Ubah Kalimat Berikut ke Bentuk Pasif menjadi keterampilan bahasa yang esensial untuk membuat tulisan lebih dinamis dan berfokus pada hasil tindakan. Penguasaan struktur pasif tidak hanya menandai kemahiran berbahasa, tetapi juga membuka ruang untuk variasi ekspresi yang lebih kaya dan tepat sasaran dalam berbagai konteks, mulai dari penulisan berita hingga karya ilmiah.
Transformasi dari kalimat aktif ke pasif melibatkan pergeseran fokus dari pelaku ke sasaran perbuatan, dengan pola imbuhan seperti ‘di-‘, ‘ter-‘, dan ‘ke-an’ yang menjadi penanda utamanya. Panduan ini akan menguraikan secara rinci aturan dasar, variasi jenis, hingga penerapannya dalam kalimat kompleks, dilengkapi dengan contoh konkret untuk memudahkan pemahaman dan praktik langsung.
Pengantar dan Konsep Dasar Kalimat Pasif
Dalam komunikasi sehari-hari, kita sering kali perlu menonjolkan objek suatu peristiwa atau kejadian, alih-alih pelakunya. Di sinilah peran kalimat pasif menjadi sangat krusial. Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia berfungsi untuk menyatakan bahwa subjek dikenai suatu tindakan atau perbuatan. Dengan kata lain, fokus perhatian dipindahkan dari si pelaku (agent) kepada sasaran atau tujuan dari tindakan tersebut.
Struktur dasar kalimat pasif dibentuk dengan mengubah objek dari kalimat aktif menjadi subjek. Predikatnya kemudian diubah menjadi kata kerja berawalan di-, ter-, atau bentuk ke-an. Perbandingan mendasar antara struktur aktif dan pasif dapat dilihat pada tabel berikut.
| Komponen | Kalimat Aktif | Kalimat Pasif | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Subjek (S) | Pelaku tindakan | Penerima tindakan | Objek dalam kalimat aktif berpindah posisi menjadi subjek dalam kalimat pasif. |
| Predikat (P) | Kata kerja berawalan me- atau kata kerja dasar | Kata kerja berawalan di-, ter-, atau ke-an | Awalan predikat mengalami perubahan sesuai dengan pola pasif. |
| Objek (O) | Penerima tindakan | Pelaku tindakan (opsional) | Pelaku dapat disebutkan setelah preposisi oleh atau dihilangkan sama sekali. |
| Contoh | Ibu memasak nasi. | Nasi dimasak (oleh ibu). | Objek “nasi” menjadi subjek, predikat “memasak” berubah menjadi “dimasak”. |
Transformasi dari aktif ke pasif mengikuti pola yang relatif konsisten. Berikut beberapa contoh awal untuk menunjukkan pola umum tersebut: “Anak itu membaca buku” menjadi “Buku dibaca oleh anak itu”. Kemudian, “Petani membajak sawah” berubah menjadi “Sawah dibajak oleh petani”. Pola ini menjadi fondasi untuk memahami variasi kalimat pasif yang lebih kompleks.
Aturan dan Pola Pembentukan Kalimat Pasif: Ubah Kalimat Berikut Ke Bentuk Pasif
Proses mengubah kalimat aktif menjadi pasif tidak sekadar menukar posisi kata. Terdapat aturan sistematis yang mengatur perubahan pada subjek, predikat, dan objek. Inti dari transformasi ini adalah mengangkat objek kalimat aktif menjadi subjek kalimat pasif. Predikat, yang semula berawalan me-, akan berubah menjadi berawalan di-. Sementara itu, subjek asli (pelaku) dapat ditempatkan setelah preposisi oleh atau dihilangkan jika konteksnya sudah jelas.
Pemilihan awalan pada predikat kalimat pasif juga memiliki nuansa makna yang berbeda. Tidak semua kata kerja pasif menggunakan awalan di-; ada pula pola ter- dan ke-an yang menyertai makna tertentu, seperti ketidaksengajaan atau keadaan.
| Awalan Predikat Pasif | Makna dan Fungsi | Contoh Kalimat Aktif | Contoh Kalimat Pasif |
|---|---|---|---|
| di- | Menunjukkan tindakan yang disengaja atau proses. Pelaku dapat disebutkan. | Perusahaan meluncurkan produk baru. | Produk baru diluncurkan oleh perusahaan. |
| ter- | Menunjukkan ketidaksengajaan, keadaan sudah terjadi, atau kemampuan. | Seseorang menutup pintu itu. | Pintu itu tertutup (secara tidak sengaja). |
| ke-an | Menunjukkan keadaan yang tidak diinginkan atau terkena suatu hal. | Hujan membasahi jemuran. | Jemuran kehujanan. |
Pada kalimat yang kompleks, proses perubahan juga mencakup kata kerja bantu dan imbuhan lainnya. Misalnya, dalam kalimat “Dia sedang akan mempresentasikan laporan itu”, transformasinya menjadi “Laporan itu sedang akan dipresentasikan olehnya”. Perhatikan bahwa kata bantu “sedang akan” tetap dipertahankan, sementara imbuhan pada kata kerja (“me-…-kan”) berubah menjadi (“di-…-kan”).
Variasi dan Jenis Kalimat Pasif
Kalimat pasif dalam bahasa Indonesia tidaklah monolitik. Terdapat beberapa variasi yang penggunaannya disesuaikan dengan konteks dan informasi yang ingin ditekankan. Memahami perbedaan ini memungkinkan kita untuk berkomunikasi dengan lebih tepat dan elegan.
Jenis pertama adalah kalimat pasif biasa, di mana pelaku tindakan dapat disebutkan secara eksplisit. Jenis kedua adalah pasif zero agent, yaitu kalimat pasif yang menghilangkan sama sekali penyebutan pelaku. Jenis ketiga adalah pasif adversatif, yang secara khusus menyoroti subjek yang mengalami dampak negatif atau tidak menguntungkan dari suatu tindakan.
Contoh Jenis-Jenis Kalimat Pasif, Ubah Kalimat Berikut ke Bentuk Pasif
- Pasif Biasa: Proyek tersebut dikelola oleh tim ahli. Surat itu telah dikirimkan melalui kurir. Rumah itu akan dibangun oleh kontraktor ternama.
- Pasif Zero Agent: Pengumuman resmi akan dipublikasikan besok. Barang-barang sudah dikemas dengan rapi. Mobil itu dicuri tadi malam.
- Pasif Adversatif: Dompetnya tertinggal di taksi. Anak kecil itu ketahuan mencuri permen. Ia ketinggalan kereta api karena macet.
Penggunaan setiap jenis kalimat pasif bergantung pada fokus informasi. Pasif biasa digunakan ketika pelaku masih relevan untuk disebutkan. Pasif zero agent sangat efektif dalam pemberitaan atau situasi di mana pelaku tidak diketahui, tidak penting, atau sengaja disembunyikan. Sementara itu, pasif adversatif dipilih untuk secara kuat menyampaikan makna ketidaksengajaan atau dampak merugikan yang dialami subjek, sering kali dengan pola ter- atau ke-an.
Mengubah kalimat ke bentuk pasif bukan sekadar soal tata bahasa, melainkan teknik untuk menonjolkan objek atau hasil suatu proses. Prinsip serupa terlihat dalam perhitungan ilmiah, seperti saat menentukan Volume Oksigen untuk Membakar Sempurna 2 L Gas Alam C3H8 , di mana fokus beralih ke kebutuhan oksigen yang harus dipenuhi. Dengan demikian, penguasaan bentuk pasif memungkinkan penyampaian informasi yang lebih terstruktur dan berpusat pada hal yang ingin ditekankan, layaknya sebuah rumus kimia yang presisi.
Penerapan dalam Berbagai Konteks Kalimat
Transformasi kalimat aktif ke pasif berlaku terutama untuk kalimat transitif, yaitu kalimat yang memiliki objek. Kalimat intransitif, yang tidak memiliki objek seperti “Adik menangis” atau “Mereka pergi”, secara umum tidak dapat diubah menjadi pasif karena tidak ada objek yang dapat diangkat menjadi subjek. Namun, dalam konteks yang lebih luas, perubahan bentuk dapat diterapkan pada berbagai jenis kalimat, baik berita, tanya, maupun perintah.
| Jenis Kalimat | Contoh Kalimat Aktif | Contoh Kalimat Pasif | Catatan Transformasi |
|---|---|---|---|
| Berita | Panitia menyediakan konsumsi untuk semua peserta. | Konsumsi untuk semua peserta disediakan oleh panitia. | Pola dasar, objek “konsumsi” menjadi subjek. |
| Tanya | Apakah mereka sudah mengirimkan berkas lamaran? | Apakah berkas lamaran sudah dikirimkan (oleh mereka)? | Kata tanya “apakah” tetap di awal, diikuti subjek baru. |
| Perintah | Harap kirimkan laporan sebelum deadline. | Harap dikirimkan laporan sebelum deadline. | Kata “harap” tetap, predikat berubah menjadi “dikirimkan”. |
Teknik khusus diperlukan untuk kalimat yang memiliki objek ganda, yaitu objek orang dan objek benda. Misalnya, “Ibu memberikan adik sepeda baru”. Kalimat ini dapat dipasifkan dengan dua cara: memilih objek orang menjadi subjek (“Adik diberikan sepeda baru oleh ibu”) atau memilih objek benda menjadi subjek (“Sepeda baru diberikan kepada adik oleh ibu”). Pilihan ini memberikan penekanan yang berbeda pada informasi yang disampaikan.
Latihan dan Analisis Kesalahan Umum
Source: kompas.com
Untuk menguasai pembentukan kalimat pasif, latihan bertahap sangat diperlukan. Mulailah dari kalimat sederhana dengan kata kerja berawalan me-, lalu naikkan tingkat kesulitan dengan menambahkan kata bantu, objek ganda, atau konteks kalimat tanya dan perintah.
Berikut serangkaian latihan dengan tingkat kesulitan yang bertingkat. Ubahlah kalimat-kalimat aktif berikut menjadi bentuk pasif yang tepat.
- Penjual itu menawarkan harga khusus.
- Kami sedang membahas rencana anggaran tahun depan.
- Apakah manajer telah menyetujui proposalmu?
- Harap selesaikan tugas ini dengan segera.
- Gurunya menganugerahi siswa berprestasi itu sebuah medali emas.
Dalam praktiknya, beberapa kesalahan sering kali muncul. Kesalahan ini umumnya berkaitan dengan struktur dasar dan pemilihan awalan yang kurang tepat.
Memahami cara mengubah kalimat aktif menjadi pasif adalah fondasi penting dalam tata bahasa Indonesia. Untuk memperdalam pemahaman, jangan ragu untuk Minta contoh tambahan selain yang sudah ada guna melihat variasi konteks penggunaannya. Dengan demikian, latihan transformasi kalimat ini akan menjadi lebih komprehensif dan aplikatif dalam berbagai situasi penulisan.
- Mencampuradukkan Awalan di- dan ter-: Menggunakan “ter” untuk tindakan yang disengaja (contoh salah: “Dokumen itu tertandatangani oleh direktur” seharusnya ” ditandatangani“).
- Kesalahan Penulisan Awalan di-: Menulis awalan di- yang seharusnya menyatu dengan kata kerja dasar sebagai kata depan di yang terpisah, atau sebaliknya (contoh salah: “Buku itu di baca” atau “Ia pergi dibelakang rumah”).
- Memasifkan Kalimat Intransitif: Memaksakan perubahan pasif pada kalimat yang tidak memiliki objek (contoh salah: “Mereka tidur” tidak dapat diubah menjadi “*Mereka ditidurkan” tanpa mengubah makna menjadi kausatif).
- Struktur yang Kacau: Gagal mengangkat objek sebagai subjek baru, sehingga kalimat menjadi rancu (contoh salah: “Oleh ibu nasi dimasak” alih-alih “Nasi dimasak oleh ibu”).
Tips untuk menghindari kesalahan: pertama, pastikan kalimat aktif yang akan diubah memiliki objek. Kedua, ingatlah bahwa awalan di- pada kata kerja pasif ditulis serangkai dengan kata dasarnya, berbeda dengan kata depan di yang menunjukkan tempat. Ketiga, pilih awalan ter- hanya untuk menyatakan ketidaksengajaan, keadaan, atau kemampuan, bukan untuk tindakan yang disengaja dan terkontrol. Terakhir, selalu uji kalimat pasif Anda dengan menanyakan “Siapa yang melakukan?”; jika jawabannya bisa diletakkan setelah “oleh”, struktur Anda kemungkinan besar sudah benar.
Ilustrasi Visual Konsep Transformasi
Sebuah infografik yang efektif dapat menjelaskan alur transformasi dari kalimat aktif ke pasif dengan lebih intuitif. Bayangkan sebuah diagram alur horizontal yang dibagi menjadi dua bagian utama: sisi kiri berlabel “Kalimat Aktif” dengan latar belakang warna hangat seperti oranye muda, dan sisi kanan berlabel “Kalimat Pasif” dengan latar belakang warna dingin seperti biru muda.
Memahami transformasi kalimat aktif ke pasif adalah keterampilan mendasar dalam tata bahasa. Namun, penerapannya tak melulu soal teori; konsep serupa tentang pembagian proporsional dapat ditemui dalam soal matematika praktis, seperti saat Menghitung Jumlah Kelereng Dani dari Total 60 dan Perbandingan 4:2. Setelah nilai bagian ditentukan, fokus kembali pada struktur pasif: bagaimana subjek yang menerima aksi justru ditekankan, sebuah prinsip yang memperkaya kejelasan dan variasi dalam berkomunikasi tertulis.
Di bagian “Kalimat Aktif”, terdapat tiga kotak berurutan dari kiri ke kanan: kotak pertama berwarna merah dengan label Subjek (Pelaku) berisi kata “Ibu”. Kotak kedua berwarna kuning dengan label Predikat (me-) berisi kata “memasak”. Kotak ketiga berwarna hijau dengan label Objek (Penerima) berisi kata “nasi”. Sebuah panah tebal menghubungkan ketiga kotak ini, menunjukkan alur tindakan dari pelaku kepada penerima.
Di tengah diagram, terdapat simbol besar berbentuk panah melingkar atau ikon “refresh” dengan label TRANSFORMASI. Dari simbol ini, muncul garis putus-putus yang menghubungkan dan memindahkan posisi elemen. Kotak hijau “Objek (nasi)” dari sisi aktif berpindah ke posisi paling kiri di sisi pasif, berubah menjadi Subjek Baru dan tetap berwarna hijau. Kotak kuning “Predikat (memasak)” berubah warna menjadi ungu dan berubah label menjadi Predikat (di-) dengan kata “dimasak”.
Kotak merah “Subjek (Ibu)” berpindah ke posisi paling kanan, ditempatkan setelah sebuah simbol segitiga kecil yang mewakili preposisi “oleh”, dengan label Pelaku (Opsional).
Kunci dari ilustrasi ini adalah penggunaan warna yang konsisten untuk melacak perpindahan fungsi: hijau untuk penerima tindakan, kuning/ungu untuk tindakan itu sendiri, dan merah untuk pelaku. Simbol panah dan garis putus-putus secara visual menekankan proses “perpindahan” dan “perubahan bentuk”. Penjelasan singkat di bawah setiap bagian dapat menyebutkan aturan utama, seperti “Objek menjadi Subjek” dan “me- berubah menjadi di-“. Infografik semacam ini memvisualisasikan logika gramatikal yang abstrak menjadi sesuatu yang mudah diikuti dan diingat.
Penutupan
Mengubah kalimat aktif menjadi pasif pada dasarnya adalah seni mengatur penekanan dan alur informasi. Dengan memahami logika di balik perubahan subjek, predikat, dan objek, serta kapan menggunakan jenis pasif yang tepat, kemampuan berkomunikasi secara tertulis akan terasah dengan signifikan. Mulailah dari contoh sederhana, latih dengan tekun, dan kesalahan umum pun dapat dihindari, sehingga kalimat pasif yang dihasilkan tidak hanya gramatikal tetapi juga efektif menyampaikan pesan.
Tanya Jawab Umum
Apakah semua kalimat aktif bisa diubah menjadi pasif?
Tidak. Hanya kalimat aktif transitif, yaitu yang memiliki objek, yang dapat diubah menjadi kalimat pasif. Kalimat aktif intransitif seperti “Dia tidur” tidak memiliki objek sehingga tidak dapat dibentuk menjadi pasif.
Kapan sebaiknya menggunakan kalimat pasif?
Kalimat pasif sangat efektif digunakan ketika fokus pembicaraan adalah pada hasil atau korban tindakan, ketika pelaku tindakan tidak diketahui atau tidak penting untuk disebutkan, atau dalam konteks penulisan ilmiah dan berita untuk menjaga kesan objektif.
Apa perbedaan utama antara awalan ‘di-‘ dan ‘ter-‘ dalam kalimat pasif?
Awalan ‘di-‘ umumnya menunjukkan tindakan yang disengaja (contoh: Buku itu
-dibaca* olehnya), sementara ‘ter-‘ sering kali menyiratkan tindakan yang tidak disengaja, tiba-tiba, atau sudah dalam keadaan tertentu (contoh: Vas itu
-terpecah* tanpa sengaja).
Bagaimana mengubah kalimat pasif yang subjeknya berupa kata ganti orang seperti “saya” atau “kamu”?
Untuk kata ganti orang, bentuk pasifnya sering menggunakan kata kerja berimbuhan ‘ku-‘ untuk ‘saya’ dan ‘kau-‘ untuk ‘kamu/kalian’. Contoh: Aku memecahkan gelas (aktif) menjadi Gelas itu
-kupacah* (pasif). Namun, bentuk dengan ‘di-‘ oleh saya/kamu juga dapat digunakan dalam konteks lebih formal.