Negara Pusat Mode Dunia Peta Pengaruh dan Persaingan Global

Negara Pusat Mode Dunia bukan sekadar gelar yang diberikan begitu saja. Ia adalah mahkota yang diperebutkan dalam panggung yang penuh glamor, inovasi, dan tentu saja, kekuatan ekonomi yang luar biasa. Bayangkan kota-kota seperti Paris, Milan, New York, dan London bukan hanya sebagai lokasi geografis, melainkan sebagai epicentrum kreativitas di mana setiap jahitan, pola, dan pertunjukan runway memiliki kekuatan untuk mendikte selera global.

Status ini dibangun dari fondasi sejarah yang kokoh, disirami oleh keberanian berinovasi, dan dipupuk oleh mesin industri yang tak kenal lelah.

Lebih dari sekadar industri tekstil, menjadi pusat mode berarti menjadi kiblat budaya. Ia adalah kemampuan untuk mengekspor gaya hidup, nilai-nilai, dan estetika yang kemudian diadopsi dari jalanan Tokyo hingga mal di Jakarta. Pergeseran gelombang pengaruh dari satu ibu kota ke ibu kota lainnya sebenarnya adalah cermin dari perubahan geopolitik, geliat ekonomi, dan revolusi sosial yang terjadi di dunia. Kini, peta ini semakin dinamis dengan bangkitnya kekuatan baru dari Asia dan gelombang digital yang mengubah cara kita memandang otoritas dalam fashion.

Pengertian dan Kriteria Utama

Istilah ‘Negara Pusat Mode Dunia’ bukan sekadar label geografis, melainkan sebuah status yang diperoleh melalui kombinasi pengaruh sejarah, kekuatan industri, dan otoritas budaya yang diakui secara global. Pada intinya, negara tersebut berfungsi sebagai episentrum kreativitas, tempat tren lahir, standarisasi estetika ditetapkan, dan nilai-nilai komersial tertinggi dalam industri ini berputar. Status ini menjadikannya magnet bagi talenta, modal, dan perhatian media dari seluruh penjuru dunia.

Beberapa faktor kunci yang membentuk status ini antara lain: adanya konsentrasi rumah mode berpengaruh yang mendikte tren; kekuatan industri manufaktur dan rantai pasok yang mumpuni; ekosistem pendidikan desain yang melahirkan generasi baru; serta platform seperti pekan mode dan institusi budaya yang mengkristalkan narasi mode tersebut. Pengakuan global seringkali dimulai dari legitimasi yang diberikan oleh media mode ternama, pembeli internasional dari department store besar, dan selebritas yang menjadi ambasadornya.

Kriteria Perbandingan Pengaruh Negara-Negara Mode

Untuk memahami bagaimana beberapa negara unggul dalam aspek yang berbeda, tabel berikut membandingkan kriteria utama di antara beberapa pemain tradisional. Perbandingan ini menunjukkan bahwa tidak ada satu formula mutlak, melainkan spesialisasi dan warisan yang unik.

Negara Pengaruh Historis & Warisan Inovasi Desain & Avant-Garde Kekuatan Industri & Komersial Pengakuan Budaya & Soft Power
Prancis Sangat Kuat. Dasar dari mode modern, haute couture, dan sistem rumah mode. Tinggi, terutama dalam seni dan konsep. Sering menjadi penentu arah estetika tinggi. Kuat di sektor mewah (LVMH, Kering) namun manufaktur banyak di luar negeri. Paripurna. Paris adalah ‘kota suci’ mode, dengan museum seperti Palais Galliera dan aura romantis yang tak tertandingi.
Italia Kuat pada pascaperang. Ahli dalam kerajinan, tekstil mewah, dan ‘made in Italy’. Tinggi dalam bahan, tekstil, dan siluet yang sensual. Inovasi terletak pada material dan pengerjaan. Sangat Kuat. Rantai pasok mewah terintegrasi dari bahan baku hingga produk akhir di distrik seperti Florence dan Milan. Sangat Kuat. Dikaitkan dengan gaya hidup, kuliner, dan keindahan yang tak lekang waktu. ‘Italian Style’ adalah merek global.
Amerika Serikat Kuat pada abad ke-20. Penguasa ready-to-wear, denim, dan sportswear. Terdepan dalam inovasi komersial, marketing, dan streetwear yang merambah high fashion. Dominan. Pusat keuangan mode, retail global, dan merek masif seperti Nike dan Ralph Lauren. Kuat melalui media (Vogue AS, Hollywood) dan ekspor budaya pop yang mendikte gaya kasual global.
Inggris Unik dan subversif. Dikenal dengan tradisi tailoring Savile Row dan pemberontakan punk. Sangat tinggi dalam konsep dan dekonstruksi. Sekolah seperti Central Saint Martins adalah tempat kelahiran bintang avant-garde. Menengah. Banyak desainer besar tetapi industri manufaktur dalam negeri menyusut. Kuat di segmen niche dan mewah. Kuat dalam narasi budaya muda dan musik. London Fashion Week dikenal sebagai tempat pencarian bakat baru.

Peran Institusi dalam Membangun Status

Status sebuah negara sebagai pusat mode tidak dibangun hanya oleh desainer, tetapi diperkuat oleh pilar-pilar institusi yang memberikan pendidikan, pengarsipan, dan panggung. Sekolah desain seperti École de la Chambre Syndicale de la Couture Parisienne di Paris atau Central Saint Martins di London berfungsi sebagai laboratorium ide dan penyaring talenta terbaik dunia. Museum mode, misalnya Musée Yves Saint Laurent Paris atau The Costume Institute di Metropolitan Museum of Art New York, mengubah mode dari komoditas menjadi artefak budaya yang patut dikaji, memberikan legitimasi akademis dan sejarah.

BACA JUGA  Contoh Perbandingan dan Pertentangan Konsep Pola hingga Aplikasi

Sementara itu, pekan mode resmi (Fashion Week) yang diakui oleh federasi seperti Fédération de la Haute Couture et de la Mode di Paris adalah ritual wajib yang mengatur kalender global, menarik pembeli, editor, dan selebritas, sehingga mengkonfirmasi kota tersebut sebagai titik pertemuan yang tak terelakkan.

Peta Sejarah dan Pergeseran Global

Pusat gravitasi mode dunia tidaklah statis; ia bergeser mengikuti arus kekuatan politik, ekonomi, dan gelombang budaya. Perjalanannya adalah narasi tentang bagaimana kota-kota tertentu, pada momen sejarah tertentu, menjadi katalis bagi perubahan selera dan sistem industri. Pergeseran ini seringkali dramatis, dipicu oleh perang, kemakmuran baru, atau ledakan gerakan budaya yang menantang kemapanan.

Pada abad ke-19, Paris di bawah Raja Louis XIV dan kemudian Charles Frederick Worth, yang dianggap sebagai bapak haute couture, menetapkan diri sebagai otoritas mutlak. Mode adalah urusan Prancis, dan seluruh dunia yang beradab menengok ke Paris untuk inspirasinya. Dominasi ini mulai mendapat saingan setelah Perang Dunia II, ketika Amerika Serikat yang makmur mengembangkan sistem ready-to-wear dan gaya hidup kasualnya sendiri, sementara Italia membangun kembali reputasinya dengan fokus pada kerajinan dan kemewahan yang sensual pasca kehancuran perang.

Era Kejayaan Kota-Kota Mode Penting

Setiap kota memancarkan pengaruhnya dalam periode waktu tertentu, seringkali mencerminkan semangat zamannya. Daftar berikut merangkum episentrum-episentrum tersebut.

  • Paris (Pertengahan abad 19 – Sekarang): Era keemasan dimulai dengan Haute Couture di bawah Worth, menguat dengan munculnya rumah mode seperti Chanel dan Dior, dan bertahan sebagai pusat legitimasi tertinggi hingga kini.
  • New York (Pascaperang Dunia II – 1990an): Bangkit sebagai ibu kota ready-to-wear dan sportswear. Memimpin dalam komersialisasi mode dan pemasaran global, dimanifestasikan melalui kebangkitan department store dan majalah Vogue Amerika.
  • Milan (1970an – 1990an): Zaman keemasan ‘Made in Italy’. Kota ini menjadi pusat mode komersial yang glamor dengan merek seperti Armani, Versace, dan Prada yang mendefinisikan kekuatan dan kemewahan dekade tersebut.
  • London (1960an & 1990an): Dua gelombang utama: era ‘Swinging Sixties’ dengan Mary Quant dan mini skirt, serta kebangkitan tahun 90an dengan para ‘Young British Artists’ seperti McQueen dan Galliano yang membawa energi subversif.
  • Tokyo (1980an – 2000an): Memperkenalkan dekonstruksi dan estetika avant-garde melalui perancang seperti Rei Kawakubo (Comme des Garçons) dan Yohji Yamamoto, menantang definisi Barat tentang kecantikan dan bentuk.

Dampak Perang, Ekonomi, dan Gerakan Sosial

Narasi pergeseran pusat mode sangat intim terkait dengan gejolak besar dunia. Perang Dunia II, misalnya, secara fisik memutuskan akses dunia ke Paris, memaksa negara seperti Amerika Serikat untuk mengembangkan industri mode domestiknya sendiri. Kemakmuran ekonomi pascaperang di AS dan Italia memberikan modal dan pasar untuk kebangkitan mereka. Gerakan sosial juga menjadi penentu; feminisme dan kebebasan perempuan di tahun 1960an mendorong gaya yang praktis dan muda, menguntungkan London dan New York.

Paris, Milan, New York—mereka bukan cuma nama kota, mereka adalah poros fashion yang menggerakkan ekonomi kreatif global. Nah, untuk menghitung dampak ekonominya yang fantastis, analis mode pasti butuh ketelitian data. Di sinilah peran Program MS Office yang Digunakan untuk Mengolah Angka menjadi krusial. Dengan Excel, mereka bisa memproyeksikan tren, mengelola anggaran koleksi, dan akhirnya membuktikan bahwa mode adalah bisnis serius yang berdenyut di jantung kota-kota ikonik tadi.

Sementara krisis ekonomi bisa menjadi pendorong kreativitas, seperti yang terjadi di London tahun 1990an, di mana keterbatasan justru melahirkan estetika mentah dan do-it-yourself yang revolusioner. Intinya, mode selalu menjadi cermin yang peka, dan pusatnya berpindah ke tempat di mana cermin itu paling jelas merefleksikan perubahan zaman.

Kontributor Kultural dan Ekonomi: Negara Pusat Mode Dunia

Kekuatan sebuah negara sebagai pusat mode tidak pernah semata-mata tentang pakaian. Ia adalah ekspor sebuah ‘gaya hidup’ dan ‘imaginaire’—sebuah dunia impian yang dibangun dari elemen-elemen budaya yang lebih luas. Seni, musik, film, dan bahkan street style sehari-hari menjadi bahan baku yang memberi napas pada koleksi-koleksi dan, yang lebih penting, menciptakan daya tarik magnetis yang membuat dunia ingin membeli bukan hanya produk, tetapi juga identitas yang melekat padanya.

Dampak ekonominya pun sangat nyata. Industri mode menjadi mesin soft power yang canggih, meningkatkan citra negara, menarik pariwisata, dan membuka pintu untuk ekspor budaya lainnya. Sebuah tas tangan mewah dari Paris atau sepatu dari Milan membawa serta aura romantis Prancis atau keahlian kerajinan Italia, yang pada akhirnya meningkatkan nilai persepsi dan memungkinkan premium pricing yang luar biasa. Mode adalah diplomat bisnis yang paling elegan.

Hubungan Identitas Budaya dan Kekuatan Mode

Banyak pemikir dan kreator mode yang telah merenungkan simbiosis mendalam antara tanah air seorang desainer dengan karyanya. Hubungan ini seringkali menjadi sumber kekuatan yang paling otentik.

“Mode bukan sesuatu yang ada di dalam gaun. Mode ada di langit, di jalanan; mode terkait dengan ide, cara hidup kita, apa yang sedang terjadi.” — Coco Chanel. Pernyataan Chanel ini menegaskan bahwa mode Prancis yang ia wakili selalu berakar pada zeitgeist, pada budaya dan kehidupan Paris yang ia amati.

“Saya selalu mengatakan bahwa saya ingin mempermalukan orang yang mengenakan pakaian saya. Saya ingin mereka berpikir tentang hidup.” — Rei Kawakubo. Pendekatan Kawakubo mencerminkan filosofi estetika Jepang yang menantang konvensi, di mana keindahan bisa ditemukan dalam ketidaksempurnaan dan protes, sebuah ekspor budaya intelektual yang mengubah wajah mode global.

Pemanfaatan Warisan Budaya dalam Kampanye Global, Negara Pusat Mode Dunia

Merek-merek mewah dari negara pusat mode telah menguasai seni mengemas warisan budaya mereka menjadi narasi pemasaran yang powerful. Ketika Dior mengadakan pertunjukan di depan Piramida Louvre atau di Latar Marmer Grand Trianon di Versailles, mereka bukan sekadar mencari latar belakang yang indah. Mereka menempatkan koleksi mereka dalam continuum sejarah seni dan kekuasaan Prancis, menyiratkan bahwa membeli Dior adalah memiliki secuil dari warisan budaya tersebut.

BACA JUGA  Proses Eksekusi Instruksi di Register IR Inti dari Kerja CPU

Demikian pula, ketika Gucci mengangkat motif dan siluet dari arsip Renaissance Italia dalam kampanyenya, atau ketika Hermès dengan mahir memvisualisasikan keahlian penyamakan dan equestrian-nya, mereka sedang menjual sebuah cerita yang berusia ratusan tahun. Warisan itu menjadi diferensiasi utama yang tidak dapat dengan mudah disalin oleh pendatang baru dari negara tanpa sejarah mode yang panjang.

Pusat Mode Kontemporer dan Kompetisi

Peta mode global kontemporer menampilkan lanskap yang lebih terfragmentasi dan kompetitif daripada era mana pun sebelumnya. Meskipun ‘Empat Besar’ (New York, London, Milan, Paris) masih memegang kalender pekan mode utama, pengaruh dan otoritas mereka terus-menerus ditantang oleh pusat-pusat baru yang muncul, khususnya di Asia. Positioning setiap kota kini harus lebih spesifik dan jelas di tengah kebisingan digital, karena tidak ada lagi yang bisa mengklaim monopoli atas seluruh narasi mode.

Paris tetap menjadi puncak piramida, tempat untuk legitimasi akhir dan pertunjukan spektakuler. New York mempertahankan kekuatannya dalam bisnis, komersialitas, dan streetwear yang mewah. London adalah ibu kota kreativitas konseptual dan inkubator bakat baru, meski sering kehilangan desainernya ke rumah mode asing. Milan unggul dalam kemewahan yang dapat dikenakan, kerajinan material, dan sistem industri yang solid. Namun, di luar kuadran ini, gelombang baru sedang naik.

Kekuatan dan Kelemahan Ibu Kota Mode Kontemporer

Setiap hub mode utama saat ini memiliki kartu truf dan tantangannya sendiri. Tabel berikut memetakan dinamika kompetitif tersebut.

>Terkadang dianggap terlalu hierarkis dan terikat tradisi; biaya operasi sangat tinggi.

Kota Kekuatan Kompetitif Kelemahan/Tantangan Positioning Unik
Paris Legitimasi tertinggi, konsentrasi rumah mode mewah terkuat, warisan tak tertandingi, dukungan institusi kuat. Episentrum kemewahan dan seni mode; tempat di mana sejarah dibuat.
Shanghai Dukungan pemerintah besar, pasar konsumen domestik yang masif, pertumbuhan cepat, fusi Timur-Barat. Masih membangun identitas desain yang berbeda dari tiruan, ekosistem kreatif yang masih berkembang. Gerbang mode untuk pasar Tiongkok dan mesin komersial baru; simbol kebangkitan mode Asia.
Seoul Didorong gelombang budaya pop (K-pop) global, adopsi teknologi & digital sangat cepat, street style yang sangat berpengaruh. Struktur industri masih didominasi fast fashion dan kecantikan; kurangnya rumah mode high-end tradisional yang mapan. Ibukota budaya pop dan kecantikan digital; trendsetter untuk Gen Z secara global.
Lagos Kreativitas yang meledak-ledak, penggunaan warna dan tekstil yang khas (seperti Ankara), narasi diaspora yang kuat. Infrastruktur industri dan rantai pasok yang terbatas, visibilitas global masih niche. Wajah baru mode Afrika yang penuh semangat dan otentisitas; pusat storytelling melalui desain.

Peran Media Digital dan Influencer

Cara sebuah negara memproyeksikan pengaruh modenya telah mengalami revolusi total berkat media digital. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Weibo telah mendemokratisasikan akses. Seorang influencer di Seoul bisa meluncurkan tren tas yang menjadi viral sebelum ditampilkan di catwalk Paris.

Fashion week tidak lagi eksklusif untuk editor majalah dan pembeli; siaran langsung dan konten behind-the-scenes membuatnya dapat diakses oleh siapa saja di mana saja. Hal ini menguntungkan pusat-pusat baru seperti Seoul, karena mereka dapat membangun audiens global langsung tanpa harus melalui gerbang media mode tradisional Barat. Digital juga memungkinkan narasi yang lebih beragam dan langsung—desainer dari Lagos atau Bogotá kini dapat bercerita tentang budaya mereka sendiri kepada dunia, menciptakan pengaruh yang melompati hierarki geografis lama.

Pengakuan kini bisa datang dari jumlah likes dan shares, bukan hanya dari ulasan di Vogue.

Indikator Pengaruh dan Pengukuran

Negara Pusat Mode Dunia

Source: co.id

Mengukur pengaruh sebuah negara di dunia mode memerlukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Meskipun sulit untuk dinilai hanya dengan angka, metrik tertentu memberikan gambaran yang jelas tentang skala dan jangkauannya. Indikator-indikator ini berfungsi seperti papan skor yang memperlihatkan di mana kekuatan ekonomi, konsentrasi kreatif, dan daya tarik global suatu tempat benar-benar berada.

Beberapa metrik kunci termasuk jumlah rumah mode mewah yang berkantor pusat di negara tersebut, volume ekspor tekstil dan pakaian jadi (terutama di segmen high-value), kehadiran dan investasi media mode internasional (seperti kantor redaksi Vogue, WWD), serta frekuensi dan tingkat partisipasi dalam acara-acara besar seperti pekan mode yang diakui secara global. Selain itu, daya tarik bagi talenta internasional—berapa banyak siswa asing yang mendaftar di sekolah desainnya, atau berapa banyak desainer asing yang memilih untuk memamerkan karyanya di sana—juga merupakan indikator soft power yang penting.

Atmosfer Ibu Kota Mode Selama Pekan Mode

Untuk merasakan pengaruh sebuah ibu kota mode, bayangkan diri Anda berada di Paris selama Paris Fashion Week. Udara dingin musim gugur diisi dengan gemuruh yang teredam. Jalan-jalan di sekitar Place Vendôme dan Palais Royal dipadati oleh kerumunan yang terdiri dari editor dengan mantel oversized yang sempurna, influencer yang sedang melakukan photoshoot cepat, pembeli dengan buku catatan iPad mereka yang serius, dan fotografer street style yang berjaga seperti pemburu.

Truk-truk besar memblokir jalan kecil untuk mengangkut set pertunjukan yang rumit. Jam-jam makan siang di hotel-hotel tertentu seperti Hôtel de Crillon atau Le Meurice adalah ajang pertemuan bisnis yang penting. Malam harinya, acara-acara yang dihost oleh merek-merek mewah menghidupkan galeri seni dan restoran eksklusif. Ini adalah mesin ekonomi dan budaya yang beroperasi pada amplitudo maksimum, sebuah pertunjukan yang memperlihatkan mengapa kota ini masih menjadi pusat alam semesta mode.

Pemain Kunci dalam Legitimasi Sebuah Pusat Mode

Ekosistem yang memberikan legitimasi pada sebuah kota sebagai pusat mode terdiri dari berbagai aktor yang saling terkait. Masing-masing memiliki peran spesifik dalam proses validasi.

  • Pembeli dari Department Store & Multi-brand Store Elite: Toko seperti Bergdorf Goodman (AS), Harrods (UK), atau Dover Street Market (global) memiliki kekuatan untuk memesan koleksi dalam jumlah besar. Kehadiran dan investasi mereka di sebuah pekan mode adalah tanda keyakinan komersial yang kuat.
  • Editor-in-Chief dan Direktur Kreatif Majalah Mode: Figur seperti Anna Wintour (Vogue AS) atau Edward Enninful (mantan editor Vogue UK) bukan hanya menghadiri pertunjukan; kehadiran mereka adalah stempel persetujuan. Liputan di majalah mereka dapat meluncurkan karir atau mengukuhkan tren.
  • Kurator Museum dan Institusi Budaya: Ketika museum seperti Metropolitan Museum of Art di New York atau Victoria and Albert Museum di London mendedikasikan pameran besar untuk seorang desainer dari negara tertentu, mereka mengangkatnya dari ranah komersial ke dalam kanon sejarah seni dan budaya.
  • Selebritas dan Ambassadors Mewah: Pemilihan selebritas global untuk menghadiri pertunjukan atau menjadi wajah kampanye merupakan strategi yang menghubungkan daya tarik budaya pop dengan prestise mode, memperluas jangkauan pengaruh suatu negara.

Kontribusi Acara terhadap Hierarki Global

Acara-acara seperti fashion week dan penghargaan industri (misalnya, CFDA Awards di AS atau ANDAM Prize di Prancis) secara aktif membentuk dan merefleksikan hierarki global. Jadwal ‘Big Four’ Fashion Week adalah urutan sakral yang menentukan aliran perhatian media dan uang. Paris, yang selalu menjadi penutup, menempati posisi puncak. Penghargaan sering kali bersifat nasionalistik, memperkuat ekosistem dalam negeri; memenangkan Penghargaan Desainer Of The Year di CFDA adalah pengakuan tertinggi dalam sistem Amerika, sementara mendapat dana dari ANDAM adalah pintu masuk ke kancah Prancis.

Acara-acara ini menciptakan siklus umpan balik: mereka menarik perhatian dan talenta, yang kemudian meningkatkan prestise acara tersebut, yang pada gilirannya semakin mengukuhkan posisi kota atau negara tuan rumah dalam hierarki dunia mode.

Penutup

Jadi, gelar Negara Pusat Mode Dunia pada akhirnya adalah narasi yang terus ditulis ulang. Ia bukan destinasi statis, melainkan perjalanan dinamis yang dipacu oleh sejarah, budaya, dan visi. Dominasi tradisional Eropa dan Amerika kini mendapat tembakan penyegar dari pusat-pusat kreatif baru yang menawarkan perspektif segar dan ritme yang berbeda. Dalam ekosistem global ini, pengakuan tidak lagi mutlak berasal dari satu pihak; ia tersebar di antara desainer, kurator, pembeli, dan bahkan suara digital dari miliaran pengguna media sosial.

Intinya, pusat mode mungkin memiliki alamat, tetapi pengaruhnya tak berbatas.

FAQ dan Panduan

Apakah ada negara yang pernah kehilangan statusnya sebagai pusat mode dunia?

Ya, sejarah mencatat pergeseran. Misalnya, London sempat mengalami masa suram pengaruhnya pasca-Perang Dunia II sebelum bangkit kembali di era “Swinging Sixties”. Pengaruh juga bisa memudar jika negara tersebut gagal berinovasi atau mengalami guncangan ekonomi dan politik yang parah, meski warisan dan fondasinya seringkali tetap diakui.

Bagaimana peran platform seperti TikTok dan Instagram mengubah konsep pusat mode?

Platform digital mendemokratisasi tren. Sebuah gaya yang viral dari Seoul atau Lagos bisa menjadi global dalam hitungan jam, menantang hierarki tradisional. Ibu kota mode kini harus bersaing dengan “trendsetter digital” dari mana saja, meskipun legitimasi industri tinggi (seperti pertunjukan runway resmi) masih sangat terpusat di kota-kota tertentu.

Paris, Milan, New York—mereka adalah pusat mode dunia yang bergerak dinamis layaknya pegas. Namun, tahukah kamu bahwa energi potensial di balik gerakan sebuah pegas, seperti pada Hitung Energi Potensial Pegas pada Simpangan 0,2 m , bisa dianalogikan dengan potensi kreatif yang tersimpan di ibu kota fashion itu. Konsep energi yang siap dilepaskan ini mencerminkan bagaimana ide-ide brilian di sana menunggu momen tepat untuk meledak dan mendikte tren global berikutnya.

Apakah negara dengan industri garment manufacturing terbesar otomatis menjadi pusat mode?

Tidak selalu. Negara seperti Bangladesh atau Vietnam adalah raksasa produksi, tetapi status pusat mode lebih ditentukan oleh pengaruh kreatif, kekuatan desain, branding, dan pengendalian narasi budaya. Kekuatan industri penting, tetapi tanpa kekuatan kreatif dan pengakuan budaya, sebuah negara lebih tepat disebut pusat produksi, bukan pusat mode.

Dapatkah sebuah kota menjadi pusat mode tanpa menjadi ibu kota negaranya?

Sangat mungkin. Contohnya adalah Milan (Italia) versus Roma, atau Shanghai (Tiongkok) versus Beijing. Faktor konsentrasi industri, sejarah desain, infrastruktur fashion week, dan magnet bagi talenta kreatif lebih menentukan daripada status politik suatu kota.

BACA JUGA  Peluang Empiris Mata Dadu 3 atau 6 dari 108 Lempar Analisis Data Nyata

Leave a Comment