Bahasa Sunda untuk Apa yang Kamu Lihat Sebuah Lensa Budaya

Bahasa Sunda untuk apa yang kamu lihat bukan sekadar kumpulan kata untuk mendeskripsikan visual, melainkan sebuah sistem pengetahuan yang lengkap. Ia adalah perangkat lunak budaya yang diinstal sejak lahir, yang membentuk bagaimana penuturnya mempersepsi, mengamati, dan akhirnya memahami dunia di sekelilingnya. Setiap pandangan, dari sekilas sampai tatapan mendalam, punya kata sendiri-sendiri, membawa serta nilai, filosofi, dan cara berpikir yang unik.

Mari kita selami bagaimana bahasa ini mengajari kita untuk tidak hanya melihat, tetapi benar-benar
-niteni*.

Melalui kosakata persepsinya yang kaya, Bahasa Sunda menawarkan lensa fenomenologis untuk mengamati lingkungan, alat untuk mendekonstruksi budaya visual modern, metafora optik yang membentuk pola pikir, kerangka untuk memahami arsitektur, hingga metode transmisi pengetahuan ekologis. Dari kata kerja seperti
-noong* dan
-neuteup* hingga idiom yang dalam, setiap elemen bahasa ini adalah pintu masuk untuk melihat dunia dengan kesadaran yang lebih penuh dan bermakna.

Bahasa Sunda sebagai Lensa Fenomenologis dalam Mengamati Lingkungan Sekitar

Dalam hiruk-pikuk kehidupan modern, kita sering kali hanya sekilas “melihat” tanpa benar-benar “mengamati”. Bahasa Sunda menawarkan sebuah pendekatan yang lebih dalam melalui konsep filosofisnya, mengajak kita untuk tidak sekadar melewati pemandangan, tetapi untuk benar-benar hadir di dalamnya. Pendekatan ini mengakar pada kearifan lokal yang memandang hubungan manusia dengan alam bukan sebagai pemisah, melainkan sebagai bagian yang saling terhubung.

Konsep kunci yang patut disoroti adalah ngalalar dan niteni. Keduanya melampaui makna harfiah “melihat”. Niteni berasal dari kata dasar teni (perhatian), yang berarti memberikan perhatian khusus, mengamati dengan saksama, bahkan hingga ke detail-detailnya. Ini adalah aktivitas mengamati dengan kesadaran penuh, seperti seorang petani yang niteni pertumbuhan padi atau perubahan warna daun. Sementara ngalalar lebih dalam lagi, mengacu pada proses merenungkan, mempertimbangkan, dan menghubungkan apa yang diamati dengan pengetahuan dan pengalaman terdalam.

Ngalalar adalah ketika pengamatan mata bertemu dengan olah batin, menghasilkan pemahaman yang kontekstual dan penuh makna. Melalui kedua konsep ini, Bahasa Sunda membentuk sebuah lensa fenomenologis—sebuah cara untuk menyadari dunia sebagaimana ia menampakkan diri, tanpa prasangka, dengan keterbukaan penuh. Pengamatan bukan lagi soal mengumpulkan data visual, tetapi sebuah dialog antara si pengamat, objek yang diamati, dan ruang di antara mereka.

Spektrum Kosakata Melihat dalam Bahasa Sunda

Kekayaan persepsi visual dalam Bahasa Sunda tercermin dari beragamnya kata kerja untuk “melihat”, masing-masing dengan nuansa dan konteksnya sendiri. Perbedaan ini menunjukkan kepekaan budaya dalam menangkap dan mengomunikasikan pengalaman visual.

Kata Kerja Konteks Penggunaan Nuansa Makna Contoh Kalimat
Noong Situasi santai, sekilas, atau melihat tanpa tujuan serius. Casual, melihat-lihat, mengamati sekeliling dengan santai. “Urang noong ka buruan, aya anak-anak keur ulin bal.” (Saya melihat ke halaman, ada anak-anak sedang bermain bola.)
Neuteup Mengamati dengan fokus dan konsentrasi penuh, sering untuk waktu yang lama. Intens, penuh perhatian, seperti mengawasi atau meneliti. “Panjaga kawah neuteup jeroan ciwidey, ningali gelembungna.” (Penjaga kawah mengamati dengan fokus kedalaman Ciwidey, melihat gelembungnya.)
Ningali Penggunaan umum dan netral untuk aktivitas melihat. Netral, sama dengan “melihat” dalam Bahasa Indonesia. “Abdi ningali mobil éta kaétang di jalan tol.” (Saya melihat mobil itu melaju di jalan tol.)
Nénjo Melihat dengan penuh penghayatan, kekaguman, atau dari jarak tertentu. Estetis, menghayati, memandang. Sering untuk pemandangan yang indah. “Urang nénjo panon poé surup di pantai Pangandaran.” (Kami memandang matahari terbenam di pantai Pangandaran.)

Langkah Praktis Melatih Pengamatan ala Sunda

Melatih diri untuk mengamati dengan pendekatan niteni dan ngalalar dapat dimulai dengan langkah-langkah sederhana yang mengalihkan fokus dari kecepatan menuju kedalaman.

  • Pilih Satu Objek Biasa. Mulailah dengan sesuatu yang ada di sekitar, seperti pot tanaman, selembar daun, atau bahkan secangkir kopi. Letakkan gadget dan berikan waktu lima menit hanya untuk objek tersebut.
  • Gunakan Semua Indera Awalnya. Sebelum masuk ke niteni, dekati objek dengan semua indera. Apa warnanya, teksturnya, baunya, suaranya jika disentuh? Ini membuka kanal persepsi yang lebih luas.
  • Praktikkan Niteni Detail. Fokuskan mata pada detail-detail kecil: pola urat daun, gradasi warna, bentuk bayangan yang jatuh, partikel debu yang menempel. Catat dalam pikiran tanpa perlu menilai.
  • Izinkan Diri untuk Ngalalar. Setelah mengamati detail, tanyakan pada diri sendiri: Apa hubungan objek ini dengan sekitarnya? Bagaimana perasaannya? Apakah ini mengingatkan pada sesuatu? Biarkan pikiran merenung dan menghubungkan.

  • Ekspresikan dengan Kosakata Sunda yang Tepat. Coba deskripsikan apa yang dialami dengan memilih kata yang tepat. Apakah tadi hanya noong, atau sudah sampai neuteup dan nénjo?

Deskripsi Pemandangan Sawah di Pagi Hari

“Isuk-isuk di sawah, kabut ngalayung némbongkeun huma nu héjo sajaba. Cai di balong caang ngeclak kawas kaca, ngagambarkeun sakuriling. Pancingan jaring nu katémbong saeutik-saeutik ti balik halimun, gerak lalampahan jelema nu teu kaétang jelas rupana. Sora manuk kadéngé ku panon liwat riuh rendah nu nyebar ka mana-mana. Hauwihna nyerep kana kulit, ngahaneutan sanajan panonpoé can pageuh.”

Deskripsi ini memanfaatkan leksikon persepsi Sunda yang menyatukan indera. Ngalayung (melayang) memberi gerak pada kabut. Héjo sajaba (hijau luar biasa) bukan sekadar hijau, tetapi hijau yang memancar. Caang ngeclak (terang berkilau) menggambarkan cahaya yang hidup di air. Katémbong (tampak) dan teu kaétang (tak terhitung) mengatur visibilitas dan kuantitas dalam nuansa.

Frasa puitis kadéngé ku panon (terdengar oleh mata) adalah sinestesia khas yang menunjukkan kesatuan persepsi. Kata kerja nyerep (menyerap) digunakan untuk hawa dingin, seolah-olah kulit bisa “melihat” dan merasakan suhu secara visual.

BACA JUGA  Potensi Kerjasama Ekonomi Myanmar–Kamboja Pariwisata Menuju Konektivitas Asia Tenggara

Dekonstruksi Visual Budaya Populer melalui Kosakata Persepsi Bahasa Sunda

Dunia kita kini dibombardir oleh aliran gambar tanpa henti dari media sosial dan platform digital. Banjir visual ini sering kali membuat kita kebingungan, pasif, dan kehilangan kemampuan untuk memilah. Bahasa Sunda, dengan kosakata persepsinya yang bernuansa, menawarkan alat untuk mendekonstruksi dan mengkritisi realitas ini, membantu kita mengonsumsi konten dengan lebih sadar.

Ambil contoh istilah katémbong dan teu kaétang. Katémbong berarti “tampak” atau “kelihatan”, tetapi mengandung pengertian bahwa sesuatu itu sengaja ditampilkan, muncul ke permukaan dari yang tak terlihat. Dalam konteks media sosial, setiap konten yang katémbong adalah hasil kurasi, edit, dan seleksi—bukan realitas mentah. Kata ini mengingatkan kita bahwa ada mekanisme di balik tampilan. Sementara teu kaétang (tak terhitung) secara tepat menggambarkan sensasi overwhelm ketika kita scroll deretan story, reel, atau postingan yang tak ada habisnya.

Ini bukan sekadar jumlah banyak, tetapi banyak yang sudah di luar kemampuan kita untuk dicerna atau diberi makna. Dengan menggunakan lensa ini, kita bisa mempertanyakan: Apa yang sengaja dibuat katémbong dalam feed kita? Dan apa efek dari paparan konten yang teu kaétang tersebut terhadap perhatian dan ketenangan batin kita? Kosakata Sunda mengajak kita untuk tidak sekadar menelan gambar, tetapi untuk “membaca” niat dan dampak di baliknya, memulihkan kedaulatan atas apa yang kita izinkan untuk memenuhi pandangan kita.

Frasa Intensitas Penglihatan dan Konsumsi Konten, Bahasa Sunda untuk apa yang kamu lihat

Bahasa Sunda memiliki cara unik untuk menggambarkan kualitas cahaya dan visibilitas, yang dapat dianalogikan dengan cara kita berinteraksi dengan konten visual digital.

  • Caang Beureum (Terang Merah): Menggambarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan, seperti lampu sorot atau tanda bahaya. Analog dengan konten yang sengaja dibuat provokatif, sensasional, atau clickbait yang “menyerang” mata dan emosi untuk menarik perhatian instan.
  • Remang-remang (Redup, Samar-samar): Keadaan kurang cahaya, di mana bentuk terlihat tidak jelas. Ini mencerminkan konten yang ambigu, misinformasi yang disamarkan, atau narasi yang sengaja dikaburkan untuk menutupi maksud tertentu.
  • Surem Hate (Redam Hati): Lebih dari sekadar redup secara visual, ini menyiratkan suasana muram atau sedih yang terpancar. Mirip dengan konten yang menimbulkan perasaan berat, melancholic, atau menyentuh sisi emosional terdalam secara halus.
  • Hérang Téngah Peuting (Jernih Tengah Malam): Kejernihan visual sempurna, seperti langit di tengah malam cerah. Bisa diibaratkan sebagai konten yang informatif, transparan, mendalam, dan memberikan kejelasan tanpa distraksi.
  • Sumebar Rerenggan (Tersebar Reruntuhan): Visi yang terfragmentasi, melihat banyak hal berserakan tak beraturan. Ini adalah gambaran sempurna untuk pengalaman melihat feed media sosial yang berisi campuran konten personal, iklan, berita, dan hiburan tanpa hierarki yang jelas.

Ilustrasi Warung Kopi Tradisional melalui Lensa Persepsi

Bahasa Sunda untuk apa yang kamu lihat

Source: disway.id

Bayangkan sebuah warung kopi tradisional di pinggir jalan kampung, dilihat pada senja hari. Asap dari tungku kayu ngahuleng (berkepul pelan) ke atas, wujudnya ngalembereh (berubah bentuk lentur) sebelum leyeh (menghilang) di udara lembab. Cahaya lampu teplok dari dalam warung nyorotkeun (menyoroti) butiran debu yang ngambang-ngambang (melayang-layang) seperti mikroskopis dunia, masing-masing katémbong sejenak sebelum lenyap di kegelapan.

Warna kayu usang pada meja dan bangku nyerep cahaya itu, memantulkan warna kolot (tua) yang hangat, bukan caang yang menusuk. Gelas-gelas kopi di atas meja nyawang (memantulkan) bayangan pelanggan yang teu kaétang jelas raut wajahnya, hanya siluet yang ngalanglang (bergerak perlahan) dalam percakapan. Seluruh pemandangan ini tidak “diposting” dalam resolusi tinggi, tetapi hadir dalam keadaan remang-remang yang justru memaksa mata untuk berakomodasi, untuk niteni detail yang muncul perlahan dari kesamaran.

Kata Kerja Penglihatan dan Nilai Budaya Tersirat

Setiap kata kerja melihat dalam Bahasa Sunda tidak hanya mendeskripsikan aktivitas mata, tetapi juga membawa serta sikap, emosi, dan nilai budaya yang mendasari interaksi tersebut.

Kata Kerja Emosi yang Melekat Nilai Budaya Implikasi Sosial
Neuteup Konsentrasi, kekaguman, kewaspadaan. Kedalaman, keseriusan, penghormatan. Digunakan untuk hal yang dianggap penting, sakral, atau berbahaya. Menatap (neuteup) mata orang tua tanpa alasan dianggap tidak sopan.
Ngalieuk (melirik) Rasa ingin tahu yang tersembunyi, keraguan, atau isyarat. Kehati-hatian, tidak frontal, menjaga perasaan. Cara melihat yang halus, sering digunakan dalam komunikasi nonverbal untuk memberi tanda tanpa membuat orang lain merasa diawasi.
Sisingaan (memandang ke atas dengan hormat) Rasa hormat, takjub, dan rendah hati. Hierarki dan penghormatan kepada yang lebih tua, tinggi, atau diagungkan. Mengakui adanya sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri, baik secara fisik (gunung) maupun sosial (atasan, orang dituakan).
Ngalingling (melirik dengan sinis/curiga) Kecurigaan, ketidaksukaan, atau meremehkan. Kewaspadaan sosial terhadap hal yang dianggap tidak beres atau ancaman. Mengungkapkan penilaian negatif tanpa perlu mengatakannya langsung, bagian dari menjaga harmoni dengan tidak konfrontatif.

Metafora Optik dalam Bahasa Sunda dan Implikasinya terhadap Pola Pikir Penuturnya

Cara sebuah bahasa memetakan pengalaman sering kali melalui metafora, dan Bahasa Sunda banyak menggunakan domain penglihatan untuk memahami konsep-konsep abstrak. Metafora optik ini bukan sekadar hiasan bahasa, tetapi jendela ke dalam pola pikir dan cara komunitas Sunda memaknai realitas di sekitarnya.

Pertimbangkan metafora panon poé (matahari, secara harfiah “mata hari”). Matahari bukan hanya benda langit, tetapi entitas yang “melihat”. Ini memberi kesan bahwa alam semesta memiliki kesadaran pengamat. Atau frasa sora nu katémbong (suara yang tampak), sebuah sinestesia yang mengaburkan batas indera, menyiratkan bahwa realitas adalah suatu keutuhan di mana suara dapat memiliki wujud visual. Metafora seperti ini membentuk cara unik di mana penutur Sunda mungkin memandang dunia: sebagai ruang yang hidup, saling terhubung, dan penuh makna yang bisa “dilihat” melampaui bentuk fisik.

Konsep pengetahuan, misalnya, sering dikaitkan dengan “cahaya” ( caang). Seseorang yang berilmu dikatakan panonna caang (matanya terang), yang berarti dia memiliki kejelasan pikiran dan kebijaksanaan. Pola pikir ini mengarah pada epistemologi yang holistik, di mana memahami sesuatu berarti “melihatnya” dari berbagai sudut, menghubungkannya dengan konteks, dan merasakan kehadirannya secara utuh, bukan hanya secara intelektual.

Idiom dan Peribahasa Berakar pada Indera Penglihatan

Kearifan lokal Sunda banyak diungkapkan melalui peribahasa yang menggunakan penglihatan sebagai analogi untuk pelajaran hidup.

  • “Katémbong ku héring, tapi teu katémbong ku manuk.” (Terlihat oleh burung hering, tapi tidak terlihat oleh burung.) Makna: Sesuatu yang jelas bagi orang yang berniat buruk (seperti bangkai bagi hering), sering tidak disadari oleh orang baik (burung lain). Mengajarkan kewaspadaan terhadap niat tersembunyi.
  • “Ningali kana cai, ulah poho kana tutunggulan.” (Melihat pada air, jangan lupa pada tempat bertambat.) Makna: Saat mengejar hal baru atau kemajuan (air yang mengalir), jangan melupakan asal-usul, fondasi, atau nilai-nilai lama (tunggul tempat bertambat).
  • “Leungeun nu nyepeng péso, panon nu nangtungan.” (Tangan yang memegang pisau, mata yang menahan.) Makna: Tindakan fisik (tangan) harus selalu dikendalikan oleh kebijaksanaan dan pertimbangan (mata). Menekankan pentingnya kesadaran penuh dalam bertindak.
  • “Teu katinggal ku panon, teu kadéngé ku ceuli.” (Tak tertinggal oleh mata, tak terdengar oleh telinga.) Makna: Sesuatu atau seseorang yang benar-benar hilang tanpa jejak, atau perbuatan yang sangat rahasia dan tersembunyi.
BACA JUGA  Bantuin Dong Yang Bantu Fenomena Kolaborasi Digital Indonesia

Percakapan tentang Keadilan dengan Metafora Penglihatan

A: “Keadilan téh kawas naon, Kang?
B: “Keadilan téh sapertos cahaya di tengah peuting, Kang. Caangna kudu nyorot ka sadaya arah, teu ngan ka hiji sisi wungkul. Tapi kudu hérang, teu boleh remang-remang nu ngabalieurkeun pikir.
A: “Tapi seringna mah nu katémbong ngan ukur bayanganna, Kang, lain wujudna sorangan.
B: “Nya éta! Urang kudu neuteup leuwih jero, teu cukup noong sakadang.

Sabab adil nu sabenerna mah lain nu pangdeukeutna panon, tapi nu pangluhurna panon poé.”

Percakapan ini menggunakan metafora optik: keadilan sebagai cahaya ( caang) yang harus terang ( hérang) dan tidak samar ( remang-remang). Dibedakan antara apa yang sekadar katémbong (tampak di permukaan/bayangan) dengan kebenaran yang perlu di neuteup (diamati mendalam). Klimaksnya, keadilan sejati diposisikan dari sudut pandang panon poé (matahari), yang berarti perspektif universal, netral, dan melingkupi semua, bukan dari sudut pandang manusiawi yang terbatas.

Perbandingan Konsep Penglihatan Harfiah dan Metaforis

Konsep Makna Harfiah (Optik) Makna Metaforis Contoh Penerapan
Caang Keadaan terang, bercahaya. Kecerdasan, kejelasan pikiran, kebenaran yang terang-benderang. Panonna jadi caang sanggeus diajar.” (Pikirannya menjadi cerah setelah belajar.)
Poék Keadaan gelap, tanpa cahaya. Kebodohan, ketidaktahuan, masa depan yang tidak pasti, niat buruk. “Hate nu poék teu bakal nempo caang.” (Hati yang gelap tidak akan melihat cahaya [kebenaran].)
Ningali Aktivitas mata melihat objek. Memahami, menyadari, mengalami. “Kuring ningali kasusahanna.” (Saya melihat/menyadari kesulitannya.)
Panon (mata) Organ penglihatan. Pusat perhatian, pandangan, sudut pandang, atau sesuatu yang paling berharga. “Anak téh panon batin indungna.” (Anak adalah mata hati ibunya.) “Tempat éta jadi panon cai.” (Tempat itu menjadi pusat perhatian.)

Arsitektur dan Tata Ruang dalam Bingkai Leksikon Penglihatan Bahasa Sunda

Arsitektur tradisional Sunda tidak dirancang hanya sebagai tempat berlindung, tetapi sebagai perpanjangan dari tubuh dan persepsi penghuninya terhadap alam. Kosakata yang digunakan untuk mendeskripsikan ruang dan material sering kali berasal dari leksikon penglihatan dan sensasi, menunjukkan bagaimana bangunan “dilihat” dan “dirasakan” secara holistik.

Ambil kata haneut (hangat). Dalam konteks arsitektur, sebuah rumah bisa terasa haneut bukan hanya karena suhu, tetapi karena kesan visualnya—kayu yang berwarna tanah, pencahayaan remang dari jendela kecil, atau tata letak yang mengundang berkumpul. Mata “merasakan” kehangatan itu. Demikian pula dengan kata lohor yang berarti terbuka, lega, atau lapang. Sebuah tepas (teras) yang lohor dirancang untuk memberikan pandangan yang luas ( panonpoé bisa masuk) dan perasaan lega di dada.

Sebaliknya, ruang privat seperti pangkeng (kamar) dirancang untuk suasana remang-remang atau saheut (teduh, terlindung), memberikan rasa aman dan intim. Pemilihan material seperti kiara atau awis yang tua, dengan serat kayu yang katémbong jelas, bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga tentang keindahan visual yang “bercerita” tentang usia dan ketahanan. Dengan demikian, arsitektur Sunda tradisional adalah wujud fisik dari cara melihat ( niteni) alam: menghormati iklim, memanfaatkan cahaya alami, dan menciptakan ruang yang selaras dengan ritme tubuh dan persepsi penghuninya.

Prosedur Membaca Lanskap Perkebunan Teh

Mengamati hamparan perkebunan teh dapat diubah menjadi pengalaman yang kaya dengan menerapkan serangkaian istilah pengamatan Bahasa Sunda.

  • Awali dengan Ngalalar Keseluruhan. Berdirilah di titik yang agak tinggi. Jangan buru-buru fokus pada detail. Amati bagaimana barisan teh ngalembereh (berombak) mengikuti kontur bukit, menciptakan pola visual yang harmonis. Rasakan kesan lohor (lapang) dan héjo sajaba (hijau yang memancar).

  • Niteni Permainan Cahaya. Perhatikan bagaimana cahaya pagi atau sore nyorotkeun (menyoroti) pucuk teh, membuatnya tampak caang ngeclak (berkilau terang), sementara bagian yang teduh terlihat héjo kolot (hijau tua). Amati bayangan panjang yang terbentuk.
  • Identifikasi Tekstur dan Jarak. Lihat perbedaan tekstur antara pucuk yang rapat ( pageuh) dengan jalur lorong yang membelah ( ngabelah). Gunakan istilah katémbong dekat” dan ” katémbong jauh” untuk mengatur kedalaman pandangan.
  • Cari Tanda Aktivitas. Neuteup (amati dengan fokus) gerakan para pemetik teh di kejauhan. Mereka mungkin katémbong seperti titik-titik berwarna yang bergerak perlahan, teu kaétang jumlahnya secara pasti dari jarak itu.
  • Rasakan Atmosfer (Hawa). Tutup mata sejenak, lalu buka. Deskripsikan hawa tempat itu: apakah terasa nyerep (sejuk yang menyerap) atau haneut lembut? Bagaimana kabut ( halimun) yang mungkin ngalayung mempengaruhi kejelasan ( kahérangan) pemandangan?

Deskripsi Rumah Panggung Sunda oleh Sang Pengrajin

“Ieu imah, sangkan lohor panon jeung haté. Tingkatna ( suku) téh dijieun luhur, sabab cai hujan jeung haneut taneuh teu kudu asup ka jero. Kayu kiara nu geus kolot ieu, seratna ( uratna) katémbong jelas kawas peta, némbongkeun umur jeung kakuatanna. Sirah ( hulu) suku imah dicet hideung, boga fungsi nyerep haneut panonpoé, nyingkahan ngabeledug.

Buruan hareup ( tepas) téh lega, sangkan ari nénjo ka luar, panonpoé isuk jeung soré bisa langsung nyorot ngahaneutan lantai kayu. Jandéla leutik di kamar, ngan ukur nyadiakeun cahaya remang-remang, nyieun rasa saheut jeung aman. Sakabehna diukur ku panon jeung rasa, lain ku ukur-ukuran wungkul. Sabab imah téh kudu haneut ditingali, teu ngan heuras wungkul.”

Leksikon Penglihatan dalam Arsitektur Sunda

Kategori Istilah Sunda Makna dalam Konteks Arsitektur Contoh Penerapan
Material Kolot (tua), Heuras (keras), Lembut Kualitas visual dan tekstur material yang terlihat dan memberi kesan. Kayu kolot yang uratna katémbong memberi kesan kokoh dan berkarakter.
Cahaya Nyorot (menyoroti), Saheut (teduh), Remang-remang Bagaimana cahaya masuk, menyebar, dan menciptakan suasana dalam ruang. Jendela diatur agar cahaya pagi nyorot ke pusat rumah, menciptakan area saheut di sisi lainnya.
Ruang Lohor (lapang), Pageuh (rapat/kuat), Ngabelah (membelah) Kesan volume, keterbukaan, dan pembagian ruang yang tertangkap mata. Teras yang lohor membuat pandangan ngabelah kebun hingga ke batas hutan.
Proporsi Katémbong saimbang (tampak seimbang), Ngadeg pageuh (berdiri kokoh) Keseimbangan visual antara berbagai elemen struktur bangunan. Perbandingan tinggi suku (kolong) dengan badan rumah harus katémbong saimbang.

Transmisi Pengetahuan Ekologis melalui Aktivitas Mengamati yang Dikodekan dalam Bahasa Sunda: Bahasa Sunda Untuk Apa Yang Kamu Lihat

Pengetahuan tentang alam tidak selalu diturunkan melalui buku teks, tetapi sering kali melalui aktivitas mengamati yang dibingkai dalam bahasa lokal. Bahasa Sunda mengodekan cara pandang ekologis yang mendalam melalui frasa-frasa yang menggambarkan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya, berfungsi sebagai panduan praktis sekaligus filosofis untuk pelestarian.

BACA JUGA  Pengertian Belanja Daerah Menurut UU No 33 Tahun 2004 dan Maknanya

Dalam Bahasa Sunda, “katingal” adalah kata untuk apa yang kamu lihat, merujuk pada persepsi visual yang subjektif. Nah, berbicara soal persepsi, terkadang kita perlu data konkret seperti dalam soal Hitung Jumlah Umur Amira dan Bu Andi yang mengandalkan logika. Setelah hitung-hitungan itu, kembali ke “katingal”, di mana realitas yang terlihat bisa saja berbeda dengan angka pasti, namun sama-sama memerlukan pemahaman mendalam untuk menginterpretasikannya dengan benar.

Frasa seperti ningali ti leuheung (melihat dari hutan) atau maca alam (membaca alam) sangatlah powerful. Ningali ti leuheung bukan berarti sekadar berdiri di hutan dan melihat keluar. Ini mengimplikasikan sudut pandang yang dalam, melihat dunia dari perspektif ekosistem hutan yang kompleks. Seseorang yang bisa ningali ti leuheung memahami rantai kebergantungan, siklus air, dan tanda-tanda perubahan yang halus. Sementara maca alam menyamakan alam dengan sebuah teks yang bisa dibaca.

Awan tertentu “dibaca” sebagai pertanda hujan, warna daun “dibaca” sebagai indikator kesehatan tanah, dan perilawan hewan “dibaca” sebagai penanda musim. Kosakata pengamatan ini mentransmisikan sebuah epistemologi di mana alam adalah subjek yang aktif berkomunikasi, bukan sekadar objek yang dieksploitasi. Dengan mengajarkan anak untuk niteni perubahan warna pada sungai atau neuteup pola migrasi burung, pengetahuan ekologis yang halus dan kontekstual ini diwariskan, membentuk generasi yang lebih peka dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya.

Penamaan Tumbuhan dan Hewan Berdasarkan Ciri Visual

Banyak nama lokal Sunda untuk flora dan fauna yang secara langsung menggambarkan penampakan fisiknya, menunjukkan betapa pengamatan visual yang tajam menjadi dasar klasifikasi.

  • Kiara: Jenis pohon yang kayunya sangat keras. Nama ini diduga berkaitan dengan kata ” kira-kira” atau terlihat kokoh dan kuat, menggambarkan kesan visual dan tekstual pohon yang tegak dan padat.
  • Hui Beledug: Nama untuk bunga kembang sepatu. ” Beledug” berarti meletup atau meledak, yang sangat tepat menggambarkan visual bunga yang besar, mekar penuh, dan berwarna mencolok seakan-akan “meletup” di antara daun hijau.
  • Mencelek: Nama untuk burung cabe-cabean atau burung madu. Kata ” mencelek” menggambarkan gerakan yang cepat, lincah, dan melompat-lompat dari satu bunga ke bunga lain, yang menjadi ciri khas perilaku burung ini.
  • Sampeu: Nama Sunda untuk singkong. Beberapa sumber menyebutkan ini berasal dari kata ” sa-peu” yang berarti “satu rumpun”, menggambarkan cara tumbuhnya yang bergerombol dalam satu rumpun dari satu bonggol akar.
  • Kalong: Kelelawar. Kata ini sangat onomatopoeia dan visual, meniru suara kepakan sayap ( kalang-kalung) dan mungkin juga menggambarkan gerakannya yang bergelantungan ( ngagantung kalong-kalong).

Narasi Petani Tua tentang Siklus Musim

“Mangsa ngijih bakal datang lamun geus katémbong pangpéngét di langit kulon warna konéng semu beureum, kawas kulit pisang keur goréng. Tah éta tandana panon poé geus rék saré di sisi kidul. Di huma, daun hui nyérén (layu) leuwih gancang, tapi pucuk tangkal tarum jadi héjo ngeclak. Sora cicing di leuwi lain saperti biasana, rada ureuy-ureuyan (berdesir tidak seperti biasanya), nunjukkeun cai geus mimiti nyaré (surut).

Urang kudu neuteup ieu sagala, ulah noong wungkul. Alam keur ngobrol, urang kudu maca éta obrolan.”

Narasi ini penuh dengan diksi pengamatan Sunda. Katémbong digunakan untuk fenomena langit. Warna dideskripsikan secara spesifik ( konéng semu beureum). Perubahan tanaman dicatat dengan istilah nyérén dan héjo ngeclak. Perilaku air dan suara dideskripsikan dengan kata yang evocative ( ureuy-ureuyan, nyaré).

Intinya adalah perbedaan antara sekadar noong (melihat biasa) dengan neuteup (mengamati mendalam) untuk bisa maca (membaca) bahasa alam.

Istilah Pengamatan untuk Fenomena Alam

Fenomena Alam Istilah/Bahasa Sunda Deskripsi Visual/Kultural Penjelasan Ilmiah Sederhana
Kabut Pagi Halimun, Apoy Halimun menggambarkan kabut yang tebal dan menyelimuti. Apoy (seperti asap) untuk kabut tipis yang melayang di atas permukaan air atau sawah. Kondensasi uap air di dekat permukaan tanah saat suhu udara dingin di pagi hari.
Gerhana Bulan Bulan di patukan ku maung (bulan digigit macan) Metafora yang kuat untuk menjelaskan fenomena langit yang dianggap tidak biasa, menghubungkannya dengan kekuatan alam (maung). Bulan masuk ke dalam bayangan bumi, sehingga cahaya matahari yang seharusnya memantul ke bulan terhalang.
Musim Kemarau Mangsa Katiga atau Usum Halodo Katiga merujuk pada kekeringan. Halodo dari kata halod (kering). Ciri visualnya adalah tanah pepeh (retak-retak), daun ngarara (kering kerontang). Periode dengan curah hujan sangat rendah dalam waktu yang panjang, akibat pergerakan angin muson atau pola tekanan udara tertentu.
Pelangi Katang-katang, Umbul-umbul Katang-katang menyerupai nama alat anyaman, menggambarkan bentuknya yang melengkung berwarna-warni. Umbul-umbul seperti bendera panjang, menggambarkan penampakannya yang seperti berkibar di langit. Pembiasan dan dispersi cahaya matahari oleh butiran air hujan di atmosfer, menghasilkan spektrum warna.

Kesimpulan

Jadi, menjelajahi Bahasa Sunda untuk apa yang kamu lihat pada akhirnya adalah perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi. Ini mengajak kita untuk melambat, memperhatikan detail, dan menghargai nuansa yang sering terlewat dalam kesibukan sehari-hari. Bahasa ini bukan hanya alat komunikasi, tetapi sebuah wasiat budaya yang mengajarkan kepekaan, kedalaman, dan harmoni dengan alam. Dengan mempelajarinya, kita tidak hanya menambah kosakata, tetapi juga memperkaya cara kita berada di dalam dunia.

Mungkin, inilah saatnya kita belajar untuk
-ningali* dengan hati dan pikiran yang terbuka, sebagaimana diajarkan oleh kearifan Sunda yang tersimpan rapi dalam setiap katanya.

Kumpulan FAQ

Apakah belajar kosakata “melihat” dalam Bahasa Sunda hanya berguna untuk penutur asli?

Tidak sama sekali. Siapa pun bisa mendapat manfaat, karena ini melatih
-mindfulness* dan kepekaan observasi. Ini seperti mendapatkan alat baru untuk memperkaya persepsi visual dan apresiasi terhadap detail lingkungan, terlepas dari latar belakang bahasa Anda.

Bagaimana cara mulai melatih pengamatan ala Sunda dalam kehidupan digital yang serba cepat?

Mulailah dengan satu kata, misalnya
-niteni*. Saat melihat konten di media sosial, coba berhenti sejenak dan
-niteni* satu elemen—warna, ekspresi, komposisi. Tanyakan pada diri sendiri, “Apa yang
-katémbong* dan apa yang mungkin tersembunyi?” Ini melatih fokus di tengah banjir gambar.

Apakah konsep metaforis seperti “sora nu katémbong” (suara yang tampak) masih digunakan oleh generasi muda Sunda?

Masih, meski konteksnya mungkin beradaptasi. Konsep ini hidup dalam percakapan sehari-hari, lirik lagu, atau bahkan saat mendeskripsikan pengalaman bermain game dan menonton film, menunjukkan fleksibilitas bahasa dalam mengungkapkan pengalaman sensorik yang kompleks.

Apakah ada aplikasi atau kamus digital yang khusus membahas kosakata persepsi Bahasa Sunda ini?

Belum ada yang benar-benar khusus, tetapi beberapa kamus daring Bahasa Sunda dapat membantu. Sumber terbaik justru sering berasal dari konten blog, video budaya, atau diskusi dengan penutur senior yang dapat menjelaskan nuansa dan konteks penggunaannya.

Leave a Comment