Bentuk‑bentuk Pertentangan adalah denyut nadi sejarah yang tak pernah padam, mengalir dari ruang privat hingga gelanggang publik. Ia bukan sekadar gejala sosial yang harus dihindari, melainkan sebuah realitas kompleks yang membentuk dinamika hubungan antar manusia, menguji ketahanan institusi, dan terkadang menjadi katalisator perubahan yang tak terelakkan. Dari bisikan konflik batin hingga gemuruh revolusi di jalanan, pertentangan hadir dalam beragam wajah dan intensitas, menantang kita untuk memahaminya bukan sebagai momok, tetapi sebagai fenomena yang perlu dikelola dengan bijak.
Secara mendasar, pertentangan merujuk pada keadaan ketidaksesuaian, oposisi, atau persaingan antara dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan, nilai, atau tujuan yang berbeda. Dalam khazanah ilmu sosial, para pemikir seperti Karl Marx melihatnya sebagai motor penggerak sejarah yang berakar pada ketimpangan ekonomi, sementara Max Weber menekankan pada perebutan kekuasaan dan status. Lewis Coser pun menawarkan perspektif fungsional, bahwa konflik tak selalu merusak, melainkan bisa memperkuat solidaritas kelompok.
Memahami ragam bentuknya—mulai dari yang laten hingga manifes, interpersonal hingga antarkelompok—adalah langkah awal untuk mengurai benang kusut relasi sosial yang penuh warna dan tensi ini.
Pengertian Dasar dan Konsep Teoritis: Bentuk‑bentuk Pertentangan
Pertentangan bukan sekadar perkelahian atau percekcokan biasa. Dalam kajian sosial, ia merupakan sebuah fenomena yang kompleks, merujuk pada kondisi di mana dua atau lebih pihak saling berhadapan karena perbedaan tujuan, nilai, atau kepentingan yang dianggap tidak selaras. Secara filosofis, pertentangan sering dilihat sebagai motor penggerak perubahan, dialektika yang tak terelakkan dalam dinamika kehidupan bersama, dari tingkat individu hingga masyarakat luas.
Meski kerap disamakan, konflik, pertentangan, dan persaingan memiliki nuansa berbeda. Konflik lebih luas, mencakup segala bentuk ketidaksesuaian. Pertentangan adalah bentuk konflik yang sudah lebih nyata, di mana pihak-pihak saling menyadari perbedaan dan mungkin telah mengambil sikap oposisi. Sementara persaingan adalah pertarungan untuk mencapai tujuan yang sama dengan sumber daya terbatas, yang bisa berlangsung dalam kerangka aturan tertentu tanpa selalu bermusuhan.
Teori Sosiologi Utama tentang Pertentangan
Para pemikir klasik sosiologi memberikan lensa yang berbeda-beda untuk memahami akar pertentangan. Karl Marx menekankan pada materialisme dan perjuangan kelas, Max Weber melihatnya dari multidimensi termasuk status dan kekuasaan, sedangkan Lewis Coser dari aliran fungsionalis konflik memandang pertentangan memiliki fungsi sosial tertentu. Perbandingan perspektif mereka dapat dirangkum sebagai berikut.
| Teoretisi | Fokus Analisis | Akar Penyebab Pertentangan | Potensi Hasil |
|---|---|---|---|
| Karl Marx | Struktur Ekonomi & Kelas | Kepemilikan alat produksi dan eksploitasi kelas pekerja (proletariat) oleh kelas pemilik modal (borjuis). | Revolusi untuk mengubah struktur masyarakat secara keseluruhan. |
| Max Weber | Multidimensi: Kelas, Status, Partai | Tak hanya ekonomi, tetapi juga perbedaan prestise (status) dan kompetisi untuk memengaruhi kebijakan (kekuasaan). | Dominasi oleh salah satu kelompok, atau koeksistensi yang tegang. |
| Lewis Coser | Fungsi Sosial Konflik | Ketegangan dalam hubungan, kekecewaan terhadap sistem nilai, atau perebutan sumber daya dan kekuasaan. | Integrasi kelompok, katarsis, inovasi, dan perubahan sosial yang adaptif. |
Pertentangan Berdasarkan Sifat dan Intensitas
Intensitas pertentangan ibarat spektrum, mulai dari percikan kecil yang mudah dipadamkan hingga menjadi kobaran api yang mengubah lanskap sosial. Memahami gradasi ini penting untuk mengidentifikasi intervensi yang tepat. Bentuknya berkisar dari perselisihan pribadi, persaingan, pertikaian, persengketaan, hingga puncaknya berupa revolusi yang bertujuan menggulingkan tatanan yang ada.
Bentuk-bentuk pertentangan dalam dinamika sosial seringkali muncul dari friksi antar nilai atau kepentingan. Namun, dalam fisika, friksi atau gaya gesek justru membawa manfaat yang konkret, seperti dijelaskan dalam ulasan mengenai Manfaat Gaya Gesek dalam Kehidupan Sehari-hari. Analogi ini mengingatkan kita bahwa pertentangan pun dapat melahirkan keseimbangan dan fungsi baru dalam tatanan masyarakat, asalkan dikelola dengan tepat.
Pertentangan Terbuka dan Tersembunyi
Pertentangan terbuka adalah yang terlihat jelas dan diakui oleh pihak yang bertikai, seperti debat parlemen, pemogokan kerja, atau unjuk rasa di jalanan. Contohnya adalah aksi demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah. Sebaliknya, pertentangan tersembunyi terjadi di bawah permukaan, ditandai dengan sikap dingin, gosip, pembangkangan diam-diam, atau sabotase halus. Misalnya, karyawan yang sengaja bekerja seadanya (bekerja ala kadarnya) karena merasa tidak dihargai atasan, tanpa pernah menyatakan keberatan secara langsung.
Klasifikasi Berdasarkan Durasi
Durasi pertentangan memengaruhi dampak dan strategi penyelesaiannya. Berikut klasifikasi berdasarkan jangka waktunya.
- Jangka Pendek (Akut): Biasanya dipicu oleh insiden spesifik, berlangsung cepat, dan seringkali dapat diselesaikan dengan mediasi atau negosiasi segera. Contoh: perselisihan antar tetangga karena masalah kebisingan.
- Jangka Panjang (Kronis): Berakar pada masalah struktural atau perbedaan nilai yang mendalam, bisa berlangsung bertahun-tahun bahkan turun-temurun. Contoh: konflik antar kelompok etnis atau agama yang memiliki sejarah panjang ketegangan.
- Siklus atau Periodik: Muncul secara berulang pada waktu-waktu tertentu, sering terkait dengan siklus politik, ekonomi, atau sosial. Contoh: tawar-menawar upah tahunan antara serikat pekerja dan asosiasi pengusaha.
Perkembangan dari Laten ke Manifes
Bayangkan sebuah komunitas di pinggiran kota yang dihuni oleh penduduk asli dan pendatang baru. Awalnya, ketegangan hanya berupa rasa tidak suka yang samar, prasangka tentang kebiasaan yang berbeda, dan keluhan dalam obrolan privat. Ini adalah fase laten. Ketika pemerintah setempat mengalokasikan dana terbatas untuk perbaikan jalan, dan keputusan dianggap lebih menguntungkan satu kelompok, kekecewaan yang terpendam itu menemukan saluran. Tuduhan saling lempar di media sosial bermunculan, rapat warga berubah menjadi adu argumen yang panas, dan bisa berujung pada pemboikotan kegiatan bersama.
Pertentangan laten telah bermetamorfosis menjadi manifes, terlihat jelas dan memerlukan penanganan serius.
Pertentangan Berdasarkan Pihak yang Terlibat
Lensa lain untuk melihat pertentangan adalah dengan melihat siapa pelakunya. Skalanya bisa dimulai dari dalam diri seseorang, meluas ke hubungan antar orang, hingga menjadi perseteruan antar kelompok besar. Setiap level memiliki dinamika, kompleksitas, dan implikasi resolusi yang berbeda-beda.
Dalam konteks sosiologi, Bentuk‑bentuk Pertentangan sosial kerap muncul dari perbedaan kapasitas dan struktur, mirip dengan variasi sistem saraf pada makhluk hidup. Untuk memahami kompleksitas ini, coba ukur pengetahuanmu lewat Quiz Biologi: Organisme dengan Sistem Saraf Khusus. Analogi biologis tersebut justru memperkaya perspektif kita dalam menganalisis dinamika konflik, dari persaingan hingga kontravensi, yang menjadi inti kajian pertentangan dalam masyarakat.
Intrapersonal, Interpersonal, dan Antar Kelompok
Pertentangan intrapersonal terjadi dalam diri individu, misalnya ketika seseorang dilanda keraguan antara memilih karier yang diidamkan atau tuntutan keluarga. Pertentangan interpersonal melibatkan dua atau beberapa individu, seperti perseteruan antara dua rekan kerja. Sementara pertentangan antar kelompok melibatkan kolektivitas, seperti antara suporter klub sepak bola yang berbeda atau antara organisasi masyarakat dengan korporasi.
Pertentangan Vertikal dan Horizontal
Pertentangan vertikal terjadi antara pihak-pihak yang memiliki kekuasaan atau status sosial yang tidak setara. Hubungan buruh-majikan, rakyat dengan pemerintah, atau mahasiswa dengan rektorat adalah contoh klasik. Dinamikanya sering kali melibatkan tuntutan keadilan, redistribusi sumber daya, dan pengakuan. Sebaliknya, pertentangan horizontal terjadi antar pihak yang secara hierarkis relatif setara, seperti persaingan antar perusahaan sejenis, konflik antar kampung, atau ketegangan antar suku.
Biasanya dipicu oleh persaingan, perbedaan identitas, atau prasangka.
Contoh dan Resolusi Pertentangan Interpersonal dan Antar Kelompok
| Jenis Pertentangan | Contoh Konkret | Penyebab Umum | Potensi Jalan Resolusi |
|---|---|---|---|
| Interpersonal | Perselisihan antara dua saudara kandung mengenai pembagian warisan orang tua. | Perbedaan persepsi tentang keadilan, komunikasi yang buruk, emosi masa lalu yang belum terselesaikan. | Mediasi keluarga, komunikasi asertif dengan panduan pihak ketiga, atau konsultasi hukum untuk kesepakatan tertulis. |
| Antar Kelompok | Konflik antara warga suatu desa dengan perusahaan perkebunan atas klaim kepemilikan lahan. | Sengketa tanah, dampak lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan perbedaan nilai (ekonomi vs kearifan lokal). | Negosiasi yang difasilitasi pemerintah atau LSM, kajian hukum dan historis, skema bagi hasil atau kompensasi, atau jalur litigasi. |
Dinamika Pertentangan dalam Institusi Keluarga dan Tempat Kerja
Dalam keluarga, pertentangan sering kali bersifat emosional dan terkait dengan peran, harapan, serta warisan pola asuh. Konflik orang tua-anak tentang pilihan hidup, atau persaingan antar saudara, bisa merusak fondasi kepercayaan jika tidak dikelola dengan komunikasi yang sehat. Di tempat kerja, pertentangan muncul dari tekanan target, alokasi sumber daya, gaya kepemimpinan, atau perbedaan budaya kerja. Misalnya, ketegangan antara departemen pemasaran yang dinamis dengan departemen keuangan yang ketat aturan.
Jika dibiarkan, hal ini menurunkan moral dan produktivitas. Namun, jika dikelola dengan prosedur yang jelas seperti rapat evaluasi atau mediasi HRD, pertentangan bisa menjadi sumber inovasi dan penyesuaian kebijakan yang lebih baik.
Pertentangan Berdasarkan Sumber atau Penyebab
Mengapa pertentangan muncul? Akarnya bisa sangat beragam, dari hal-hal yang sangat material hingga yang abstrak dan bersifat keyakinan. Mengidentifikasi sumber utama sebuah pertentangan adalah langkah pertama yang krusial untuk menemukan solusi yang tepat sasaran.
Perbedaan Kepentingan Ekonomi
Sumber pertentangan yang paling mudah dikenali adalah ekonomi. Ini menyangkut perebutan dan distribusi sumber daya yang terbatas, seperti uang, lahan, lapangan kerja, atau akses terhadap pasar. Pemogokan buruh pada dasarnya adalah pertentangan ekonomi mengenai pembagian keuntungan. Demikian pula sengketa agraria antara masyarakat adat dan perusahaan. Dalam skala global, perang dagang antar negara juga berakar dari kepentingan ekonomi yang bersaing.
Perbedaan Nilai, Ideologi, dan Keyakinan
Pertentangan jenis ini seringkali lebih sulit didamaikan karena menyentuh identitas dan keyakinan terdalam seseorang atau kelompok. Perbedaan pandangan tentang agama, politik, moralitas, atau gaya hidup dapat memicu ketegangan yang mendalam. Contohnya adalah polarisasi politik di masyarakat, debat tentang isu-isu sosial seperti hak reproduksi, atau konflik antara kelompok konservatif dan progresif dalam menafsirkan tradisi. Karena menyangkut prinsip, resolusi seringkali bukan tentang menang-kalah, tetapi mencari ruang untuk koeksistensi atau kesepakatan pada aturan main bersama.
Pemikiran tentang Pertentangan dan Kelangkaan Sumber Daya
“Konflik atas sumber daya yang langka adalah inti dari politik. Ketika apa yang diinginkan banyak orang—baik itu kekuasaan, kekayaan, atau prestise—tersedia dalam jumlah terbatas, persaingan dan pertentangan menjadi tak terhindarkan. Tugas masyarakat bukanlah menghilangkan kelangkaan itu, yang sering mustahil, tetapi mengelola kompetisi tersebut melalui institusi dan norma yang adil.” — Gagasan ini merefleksikan pemikiran banyak ilmuwan politik, seperti yang diuraikan dalam karya-karya mengenai teori konflik sumber daya.
Stereotip dan Prasangka sebagai Pemicu
Stereotip (generalisasi berlebihan tentang suatu kelompok) dan prasangka (sikap negatif yang berdasar pada stereotip) adalah bahan bakar yang mempercepat dan memperdalam pertentangan sosial. Mereka menciptakan jarak psikologis, mengurangi empati, dan memudahkan munculnya sikap permusuhan. Contohnya, prasangka bahwa kelompok etnis tertentu “pelit” atau “malas” dapat memicu diskriminasi dalam perekrutan kerja. Ketika terjadi insiden kecil antara individu dari kelompok yang berbeda, prasangka yang sudah ada membuat insiden itu cepat dibingkai sebagai bukti keburukan seluruh kelompok, bukan sebagai kesalahan individu, sehingga memicu pertentangan yang lebih luas dan sulit didamaikan.
Ekspresi dan Manifestasi Pertentangan dalam Masyarakat
Pertentangan tidak diam; ia mencari saluran untuk mengekspresikan diri. Bentuk ekspresinya beragam, mulai dari yang sangat terstruktur dan damai hingga yang chaotic dan merusak. Cara suatu pertentangan dimanifestasikan sangat dipengaruhi oleh budaya politik, saluran yang tersedia, dan intensitas ketegangan itu sendiri.
Bentuk Ekspresi Pertentangan
Ekspresi pertentangan bisa berwujud debat formal di lembaga perwakilan rakyat, petisi daring, unjuk rasa damai dengan spanduk dan orasi, pemogokan atau aksi boikot produk, hingga bentuk-bentuk perlawanan kebudayaan seperti lagu protes, satire, atau seni jalanan. Dalam masyarakat digital, pertentangan juga banyak diekspresikan melalui kampanye tagar di media sosial, viralnya konten kritik, atau pembentukan kelompok diskusi online.
Pertentangan Konstruktif dan Destruktif
Tidak semua pertentangan itu buruk. Pertentangan konstruktif adalah yang dikelola dengan baik, tetap dalam koridor aturan, dan bertujuan untuk memperbaiki sistem. Hasilnya bisa berupa inovasi kebijakan, peningkatan transparansi, atau penguatan kohesi sosial setelah masalah terselesaikan. Sebaliknya, pertentangan destruktif ditandai dengan kekerasan, pelanggaran hukum, penghancuran properti, dan retaknya hubungan sosial secara permanen. Ia cenderung zero-sum, dimana satu pihak harus hancur agar pihak lain menang, dan jarang menghasilkan penyelesaian yang berkelanjutan.
Manifestasi Kontemporer di Berbagai Arena, Bentuk‑bentuk Pertentangan
Pertentangan mewarnai hampir semua aspek kehidupan modern. Berikut beberapa contoh manifestasinya di berbagai bidang.
- Politik: Aksi unjuk rasa menolak atau mendukung suatu undang-undang, perang opini di media antara koalisi pemerintah dan oposisi, serta gerakan separatisme.
- Budaya: “Perang budaya” (culture war) mengenai representasi dalam film dan sastra, protes terhadap pembangunan yang mengancam situs cagar budaya, dan debat tentang globalisasi vs pelestarian tradisi lokal.
- Ekonomi: Pemogokan massal sektor transportasi atau pendidikan, aksi boikot produk perusahaan yang dianggap tidak etis, serta demonstrasi menuntut kenaikan upah minimum.
Studi Kasus: Pertentangan Budaya melalui Seni Street Art
Di sebuah kota metropolitan, rencana pembangunan pusat perbelanjaan mewah di atas lahan bekas pasar tradisional menimbulkan pertentangan sengit. Pemerintah dan pengembang melihatnya sebagai kemajuan ekonomi, sementara komunitas seniman dan aktivis melihatnya sebagai penghapusan memori kolektif dan ruang publik. Pertentangan ini tidak hanya diekspresikan melalui rapat protes, tetapi juga melalui seni. Seorang kolektif seniman mural mengubah dinding-dinding bangunan tua yang akan dibongkar menjadi kanvas raksasa.
Mereka melukis wajah-wajah pedagang lama, replika dagangan khas pasar, dan puisi tentang keramaian yang hilang. Karya-karya ini viral, mengundang perhatian media nasional, dan mengubah narasi publik. Street art menjadi senjata perlawanan yang halus namun powerful, memaksa dialog tentang pembangunan yang inklusif dan pelestarian identitas kota. Pertentangan yang awalnya tentang tanah, berekspresi menjadi pertarungan makna dan ingatan melalui estetika.
Mekanisme dan Prosedur Pengelolaan Pertentangan
Source: akamaized.net
Masyarakat yang sehat bukanlah yang bebas pertentangan, tetapi yang memiliki mekanisme efektif untuk mengelolanya. Tanpa prosedur yang jelas, pertentangan bisa menggerogoti sendi-sendi sosial. Berbagai cara telah dikembangkan, dari yang sangat informal hingga yang sangat institusional, untuk mengarahkan pertentangan menuju resolusi yang damai.
Negosiasi dan Mediasi
Negosiasi adalah proses langsung di mana pihak-pihak yang bertikai berunding untuk mencapai kesepakatan bersama. Keberhasilannya sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan berkompromi masing-masing. Ketika negosiasi mandek, mediasi sering menjadi pilihan. Mediasi melibatkan pihak ketiga yang netral (mediator) untuk memfasilitasi komunikasi, mengklarifikasi kepentingan, dan membantu merancang solusi. Mediator tidak memutuskan, tetapi membimbing pihak-pihak menuju kesepakatan mereka sendiri.
Akomodasi dan Kompromi
Akomodasi dan kompromi adalah dua bentuk penyelesaian yang sering disalahartikan. Akomodasi adalah situasi di mana salah satu pihak menyesuaikan diri atau menerima kondisi yang ada tanpa perubahan mendasar pada sumber pertentangan, seringkali untuk menjaga harmoni atau karena tekanan. Misalnya, seorang karyawan mengalah mengikuti metode kerja atasan meski tidak setuju. Sementara kompromi adalah situasi di mana masing-masing pihak mengorbankan sebagian tuntutannya untuk mencapai titik temu.
Misalnya, dalam sengketa perbatasan, dua negara sepakat membagi wilayah sengketa, bukan satu pihak menguasai seluruhnya. Kompromi lebih bersifat “menang-menang” parsial dibanding akomodasi yang cenderung “kalah-menang”.
Tahapan dalam Proses Mediasi
| Tahapan | Aktivitas Utama | Tujuan | Hasil yang Diharapkan |
|---|---|---|---|
| Pra-Mediasi | Kontak awal, penjelasan proses, penandatanganan kesepakatan untuk bermediasi. | Membangun kepercayaan pada proses dan mediator, memastikan kesiapan para pihak. | Kesepakatan untuk masuk ke meja mediasi secara sukarela. |
| Penyampaian Posisi | Masing-masing pihak menceritakan persoalan dari sudut pandangnya tanpa interupsi. | Memberikan ruang untuk mengungkapkan emosi dan kepentingan, mediator memahami akar masalah. | Pemetaan isu dan identifikasi kepentingan di balik posisi yang dikemukakan. |
| Eksplorasi dan Negosiasi | Mediator mempertanyakan, merangkum, dan membantu pihak melihat alternatif solusi. | Menggeser fokus dari posisi masa lalu ke solusi masa depan, menghasilkan pilihan-pilihan. | Terbentuknya beberapa opsi solusi yang realistis dan dapat diterima kedua belah pihak. |
| Kesepakatan | Merumuskan kesepakatan secara rinci, jelas, dan adil, lalu mendokumentasikannya. | Memastikan kesepakatan dapat dilaksanakan dan mencegah kesalahpahaman di kemudian hari. | Dokumen kesepakatan tertulis yang ditandatangani bersama sebagai komitmen resolusi. |
Peran Lembaga Sosial dalam Penyelesaian Pertentangan
Masyarakat memiliki lembaga-lembaga yang berfungsi sebagai “katup pengaman” dan “wasit” dalam pertentangan. Pengadilan adalah lembaga formal yang menyelesaikan pertentangan melalui penerapan hukum, dengan putusan yang mengikat dan dapat dipaksakan. Lembaga adat atau agama sering kali menangani pertentangan komunitas dengan pendekatan restoratif, memulihkan hubungan dan mencari penyelesaian yang sesuai dengan nilai-nilai setempat. Di tingkat internasional, organisasi seperti PBB atau ASEAN berperan sebagai mediator dalam konflik antar negara.
Keberadaan lembaga-lembaga ini memberikan saluran alternatif selain kekerasan, sehingga pertentangan dapat dialihkan menjadi kompetisi dalam arena hukum, dialog, atau diplomasi.
Penutup
Dengan demikian, menelusuri Bentuk‑bentuk Pertentangan ibarat membedah anatomi dinamika sosial itu sendiri. Dari perselisihan kecil di meja makan hingga pergolakan besar yang mengubah peta politik, setiap bentuk pertentangan membawa cerita, akar penyebab, dan potensi resolusi yang unik. Pemahaman yang komprehensif ini bukan untuk mengerdilkan kompleksitas hidup, melainkan untuk membekali diri dengan peta navigasi saat menghadapi gelombang perbedaan yang tak terhindarkan.
Pada akhirnya, kecerdasan sebuah masyarakat diukur bukan dari ketiadaan pertentangan, melainkan dari kemampuannya mengelola pertentangan tersebut menjadi energi untuk adaptasi, inovasi, dan kohesi yang lebih kokoh di masa depan.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah semua bentuk pertentangan bersifat negatif dan merusak?
Tidak selalu. Pertentangan konstruktif justru dapat mendorong inovasi, memperjelas batas dan nilai kelompok, serta menjadi katup pengaman untuk ketidakpuasan yang terpendam, sehingga mencegah ledakan konflik yang lebih besar.
Bagaimana membedakan pertentangan yang sehat dengan yang beracun dalam hubungan interpersonal?
Pertentangan sehat berfokus pada masalah, menghormati lawan bicara, dan bertujuan mencari solusi. Sementara pertentangan beracun ditandai dengan serangan pribadi, komunikasi tertutup, niat untuk mengalahkan, serta meninggalkan luka dan dendam yang berkepanjangan.
Dalam dinamika sosial, Bentuk‑bentuk Pertentangan dapat dimaknai sebagai interaksi yang menghasilkan perubahan, mirip dengan reaksi kimia yang mengubah kesetimbangan. Sebuah analogi menarik dapat dilihat pada Pengaruh Penambahan NaOH pada pH Larutan CH₃COOH 0,1 M 100 mL , di mana penambahan basa secara bertahap mampu menetralkan keasaman awal. Proses ini mencerminkan bagaimana pertentangan, melalui dialektika, justru dapat menciptakan titik temu baru yang lebih stabil, mengarah pada resolusi atau sintesis yang mengubah konfigurasi awal.
Apakah media sosial memperparah bentuk-bentuk pertentangan di masyarakat?
Media sosial berperan ganda. Di satu sisi, ia dapat mempercepat eskalasi dan polarisasi melalui ruang gema dan penyebaran misinformasi. Di sisi lain, ia juga menjadi platform untuk menyuarakan ketidakadilan dan mengorganisir gerakan resolusi konflik secara damai.
Bisakah pertentangan nilai dan ideologi benar-benar diselesaikan?
Pertentangan yang berakar pada nilai dan ideologi inti seringkali sulit untuk “diselesaikan” sepenuhnya karena menyangkut keyakinan mendalam. Tujuannya lebih pada pengelolaan, yaitu mencari modus vivendi (cara hidup bersama) melalui toleransi, dialog, dan kesepakatan untuk tidak saling memaksakan kehendak.