Motivasi Umat Islam untuk Bangkit bukan sekadar wacana, melainkan denyut nadi yang berdetak dari catatan emas peradaban hingga realitas kekinian yang penuh tantangan. Semangat ini berakar pada konsep ‘izzul islam wal muslimin’, sebuah prinsip yang menempatkan kemuliaan sebagai tujuan kolektif, sebagaimana pernah diwujudkan dalam Piagam Madinah yang mengatur kehidupan majemuk dengan adil. Narasi kebangkitan ini menemukan relevansinya justru di era disrupsi, di mana tantangan internal dan eksternal memanggil setiap insan untuk tidak hanya bermimpi, tetapi bergerak.
Dari keluarga sebagai sekolah pertama hingga jejaring kolaborasi yang luas, kebangkitan itu dibangun dari pilar-pilar konkret dalam keseharian. Ia terlihat pada budaya literasi, etos profesional, dan keteladanan dari para penggerak di berbagai bidang. Diskusi ini akan menelusuri landasan spiritual, memetakan peluang strategis di bidang sains dan ekonomi, serta merancang strategi penguatan yang dimulai dari lingkaran terkecil menuju aksi kolektif yang berdampak luas.
Landasan Spiritual dan Historis Kebangkitan
Semangat untuk bangkit dan meraih kemuliaan bukan sekadar motivasi temporal, melainkan seruan yang berakar dalam dalam ajaran Islam. Konsep ‘izzul islam wal muslimin’ menjadi poros utama yang menggerakkan hati dan pikiran umat. Kemuliaan ini dijanjikan bagi mereka yang berpegang teguh pada agama dan beramal saleh, sebagaimana tersirat dalam banyak teks suci. Ini menjadi kompas spiritual yang mengarahkan setiap upaya individu dan kolektif menuju kondisi yang lebih baik dan bermartabat.
Sejarah peradaban Islam sendiri adalah gambaran siklus bangkit dan jatuh yang penuh hikmah. Setiap periode keemasan, seperti masa Khulafaur Rasyidin, Dinasti Abbasiyah di Baghdad, atau peradaban Islam di Andalusia, selalu didahului atau diikuti oleh masa-masa sulit. Kejatuhan Baghdad pada 1258 Masehi, misalnya, bukanlah akhir dari segalanya. Dari puing-puingnya, muncul pusat-pusat ilmu baru di tempat lain, menunjukkan ketangguhan dan kemampuan umat untuk beradaptasi dan bangkit kembali dengan modal ilmu dan ketakwaan.
Tokoh Pemikir Penggerak Kebangkitan
Sepanjang sejarah, muncul para pemikir yang menjadi lentera di tengah kegelapan. Mereka merumuskan kembali pemikiran Islam, mengkritik stagnasi, dan menawarkan jalan keluar untuk kebangkitan. Kontribusi mereka melintasi bidang teologi, filsafat, politik, dan pendidikan, membentuk kerangka intelektual yang terus relevan.
| Tokoh | Era | Kontribusi Utama | Semangat yang Dibangkitkan |
|---|---|---|---|
| Imam Al-Ghazali | Abad ke-11 M | Rekonsiliasi antara tasawuf dan syariat melalui karya Ihya Ulumuddin. | Pembaruan spiritual dan perlawanan terhadap keterasingan nilai agama dari kehidupan. |
| Ibnu Khaldun | Abad ke-14 M | Merumuskan ilmu sosiologi-sejarah (Ilmu Umran) dan teori siklus peradaban dalam Muqaddimah. | Kesadaran historis dan analisis sosial untuk memahami sebab-sebab kebangkitan dan kejatuhan. |
| Jamaluddin Al-Afghani | Abad ke-19 M | Gerakan Pan-Islamisme dan pembelaan terhadap modernitas serta perlawanan terhadap kolonialisme. | Semangat solidaritas umat, pembaruan pemikiran, dan anti-kolonial. |
| Muhammad Abduh | Awal Abad ke-20 M | Pembaruan (modernisme) Islam dengan menekankan rasionalitas dan penyesuaian dengan zaman. | Reformasi pendidikan dan penafsiran agama yang kontekstual. |
Nilai Inti Piagam Madinah
Dokumen yang disusun Rasulullah SAW di Madinah bukan sekadar perjanjian politik, melainkan konstitusi pertama yang meletakkan fondasi masyarakat majemuk yang beradab. Nilai-nilai intinya menjadi fondasi kokoh untuk kebangkitan komunitas mana pun hingga hari ini. Prinsip utama Piagam Madinah adalah pengakuan atas satu kesatuan umat ( ummah wahidah) yang terdiri dari berbagai suku dan agama. Dokumen ini menjamin kebebasan beragama bagi semua komunitas, menetapkan keadilan sebagai hukum yang berlaku bagi semua pihak tanpa pandang bulu, dan menegaskan prinsip tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, serta membela kota bersama dari ancaman luar.
Piagam ini menunjukkan bahwa kebangkitan yang inklusif dan berkeadilan adalah mungkin terwujud.
Tantangan Kontemporer dan Peluang Umat: Motivasi Umat Islam Untuk Bangkit
Di era modern, hasrat untuk bangkit berhadapan dengan realitas kompleks, baik dari dalam maupun luar. Tantangan internal seringkali justru lebih menentukan daripada tekanan eksternal. Sementara itu, gelombang perubahan global juga membawa serta peluang yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Mengidentifikasi kedua sisi koin ini adalah langkah awal yang kritis.
Tiga tantangan internal utama yang menggerogoti semangat kebangkitan antara lain pertama, rendahnya budaya literasi dan minimnya penguasaan ilmu pengetahuan produktif di kalangan sebagian besar umat. Kedua, fragmentasi dan sikap fanatisme kelompok yang memecah-belah ukhuwah, mengalihkan energi dari pembangunan ke perselisihan. Ketiga, mentalitas konsumtif dan ketergantungan yang melemahkan etos kemandirian ekonomi dan daya juang untuk berinovasi.
Peluang Strategis di Bidang Sains dan Ekonomi
Di balik tantangan, tersimpan peluang besar yang bisa dimanfaatkan untuk lompatan kemajuan. Revolusi digital dan ilmu pengetahuan seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, dan ekonomi hijau terbuka untuk siapa saja yang memiliki kompetensi. Dalam ekonomi, berkembangnya sistem keuangan syariah yang etis dan berkelanjutan menawarkan alternatif yang selaras dengan nilai-nilai Islam sekaligus kompetitif di pasar global. Kerja sama dalam riset dan pengembangan antarnegara muslim, serta pemanfaatan big data untuk kesejahteraan umat, adalah bidang strategis yang menunggu untuk digarap serius.
Komunitas dengan Kemandirian Ekonomi
Beberapa komunitas di berbagai belahan dunia telah membuktikan bahwa kemandirian ekonomi di tengah tantangan global bukanlah utopia. Keberhasilan mereka sering berawal dari visi kolektif dan pemberdayaan basis lokal.
- Koperasi Petani di Gambia: Dengan dukungan organisasi Islam lokal, petani mengolah lahan tadah hujan secara kolektif, menerapkan teknik pertanian berkelanjutan, dan memasarkan hasilnya melalui koperasi, mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan fluktuasi harga global.
- Komunitas Teknologi di Indonesia seperti Islamic Boarding School tertentu yang mengintegrasikan kurikulum teknologi informasi, menghasilkan lulusan yang mendirikan startup digital berbasis syariah, dari e-commerce halal hingga platform crowdfunding untuk sosial.
- Lembaga Keuangan Mikro di Bangladesh yang terinspirasi oleh model Grameen Bank, meski bersifat sekuler, telah diadaptasi oleh banyak LSM berbasis agama untuk memberdayakan perempuan muslim di pedesaan dengan pinjaman usaha tanpa bunga, mengentaskan mereka dari jerat rentenir.
Pandangan Ulama tentang Iman, Ilmu, dan Etos Kerja, Motivasi Umat Islam untuk Bangkit
Ulama kontemporer banyak yang menekankan integrasi yang utuh antara kekuatan spiritual, intelektual, dan fisik sebagai resep kebangkitan. Mereka melihat tidak ada dikotomi antara kesalehan ritual dengan pencapaian duniawi yang unggul.
“Iman tanpa ilmu adalah lemah, ilmu tanpa iman adalah buta, dan keduanya tanpa amal adalah sia-sia. Kebangkitan umat dimulai dari masjid yang membina iman, dilanjutkan di sekolah dan laboratorium yang menajamkan ilmu, dan dibuktikan di pasar serta tempat kerja dengan etos yang jujur dan profesional. Ini adalah trilogi yang tidak terpisahkan.” – Pandangan yang kerap disampaikan dalam berbagai forum oleh cendekiawan muslim.
Semangat kebangkitan umat Islam bukan hanya soal gerakan kolektif, tetapi juga dimulai dari kesadaran individu yang kokoh. Dalam konteks ibadah, pemahaman mendalam tentang Apa yang dimaksud Munfarid menjadi fondasi penting untuk membangun kekuatan spiritual yang mandiri. Dari titik inilah, motivasi untuk bangkit dapat dirajut, dimulai dari keteguhan pribadi yang kemudian berkontribusi pada kebangkitan umat secara keseluruhan dalam menghadapi tantangan zaman.
Pilar-Pilar Kebangkitan dalam Kehidupan Sehari-hari
Kebangkitan besar sebuah peradaban selalu dimulai dari unit terkecil dan tindakan paling sehari-hari. Ia adalah akumulasi dari kebiasaan, nilai, dan interaksi yang dibangun secara konsisten di ruang lingkup keluarga, pendidikan pribadi, dan lingkungan sosial terdekat. Tanpa fondasi ini, wacana kebangkitan akan tetap menjadi mimpi di siang bolong.
Keluarga berperan sebagai madrasah pertama. Di sinilah mentalitas bangkit ditanamkan: tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan, rasa ingin tahu, kejujuran, dan kemandirian. Orang tua yang membacakan buku, mendiskusikan sejarah Islam dengan kritis, dan mengajak anak terlibat dalam aksi sosial kecil, sedang membangun pilar pertama dari individu yang pro-aktif.
Membangun Budaya Literasi dan Keahlian Profesional
Untuk pemuda muslim, transformasi dari konsumen pasif menjadi produsen yang kontributif memerlukan strategi personal yang jelas. Pertama, menggeser budaya scroll media sosial yang pasif menjadi budaya baca dan tulis yang aktif. Bergabung dengan klub buku atau kelompok diskusi daring bisa menjadi awal. Kedua, memiliki keahlian profesional yang mendalam di satu bidang, baik itu programming, desain, akuntansi, atau pertukangan, yang dikembangkan melalui kursus sertifikasi, magang, atau proyek nyata.
Ketiga, mengintegrasikan nilai etika Islam dalam profesi tersebut, seperti kejujuran dalam transaksi, amanah dalam pekerjaan, dan inovasi untuk kemaslahatan.
Karakter Individu Pasif versus Pro-Aktif
Perubahan kolektif sangat ditentukan oleh sifat individu-individu di dalamnya. Memahami perbedaan antara mentalitas pasif dan pro-aktif membantu kita melakukan introspeksi dan perbaikan.
| Aspek | Individu Pasif | Individu Pro-Aktif |
|---|---|---|
| Respons terhadap Masalah | Mengeluh, menyalahkan keadaan, menunggu solusi dari luar. | Menganalisis akar masalah, mencari solusi, dan mengambil inisiatif tindakan sekecil apa pun. |
| Pemanfaatan Waktu | Terbawa arus hiburan dan kesibukan yang tidak produktif. | Mengelola waktu dengan prioritas, menyisihkan untuk belajar, berkarya, dan berjejaring. |
| Hubungan Sosial | Bersifat konsumtif, hanya memanfaatkan jaringan untuk kepentingan diri. | Bersifat produktif, membangun jaringan untuk kolaborasi dan saling menguatkan. |
| Visinya terhadap Peran | Melihat diri sebagai objek perubahan yang tidak berdaya. | Melihat diri sebagai subjek dan agen perubahan dalam lingkup pengaruhnya. |
Aktivitas Sosial Memperkuat Ukhuwah
Ukhuwah yang kuat adalah modal sosial yang tak ternilai. Memperkuatnya memerlukan aktivitas nyata yang berkelanjutan. Beberapa contohnya antara lain mendirikan food bank komunitas yang dikelola bersama untuk membantu keluarga prasejahtera di lingkungan sekitar. Kemudian, menyelenggarakan workshop keterampilan gratis (seperti servis elektronik, menjahit, berkebun) yang melibatkan anggota komunitas yang ahli sebagai mentor. Selanjutnya, membentuk kelompok simpan pinjam berbasis syariah untuk modal usaha kecil antarwarga, dan terakhir, mengadakan kajian atau diskusi tematik lintas generasi dan profesi untuk membahas solusi masalah lingkungan setempat, seperti sampah atau sanitasi.
Narasi dan Keteladanan yang Menginspirasi
Manusia bergerak bukan hanya oleh logika, tetapi juga oleh cerita dan teladan yang menyentuh hati. Narasi kebangkitan yang konstruktif, yang disebarluaskan melalui media, seni, dan percakapan sehari-hari, memiliki kekuatan untuk membentuk pola pikir dan menggerakkan massa. Di tengah dominasi narasi negatif tentang dunia Islam, menyusun dan menyebarkan narasi tentang pencapaian, inovasi, dan ketangguhan menjadi sebuah keharusan strategis.
Seni visual, film pendek, podcast, dan konten media sosial yang mengangkat kisah sukses lokal, perjuangan tanpa pamrih, atau rekayasa teknologi dari ilmuwan muslim, dapat menciptakan imajinasi baru tentang masa depan. Narasi ini harus autentik, manusiawi, dan fokus pada solusi, bukan sekadar mengeluhkan masalah.
Sosok Teladan Masa Kini
Keteladanan tidak berhenti di masa lalu. Di berbagai bidang, muncul sosok-sosok yang merepresentasikan semangat kebangkitan dengan caranya masing-masing. Di bidang pendidikan, ada figur seperti Prof. Dr. M. Quraish Shihab di Indonesia, yang melalui karya tafsirnya dan pendekatan yang mendialogkan Islam dengan konteks kekinian, berhasil membawa pemahaman agama yang substantif dan mencerahkan ke publik luas. Dalam filantropi, nama Dr. Jemilah Mahmood dari Malaysia menonjol. Sebagai pendiri organisasi kemanusiaan internasional MERCY Malaysia, ia memimpin respons kemanusiaan di berbagai zona konflik dan bencana dengan prinsip profesionalisme dan kesetaraan, menunjukkan wajah Islam yang peduli dan kompeten di panggung global.
Sementara di teknologi, sosok seperti Mona Siddiqui, seorang profesor dan ahli etika yang terlibat dalam diskusi publik tentang dampak sosial AI dan bioteknologi, menunjukkan bagaimana ilmuwan muslim dapat berada di garda depan percakapan masa depan.
Prinsip Kepemimpinan Transformasional Nabi Muhammad SAW
Keteladanan tertinggi tentu berasal dari Rasulullah SAW. Gaya kepemimpinannya adalah model utama kepemimpinan transformasional yang mengubah masyarakat. Beberapa prinsip kunci yang dapat diambil antara lain pertama, Shiddiq (Jujur dan Terpercaya): Membangun fondasi kepemimpinan pada integritas yang tak tergoyahkan, sehingga setiap perkataan dan kebijakan dipercaya. Kedua, Amanah (Bertanggung Jawab): Memandang kepemimpinan sebagai amanah (titipan) yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan yang dipimpin, bukan untuk kekuasaan.
Ketiga, Fathanah (Cerdas dan Bijaksana): Mengambil keputusan dengan perencanaan strategis, musyawarah, dan kebijaksanaan yang sesuai konteks, seperti terlihat dalam Perjanjian Hudaibiyah. Keempat, Tabligh (Menyampaikan dengan Komunikasi Efektif): Menyampaikan visi dan nilai dengan jelas, menggunakan bahasa dan metode yang dipahami oleh semua kalangan, dari sahabat dekat hingga utusan suku lain.
Ilustrasi Komunitas yang Bangkit
Bayangkan sebuah desa kecil di pinggiran kota yang sebelumnya terbelakang. Awalnya, beberapa pemuda yang baru lulus kuliah kembali ke desa. Mereka memulai dengan mendirikan taman baca dari sumbangan buku bekas. Kemudian, mereka mengajak para petani dan pengrajin lokal untuk bermusyawarah. Dari diskusi itu, teridentifikasi bahwa hasil pertanian sering busuk karena tidak ada akses pasar yang baik.
Mereka kemudian berkolaborasi dengan seorang ahli di bidang teknologi pangan dari kota untuk pelatihan pengolahan sederhana. Seorang lainnya yang ahli pemasaran digital membantu membuat akun media sosial untuk menjual produk olahan. Lembaga keagamaan setempat menyediakan ruang untuk workshop dan menjadi penengah yang dipercaya. Modal usaha dikumpulkan secara patungan melalui sistem syariah. Dalam beberapa tahun, desa itu tidak hanya dikenal karena produk unggulannya, tetapi juga karena generasi mudanya yang melek teknologi dan warganya yang kuat gotong royongnya.
Kebangkitan itu lahir dari kolaborasi, pendidikan praktis, dan ketahanan ekonomi yang dibangun dari bawah.
Strategi Penguatan dan Aksi Kolaboratif
Source: rumah123.com
Setelah motivasi terbangun dan teladan hadir, langkah selanjutnya adalah merancang kerangka kerja yang konkret dan dapat dijalankan. Kebangkitan memerlukan struktur, meski sederhana, yang memungkinkan transformasi ide menjadi aksi, dan aksi individu menjadi gerakan kolektif. Strategi ini harus bersifat bottom-up, dimulai dari lingkaran terkecil yang paling mungkin untuk dikelola.
Membentuk kelompok studi atau lingkaran kebaikan adalah titik awal yang efektif. Kelompok ini tidak sekadar untuk kajian teoritis, tetapi harus berorientasi pada solusi praktis untuk masalah di lingkungan terdekat. Misalnya, kelompok studi dengan tema “Ketahanan Pangan Perkotaan” bisa mengkaji prinsip Islam tentang pengelolaan sumber daya, lalu merancang program urban farming di lahan kosong RT/RW.
Membangun Jejaring Sinergis Lintas Sektor
Kekuatan umat terletak pada jaringannya. Membangun sinergi antara masjid atau pesantren, pelaku usaha, dan organisasi kemasyarakatan adalah kunci multiplikasi dampak. Lembaga keagamaan memiliki basis massa dan kredibilitas moral. Dunia usaha memiliki keterampilan manajerial, akses modal, dan jaringan pasar. Organisasi kemasyarakatan memiliki data lapangan dan relawan.
Semangat kebangkitan umat Islam Indonesia bukanlah sekadar wacana, tetapi memiliki akar historis yang mendalam, salah satunya termaktub dalam Piagam Jakarta: Dokumen Panitia 9 22 Juni 1945. Dokumen bersejarah itu merekam perjuangan awal untuk menempatkan nilai-nilai keislaman dalam kerangka berbangsa, menunjukkan bahwa kontribusi aktif untuk negara adalah bagian integral dari identitas keimanan. Momentum ini terus menjadi inspirasi untuk membangun peradaban yang maju dan berkeadilan, dengan tetap berpegang pada prinsip persatuan dalam keberagaman.
Mekanismenya bisa berupa forum rutin triwulan yang mempertemukan ketiga pihak untuk mengidentifikasi potensi dan masalah lokal, kemudian merancang program pemberdayaan bersama. Misalnya, masjid menyediakan tempat, pengusaha menyumbang alat dan pelatihan, organisasi pemuda menggerakkan partisipasi.
Contoh Program Aksi Kolaboratif
| Program Aksi | Target Peserta | Keterampilan yang Dikembangkan | Outcome yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Sekolah Ibu Profesional (Rumahan) | Ibu-ibu muda di kompleks perumahan | Parenting Islami, keuangan keluarga, kewirausahaan mikro (contoh: membuat kue, kerajinan). | Keluarga yang lebih stabil, tambahan pendapatan rumah tangga, komunitas ibu yang saling mendukung. |
| Tech Bootcamp untuk Santri | Santri tingkat akhir di pesantren | Dasar-dasar pemrograman, desain grafis, digital marketing. | Santri memiliki portofolio dan siap kerja atau berwirausaha digital, mengurangi pengangguran terdidik. |
| Bank Sampah Berbasis Masjid | Seluruh jamaah dan warga sekitar masjid | Manajemen sampah, administrasi sederhana, nilai ekonomi daur ulang. | Lingkungan yang bersih, dana kas masjid atau sosial bertambah dari penjualan sampah, kesadaran ekologis. |
| Pasar Murah Akhir Pekan | Produsen UMKM lokal dan masyarakat umum | Pemasaran langsung, negosiasi, layanan pelanggan. | Akses bahan pangan/produk berkualitas dengan harga wajar, menguatkan ekonomi sirkular lokal. |
Penyelenggaraan Forum Diskusi Inklusif
Forum diskusi yang efektif adalah yang inklusif dan berorientasi pada tindak lanjut. Prosedurnya dimulai dengan menentukan tema spesifik yang menyentuh kebutuhan nyata, seperti “Mengoptimalkan Potensi Wisata Religi dan Budaya Kampung Kita”. Panitia kemudian mengundang peserta yang beragam: tokoh agama, perangkat desa, akademisi setempat, pelaku usaha homestay dan kuliner, pemandu wisata muda, serta perwakilan pemuda dan perempuan. Acara dirancang tidak hanya berupa ceramah, tetapi lebih banyak sesi diskusi kelompok terpumpun ( focus group discussion) untuk menggali ide.
Hasil diskusi didokumentasikan dalam bentuk poin-poin aksi, ditetapkan penanggung jawabnya, dan dijadikan bahan pertemuan tindak lanjut dalam satu bulan ke depan. Kunci keberhasilannya adalah memastikan semua suara didengar dan ada komitmen untuk eksekusi dari pihak-pihak kunci.
Semangat kebangkitan umat Islam perlu dijiwai oleh prinsip bahwa bahkan sumber kehidupan pun memerlukan keseimbangan. Sebuah riset menarik mengungkap fenomena Cahaya Penting Fotosintesis Justru Menghambat Pertumbuhan , di mana intensitas berlebihan justru menjadi penghambat. Analoginya, perjuangan menuju kemajuan harus cerdas, tidak sekadar gegap gempita, tetapi memerlukan strategi, ketenangan, dan refleksi mendalam agar energi yang dikeluarkan membuahkan hasil yang optimal dan berkelanjutan.
Kesimpulan Akhir
Pada akhirnya, Motivasi Umat Islam untuk Bangkit menemukan bentuknya yang paling nyata bukan dalam retorika, melainkan dalam komitmen yang berkelanjutan dan kerja kolaboratif. Setiap pembelajaran dari sejarah, setiap inovasi di bidang teknologi, dan setiap program pemberdayaan ekonomi adalah batu bata yang menyusun fondasi kebangkitan yang kokoh. Narasi ini milik bersama, untuk ditulis melalui keteladanan, diperkuat oleh ukhuwah, dan diwujudkan dalam langkah-langkah strategis yang mengubah peluang menjadi kemajuan nyata bagi peradaban.
Tanya Jawab (Q&A)
Apakah kebangkitan umat Islam hanya fokus pada aspek spiritual dan keagamaan?
Tidak. Kebangkitan yang dimaksud bersifat holistik, mencakup spiritual, intelektual, sosial, ekonomi, dan teknologi. Konsep ‘izzul islam wal muslimin’ mencakup kemuliaan dalam semua aspek kehidupan, di mana penguatan iman harus sejalan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan pembangunan kemandirian ekonomi.
Bagaimana peran generasi muda dalam konteks kebangkitan ini?
Generasi muda adalah tulang punggung kebangkitan melalui pengembangan budaya literasi kritis, penguasaan keahlian profesional yang relevan dengan zaman, dan partisipasi aktif dalam inovasi sosial dan teknologi. Mereka adalah agen perubahan yang mentransformasi nilai-nilai luhur menjadi solusi kontemporer.
Apakah kebangkitan berarti mengisolasi diri dari komunitas global yang majemuk?
Sama sekali tidak. Justru kebangkitan yang hakiki mensyaratkan keterbukaan dan kontribusi positif terhadap peradaban global. Piagam Madinah adalah contoh awal bagaimana membangun masyarakat majemuk yang kuat. Kolaborasi sinergis dengan berbagai pihak, saling menghormati, dan berkontribusi pada kemanusiaan adalah bagian dari etika kebangkitan.
Bagaimana mengukur keberhasilan dari upaya kebangkitan ini?
Keberhasilan dapat diukur dari indikator seperti meningkatnya kapasitas dan kemandirian ekonomi komunitas, lahirnya lebih banyak inovasi dan kontribusi di bidang sains dari kalangan muslim, menguatnya kohesi sosial (ukhuwah), serta tumbuhnya keteladanan positif di berbagai lapisan masyarakat yang menginspirasi aksi-aksi produktif.