Fungsi Sejarah Sebagai Pengajaran Makna dan Penerapannya

Fungsi Sejarah Sebagai Pengajaran bukan sekadar rangkaian tanggal dan peristiwa usang. Bayangkan, jika kita duduk bersama mengkaji lembaran-lembaran masa lalu, bukankah kita akan menemukan cermin yang jujur untuk menatap hari ini? Setiap kisah kepahlawanan, setiap titik kejatuhan peradaban, seolah berbisik tentang prinsip hidup yang tak lekang waktu, menawarkan hikmah bagi siapa saja yang mau mendengar dengan hati.

Melalui kajian mendalam, sejarah mengajarkan kita dimensi moral tentang baik dan buruk, dimensi sosial tentang solidaritas dan konflik, serta dimensi kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Ia bukan hanya ilmu yang kering atau seni yang indah, tetapi menjadi guru kehidupan yang membimbing suatu bangsa, seperti bangsa Indonesia yang belajar dari perjuangan merebut kemerdekaan, untuk membentuk karakter dan identitasnya di masa kini.

Makna dan Dimensi ‘Sejarah sebagai Pengajaran’

Melampaui sekadar catatan kronologis, sejarah memegang peran yang lebih sublim: sebagai guru kehidupan. Fungsi sejarah sebagai pengajaran bukanlah tentang menghafal tahun dan nama, melainkan proses penyelaman untuk mengekstrak makna, pola, dan kebijaksanaan dari peristiwa masa lalu. Ia adalah cermin reflektif bagi manusia dan masyarakat untuk mengenali diri, memahami konsekuensi, dan merancang langkah yang lebih bijak di masa depan. Dalam konteks ini, sejarah menjadi sumber pembelajaran yang hidup, di mana setiap tragedi dan kemenangan mengandung pelajaran moral dan strategis yang tak ternilai.

Konsep ini memiliki beberapa dimensi kunci. Dimensi moral menekankan pada penilaian etis terhadap tindakan manusia, mempertanyakan keadilan, keberanian, dan tanggung jawab. Dimensi sosial mengajak kita melihat dinamika kelompok, konflik, kerja sama, dan bagaimana struktur masyarakat membentuk nasib kolektif. Sementara itu, dimensi kebijaksanaan adalah hasil akhir dari perenungan mendalam, yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan yang bernalar dengan mempertimbangkan kompleksitas sebab-akibat yang telah terungkap di masa lampau.

Perbandingan Perspektif Memandang Sejarah

Untuk memahami posisi unik ‘sejarah sebagai pengajaran’, ada baiknya kita membandingkannya dengan dua pendekatan utama lainnya dalam ilmu sejarah. Perbandingan ini menunjukkan bahwa ketiganya saling melengkapi, namun memiliki penekanan dan tujuan yang berbeda.

Aspek Sejarah sebagai Ilmu Sejarah sebagai Seni Sejarah sebagai Pengajaran
Tujuan Utama Mencari kebenaran faktual, menjelaskan sebab-akibat secara empiris. Menyajikan narasi yang hidup, menghidupkan emosi dan imajinasi. Mengambil hikmah dan nilai untuk pedoman hidup masa kini dan depan.
Metodologi Heuristik, verifikasi, kritik sumber, analisis objektif. Penulisan naratif, penggunaan gaya bahasa, penokohan, dramatisasi. Interpretasi, refleksi, komparasi, dan internalisasi nilai.
Hasil yang Diharapkan Kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Karya yang memikat, inspiratif, dan mudah diingat. Kearifan, perubahan sikap, dan peningkatan kebijaksanaan kolektif.
Contoh Fokus Analisis ekonomi-politik penyebab Keruntuhan Romawi. Novel atau film yang mengisahkan kehidupan di zaman Romawi. Mengambil pelajaran tentang kelemahan birokrasi dan kesenjangan sosial dari keruntuhan Romawi.

Bangsa-bangsa di dunia sering kali menjadikan momen-momen pahit sebagai batu pijakan untuk bangkit. Pelajaran dari sebuah peristiwa bisa menjadi fondasi etos bangsa yang bertahan lama.

Kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II dan kekejaman rezim Nazi meninggalkan luka yang mendalam. Dari reruntuhan itu, bangsa Jerman membangun sebuah ethos baru yang berpusat pada penebusan dosa, penegakan hak asasi manusia, dan integrasi perdamaian. Prinsip “Nie wieder” (tidak pernah lagi) menjadi mantra nasional yang mengarahkan kebijakan luar negeri mereka yang sangat hati-hati dan komitmen terhadap Uni Eropa. Sejarah kelam itu diajarkan secara terbuka dan kritis di sekolah-sekolah, bukan untuk membangkitkan rasa bersalah yang melumpuhkan, tetapi untuk memastikan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi tidak pernah lagi tergadai.

Nilai-nilai Edukatif dalam Peristiwa Sejarah

Setiap lembaran sejarah, baik yang gemilang maupun kelam, menyimpan tambang nilai edukatif yang kaya. Nilai-nilai ini bukanlah konsep abstrak, melainkan prinsip-prinsip hidup yang diuji oleh waktu dan realitas. Dengan menggali peristiwa bersejarah, kita dapat menemukan contoh konkret tentang kepemimpinan yang visioner, keteguhan dalam persatuan, perjuangan menegakkan keadilan, semangat inovasi, serta ketangguhan dalam menghadapi krisis. Nilai-nilai ini menjadi relevan sepanjang masa karena berbicara tentang hakikat manusia dan masyarakat.

BACA JUGA  Makna Kerusakan Laut dan Darat dalam QS Ar‑Rum 3041 Tanggung Jawab Manusia

Penerjemahan nilai-nilai ini ke dalam kehidupan modern membutuhkan kontekstualisasi. Kepemimpinan Soekarno-Hatta dalam memproklamasikan kemerdekaan, misalnya, mengajarkan tentang keberanian mengambil risiko untuk sebuah cita-cita besar. Nilai ini dapat diterjemahkan menjadi pedoman bagi pemimpin masa kini untuk berani membuat keputusan strategis yang mungkin tidak populer, tetapi diperlukan untuk kemajuan jangka panjang. Demikian pula, nilai persatuan yang dijaga selama Revolusi Nasional dapat menjadi pengingat akan pentingnya mengesampingkan perbedaan sektoral untuk menghadapi tantangan bangsa yang kompleks.

Peristiwa Dunia dan Nilai Pengajarannya

Berikut adalah beberapa peristiwa bersejarah dunia yang memberikan pelajaran mendalam bagi umat manusia:

  • Revolusi Prancis (1789): Mengajarkan tentang bahaya kesenjangan sosial yang ekstrem dan pentingnya prinsip kesetaraan di hadapan hukum (égalité), sekaligus menunjukkan kompleksitas transisi dari tirani menuju demokrasi yang sering kali berdarah.
  • Pemberlakuan Apartheid di Afrika Selatan dan Perjuangan Nelson Mandela: Menunjukkan ketahanan nilai perdamaian dan rekonsiliasi di atas balas dendam, serta kekuatan pengampunan sebagai dasar membangun masa depan bersama.
  • Jatuhnya Tembok Berlin (1989): Menjadi simbol kuat tentang keinginan manusia akan kebebasan dan persatuan, serta menunjukkan bahwa ideologi yang mengekang pada akhirnya akan tumbang oleh aspirasi rakyat.
  • Krisis Finansial Global 2008: Memberikan pelajaran tentang bahaya keserakahan, kompleksitas sistem keuangan yang tidak terkendali, dan pentingnya regulasi serta transparansi dalam ekonomi global.
  • Pandemi Covid-19: Mengajarkan tentang kerentanan global, pentingnya solidaritas internasional dan ilmu pengetahuan, serta ketidaksiapan sistem kesehatan dunia dalam menghadapi guncangan besar.

Memori Kolektif dan Internalisasi Nilai, Fungsi Sejarah Sebagai Pengajaran

Proses menginternalisasi nilai-nilai pengajaran dari sejarah tidak terjadi secara otomatis. Di sinilah peran memori kolektif menjadi krusial. Memori kolektif adalah cara sebuah komunitas atau bangsa mengingat, menafsirkan, dan mewariskan masa lalunya melalui ritual, pendidikan, monumen, dan cerita. Upacara kenegaraan, peringatan hari besar nasional, museum, bahkan lagu-lagu perjuangan adalah alat untuk membentuk dan memelihara memori ini. Ketika sebuah nilai, seperti “persatuan dalam perbedaan”, terus-menerus dihidupkan melalui memori kolektif tentang Sumpah Pemuda, nilai tersebut lambat laun meresap menjadi bagian dari identitas dan sikap hidup generasi penerus.

Tanpa memori kolektif yang aktif, pelajaran sejarah hanya akan menjadi fakta usang di buku teks.

Metode dan Pendekatan dalam Menyampaikan Pengajaran Sejarah

Agar fungsi sejarah sebagai pengajaran dapat menyentuh hati dan pikiran masyarakat, diperlukan metode dan pendekatan penyampaian yang tepat. Pendidikan formal di sekolah memegang peran fundamental, namun sering kali terjebak pada model hafalan. Sementara itu, media informal seperti film, sastra, dan media sosial justru memiliki daya jangkau dan pengaruh emosional yang besar. Kombinasi yang sinergis antara keduanya adalah kunci untuk mentransformasikan sejarah dari subjek yang dihindari menjadi narasi yang relevan.

Dua pendekatan utama dalam pengajaran sejarah adalah naratif dan analitis. Pendekatan naratif, dengan kekuatan ceritanya, mampu membangun empati dan membuat peristiwa mudah diingat. Namun, kelemahannya adalah risiko penyederhanaan dan subjektivitas. Sebaliknya, pendekatan analitis menekankan pada kritik sumber, pemahaman konteks, dan melihat multi-perspektif. Pendekatan ini membangun kemampuan berpikir kritis, tetapi bisa terasa kering dan kurang menggugah bagi sebagian orang.

Metode yang ideal adalah hibrid: memulai dengan narasi yang memikat untuk menarik minat, kemudian mendalaminya dengan analisis kritis untuk menggali pelajaran yang kompleks.

Media dan Dampak Edukatifnya

Berbagai media dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pengajaran sejarah, masing-masing dengan kekuatan dan karakteristiknya.

Media Bentuk Penyajian Dampak Edukatif Contoh Karya
Film/Dokumenter Visualisasi dramatis, audio, dan narasi yang kuat. Membangun empati mendalam, menghidupkan suasana zaman, mudah diakses khalayak luas. Film “Soekarno” (Indonesia), “Schindler’s List” (AS), “The Act of Killing” (dokumenter).
Museum dan Situs Bersejarah Pengalaman langsung (direct experience), artefak fisik, rekonstruksi ruang. Menghadirkan kesan autentik yang tak tergantikan, merangsang rasa ingin tahu melalui benda nyata. Museum Konperensi Asia Afrika di Bandung, Memorial Holocaust di Berlin, Kota Tua Jakarta.
Sastra (Novel, Puisi) Eksplorasi batin tokoh, konflik moral, dan dimensi manusiawi peristiwa. Menyentuh sisi emosional dan filosofis, mengajak refleksi personal yang mendalam. Novel “Bumi Manusia” (Pramoedya), “The Book Thief” (Markus Zusak).
Media Digital & Game Edukasi Interaktivitas, simulasi, dan konten yang dapat dijelajahi mandiri. Meningkatkan engagement, khususnya bagi generasi muda, memungkinkan eksperimen dengan pilihan sejarah (what-if). Website Arsip Nasional virtual, game “Valiant Hearts: The Great War”.

Ilustrasi: Pameran Museum yang Reflektif

Fungsi Sejarah Sebagai Pengajaran

Source: slidesharecdn.com

Bayangkan sebuah pameran museum bertema “Pilihan dan Konsekuensi: Jejak Kolonial di Nusantara”. Pengunjung tidak hanya disuguhkan meriam, peta, dan pakaian tentara. Ruang pertama didominasi oleh instalasi audio-visual yang membandingkan narasi sejarah dari sudut pandang yang berbeda: catatan harian seorang pejabat kolonial, surat seorang bupati yang berkolaborasi, dan cerita lisan dari komunitas petani yang mengalami kerja paksa. Di ruang berikutnya, terdapat sebuah lorong interaktif dimana pengunjung dihadapkan pada replika dokumen dan disuarakan beberapa opsi kebijakan yang diambil oleh elite lokal masa itu, lengkap dengan penjelasan konsekuensi jangka pendek dan panjang dari setiap pilihan.

BACA JUGA  Proses Fotosintesis Mengubah Cahaya Menjadi Kehidupan

Pameran diakhiri dengan ruang refleksi yang kosong, hanya berisi pertanyaan besar di dinding: “Jika Anda berada di situasi itu, dengan pengetahuan yang Anda miliki sekarang, apa yang akan Anda perjuangkan?” Pameran seperti ini tidak menghakimi, tetapi mendidik pengunjung untuk memahami kompleksitas sejarah dan menarik benang merah pengajaran tentang kekuasaan, ketahanan, dan moralitas ke dalam konteks kekinian.

Pengaruhnya terhadap Pembentukan Karakter dan Identitas Bangsa

Pemahaman yang mendalam tentang sejarah sebagai pengajaran bukan hanya urusan akademis, melainkan fondasi bagi pembangunan karakter bangsa. Sebuah bangsa yang secara kolektif merefleksikan sejarahnya—baik masa kejayaan maupun keterpurukan—akan mengembangkan karakter yang lebih berintegritas, tangguh, dan berdaya saing. Karakter ini lahir dari proses belajar bersama: mengenali kesalahan masa lalu untuk tidak mengulanginya, serta menghidupkan kembali nilai-nilai luhur yang pernah mempersatukan dan memajukan bangsa.

Dengan demikian, sejarah menjadi “ruang latihan” moral dan strategis bagi suatu bangsa.

Kaitan antara pelajaran sejarah dengan identitas nasional sangat erat. Identitas bukanlah sesuatu yang statis, tetapi narasi yang terus dibangun. Pelajaran dari peristiwa-peristiwa seperti Sumpah Pemuda atau Perang Kemerdekaan memberikan konten emosional dan ideologis bagi narasi “Kita” sebagai satu bangsa. Rasa cinta tanah air yang sehat tumbuh dari apresiasi terhadap perjalanan panjang bangsa, pengorbanan para pendahulu, dan kesadaran akan tanggung jawab untuk melanjutkan perjuangan dalam bentuk yang sesuai dengan zamannya.

Tanpa pemahaman sejarah, nasionalisme bisa menjadi kosong atau bahkan bergesekan ke arah chauvinisme.

Tantangan Modern dan Jawaban dari Sejarah

Banyak tantangan kontemporer sebenarnya memiliki akar atau paralel dalam sejarah. Merujuk pada pengalaman masa lalu dapat memberikan perspektif yang berharga.

  • Polarisasi Politik dan Hoaks: Sejarah propaganda masa perang atau rezim otoritarian mengajarkan tentang bahaya informasi sepihak dan pentingnya literasi media serta kebebasan pers yang bertanggung jawab untuk menjaga ruang publik yang sehat.
  • Korupsi dan Penyalahgunaan Kekuasaan Kajian tentang kejatuhan kerajaan-kerajaan besar akibat korupsi dan dekadensi elite memberikan peringatan tentang erosi kepercayaan dan stabilitas negara ketika integritas diabaikan.
  • Ancaman Disintegrasi dan Konflik SARA: Pelajaran dari trauma konflik horizontal di masa lalu, seperti peristiwa 1965 atau kerusuhan 1998, menegaskan bahwa persatuan adalah pilihan yang harus terus-menerus diperjuangkan, bukan dianggap given.
  • Ketergantungan Ekonomi dan Krisis Global: Pengalaman masa kolonial yang menjadikan Nusantara sebagai pemasok bahan mentah mengajarkan pentingnya kemandirian ekonomi, nilai tambah industri, dan ketahanan dalam menghadapi fluktuasi pasar dunia.

Pelajaran Sejarah dalam Nation-Building Indonesia

Sejarah Indonesia penuh dengan momen di mana pelajaran dari masa lalu secara sadar mempengaruhi arah nation-building. Salah satu contoh paling jelas adalah keputusan para founding fathers untuk memilih bentuk negara kesatuan dan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Pilihan ini bukan tanpa dasar sejarah. Mereka telah menyaksikan dan mempelajari kelemahan dari sistem federal yang diusulkan Belanda (RIS) yang dianggap dapat memecah belah, serta memahami betapa beragamnya suku dan budaya di Nusantara dari catatan perjalanan sejarah kerajaan-kerajaan masa lalu.

Pelajaran dari kegagalan federasi dan keberhasilan ikatan persatuan melawan penjajah menjadi bahan pertimbangan utama. Demikian pula, trauma terhadap penyalahgunaan kekuasaan eksekutif yang sangat sentralistik di masa lalu mendorong amandemen UUD 1945 yang menciptakan checks and balances antara presiden, DPR, dan lembaga negara lainnya. Setiap langkah besar dalam membangun Indonesia modern sering kali diawali dengan pertanyaan reflektif: “Apa yang diajarkan oleh sejarah kita tentang hal ini?”

Aplikasi dalam Konteks Kontemporer dan Masa Depan

Prinsip-prinsip pengajaran dari sejarah tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus dioperasionalkan untuk membaca dan memecahkan masalah kekinian. Dalam konteks sosial-politik yang kompleks, sejarah memberikan alat bantu berupa pola, peringatan dini, dan alternatif solusi yang telah diuji oleh waktu. Misalnya, dalam menghadapi naiknya populisme global, kita dapat merujuk pada sejarah tahun 1930-an untuk memahami kondisi sosial-ekonomi seperti apa yang melahirkan fenomena serupa dan bahaya yang mengintai.

Aplikasi ini membutuhkan kecerdasan untuk melakukan analogi yang tepat, bukan copy-paste, karena konteks selalu berubah.

BACA JUGA  Jarak Tikus Didorong Kucing dengan Gaya 3 N dan Usaha 12 J Analisis Fisika

Untuk mengoptimalkan fungsi ini di abad ke-21, kurikulum pendidikan sejarah perlu direvitalisasi. Pergeseran harus terjadi dari “apa yang terjadi” menuju “mengapa itu terjadi dan apa artinya bagi kita”. Ini berarti memperkuat kemampuan berpikir historis (historical thinking) seperti sourcing, contextualization, dan corroboration. Selain itu, integrasi dengan isu-isu lintas disiplin seperti lingkungan, teknologi, dan ekonomi global menjadi penting agar sejarah terasa relevan dengan tantangan masa depan yang dihadapi siswa.

Skenario Kebijakan Publik Berbasis Pelajaran Sejarah

Studi Kasus Hipotetis: Menangani Bencana Ekologis Nasional

Pemerintah dihadapkan pada krisis kabut asap tahunan yang parah akibat kebakaran hutan dan lahan, yang telah menyebabkan kerugian kesehatan, ekonomi, dan hubungan internasional. Alih-alih hanya berfokus pada pemadaman darurat, sebuah tim khusus dibentuk yang terdiri dari ahli kebijakan, ekologi, dan sejarawan. Tim sejarawan diminta menganalisis pola serupa di masa lalu: periode eksploitasi lahan besar-besaran pada masa kolonial untuk perkebunan, program transmigrasi era Orde Baru yang kurang memperhatikan daya dukung ekologi, serta kegagalan penegakan hukum terhadap pembakar lahan di dekade sebelumnya.

Dari analisis itu, muncul pelajaran kunci: (1) Akar masalahnya adalah pola ekonomi ekstraktif jangka panjang yang mengabaikan kearifan lokal dalam pengelolaan lahan, (2) Kebijakan yang sentralistik dan terburu-buru sering gagal memahami kompleksitas sosial-ekologi di tingkat lokal, (3) Lemahnya penegakan hukum berulang kali menjadi penyebab kegagalan solusi teknis.

Berdasarkan pelajaran ini, pemerintah tidak hanya mengeluarkan larangan pembakaran. Mereka meluncurkan sebuah paket kebijakan terintegrasi yang mencakup: insentif ekonomi jangka panjang untuk masyarakat yang mengelola lahan tanpa bakar, revitalisasi sistem pengelolaan lahan berbasis komunitas adat yang pernah efektif di masa pra-kolonial, serta pembentukan pengadilan khusus lingkungan dengan kewenangan yang jelas, mengambil pelajaran dari keberhasilan relatif penanganan kasus-kasus lingkungan di masa tertentu.

Kebijakan ini diberi nama “Moratorium Ekologis dan Reformasi Agraria berbasis Kearifan Sejarah”.

Rekomendasi untuk Generasi Muda

Bagi generasi muda yang hidup di era banjir informasi dan perubahan cepat, sejarah bisa menjadi kompas yang stabil. Berikut adalah beberapa rekomendasi untuk memaknai dan memanfaatkannya:

  • Jadilah Pembaca Sejarah yang Aktif dan Kritis. Jangan terima satu sumber atau satu versi cerita. Selalu tanyakan: siapa yang menulis ini, untuk tujuan apa, dan perspektif siapa yang mungkin hilang?
  • Cari Benang Merah antara Masa Lalu dan Kekinian. Ketika membaca isu tentang ketimpangan, korupsi, atau konflik identitas, coba telusuri akar historisnya. Memahami asal-usul masalah sering kali membuka jalan untuk solusi yang lebih mendasar.
  • Gunakan Sejarah sebagai Alat Berempati. Coba bayangkan diri Anda dalam situasi orang-orang di masa lalu, dengan keterbatasan pengetahuan dan pilihan mereka. Latihan ini melatih empati dan menghindarkan dari penghakiman yang simplistik.
  • Ambil Inspirasi, Bukan Nostalgia. Fokuslah pada semangat, nilai, dan strategi kreatif yang ditunjukkan oleh generasi pendahulu, bukan pada romantisme masa lalu itu sendiri. Tantanganmu berbeda, tetapi semangat untuk berinovasi dan berjuang adalah warisan yang relevan.
  • Terlibat dalam Pelestarian Memori Kolektif. Bisa dengan mengunjungi museum, mewawancarai orang tua tentang pengalaman mereka, atau mendigitalkan arsip keluarga. Kontribusi kecil ini membantu menjaga agar pelajaran sejarah tetap hidup dan dapat diakses.

Penutupan Akhir

Maka, setelah menyelami samudera pengajaran dari sejarah, pertanyaannya adalah: pelajaran berharga apa yang akan kita bawa pulang? Sejarah telah selesai bercerita, kini giliran kita untuk bertindak. Biarlah nilai-nilai keteladanan, persatuan, dan keadilan yang terkubur di dalamnya menjadi kompas kita menghadapi tantangan modern, membangun kebijakan yang lebih arif, dan mengukir peradaban yang lebih baik untuk generasi mendatang.

Informasi FAQ: Fungsi Sejarah Sebagai Pengajaran

Apakah mempelajari sejarah sebagai pengajaran bisa membuat kita hidup di masa lalu?

Tidak. Justru fungsi ini membuat kita belajar dari masa lalu untuk memahami pola, menghindari kesalahan yang sama, dan mengambil inspirasi guna membangun solusi yang kontekstual untuk masalah masa kini dan masa depan.

Bagaimana jika interpretasi sejarah sebagai pengajaran berbeda-beda antara satu kelompok dengan lainnya?

Perbedaan interpretasi adalah hal wajar. Inilah mengangka dialog kritis berdasarkan fakta sejarah menjadi penting. Perbedaan tersebut justru dapat memperkaya pemahaman kolektif, asalkan didasari pada niat mencari kebenaran dan hikmah, bukan untuk memutarbalikkan fakta.

Apakah semua peristiwa sejarah pasti mengandung pelajaran yang baik?

Tidak selalu. Beberapa peristiwa mungkin penuh dengan tragedi dan kejahatan. “Pelajaran” di sini bisa berarti peringatan tentang akibat dari keserakahan, kebencian, atau kesalahan kebijakan. Belajar dari kegelapan sejarah sama pentingnya dengan meneladani cahayanya.

Bagaimana cara mengajarkan fungsi sejarah sebagai pengajaran kepada anak-anak muda?

Dengan menghubungkannya dengan isu-isu yang relevan dengan kehidupan mereka, menggunakan media yang menarik seperti film dokumenter, games sejarah, atau kunjungan ke situs bersejarah, serta mendorong diskusi terbuka tentang nilai-nilai apa yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah pengambilan kebijakan publik saat ini sering mengabaikan pelajaran sejarah?

Seringkali iya. Tekanan politik, kepentingan jangka pendek, dan kompleksitas masalah baru bisa mengaburkan pelajaran dari masa lalu. Itulah sebabnya mengapa suara sejarawan dan kesadaran kolektif akan pentingnya sejarah sebagai guru perlu terus diperkuat dalam ruang publik.

Leave a Comment