Hitung gram asam oksalat yang menghasilkan 3 L CO₂ pada 27°C terdengar seperti teka-teki stoikiometri klasik, tapi di balik angka-angka itu ada cerita menarik tentang bagaimana zat padat putih bisa berubah menjadi gas yang kita embuskan setiap hari. Bayangkan, dari sejumput kristal asam oksalat yang biasa ditemukan di tanaman seperti bayam atau rhubarb, kita bisa mendapatkan karbon dioksida murni melalui reaksi dekomposisi termal.
Proses ini bukan sekadar teori di buku, melainkan aplikasi langsung dari hukum-hukum dasar kimia yang menyatukan konsep mol, volume gas, dan pengaruh suhu ruang.
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu menyelami mekanisme reaksi di mana asam oksalat (H₂C₂O₄) terurai menjadi CO₂, CO, dan H₂O. Namun, fokus kita adalah kondisi yang memungkinkan produksi CO₂ murni. Perhitungannya melibatkan konversi suhu 27°C ke skala Kelvin, penggunaan hukum gas ideal untuk menghitung mol CO₂ dari volume 3 liter pada kondisi non-STP, lalu melacaknya kembali ke massa asam oksalat awal melalui perbandingan stoikiometri yang tepat.
Setiap langkahnya adalah tarian logika antara rumus dan realitas laboratorium.
Mengurai Reaksi Kimia Asam Oksalat Menjadi Gas Karbon Dioksida
Untuk mengetahui berapa gram asam oksalat yang dibutuhkan, langkah pertama yang paling krusial adalah memahami dengan benar reaksi kimia apa yang terjadi. Asam oksalat, atau H₂C₂O₄, adalah senyawa organik yang relatif tidak stabil terhadap pemanasan. Ketika dipanaskan, ia dapat terurai melalui proses yang disebut dekomposisi termal. Namun, jalur reaksinya tidak tunggal dan sangat bergantung pada kondisi lingkungan, terutama keberadaan zat lain dan suhu yang diterapkan.
Dekomposisi termal asam oksalat murni seringkali menghasilkan campuran produk. Pada suhu di atas sekitar 150°C, padatan asam oksalat mulai menyublim dan terurai. Satu jalur reaksi yang umum adalah menghasilkan gas karbon dioksida (CO₂), gas karbon monoksida (CO), dan uap air (H₂O). Reaksi ini dapat dituliskan sebagai: H₂C₂O₄(s) → CO₂(g) + CO(g) + H₂O(g). Perhatikan bahwa dari satu molekul asam oksalat, dihasilkan satu molekul CO₂.
Jalur lain yang mungkin adalah dekomposisi langsung menjadi CO₂, H₂, dan gas CO, atau reaksi dengan katalis tertentu. Untuk tujuan perhitungan stoikiometri yang menghubungkan massa reaktan dengan volume CO₂ murni, kita harus memastikan bahwa semua karbon dari asam oksalat hanya dikonversi menjadi CO₂. Dalam praktik laboratorium, hal ini sering dicapai dengan mengalirkan gas hasil dekomposisi melalui suatu medium, misalnya butiran tembaga(II) oksida yang dipanaskan.
Medium ini akan mengoksidasi produk samping CO yang beracun menjadi CO₂ tambahan, sehingga reaksi totalnya menjadi: H₂C₂O₄(s) → 2CO₂(g) + H₂O(g). Dengan skenario ini, setiap satu mol asam oksalat akan menghasilkan tepat dua mol karbon dioksida, yang memudahkan perhitungan dan memaksimalkan hasil gas yang diinginkan.
Sifat-sifat Zat yang Terlibat dalam Reaksi
Memahami karakteristik setiap zat yang terlibat membantu dalam merancang eksperimen dan mengantisipasi perilaku reaksi. Berikut adalah perbandingan singkat sifat fisika dan kimia dari keempat entitas kunci.
| Zat | Wujud pada Suhu Kamar | Sifat Kimia Penting | Bahaya & Penanganan |
|---|---|---|---|
| Asam Oksalat Padat (H₂C₂O₄) | Padatan kristal putih | Asam organik dikarboksilat kuat, bersifat pereduksi, terurai oleh panas. | Bersifat korosif dan beracun jika tertelan. Hindari kontak dengan kulit dan mata. |
| Larutan Asam Oksalat | Cairan jernih | Keasaman tinggi, dapat melarutkan deposit karat dan kalsium. | Korosif. Pengenceran harus hati-hati (tambah asam ke air, bukan sebaliknya). |
| Karbon Dioksida (CO₂) Hasil | Gas tak berwarna | Gas inert, lebih berat dari udara, sedikit larut dalam air membentuk asam lemah. | Dapat menyebabkan sesak napas di ruang tertutup. Tidak mudah terbakar. |
| Karbon Monoksida (CO) Sampingan | Gas tak berwarna | Bersifat racun kuat, pereduksi kuat, mudah terbakar. | Berikatan dengan hemoglobin darah. Ventilasi sangat penting. |
Contoh Perhitungan Stoikiometri dan Konversi Satuan
Setelah reaksi yang tepat ditetapkan, kita dapat mulai menghitung. Misalkan kita gunakan reaksi dimana 1 mol H₂C₂O₄ menghasilkan 2 mol CO₂. Target kita adalah menghasilkan 3 liter CO₂ pada 27°C. Karena volume gas sangat bergantung pada suhu dan tekanan, kita tidak bisa menggunakan volume molar standar (22,4 L/mol) secara langsung. Kita perlu menggunakan Hukum Gas Ideal.
Langkah pertama yang sering menjadi sumber kesalahan adalah konversi satuan ke dalam sistem Satuan Internasional (SI).
Suhu harus dikonversi dari Celcius ke Kelvin. Rumusnya sederhana: T(K) = T(°C) +
273. Jadi, 27°C setara dengan 300 K. Untuk tekanan, jika diasumsikan tekanan atmosfer laboratorium adalah 1 atm, kita perlu mengonversinya ke satuan Pascal (Pa) untuk konsistensi SI. 1 atm = 101325 Pa.
Volume 3 liter harus diubah menjadi meter kubik: 3 L = 3 × 10⁻³ m³. Konstanta gas ideal (R) yang sesuai adalah 8.314 J/(mol·K) atau 8.314 m³·Pa/(mol·K). Dengan data ini, kita bisa menghitung mol CO₂ (n) yang dihasilkan menggunakan persamaan PV = nRT.
PV = nRT → n(CO₂) = (P × V) / (R × T)
Setelah mol CO₂ diketahui, stoikiometri reaksi memberi tahu bahwa mol H₂C₂O₄ adalah setengah dari mol CO₂. Terakhir, massa asam oksalat dihitung dengan mengalikan molnya dengan massa molar (H₂C₂O₄ ≈ 90 g/mol).
Memetakan Pengaruh Suhu dan Tekanan dalam Penghitungan Volume Gas Hasil Reaksi
Angka 27°C dalam soal bukanlah sekadar dekorasi. Suhu ruang tersebut adalah variabel kunci yang menentukan seberapa besar volume yang ditempati oleh sejumlah molekul gas tertentu. Pada suhu yang lebih tinggi, molekul gas memiliki energi kinetik rata-rata yang lebih besar. Energi ini menyebabkan molekul-molekul bergerak lebih cepat dan saling bertumbukan dengan dinding wadah lebih sering dan dengan gaya yang lebih kuat.
Untuk mempertahankan tekanan yang sama (misalnya tekanan atmosfer), gas akan mengembang, sehingga volume yang ditempatinya meningkat.
Menghitung gram asam oksalat yang menghasilkan 3 L CO₂ pada 27°C itu seru, karena kita main-main dengan konsep mol dan reaksi kimia. Proses berpikir sistematisnya mirip banget dengan logika matematika, kayak saat kita membuktikan suatu pola, misalnya Bukti Induksi: 3^2n−1 habis dibagi 3 untuk n≥0. Keduanya butuh langkah-langkah yang runut dan valid. Nah, setelah memahami pola pembuktian itu, kita bisa kembali fokus ke perhitungan stoikiometri untuk mencari massa asam oksalat yang tepat dari volume gas CO₂ yang diketahui.
Konsep inilah yang menjadi dasar Hukum Charles, yang merupakan bagian dari Hukum Gas Ideal. Hukum Gas Ideal (PV = nRT) adalah model matematika yang menggabungkan hubungan antara tekanan (P), volume (V), jumlah mol (n), suhu absolut (T dalam Kelvin), dan konstanta gas universal (R). Model ini bekerja dengan baik untuk gas seperti CO₂ pada kondisi mendekati tekanan atmosfer dan suhu ruang.
Dengan memasukkan suhu 300 K (27°C) ke dalam persamaan ini, kita secara akurat memperhitungkan pengaruh energi kinetik molekul terhadap volume gas yang kita ukur. Jika kita ceroboh menggunakan volume molar standar pada 0°C (273 K), hasil perhitungan massa reaktan akan meleset signifikan karena kita mengabaikan efek pemuaian gas sebesar sekitar 10% akibat perbedaan suhu 27 derajat tersebut.
Prosedur Mengoreksi Volume Gas ke Kondisi Standar
Dalam analisis kimia, sering kali data volume gas perlu dibandingkan atau digunakan dalam kondisi yang seragam. Prosedur koreksi ini menggunakan hubungan gabungan dari Hukum Boyle dan Charles. Jika volume gas (V₁) diukur pada suhu T₁ dan tekanan P₁, volume pada kondisi standar (V₀ pada STP: 0°C/273 K dan 1 atm) dapat dihitung.
Langkah-langkahnya adalah: pertama, pastikan semua suhu dalam Kelvin dan tekanan dalam satuan yang konsisten. Kedua, gunakan rumus koreksi: V₀ = V₁ × (P₁/P₀) × (T₀/T₁), dimana P₀ dan T₀ adalah tekanan dan suhu standar. Rumus ini secara efektinormalisasi volume dengan memperhitungkan kompresi atau ekspansi gas akibat perbedaan tekanan dan suhu. Prosedur sebaliknya, dari STP ke kondisi laboratorium, juga menggunakan prinsip yang sama dengan menata ulang variabelnya.
Sumber Ketidakpastian dalam Pengukuran Volume 3 Liter CO₂
Angka 3 liter sebagai volume target dalam soal merupakan nilai teoritis atau hasil pengukuran. Dalam praktiknya, pengukuran volume gas, terutama yang dikumpulkan dengan metode seperti penggeseran air atau menggunakan kantong gas, memiliki beberapa sumber ketidakpastian. Pertama, tekanan gas di dalam wadah pengumpul mungkin tidak persis sama dengan tekanan atmosfer yang digunakan dalam perhitungan, terutama jika sistem tidak dibiarkan cukup lama untuk menyamakan tekanan.
Kedua, kelarutan CO₂ dalam air, meskipun relatif rendah, dapat menyebabkan sedikit gas terlarut dan tidak terukur jika menggunakan metode penggeseran air. Ketiga, variasi kecil dalam suhu ruang selama eksperimen dapat mempengaruhi pembacaan volume. Faktor-faktor lingkungan ini secara kolektif mempengaruhi presisi akhir perhitungan massa asam oksalat, yang mengapa dalam pelaporan ilmiah sering disertai rentang ketidakpastian.
Deskripsi Susunan Eksperimen Laboratorium
Sebuah eksperimen untuk mendemonstrasikan reaksi ini dapat dirancang dengan peralatan dasar. Rangkaiannya terdiri dari tabung reaksi keras (pyrex) yang berisi beberapa gram asam oksalat padat, dipanaskan secara hati-hati menggunakan pembakar spiritus atau pemanas listrik. Mulut tabung reaksi dihubungkan dengan selang karet atau plastik yang tahan panas ke sebuah tabung pengalir. Untuk memastikan produksi CO₂ murni, tabung pengalir dapat diarahkan ke dalam tabung lain yang berisi tembaga(II) oksida panas sebelum gas akhirnya dikumpulkan.
Pengumpulan gas CO₂ dilakukan dengan metode penggeseran udara ke bawah (karena CO₂ lebih berat dari udara) ke dalam sebuah botol atau silinder gas yang telah dikalibrasi. Alternatif lain adalah mengumpulkannya dalam kantong gas tertutup. Peralatan keselamatan yang wajib adalah jas lab, kacamata pelindung, dan sarung tangan. Eksperimen harus dilakukan di dalam lemari asam atau di ruang dengan ventilasi yang sangat baik untuk menghindari akumulasi gas CO atau uap asam.
Penanganan asam oksalat padat memerluhan penjepit untuk menghindari kontak langsung.
Penerapan Hukum Gas dan Stoikiometri dalam Menentukan Massa Reaktan Secara Presisi
Kini kita satukan semua potongan puzzle: reaksi, stoikiometri, dan perilaku gas. Alur logis untuk menyelesaikan soal “Hitung gram asam oksalat yang menghasilkan 3 L CO₂ pada 27°C” dimulai dari membaca soal dengan teliti. Kata kunci “pada 27°C” adalah sinyal bahwa kita berurusan dengan kondisi non-STP, sehingga Hukum Gas Ideal adalah alat yang tepat. Asumsi tekanan biasanya adalah tekanan atmosfer standar (1 atm) jika tidak disebutkan lain.
Langkah pertama adalah menuliskan reaksi setara yang relevan, dalam hal ini H₂C₂O₄(s) → 2CO₂(g) + H₂O(g). Langkah kedua adalah mengonversi semua besaran ke satuan yang konsisten dengan konstanta R yang akan dipilih.
Pemilihan konstanta gas (R) sangat menentukan. Nilai R = 0.0821 L·atm/(mol·K) sangat praktis karena bekerja langsung dengan satuan liter, atm, dan Kelvin, sehingga menghindari konversi volume ke m³. Dengan R ini, perhitungan menjadi lebih langsung: hitung mol CO₂ dari P, V, T yang diketahui, lalu turunkan mol asam oksalat dari perbandingan koefisien, dan terakhir kalikan dengan massa molar (90.04 g/mol).
Setiap langkah harus ditulis dengan jelas. Setelah mendapatkan angka gram, verifikasi penting dilakukan. Analisis dimensional adalah cara terbaik: pastikan satuan-satuan saling menghilangkan hingga akhirnya menghasilkan gram. Cek juga orde besaran: massa asam oksalat untuk menghasilkan 3 L gas pada suhu ruang seharusnya dalam kisaran beberapa gram, bukan puluhan atau pecahan desimal yang sangat kecil. Jika hasilnya 0.5 gram atau 50 gram, ada kemungkinan kesalahan konversi suhu atau salah memahami stoikiometri (misalnya lupa bahwa 1 mol reaktan menghasilkan 2 mol gas).
Perbandingan Hasil Akhir dengan Variasi Kondisi
Untuk memahami sensitivitas hasil perhitungan, mari kita lihat bagaimana nilai massa asam oksalat berubah jika salah satu variabel dimodifikasi, sementara lainnya tetap pada kondisi awal (27°C, 1 atm, 3 L CO₂, reaksi 1:2).
| Variabel yang Dimodifikasi | Nilai Baru | Massa H₂C₂O₄ (Hasil) | Keterangan Perubahan |
|---|---|---|---|
| Suhu | 0°C (273 K) | ~5.98 gram | Volume gas menyusut karena suhu lebih rendah, sehingga butuh reaktan lebih banyak untuk mencapai 3 L. |
| Suhu | 100°C (373 K) | ~4.38 gram | Gas memuai, volume 3 L mengandung lebih sedikit mol, sehingga butuh reaktan lebih sedikit. |
| Tekanan | 0.9 atm | ~5.38 gram | Tekanan lebih rendah, gas lebih renggang, butuh lebih sedikit mol untuk volume sama? Tidak. Tekanan rendah justru berarti lebih sedikit molekul, sehingga butuh reaktan lebih banyak untuk menghasilkan jumlah molekul (mol) yang sama pada tekanan tersebut. |
| Volume CO₂ | 1.5 L | ~2.69 gram | Volume setengah, massa reaktan juga setengah (hubungan linear). |
Strategi Verifikasi Hasil Perhitungan
Verifikasi tidak hanya memeriksa apakah kalkulator ditekan dengan benar. Strategi pertama adalah analisis dimensional. Tulis semua satuan dalam setiap langkah dan pastikan mereka saling meniadakan. Misalnya, dalam perhitungan mol CO₂ dengan R=0.0821: (atm
– L) / ( (L·atm/(mol·K))
– K ) = mol. Satuan L dan atm hilang, tersisa mol.
Strategi kedua adalah pengecekan orde besaran. Dengan volume 3 L pada suhu kamar, mol CO₂ akan sekitar 0.12 mol. Mol asam oksalat setengahnya, sekitar 0.06 mol. Massa molar ~90 g/mol, sehingga massa sekitar 5.4 gram. Jika hasil perhitungan Anda jauh dari kisaran 5-6 gram, ada kemungkinan kesalahan.
Strategi ketiga adalah melakukan perhitungan ulang dengan metode atau R yang berbeda sebagai pembanding.
Derivasi Persamaan Hukum Gas yang Disesuaikan
Untuk efisiensi dalam soal seperti ini, kita dapat menyusun ulang dan menggabungkan persamaan. Tujuan akhir adalah massa H₂C₂O₄ (m). Kita tahu m = n(H₂C₂O₄) × M. Dari stoikiometri, n(H₂C₂O₄) = ½ n(CO₂). Dari Hukum Gas Ideal, n(CO₂) = (PV)/(RT).
Dengan menggabungkan, kita mendapatkan rumus terpadu.
m = (1/2) × (P × V) / (R × T) × M
Persamaan ini memungkinkan kita memasukkan semua data sekaligus. Pilih R yang sesuai dengan satuan P dan V. Jika menggunakan R = 0.0821 L·atm/(mol·K) dengan P dalam atm, V dalam L, T dalam K, dan M dalam g/mol, maka perhitungan menjadi satu langkah yang ringkas dan meminimalkan kesalahan pembulatan antar langkah.
Eksplorasi Konteks Praktis dan Aplikasi dari Reaksi Pembentukan CO₂ Ini: Hitung Gram Asam Oksalat Yang Menghasilkan 3 L CO₂ Pada 27°C
Reaksi dekomposisi asam oksalat bukan sekadar latihan soal di buku teks. Dalam sintesis kimia laboratorium, reaksi ini dapat berfungsi sebagai sumber gas CO₂ yang relatif murni dan dapat dikendalikan untuk berbagai keperluan. Misalnya, dalam sintesis senyawa karbonat atau untuk menciptakan atmosfer inert yang sedikit asam. Asam oksalat sendiri adalah agen pereduksi yang berguna dalam analisis titrimetri, seperti dalam penentuan konsentrasi permanganat.
Material alternatif penghasil CO₂ yang lebih umum dalam skala laboratorium atau industri adalah reaksi antara asam mineral (seperti HCl) dengan karbonat atau bikarbonat (misalnya kalsium karbonat atau natrium bikarbonat). Reaksi ini lebih cepat dan menghasilkan volume gas besar, tetapi gas CO₂ yang dihasilkan mungkin membawa uap air atau asam, sehingga perlu pemurnian lebih lanjut jika dibutuhkan kemurnian tinggi.
Prinsip perhitungan stoikiometri-gas ini juga menjadi dasar dalam kalibrasi alat. Sebagai contoh, untuk mengkalibrasi alat pengukur laju alir gas (flowmeter), kita dapat menghasilkan sejumlah tertentu mol gas dari reaksi dengan massa reaktan yang diketahui persis, lalu mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mengalir, sehingga dapat diketahui laju alir volumetrik yang sebenarnya. Dalam produksi skala kecil, seperti dalam pembuatan minuman berkarbonasi rumahan atau dalam akuarium untuk menyuplai CO₂ bagi tanaman air, penghitungan stoikiometri membantu merancang sistem yang menghasilkan gas dengan laju yang diinginkan.
Langkah-langkah Keselamatan dalam Penanganan Bahan
Asam oksalat padat dan larutannya memerlukan kewaspadaan tinggi. Selalu gunakan alat pelindung diri lengkap: jas lab, kacamata pengaman, dan sarung tangan nitril atau karet. Hindari pembentukan debu saat menimbang padatannya; lakukan di dalam lemari asam jika memungkinkan. Penyimpanan harus di wadah tertutup rapat, jauh dari bahan pengoksidasi dan basa. Untuk gas CO₂ yang dihasilkan, bahaya utamanya adalah displasemen oksigen di ruang tertutup.
Eksperimen harus dilakukan di ruang berventilasi baik. Jangan pernah membungkukkan kepala di atas wadah pengumpul gas CO₂. Pembuangan sisa asam oksalat harus sesuai protokol limbah kimia organik, tidak boleh langsung dibuang ke saluran air.
Penerapan Prinsip dalam Bidang Lain, Hitung gram asam oksalat yang menghasilkan 3 L CO₂ pada 27°C
Logika perhitungan “massa reaktan → volume gas pada kondisi tertentu” ini bersifat universal. Dalam ilmu pangan, prinsip serupa digunakan untuk menghitung jumlah bahan pengembang (seperti baking soda) yang dibutuhkan untuk menghasilkan volume adonan tertentu berdasarkan tekanan gas CO₂ di dalam oven. Dalam geologi, para ilmuwan menggunakan hukum gas ideal untuk menghitung volume gas vulkanik (seperti CO₂ dan SO₂) yang dilepaskan dari massa batuan cair tertentu, membantu dalam pemantauan aktivitas gunung berapi.
Dalam teknologi penyimpanan produk, seperti dalam penyimpanan buah dan sayur dengan atmosfer termodifikasi (Modified Atmosphere Packaging/MAP), perhitungan yang cermat terhadap jumlah gas penangkal (seperti CO₂) yang dibutuhkan untuk mencapai komposisi atmosfer tertentu dalam sebuah kemasan sangat penting untuk memperpanjang masa simpan. Intinya, setiap kali ada konversi antara massa zat padat atau cair dengan volume gas yang dihasilkan atau dikonsumsi, kerangka pikir stoikiometri dan hukum gas yang kita bahas ini menjadi fondasinya.
Akhir Kata
Jadi, setelah melalui penelusuran stoikiometri dan permainan angka dengan hukum gas ideal, kita akhirnya sampai pada sebuah angka gram yang spesifik. Perhitungan ini lebih dari sekadar jawaban akhir; ia adalah bukti bahwa fenomena kimia di dunia nyata dapat dipetakan dengan presisi menggunakan prinsip-prinsip fundamental. Nilai yang didapat bukanlah angka mati, melainkan sebuah snapshot yang bergantung pada kondisi suhu dan tekanan saat pengukuran.
Pelajaran dari menghitung gram asam oksalat ini mengajarkan kita untuk selalu memeriksa satuan, mengonversi suhu ke Kelvin, dan memverifikasi orde besaran jawaban. Penerapannya pun luas, mulai dari kalibrasi alat di lab hingga memahami proses alami. Intinya, di balik setiap liter gas yang dihasilkan, ada cerita massa reaktan yang terukur dan logika kimia yang elegan, mengingatkan kita bahwa sains seringkali dimulai dari pertanyaan sederhana yang membutuhkan ketelitian untuk dijawab.
Detail FAQ
Apakah asam oksalat berbahaya ditangani langsung untuk percobaan ini?
Ya, asam oksalat padat dan larutannya bersifat korosif dan beracun jika tertelan atau terhirup. Penanganannya wajib menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan kacamata lab, serta dilakukan dalam lemari asam atau area berventilasi baik.
Mengapa suhu harus dikonversi ke Kelvin dalam perhitungan hukum gas ideal?
Skala Kelvin dimulai dari nol absolut, di mana energi kinetik molekul gas nol. Ini membuat hubungan antara suhu dan volume/propori gas menjadi linier dan proporsional dalam persamaan PV=nRT, tidak seperti skala Celcius.
Bisakah gas CO₂ yang dihasilkan dalam reaksi ini langsung digunakan untuk menyiram tanaman atau minuman bersoda?
Sangat tidak disarankan. Gas CO₂ hasil dekomposisi termal asam oksalat kemungkinan tercampur dengan produk samping beracun seperti karbon monoksida (CO) dan uap air. Gas untuk aplikasi makanan atau tanaman harus memiliki tingkat kemurnian sangat tinggi dan bebas kontaminan.
Bagaimana jika tekanan udara di lab tidak tepat 1 atm saat pengukuran?
Volume gas sangat dipengaruhi tekanan. Jika tekanan berbeda dari asumsi standar (1 atm), maka hukum gas ideal (PV=nRT) harus menggunakan nilai tekanan aktual yang diukur dengan barometer untuk mendapatkan hasil massa asam oksalat yang akurat.
Apakah ada bahan selain asam oksalat yang lebih umum digunakan untuk menghasilkan CO₂ di lab?
Ya, reaksi antara asam klorida (HCl) dengan kalsium karbonat (batu kapur atau marmer) adalah metode yang lebih umum dan aman untuk menghasilkan CO₂ dalam skala laboratorium pendidikan.