Bahasa Indonesia untuk Cicem Panduan Lengkap Mengenal Burung Kicau

Bahasa Indonesia untuk cicem membuka jendela baru untuk memahami kehidupan burung kicau yang kerap menemani keseharian di pepohonan. Lebih dari sekadar nama, pendalaman ini mengajak kita menyelami dunia komunikasi mereka yang kompleks, mulai dari kicauan riang penanda wilayah hingga alarm tajam pemberi sinyal bahaya. Setiap bunyi dan perilaku menyimpan cerita, menunggu untuk diartikulasikan dengan kosakata yang kaya dan deskripsi yang hidup.

Memahami bahasa untuk mendeskripsikan cicem berarti memperkaya cara kita memandang alam. Pengamatan terhadap pola warna bulu, gerakan lincah di dahan, hingga arsitektur sarang yang rumit, semua memerlukan leksikon khusus. Pengetahuan ini tidak hanya berguna bagi pengamat burung, tetapi juga bagi siapa pun yang ingin merangkai narasi alam dengan lebih autentik dan memikat, menghubungkan sains, budaya, dan keindahan dalam satu bahasa.

Pengenalan Dasar Bahasa Indonesia untuk Cicem

Memahami bahasa cicem, atau burung kicau kecil dari keluarga Pycononotidae (merbah atau cucak-cucakan), adalah pintu gerbang untuk mengapresiasi kehadiran mereka yang riang di sekitar kita. Komunikasi mereka tidak sekadar kicauan acak, melainkan sebuah kode audio yang kompleks, penuh makna, dan menjadi ciri khas lingkungan tropis Indonesia. Dengan mempelajari “kosakata” dasar mereka, kita dapat mulai menafsirkan drama kecil yang terjadi di balik rimbunnya dedaunan.

Ciri Khas Komunikasi dan Pola Panggilan

Komunikasi cicem didominasi oleh vokalisasi yang bervariasi, dari celetukan pendek hingga lagu yang merdu dan berulang. Bunyi khasnya seringkali berupa suara cerewet, “cici-cici” atau “cem-cem”, yang menjadi asal muasal namanya. Pola panggilannya dapat dikategorikan berdasarkan tujuan dan konteksnya, mencerminkan aktivitas dan keadaan di sekitarnya.

Jenis Panggilan Deskripsi Bunyi Konteks Penggunaan Fungsi
Panggilan Kontak Nada pendek, tajam, dan berulang seperti “cit! cit!” atau “tik! tik!”. Saat bergerak dalam kelompok mencari makan. Menjaga kohesi kelompok, memberi tanda lokasi antar individu.
Panggilan Kawin Lebih melodius, kompleks, dan berirama, sering diulang-ulang dari tempat bertengger yang menonjol. Musim berbiak, biasanya dilakukan oleh burung jantan. Menarik perhatian betina dan menandai wilayah teritorial.
Alarm Bahaya Suara keras, parau, dan bergetar seperti “krrrrk!” atau deretan panggilan cepat yang gugup. Kehadiran pemangsa seperti kucing, ular, atau elang. Peringatan bagi kelompok untuk waspada, mengungsi, atau melakukan mobbing (mengusir bersama).
Panggilan Memohon Suara melengking, lembut, dan terus-menerus. Dikeluarkan oleh anakan di sarang atau anak burung yang baru keluar sarang. Meminta makanan dari induknya.

Di pagi yang berembun, kawanan cicem gunung bergerak lincah di antara kanopi hutan. Suara “cit-cit” mereka yang tajam saling bersahutan, membentuk jaringan komunikasi yang rapat. Tiba-tiba, seekor elang alap-alap melintas di udara. Seketika, satu individu mengeluarkan teriakan parau “krrrk-krrrk!” yang memecah kesibukan. Seketika itu pula, seluruh kelompok membisu, menghilang sempurna di balik kerimbunan daun, meninggalkan kesunyian yang tegang.

Kosakata Deskriptif Pengamat Burung

Untuk mendeskripsikan penampilan cicem secara akurat, pengamat burung di Indonesia menggunakan seperangkat kosakata spesifik yang kaya. Istilah-istilah ini terutama berfokus pada detail warna dan pola bulu, yang menjadi kunci identifikasi.

Warna sering dideskripsikan dengan istilah seperti zaitun (hijau kecokelatan), kastanye (cokelat kemerahan tua), sobekan putih (bercak putih tidak teratur), dan kekuningan pucat. Untuk pola, istilah seperti alih alis (garis di atas mata), setrip kumis (garis dari paruh ke pipi), corak sisik (bulu yang tepinya berwarna berbeda, seperti sisik), tutup telinga (area di belakang mata), dan bintik mata (bulatan kecil di sekitar mata) sangat umum digunakan.

Penyebutan warna iris mata, seperti “mata merah darah” pada cucak kutilang jantan, juga menjadi pembeda penting.

Habitat dan Perilaku Cicem dalam Narasi

Kehidupan cicem adalah sebuah ritme harian yang teratur, sebuah simfoni aktivitas yang selaras dengan terbit dan terbenamnya matahari. Mengamati siklus ini tidak hanya memberikan gambaran perilaku mereka, tetapi juga mengajarkan tentang interaksi kompleks dalam sebuah ekosistem. Dari kebun belakang rumah hingga hutan primer, cicem menenun narasi kehidupannya dengan gerakan dan suara.

BACA JUGA  Arti WYATB Jangan Menyinggung Panduan Komunikasi Digital

Tahapan Siklus Harian Cicem

Aktivitas harian cicem sangat dipengaruhi oleh cahaya dan suhu. Ritme ini dimulai sejak fajar menyingsing dan berakhir saat senja tiba.

Upaya penguatan Bahasa Indonesia untuk cicem menemui dinamika tersendiri, yang seringkali bersinggungan dengan aspek pedagogis. Dalam konteks ini, esensi komunikasi edukatif menjadi kunci, sebagaimana diulas mendalam dalam artikel Hubungan Peserta Didik dan Pendidik: Analisis dengan Contoh. Analisis tersebut memberikan perspektif berharga tentang bagaimana interaksi yang konstruktif dapat menjadi fondasi bagi proses pembelajaran bahasa, termasuk dalam upaya mendorong kecakapan berbahasa yang lebih baik bagi para cicem.

  • Fajar hingga Pagi Hari: Periode paling aktif. Cicem mulai berkicau nyaring (morning chorus) untuk menguatkan teritori dan komunikasi. Aktivitas utama adalah mencari makan secara intensif untuk mengisi energi setelah malam panjang.
  • Siang Hari: Aktivitas menurun, terutama di saat terik. Cicem lebih banyak bertengger di tempat teduh, merapikan bulu (preening), dan beristirahat. Beberapa jenis mungkin masih mencari makan, tetapi dengan intensitas lebih rendah.
  • Sore Hari: Gelombang aktivitas kedua muncul. Pencarian makan kembali intensif untuk mempersiapkan cadangan energi malam. Kicauan mungkin terdengar kembali sebelum senja.
  • Senja hingga Malam: Cicem mencari tempat bertengger untuk tidur yang aman, biasanya di semak atau pohon yang rimbun. Mereka akan diam dan tidur sepanjang malam untuk menghemat energi.

Menggambarkan Setting Habitat

Kehadiran cicem menghidupkan sebuah setting. Berikut adalah contoh deskripsi habitat kebun campuran yang dihidupi oleh aktivitas mereka:

Kebun di belakang rumah itu seperti pasar kecil bagi keluarga cucak-cucakan. Di bawah naungan pohon jambu air yang rimbun, sinar matahari menyaring menjadi titik-titik emas yang berkedip di antara dedaunan. Seekor cucak kutilang dengan jambulnya yang tegak bertengger di cabang tertinggi, berkicau dengan suara parau bersahut-sahutan. Sementara itu, di antara kerimbunan bunga kembang sepatu yang merah menyala, beberapa ekor merbah cerukcuk yang berwarna zaitun melompat-lompat lincah, paruh mereka sibuk mematuki serangga kecil atau mencuri sesekali nektar.

Suara “cirit-cirit” mereka yang tajam menjadi latar yang konstan, berseling dengan gemerisik daun saat mereka terbang pendek dari satu ranting ke ranting lainnya.

Verba untuk Gerakan dan Perilaku

Mendeskripsikan gerakan cicem memerlukan pilihan kata kerja yang tepat untuk menangkap kelincahan dan karakter mereka.

  • Melompat-lompat: Gerakan khas di ranting dengan kedua kaki secara bersamaan.
  • Mematuk: Menggerakkan paruh cepat untuk mengambil makanan (serangga, buah) atau membersihkan bulu.
  • Berkicau riang/bernyanyi: Mengeluarkan vokalisasi merdu dan berirama.
  • Mencarik: Mencabik-cabik buah yang lunak dengan paruh.
  • Mengeram: Duduk di atas telur di sarang untuk menghangatkannya.
  • Menyusur: Terbang rendah dan cepat di antara semak-semak atau bawah tajuk.
  • Mengembangkan bulu: Membuat tubuh tampak lebih besar, biasanya saat mandi atau merasa terganggu.
  • Mobing: Beberapa individu bersama-sama mengusir atau menyerang pemangsa dengan berani.

Ilustrasi Tekstual Sarang Cicem

Sarang cicem umumnya berbentuk cawan dangkal yang teliti buatannya. Sarang itu terselip dengan rapi di percabangan tiga ranting yang kecil di ujung pohon belimbing. Terbuat dari anyaman rumput kering, serat kulit kayu, dan lumut yang halus, dinding sarang tampak kokoh namun lentur. Bagian dalamnya dilapisi dengan bahan yang lebih lembut, seperti akar-akar halus berwarna cokelat muda dan beberapa helai bulu ayam yang tersangkut.

Dua paruh mungil berwarna kekuningan terlihat menyembul dari tepi sarang, menunggu dengan sabar untuk disuapi. Keseluruhan struktur itu terlihat rapuh, namun demikian terikat erat pada rantingnya, bergoyang lembut ditiup angin sore seperti buaian alami.

Keanekaragaman Jenis dan Ciri Pembeda

Dunia cicem di Indonesia sangat beragam, dengan puluhan spesies yang menghuni berbagai ketinggian dan tipe habitat. Perbedaan ini tidak hanya terletak pada penampilan, tetapi juga pada perilaku dan peran ekologisnya. Mengenali variasi ini memperkaya pengalaman mengamati dan memahami kompleksitas avifauna Nusantara.

Perbandingan Beberapa Jenis Cicem Umum

Jenis Cicem Ukuran & Warna Dominan Daerah Persebaran Musim & Kebiasaan
Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) Sedang (20 cm). Tubuh cokelat keabu-abuan, pantat kuning mencolok, jambul hitam. Java, Bali, Sumatra (introduksi). Sangat adaptif. Sepanjang tahun. Sering di kebun, tepi hutan, perkotaan. Sangat vokal dan berani.
Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) Agak kecil (17 cm). Warna zaitun seragam, alis mata putih samar, iris mata putih. Sumatra, Java, Bali, Kalimantan, Sulawesi. Sepanjang tahun. Suka semak belukar, kebun, hutan sekunder. Bergerak dalam kelompok kecil.
Cucak Gunung (Pycnonotus bimaculatus) Sedang (21 cm). Abu-abu gelap, bintik kuning-oranye di depan mata dan di bawah ekor. Pegunungan di Sumatra, Java, Bali. Sepanjang tahun di habitat aslinya. Menghuni hutan pegunungan, tepi hutan. Suara kicauan merdu dan berirama.
Brinji Emas (Pycnonotus melanicterus) Sedang (19 cm). Hitam mengilap di kepala dan dada, tubuh hijau-zaitun, mahkota kuning emas (jantan). Java, Bali, Sumatra, Kalimantan. Sepanjang tahun. Hutan dataran rendah dan perbukitan, sering di kanopi. Lebih pemalu.
BACA JUGA  Menentukan Jumlah Peserta Lomba Lari Berdasarkan Posisi Toni Secara Matematis

Dimorfisme Seksual pada Cicem

Pada banyak spesies cicem, perbedaan jantan dan betina (dimorfisme seksual) tidak mencolok. Namun, beberapa jenis menunjukkan ciri yang cukup jelas. Sebagai contoh, pada Brinji Emas, jantan memiliki mahkota (topi) berwarna kuning emas terang yang kontras dengan wajah dan dagu hitam, sedangkan betina memiliki warna kuning yang lebih kusam atau kehijauan, dan hitamnya tidak sepekat jantan. Pada Cucak Kutilang, perbedaannya lebih halus; jantan cenderung memiliki warna hitam pada jambul dan kekang (area antara paruh dan mata) yang lebih pekat dan luas dibandingkan betina, meski keduanya sama-sama memiliki pantat kuning.

Metafora dan Simpulan dari Penampilan Cicem

Kelincahan dan penampilan cicem sering menjadi sumber inspirasi kiasan dalam bahasa. Suara riuhnya yang bersahutan dapat disamakan dengan “obrolan ibu-ibu di arisan yang tak putus-putusnya”. Gerakannya yang gesit dan tak tentu arah di antara ranting ibarat “anak kecil yang baru belajar berlari, kesana kemari penuh energi”. Bulu pantat Cucak Kutilang yang kuning menyala kerap menjadi metafora untuk sesuatu yang tersembunyi tetapi mencolok, “bagaikan pantat kutilang, baru kelihatan saat dia pergi”.

Peran Cicem dalam Ekosistem

Cicem memainkan peran ganda yang vital dalam menjaga keseimbangan alam. Sebagai pemakan buah (frugivora), mereka adalah agen penyebar biji yang efisien. Biji dari buah yang mereka makan akan tersebar jauh dari pohon induk melalui kotorannya, membantu regenerasi hutan dan vegetasi. Di sisi lain, sebagai pemakan serangga (insektivora), mereka membantu mengendalikan populasi serangga, termasuk hama tanaman. Dengan demikian, kehadiran cicem yang stabil seringkali menjadi indikator kesehatan suatu lingkungan, sebuah penanda bahwa rantai makanan dan siklus alam di tempat tersebut masih berjalan dengan baik.

Budaya dan Cerita Rakyat Terkait Cicem

Dalam khasanah budaya Indonesia, burung tidak hanya makhluk alam, tetapi juga simbol dan pembawa pesan. Cicem, dengan sifatnya yang lincah dan mudah dijumpai, telah meresap ke dalam kepercayaan dan cerita turun-temurun. Kisah-kisah ini merefleksikan cara masyarakat masa lalu memaknai kehadiran burung ini dan mengambil pelajaran darinya.

Kepercayaan dan Simbolisme Lokal

Di berbagai daerah, cicem atau burung sejenisnya kerap dikaitkan dengan tanda atau pertanda.

  • Kedatangan cicem di pekarangan rumah kadang dianggap sebagai pertanda akan ada tamu.
  • Dalam beberapa kepercayaan Jawa, kicauan cicem tertentu pada waktu-waktu khusus (seperti tengah malam) ditafsirkan sebagai firasat atau peringatan.
  • Cicem dianggap sebagai simbol keriangan, kebersamaan, dan kehidupan sosial yang aktif karena sifatnya yang bergerombol.
  • Dalam konteks pertanian tradisional, kehadiran mereka di sawah bisa dilihat sebagai hal positif karena membantu memakan ulat, meski terkadang juga dianggap pengganggu jika memakan buah.

Sinopsis Cerita Rakyat: Cicem dan Petani Sabar, Bahasa Indonesia untuk cicem

Sebuah cerita dari Jawa Barat mengisahkan seorang petani yang kesal karena sekawanan cicem selalu mematuki buah pepaya matang di kebunnya. Setiap hari ia mengusir mereka, tetapi burung-burung itu selalu kembali. Suatu hari, karena kelelahan, ia hanya duduk mengamati. Ia melihat bahwa cicem-cicem itu hanya mematuki buah yang benar-benar matang dan yang mulai busuk, sambil juga aktif menangkap serangga di sekitar pohon.

Si petani pun tersadar. Esok harinya, ia mulai memetik buah yang hampir matang lebih awal untuk dijual, dan membiarkan beberapa buah yang terlalu tinggi untuk matang di pohon sebagai “bagian” bagi cicem. Sejak itu, kebunnya bebas dari hama serangga dan hubungannya dengan alam menjadi lebih harmonis.

Analisis Pesan Moral dalam Cerita

Cerita “Cicem dan Petani Sabar” mengandung pesan tentang observasi, keseimbangan, dan koeksistensi. Konflik awal muncul dari anggapan sepihak bahwa cicem hanya sebagai hama. Pesan moralnya menekankan bahwa sebelum mengambil tindakan penghukuman atau pengusiran, penting untuk memahami peran dan perilaku makhluk lain secara utuh. Cerita ini mengajarkan untuk mencari solusi yang saling menguntungkan (win-win solution) alih-alih konfrontasi, serta menghargai jasa ekosistem yang diberikan oleh makhluk lain, sekecil apapun itu.

Memadukan Unsur Cerita Rakyat dalam Tulisan Kontemporer

Unsur cerita rakyat dapat dihidupkan kembali dalam tulisan tentang cicem dengan tidak menceritakannya secara literal, tetapi menyiratkan nilainya. Misalnya, dalam artikel tentang birdwatching di perkebunan, kita dapat menulis: “Mengamati keriangan sekawanan merbah cerukcuk yang berpindah dari satu pohon kopi ke pohon lain, kita diingatkan pada kearifan lokal yang melihat mereka bukan sebagai pengganggu, melainkan mitra yang turut menjaga keseimbangan. Seperti petani dalam dongeng yang akhirnya berbagi hasil bumi, perkebunan organik modern pun menyediakan sudut-sudut vegetasi asli sebagai ‘upah’ alami bagi para penjaga serangga ini.” Pendekatan ini menghubungkan observasi ilmiah dengan kearifan budaya, memberikan kedalaman pada narasi.

BACA JUGA  Situs Kuburan Prasejarah Bercorak Budhisme Ditemukan di Jawa Barat

Panduan Observasi dan Pendokumentasian

Mengamati cicem adalah sebuah praktik yang memadukan kesabaran, ketajaman indra, dan etika. Pendekatan yang bertanggung jawab memastikan bahwa aktivitas kita tidak mengganggu kehidupan burung yang kita kagumi, sekaligus menghasilkan data atau kenangan yang bermakna. Dokumentasi yang baik adalah cara untuk mengabadikan momen sekaligus berkontribusi pada ilmu pengetahuan warga.

Prosedur Pengamatan yang Bertanggung Jawab

Bahasa Indonesia untuk cicem

Source: tstatic.net

Dalam konteks pembelajaran “Bahasa Indonesia untuk cicem”, penting untuk memahami bahwa kejelasan konsep dan presisi data sama krusialnya dengan ketepatan berbahasa. Analoginya, seperti menghitung Estimasi Produksi Bearing per Jam dari 372 pcs per 15 Menit yang memerlukan logika matematis yang solid, penguasaan bahasa juga butuh fondasi kaidah yang kuat agar komunikasi, termasuk untuk tujuan spesifik seperti pelatihan burung kicau, menjadi efektif dan tidak ambigu.

Pengamatan burung di alam bebas memerlukan sejumlah etika dasar. Pertama, prioritaskan kenyamanan dan keselamatan burung. Jangan pernah berusaha terlalu dekat atau mengejar burung, terutama yang sedang bersarang. Gunakan teropong atau lensa kamera dengan zoom yang memadai untuk menjaga jarak aman. Kedua, bergeraklah dengan perlahan dan tenang, hindari suara berisik atau gerakan tiba-tiba.

Ketiga, perhatikan tanda-tanda stres pada burung, seperti panggilan alarm terus-menerus atau perilaku menghindar. Jika burung tampak terganggu, mundurlah. Keempat, jangan pernah memancing burung dengan rekaman suara panggilan (playback) secara berlebihan, terutama di musim kawin, karena dapat mengganggu ritual alami dan membuang energi mereka.

Poin Penting dalam Pendokumentasian

Saat mencatat penampakan cicem, beberapa detail berikut sangat penting untuk dicatat agar observasi memiliki nilai informasi.

Dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia untuk cicem, penting untuk melatih logika dan ketelitian. Kemampuan analitis ini, misalnya, dapat diasah dengan menyelesaikan soal matematika seperti Hitung nilai 1/1×2 + 1/2×3 + 1/3×4 + 1/4×5. Proses berpikir runtut dan teliti dalam menyelesaikan deret tersebut sangat selaras dengan prinsip memahami struktur kalimat dan kaidah kebahasaan yang menjadi fondasi utama dalam penguasaan Bahasa Indonesia untuk tujuan komunikasi yang efektif.

  • Tanggal dan Waktu: Mencatat musim dan jam aktivitas.
  • Lokasi Spesifik: Nama daerah, koordinat (jika memungkinkan), ketinggian tempat, dan tipe habitat (hutan, kebun, pemukiman).
  • Ciri-ciri Fisik: Ukuran perkiraan, warna bulu dominan, ciri khas (jambul, warna pantat, alis mata), warna paruh dan kaki.
  • Perilaku: Aktivitas yang dilakukan (makan, berkicau, berinteraksi), jenis makanan (buah, serangga), cara bergerak.
  • Suara: Deskripsi kicauan atau panggilan (dengan kata-kata atau rekaman jika ada).
  • Lingkungan Sekitar: Cuaca, keberadaan spesies burung lain, dan faktor pengganggu.

Template Catatan Lapangan Sederhana

Tanggal & Waktu Lokasi & Habitat Jenis yang Diduga Perilaku & Catatan Khusus
12 Oktober 2023, 07.15-07.45 Kebun Raya, jalur tepi danau. Habitat: Taman campuran dengan pohon besar dan semak bunga. Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) Seekor jantan bertengger di cabang mati yang tinggi, berkicau parau berulang. Beberapa individu lain terlihat mematuki buah kecil berwarna ungu di semak dekat air.
12 Oktober 2023, 08.00 Spot yang sama, di semak belukar dekat air. Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier) Kelompok kecil (3-4 individu) melompat-lompat lincah di antara semak. Saling bersuara “cirit” pendek. Satu individu terlihat menangkap serangga di udara (hawking).

Teknik Menulis Jurnal Pengamatan yang Menarik

Jurnal pengamatan yang baik melampaui sekadar daftar fakta. Ia menangkap suasana dan pengalaman personal. Mulailah dengan mendeskripsikan setting secara sensual: bagaimana cahaya pagi, suhu udara, aroma setelah hujan, atau bunyi latar alam lainnya. Kemudian, fokuskan pada satu momen interaksi. Daripada hanya menulis “melihat cucak kutilang berkicau”, deskripsikan prosesnya: “Burung jantan itu mengatur posisi, mengembungkan dada sedikit, lalu mengalirkan serangkaian nada parau yang bersemangat.

Setiap frase diulang tiga kali, seolah menantang jawaban dari seberang danau.” Gabungkan data objektif (warna, perilaku) dengan refleksi subjektif perasaan Anda. Teknik ini mengubah catatan lapangan menjadi sebuah narasi perjalanan yang hidup dan mudah diingat.

Penutup

Dengan demikian, menguasai Bahasa Indonesia untuk cicem pada hakikatnya adalah sebuah praktik memperdalam hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Dari tabel pengamatan hingga cerita rakyat yang turun-temurun, setiap aspek memberikan lapisan pemahaman yang lebih dalam. Pengetahuan ini mengajarkan kepekaan, mendorong tanggung jawab dalam observasi, dan yang terpenting, mengingatkan bahwa di balik kicauan sederhana, tersembunyi sebuah dunia yang kompleks dan menakjubkan, siap untuk terus dikisahkan.

FAQ dan Informasi Bermanfaat

Apakah semua jenis cicem memiliki pola kicauan yang sama?

Tidak, setiap jenis cicem memiliki repertoar kicauan yang unik, bahkan panggilan spesifik untuk konteks berbeda seperti kawin, alarm, atau komunikasi dengan anak.

Bagaimana membedakan cicem muda dari yang dewasa hanya dari penampakan?

Cicem muda sering memiliki warna bulu yang lebih kusam atau pola yang belum sempurna dibandingkan dewasa, serta paruh terkadang terlihat lebih lembut atau berwarna berbeda.

Alat apa saja yang direkomendasikan untuk mendokumentasikan suara cicem di alam?

Selain kamera, penggunaan parabola mikrofon portabel atau bahkan smartphone dengan aplikasi perekam khusus dapat sangat membantu untuk mengcapture kicauan dengan lebih jelas.

Apakah ada etika khusus saat mengamati cicem yang sedang bersarang?

Ya, jangan pernah menyentuh sarang atau telur, pertahankan jarak aman yang tidak mengganggu, batasi waktu pengamatan, dan hindari penggunaan flash kamera.

Leave a Comment