Alat Optik untuk Mengamati Luar Angkasa Panduan Lengkapnya

Alat Optik untuk Mengamati Luar Angkasa itu bukan sekadar tabung dan lensa, tapi gerbang rahasia untuk keluar dari rutinitas harian dan menjelajahi kosmos. Bayangkan, dengan alat yang tepat, kamu bisa menyusuri kawah Bulan, mengejar cincin Saturnus, atau bahkan menatap nebula yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Rasanya seperti punya tiket pesawat antariksa pribadi, tapi kamu bisa menikmatinya dari halaman rumah sendiri.

Intinya, dunia yang luas itu ternyata bisa didekatkan, asal tahu caranya.

Dari teleskop sederhana hingga observatorium raksasa, prinsip dasarnya tetap sama: menangkap dan memperbesar cahaya dari sudut-sudut gelap alam semesta. Perjalanan ini dimulai dengan memahami bagaimana sepotong kaca atau cermin bisa mengubah pandangan kita tentang tempat tinggal di galaksi. Mulai dari yang bisa dibeli dengan tabungan, hingga yang membutuhkan anggaran negara, setiap alat punya cerita dan kemampuannya sendiri untuk mengungkap misteri bintang, planet, dan galaksi.

Pengantar dan Konsep Dasar Alat Optik Astronomi

Bayangkan duduk di tepi pantai, memandang lautan bintang yang berkilauan. Mata kita sudah dibuat takjub. Tapi, tahukah kamu bahwa cahaya yang kita tangkap itu hanyalah secuil dari kisah epik alam semesta? Di sinilah alat optik astronomi berperan. Mereka adalah perpanjangan dari indera penglihatan kita, jendela yang membuka tabir gelap langit malam untuk mengungkap keajaiban yang tak terlihat.

Mata telanjang, meskipun menakjubkan, memiliki keterbatasan mendasar. Ia hanya bisa mengumpulkan cahaya melalui pupil yang kecil, dan resolusi atau ketajamannya terbatas. Hasilnya, kita hanya melihat bintang sebagai titik cahaya dan objek samar seperti nebula atau galaksi hampir mustahil dilihat. Teleskop mengubah segalanya dengan dua prinsip kunci: pengumpulan cahaya dan pembesaran. Aperture atau lensa/cermin utama yang besar bertindak seperti “ember penampung cahaya” raksasa, mengumpulkan foton jauh lebih banyak daripada mata kita.

Mengintip keindahan nebula atau planet dengan teleskop memang bikin hati berdecak kagum. Tapi, di balik lensa yang tajam, ada prinsip elektromagnetik yang bekerja, lho. Nah, kalau kamu penasaran dengan cara-cara memperkuat medan magnet pada lilitan—dan yang bukan termasuk caranya—cek penjelasan lengkapnya di Cara Memperkuat Medan Magnet Lilitan, Kecuali​. Pemahaman ini bisa bantu kamu lebih apresiatif terhadap teknologi presisi yang ada di balik alat optik pengamat langit itu.

Cahaya ini kemudian difokuskan dan diperbesar oleh susunan lensa atau cermin, mengubah titik cahaya redup menjadi citra yang terang dan penuh detail. Jadi, fungsi utama teleskop bukan sekadar memperbesar, tetapi lebih penting, menerangi objek yang gelap.

Perbandingan Mata Telanjang dan Bantuan Teleskop

Dengan mata telanjang, kita bisa mengagumi rasi bintang, melihat jalur kabur Bima Sakti, atau menyaksikan gerak planet di antara bintang. Namun, detailnya hilang. Planet Jupiter hanya tampak sebagai bintang putih yang terang, Saturnus tanpa cincinnya, dan nebula Orion hanya samar-samar. Dengan teleskop amatir sederhana sekalipun, realitas baru terungkap. Jupiter menampilkan pita awannya dan empat bulan utamanya.

Mengintip bintang dengan teleskop itu seru banget, tapi tahu nggak, ngitung biayanya bisa serumit ngitung Harga per bungkus permen dan coklat yang dibeli Cici. Padahal, setelah urusan duniawi itu beres, pandangan kita justru bisa lebih fokus untuk menjelajahi keajaiban alat optik yang membawa kita mendekat ke misteri galaksi.

Cincin Saturnus menjadi jelas. Nebula Orion berubah dari kabut menjadi awan gas bercahaya dengan struktur. Teleskop pada dasarnya adalah mesin waktu, karena cahaya yang ditangkapnya telah melakukan perjalanan bertahun-tahun, bahkan ribuan tahun, untuk mencapai kita.

Jenis-Jenis Teleskop dan Karakteristiknya

Memilih teleskop itu seperti memilih kendaraan. Masing-masing punya mekanisme, kelebihan, dan karakteristik yang cocok untuk perjalanan langit yang berbeda. Secara umum, keluarga besar teleskop dibagi menjadi tiga kubu utama berdasarkan cara mereka membelokkan dan memfokuskan cahaya. Memahami perbedaannya adalah langkah pertama yang krusial sebelum kamu terjun ke dunia pengamatan.

Tabel Perbandingan Tipe Teleskop Utama

Tipe Prinsip Kerja Kelebihan Kekurangan Contoh Penggunaan
Refraktor (Dioptrik) Menggunakan lensa objektif untuk membiaskan (membelokkan) cahaya ke titik fokus di ujung tabung. Desain tertutup, minim perawatan; kontras gambar tinggi; bagus untuk planet & bulan. Berat dan panjang per aperture; berpotensi aberasi kromatik (pinggiran warna) pada model murah; harga per aperture lebih mahal. Pengamatan planet, bulan, bintang ganda; cocok untuk pemula yang ingin sistem low-maintenance.
Reflektor (Newtonian) Menggunakan cermin cekung primer untuk memantulkan cahaya ke cermin sekunder datar, lalu ke sisi tabung. Biaya per aperture paling efisien; bebas aberasi kromatik; bagus untuk objek samar (deep-sky). Desain terbuka, butuh collimation (penyelarasan) berkala; kontras sedikit lebih rendah karena adanya obstruksi cermin sekunder. Pengamatan nebula, galaksi, gugus bintang; pilihan utama astronom amatir serius.
Katadioptrik (Schmidt-Cassegrain/Maksutov) Menggabungkan lensa korektor di depan dan cermin primer & sekunder, memantulkan cahaya melalui lubang di cermin primer. Desain kompak dan portabel; panjang fokus panjang dalam tabung pendek; serbaguna. Harga relatif mahal; aperture terbatas; butuh waktu lebih lama untuk mencapai kesetimbangan termal. Pengamatan segala jenis objek; astrofotografi; sangat populer untuk observasi visual yang praktis.
BACA JUGA  Luas Daerah Terbatas Parabola y=8x-2x² antara x=0 dan x=4 Hitung Pakai Integral

Evolusi Desain Teleskop Reflektor, Alat Optik untuk Mengamati Luar Angkasa

Setelah Isaac Newton memperkenalkan desain reflektor dasar, para astronom terus berinovasi. Desain Newtonian yang sederhana, dengan fokus di sisi tabung, sangat brilian namun bisa jadi tidak praktis untuk teleskop yang sangat besar. Di sinilah desain Cassegrain muncul. Pada teleskop Cassegrain klasik, cermin sekunder berbentuk cembung memantulkan cahaya kembali melalui lubang di tengah cermin primer. Trik ini “melipat” jalur cahaya, sehingga teleskop dengan panjang fokus yang sangat panjang bisa dibuat dalam tabung yang pendek dan kompak.

Variasi modern seperti Schmidt-Cassegrain dan Maksutov-Cassegrain menambahkan lensa korektor tipis di depan untuk memperbaiki aberasi dan menghasilkan bidang pandang yang lebih lebar, menjadikannya favorit di kalangan hobiis.

Spesifikasi Teknis dan Kemampuan Pengamatan

Angka-angka pada spesifikasi teleskop bukanlah sekadar hiasan. Mereka adalah bahasa yang memberitahu kita apa yang bisa dilakukan oleh instrumen tersebut. Ambil contoh, teleskop refraktor 80mm f/6. Aperture 80mm menunjukkan kemampuannya mengumpulkan cahaya, cocok untuk melihat planet dengan detail cukup dan nebula terang seperti Orion. Panjang fokus 480mm (80 x 6) menghasilkan perbesaran yang mudah dicapai untuk melihat kawah bulan atau cincin Saturnus.

Bandingkan dengan reflektor Newtonian 150mm f/5. Aperture yang hampir dua kali lipat lebih besar ini menangkap cahaya jauh lebih banyak, membuat galaksi Andromeda atau Nebula Lagoon tampak lebih terang dan berstruktur. Panjang fokus 750mm menawarkan pilihan perbesaran yang lebih tinggi untuk membelah bintang ganda atau melihat detail pada planet Jupiter.

Komponen Pendukung dan Teknologi Tambahan: Alat Optik Untuk Mengamati Luar Angkasa

Teleskop saja tidak cukup. Ia seperti seorang atlet hebat yang membutuhkan peralatan pendukung untuk tampil optimal. Mount, eyepiece, dan berbagai aksesori adalah bagian tak terpisahkan yang menentukan kenyamanan, akurasi, dan kedalaman pengalaman mengamati kamu. Tanpa mereka, teleskop terbaik pun bisa jadi sulit dijinakkan.

Fungsi Mount, Eyepiece, dan Finderscope

Mount atau dudukan adalah fondasinya. Mount altazimuth bergerak naik-turun (altitude) dan kiri-kanan (azimuth), intuitif seperti kepala kita, cocok untuk pengamatan santai. Sementara mount equatorial, dengan satu porusnya sejajar dengan sumbu rotasi Bumi, memungkinkan pelacakan objek langit yang mulus hanya dengan memutar satu knob, sangat penting untuk astrofotografi. Eyepiece adalah lensa okuler yang menentukan perbesaran. Mengganti eyepiece ibarat mengganti lensa kamera, dari sudut lebar untuk melihat gugus bintang utuh, hingga perbesaran tinggi untuk mengintai permukaan Mars.

Finderscope, sang penunjuk arah, adalah teleskop kecil dengan bidang pandang luas yang membantu kita “membidik” objek target yang sulit ditemukan di langit gelap.

Peningkatan Detail dengan Filter Warna

Filter bukan sekadar kaca berwarna. Mereka adalah alat bedah cahaya. Filter Moon (Neutral Density) mengurangi silau bulan purnama yang menyilaukan, sehingga kawah dan pegunungan di tepiannya terlihat lebih jelas tanpa membuat mata perih. Filter Nebula (seperti UHC atau O-III) bekerja dengan cara yang ajaib: mereka hanya melewatkan panjang gelombang cahaya spesifik yang dipancarkan oleh atom oksigen dan hidrogen terionisasi—unsur utama nebula.

Hasilnya, kontras nebula terhadap langit belakang melonjak drastis, membuat struktur filamen dan gelembung gas yang sebelumnya tak terlihat menjadi nyata. Filter Solar yang khusus dan sangat aman (bukan filter okuler murahan!) memungkinkan kita mengamati sunspot dan granulasi di permukaan Matahari.

Peran Kamera dan Perangkat Lunak Pemroses Citra

Astronomi modern telah melampaui batas mata manusia. Kamera CCD dan CMOS yang dirancang khusus mampu menangkap cahaya dengan efisiensi sangat tinggi, mendeteksi objek yang bahkan tidak bisa dilihat secara visual melalui teleskop yang sama. Teknik seperti long-exposure memungkinkan pengumpulan cahaya selama berjam-jam, mengungkap warna dan detail spektakuler dari nebula. Namun, data mentah itu masih “mentah”. Di sinilah perangkat lunak seperti DeepSkyStacker, Siril, atau PixInsight berperan.

BACA JUGA  Uji Kesesuaian Volume Gelas Air Mineral 250 ml pada Tingkat Kepercayaan 99%

Mereka digunakan untuk menumpuk ratusan frame, mengurangi noise, menyeimbangkan warna, dan memperkuat sinyal objek langit. Proses ini seperti mengukir patung dari balok marmer data, mengubah hasil bidikan menjadi karya seni sekaligus data ilmiah yang valid.

Objek Langit Target dan Teknik Pengamatan

Alat Optik untuk Mengamati Luar Angkasa

Source: co.id

Langit malam adalah museum raksasa dengan koleksi yang tak terbatas. Tapi, tidak semua koleksi itu bisa dinikmati dengan galeri yang sama. Teleskop kecil, menengah, dan besar masing-masing punya “katalog” target andalan. Mengetahui apa yang realistis untuk diamati dengan peralatan kamu akan mencegah rasa frustasi dan justru membuka pintu kekaguman yang tak terduga.

Target Pengamatan Berdasarkan Aperture Teleskop

Pemula dengan teleskop kecil (60-90mm refraktor/130mm reflektor) jangan berkecil hati. Banyak keajaiban yang bisa dijelajahi:

  • Planet: Sabuk awan Jupiter, Cincin Saturnus, fase Venus, dan disk merah Mars saat oposisi.
  • Bulan: Detail kawah, pegunungan, dan lembah yang tak terhitung jumlahnya.
  • Bintang Ganda: Seperti Albireo di rasi Cygnus yang menampilkan kontras warna emas dan biru yang indah.
  • Deep-Sky Terang: Gugus bintang Hercules (M13), Nebula Orion (M42), dan Galaksi Andromeda (M31) sebagai kabut memanjang.

Teleskop menengah (150-250mm) membuka lebih banyak lagi:

  • Detail Planet: Great Red Spot Jupiter, Cassini Division di cincin Saturnus, tudung es kutub Mars.
  • Nebula Terang: Struktur dalam Nebula Orion, bentuk “angsa” Nebula Omega, cincin Nebula Lyra.
  • Galaksi: Lengan spiral pada Galaksi Whirlpool (M51) dan Galaksi Sombrero (M104) dalam kondisi langit gelap.

Teleskop besar (300mm ke atas) adalah penjelajah alam semesta yang sesungguhnya, mengungkap detail pada objek-objek di atas dengan lebih kaya, serta menjangkau nebula dan galaksi redup yang tak terhitung jumlahnya dalam katalog Messier dan NGC.

Prosedur Pengamatan Planet Jupiter dan Saturnus

Pertama, pastikan planet tersebut berada di atas cakrawala dan tidak terlalu dekat dengan horizon di mana turbulensi atmosfer kuat. Gunakan finderscope untuk membidiknya—mereka akan tampak seperti bintang yang sangat terang dan tidak berkelap-kelip. Mulai dengan eyepiece berfokus panjang (perbesaran rendah) untuk menemukan planet dan keempat bulan Galilean Jupiter atau Titan milik Saturnus. Setelah terkunci, naikkan perbesaran secara bertahap. Untuk Jupiter, tunggu momen ketika atmosfer stabil (seeing bagus) untuk melihat detail pada pita awan utara dan selatannya, serta bayangan bulan yang melintas di permukaannya.

Untuk Saturnus, carilah Cassini Division, garis gelap tipis di antara cincin A dan B, serta perbedaan warna pada pita awan planetnya sendiri.

Tips Mengatasi Tantangan Pengamatan

Polusi cahaya adalah musuh utama. Solusinya bukan hanya pergi ke tempat gelap, tapi juga memanfaatkan filter Light Pollution Reduction (LPR) yang memotong panjang gelombang lampu LED/sodium. Untuk turbulensi atmosfer (seeing), hindari mengamati di atas atap rumah beton yang masih melepaskan panas pada malam hari. Biarkan teleskop beraklimatisasi dengan suhu luar minimal 30 menit. Gunakan perbesaran tinggi hanya saat seeing benar-benar baik—gambar yang tenang dan stabil lebih berharga daripada gambar besar yang bergelombang. Selalu rencanakan sesi pengamatan kamu, gunakan aplikasi peta langit, dan yang terpenting, bersabarlah. Mata dan otak butuh waktu untuk beradaptasi dan menangkap detail yang halus.

Observatorium Besar dan Instrumen Mutakhir

Di puncak gunung tertinggi dan di luar angkasa yang hampa, para raksasa optik ini berdiri. Mereka bukan sekadar teleskop yang diperbesar, tetapi merupakan puncak rekayasa manusia, dirancang untuk menjawab pertanyaan paling mendasar tentang kosmos. Observatorium besar dan teleskop antariksa bekerja dalam simbiosis, saling melengkapi dalam menjelajahi alam semesta.

Keunggulan Observatorium Darat dan Teleskop Antariksa

Observatorium darat seperti Very Large Telescope (VLT) atau Keck Observatory di Hawaii bisa dibangun dengan aperture yang sangat besar (8-10 meter per cermin, bahkan lebih dengan desain segmen), mengumpulkan cahaya dalam jumlah fantastis untuk meneliti objek terjauh dan teredup. Kelemahannya, atmosfer Bumi mengaburkan dan mendistorsi cahaya. Di sinilah teleskop ruang angkasa seperti Hubble dan James Webb Space Telescope (JWST) unggul.

Mereka beroperasi di luar atmosfer, mendapatkan citra yang tajam dan stabil, serta mengamati panjang gelombang inframerah dan ultraviolet yang diserap atmosfer Bumi. JWST, dengan cermin emas raksasa dan instrumen inframerahnya, dirancang khusus untuk melihat pembentukan bintang dan galaksi pertama di alam semesta.

Tabel Spesifikasi Tiga Observatorium Besar

Nama Observatorium Spesifikasi Kunci Lokasi Pencapaian Penting
Very Large Telescope (VLT) 4 unit teleskop dengan cermin 8.2m; dapat beroperasi sebagai interferometer. Gunung Paranal, Gurun Atacama, Chile. Mengambil citra langsung exoplanet pertama; mempelajari bintang di pusat galaksi kita; instrumentasi optik adaptif mutakhir.
Keck Observatory 2 unit teleskop dengan cermin segmen 10m. Gunung Mauna Kea, Hawaii, USA. Membantu penemuan percepatan perluasan alam semesta; karakterisasi atmosfer exoplanet; studi galaksi jauh.
Hubble Space Telescope Cermin 2.4m; mengorbit di ketinggian ~547 km. Orbit Bumi Rendah. Mengukur laju ekspansi alam semesta; citra deep field yang revolusioner; dokumentasi detail planet di tata surya kita.
BACA JUGA  Surat Kesan dan Pesan Bulan Ramadhan Ungkapan Hati Penuh Makna

Cara Kerja Sistem Optik Adaptif

Bayangkan permukaan kolam yang beriak mengacaukan bayangan di dasarnya. Atmosfer Bumi berperilaku seperti itu terhadap cahaya bintang. Sistem Optik Adaptif (AO) adalah teknologi untuk “meratakan riaknya”. Caranya, sebuah sensor mendeteksi distorsi pada cahaya dari bintang panduan (bisa bintang asli atau laser buatan yang ditembakkan ke lapisan atmosfer). Komputer kemudian menghitung distorsi ini ratusan kali per detik, dan mengirim instruksi ke sebuah cermin deformable tipis yang bisa berubah bentuk dengan sangat cepat.

Cermin ini membalikkan distorsi tersebut secara real-time, sehingga sebelum cahaya sampai ke sensor sains, ia telah “diluruskan”. Hasilnya, teleskop darat berukuran raksasa bisa mencapai ketajaman mendekati batas teoritisnya, bersaing dengan ketajaman teleskop di luar angkasa.

Perawatan, Kalibrasi, dan Keselamatan

Hubunganmu dengan teleskop adalah hubungan jangka panjang. Ia adalah instrumen presisi, bukan mainan. Merawatnya dengan benar bukan hanya soal menjaga nilai barang, tetapi lebih tentang menghormati alat yang menghubungkanmu dengan kosmos. Perawatan yang buruk akan menghasilkan performa yang buruk, dan dalam beberapa kasus, bisa membahayakan.

Cara Membersihkan Lensa dan Cermin

Aturan emas: JANGAN membersihkan optik kecuali benar-benar perlu. Debu ringan hampir tidak mempengaruhi performa. Jika noda, sidik jari, atau jamur sudah mengganggu, baru lakukan pembersihan. Pertama, gunakan blower bulb (seperti pembersih kamera) untuk meniup debu longgar. Selanjutnya, teteskan cairan pembersih lensa khusus astronomi (bukan pembersih kaca rumah) ke tisu mikrofiber bersih atau lens tissue, jangan langsung ke lensa.

Usap dengan gerakan memutar lembut dari tengah ke tepi. Untuk cermin reflektor yang bisa dilepas, tekniknya lebih hati-hati dan seringkali melibatkan bilas dengan air destilasi dan larutan isopropil alkohol. Jika ragu, serahkan pada profesional. Lapisan antireflection coating pada lensa sangat halus dan mudah rusak.

Panduan Collimation Teleskop Reflektor Newtonian

Collimation adalah proses menyelaraskan sumbu optik semua cermin agar cahaya difokuskan dengan sempurna. Untuk Newtonian, alat seperti collimation cap atau Cheshire eyepiece sangat membantu. Proses dasarnya melibatkan tiga penyesuaian: pertama, selaraskan cermin sekunder agar terlihat bulat sempurna dan berada di tengah bawah fokuser. Kedua, atur kemiringan cermin primer (biasanya dengan tiga sekrup di belakang tabung) sehingga bayangan lubang tengah pada cermin primer terlihat tepat di tengah cermin sekunder saat dilihat melalui alat collimation.

Ketiga, fine-tune kembali cermin sekunder jika perlu. Collimation yang baik sangat penting untuk mendapatkan citra yang tajam dan fokus maksimal, terutama pada perbesaran tinggi.

Peringatan dan Prosedur Aman Pengamatan Matahari

Ini serius: JANGAN PERNAH melihat Matahari secara langsung melalui teleskop, finderscope, atau kamera tanpa filter yang dirancang khusus dan dipasang dengan benar. Radiasi yang terkonsentrasi dapat merusak mata atau peralatan secara instan dan permanen. Filter okuler murah yang menempel di eyepiece BERBAHAYA karena bisa retak akibat panas. Satu-satunya metode yang aman adalah menggunakan filter solar aperture full, yaitu filter yang menutupi seluruh ujung depan tabung teleskop, terbuat dari film Mylar atau kaca berlapis khusus.

Filter ini mengurangi intensitas cahaya dan radiasi berbahaya sebelum masuk ke tabung. Pastikan filter tidak cacat, tergores, atau bocor. Selalu tutup atau lepas finderscope untuk menghindari kecelakaan. Dengan filter yang tepat, pengamatan sunspot, granulasi, dan fakula menjadi aktivitas yang aman dan mengagumkan.

Pemungkas

Jadi, petualangan antariksa itu nggak harus dimulai dengan roket. Cukup dengan mengenal dan merawat alat optik yang tepat, langit malam yang biasa saja bisa berubah menjadi pameran kosmik yang spektakuler. Ingat, setiap kali kamu mengintip lewat eyepiece, kamu sedang melihat ke masa lalu dan sekaligus mendorong batas pengetahuan. Mulailah dari mana saja, amati objek yang terjangkau, dan biarkan rasa ingin tahu itu yang membawamu lebih jauh.

Siapa tahu, dari hobi mengamati bintang, kamu justru menemukan sesuatu yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah bisa melihat warna nebula dan galaksi secara langsung melalui teleskop?

Secara umum, mata manusia kurang sensitif melihat warna pada objek redup di malam hari. Kebanyakan nebula dan galaksi akan terlihat sebagai bayangan abu-abu atau hijau samar. Warna-warna cantik yang sering dilihat di foto adalah hasil eksposur panjang kamera yang mengumpulkan cahaya lebih lama.

Berapa harga teleskop yang layak untuk pemula?

Untuk pemula yang serius, teleskop refraktor atau reflektor Newtonian dengan aperture 70mm hingga 114mm bisa didapatkan di kisaran Rp 2 jutaan hingga Rp 5 jutaan. Hindari teleskop “mainan” yang mengiklankan pembesaran tinggi dengan harga murah, karena kualitas optiknya biasanya buruk.

Apakah perlu izin khusus untuk memiliki teleskop yang besar dan powerful?

Tidak perlu izin khusus untuk memiliki teleskop pribadi, terlepas dari seberapa besar ukurannya. Namun, untuk pengamatan yang optimal, pertimbangkan lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki “seeing” atau kestabilan atmosfer yang baik.

Bagaimana cara memilih eyepiece yang tepat untuk teleskop saya?

Fokus pada kualitas lensa dan panjang fokal (dalam mm), bukan pada angka pembesaran maks. Mulailah dengan eyepiece yang memberikan pembesaran rendah (panjang fokal besar, e.g., 25mm) untuk menemukan objek, lalu gunakan yang pembesaran lebih tinggi (panjang fokal kecil, e.g., 10mm) untuk melihat detail. Perhitungan pembesaran = Panjang Fokus Teleskop / Panjang Fokus Eyepiece.

Bisakah teleskop digunakan pada siang hari untuk melihat pemandangan darat?

Bisa, tetapi kebanyakan teleskop astronomi menghasilkan bayangan terbalik (upside down) yang mengganggu untuk pengamatan darat. Beberapa model memerlukan prism diagonal khusus (erecting prism) untuk membenarkan gambar. Selalu hindari mengarahkan teleskop ke Matahari tanpa filter khusus yang dipasang di depan tabung.

Leave a Comment