Tulisan Karangan dengan Kesatuan, Koherensi, dan Pengembangan Alinea itu ibarat meracik kopi spesial. Bukan cuma soal bijinya, tapi bagaimana kamu menyangrai, menggiling, dan menyeduhnya hingga setiap tegukan punya cerita. Tanpa resep yang pas, yang ada cuma secangkir cairan pahit yang bikin pembaca mengernyit. Nah, tiga pilar ini adalah resep rahasianya. Mereka yang akan mengubah tumpukan kata-kata biasa menjadi sebuah karangan yang enak dibaca, mengalir mulus, dan bikin ide-ide di kepala pembaca langsung nyambung.
Bayangkan kamu lagi bercerita ke teman. Kalau loncat-loncat topik, dia pasti bingung. Kalau alurnya kacau, dia bakal ninggalin kamu. Prinsip yang sama berlaku di tulisan. Kesatuan memastikan setiap paragraf punya satu pesan utama yang kuat.
Koherensi adalah lem yang merekatkan kalimat-kalimat itu agar nyambung dan logis. Sementara pengembangan alinea adalah senjata untuk mengolah ide pokok itu jadi penjelasan yang kaya, mendalam, dan meyakinkan. Ketiganya bekerja sama membangun fondasi yang kokoh.
Memahami Fondasi Karangan yang Baik
Bayangkan kamu sedang membangun rumah. Pondasinya harus kokoh, dinding-dindingnya harus tersambung rapi, dan setiap ruangannya harus punya fungsi yang jelas. Begitu pula dengan menulis karangan. Tiga pilar utamanya—kesatuan, koherensi, dan pengembangan alinea—adalah fondasi, sambungan, dan fungsi dari rumah tulisanmu. Tanpa ketiganya, tulisan akan seperti gubuk reyot: mudah roboh dan sulit ditinggali oleh pikiran pembaca.
Kesatuan memastikan semua material (kalimat) membentuk satu dinding yang utuh untuk satu ide. Koherensi adalah semen dan paku yang menyambungkan bata-bata itu dengan kuat dan logis. Sementara pengembangan alinea adalah bagaimana kamu mendesain ruangan itu: apakah jadi kamar tidur yang nyaman, dapur yang fungsional, atau ruang tamu yang memesona. Integrasi ketiganya menghasilkan tulisan yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah diikuti dan berkesan.
Untuk melihat perbedaannya dengan lebih jelas, mari kita bandingkan ciri-ciri karangan yang baik dan yang kurang dalam tabel berikut.
| Aspek | Karangan yang Baik | Karangan yang Kurang |
|---|---|---|
| Kesatuan (Unity) | Setiap alinea fokus pada satu ide pokok. Semua kalimat mendukung dan menjelaskan kalimat topik. | Alinea mengandung lebih dari satu ide utama. Terdapat kalimat yang melenceng atau tidak relevan dengan ide pokok. |
| Koherensi (Coherence) | Gagasan mengalir logis dari satu kalimat ke kalimat berikutnya. Menggunakan kata transisi, repetisi, dan struktur paralel untuk memperjelas hubungan. | Lompatan ide yang membingungkan. Kalimat-kalimat terasa terpisah-pisah seperti kumpulan pernyataan yang tidak berhubungan. |
| Pengembangan Alinea | Ide pokok dikembangkan secara memadai dengan contoh, penjelasan, sebab-akibat, atau perbandingan yang relevan. | Alinea terlalu pendek dan tidak menjelaskan ide pokok, atau justru bertele-tele tanpa pengembangan yang terarah. |
Kesatuan dalam Sebuah Alinea
Kesatuan adalah prinsip pertama dan paling mendasar. Dalam konteks alinea, kesatuan berarti semua bagian—setiap kata dan kalimat—bekerja sama untuk menyampaikan satu pesan inti. Kalimat topik ibarat komandan, sementara kalimat-kalimat pendukung adalah pasukan yang setia menjalankan perintah. Jika ada pasukan yang membelot atau malah membicarakan hal lain, kesatuan itu pun runtuh.
Penyebab Umum Hilangnya Kesatuan
Kesatuan seringkali buyar tanpa kita sadari. Penyebab utamanya biasanya adalah ketidaksadaran akan batas satu ide. Penulis mungkin terlalu bersemangat dan memasukkan fakta menarik tapi di luar konteks, atau beralih ke penjelasan baru sebelum yang pertama tuntas. Kalimat yang seharusnya menjadi ide pokok untuk alinea baru justru diselipkan di tengah-tengah, mengacaukan fokus.
Teknik Menguji Kesatuan Sebuah Alinea
Cara paling sederhana untuk menguji kesatuan adalah dengan teknik “highlight mental”. Setelah menulis satu alinea, baca kembali dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa satu ide utama yang ingin saya sampaikan di sini?” Kemudian, telusuri setiap kalimat dan sorot secara imajinasi apakah kalimat itu langsung mendukung ide utama tersebut. Jika ada kalimat yang membuatmu berpikir, “Hmm, ini agak nyambung tapi kok seperti membahas hal yang sedikit berbeda?”, itu adalah tanda bahaya.
Langkah Praktis Memastikan Kesatuan
Berikut adalah langkah-langkah konkret yang bisa kamu terapkan selama menulis dan merevisi.
- Rumuskan Kalimat Topik yang Jelas: Sebelum mulai, pastikan kamu tahu persis apa ide pokok alinea itu. Tuliskan dalam satu kalimat yang tegas.
- Gunakan Kalimat Topik sebagai Pemandu: Letakkan kalimat topik di awal (umumnya) atau akhir alinea. Selama menulis, sering-seringlah merujuk kembali padanya.
- Lakukan Uji Relevansi: Untuk setiap kalimat yang kamu tambahkan, tanyakan, “Apakah kalimat ini menjelaskan, membuktikan, atau mengembangkan ide dari kalimat topik saya?” Jika jawabannya “tidak”, buang atau pindahkan ke alinea lain.
- Hindari Penyimpangan: Waspadai godaan untuk memasukkan “info menarik” tapi di luar jalur. Simpan info itu untuk bagian lain yang lebih relevan.
- Satukan dalam Parafrase: Setelah selesai, coba parafrase (ucapkan dengan kata-katamu sendiri) isi alinea itu dalam satu kalimat. Jika bisa dan tetap sesuai dengan kalimat topik awal, kesatuannya kuat.
Koherensi dan Keterhubungan Antar Gagasan: Tulisan Karangan Dengan Kesatuan, Koherensi, Dan Pengembangan Alinea
Source: slidesharecdn.com
Jika kesatuan adalah tentang “apa” yang dibahas, koherensi adalah tentang “bagaimana” gagasan-gagasan itu disajikan agar saling terkait. Koherensi menciptakan jembatan antar kalimat, sehingga pembaca bisa berjalan dari satu pikiran ke pikiran berikutnya tanpa tersandung. Tanpa koherensi, tulisan yang sudah memiliki kesatuan pun akan terasa kaku dan tersendat-sendat, seperti mendengarkan cerita dari seseorang yang sering kehilangan titik ceritanya.
Alur logis yang diciptakan koherensi ini sangat penting untuk kemudahan pemahaman. Otak pembaca secara alami mencari pola dan hubungan. Ketika kamu, sebagai penulis, memberikan petunjuk hubungan itu, pembaca akan merasa dibimbing dengan baik dan tidak perlu bekerja keras untuk menyambung-nyambungkan sendiri informasi yang kamu berikan.
Teknik Penciptaan Koherensi
Beberapa teknik ampuh untuk membangun koherensi antara lain penggunaan kata transisi yang tepat, pengulangan kata kunci atau sinonimnya secara strategis, dan penerapan struktur paralel. Kata transisi berfungsi seperti rambu-rambu lalu lintas bagi pikiran pembaca. Pengulangan kata kunci menjaga agar fokus pembaca tidak melayang. Sementara struktur paralel menciptakan ritme dan kejelasan yang memudahkan pemrosesan informasi.
Untuk memahami fungsi kata transisi dengan lebih baik, perhatikan tabel berikut.
| Kategori Hubungan | Contoh Kata/Kata Transisi | Fungsi | Contoh dalam Kalimat |
|---|---|---|---|
| Penambahan | selain itu, lebih lanjut, kemudian | Menambah informasi sejalan. | Belajar menulis butuh latihan konsisten. Selain itu, diperlukan juga bacaan yang berkualitas. |
| Perbandingan | demikian pula, sama halnya, sebaliknya | Menyatakan kesamaan atau perbedaan. | Kesatuan menjaga fokus. Demikian pula, koherensi menjaga kelancaran. |
| Sebab-Akibat | oleh karena itu, sehingga, akibatnya | Menunjukkan hubungan sebab dan akibat. | Kalimat topiknya tidak jelas. Akibatnya, seluruh alinea menjadi kacau. |
| Waktu/Urutan | pertama, selanjutnya, akhirnya | Mengurutkan peristiwa atau langkah. | Pertama, rumuskan kalimat topik. Selanjutnya, kembangkan dengan contoh. |
| Kesimpulan | jadi, dengan demikian, ringkasnya | Menyimpulkan atau meringkas. | Kesatuan, koherensi, dan pengembangan saling melengkapi. Dengan demikian, integrasi ketiganya mutlak diperlukan. |
Contoh Analisis Alinea yang Koheren, Tulisan Karangan dengan Kesatuan, Koherensi, dan Pengembangan Alinea
Mari kita lihat sebuah contoh alinea yang koheren dan teliti mengapa ia berhasil.
Proses kreatif menulis seringkali tidak linear. Banyak penulis berpengalaman justru memulai dari tengah, dari sebuah adegan atau dialog kuat yang tiba-tiba terpikir. Namun, setelah coretan pertama itu mengalir, mereka biasanya berhenti sejenak. Pada titik inilah kesadaran akan struktur—termasuk kesatuan dan koherensi—mulai bekerja. Dengan kata lain, kebebasan ekspresi di awal perlu ditemani oleh kedisiplinan revisi di tahap selanjutnya untuk menghasilkan karya yang utuh.
Alinea ini koheren karena menggunakan beberapa teknik sekaligus. Kata “namun” menunjukkan pertentangan halus antara “tidak linear” dengan “berhenti sejenak”. Frase “pada titik ini” menjadi penanda waktu yang jelas. Pengulangan kata kunci “penulis” dan variasi seperti “mereka” menjaga subjek tetap konsisten. Kemudian, transisi “dengan kata lain” digunakan untuk menyimpulkan dan memperjelas hubungan antara “kebebasan ekspresi” dan “kedisiplinan revisi”, yang sebenarnya adalah inti dari paragraf tersebut.
Membuat karangan yang solid itu kayak bikin rumah: butuh kesatuan ide, koherensi antaralinea, dan pengembangan yang runut. Nah, prinsip yang sama bisa lo lihat dalam Dasar Berlakunya Hukum Adat di Indonesia , di mana aturan-aturan lokal tersusun rapi dalam satu kesatuan sistem. Dari sini, kita belajar bahwa tulisan yang baik juga harus punya fondasi kuat dan alur yang saling menyambung, biar pesannya nggak tercecer begitu aja.
Alur logisnya terasa sangat natural.
Teknik Pengembangan Alinea yang Efektif
Setelah punya ide pokok yang solid (kesatuan) dan tahu cara menyambungkannya (koherensi), tantangan selanjutnya adalah mengisi “ruangan” itu agar hidup dan berfungsi. Di sinilah berbagai metode pengembangan alinea berperan. Setiap metode ibarat alat pertukangan yang berbeda: palu untuk memaku, gergaji untuk memotong. Memilih alat yang tepat tergantung pada apa yang ingin kamu bangun dan bahan yang kamu miliki.
Pengembangan yang efektif berarti memberikan “daging” pada “tulang” ide pokok. Tanpanya, alinea hanya akan menjadi pernyataan klise yang menggantung dan tidak memberi nilai lebih bagi pembaca.
Metode dan Contoh Pengembangan Alinea
Berikut adalah beberapa metode pengembangan yang umum, disertai contoh penerapannya dalam sebuah alinea.
Ilustrasi/Contoh: Mengembangkan ide dengan memberikan contoh konkret.
Kesatuan dalam alinea dapat dicapai dengan berbagai cara. Salah satu teknik yang paling efektif adalah dengan menggunakan kalimat penjelas yang spesifik. Misalnya, jika kalimat topik membahas “manfaat membaca”, jangan hanya menulis “membaca menambah wawasan”. Kembangkan dengan ilustrasi: “Membaca biografi tokoh sejarah, seperti karya tentang Bung Hatta, tidak hanya memberi tahu kita tanggal peristiwa, tetapi juga membawa kita menyelami dilema, kegalauan, dan prinsip hidup yang membentuk keputusan-keputusan besarnya.”
Definisi: Menjelaskan makna suatu istilah atau konsep.
Koherensi dalam kepenulisan sering disamakan dengan “kelancaran”. Namun, definisi yang lebih tepat adalah “keterhubungan yang logis dan mudah diikuti antar unsur dalam sebuah teks”. Keterhubungan ini tidak terjadi secara kebetulan, tetapi dibangun secara sengaja melalui piranti linguistik seperti kata transisi dan pengulangan referensi.
Sebab-Akibat: Menjelaskan hubungan sebab-akibat dari suatu fenomena.
Pengabaian terhadap kalimat topik seringkali berakibat fatal pada keseluruhan alinea. Karena tidak ada patokan yang jelas, penulis akan mudah tergoda untuk memasukkan informasi di luar konteks. Akibatnya, pembaca akan kesulitan menangkap inti pesan dan mungkin kehilangan minat untuk melanjutkan bacaan.
Perbandingan/Kontras: Memperjelas dengan membandingkan atau mempertentangkan dengan hal lain.
Mengembangkan alinea dengan metode klasifikasi berbeda dengan metode ilustrasi. Klasifikasi bekerja dengan memecah suatu ide umum menjadi kategori-kategori yang lebih spesifik dan saling terpisah. Sementara itu, ilustrasi justru mendalami satu ide umum tersebut dengan memberikan gambaran-gambaran rinci dan konkret. Yang satu melebar secara horizontal, yang lain menyelam secara vertikal.
Prosedur Memilih Metode Pengembangan
Memilih metode yang pas tidak perlu rumit. Ikuti langkah-langkah praktis ini.
- Identifikasi Tujuan Penulisan: Apakah kamu ingin menjelaskan (definisi, ilustrasi), meyakinkan (sebab-akibat, contoh), menganalisis (klasifikasi, perbandingan), atau menceritakan (kronologi)?
- Analisis Jenis Gagasan Pokokmu: Apakah itu sebuah konsep abstrak yang butuh contoh (ilustrasi)? Apakah itu sebuah istilah teknis (definisi)? Apakah itu sebuah klaim tentang hubungan (sebab-akibat)?
- Pertimbangkan Pengetahuan Pembaca: Untuk pembaca awam, metode ilustrasi dan contoh akan lebih mudah dicerna. Untuk pembaca yang lebih ahli, klasifikasi atau perbandingan mungkin lebih bernilai.
- Campur dan Padankan: Satu alinea bisa menggunakan lebih dari satu metode. Kamu bisa mulai dengan definisi singkat, lalu berikan contoh, dan akhiri dengan implikasinya (sebab-akibat).
- Uji Kepadatan: Setelah dikembangkan, baca kembali. Apakah ide pokoknya sudah terjelaskan dengan memuaskan? Atau masih terasa dangkal? Jika dangkal, tambahkan lapisan pengembangan lain dengan metode yang komplementer.
Integrasi Praktis: Merancang dan Merevisi Alinea
Teori tanpa praktik ibarat peta tanpa perjalanan. Bagian ini akan mengajakmu melihat langsung bagaimana ketiga pilar itu bekerja sama dalam proses menulis dan merevisi. Mari kita mulai dari sebuah kalimat topik mentah dan menyulapnya menjadi alinea yang utuh, terhubung, dan berkembang.
Ambil contoh kalimat topik: “Membaca fiksi dapat meningkatkan empati.” Ini adalah klaim yang menarik tapi masih abstrak. Tugas kita adalah mengembangkannya.
Proses Menyusun Sebuah Alinea
Pertama, kita pastikan kesatuan. Semua yang kita tulis harus berhubungan dengan klaim bahwa fiksi meningkatkan empati. Kita tidak akan membahas genre fiksi atau teknik menulis cerpen.
Kedua, kita bangun koherensi. Kita akan sambungkan kalimat-kalimat kita dengan transisi dan pengulangan yang halus.
Ketiga, kita pilih metode pengembangan. Metode sebab-akibat dan ilustrasi cocok di sini. Kita akan jelaskan mekanismenya (sebab-akibat) dan beri contoh konkret (ilustrasi).
Membaca fiksi dapat secara signifikan meningkatkan kemampuan empati seseorang. Hal ini terjadi karena ketika kita menyelami cerita, kita secara tidak sadar berlatih mengisi pikiran dan perasaan karakter—sebuah proses yang dalam psikologi disebut “theory of mind”. Misalnya, saat membaca novel “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata, kita tidak hanya mengetahui bahwa Ikal bersekolah di sekolah miskin, tetapi kita turut merasakan getirnya perjuangan, gemas pada kelucuan tokoh-tokohnya, dan haru akan ikatan persahabatan mereka. Pengalaman imajinatif yang intens dan berulang inilah yang, menurut berbagai studi, melatih otak untuk lebih peka dalam memahami perspektif orang lain di dunia nyata.
Perhatikan integrasinya: Semua kalimat mendukung ide “fiksi tingkatkan empati” (kesatuan). Ada transisi seperti “hal ini terjadi karena” dan “misalnya”, serta pengulangan kata kunci “empati”, “memahami”, “perspektif” (koherensi). Pengembangan dilakukan dengan penjelasan sebab-akibat (proses theory of mind) dan diikuti ilustrasi spesifik (contoh novel) yang memperkuat klaim awal.
Teknik Merevisi Alinea
Revisi adalah di mana keajaiban terjadi. Setelah draft pertama selesai, lakukan pemeriksaan dengan kacamata ketiga ini.
- Untuk Kesatuan: Baca setiap kalimat dan tanyakan, “Apa hubungannya dengan kalimat topik?” Coret atau pindahkan kalimat yang menjadi “lone ranger”.
- Untuk Koherensi: Baca dengan suara lantang. Apakah ada jeda atau lompatan yang membuatmu tersedak? Tambahkan kata transisi yang sesuai atau ubah urutan kalimat untuk alur yang lebih logis.
- Untuk Pengembangan: Tanyakan, “Sudahkah saya menjawab pertanyaan ‘mengapa’ atau ‘bagaimana’ dari ide pokok saya?” Jika belum, tambahkan lapisan penjelasan, data, atau contoh lain.
Pertanyaan Panduan Evaluasi Alinea
Gunakan daftar pertanyaan ini sebagai checklist pribadi setelah menulis setiap bagian penting.
Nah, kalau kamu lagi berusaha menyusun karangan yang solid, ingat tiga pilar utamanya: kesatuan, koherensi, dan pengembangan alinea. Biar lebih nyata, coba lihat contoh penerapannya dalam analisis mendalam tentang Pengaruh Siklus Hidrologi terhadap Banjir Bandang serta Proses Terkait. Dari sana, kamu akan belajar bagaimana sebuah ide kompleks diurai dengan runtut dan saling terhubung, yang akhirnya menguatkan skill menulismu sendiri dalam menyajikan argumen yang padu dan mengalir.
- Dapatkah saya menyatakan ide pokok alinea ini dalam satu kalimat yang sederhana?
- Apakah semua kalimat lain secara langsung menjelaskan, membuktikan, atau mengembangkan ide pokok tersebut?
- Apakah urutan antar kalimat sudah logis dan mudah diikuti? Apakah saya perlu memberikan “jembatan” (kata transisi)?
- Apakah saya sudah memberikan cukup “daging” (contoh, alasan, detail) untuk membuat ide pokok ini meyakinkan dan jelas?
- Apakah ada kalimat yang repetitif tanpa menambah nilai baru? Bisakah disingkat atau digabung?
- Jika saya adalah pembaca yang awam, apakah saya akan memahami maksud alinea ini dengan sekali baca?
Bagan Alur Proses Penulisan dan Revisi
Bayangkan sebuah bagan alur yang dimulai dari kotak berlabel “Tentukan Ide Pokok / Kalimat Topik”. Dari sana, panah mengarah ke dua kotak paralel: “Kembangkan dengan Metode yang Sesuai (Ilustrasi, Sebab-Akibat, dll)” dan “Susun Kalimat Pendukung yang Relevan”. Kedua proses ini berjalan beriringan.
Kemudian, kedua jalur itu bertemu dalam sebuah kotak besar berlabel “Draft Alinea Pertama”. Dari kotak ini, panah mengarah ke proses siklikal yang berlabel “Siklus Revisi”. Dalam siklus ini, terdapat tiga tahap berurutan: “Periksa & Perkuat Kesatuan”, “Periksa & Perkuat Koherensi”, dan “Periksa & Perkuat Pengembangan”. Panah dari tahap “Pengembangan” bisa berputar kembali ke tahap “Kesatuan” atau “Koherensi” jika dalam pengembangan ditemukan ketidakkonsistenan.
Akhirnya, ketika semua pemeriksaan memberi hasil yang memuaskan, panah keluar dari siklus menuju kotak akhir: “Alinea yang Utuh, Koheren, dan Terkembang”. Bagan ini menggambarkan bahwa menulis adalah proses iteratif, bukan linear. Kita boleh bolak-balik antara menambah, mengurangi, dan menyusun ulang hingga semuanya terintegrasi dengan optimal.
Simpulan Akhir
Jadi, sudah punya gambaran, kan? Menulis karangan yang solid itu bukan bakat bawaan, tapi keterampilan yang bisa diasah. Mulai dari memastikan setiap alinea punya jiwa yang utuh, lalu merangkai kalimat dengan koherensi yang membuat pembaca meluncur tanpa hambatan, hingga mengembangkan gagasan dengan berbagai teknik yang tepat. Prosesnya mirip mengukir, di mana kamu terus memahat dan menghaluskan hingga bentuknya sempurna.
Yang terpenting, jangan takut untuk menulis dulu, lalu revisi. Pakai pertanyaan panduan dan bagan alur tadi sebagai teman berdiskusi untuk karyamu sendiri. Pada akhirnya, tulisan yang baik adalah yang bisa menyampaikan isi kepala penulis dengan jernih ke kepala pembaca. Dengan menguasai trik kesatuan, koherensi, dan pengembangan ini, kamu bukan cuma menulis, tapi sedang membangun jembatan antar pikiran. Selamat mencoba dan jadilah arsitek bagi kata-katamu sendiri!
FAQ Terperinci
Apakah setiap paragraf wajib memiliki kalimat topik di awal?
Tidak selalu wajib, tetapi sangat disarankan, terutama untuk penulis pemula. Kalimat topik di awal berfungsi sebagai peta bagi pembaca. Namun, dalam tulisan naratif atau kreatif, ide pokok bisa tersirat di tengah atau akhir paragraf untuk menciptakan efek tertentu.
Bagaimana jika ide yang ingin dikembangkan terlalu kompleks untuk satu paragraf?
Itu tanda bahwa ide tersebut perlu dipecah. Pertahankan satu gagasan utama per paragraf. Jika kompleks, buatlah paragraf pertama sebagai pengantar gagasan besar, lalu paragraf-paragraf berikutnya masing-masing mengembangkan satu aspek atau spesifik dari gagasan besar tersebut, dengan tetap menjaga koherensi antar paragraf.
Apakah penggunaan kata transisi yang berlebihan bisa merusak koherensi?
Bisa sekali. Penggunaan kata transisi seperti “oleh karena itu”, “selanjutnya”, atau “di sisi lain” yang berlebihan dan tidak tepat justru membuat tulisan terasa kaku dan dipaksakan. Koherensi terbaik datang dari logika gagasan itu sendiri, kata transisi hanya pelumas. Gunakan secukupnya dan hanya ketika benar-benar diperlukan untuk memperjelas hubungan.
Metode pengembangan alinea mana yang paling ampuh?
Tidak ada yang paling ampuh. Keampuhan sebuah metode bergantung pada tujuan komunikasi. Untuk meyakinkan, gunakan sebab-akibat atau ilustrasi. Untuk menjelaskan konsep abstrak, gunakan definisi atau analogi. Kunci utamanya adalah menyesuaikan metode dengan apa yang ingin kamu capai terhadap pembaca.
Bagaimana cara mendeteksi paragraf yang tidak koheren saat merevisi tulisan sendiri?
Coba baca paragraf tersebut dengan suara lantang. Jika terdengar tersendat-sendat atau kamu sendiri merasa perlu menambahkan penjelasan di luar teks, itu pertanda ada masalah koherensi. Cara lain, tutup kalimat topik dan tanyakan pada setiap kalimat berikutnya: “Apa hubungan spesifikmu dengan kalimat sebelumnya?” Jika jawabannya samar, berarti koherensi perlu diperbaiki.