Perbedaan Aufklärung atau Enlightenment di Prancis dan Inggris Kajian Gagasan

Perbedaan Aufklärung atau Enlightenment di Prancis dan Inggris bukan sekadar soal terjemahan bahasa, melainkan dua jalan pikiran yang membentuk dunia modern. Bayangkan dua ruang diskusi yang sama-sama terang benderang oleh cahaya nalar, tetapi dihiasi oleh perabot dan percakapan yang berbeda. Di satu sisi, ada semangat revolusioner Prancis yang berapi-api, menantang setiap otoritas tradisi dengan sarkasme dan keberanian. Di sisi lain, ada ketenangan metodis Inggris yang lebih suka membangun langkah demi langkah di atas fondasi pengalaman.

Keduanya adalah episode penting dalam sejarah manusia ketika akal berani memimpin, namun dengan peta dan kompas yang tak sama.

Secara mendasar, perbedaan ini berakar dari konteks sosial politik yang dihadapi masing-masing. Prancis, dengan monarki absolut dan gereja yang kuat, melahirkan pemikiran yang lebih radikal dan sistemik dalam mengkritik status quo. Sementara Inggris, yang telah mengalami Revolusi Agung dan relatif lebih stabil, mengembangkan pemikiran yang lebih empiris, bertahap, dan kompromistis. Perbandingan ini akan mengajak kita menelusuri bagaimana kondisi yang berbeda melahirkan karakter intelektual, medium penyebaran, serta dampak politik yang unik dari dua wajah Pencerahan ini.

Pendahuluan dan Konteks Historis

Sebelum menyelami samudra pemikiran mereka, kita perlu memahami tanah tempat benih Pencerahan itu tumbuh. Prancis dan Inggris di abad ke-18 bagaikan dua saudara dengan nasib politik yang berbeda jauh. Inggris baru saja melalui Revolusi Agung (Glorious Revolution) 1688 yang relatif damai, yang menghasilkan monarki konstitusional dan stabilitas politik yang cukup. Ruang untuk diskusi dan kritik, meski tetap ada batasannya, lebih terbuka.

Sementara itu, Prancis masih bergelut dengan struktur Ancien Régime yang kaku: monarki absolut Louis XV dan XVI, hierarki sosial feodal yang ketat, dan gereja Katolik yang sangat berpengaruh sekaligus represif. Tekanan inilah yang membuat pemikiran Pencerahan Prancis terasa lebih tajam, radikal, dan penuh amarah.

Perbedaan Aufklärung di Inggris yang empiris dan Revolusi Prancis yang radikal mengajarkan pentingnya berpikir kritis dan sistematis. Nah, dalam dunia pendidikan, semangat mengaudit pemikiran ini juga penting, lho! Bayangkan, memahami Konsep Dasar Pendidikan Audit ibarat memiliki peta untuk mengevaluasi efektivitas proses belajar, memastikan tak ada yang ‘tercerabut’ dari akar tujuannya. Dengan demikian, refleksi kritis ala Enlightenment—baik yang bertahap atau revolusioner—menjadi fondasi untuk membangun sistem pendidikan yang lebih transparan dan akuntabel, persis seperti yang didambakan para filsuf zaman itu.

Kondisi intelektual awal mereka juga berbeda. Inggris memiliki fondasi empiris yang kuat dari Francis Bacon dan Thomas Hobbes, serta kemajuan sains yang spektakuler berkat Isaac Newton. Iklimnya lebih kondusif untuk penyelidikan bertahap. Di Prancis, warisan pemikiran René Descartes dengan rasionalisme deduktifnya (“Aku berpikir, maka aku ada”) memberikan alat yang ampuh untuk merombak sistem pemikiran lama, namun dalam konteks politik yang menindas, alat itu menjadi pedang yang membara.

Faktor Pendorong Utama Pencerahan di Prancis dan Inggris, Perbedaan Aufklärung atau Enlightenment di Prancis dan Inggris

Perbedaan mendasar dalam karakter Pencerahan di kedua negara dapat dilacak dari faktor-faktor pendorong yang berbeda. Berikut adalah perbandingannya dalam .

Faktor Prancis (Aufklärung) Inggris (Enlightenment)
Kondisi Politik Monarki Absolut, Ancien Régime yang represif, sensor ketat. Monarki Konstitusional pasca 1688, stabilitas relatif, ruang publik lebih longgar.
Lawan Intelektual Gereja Katolik (otoritas dogma), Monarki (privilege feodal), Tradisi buta. Dogma agama yang lebih moderat, otoritas tradisi yang sudah mulai terkikis.
Metode Kunci Rasionalisme kritis, skeptisisme radikal, semangat untuk merombak total. Empirisme, metode ilmiah Newtonian, reformasi bertahap dan praktis.
Sarana Komunikasi Ensiklopedia, pamflet satir dan underground, salon kaum bangsawan. Jurnal ilmiah & populer (e.g., The Spectator), buku filosofis, klub diskusi (coffeehouses).
BACA JUGA  Umur Sekarang Pak Ahmad dan Pak Budi dari Perbandingan 10 Tahun Lalu

Karakteristik Intelektual dan Filosofis: Perbedaan Aufklärung Atau Enlightenment Di Prancis Dan Inggris

Jika Pencerahan adalah sebuah pesta, maka pesta di Prancis adalah revolusi pemikiran yang gaduh dan penuh gairah, sedangkan di Inggris lebih mirip simposium yang tenang namun mendalam. Para philosophe Prancis seperti Voltaire, Rousseau, dan Diderot adalah petarung. Mereka menggunakan akal (raison) sebagai senjata untuk menyerang segala bentuk ketidakadilan, kebodohan, dan tirani, terutama yang berasal dari gereja dan negara.

Voltaire, dengan kecerdasan dan sarkasmenya yang menyengat, menjadi simbol perjuangan melawan fanatisme. Jean-Jacques Rousseau, dengan romantisme kritisnya, menggugat peradaban itu sendiri dan menawarkan konsep “kontrak sosial” yang radikal. Denis Diderot memimpin proyek monumental Encyclopédie, yang bukan sekadar kumpulan pengetahuan, melainkan senjata perang untuk mengubah pola pikir masyarakat.

Ciri Pemikiran Enlightenment di Inggris

Di seberang selat, para pemikir Inggris seperti John Locke, David Hume, dan Isaac Newton membangun menara pengetahuan dari batu bata pengalaman. Locke, bapak empirisme, berargumen bahwa pikiran manusia adalah “tabula rasa” (kertas kosong) yang diisi oleh pengalaman indera. Dari sini, lahir konsep kebebasan dan hak-hak alamiah yang sangat berpengaruh. David Hume membawa skeptisisme yang sehat, mempertanyakan dasar-dasar kausalitas dan agama secara filosofis.

Sementara itu, Isaac Newton, meski bukan filosof murni, memberikan paradigma yang paling kuat: alam semesta berjalan menurut hukum-hukum rasional yang dapat dipahami melalui observasi dan matematika. Akal di sini adalah akal yang berpijak pada bukti.

Perbandingan Prinsip Epistemologi

Perbedaan Aufklärung atau Enlightenment di Prancis dan Inggris

Source: slidesharecdn.com

Perbedaan mendasar terletak pada sumber pengetahuan yang mereka anggap paling sahih. Epistemologi, atau teori pengetahuan, menjadi fondasi yang membedakan arah pemikiran mereka.

  • Prancis (Rasionalisme Kritis): Pengetahuan yang benar berasal dari akal budi (reason) yang murni dan kritis. Akal digunakan untuk menguji dan seringkali membongkar klaim-klaim tradisi, agama, dan otoritas. Kebenaran sering dicari melalui deduksi logis dan skeptisisme sistematis.
  • Inggris (Empirisme): Pengetahuan yang sah berasal dari pengalaman inderawi (experience). Pikiran manusia mengolah data yang datang dari dunia luar melalui pengamatan, eksperimen, dan induksi. “Aku merasakan, maka aku tahu” bisa menjadi slogannya.

Pendekatan terhadap Agama dan Gereja

Sikap terhadap agama mungkin adalah pembeda paling mencolok. Pemikir Prancis cenderung sangat memusuhi institusi gereja yang mereka anggap korup dan menindas, meski tidak semuanya ateis. Sementara banyak pemikir Inggris berusaha mendamaikan iman dengan akal.

“Écrasez l’infâme!” (Hancurkan si benda keji!) – Teriakan Voltaire ini, yang ditujukan pada gereja dan fanatisme, mewakili semangat konfrontatif Prancis. Agama dipandang sebagai musuh kemajuan dan akal sehat.

“Tujuan agama sejati adalah bukan untuk membuat kita menjadi ahli teologi yang sempurna, melainkan warga negara yang sempurna.” – Pandangan yang lebih moderat dari David Hume ini mencerminkan kecenderungan Inggris untuk melihat agama dari fungsi sosialnya, bukan untuk dihancurkan, tetapi untuk diselaraskan dengan tatanan masyarakat yang rasional.

Pernah nggak sih, membandingkan semangat rasional Aufklärung di Prancis yang revolusioner dengan pendekatan empiris Enlightenment di Inggris yang lebih bertahap? Nah, prinsip klarifikasi ini ternyata relevan banget buat memahami istilah teknis di dunia kita sekarang, misalnya nih saat kamu bertransaksi online dan nemu istilah Arti OT dalam COD dan Jual Beli Online. Sama kayak para filsuf yang berusaha menerangi pemahaman, mengetahui arti OT bikin transaksi jadi lebih transparan dan bebas dari kesalahpahaman, yang pada akhirnya mengingatkan kita lagi pada inti dari era Pencerahan: menggunakan akal untuk mencapai kemajuan dan kejelasan dalam setiap aspek, termasuk urusan digital sehari-hari.

Manifestasi dalam Bentuk Karya dan Media

Gagasan-gagasan hebat tidak akan mengubah dunia jika hanya tersimpan di pikiran. Cara mereka dikemas dan disebarluaskan membentuk karakter publik yang menerimanya. Di Prancis, karena sensor yang ketat, karya-karya intelektual sering kali harus bersembunyi di balik tipu daya atau disebarkan secara bawah tanah.

BACA JUGA  Harap Kau Baik-Baik Saja Aku Sangat Merindukanmu Makna Mendalam

Ensiklopedia yang diketuai Diderot dan d’Alembert adalah mahakarya sekaligus mesin perang. Setiap entrinya, mulai dari “Agnosticisme” hingga “Zinc”, adalah peluru yang ditembakkan ke jantung kebodohan. Karya-karya Voltaire dan Rousseau sering diterbitkan secara anonim atau palsu di luar negeri, lalu diselundupkan ke Prancis. Pamflet-pamflet satir beredar luas di salon-salon Paris, menghibur sekaligus menanamkan benih pemberontakan di kalangan elite yang justru merasa terasing dari rezim mereka sendiri.

Media Penyebaran Gagasan di Inggris

Di Inggris, penyebaran ide berlangsung lebih terbuka dan terlembaga. Jurnal seperti The Spectator karya Joseph Addison dan Richard Steele membawa diskusi filosofis dan moral ke ruang makan kelas menengah dengan gaya yang mudah dicerna. Klub-klub diskusi dan coffeehouse menjadi “universitas rakyat” tempat pedagang, ilmuwan, dan penulis bertukar pikiran. Buku-buku filosofis Locke atau Hume diterbitkan dan didiskusikan secara legal. Atmosfernya bukan revolusi bawah tanah, melainkan pendidikan publik yang luas dan bertahap.

Perbandingan Publikasi dan Audiens

Perbedaan medium dan audiens target ini memperjelas bagaimana Pencerahan “dijual” kepada publik masing-masing negara.

Aspek Prancis Inggris
Jenis Publikasi Kunci Ensiklopedia sistematis, Pamflet satir & subversif, Novel filosofis (e.g., Candide). Jurnal periodik populer, Buku filosofis tebal (e.g., Essay Concerning Human Understanding), Laporan ilmiah Royal Society.
Contoh Karya Encyclopédie (Diderot), Candide (Voltaire), Du Contrat Social (Rousseau). An Essay Concerning Human Understanding (Locke), A Treatise of Human Nature (Hume), Principia Mathematica (Newton).
Audiens Target Utama Kaum borjuis kaya dan bangsawan terpelajar (lewat salon), jaringan intelektual bawah tanah.

Dampak terhadap Politik dan Masyarakat

Dampak politik dari kedua aliran Pencerahan ini seperti ledakan yang berbeda: satu berupa revolusi berdarah yang mengguncang dunia, satunya lagi berupa evolusi yang mengubah fondasi pemerintahan secara mendalam. Pemikiran Prancis, dengan semangat merombak total, menjadi bahan bakar ideologis Revolusi Prancis 1789. Slogan “Liberté, Égalité, Fraternité” adalah anak kandung dari kritik Rousseau terhadap ketimpangan dan tuntutan Voltaire akan kebebasan berpendapat.

Konsep sekularisme, yaitu pemisahan gereja dan negara, lahir dari abu konflik dengan gereja Katolik. Negara dianggap harus berdiri di atas akal dan kehendak rakyat, bukan atas mandat ilahi. Di Inggris, pengaruhnya lebih halus namun tak kalah penting. Pemikiran Locke tentang hak-hak alamiah (hidup, kebebasan, hak milik) dan pemerintahan berdasarkan persetujuan rakyat menjadi fondasi bagi monarki konstitusional dan perkembangan liberalisme klasik.

Revolusi di sini lebih bersifat parlementer dan legal, seperti yang terlihat dalam Bill of Rights 1689, yang sudah lebih dulu terjadi namun diperkuat oleh filosofi Pencerahan.

Kontras Pandangan tentang Kontrak Sosial

Konsep “Kontrak Sosial” menjadi titik penting untuk melihat perbedaan visi politik mereka. Locke dan Rousseau sama-sama membicarakannya, tetapi dengan kesimpulan yang sangat berbeda.

“Kesalahan terbesar yang dibuat dalam perhitungan-kalkulasi politik adalah dengan mengira manusia itu pada dasarnya rasional.” – Meski bukan tentang kontrak sosial secara langsung, skeptisisme David Hume ini mengingatkan kita pada pendekatan Inggris yang lebih praktis dan curiga terhadap konstruksi rasional yang terlalu ideal.

“Manusia dilahirkan merdeka, namun di mana-mana ia dibelenggu.” – Kalimat pembuka Rousseau dalam Du Contrat Social ini menggambarkan titik berangkatnya yang radikal. Kontrak sosialnya bukan untuk melindungi hak properti (seperti Locke), tetapi untuk menciptakan kehendak umum (volonté générale) di mana individu menyerahkan seluruh haknya kepada komunitas untuk mencapai kebebasan yang sejati. Ini adalah konsep yang jauh lebih kolektivis dan revolusioner.

Perbandingan Konsep Kunci: Akal, Kebebasan, dan Kemajuan

Pada akhirnya, semua perbedaan itu bermuara pada penekanan yang berbeda pada konsep-konsep inti yang sama. Mari kita urai tiga konsep utama: Akal, Kebebasan, dan Kemajuan.

BACA JUGA  Gaya Listrik antara q1 dan q2 Total 9 µC pada Jarak 3 Meter

Akal: Rasio versus Pengalaman

Bagi Prancis, raison adalah hakim tertinggi yang bersifat universal dan sering kali apriori. Akal digunakan untuk membongkar dan membangun ulang. Di Inggris, akal adalah alat yang bekerja setelah pengalaman, ia bersifat induktif dan selalu siap dikoreksi oleh bukti baru. Akal Inggris lebih rendah hati, akal Prancis lebih angkuh dan visioner.

Kebebasan: Dari Negatif ke Positif

Kebebasan ala Inggris, seperti dirumuskan Locke dan kemudian Adam Smith, adalah kebebasan “negatif”: kebebasan dari campur tangan negara, terutama dalam hal agama, ekonomi (laissez-faire), dan ekspresi. Kebebasan Prancis, khususnya pasca-Rousseau, berkembang menjadi kebebasan “positif”: kebebasan untuk berpartisipasi dalam pembentukan kehendak umum dan mencapai potensi diri dalam kerangka masyarakat yang baru dibangun secara rasional. Yang satu ingin membatasi negara, yang lain ingin merebut dan menggunakan negara untuk tujuan mulia.

Visi tentang Kemajuan dan Peran Sains

Kedua tradisi sangat optimis dengan kemajuan, tetapi alasannya berbeda. Bagi Inggris, kemajuan adalah hasil alami dari akumulasi pengetahuan empiris dan kebebasan individu yang saling berinteraksi, seperti yang terlihat dalam kemajuan teknologi dan ekonomi. Sains (Newton) adalah model untuk semua bidang pengetahuan. Bagi Prancis, kemajuan adalah sebuah proyek yang harus diupayakan secara aktif dengan menggunakan akal untuk mendesain ulang masyarakat. Sains adalah sekutu untuk melawan takhayul agama, tetapi alat utamanya adalah filsafat dan kritik sosial.

Pendekatan terhadap Tradisi dan Otoritas Lama

Sikap mereka terhadap masa lalu akhirnya menentukan seberapa radikal perubahan yang mereka inginkan.

  • Prancis: Cenderung menolak tradisi dan otoritas lama (gereja, monarki, adat) secara frontal. Masa lalu sering dilihat sebagai zaman kegelapan yang harus ditinggalkan. Masyarakat ideal ada di depan, harus dibangun dari nol berdasarkan prinsip rasional.
  • Inggris: Lebih pragmatis dan selektif. Tradisi tidak serta-merta dibuang, tetapi diuji dengan akal dan pengalaman. Perubahan dilakukan melalui reformasi bertahap dan adaptasi. Mereka melihat kemajuan sebagai penyempurnaan dari apa yang sudah ada, bukan pembakaran total.

Kesimpulan Akhir

Dari perjalanan membandingkan dua arus besar Pencerahan ini, kita menemukan bahwa cahaya nalar memang bisa memantul dengan warna yang berbeda. Aufklärung Prancis bagai kilat yang menyambar, menerangi sekaligus membongkar kegelapan dengan terang yang menyilaukan dan berpotensi membakar. Sementara Enlightenment Inggris lebih mirip lentera yang ditenteng perlahan, menerangi jalan setapak di depan kaki dengan cahaya yang stabil dan terukur. Keduanya, dengan segala keunikannya, telah memberikan warisan tak ternilai: semangat untuk terus mempertanyakan, kebebasan untuk berpikir, dan keyakinan bahwa manusia bisa membangun masa depan yang lebih baik.

Memahami perbedaannya bukan untuk memilih yang lebih unggul, tetapi untuk mengapresiasi kekayaan warisan intelektual yang hingga hari ini masih terus berdialog dalam benak kita.

Kumpulan FAQ

Apakah pemikir Inggris seperti John Locke juga memengaruhi Aufklärung di Prancis?

Sangat memengaruhi. Karya-karya John Locke, terutama mengenai toleransi beragama dan hak-hak alamiah, diterjemahkan dan banyak dibaca oleh para philosophe Prancis seperti Voltaire. Mereka mengagumi dan mengadopsi beberapa idenya, meski kemudian mengembangkannya dengan cara yang lebih radikal dan sekuler sesuai konteks Prancis.

Mengapa gerakan di Prancis lebih anti-agama (anti-clerical) dibandingkan di Inggris?

Institusi gereja Katolik di Prancis (Ancien Régime) sangat kuat, kaya, dan terintegrasi dengan kekuasaan monarki absolut. Gereja dipandang sebagai penjaga status quo yang menindas dan menghambat kemajuan. Sementara di Inggris, setelah Reformasi, gereja (Anglikan) lebih berada di bawah kendali negara, dan suasana keagamaan lebih plural dengan adanya berbagai denominasi Protestan, sehingga kritik lebih terfokus pada toleransi dan kebebasan berkeyakinan daripada penghapusan agama.

Adakah tokoh Pencerahan yang karyanya populer di kedua negara sekaligus?

Ya, Montesquieu dari Prancis adalah contoh utama. Karya monumentalnya, “The Spirit of the Laws” (1748), yang menganalisis bentuk pemerintahan dan mengajukan pemisahan kekuasaan, sangat berpengaruh baik di kalangan intelektual Prancis maupun Inggris, dan bahkan menjadi fondasi penting bagi para perumus konstitusi Amerika Serikat.

Bagaimana peran wanita dalam gerakan Pencerahan di kedua negara?

Meski didominasi laki-laki, ada salon-salon di Prancis yang sering dipimpin oleh wanita terpelajar (seperti Madame Geoffrin) yang menjadi pusat pertukaran ide penting. Di Inggris, penulis seperti Mary Wollstonecraft muncul dengan karya “A Vindication of the Rights of Woman” (1792), yang secara langsung memperluas prinsip akal dan hak asasi untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan, sebuah perkembangan yang lebih sistematis daripada di Prancis saat itu.

Leave a Comment