Definisi Harfiah Sejarah dan Arti Kata Dari Masa ke Masa

Definisi Harfiah Sejarah dan Arti Kata ternyata menyimpan perjalanan panjang yang membentuk cara kita memandang masa lalu. Lebih dari sekadar kumpulan tanggal dan nama, kata “sejarah” sendiri adalah sebuah artefak linguistik yang telah berlayar melintasi budaya dan zaman, membawa serta muatan filosofis yang dalam.

Dari akar bahasa Arab hingga pertemuannya dengan konsep Yunani “history”, pemaknaan kata ini terus berevolusi. Pemahaman terhadap etimologi dan perkembangannya bukan hanya urusan akademis, tetapi kunci untuk membuka bagaimana suatu peradaban merekam, menafsir, dan akhirnya memahami narasi kolektifnya sendiri.

Asal-Usul dan Perkembangan Kata “Sejarah”

Untuk benar-benar nangkep apa itu sejarah, kita harus mundur ke belakang dan lihat dari mana kata ini berasal. Asal-usulnya ini nggak cuma sekadar trivia linguistik, tapi bener-bener membentuk cara kita memandang disiplin ini dari awal.

Kata “sejarah” dalam bahasa Indonesia itu pinjaman dari bahasa Arab, syajarah (شَجَرَة). Makna harfiahnya cukup poetik: “pohon”, “pohon silsilah”, atau “asal-usul”. Bayangkan sebuah pohon raksasa dengan akar yang dalam dan cabang yang menjulang; itu lah metafora yang dibawa kata ini. Ia mengisyaratkan sebuah narasi yang hidup, bertumbuh, dan saling terhubung, di mana setiap peristiwa adalah cabang dari batang utama, dan setiap individu adalah daun dalam silsilah yang lebih besar.

Perbandingan dengan “History” dari Bahasa Yunani dan Latin

Sementara kita pakai “sejarah”, dunia Barat pakai “history”. Kata ini punya leluhur yang berbeda sama sekali. “History” berasal dari bahasa Yunani kuno historia (ἱστορία), yang artinya “penyelidikan”, “pengetahuan yang diperoleh melalui penyelidikan”, atau “narasi tentang penyelidikan”. Kata ini kemudian diadopsi ke dalam bahasa Latin ( historia) dengan makna serupa. Di sini, tekanannya bukan pada metafora organik seperti pohon, tapi pada metode dan inquiry.

Historia itu tentang aktivitas mencari tahu, mengumpulkan bukti, dan kemudian menceritakannya.

Perbedaan konseptual ini menarik. “Syajarah” menekankan pada kontinuitas dan pertalian (seperti silsilah), sementara “historia” menekankan pada penyelidikan dan narasi atas penyelidikan itu sendiri. Dua titik berangkat yang berbeda ini, meski akhirnya membahas objek yang mirip, memberi warna awal yang unik pada persepsi tentang ilmu ini di masing-masing tradisi kebudayaan.

Bahasa Asal Kata Dasar Makna Harfiah Konsep yang Dibawa
Arab Syajarah (شَجَرَة) Pohon, silsilah Pertalian, asal-usul, pertumbuhan organik, kontinuitas.
Yunani Historia (ἱστορία) Penyelidikan, pencarian pengetahuan Inkuiri, metode penelitian, narasi berdasarkan penyelidikan.
Latin Historia Narasi peristiwa masa lalu, cerita Pengisahan, catatan, kronologi.
Indonesia (serapan) Sejarah Dari “syajarah”: pohon silsilah Peristiwa masa lalu yang saling terkait, asal-usul bangsa, kisah perjalanan.

Pemahaman etimologi ini membentuk persepsi awal yang kuat. Dari akar Arab, kita cenderung melihat sejarah sebagai sesuatu yang inherently connected dan punya akar yang bisa ditelusuri, seperti membaca sebuah silsilah keluarga yang agung. Pemahaman ini membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan seperti “dari mana kita berasal?” dan “bagaimana semua ini saling berkait?”. Sementara, tradisi Yunani-Latin mendorong pertanyaan “bagaimana kita tahu tentang masa lalu?” dan “apakah buktinya?”.

Keduanya penting, dan dalam praktik ilmu sejarah modern, kedua pendekatan ini sering kali berpadu.

Definisi Kamus dan Penafsiran Kontemporer

Setelah melacak akar katanya, mari kita lihat bagaimana kamus-kamus formal mendefinisikan “sejarah” dan bagaimana pemahaman itu berevolusi dalam percakapan sehari-hari kita. Definisi kamus memberikan batasan yang jelas, sementara penggunaan kontemporer sering kali lebih cair dan kontekstual.

BACA JUGA  Apa Ya Ungkapan Keseharian yang Penuh Makna

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan beberapa lapisan definisi yang cukup komprehensif. Secara umum, KBBI mendefinisikan sejarah sebagai: 1) asal-usul (keturunan) silsilah; 2) kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; 3) pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau. Kamus Etimologi Bahasa Indonesia karya Prof. J.S. Badudu juga menguatkan jalur penelusuran dari bahasa Arab syajarah tersebut.

“Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian pada masa lampau yang mempunyai catatan dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan.” – Pengertian operasional yang sering digunakan dalam akademisi.

Pergeseran Makna dalam Penggunaan Modern, Definisi Harfiah Sejarah dan Arti Kata

Dalam bahasa Indonesia modern, makna “sejarah” telah mengalami perluasan dan pergeseran nuansa. Kata ini tidak lagi hanya dikunci pada ruang kuliah atau buku teks, tapi hidup dalam berita, politik, dan bahkan percakapan santai. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana sebuah konsep akademis beradaptasi dengan kebutuhan ekspresi masyarakat.

  • Sejarah sebagai Momen Penting yang Ditetapkan: Kata ini sering dipakai untuk menandai suatu peristiwa yang dianggap “pembuka babak baru”, terlepas dari skalanya. Misalnya, “Ini adalah sejarah bagi klub sepakbola kami yang pertama kali menjuarai liga.” Di sini, “sejarah” berarti pencapaian tertinggi atau momen bersejarah yang akan dikenang.
  • Sejarah sebagai Narasi yang Disepakati (atau Diperdebatkan): Dalam wacana publik, frasa “versi sejarah” sering muncul. Ini mengindikasikan pengakuan bahwa sejarah bukanlah satu kebenaran mutlak, melainkan sebuah kisah yang dibangun dari interpretasi terhadap bukti, dan interpretasi itu bisa berbeda-beda tergantung siapa yang menulis.
  • Sejarah sebagai Identitas Kolektif: Penggunaan seperti “menghargai jasa pahlawan sejarah bangsa” menguatkan fungsi sejarah sebagai pilar pembentuk identitas dan kebanggaan nasional. Ia menjadi cerita bersama yang merekatkan komunitas.

Dimensi Makna dan Cakupan “Sejarah”

Definisi Harfiah Sejarah dan Arti Kata

Source: slidesharecdn.com

Ketika kita bicara “sejarah”, kita sebenarnya bisa merujuk pada tiga hal yang berbeda namun berkaitan erat. Memisahkan ketiga dimensi ini penting agar kita nggak kebingungan dalam membahasnya. Bayangkan ini sebagai tiga lapisan dari sebuah objek yang sama: lapisan realitas, lapisan cerita, dan lapisan ilmu tentang cara membuat cerita itu.

Pertama, ada sejarah sebagai peristiwa ( history as event). Ini adalah kejadian itu sendiri di masa lampau, yang terjadi sekali dan sudah selesai. Letusan Gunung Krakatau 1883 adalah sebuah peristiwa sejarah. Kedua, ada sejarah sebagai kisah ( history as narrative). Ini adalah upaya manusia untuk menceritakan kembali, merekonstruksi, dan memberi makna pada peristiwa tadi.

Buku, film dokumenter, atau cerita guru di kelas tentang Krakatau 1883 adalah sejarah sebagai kisah. Ketiga, ada sejarah sebagai ilmu pengetahuan atau historiografi. Ini adalah metodologinya; aturan main, teknik penelitian, kritik sumber, dan teori yang digunakan untuk menghasilkan “kisah” yang kredibel tadi.

Elemen Kunci dalam Berbagai Definisi Sejarah

Meski ada tiga dimensi, hampir semua definisi sejarah yang solid akan menyertakan beberapa elemen kunci. Tanpa elemen-elemen ini, suatu kajian mungkin akan lebih tepat disebut sebagai disiplin lain. Elemen-elemen itu adalah: waktu (lampau), perubahan atau perkembangan, dan manusia (atau masyarakat) sebagai aktor utamanya. Sejarah selalu berkaitan dengan manusia (atau dampak aktivitas manusia) yang berubah seiring waktu. Peristiwa geologis murni seperti terbentuknya gunung jutaan tahun lalu baru masuk wilayah sejarah jika dikaitkan dengan dampaknya pada peradaban manusia.

Dimensi Makna Fokus Utama Sifat Contoh Manifestasi
Sebagai Peristiwa (Histori) Apa yang benar-benar terjadi Objektif, unik, tidak terulang, telah berlalu. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Perang Diponegoro, jatuhnya Berlin Wall.
Sebagai Kisah (Historiografi dalam arti sempit) Bagaimana peristiwa itu diceritakan dan dipahami Subjektif (tergantung penulis), selektif, interpretatif. Buku “Revolusi Indonesia” karya George McTurnan Kahin, film “Soekarno”, pelajaran sejarah di sekolah.
Sebagai Ilmu Pengetahuan (Historiografi dalam arti luas) Metode dan teori untuk merekonstruksi kisah Metodologis, kritis, sistematis, terus berkembang. Metode kritik sumber (intern & ekstern), pendekatan sosial-ekonomi, sejarah lisan (oral history).
BACA JUGA  Tekanan Parsial CO2 dan Uap Air pada Kesetimbangan NaHCO₃ 125 °C Kp = 0.25

Arti kata dan batasan-batasan ini membentuk garis tentang apa yang bisa dan tidak bisa dikategorikan sebagai sejarah. Misalnya, cerita fiksi tentang masa lalu, meski settingnya historis, bukan sejarah karena tidak berusaha merekonstruksi peristiwa nyata berdasarkan bukti. Demikian juga, ramalan tentang masa depan jelas bukan sejarah karena tidak memenuhi elemen “waktu lampau”. Bahkan dalam menyeleksi peristiwa, ada bias: peristiwa yang dianggap “penting” (biasanya terkait kekuasaan, perubahan besar, atau konflik) lebih mungkin masuk kategori sejarah, sementara kehidupan sehari-hari orang biasa dulu sering diabaikan—hingga muncul aliran sejarah sosial yang memperluas batasan ini.

Konteks Penggunaan dan Nuansa Makna

Kekayaan sebuah kata sering kali baru terasa ketika kita melihatnya dipakai dalam berbagai konteks. Kata “sejarah” itu lentur; nuansa maknanya bergeser halus tergantung kata kerjanya atau frasa yang menyertainya. Perbedaan ini nggak cuma soal tata bahasa, tapi juga tentang sikap dan penekanan si pembicara terhadap masa lalu.

Mari kita uji dalam kalimat: “Tim itu membuat sejarah dengan menjadi juara,” sangat berbeda dengan “Saya sedang mempelajari sejarah Revolusi Industri,” dan keduanya lagi-lagi berbeda dengan “Peristiwa itu tertulis dalam sejarah.” Setiap frasa membawa muatan dan konotasi yang unik, mencerminkan hubungan dinamis kita dengan waktu lampau.

Analisis Frasa Kunci dalam Penggunaan “Sejarah”

  • “Membuat Sejarah”: Frasa ini memiliki konotasi yang sangat positif dan aktif. Ia mengisyaratkan agency (keagenan) dan pencapaian. Subjeknya adalah pelaku yang sedang mengukir momen penting yang akan dikenang di masa depan. Nuansanya heroik, progresif, dan sering digunakan dalam konteks olahraga, politik, atau penemuan ilmiah.
  • “Mempelajari/Belajar Sejarah”: Konotasinya netral dan intelektual. Frasa ini merujuk pada proses akademis atau penggalian pengetahuan. Ia menempatkan sejarah sebagai sebuah objek studi, suatu badan pengetahuan yang perlu dianalisis, dipahami, dan dikritisi. Fokusnya ada pada pemahaman, bukan penciptaan.
  • “Tertulis dalam Sejarah”: Frasa ini bernuansa final, otoritatif, dan sering kali monumental. Ia mengimplikasikan bahwa suatu peristiwa telah melewati proses seleksi, diakui pentingnya, dan telah masuk ke dalam kanon atau catatan resmi. Ia juga bisa mengandung peringatan, seperti “kelakuan burukmu akan tertulis dalam sejarah,” yang berarti akan dikenang selamanya sebagai aib.

Berdasarkan pemahaman ini, cara sebuah masyarakat memahami “peristiwa bersejarah” sangat dipengaruhi oleh makna kata ini. Sebuah peristiwa tidak otomatis “bersejarah” hanya karena terjadi di masa lalu. Ia harus dianggap memiliki signifikansi, baik karena mengakibatkan perubahan besar, mewakili nilai-nilai tertentu, atau menjadi titik balik. Masyarakatakat akan mendiskusikan, memperdebatkan, dan akhirnya—melalui pendidikan, media, dan peringatan—menetapkan konsensus (yang bisa berubah) tentang peristiwa mana yang layak menyandang gelar “bersejarah”.

Proses ini sendiri adalah bagian dari dinamika sosial-politik yang menarik untuk diamati.

Relasi dengan Konsep Terkait

Sejarah tidak berdiri sendiri di menara gading. Ia berinteraksi, tumpang tindih, dan terkadang disalahpahami dengan beberapa bidang pengetahuan lain yang juga berurusan dengan masa lalu. Menjernihkan hubungan ini penting agar kita nggak mencampuradukkan dongeng dengan catatan penelitian, atau artefak dengan interpretasi.

Bayangkan sebuah spektrum pengetahuan tentang masa lalu. Di satu ujung, ada narasi yang sepenuhnya imajinatif dan simbolis (mitologi). Bergerak sedikit, kita temukan cerita rakyat yang berakar pada komunitas tertentu namun batas antara fakta dan fiksi sudah kabur. Lalu, ada sejarah yang berusaha keras berdiri di atas bukti. Sementara itu, arkeologi bekerja di lapangan yang paralel, menyediakan bukti material mentah yang sering menjadi fondasi bagi rekonstruksi sejarah.

BACA JUGA  Besar Anuitas Pinjaman Rp20 Juta 5 Tahun Bunga 3% Bulanan Hitung Cicilanmu

Perbandingan Cakupan dan Metodologi

Perbedaan utama terletak pada objek material (apa yang dipelajari), metode (bagaimana mempelajarinya), dan tujuan akhir pengetahuan itu sendiri. Mitologi, misalnya, tidak berpretensi untuk dibuktikan secara empiris; kebenarannya bersifat transendental. Cerita rakyat sering kali disampaikan secara lisan dan bertujuan untuk menghibur atau mengajarkan nilai. Sejarah dan arkeologi lebih ketat secara metodologis, meski dengan alat yang berbeda: sejarah mengandalkan dokumen dan teks, arkeologi pada benda fisik.

Konsep Objek Material Metode Utama Tujuan Pengetahuan
Sejarah Peristiwa manusia di masa lampau yang terdokumentasi. Kritik sumber, interpretasi dokumen, analisis konteks. Rekonstruksi dan pemahaman kritis atas perubahan masyarakat manusia dalam waktu.
Cerita Rakyat (Folklor) Tradisi lisan, legenda, dongeng, kepercayaan lokal suatu komunitas. Pengumpulan dan analisis tradisi lisan, etnografi. Melestarikan identitas budaya, nilai-nilai, dan kearifan lokal; hiburan.
Mitologi Dewa-dewi, makhluk supranatural, dan kisah asal-usul kosmis. Analisis sastra, simbol, dan perbandingan mitos. Menjelaskan fenomena alam, tatanan sosial, dan realitas transenden; memberikan makna eksistensial.
Arkeologi Benda-benda material peninggalan masa lampau (artefak, ekofak, fitur). Ekskavasi, survei, analisis laboratorium (seperti C14). Rekonstruksi kehidupan manusia purba dan budaya material yang tidak atau kurang terdokumentasi secara tertulis.

Pemahaman yang jelas tentang definisi “sejarah” sangat penting untuk membedakannya dari konsep-konsep tetangganya. Tanpa itu, kita berisiko merelatifkan sejarah menjadi sekadar “kisah masa lalu” yang nilainya sama dengan dongeng, atau sebaliknya, menganggap temuan arkeologi sebagai sejarah itu sendiri padahal ia masih butuh interpretasi historis. Sejarah, dengan komitmennya pada bukti, kritik, dan narasi yang bertanggung jawab, menawarkan cara yang unik dan sangat diperlukan untuk berdialog dengan masa lalu, belajar darinya, dan memahami lintasan yang membawa kita ke kondisi sekarang.

Membingkai ulang pertanyaan “apa itu sejarah” membantu kita menghargai kekhasan dan kontribusi masing-masing bidang ini.

Penutupan Akhir: Definisi Harfiah Sejarah Dan Arti Kata

Dengan menelusuri definisi harfiah hingga dimensi maknanya yang kompleks, menjadi jelas bahwa sejarah bukanlah monolit yang statis. Ia adalah dialektika antara peristiwa yang telah sirna dan kisah yang terus ditulis ulang. Pemahaman mendalam tentang arti kata ini justru menjadi benteng untuk membedakan narasi berbasis bukti dari mitos, serta mengapresiasi bahwa setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk menyebut “masa lalu” yang penuh makna.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua peristiwa masa lalu bisa disebut sejarah?

Tidak. Dalam disiplin ilmu sejarah, suatu peristiwa biasanya baru dianggap “sejarah” jika memenuhi unsur seperti dampak signifikan, bukti atau rekaman yang dapat ditelusuri, dan melibatkan perubahan atau perkembangan dalam kehidupan manusia. Peristiwa sehari-hari yang biasa dan tidak meninggalkan jejak sering kali berada di luar batasan ini.

Mengapa ada banyak definisi sejarah yang berbeda-beda?

Perbedaan definisi muncul karena sudut pandang yang beragam. Sejarah dapat didekati sebagai rangkaian peristiwa objektif (sejarah sebagai peristiwa), sebagai narasi atau tulisan tentang peristiwa itu (sejarah sebagai kisah), atau sebagai metode ilmu pengetahuan untuk meneliti masa lalu (historiografi). Masing-masing penekanan melahirkan definisi yang berbeda.

Apa hubungan antara makna harfiah “sejarah” dari Arab dengan praktik penulisan sejarah modern?

Makna harfiah “syajaratun” (pohon) yang mengilhami kata “sejarah” menekankan pada silsilah, pertumbuhan, dan keterkaitan. Konsep ini masih relevan dalam sejarah modern yang melihat peristiwa bukan sebagai titik yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari proses yang saling berhubungan dan berkembang, layaknya ranting dan dahan pada sebuah pohon.

Bagaimana membedakan sejarah dengan dongeng atau cerita rakyat?

Perbedaan utama terletak pada metode dan tujuannya. Sejarah bertujuan merekonstruksi masa lalu berdasarkan bukti empiris (prasasti, dokumen, artefak) yang dikritisi secara ilmiah. Sementara dongeng dan cerita rakyat lebih berfungsi sebagai hiburan, pengajaran moral, atau penjelasan simbolis atas suatu fenomena, tanpa tuntutan verifikasi fakta secara ketat.

Leave a Comment