Arti Pertukaran Barang dan Jasa Antar Dua Negara dalam Ekonomi Global

Arti pertukaran barang dan jasa antar dua negara jauh melampaui sekadar transaksi jual beli biasa. Ia merupakan denyut nadi perekonomian global yang menghubungkan pasar, budaya, dan inovasi dari belahan dunia yang berbeda. Dalam dinamika yang kompleks ini, sebuah biji kopi dari petani Indonesia bisa berakhir menjadi secangkir espresso di kafe New York, sementara perangkat lunak dari Bangalore dapat menggerakkan operasional perusahaan di London.

Pertukaran ini membentuk jaringan interdependensi yang rumit dan penuh warna.

Pada intinya, pertukaran internasional adalah mekanisme dimana negara-negara saling mengisi kekurangan dan memanfaatkan kelebihan masing-masing. Lebih dari sekadar impor dan ekspor, aktivitas ini melibatkan perbedaan regulasi, mata uang, dan budaya. Pelakunya pun beragam, mulai dari korporasi multinasional raksasa hingga usaha mikro yang mengekspor kerajinan tangan. Memahami artinya berarti menyelami bagaimana globalisasi bekerja dalam praktik nyata, membentuk harga, ketersediaan barang, dan bahkan peluang kerja di sekitar kita.

Pengertian Dasar dan Konsep Inti

Pada dasarnya, pertukaran barang dan jasa antar dua negara adalah aktivitas ekonomi di mana suatu negara menjual (mengekspor) dan membeli (mengimpor) produk serta layanan dari dan ke negara lain. Konsep ini berakar pada keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat diproduksi sendiri secara efisien, atau untuk mendapatkan produk dengan kualitas dan harga yang lebih baik dari luar negeri. Intinya, ini adalah perluasan logis dari pasar domestik ke skala global, di mana batas-batas geografis bukan lagi penghalang mutlak untuk transaksi ekonomi.

Perdagangan internasional memiliki karakter yang berbeda dengan perdagangan dalam negeri. Perbedaan paling mendasar terletak pada kompleksitasnya. Selain melibatkan jarak yang lebih jauh, perdagangan internasional harus berhadapan dengan peraturan bea cukai, perbedaan mata uang, kebijakan ekonomi masing-masing negara, serta standar kualitas dan budaya yang beragam. Risiko politik dan fluktuasi nilai tukar juga menjadi faktor yang tidak signifikan dalam perdagangan domestik.

Pertukaran barang dan jasa antar dua negara, atau perdagangan internasional, pada dasarnya adalah sebuah mekanisme kompleks yang memerlukan presisi dan kejelasan aturan, mirip dengan proses menyederhanakan ekspresi aljabar seperti pada contoh Sederhanakan (2xy²/3x²y)³ : (4xy/3x²y³)². Keduanya bertujuan menemukan bentuk yang paling efisien dan fundamental. Dengan demikian, esensi dari hubungan ekonomi global ini adalah menciptakan efisiensi dan nilai tambah yang optimal bagi kedua belah pihak yang terlibat.

Pelaku Utama dalam Pertukaran Internasional

Proses pertukaran ini melibatkan jaringan pelaku yang saling terkait. Produsen atau eksportir di negara asal merupakan ujung tombak yang menyediakan barang atau jasa. Di sisi lain, importir atau distributor di negara tujuan berperan sebagai pembeli dan penyalur ke pasar lokal. Perusahaan pengangkutan dan logistik memastikan produk berpindah secara fisik, sementara lembaga keuangan, terutama bank, memfasilitasi pembayaran yang aman melalui instrument seperti Letter of Credit (L/C).

Pemerintah juga merupakan pelaku kunci melalui instansi bea cukai dan kementerian perdagangan yang mengatur dan mengawasi arus barang.

Karakteristik Barang Berwujud dan Jasa

Dalam perdagangan internasional, objek pertukaran dapat dikategorikan menjadi barang berwujud (tangible) dan jasa (intangible). Keduanya memiliki sifat, cara pengiriman, dan tantangan yang berbeda. Memahami perbedaan ini penting untuk mengelola ekspektasi dan prosedur operasional.

Aspect Barang Berwujud (Tangible) Jasa (Intangible)
Sifat Fisik Memiliki bentuk fisik, dapat disentuh, dilihat, dan diukur. Tidak memiliki bentuk fisik, lebih pada aktivitas, keahlian, atau pengalaman.
Cara Pengiriman Memerlukan transportasi fisik (kapal, pesawat, truk) dan penyimpanan. Sering dikirimkan secara digital atau melalui kehadiran sumber daya manusia (tenaga ahli).
Contoh Minyak bumi, mesin, tekstil, kopi, elektronik. Konsultasi manajemen, layanan perangkat lunak, pariwisata, royalti hak cipta.
Tantangan Utama Biaya logistik, bea masuk, kerusakan selama pengiriman, kontrol kualitas fisik. Standardisasi kualitas, perlindungan kekayaan intelektual, hambatan regulasi profesi.
BACA JUGA  Jika kita bercermin bayangan yang terjadi adalah refleksi diri dan realitas

Bentuk dan Pola Pertukaran

Pertukaran barang dan jasa internasional tidak terjadi dalam bentuk yang seragam. Bentuknya sangat beragam, mulai dari komoditas primer hingga produk teknologi tinggi, serta dari layanan tradisional hingga jasa digital. Pola pertukaran ini pun tidak acak, tetapi sering mengikuti logika ekonomi dan tingkat perkembangan negara yang terlibat.

Bentuk Nyata Pertukaran Barang

Pertukaran barang dapat dilihat dalam berbagai tahap penyelesaian. Negara yang kaya sumber daya alam, seperti Indonesia atau Australia, banyak mengekspor bahan mentah seperti bijih besi, batu bara, atau minyak sawit mentah (CPO). Barang setengah jadi, seperti benang untuk tekstil atau suku cadang kendaraan, juga diperdagangkan secara intensif untuk mendukung rantai pasok industri global. Sementara itu, negara dengan industri manufaktur maju seperti Jerman dan Tiongkok mendominasi ekspor barang jadi seperti mobil, mesin industri, dan gadget elektronik.

Pertukaran barang dan jasa antar dua negara, atau ekspor-impor, merupakan inti dari perdagangan internasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi. Prinsip pertukaran nilai ini, menariknya, dapat dianalogikan dalam konteks lain, seperti upaya mengukur capaian hafalan Al-Qur’an sebagaimana diulas dalam analisis Rata‑Rata Juz Hafalan Putra Ida Berdasarkan Median. Keduanya, meski berbeda ranah, sama-sama memerlukan metode pengukuran yang akurat untuk memahami nilai dan kemajuan yang dipertukarkan atau dicapai, yang pada akhirnya kembali menegaskan pentingnya transaksi bernilai dalam skala global.

Contoh Pertukaran Jasa Antar Negara

Pertukaran jasa seringkali kurang kasat mata namun nilainya sangat besar. Pariwisata adalah contoh klasik, di mana warga negara A membelanjakan uangnya untuk akomodasi, transportasi, dan kuliner di negara B—ini dianggap sebagai ekspor jasa bagi negara B. Layanan konsultasi dari firma hukum atau manajemen asing yang membantu perusahaan domestik juga merupakan bentuk ekspor jasa. Demikian pula, penggunaan platform perangkat lunak berbasis cloud (seperti SaaS) dari perusahaan Amerika Serikat oleh pengguna di seluruh dunia adalah bentuk perdagangan jasa teknologi yang semakin dominan.

Pola Pertukaran antara Negara Maju dan Berkembang

Pola umum yang sering terlihat adalah pertukaran antara negara maju dan berkembang. Negara berkembang cenderung mengekspor sumber daya alam, produk pertanian, dan barang padat karya dengan nilai tambah relatif rendah. Sebaliknya, mereka mengimpor mesin-mesin berat, teknologi tinggi, dan barang modal dari negara maju. Pola ini didorong oleh perbedaan faktor produksi dan tingkat teknologi. Namun, pola ini terus berevolusi seiring dengan industrialisasi di banyak negara berkembang.

Faktor yang Mempengaruhi Pola Pertukaran

Pola pertukaran suatu negara tidak terbentuk secara instan. Beberapa faktor kunci yang membentuknya antara lain:

  • Ketersediaan Sumber Daya Alam: Negara dengan cadangan minyak atau mineral besar akan cenderung menjadi eksportir utama komoditas tersebut.
  • Penguasaan Teknologi dan Inovasi: Kemampuan riset dan pengembangan mendorong ekspor produk bernilai tinggi dan jasa intelektual.
  • Biaya Tenaga Kerja: Negara dengan upah buruh relatif rendah sering menjadi basis produksi untuk barang padat karya.
  • Kebijakan Pemerintah: Subsidi, insentif pajak, dan perjanjian dagang bebas dapat secara artifisial membentuk keunggulan komparatif suatu negara.
  • Infrastruktur dan Logistik: Kualitas pelabuhan, bandara, dan jaringan jalan sangat mempengaruhi kemampuan suatu negara untuk mengekspor barang secara efisien dan kompetitif.

Mekanisme dan Prosedur Operasional

Di balik sederet kontainer yang berpindah dari satu benua ke benua lain, terdapat mekanisme dan prosedur operasional yang rumit dan terstandardisasi. Proses ini melibatkan serangkaian langkah administratif, logistik, dan finansial yang harus dipatuhi oleh semua pihak untuk memastikan kelancaran dan kepatuhan hukum.

Perjalanan Barang dari Produsen ke Konsumen Luar Negeri

Perjalanan sebuah barang, katakanlah sepatu dari pabrik di Tangerang ke toko di Amsterdam, dimulai dengan kesepakatan kontrak dan pembayaran antara eksportir Indonesia dan importir Belanda. Eksportir kemudian mempersiapkan pengiriman, termasuk pengemasan, pelabelan, dan penyelesaian dokumen dalam negeri seperti Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB). Barang diangkut ke pelabuhan atau bandara, melalui proses customs clearance untuk ekspor. Setelah tiba di Belanda, importir mengurus customs clearance untuk impor, membayar bea masuk jika ada, dan baru kemudian barang dapat diambil dan didistribusikan ke jaringan ritel hingga sampai ke konsumen akhir.

Dokumen Penting dalam Ekspor dan Impor

Dokumen adalah nyawa dari perdagangan internasional. Beberapa dokumen kunci yang wajib ada antara lain Commercial Invoice (faktur penjualan), Packing List (daftar isi kemasan), dan Bill of Lading atau Air Waybill yang berfungsi sebagai kontrak pengangkutan dan bukti kepemilikan barang. Dokumen asal barang (Certificate of Origin) penting untuk menentukan tarif bea masuk. Selain itu, dokumen asuransi dan izin khusus (seperti karantina untuk produk pertanian) juga sering diperlukan.

Kelengkapan dan keakuratan dokumen ini sangat krusial untuk menghindari penundaan dan sanksi.

Peran Lembaga Keuangan dan Pembayaran Internasional

Lembaga keuangan, terutama bank, berperan sebagai pihak ketiga yang terpercaya untuk memfasilitasi pembayaran antara dua pihak yang jaraknya jauh dan mungkin belum saling mengenal dengan baik. Metode pembayaran internasional yang umum adalah Letter of Credit (L/C), di mana bank importir menjamin pembayaran kepada eksportir asalkan semua syarat dalam L/C terpenuhi. Metode lain seperti Telegraphic Transfer (T/T) atau Collection juga digunakan tergantung tingkat kepercayaan dan kesepakatan.

BACA JUGA  Perbedaan Negara Maju dan Negara Berkembang Klasifikasi Ekonomi Global

Lembaga keuangan juga menawarkan produk seperti bank garansi dan pembiayaan perdagangan untuk mendukung likuiditas para pelaku.

Makna dan Pentingnya Incoterms

Incoterms (International Commercial Terms) adalah serangkaian ketentuan perdagangan internasional yang diterbitkan oleh International Chamber of Commerce (ICC) yang mendefinisikan tanggung jawab antara penjual dan pembeli terkait pengiriman barang. Istilah seperti FOB (Free On Board), CIF (Cost, Insurance and Freight), atau EXW (Ex Works) dengan jelas menentukan siapa yang menanggung biaya, risiko, dan tanggung jawab logistik pada setiap titik dalam perjalanan barang. Penggunaan Incoterms yang tepat mencegah kesalahpahaman yang mahal dan menjadi dasar untuk menghitung harga jual.

Dampak dan Manfaat yang Dihasilkan

Pertukaran barang dan jasa antar negara bukan sekadar transaksi bisnis biasa; ia memiliki dampak yang luas dan mendalam terhadap perekonomian dan masyarakat negara yang terlibat. Manfaatnya bersifat multidimensional, menyentuh aspek makroekonomi hingga pilihan konsumen sehari-hari.

Pertukaran barang dan jasa antar dua negara, atau perdagangan internasional, merupakan fondasi utama dalam hubungan ekonomi global yang saling menguntungkan. Dinamika ini tak ubahnya seperti pertukaran kata-kata penuh makna dalam interaksi sosial, sebagaimana tersedia dalam kumpulan Kata Khusus untuk Gadis yang memperkaya komunikasi. Pada akhirnya, esensi dari kedua bentuk pertukaran tersebut adalah menciptakan nilai tambah dan memperkuat ikatan, baik dalam relasi personal maupun kemitraan ekonomi antar bangsa.

Dampak positif yang paling terlihat adalah kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Ekspor meningkatkan permintaan atas produk domestik, mendorong produksi, dan menciptakan lapangan kerja. Devisa yang masuk dari ekspor memperkuat cadangan devisa negara, yang penting untuk stabilitas nilai tukar dan kemampuan membayar impor. Sementara itu, impor barang modal dan teknologi dapat meningkatkan produktivitas industri dalam negeri dalam jangka panjang.

Pengaruh terhadap Ketersediaan dan Variasi Produk

Bagi konsumen domestik, perdagangan internasional membuka akses ke produk yang tidak diproduksi di dalam negeri atau yang memiliki kualitas dan harga lebih kompetitif. Supermarket di Jakarta kini menjual anggur dari Chili, keju dari Prancis, atau elektronik dari Korea Selatan. Variasi ini tidak hanya memuaskan selera konsumen tetapi juga mendorong persaingan sehat, yang pada gilirannya dapat mendorong produsen lokal untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas produknya.

Dampak terhadap Alih Teknologi dan Efisiensi

Ketika sebuah perusahaan mengimpor mesin produksi yang lebih canggih atau menggunakan jasa konsultan manajemen internasional, terjadi transfer pengetahuan dan teknologi. Kerja sama dengan mitra asing, baik melalui joint venture maupun hubungan pemasok, seringkali menjadi saluran bagi tenaga kerja lokal untuk mempelajari standar operasi, manajemen mutu, dan praktik terbaik (best practices) yang berlaku secara global. Hal ini secara signifikan meningkatkan efisiensi dan kapasitas industri dalam negeri.

Manfaat bagi Negara Pengekspor dan Pengimpor

Manfaat bagi Negara Pengekspor Manfaat bagi Negara Pengimpor
Peningkatan Pendapatan Nasional dan devisa. Pemenuhan kebutuhan barang/jasa yang tidak diproduksi domestik.
Ekspansi skala produksi dan penciptaan lapangan kerja. Akses terhadap produk dengan harga lebih murah atau kualitas lebih baik.
Pemanfaatan kapasitas produksi yang berlebih. Stimulus persaingan yang mendorong inovasi produsen lokal.
Penguatan posisi industri dan brand di pasar global. Masukan barang modal dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas.

Tantangan dan Hambatan dalam Pelaksanaan: Arti Pertukaran Barang Dan Jasa Antar Dua Negara

Meskipun membawa banyak manfaat, jalan perdagangan internasional tidak selalu mulus. Berbagai tantangan dan hambatan, baik yang bersifat proteksionis maupun teknis, dapat menghambat arus pertukaran yang bebas dan efisien. Memahami hambatan ini adalah langkah awal untuk mengelolanya.

Hambatan Tarif dan Non-Tarif

Hambatan tarif adalah pembatasan yang paling langsung, berupa pungutan bea masuk atas barang impor. Tujuannya bisa untuk melindungi industri dalam negeri atau menambah pendapatan negara. Sementara itu, hambatan non-tarif lebih beragam dan seringkali lebih sulit diatasi. Ini mencakup kuota impor (pembatasan jumlah), subsidi kepada produsen domestik yang membuat harga mereka tidak wajar, serta berbagai regulasi teknis yang kompleks.

Tantangan Regulasi, Budaya, dan Standar, Arti pertukaran barang dan jasa antar dua negara

Perbedaan sistem hukum dan regulasi antar negara menciptakan lingkungan yang kompleks. Suatu produk yang memenuhi standar di negara asal mungkin tidak lolos persyaratan kesehatan, keselamatan, atau lingkungan di negara tujuan. Perbedaan budaya juga mempengaruhi selera pasar, cara negosiasi bisnis, dan strategi pemasaran. Selain itu, standar kualitas seperti ISO atau sertifikasi halal menjadi persyaratan wajib untuk masuk ke pasar tertentu, yang memerlukan investasi dan adaptasi dari eksportir.

BACA JUGA  Integral Fungsi Rasional x+1/(x-3)^2 dx secara Matematis dan Penyelesaiannya

Risiko Fluktuasi Nilai Tukar Mata Uang

Kurs mata uang yang berfluktuasi menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan internasional. Sebuah kontrak yang menguntungkan bagi eksportir Indonesia ketika kurs Rupiah melemah terhadap Dolar AS, tiba-tiba bisa merugi jika Rupiah menguat secara signifikan sebelum pembayaran diterima. Risiko ini dapat menggerogoti margin keuntungan dan membuat perencanaan bisnis menjadi sulit. Perusahaan sering menggunakan instrumen lindung nilai (hedging) untuk memitigasi risiko ini, namun hal itu menambah biaya transaksi.

Contoh Spesifik Hambatan Non-Tarif

Hambatan non-tarif sering kali tersembunyi dalam bentuk kebijakan teknis. Berikut adalah beberapa contoh nyata:

  • Persyaratan Sanitari dan Phytosanitary (SPS): Larangan impor buah tertentu karena kekhawatiran akan hama atau penyakit, seperti persyaratan ketat AS terhadap manggis dari Asia Tenggara.
  • Regulasi Teknis: Persyaratan spesifik untuk peralatan elektronik, seperti standar keamanan CE di Eropa atau FCC di AS, yang mengharuskan modifikasi produk.
  • Prosedur Kepabeanan yang Rumit: Birokrasi yang panjang dan tidak transparan di pelabuhan suatu negara dapat menjadi hambatan terselubung untuk melindungi pasar domestik.
  • Kebijakan Lokal Konten: Peraturan yang mewajibkan penggunaan komponen atau tenaga kerja lokal dalam persentase tertentu untuk produk yang dijual di negara tersebut.

Studi Kasus dan Ilustrasi Deskriptif

Untuk memahami dinamika nyata dari pertukaran internasional, mari kita telusuri beberapa ilustrasi konkret. Studi kasus ini akan menggambarkan bagaimana teori dan mekanisme tersebut diterapkan dalam alur bisnis yang sesungguhnya, mulai dari komoditas tradisional hingga jasa berteknologi tinggi.

Perjalanan Kopi Arabika Gayo ke Pasar Amerika Serikat

Proses dimulai di kebun-kebun dataran tinggi Gayo, Aceh, di mana petani memetik cherry kopi. Cherry merah tersebut kemudian diproses di penggilingan lokal dengan metode washed process, menghasilkan green bean (biji hijau). Eksportir di Medan membeli green bean, melakukan sortasi dan grading sesuai permintaan buyer AS, lalu mengemasnya dalam karung goni bermerek. Dokumen seperti Certificate of Origin (asal-usul Gayo) dan hasil uji laboratorium untuk cita rasa dan bebas cemaran disiapkan.

Kopi dikirim via kontainer dari Pelabuhan Belawan ke Los Angeles. Sesampainya di AS, importir membayar bea masuk dan mendistribusikan biji kopi ke berbagai roaster (pemanggang) spesialti. Roaster tersebut kemudian memanggang dan menjualnya ke kedai-kedai kopi, di mana barista akhirnya menyeduh secangkir kopi Gayo untuk dinikmati konsumen di Seattle.

“Dalam satu kontainer berisi 18 ton green bean kopi Gayo, terkandung nilai ekonomi yang menyebar mulai dari pendapatan petani di Aceh, upah pekerja sortir di Medan, devisa untuk negara, hingga margin bagi importir dan roaster di AS. Rantai nilai ini menghubungkan pegunungan Indonesia dengan pasar premium global.”

Pola Impor Bahan Baku dan Ekspor Jasa Teknologi Jepang

Jepang, dengan sumber daya alam yang terbatas, menggambarkan pola perdagangan yang khas. Negara ini secara masif mengimpor bahan baku mentah seperti LNG (gas alam cair) dari Timur Tengah, batubara termal dari Australia, dan bijih besi dari Brasil. Bahan baku ini kemudian diolah oleh industri manufaktur berteknologi tinggi menjadi produk seperti mobil, kapal, dan semiconductor. Namun, ekspor Jepang tidak hanya barang.

Perusahaan-perusahaan Jepang juga aktif mengekspor jasa teknologi dan keahlian, misalnya dalam bentuk konsultasi engineering untuk pembangunan infrastruktur kereta cepat di India, atau lisensi teknologi baterai untuk produsen mobil listrik di Eropa. Dengan demikian, Jepang mengubah bahan baku impor menjadi nilai tambah yang sangat tinggi, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

Operasi Perusahaan Konsultan Eropa di Asia Tenggara

Bayangkan sebuah firma konsultan manajemen ternama asal Belanda yang mendapatkan proyek untuk membantu transformasi digital sebuah bank besar di Thailand. Ekspor jasa ini dimulai dengan pengiriman tim ahli yang terdiri dari partner dan konsultan senior ke Bangkok. Mereka menganalisis proses bisnis klien secara mendalam, seringkali dengan dukungan platform analitik digital yang diakses dari server di Eropa. Rekomendasi strategis, desain sistem baru, dan roadmap implementasi disusun.

Pelatihan diberikan kepada staf lokal. Seluruh proses ini melibatkan transfer pengetahuan intensif, pembayaran fee konsultan dalam Euro, dan harus mematuhi regulasi ketenagakerjaan serta perpajakan Thailand untuk kegiatan mereka di sana. Keberhasilan proyek ini tidak diukur dengan pengiriman barang, tetapi dengan peningkatan kinerja dan kapabilitas bank klien tersebut.

Penutupan Akhir

Arti pertukaran barang dan jasa antar dua negara

Source: bee.id

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa arti pertukaran barang dan jasa antar dua negara adalah fondasi dari kesejahteraan ekonomi modern yang inklusif. Ia bukanlah konsep statis, melainkan sebuah ekosistem dinamis yang terus berevolusi menghadapi tantangan geopolitik, kemajuan teknologi, dan kesadaran akan keberlanjutan. Ke depannya, kolaborasi dan kemitraan yang adil akan menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaatnya bagi semua pihak. Pada akhirnya, setiap transaksi internasional adalah benang dalam tenun besar yang menyatukan dunia, membuktikan bahwa dalam ekonomi global, tidak ada satu pun negara yang benar-benar berdiri sendiri.

Detail FAQ

Apa bedanya neraca perdagangan dan neraca berjalan?

Neraca perdagangan hanya mencatat transaksi barang (visible trade), sedangkan neraca berjalan mencakup transaksi barang, jasa, pendapatan, dan transfer berjalan. Jadi, neraca berjalan cakupannya lebih luas.

Mengapa harga barang impor sering lebih mahal meski dari negara dengan biaya produksi rendah?

Harga akhir dipengaruhi oleh biaya tambahan seperti tarif bea masuk, pajak pertambahan nilai, biaya transportasi dan asuransi, margin distributor, serta fluktuasi nilai tukar mata uang.

Apakah UKM bisa terlibat dalam perdagangan internasional?

Sangat bisa. Dengan platform e-commerce global, jasa logistik yang semakin terjangkau, dan fasilitasi dari pemerintah, banyak UKM kini berhasil mengekspor produk khusus (niche) ke pasar internasional.

Apa yang dimaksud dengan dumping dalam perdagangan internasional?

Dumping adalah praktik menjual barang di pasar luar negeri dengan harga yang lebih rendah daripada harga di pasar domestik atau di bawah biaya produksinya, biasanya untuk menguasai pasar dan seringkali dianggap sebagai persaingan tidak sehat.

Leave a Comment