? Tidak cukup. Maka, ambil 2.6 meter dari tali pertama, dan ambil 0.4 meter dari sisa 0.75 meter tadi untuk digabungkan.” Pendekatan ini lebih terukur, memaksimalkan penggunaan tali utuh, dan sisa-sisanya lebih terkelola dengan baik.

Skenario Kesalahan Konversi yang Kritis

Kesalahan umum terjadi saat menjumlahkan bilangan campuran tanpa menyamakan penyebut dengan benar. Bayangkan seorang pekerja dengan tergesa-gesa menghitung: 2 3⁄5 + 4 3⁄4. Dia mungkin salah mengira 3⁄5 + 3⁄4 = 6⁄9 (dengan menjumlahkan pembilang dan penyebut), lalu menyederhanakannya menjadi 2⁄3. Jadi menurut perhitungannya, totalnya adalah 2 + 4 + 2⁄3 = 6 2⁄3 meter (≈ 6.67 m).

Dia kemudian merencanakan proyek yang membutuhkan tepat 7.35 meter. Keyakinannya bahwa dia memiliki 6.67 meter akan menyebabkan dia kekurangan 0.68 meter (7.35 – 6.67). Selisih 68 cm ini mungkin baru disadari saat proyek hampir selesai, menyebabkan keterlambatan, pemborosan material lain yang sudah dipotong sesuai rencana yang salah, dan kebutuhan untuk mencari tali tambahan. Kesalahan ini muncul dari ketidaktahuan bahwa pecahan harus disamakan penyebutnya terlebih dahulu (menjadi 12⁄20 + 15⁄20 = 27⁄20 = 1 7⁄20), yang kemudian ditambahkan ke bilangan bulat (2+4+1 = 7) plus sisa pecahan 7⁄20, menghasilkan 7 7⁄20 m atau 7.35 m yang benar.

Geometri Tak Baku dan Aplikasi Panjang Tali dalam Bentuk Non-Linier

Keindahan bekerja dengan panjang yang tidak bulat seperti 2.6 m dan 4.75 m terletak pada kemungkinan bentuk geometris yang unik dan organik. Panjang-panjang pecahan ini menantang kita untuk membayangkan konfigurasi di luar bentuk standar, mengarah pada solusi yang lebih kreatif. Sebagai keliling atau komponen sisi, kedua tali ini dapat membentuk segitiga, segi empat tidak beraturan, atau bahkan lingkaran, dengan proporsi yang sering kali tidak ditemukan dalam buku pelajaran.

Batasan yang muncul justru menjadi pemandu kreativitas; misalnya, aturan bahwa jumlah dua sisi segitiga harus lebih besar dari sisi ketiga membatasi kombinasi sisi jika kita memotong-motong tali tersebut.

Jika kedua tali disambung menjadi satu utuhan 7.35 m, itu bisa menjadi keliling sempurna untuk sebuah segitiga sama sisi dengan sisi sekitar 2.45 m, atau persegi dengan sisi sekitar 1.8375 m. Namun, yang lebih menarik adalah menggunakan mereka sebagai sisi terpisah. Misalnya, tali 4.75 m bisa menjadi dasar sebuah segitiga, sedangkan tali 2.6 m dipotong menjadi dua untuk menjadi dua sisi yang lain, membentuk segitiga sama kaki.

Atau, mereka bisa menjadi dua sisi yang berdekatan dari sebuah segi empat, di mana dua sisi lainnya dibuat dari material berbeda, menciptakan bentuk hibrida.

Imajinasi Bentuk dan Aplikasi

Total Panjang Dua Tali: 2 3⁄5 m dan 4 3⁄4 m

Source: co.id

Tabel berikut mengeksplorasi berbagai konfigurasi yang mungkin, baik dengan tali utuh, dipotong, atau disambung, serta potensi aplikasi imajinatifnya.

Konfigurasi Tali Bentuk yang Dibayangkan Estimasi Luas/Jangkauan Aplikasi Imajinatif
4 3⁄4 m utuh + 2 3⁄5 m utuh (terpisah) Dua sisi pengikat diagonal pada sebuah rak segitiga Mencakup area diagonal rak selebar ~1.5 m Stabilisasi rak buku segitiga di sudut ruangan.
Disambung jadi 7.35 m, dibentuk lingkaran Lingkaran Luas ~4.3 m² (Radius ≈ 1.17 m) Pembatas area bermain anak, atau rangka dasar untuk lampu hias gantung.
4 3⁄4 m sebagai panjang, 2 3⁄5 m dipotong jadi lebar Persegi panjang tidak sempurna (dengan sambungan) Luas ~12.35 m² (jika 2.6 m utuh jadi lebar) Kerangka dasar untuk kanopi darurat atau pembatas pameran.
Kedua tali dilipat & dianyam Pola anyaman persegi atau herringbone Area anyaman tergantung kerapatan (~1-2 m²) Dinding dekoratif anyaman atau alas pot tanaman yang artistik.

Menghitung Radius Lingkaran dan Sisa Tali

Membentuk lingkaran sempurna dari salah satu tali adalah latihan geometri yang langsung. Berikut langkah-langkahnya jika kita menggunakan tali terpanjang.

  1. Pilih Tali: Gunakan tali 4 3⁄4 m (4.75 m) sebagai keliling lingkaran.
  2. Rumus Keliling: Keliling (C) = 2 × π × radius (r). Jadi, r = C / (2π).
  3. Hitung Radius: r = 4.75 / (2 × 3.1416) ≈ 4.75 / 6.2832 ≈ 0.756 meter.
  4. Hitung Diameter: Diameter (d) = 2 × r ≈ 1.512 meter.
  5. Sisa Tali Lainnya: Tali 2 3⁄5 m (2.6 m) tetap utuh. Ia dapat digunakan sebagai tali pengikat untuk menggantung lingkaran tersebut, atau dilingkarkan di dalam lingkaran besar untuk membuat pola konsentris jika disambung dengan sisa dari tali pertama (jika ada). Dalam kasus ini, karena tali pertama digunakan utuh, tidak ada sisa dari tali pertama.

Ilustrasi Instalasi Seni atau Solusi Rumah Tangga

Bayangkan sebuah instalasi seni sederhana di teras rumah: sebuah “mobil-mobilan” imajiner dari tali. Tali 4 3⁄4 m yang panjang dibentuk menjadi sebuah lingkaran besar yang tidak sempurna (karena sambungan simpul), menggambarkan roda utama. Sisa dari pengikatan lingkaran itu, atau sebagian dari tali 2 3⁄5 m, dibentuk menjadi lingkaran yang lebih kecil di dalamnya, menciptakan ilusi velg. Sisa tali 2 3⁄5 m kemudian direntangkan dari “roda” tersebut, menyapu lantai teras seperti garis jalan yang melengkung, dan ujungnya diikat pada pot tanaman, seolah-olah mobil itu sedang diparkir.

Proporsi yang tidak bulat—lingkaran yang tidak benar-benar bundar, garis yang panjangnya aneh—justru memberikan kesan handmade dan dinamis. Dalam konteks fungsional, misalnya untuk mengatur kabel yang berantakan, tali 2.6 m dapat digunakan untuk mengikat berkas kabel di dekat sumber listrik, sedangkan tali 4.75 m yang lebih panjang digunakan untuk merutekan kabel sepanjang dinding menuju perangkat. Panjang pecahan memungkinkan penyesuaian yang tepat pada setiap belokan dan titik ikat tanpa kelebihan yang besar, meminimalkan tampilan yang berantakan dan penggunaan material yang efisien.

Kesimpulan

Jadi, dua tali dengan panjang 2 3/5 m dan 4 3/4 m itu lebih dari sekadar total 7.35 meter material. Mereka adalah kanvas untuk bereksperimen dengan geometri, latihan dalam optimisasi, dan pengingat bahwa keindahan seringkali terletak pada proporsi yang tidak bulat. Baik untuk proyek kerajinan, kebutuhan rumah tangga, atau sekadar teka-teki matematika, memahami cara bekerja dengan bilangan campuran ini membuka lebih banyak kemungkinan dan menghindarkan dari kesalahan penghitungan yang bisa berakibat pada kekurangan material.

Pada akhirnya, matematika seperti ini adalah tentang membuat yang abstrak menjadi sangat aplikatif dan nyata dalam genggaman.

Sudut Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah panjang tali dalam bentuk pecahan seperti ini masih relevan di era digital?

Sangat relevan. Dalam banyak kerajinan tangan, pertukangan, dan proyek DIY, pengukuran visual dan pembagian fisik material lebih intuitif menggunakan pecahan (seperti setengah, seperempat, tiga perempat) daripada desimal, karena lebih mudah dibayangkan dan ditandai langsung pada benda.

Mana yang lebih akurat, menjumlahkan dalam bentuk pecahan atau desimal?

Secara matematis, keduanya bisa sama akurat jika dikerjakan dengan benar. Namun, menjumlahkan dalam bentuk pecahan membutuhkan penyamaan penyebut, yang bisa rentan kesalahan. Bentuk desimal (2.6 m + 4.75 m = 7.35 m) sering dianggap lebih langsung untuk kalkulasi cepat, tetapi pecahan menjaga “rasio” asli yang mudah dibagi secara fisik.

Bisakah kedua tali tersebut membentuk segitiga sempurna?

Untuk membentuk segitiga, panjang satu sisi harus kurang dari jumlah dua sisi lainnya. Jika kedua tali ini disambung menjadi satu sisi (sekitar 7.35 m), atau dibagi-bagi, banyak konfigurasi segitiga yang mungkin, tetapi tidak akan menghasilkan segitiga sama sisi atau siku-siku dengan angka yang “rapi” karena panjang awalnya adalah bilangan pecahan.

Apa konsekuensi praktis jika salah mengkonversi 3⁄5 menjadi desimal?

Kesalahan umum adalah mengira 3⁄5 adalah 0.6, yang benar, tetapi kadang dibulatkan menjadi 0.5 atau 0.7. Selisih 0.1 meter (10 cm) dari satu tali, ditambah kesalahan pada tali kedua, bisa menyebabkan total kekurangan atau kelebihan material yang signifikan, membuat sambungan tidak pas atau proyek jadi tidak akurat.

BACA JUGA  Pentingnya Literasi Menulis bagi Generasi Milenial Kunci Hadapi Era Digital

Leave a Comment