Contoh Ungkapan Beserta Artinya Jelajahi Makna di Balik Kata

Contoh Ungkapan Beserta Artinya bukan sekadar daftar kata, melainkan panggung di mana bahasa memainkan drama maknanya yang paling tersembunyi. Di sini, kata-kata biasa menyelipkan jubah metafora, melompat dari makna harfiah menuju ranah kiasan yang penuh kejutan, menyimpan cerita, sejarah, dan kedalaman budaya dalam frasa-frasa yang sering kita ucapkan tanpa sadar.

Ungkapan atau idiom adalah permata linguistik yang terbentuk dari kebiasaan masyarakat penuturnya, berbeda dari peribahasa yang mengandung nasihat lengkap atau majas yang lebih bersifat gaya bahasa. Keberadaannya menghidupkan percakapan, memberikan warna emosi, dan menjadi cermin pola pikir suatu budaya, seperti bagaimana “angkat kaki” bisa mewakili kepergian dan “panjang tangan” menggambarkan sifat yang jauh dari makna fisiknya.

Pengertian dan Peran Ungkapan dalam Bahasa

Dalam aliran percakapan sehari-hari, kita sering menyelipkan frasa-frasa yang maknanya tidak bisa diterjemahkan kata per kata. Frasa inilah yang disebut ungkapan atau idiom. Ungkapan adalah gabungan kata yang telah membentuk makna baru yang stabil, berbeda dari makna leksikal masing-masing unsurnya. Ia berfungsi sebagai perangkat ekspresi yang efisien dan penuh warna, memampukan kita menyampaikan ide yang kompleks, emosi yang mendalam, atau kritik yang halus hanya dengan beberapa patah kata.

Penggunaannya yang tepat bukan hanya menunjukkan kemahiran berbahasa, tetapi juga pemahaman akan konteks budaya yang melatarbelakanginya.

Meski sering disamakan, ungkapan memiliki karakteristik yang membedakannya dari peribahasa dan majas lainnya. Perbedaan mendasar terletak pada struktur, fungsi, dan sifat pengajarannya.

  • Ungkapan (Idiom): Bersifat frasa tetap dengan makna kiasan yang harus dihafal. Fungsinya lebih pada memberi warna dan kevividan dalam deskripsi. Contoh: “angkat tangan” yang berarti menyerah.
  • Peribahasa: Berupa kalimat lengkap yang mengandung nilai, nasihat, atau kebenaran umum tentang kehidupan. Sifatnya lebih sebagai pengajaran. Contoh: “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.”
  • Majas Metafora: Merupakan gaya bahasa perbandingan langsung yang bersifat lebih kreatif dan temporal, sering diciptakan penulis atau pembicara untuk efek tertentu dalam konteks spesifik. Contoh: “Ia adalah bintang kelas.”

Sebuah ungkapan bisa diibaratkan sebagai jendela kecil ke dalam ruang berpikir suatu budaya. Ungkapan “melempar batu sembunyi tangan”, misalnya, bukan sekadar menggambarkan tindakan licik. Ungkapan ini merefleksikan pengamatan budaya terhadap sifat manusia yang ingin berbuat jahat tetapi takut akan konsekuensi dan tanggung jawab. Pola pikir yang mengutamakan keselamatan diri dan penampilan luar yang baik terpancar jelas. Dengan demikian, mempelajari ungkapan suatu bahasa sama halnya dengan mempelajari nilai-nilai, ketakutan, dan harapan kolektif dari para penuturnya.

Klasifikasi Jenis-Jenis Ungkapan

Untuk memudahkan pemahaman dan pembelajaran, ungkapan dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan berdasarkan tema atau bidang kehidupan yang sering diaturnya. Pengelompokan ini membantu kita melihat pola dan mengaitkan ungkapan dengan konteks yang sesuai.

Berikut adalah pengelompokan ungkapan berdasarkan tema beserta ciri dan contohnya.

Tema Ciri-Ciri Contoh 1 Contoh 2
Emosi & Perasaan Menggambarkan keadaan batin (senang, sedih, marah, takut) dengan cara yang figuratif dan sering hiperbolis. Bunga tidur (mimpi) Panjang tangan (suka mencuri)
Aktivitas & Pekerjaan Berhubungan dengan tindakan, usaha, atau proses dalam menyelesaikan sesuatu, sering menyiratkan tingkat kesulitan atau cara. Banting tulang (bekerja keras) Angkat kaki (pergi/meninggalkan)
Sifat & Karakter Manusia Mendeskripsikan watak, kepribadian, atau kebiasaan seseorang secara kiasan, sering bersifat menilai. Keras kepala (tidak mau mendengar pendapat orang) Rendah hati (tidak sombong)
Keadaan & Situasi Menggambarkan kondisi tertentu yang dialami seseorang atau suatu hal, bisa bersifat sementara atau permanen. Besar pasak daripada tiang (pengeluaran lebih besar dari pendapatan) Buah bibir (bahan pembicaraan orang banyak)
BACA JUGA  Tolong Bantu Jawab Panduan Komunikasi Digital Efektif

Mengidentifikasi apakah suatu frasa merupakan ungkapan dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Pertama, coba terjemahkan frasa tersebut secara harfiah, kata demi kata. Jika hasil terjemahan itu terdengar aneh, tidak logis, atau tidak bermakna dalam konteks kalimat, kemungkinan besar itu adalah ungkapan. Kedua, periksa apakah frasa tersebut memiliki makna lain yang sudah dikenal luas dan diterima oleh masyarakat bahasa. Ketiga, gantilah frasa tersebut dengan sinonim makna kiasannya; jika kalimat tetap koheren, itu menguatkan bahwa frasa itu adalah ungkapan.

Contoh Ungkapan Populer beserta Makna dan Asal-Usul

Contoh Ungkapan Beserta Artinya

Source: kibrispdr.org

Beberapa ungkapan telah begitu mengakar dalam percakapan sehingga kita menggunakannya hampir tanpa berpikir. Namun, di balik kesederhanaan frasanya, sering tersimpan makna yang dalam dan sejarah yang menarik.

1. Gulung Tikar
Arti Harfiah: Melipat mat anyaman dari daun pandan atau sejenisnya.
Makna Kiasan: Bangkrut atau menghentikan usaha.

2. Cuci Mata
Arti Harfiah: Membersihkan organ penglihatan.
Makna Kiasan: Melihat sesuatu yang indah atau menyenangkan untuk hiburan.

3. Kambing Hitam
Arti Harfiah: Seekor kambing yang berwarna hitam.
Makna Kiasan: Pihak yang dipersalahkan atau dikorbankan untuk menutupi kesalahan sebenarnya.

4. Meja Hijau
Arti Harfiah: Sebuah meja yang berwarna hijau.
Makna Kiasan: Pengadilan atau proses hukum.

5. Kabur Burung
Arti Harfiah: Burung yang terbang menghilang.
Makna Kiasan: Kabur atau melarikan diri (terutama bagi tahanan).

Asal-usul ungkapan “kambing hitam” diduga kuat berasal dari ritual kuno dalam tradisi Yahudi, Yom Kippur, dimana seekor kambing hitam diusir ke padang gurun sebagai simbol pengangkatan dosa-dosa masyarakat. Konsep ini kemudian diadopsi secara metaforis ke dalam banyak budaya untuk menyebut pihak yang dikorbankan. Sementara itu, “meja hijau” berkaitan dengan sejarah fisik pengadilan. Pada masa lalu, meja hakim di pengadilan Belanda (dan kemudian di Indonesia) sering ditutupi kain berwarna hijau, sehingga warna hijau menjadi metonimia untuk institusi pengadilan itu sendiri.

Bayangkan sebuah situasi di kantor: Seorang manajer yang terlalu optimis terus menerus meluncurkan proyek baru tanpa evaluasi menyeluruh, sementara tim di bawahnya sudah kewalahan. Seorang senior yang bijak mungkin akan berbisik kepada rekannya, “Hati-hati, nanti kita semua yang kebakaran jenggot karena proyek yang setengah matang ini.” Ungkapan “kebakaran jenggot” (mengalami kesulitan besar yang meresahkan) digunakan secara tepat untuk menggambarkan konsekuensi yang akan diterima tim, bukan si manajer, akibat keputusan yang gegabah.

Metode Memahami dan Menggunakan Ungkapan dengan Tepat

Ketika menemukan ungkapan baru, ada metode sistematis yang bisa diterapkan untuk memastikan pemahaman yang akurat. Pendekatan ini melibatkan analisis konteks dan verifikasi dari sumber yang terpercaya.

  1. Analisis Konteks Kalimat: Perhatikan dengan saksama kalimat lengkap dimana ungkapan itu muncul. Kata-kata di sekitarnya biasanya memberikan petunjuk kuat tentang emosi, tindakan, atau situasi yang digambarkan.
  2. Identifikasi Kata Kunci: Lihat kata benda atau kata kerja utama dalam ungkapan tersebut. Seringkali, salah satu dari elemen ini memiliki makna kiasan yang dapat ditelusuri.
  3. Gunakan Kamus Idiom atau KBBI: Setelah memiliki dugaan, konfirmasikan makna sebenarnya dengan merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) atau kamus idiom khusus. KBBI biasanya mencantumkan makna idiomatis di akhir entri suatu kata.
  4. Cari Contoh Penggunaan Lain: Cari ungkapan tersebut di korpus teks atau artikel berita online untuk melihat bagaimana ia digunakan dalam berbagai konteks nyata. Ini membantu memahami nuansanya.
BACA JUGA  Asal Vivo China atau Brasil dan Kualitas dibanding Oppo Xiaomi Pasar Smartphone

Setelah memahami maknanya, langkah selanjutnya adalah melatih penggunaannya agar terdengar alami, tidak dipaksakan. Kuncinya adalah integrasi, bukan sekadar substitusi.

  • Mulai dari Konteks yang Jelas: Gunakan ungkapan dalam situasi yang sangat sesuai dengan makna kiasannya. Jangan memaksakan ungkapan hanya karena ingin terlihat fasih.
  • Gunakan dalam Percakapan Informal Terlebih Dahulu: Latih ungkapan baru dalam percakapan santai dengan teman atau keluarga sebelum menggunakannya dalam presentasi atau tulisan formal.
  • Perhatikan Tingkat Kesantunan: Beberapa ungkapan bersifat kasar atau sangat informal (misalnya, “otak udang”). Pastikan kesesuaiannya dengan lawan bicara dan situasi.
  • Gabungkan dengan Penjelasan Singkat (Jika Perlu): Saat berbicara dengan orang yang mungkin belum paham, Anda bisa menyelipkan penjelasan. Misalnya, “Proyek itu akhirnya gulung tikar, ya, alias bangkrut.”

Berikut contoh percakapan singkat yang memadukan tiga ungkapan secara koheren:

A: “Dengar-dengar divisi pemasaran lagi gonta-ganti strategi nih, ya? Katanya iklan terbaru gagal total.”
B: “Iya, sampai pusing tujuh keliling kepala divisinya. Tapi jangan jadikan mereka kambing hitam saja. Semua juga setuju dengan strategi itu awalnya.”

Eksplorasi Variasi Ungkapan dari Berbagai Daerah

Kekayaan bahasa Indonesia tidak lepas dari sumbangan berbagai bahasa dan budaya daerah. Masing-masing daerah memiliki ungkapan khas yang mencerminkan kearifan lokal, lingkungan, dan nilai-nilai masyarakatnya.

Ungkapan Jawa ” ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” (kehormatan diri berasal dari ucapan, kehormatan raga berasal dari pakaian) menekankan pentingnya tutur kata yang baik dan penampilan yang sopan sebagai cermin harga diri. Dari Sunda, ada ” teu ngajadi tachan” (tidak jadi belum tentu) yang mengajarkan sikap pantang menyerah dan optimisme bahwa kegagalan hari ini bukan akhir dari segalanya. Sementara di Minang, ” bak ayam tabang kasawahan” (seperti ayam terbang ke sawah) menggambarkan seseorang yang kembali ke kampung halaman setelah merantau, penuh dengan makna tentang keterikatan pada tanah leluhur.

Keunikan ungkapan daerah ini terletak pada penggunaan metafora yang sangat kontekstual. Ungkapan Bali sering berkaitan dengan ritual dan alam, seperti ” nyemak base lantas” (mengambil kata lalu) yang berarti mudah terpancing emosi. Nilai kearifannya tidak hanya sebagai petuah, tetapi juga sebagai mekanisme pengingat dan pengendalian sosial dalam komunitas.

Berikut tabel perbandingan ungkapan dari dua daerah dengan makna serupa.

Makna Ungkapan Jawa Ungkapan Sunda Keterangan
Bekerja keras untuk keluarga Kerep mangan ora keteko, kerep ngombe ora keteles (Sering makan tidak habis, sering minum tidak tumpah) Hirup keur lulumpatan (Hidup untuk pelarian/berjuang) Keduanya menggambarkan perjuangan hidup, Jawa dengan metafora hemat dan cukup, Sunda dengan metafora terus bergerak.
Seseorang yang banyak bicara tapi tidak berilmu Glamongan plencing (Asap mengepul) – banyak bicara kosong. Ceurik leutik lauk seuseukeut (Tangisan kecil ikan sepat) – ribut tapi tidak berarti. Metafora Jawa menggunakan elemen api (asap), Sunda menggunakan elemen air (ikan).
Mendapatkan keuntungan tanpa usaha Mangan ora nganyari, nglakoni ora ngangsu (Makan tidak memasak, melakukan tidak belajar) Ngaheureuyan lauk dina balong (Mendapatkan ikan di kolam) – dapat rezeki mudah. Kedua ungkapan mengkritik sikap instan, Jawa lebih ke usaha pribadi, Sunda ke konteks rezeki.

Latihan Penerapan dan Analisis Kontekstual

Kemampuan untuk menganalisis makna ungkapan dalam konteks spesifik adalah keterampilan praktis yang penting. Latihan berikut dirancang untuk mengasah sensitivitas terhadap nuansa makna kiasan.

BACA JUGA  Nama Pakaian Adat Sulawesi Kekayaan Simbol dan Identitas

Analisislah makna kiasan ungkapan yang dicetak miring dalam kalimat-kalimat berikut:

  1. Setelah diskusi alot selama tiga jam, akhirnya ia angkat tangan dan menyetujui proposal kita.
    Analisis: “Angkat tangan” di sini berarti menyerah atau mengakui kekalahan dalam berdebat/bernegosiasi, bukan gerakan fisik.
  2. Jangan mudah angkat suara di depan atasan sebelum kamu yakin dengan datanya.
    Analisis: “Angkat suara” bermakna berbicara dengan lantang, berani menyatakan pendapat, atau terkadang membantah.
  3. Rumor itu sudah menjadi buah bibir seluruh karyawan di kantor.
    Analisis: “Buah bibir” berarti bahan pembicaraan atau topik yang sedang banyak diperbincangkan orang.
  4. Dia dikenal sebagai anak emas di departemen itu, sehingga selalu dapat fasilitas terbaik.
    Analisis: “Anak emas” merujuk pada orang yang paling disayangi, dimanjakan, atau mendapatkan perlakuan istimewa.
  5. Proyek infrastruktur besar itu akhirnya gulung tikar karena masalah pendanaan.
    Analisis: “Gulung tikar” berarti berhenti beroperasi, bangkrut, atau dibatalkan.

Kesalahan umum terjadi ketika makna harfiah dikacaukan dengan makna kiasan, atau ketika konteksnya tidak sesuai.

Penggunaan Salah: “Dia besar kepala karena sering memakai topi yang kekecilan.”
Koreksi dan Alasan: Kalimat ini keliru karena mengambil makna harfiah “besar kepala”. Ungkapan “besar kepala” bermakna sombong atau congkak. Kalimat yang benar: “Dia menjadi besar kepala setelah memenangkan penghargaan itu.”

Latihan interaktif: Cocokkanlah ungkapan di lajur kiri dengan situasi penggunaannya yang paling tepat di lajur kanan.

Ungkapan Situasi Penggunaan
1. Cuci gudang A. Seorang peneliti menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium untuk menyempurnakan temuannya.
2. Banting tulang B. Sebuah toko elektronik memberikan diskon besar-besaran untuk semua stok lama sebelum tahun baru.
3. Panjang tangan C. Seorang kakek bercerita dengan detail tentang pengalamannya berjuang di masa muda.
4. Melempar batu sembunyi tangan D. Beberapa barang berharga di asrama mahasiswa sering hilang tanpa jejak.
5. Berjualah telinga E. Seorang oknum menyebarkan fitnah melalui akun anonim di media sosial.

Kunci Jawaban: 1-B, 2-A, 3-D, 4-E, 5-C. (Ungkapan “berjualah telinga” berarti mendengarkan dengan sungguh-sungguh).

Kesimpulan Akhir

Demikianlah perjalanan menelusuri lorong-lorong bahasa yang penuh teka-teki ini. Setiap ungkapan yang telah dijelajahi bukanlah titik akhir, melainkan sebuah pintu yang baru terbuka. Menguasainya berarti memperoleh kunci untuk memahami bukan hanya bahasa, tetapi juga denyut nadi, kelakar, dan kebijaksanaan kolektif dari para penuturnya. Drama makna ini terus berlanjut di setiap percakapan, menunggu untuk dimengerti dan digunakan dengan tepat.

Daftar Pertanyaan Populer: Contoh Ungkapan Beserta Artinya

Apakah semua ungkapan berasal dari masa lalu yang sangat kuno?

Tidak selalu. Banyak ungkapan memang berakar dari sejarah, tetapi ungkapan baru terus tercipta seiring perkembangan zaman dan budaya populer, seperti “banting tulang” atau “meja hijau”.

Bagaimana jika saya salah menggunakan ungkapan dalam percakapan?

Kesalahan penggunaan bisa menyebabkan kebingungan atau kesalahpahaman. Cara terbaik adalah mempelajari konteks penggunaannya dari sumber terpercaya dan berlatih dalam percakapan informal terlebih dahulu.

Apakah anak muda masih menggunakan ungkapan tradisional?

Ya, banyak ungkapan tradisional masih hidup, namun seringkali dengan nuansa atau konteks yang lebih modern. Selain itu, muncul juga “ungkapan” baru dari bahasa gaul dan media sosial.

Apakah ada ungkapan yang sama persis di berbagai bahasa?

Sangat jarang. Meski ada konsep serupa, bentuk ungkapannya biasanya berbeda karena budaya yang unik. Misalnya, “hujan kucing dan anjing” dalam bahasa Inggris, tidak sama dengan “hujan deras” dalam ungkapan Indonesia.

Bagaimana membedakan ungkapan dengan kata majemuk biasa?

Ungkapan memiliki makna kiasan yang tidak dapat diterjemahkan secara harfiah dari kata penyusunnya, sedangkan makna kata majemuk biasanya masih dapat ditelusuri dari makna kata-kata pembentuknya.

Leave a Comment