Contoh Kalimat Efektif tentang Banjir untuk Semua

Contoh Kalimat Efektif tentang Banjir untuk Semua membuka pintu pemahaman tentang bagaimana kata‑kata dapat menjadi alat kuat dalam mengomunikasikan ancaman air yang meluap, sekaligus menginspirasi tindakan konkret. Menggali esensi banjir, dampaknya pada kehidupan sehari‑hari, dan cara menuliskannya dengan jelas serta padat memberi kita landasan untuk menyampaikan informasi yang tidak hanya akurat, tetapi juga mudah dicerna oleh semua kalangan.

Dalam menulis tentang banjir, setiap kalimat sebaiknya menonjolkan kejelasan, kepadatan, dan kesederhanaan, sehingga pembaca dapat dengan cepat menangkap inti pesan tanpa kebingungan. Memadukan data statistik, visualisasi deskriptif, serta ajakan yang emosional menciptakan rangkaian kata yang tidak hanya informatif, tetapi juga memotivasi masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya mitigasi dan penanggulangan banjir.

Pengertian Banjir dan Dampaknya

Banjir adalah peristiwa terendamnya suatu wilayah daratan yang biasanya kering oleh air dalam volume berlebih. Fenomena ini bukan sekadar genangan sesaat, melainkan aliran air yang melimpah dari sungai, laut, atau akibat hujan deras yang melampaui kapasitas penyerapan tanah dan saluran air. Memahami banjir secara utuh penting untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi ancaman yang semakin sering terjadi ini.

Dampak banjir bersifat multidimensi dan seringkali beruntun. Pada aspek sosial, banjir mengakibatkan korban jiwa, pengungsian, gangguan kesehatan, dan trauma psikologis. Di bidang infrastruktur, kerusakan terjadi pada rumah, jalan, jembatan, jaringan listrik, dan air bersih yang mengganggu aktivitas ekonomi. Lingkungan juga menanggung beban berat berupa erosi tanah, pencemaran air, serta terganggunya ekosistem.

Faktor Pemicu Utama Banjir

Banjir umumnya dipicu oleh interaksi kompleks antara faktor alam dan ulah manusia. Tiga faktor utama yang saling berkaitan adalah curah hujan ekstrem yang melebihi kemampuan drainase, degradasi lingkungan seperti penggundulan hutan dan penyempitan sungai, serta buruknya tata ruang dan sistem drainase perkotaan. Kombinasi dari ketiganya sering kali memperparah skala bencana.

Wilayah Rawan Penyebab Dominan Konsekuensi Langsung Upaya Mitigasi
Dataran Rendah (e.g., Jakarta Utara) Rob, Curah Hujan Tinggi, Penurunan Tanah Genangan Lama, Intrusi Air Laut Pembangunan Tanggul Laut, Normalisasi Sungai, Polder
Bantaran Sungai (e.g., Bengawan Solo) Luapan Air Sungai, Sedimentasi Rumah Terendam, Lahan Pertanian Rusak Pembuatan Bronjong, Relokasi Pemukiman, Early Warning System
Kawasan Urban Padat (e.g., Kota Surabaya) Drainase Buruk, Permukaan Kedap Air Banjir Lokal (Banjir Cileuncang), Macet, Sampah Menumpuk Biopori, Sumur Resapan, Penertiban Drainase

Sebagai ilustrasi, banjir di Jakarta seringkali merupakan buah dari pertemuan tiga faktor sekaligus: hujan lebat di hulu (Bogor), kapasitas sungai yang menyusut akibat sedimentasi dan sampah, serta permukaan kota yang semakin kedap air sehingga minim meresapkan air hujan. Hasilnya adalah air yang datang dari hulu dan yang jatuh di Jakarta sama-saya tidak punya tempat untuk pergi.

Karakteristik Kalimat Efektif

Contoh Kalimat Efektif tentang Banjir

Source: slidesharecdn.com

Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu menyampaikan pesan secara tepat, jelas, dan efisien kepada pembaca. Dalam konteks penulisan tentang banjir yang seringkali berisi informasi penting dan teknis, penggunaan kalimat efektif menjadi kunci agar pesan tidak bias, mudah dipahami, dan dapat ditindaklanjuti. Kalimat yang bertele-tele justru berisiko mengaburkan inti informasi.

Ciri utama kalimat efektif meliputi kejelasan subjek-predikat, kepadatan makna (tidak ada kata mubazir), dan kesederhanaan struktur. Baik kalimat panjang maupun pendek dapat menjadi efektif. Kalimat pendek cocok untuk pernyataan fakta atau instruksi darurat yang perlu cepat dicerna. Sementara kalimat panjang diperlukan untuk menjelaskan proses atau hubungan sebab-akibat yang kompleks, asalkan strukturnya tetap rapi.

Elemen Penting dalam Kalimat Efektif, Contoh Kalimat Efektif tentang Banjir

Setiap kalimat efektif tentang banjir harus memuat tiga elemen kunci: subjek yang jelas (siapa atau apa yang dibahas), predikat yang aktif (apa yang dilakukan atau keadaan subjek), dan informasi pelengkap yang relevan (data, lokasi, waktu). Hindari kalimat pasif berlebihan yang dapat menghilangkan sense of urgency.

Contoh Kalimat Panjang Kata Tingkat Kejelasan Tipe Kalimat
Banjir melanda lima kelurahan. 4 kata Sangat Jelas Pendek & Deklaratif
Warga di bantaran sungai Ciliwung diimbau waspada karena ketinggian air telah mencapai status siaga 1. 18 kata Jelas Panjang & Informatif
Pengurangan risiko bencana banjir yang sistematis dan terintegrasi memerlukan komitmen dari seluruh pemangku kepentingan. 17 kata Cukup Jelas Panjang & Kompleks

Perbaikan Kalimat:

Tidak Efektif: “Dengan adanya curah hujan yang tinggi dan juga drainase yang kurang bagus, maka terjadilah banjir di daerah tersebut yang menyebabkan banyak kerugian.”

Efektif: “Curah hujan tinggi dan drainase yang buruk memicu banjir di daerah tersebut dan menimbulkan kerugian materiil.” Kalimat kedua lebih padat, menghilangkan kata penghubung berlebihan (“dengan adanya”, “yang juga”, “maka terjadilah”), dan langsung pada inti permasalahan.

Contoh Kalimat Pernyataan Tentang Banjir

Kalimat pernyataan faktual berfungsi melaporkan situasi banjir secara objektif. Urutan penyajian yang logis, mulai dari penyebab, kejadian, hingga konsekuensi, membantu pembaca memahami kronologi dan dampak peristiwa secara runtut. Kalimat-kalimat ini menjadi fondasi informasi bagi laporan resmi, pemberitaan, atau dokumentasi bencana.

BACA JUGA  Proses Perubahan Masyarakat Akibat Pengendalian Sosial dan Contohnya

Berikut lima contoh kalimat pernyataan yang disusun secara berurutan:

  • Curah hujan ekstrem sepanjang malam dengan intensitas mencapai 150 mm telah terjadi di wilayah hulu sungai.
  • Banjir bandang kemudian menerjang tiga desa di kabupaten tersebut pada dini hari.
  • Ketinggian air di beberapa titik permukiman dilaporkan mencapai dua meter.
  • Ratusan rumah terendam, akses jalan utama putus, dan pasokan listrik terganggu.
  • Tim SAR telah mengevakuasi 1.250 warga yang terdampak ke titik pengungsian sementara.
Contoh Kalimat Subjek Predikat Objek/Keterangan
Curah hujan ekstrem melanda wilayah hulu sungai. Curah hujan ekstrem melanda wilayah hulu sungai
Banjir merendam ratusan rumah warga. Banjir merendam ratusan rumah warga
Pemerintah membuka posko pengungsian darurat. Pemerintah membuka posko pengungsian darurat

“Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah, banjir yang terjadi pada 15 Februari 2023 telah menggenangi 2.175 hektare lahan pertanian dan mengakibatkan gagal panen bagi 3.200 keluarga petani.” Kalimat ini efektif karena menyajikan pernyataan faktual yang diperkuat dengan data spesifik (luas, jumlah) dan sumber yang jelas, memberikan gambaran dampak yang terukur.

Contoh Kalimat Perintah untuk Penanggulangan Banjir

Kalimat perintah dalam konteks penanggulangan banjir berfungsi memberikan instruksi yang jelas, singkat, dan dapat segera dilakukan. Kata kerja aksi yang tegas menjadi jantung dari kalimat jenis ini, memandu warga untuk bertindak tepat guna mengurangi risiko atau kerusakan. Urutan prioritas, dari yang paling mendesak untuk keselamatan jiwa hingga tindakan pasca-banjir, perlu diperhatikan.

Berikut lima kalimat perintah dengan kata kerja aksi utama yang ditekankan:

  • Segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi jika ketinggian air di dalam rumah sudah mencapai 50 cm.
  • Matikan aliran listrik di meteran utama untuk mencegah konsleting dan bahaya kesetrum.
  • Amankan dokumen penting seperti akta kelahiran, sertifikat tanah, dan paspor dalam wadah kedap air.
  • Hindari berjalan atau berkendara melintasi arus banjir yang deras.
  • Bersihkan rumah dan lingkungan secara menyeluruh dengan disinfektan setelah air banjir surut.
Kalimat Perintah Tujuan Utama Pihak yang Bertanggung Jawab
Pasang sandbag di depan pintu dan lubang ventilasi. Meminimalkan air yang masuk ke dalam rumah. Kepala Keluarga / Warga
Dengarkan informasi resmi dari BPBD melalui radio atau media sosial terpercaya. Mendapatkan arahan yang akurat dan terbaru. Seluruh Warga
Laporkan korban jiwa atau warga yang terisolasi ke posko terdekat. Mempercepat proses evakuasi dan pertolongan. Warga / Ketua RT/RW

“Jangan membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai dan saluran air. Mulailah memilah sampah organik dan anorganik dari rumah Anda.” Perintah ini tidak hanya bersifat larangan, tetapi juga diikuti dengan solusi konkret yang dapat dilakukan sehari-hari, sehingga bersifat edukatif dan preventif.

Contoh Kalimat Ajakan dan Edukasi Publik

Kalimat ajakan bertujuan memobilisasi partisipasi masyarakat dengan pendekatan yang persuasif, bukan instruktif. Pendekatan emosional yang efektif seringkali menyentuh rasa memiliki, kepedulian sosial, dan tanggung jawab untuk generasi mendatang. Ajakan yang baik membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek yang diberi perintah.

Setiap ajakan berikut mengandung elemen motivasi yang dirancang untuk membangkitkan kesadaran dan tindakan sukarela:

  • Mari jaga sungai kita bersama. Kebersihan sungai hari ini adalah perlindungan dari banjir esok hari. (Pendekatan: Rasa memiliki kolektif)
  • Lindungi keluarga dengan tindakan kecil. Satu lubang biopori di halaman Anda berkontribusi menyerap air hujan. (Pendekatan: Cinta keluarga & solusi sederhana)
  • Jadilah relawan pemantau curah hujan. Data yang Anda kumpulkan bisa menyelamatkan seluruh kampung. (Pendekatan: Pemberdayaan & signifikansi peran)
  • Investasi terbaik untuk anak cucu adalah lingkungan yang aman dari banjir. Ayo tanam pohon sekarang. (Pendekatan: Masa depan & warisan)
  • Gotong royong bukan sekadar tradisi, tapi senjata ampuh melawan banjir. Bergabunglah dalam kerja bakti normalisasi saluran. (Pendekatan: Kebanggaan budaya & aksi nyata)
Kalimat Ajakan Target Audiens Media Penyampaian yang Tepat
Ayo, ikuti simulasi tanggap darurat banjir di balai kelurahan minggu depan! Warga di semua usia, terutama kepala keluarga. Spanduk, WhatsApp Group Warga, Pengumuman dari Toa Masjid
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Sampahmu bisa menyumbat drainase kotamu. Masyarakat urban, kaum muda. Instagram, TikTok, Poster di Kafe & Kampus
Bapak-bapak dan ibu-ibu, mari kita rawat bersama pompa air dan alat pencegah banjir di lingkungan kita. Warga di perumahan/kompleks tertentu. Rapat Warga, Brosur Door-to-Door

“Bayangkan rasa aman ketika hujan deras tiba, kita tidak lagi was-was akan genangan. Ketenangan itu bisa kita wujudkan bersama, dimulai dari membersihkan selokan depan rumah masing-masing setiap akhir pekan.” Ajakan ini menggunakan visualisasi hasil (rasa aman) untuk memotivasi tindakan rutin yang spesifik, mengubah beban menjadi investasi ketenangan.

Teknik Penyusunan Kalimat Menggunakan Data Statistik

Integrasi data statistik dalam kalimat tentang banjir berfungsi memperkuat validitas, memberikan skala yang terukur, dan menghindari kesan yang subjektif atau berlebihan. Data mentah saja tidak cukup; ia harus disajikan dalam kalimat yang membuatnya relevan dan mudah dipahami oleh pembaca awam sekalipun. Teknik ini mengubah informasi menjadi insight yang lebih powerful.

BACA JUGA  Peran Sultan Alauddin Syah dalam Kerajaan Maluku Sang Penjaga Kedaulatan

Tiga cara utama mengintegrasikan data adalah: pertama, memberikan konteks sebelum menyebut angka (misal, “Kapasitas sungai sudah sangat berkurang…”); kedua, membandingkan data dengan periode sebelumnya atau ambang batas; ketiga, mengaitkan angka dengan dampak yang langsung dirasakan masyarakat (misal, “Ketinggian 1 meter berarti merendam rumah satu lantai penuh”).

  • Keakuratan adalah kunci. Selalu sebutkan satuan (mm, hektare, jiwa) dan periode waktu data tersebut berlaku.
  • Pilih data yang paling relevan dengan pesan inti. Tidak perlu membanjiri pembaca dengan semua angka yang ada.
  • Bulatkan angka jika perlu untuk kemudahan pembacaan, asalkan tidak mengurangi akurasi substansial (misal, “sekitar 1.200 jiwa” daripada “1.237 jiwa”).
Contoh Kalimat Data yang Disertakan Sumber Data (Contoh)
Curah hujan 450 mm yang tercatat dalam 24 jam di stasiun BMKG Gambir telah melampaui rekor bulanan Januari. Curah Hujan (450 mm/24 jam), Rekor Historis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Banjir awal tahun ini menggenangi 15.000 hektare lahan, seluas 21.000 lapangan sepak bola, dan merugikan sektor pertanian milik 20.000 keluarga. Luas Daerah Terdampak (15.000 ha), Analogi, Jumlah Keluarga (20.000) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) & Dinas Pertanian
Berdasarkan laporan posko, sebanyak 47.325 warga mengungsi, meningkat 30% dibandingkan kejadian banjir tahun lalu. Jumlah Pengungsi (47.325 jiwa), Perbandingan Persentase (30%) Posko Pengungsian Terpadu

“Dengan curah hujan 100 mm per jam yang berlangsung selama tiga jam, sistem drainase kota yang hanya dirancang untuk menampung 50 mm per jam sudah pasti mengalami overload, menyebabkan genangan di titik-titik rendah dalam waktu kurang dari 60 menit.” Kalimat ini tidak hanya menyebut angka, tetapi juga menjelaskan hubungan sebab-akibat teknis antar data, memberikan pemahaman yang mendalam tentang proses terjadinya banjir.

Visualisasi Deskriptif Tanpa Gambar

Deskripsi visual yang kuat mampu “menggambar” adegan banjir di benak pembaca, membuat laporan atau cerita menjadi hidup dan emosional. Tanpa bantuan gambar, kata-kata harus bekerja ekstra untuk menggambarkan warna, suara, tekstur, dan gerakan. Teknik ini sangat berguna dalam feature journalistic atau laporan mendalam untuk membangun empati dan pemahaman situasi.

Deskripsi yang baik fokus pada detail sensorik. Gambarkan bagaimana air bergerak (merayap, meluap, mengalir deras), suara yang menyertainya (gemuruh, debur, teriakan), serta perubahan warna lingkungan (dari coklat lumpur, hijau kusam tanaman tergenang, hingga abu-abu langit rendah). Detail kecil seperti benda yang mengapung atau ekspresi wajah korban sering kali paling membekas.

  • Warna: Air yang semula jernih berubah menjadi coklat pekat bercampur lumpur, membawa serta sampah plastik berwarna-warni yang tersangkut di pagar dan pepohonan.
  • Suara: Gemuruh air yang menyusuri jalanan seperti sungai baru, diselingi bunyi benda-benda keras terbentur, dan di kejauhan terdengar sirine mobil tangki darurat.
  • Pergerakan: Air tidak langsung datang menghantam, tetapi merayap pelan dari selokan yang sudah meluap, merendam aspal, naik ke trotoar, dan akhirnya menyusup di bawah pintu rumah.
Kalimat Deskriptif Elemen Visual yang Disertakan Efek Emosional yang Dihasilkan
Pohon-pohon pinggir jalan tampak seperti ditenggelamkan hingga separuh batangnya, dengan dedaunan yang tersisa bergoyang lemah di permukaan air yang keruh. Skala (separuh batang), Warna (keruh), Gerakan (bergoyang lemah) Kesepian, Ketidakberdayaan Alam
Pelan-pelan, karpet ruang tamu yang berwarna krem berubah gradasi menjadi coklat tua, seiring air yang merembes dari lantai. Warna (krem ke coklat tua), Gerakan (merembes), Proses Waktu (pelan-pelan) Kepasrahan, Kehilangan yang Tak Terelakkan
Bocah-bocah terduduk di atap rumah mereka, kaki tergantung, menatap kosong pada mainan plastik berwarna merah yang mengambang pergi diterpa arus. Posisi (di atap), Warna (merah), Gerakan (mengambang pergi), Ekspresi (kosong) Kesedihan, Nostalgia yang Terganggu

Pemandangan dari jembatan itu seperti lukisan surealis: atap-atap rumah muncul bagai pulau-pulau terpisah di hamparan coklat kehijauan yang luas. Di antara pulau-pulau itu, terlihat atap mobil yang nyaris tidak tampak, seperti penyu yang tenggelam. Hanya tiang listrik dan papan reklame yang masih tegak, menjadi penanda bahwa di bawah permukaan air yang tenang itu terdapat sebuah permukiman yang sedang terengah-engah.

Evaluasi Kualitas Kalimat Efektif: Contoh Kalimat Efektif Tentang Banjir

Menilai kualitas kalimat efektif tentang banjir memerlukan kriteria yang objektif dan terukur. Proses evaluasi ini membantu penulis menyaring informasi, memastikan kejelasan pesan, dan menghindari miskomunikasi yang berpotensi fatal dalam situasi darurat. Bukan sekadar soal benar atau salah secara gramatikal, tetapi lebih pada apakah kalimat tersebut berfungsi optimal untuk konteksnya.

BACA JUGA  Menentukan Panjang Sisi PQ dan RS Trapesium Panduan Lengkap

Tiga kriteria utama untuk evaluasi adalah: pertama, kejelasan (apakah subjek, predikat, dan maksud kalimat langsung dipahami?), kedua, kepadatan (apakah tidak ada kata yang mubazir atau bertele-tele?), dan ketiga, kesesuaian konteks (apakah kalimat sesuai untuk audiens, media, dan tujuan penulisan—apakah untuk instruksi darurat, laporan teknis, atau edukasi publik?).

Checklist sederhana untuk penulis: Apakah kalimat saya bisa dipahami dalam sekali baca? Apakah ada kata yang bisa dihapus tanpa mengubah makna? Apakah nada dan kompleksitasnya sesuai dengan siapa yang akan membacanya?

  • Kalimat: “Evakuasi segera dilakukan.” Kurang jelas karena tidak menyebutkan siapa yang mengevakuasi dan siapa yang dievakuasi.
  • Kalimat: “Warga di RT 05, 06, dan 07 diharapkan untuk segera melakukan evakuasi mandiri menuju posko pengungsian di SDN Merdeka karena ketinggian air terus meningkat.” Jelas, padat, dan sesuai konteks instruksi darurat.
  • Kalimat: “Implementasi konsep sponge city melalui pembangunan sumur resapan dan ruang terbuka hijau merupakan solusi jangka panjang yang berkelanjutan.” Jelas untuk audiens teknis/akademik, tetapi mungkin perlu dipecah atau disederhanakan untuk publik umum.
Kalimat yang Dievaluasi Skor Kejelasan (1-5) Skor Kepadatan (1-5) Kesesuaian Konteks
Banjir terjadi di sini. 3 (Terlalu umum) 5 (Sangat padat) Rendah. Tidak informatif.
Banjir luapan sungai Citarum telah merendam permukiman di Kecamatan Dayeuhkolot sejak pukul 03.00 dini hari tadi. 5 (Sangat jelas) 5 (Padat) Tinggi. Untuk laporan cepat/laporan berita.
Dengan memperhatikan berbagai aspek dan faktor yang mempengaruhi, maka upaya penanggulangan banjir secara komprehensif haruslah dilakukan. 2 (Kabur) 1 (Banyak mubazir) Rendah. Terlalu klise dan tidak operasional.

Contoh Evaluasi Mendalam:

Kalimat Asli: “Dikarenakan adanya potensi hujan dengan intensitas lebat yang diperkirakan akan terjadi oleh BMKG, maka diharapkan bagi seluruh masyarakat untuk dapat meningkatkan kewaspadaannya terhadap kemungkinan terjadinya banjir.”

Contoh kalimat efektif tentang banjir dapat menggambarkan dampak nyata, misalnya “Air meluap menenggelamkan rumah warga”. Bila kita beralih ke fisika, Banyaknya gelombang pada tali 20 m dengan v = 30 m/s, f = 15 Hz menjelaskan bagaimana energi terdistribusi. Kembali ke banjir, kalimat ringkas seperti “Pengungsian massal diprioritaskan” tetap memandu aksi cepat.

Evaluasi: Skor kejelasan 3, kepadatan 2. Kalimat ini panjang (28 kata) dan bertele-tele. Frasa “dikarenakan adanya”, “bagi”, “dapat”, dan “terhadap kemungkinan terjadinya” bersifat mubazir. Subjek (“BMKG”) tersembunyi di tengah kalimat.

Perbaikan: “BMKG memperkirakan hujan lebat. Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir.” (11 kata). Pesan menjadi lebih langsung, urutan logis (prediksi -> ajakan), dan lebih mudah diingat.

Contoh kalimat efektif tentang banjir dapat menggambarkan ancaman air yang meluap dengan jelas, sehingga pembaca langsung tergerak. Sebagai analogi, belajar Mengisi Array 1 Dimensi dengan Nilai N Bertambah 3 mengajarkan cara menyusun data berurutan yang terstruktur, mirip cara kita menata peringatan banjir secara logis. Pada akhirnya, kalimat banjir tetap menjadi kunci komunikasi.

Ulasan Penutup

Kesimpulannya, menguasai seni menulis kalimat efektif tentang banjir bukan sekadar latihan menulis, melainkan kontribusi nyata dalam membangun kesadaran dan kesiapsiagaan publik. Dengan menggabungkan fakta, statistik, dan nada yang menggerakkan hati, setiap pernyataan dapat menjadi jembatan antara pengetahuan dan aksi, menjadikan upaya pencegahan banjir lebih terarah dan berdampak.

Tanya Jawab Umum

Apa itu kalimat efektif dalam konteks penulisan tentang banjir?

Kalimat efektif adalah kalimat yang menyampaikan maksud secara jelas, singkat, dan padat tanpa mengorbankan akurasi, sehingga pembaca langsung memahami informasi tentang banjir.

Bagaimana cara menyisipkan data statistik tanpa membuat kalimat terasa berat?

Gunakan angka yang relevan secara langsung dalam subjek kalimat, misalnya “Curah hujan mencapai 200 mm dalam 24 jam, menyebabkan banjir di tiga desa” untuk menjaga kejelasan dan keakuratan.

Mengapa penting menulis ajakan yang emosional terkait pencegahan banjir?

Ajakan emosional menggerakkan rasa empati dan kepedulian, sehingga masyarakat lebih terdorong untuk berpartisipasi dalam tindakan preventif seperti membersihkan selokan atau menanam pohon.

Apakah ada contoh kalimat pendek yang tetap informatif tentang banjir?

“Banjir melanda kampung X, menggenangi rumah penduduk dalam dua jam.” Kalimat ini singkat namun mencakup subjek, predikat, dan konsekuensi.

Bagaimana mengevaluasi kualitas kalimat yang telah ditulis?

Periksa tiga kriteria utama: kejelasan (apakah maksud jelas?), kepadatan (apakah tidak ada kata berlebih?), dan relevansi konteks (apakah sesuai dengan topik banjir?).

Leave a Comment