Manusia Gelandangan Pengembara yang Berpindah itu bukan sekadar romantisme jalanan atau pelarian dari kenyataan. Mereka adalah arsitek realitasnya sendiri, memilih untuk mendefinisikan ‘rumah’ bukan sebagai koordinat peta, melainkan sebagai rangkaian pengalaman dan pertemuan. Bayangkan hidup di mana kepemilikan materi diringkas menjadi satu tas punggung, dan dunia adalah ruang tamu yang tak terbatas. Ini adalah pilihan hidup yang radikal, sebuah eksperimen sosial yang nyata, di mana kebebasan dan ketidakpastian berjalan beriringan seperti dua sahabat lama.
Gaya hidup ini merangkul filosofi minimalisme ekstrem dan adaptasi konstan, menarik benang merah dari tradisi nomaden nenek moyang ke dalam konteks dunia modern yang serba terhubung. Dari seniman jalanan, pekerja digital, hingga pencari spiritual, profil mereka beragam, namun disatukan oleh keinginan untuk lepas dari pola tetap. Mereka menukar stabilitas konvensional dengan kebebasan untuk bergerak, memenuhi kebutuhan dasar dengan kreativitas, dan terus-menerus membentuk ulang identitasnya di tengah interaksi dengan komunitas yang berbeda di setiap persinggahan.
Makna dan Filosofi Pengembaraan
Di balik gambaran romantis jalanan dan ransel yang selalu siap, ada sebuah filosofi hidup yang dalam. Menjadi manusia gelandangan pengembara bukan sekadar soal tidak punya alamat tetap, melainkan sebuah pilihan sadar untuk mendefinisikan ulang hubungan seseorang dengan ruang, kepemilikan, dan masyarakat. Dari kacamata sosiologis, ini adalah bentuk resistensi halus terhadap struktur masyarakat modern yang seringkali kaku, di mana nilai seseorang diukur dari aset dan stabilitasnya.
Sementara secara filosofis, ini adalah praktik eksistensialisme yang nyata—sebuah upaya untuk menemukan makna melalui pengalaman langsung dan kebebasan mutlak atas lintasan hidup sendiri.
Gaya hidup ini sering dibandingkan dengan tradisi nomaden kuno, namun dengan konteks dan alat yang sangat berbeda. Jika dulu perpindahan adalah soal kelangsungan hidup dan adaptasi ekologis, kini pengembaraan modern lebih banyak didorong oleh pencarian identitas, kelegaan dari kejenuhan, atau sekadar keyakinan bahwa dunia adalah rumah yang harus dijelajahi setiap sudutnya.
Perbandingan Pengembaraan Modern dan Tradisi Nomaden Kuno
Meski terlihat mirip, esensi dan praktik antara pengembara kontemporer dan masyarakat nomaden tradisional memiliki perbedaan mendasar. Tabel berikut menguraikan beberapa perbandingan kunci di berbagai budaya.
| Aspect | Nomaden Tradisional (e.g., Mongol, Bedouin, Suku Laut) | Pengembara Modern (Digital Nomad, Vanlifer, Backpacker) | Pengembara Urban (Gelandangan Pengembara Kota) |
|---|---|---|---|
| Motivasi Utama | Survival, mengikuti sumber daya alam (padang rumput, air, mangsa), tradisi turun-temurun. | Kebebasan, eksplorasi diri, menghindari rutinitas, pengalaman budaya. | Kebutuhan ekonomi akut, pelarian dari masalah sosial/keluarga, gangguan mental, atau pilihan filosofis ekstrem. |
| Keterikatan Komunal | Sangat kuat, bergerak dalam unit keluarga atau suku yang solid dengan peran sosial jelas. | Cenderung individualis atau dalam kelompok kecil temporer. Komunitas bersifat global dan virtual. | Sering sangat individual, terisolasi, atau membentuk ikatan rapuh dengan sesama pengembara di titik-titik tertentu. |
| Basis Ekonomi | Beternak, berburu, meramu, atau perdagangan jalur jauh. Berhubungan langsung dengan alam. | Kerja remote, tabungan, pekerjaan musiman, atau konten kreatif. Bergantung pada teknologi dan ekonomi modern. | Mengais, pekerjaan informal harian, mengandalkan bantuan sosial, atau bertahan dengan sangat minimal. |
| Konsep “Rumah” | Rumah adalah komunitas dan rute perjalanan itu sendiri. Wilayah jelajahnya jelas meski berpindah. | Rumah adalah diri sendiri atau kendaraan. Sering dikaitkan dengan perasaan “di mana hatiku senang”. | Rumah adalah tempat aman untuk malam ini. Konsep rumah sangat cair dan bergantung pada keamanan situasional. |
Nilai Kebebasan, Minimalisme, dan Adaptasi
Nilai inti yang menjadi pilar kehidupan ini adalah trilogi yang saling terkait: kebebasan, minimalisme, dan adaptasi. Kebebasan di sini bukan berarti tanpa tanggung jawab, melainkan kebebasan dari narasi hidup yang sudah disusun masyarakat—sekolah, kerja, menikah, punya rumah. Kebebasan untuk berkata “tidak” pada semua itu dan menulis cerita sendiri, kata demi kata, kota demi kota.
Minimalisme adalah konsekuensi sekaligus senjata. Dengan membawa segalanya di punggung atau di dalam van, setiap barang ditimbang nilainya bukan secara materi, tetapi utilitas dan makna sentimentalnya. Kepemilikan yang sedikit menjadi pembebasan psikologis dari beban merawat dan mengkhawatirkan barang. Sementara adaptasi adalah keterampilan hidup yang paling utama. Setiap hari adalah latihan untuk membaca situasi baru, bernegosiasi dengan ketidakpastian, dan menemukan cara bertahan dengan sumber daya yang ada.
Ketiga nilai ini bukan sekadar pilihan gaya hidup, tapi semacam disiplin spiritual modern.
Profil dan Motivasi Individu
Tidak ada satu wajah tunggal yang mewakili manusia gelandangan pengembara. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, didorong oleh angin yang berbeda, meski akhirnya berlabuh di jalanan yang sama. Beberapa memilihnya dengan sadar sebagai eksperimen hidup, sementara yang lain terdorong oleh keadaan yang tak terelakkan. Memahami profil mereka membantu kita melihat fenomena ini bukan sebagai romantisme buta atau patologi sosial semata, melainkan sebagai mosaik kompleks dari pengalaman manusia.
Ragam Profil Manusia Pengembara
Dunia pengembaraan dihuni oleh karakter-karakter yang unik. Berikut adalah beberapa profil yang umum ditemui.
Ngomongin manusia gelandangan pengembara yang terus berpindah, hidup mereka sering nggak punya pijakan ideologi yang jelas. Padahal, memahami fondasi berpikir sebuah bangsa itu penting, lho. Coba deh kamu cek penjelasan lengkap tentang Perbedaan Ideologi Pancasila, Komunisme, dan Liberal serta Negara‑negara Terkait biar makin paham bagaimana sebuah ideologi bisa membentuk nasib suatu masyarakat. Mirip seperti pengembara yang mencari rumah, setiap bangsa juga punya ‘kompas’ ideologinya sendiri yang menentukan arah perjalanannya.
- The Seekers: Biasanya anak muda atau profesional yang mengalami kebuntuan eksistensial. Mereka meninggalkan karir yang mapan untuk mencari jawaban atas pertanyaan “apa arti hidup ini?” Perjalanan adalah medium pencarian mereka, dan seringkali didanai oleh tabungan atau kerja remote.
- The Escapees: Individu yang lari dari trauma masa lalu, tekanan keluarga yang berat, atau kegagalan yang terasa menghancurkan. Jalanan menjadi ruang pelarian sekaligus terapi, tempat mereka membangun ulang diri jauh dari konteks lama yang menyakitkan.
- The Minimalist Philosophers: Mereka yang dengan sengaja mengadopsi hidup ultra-minimalis sebagai protes terhadap konsumerisme. Bagi mereka, gelandangan pengembara adalah bentuk kemurnian hidup, sebuah eksperimen untuk menemukan batas paling dasar dari kebutuhan manusia.
- The Economic Nomads: Mereka yang terdorong oleh kemiskinan struktural. Pekerja serabutan, buruh migran, atau mereka yang tersingkir dari pasar kerja formal. Perpindahan mereka adalah strategi survival untuk mencari sesuap nasi, bukan petualangan.
- The Chronic Wanderers: Seringkali berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang tidak tertangani, seperti skizofrenia atau gangguan kepribadian. Mereka memiliki pola berpindah yang impulsif dan tidak terencana, dengan motivasi yang sulit dipahami orang luar.
Faktor Pendorong dan Penarik
Keputusan untuk hidup berpindah-pindah jarang berasal dari satu sebab saja. Biasanya, itu adalah pertemuan antara faktor pendorong dari dalam diri atau lingkungan dengan faktor penarik dari luar. Faktor pendorong bisa berupa kejenuhan mendalam terhadap rutinitas yang mati, rasa terpenjara oleh ekspektasi sosial, trauma personal, atau kegagalan finansial. Sementara faktor penarik seringkali adalah mitos tentang kebebasan, kisah-kisah inspiratif dari traveler di media sosial, daya tarik alam yang luas, atau ilusi bahwa di tempat lain pasti lebih baik.
Pada titik tertentu, daya tarik kebebasan dan kemungkinan baru menjadi begitu kuat sehingga mengaburkan ketakutan akan ketidakpastian. Dorongan untuk “keluar” mengalahkan keamanan untuk “tetap”.
Tantangan Psikologis dan Sosial serta Strategi Mengatasinya, Manusia Gelandangan Pengembara yang Berpindah
Hidup di jalan bukanlah liburan panjang. Tantangan psikologis terbesar adalah kesepian kronis dan kehilangan rasa memiliki. Meski bertemu banyak orang, hubungan seringkali dangkal dan sementara. Kecemasan akan masa depan dan rasa tidak aman juga selalu mengintai. Secara sosial, stigma adalah makanan sehari-hari.
Mereka sering dilihat dengan curiga, diusir dari tempat umum, atau direndahkan sebagai “sampah masyarakat”.
Untuk bertahan, banyak pengembara mengembangkan mekanisme koping yang unik. Beberapa membangun ritual pribadi yang ketat untuk memberikan struktur pada hari-hari mereka yang tak terstruktur. Yang lain membangun komunitas sesama pengembara—baik di lokasi fisik seperti tempat singgah tertentu maupun di dunia online—untuk berbagi informasi dan dukungan emosional. Banyak juga yang menggunakan jurnal atau media sosial untuk mengartikulasikan pengalaman mereka, mengubah keterasingan menjadi narasi yang memberi makna.
Keterampilan paling vital adalah kemampuan untuk “membaca” orang dan situasi dengan cepat, sebuah kewaspadaan yang terasah untuk memastikan keamanan fisik dan mental mereka.
Pola dan Praktik Kehidupan Sehari-hari
Romantisme pengembaraan seringkali mengaburkan realitas praktisnya: bagaimana seseorang bertahan dari hari ke hari tanpa jaring pengaman yang biasa kita miliki. Ritme hidup mereka ditentukan oleh kebutuhan paling dasar dan improvisasi yang cerdas. Memahami satu hari dalam kehidupan mereka adalah kunci untuk melihat di balik glamor yang sering digambarkan, menuju pada realitas yang lebih kasar namun juga penuh dengan ketangguhan manusia.
Satu Hari dalam Kehidupan Seorang Pengembara Berpindah
Hari dimulai bukan dengan bunyi alarm, tapi dengan cahaya matahari yang menyelinap melalui celah jendela van atau suara lalu lintas yang mulai ramai jika tidur di emperan toko. Bangun tidur, prioritas pertama adalah menemukan sumber air untuk membersihkan diri—bisa toilet umum stasiun, masjid, atau sungai di pinggir kota. Sarapan adalah apa yang tersisa dari kemarin, atau roti yang dibeli dengan uang receh.
Kisah manusia gelandangan pengembara yang berpindah seringkali lepas dari narasi budaya. Padahal, memahami identitas—seperti yang diulas dalam Pakaian, Tari, Rumah Adat, Makanan, Senjata, Suku, dan Wisata dalam Bahasa Inggris —justru bisa memberi perspektif baru. Akar budaya itu mengingatkan kita bahwa setiap pengembara, dalam heningnya perjalanan, sebenarnya membawa serta cerita tentang tempat yang pernah disebut ‘rumah’.
Pagi hari sering dihabiskan untuk merencanakan hari: ke mana harus pergi untuk mencari peluang kerja harian, di mana titik pengumpulan bantuan sosial, atau sekadar memutuskan arah perjalanan berikutnya.
Siang adalah waktu untuk “bekerja”, yang bentuknya sangat beragam: mengais barang bekas, menjadi buruh serabutan di pasar, mengemis, atau sekadar berjalan untuk mencapai kota berikutnya. Waktu istirahat dihabiskan di tempat teduh—taman kota, halte bus, atau teras warung yang toleran. Malam adalah fase paling kritis. Mencari tempat yang aman untuk tidur adalah misi utama. Bagi yang punya kendaraan, itu adalah rumah mereka.
Bagi yang tidak, pencarian meliputi lorong-lorong yang terlindung, bawah jembatan, atau lahan kosong yang tidak diawasi. Sebelum tidur, ritual kecil seperti menulis di buku harian atau sekadar merenung di bawah langit menjadi cara untuk mempertahankan kemanusiaan di tengah ketidakpastian.
Pemenuhan Kebutuhan Dasar: Tempat Tinggal, Makanan, Keamanan
Kreativitas bertahan hidup adalah keahlian utama. Tempat tinggal bersifat sangat situasional. Sebuah van atau mobil yang dimodifikasi adalah kemewahan. Banyak yang bergantung pada ruang publik yang terlupakan—bangunan terbengkalai, container kosong, atau tenda darurat di pinggiran kota. Makanan didapat dari kombinasi mengais, membeli dengan uang receh hasil kerja harian, dan memanfaatkan program bantuan makanan dari organisasi sosial atau rumah ibadah.
Keamanan adalah masalah konstan. Mereka mengandalkan kewaspadaan tinggi, pengetahuan tentang area yang “ramah”, dan seringkali tidur secara bergiliran jika dalam kelompok. Kepemilikan barang minimalis juga merupakan strategi keamanan—tidak ada yang berharga untuk dicuri.
Moda Transportasi dan Tempat Singgah yang Umum
Pilihan bagaimana berpindah dan di mana singgah sangat menentukan pengalaman dan kemampuan bertahan seorang pengembara. Berikut perbandingan beberapa opsi yang umum.
| Jenis | Mobil/Van Pribadi | Transportasi Umum (Kereta/Bus) | Jalan Kaki | Hitchhiking (Menerima Tumpangan) |
|---|---|---|---|---|
| Tempat Singgah Khas | Parkiran supermarket, area piknik, jalan desa terpencil. | Area sekitar terminal/stasiun, bangku di halte, dalam kendaraan itu sendiri (bagi yang nekad). | Emperan toko, bawah jembatan, taman kota, lapangan. | Pinggir jalan tol/jalan raya, area rest area, tempat pemberhentian truk. |
| Tingkat Keamanan | Relatif tinggi (ada ruang privat), tapi menarik perhatian jika terlalu lama di satu tempat. | Rendah hingga sedang. Rentan terhadap pengusiran, pencurian, atau kekerasan. | Sangat rendah. Sangat terbuka terhadap elemen dan ancaman dari orang lain. | Sangat variatif. Bergantung pada niat pengemudi yang memberi tumpangan. |
| Fleksibilitas & Biaya | Fleksibel tapi ada biaya bahan bakar, perawatan, dan kadang parkir resmi. | Terjadwal, bisa murah (naik gelap) atau gratis jika lolos dari penjagaan, tapi sangat tidak fleksibel. | Paling fleksibel, tanpa biaya, tapi sangat lambat dan melelahkan secara fisik. | Fleksibel dan tanpa biaya, tapi sangat tidak pasti dan bergantung pada faktor keberuntungan. |
Dampak terhadap Identitas dan Interaksi Sosial
Ketika seseorang memutuskan untuk terus bergerak, identitasnya pun ikut bermigrasi. Konsep-konsep stabil seperti “rumah”, “pekerjaan”, dan “asal-usul” menjadi cair. Identitas personal tidak lagi dibangun di atas fondasi alamat tetap atau status sosial, tetapi pada akumulasi pengalaman, keterampilan bertahan hidup, dan narasi perjalanan yang mereka ceritakan pada diri sendiri dan orang lain. Hubungan dengan komunitas juga berubah drastis—dari keanggotaan yang tetap menjadi serangkaian pertemuan singkat yang intens atau sepintas lalu.
Pembentukan Ulang Identitas Personal dan Konsep Rumah
Bagi pengembara, proses menjadi siapa diri mereka adalah perjalanan yang literal. Setiap kota yang dilewati, setiap orang yang ditemui, setiap kesulitan yang diatasi, menjadi bagian dari mozaik identitas mereka. “Rumah” mengalami metamorfosis yang paling menarik. Ia berhenti menjadi sebuah bangunan dengan alamat geografis, dan berubah menjadi sebuah keadaan. Rumah bisa berarti perasaan aman di dalam kendaraan mereka sendiri, kenangan akan suatu tempat tertentu di musim tertentu, atau bahkan tubuh mereka sendiri—satu-satunya konstan dalam lautan perubahan.
Konsep ini diungkapkan dengan sangat baik oleh banyak pengembara, seperti dalam refleksi berikut:
“Dulu aku pikir rumah itu tempat di mana semua barang-barangmu berkumpul. Sekarang aku tahu, rumah adalah momen di mana kamu merasa tidak perlu menjelaskan dirimu pada siapa pun. Kadang itu di bangku taman saat hujan gerimis, kadang di dalam bus malam yang sepi. Rumahku adalah jarak antara dua tempat pemberhentian.”
Dinamika Interaksi dengan Masyarakat Tetap
Interaksi antara pengembara dan masyarakat yang menetap penuh dengan nuansa. Ada spektrum yang luas, dari sikap penolakan dan ketakutan hingga rasa ingin tahu dan kedermawanan. Di satu sisi, mereka sering dianggap sebagai ancaman terhadap ketertiban, sebuah pengingat yang tidak nyaman tentang kerapuhan stabilitas sosial. Di sisi lain, pertemuan personal yang singkat bisa melahirkan koneksi manusiawi yang mendalam. Seorang pemilik warung kopi yang mengizinkan mereka mengisi ulang air, atau seorang nenek yang memberikan makanan berlebih, adalah contoh kecil bagaimana batas antara “kita” dan “mereka” bisa luluh.
Namun, interaksi ini tetap berada dalam kerangka transaksional atau karitatif yang asimetris, jarang berkembang menjadi persahabatan setara yang berkelanjutan.
Strategi Mempertahankan Hubungan Sosial di Tengah Mobilitas
Di tengah perpindahan yang konstan, mempertahankan ikatan sosial membutuhkan usaha ekstra. Banyak pengembara yang memanfaatkan teknologi sebagai jangkar sosial. Media sosial dan aplikasi pesan menjadi ruang tamu virtual di mana mereka bisa tetap terhubung dengan keluarga lama atau teman sesama pengembara yang tersebar di mana-mana. Beberapa membangun “pangkalan” atau titik-titik tetap yang secara berkala mereka kunjungi—bisa berupa kota asal, tempat saudara, atau komunitas tertentu—untuk mendapatkan rasa kontinuitas.
Yang lain mengadopsi strategi membangun jaringan longgar yang luas; mereka mengumpulkan kontak seperti perangko, berharap suatu saat bisa saling membantu di kota yang berbeda. Keterampilan sosial menjadi mata uang yang berharga—kemampuan untuk cepat membangun rapport, membaca situasi, dan memberikan nilai (bercerita, membantu pekerjaan kecil) dalam pertemuan singkat adalah cara untuk menciptakan ikatan mikro yang membuat hidup di jalan tetap terhubung dengan kemanusiaan.
Representasi dalam Budaya Populer dan Narasi
Figur pengembara yang berpindah-pindah telah lama memikat imajinasi para pencerita. Dalam film, buku, dan lagu, mereka sering menjadi simbol dari sesuatu yang lebih besar: pemberontakan terhadap kemapanan, pencarian jiwa, atau gambaran tragis tentang manusia yang terlempar dari sistem. Representasi ini tidak hanya mencerminkan fantasi kolektif kita tentang kebebasan, tetapi juga membentuk bagaimana masyarakat memandang kehidupan nyata para pengembara, kadang mengaburkannya dengan lapisan mitos dan romantisme.
Representasi dalam Film, Sastra, dan Musik
Dalam film, pengembara sering digambarkan sebagai pahlawan yang melankolis atau anti-hero yang misterius. Mereka adalah karakter yang membawa rahasia masa lalu dan bergerak untuk melupakan atau menemukan sesuatu. Dalam sastra, mereka menjadi lensa untuk mengkritik masyarakat atau mengeksplorasi kondisi manusia yang paling esensial. Sementara dalam musik, terutama folk dan blues, kehidupan di jalan menjadi metafora universal untuk perjalanan hidup, patah hati, dan kerinduan.
Karya-karya ini tidak sekadar menghibur, tetapi juga menawarkan ruang empati untuk memahami pilihan hidup yang sering dianggap menyimpang.
Karya Budaya Populer dengan Tema Pengembaraan
Banyak karya yang telah mengabadikan semangat pengembaraan. Berikut beberapa yang menonjol.
- Film: Into the Wild (2007)
-kisah nyata Christopher McCandless yang meninggalkan segalanya untuk mengembara ke Alaska; Nomadland (2020)
-potret realistis para pekerja senior Amerika yang hidup di van menjelajahi negara. - Sastra: On the Road oleh Jack Kerouac – kitab suci generasi Beat yang merayakan kebebasan di jalan raya Amerika; The Grapes of Wrath oleh John Steinbeck – epik keluarga pengungsi ekonomi yang berpindah selama Depresi Besar.
- Musik: Lagu-lagu seperti “I’ve Been Everywhere” (Johnny Cash), “Ramblin’ Man” (The Allman Brothers Band), atau “Fast Car” (Tracy Chapman) yang menceritakan impian untuk pergi dan realitas keras yang mengikutinya.
Analisis Karya Sastra “On the Road” oleh Jack Kerouac
Source: greennetwork.id
On the Road bukan sekadar novel tentang bepergian; itu adalah manifesto generasi. Diterbitkan pada 1957, buku ini mencatat perjalanan spontan Sal Paradise (narator) dan Dean Moriarty melintasi Amerika dengan mobil, bus, dan mengandalkan kebaikan orang asing. Inti dari pengembaraan dalam karya ini adalah pencarian “IT”—sebuah momen pencerahan, kebebasan murni, dan pengalaman yang otentik yang dianggap telah hilang dari masyarakat Amerika pasca-perang yang materialistis.
Kerouac, melalui gaya penulisan spontan-nya, menangkap energi kacau dan ritme jazz dari kehidupan di jalan. Pengembaraan di sini adalah obat penawar terhadap kebosanan dan konformitas. Namun, novel ini juga jujur menunjukkan sisi gelapnya: kelelahan fisik, hubungan yang hancur, perasaan kosong setelah pesta usai, dan pertanyaan yang terus-menerus tidak terjawab. Dean Moriarty, sang musafir ulung, justru adalah karakter yang paling hancur—terus berlari tanpa pernah sampai.
On the Road dengan demikian menawarkan gambaran yang ambivalen: pengembaraan membebaskan dan memberdayakan, tetapi juga bisa menjadi pelarian yang destruktif dari tanggung jawab dan kedalaman hubungan manusia. Karya ini menjadi fondasi bagi mitos modern tentang jalan raya sebagai tempat pembebasan diri, sebuah narasi yang terus bergaung hingga era digital nomad dan vanlife hari ini.
Ringkasan Terakhir
Jadi, pada akhirnya, kisah Manusia Gelandangan Pengembara yang Berpindah mengajak kita untuk mempertanyakan ulang definisi kita tentang tempat, milik, dan tujuan. Mereka adalah cermin yang menunjukkan bahwa akar kita bisa jadi bukan untuk ditanam dalam-dalam di satu titik, tetapi untuk membentang luas menyentuh banyak tanah. Kehidupan mereka, dengan segala tantangan dan kejayaannya, bukan sekadar petualangan, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang hidup.
Mungkin kita tidak semua dipanggil untuk menjalani hidup di jalan, tetapi kita bisa meminjam mata mereka untuk melihat dunia—dan diri kita sendiri—dengan sudut pandang yang lebih luas dan lebih berani.
Tanya Jawab Umum: Manusia Gelandangan Pengembara Yang Berpindah
Apakah menjadi pengembara berpindah sama dengan menjadi tunawisma?
Tidak selalu. Banyak pengembara berpindah modern memilih gaya hidup ini secara sadar dan masih memiliki kemampuan finansial atau pekerjaan (seperti freelancer digital). “Rumah” mereka adalah perjalanan itu sendiri, berbeda dengan kondisi tunawisma yang seringkali dipaksa oleh keadaan ekonomi sulit tanpa pilihan.
Bagaimana dengan masa depan dan pensiun? Apakah mereka punya perencanaan?
Perencanaan setiap individu sangat bervariasi. Sebagian mengandalkan investasi, properti yang disewakan, atau tabungan dari pekerjaan musiman. Yang lain mengadopsi filosofi hidup sepenuhnya di saat ini dan mempercayakan masa depan pada kemampuan beradaptasi dan jaringan sosial yang mereka bangun.
Bagaimana cara mereka mengurus dokumen resmi seperti KTP atau alamat tetap?
Biasanya, mereka menggunakan alamat keluarga atau teman terpercaya sebagai domisili hukum. Beberapa ada yang memanfaatkan layanan surat menyurat virtual atau coworking space yang menyediakan alamat bisnis. Ini adalah salah satu tantangan administratif yang harus diatur dengan cerdik.
Apakah gaya hidup ini legal? Bagaimana dengan aturan menginap di tempat umum?
Legalitas bergantung pada lokasi dan cara. Banyak yang mematuhi hukum dengan menginap di campground berbayar, hostel, atau melalui platform sewa jangka pendek. Masalah muncul jika menginap di properti publik atau privat tanpa izin, yang dapat dianggap pelanggaran. Keahlian mereka terletak pada mengetahui batas-batas yang boleh dan tidak.