Hitung Volume Obat Pasien 60 kg Dosis 2 mg/kg Tekanan Osmotik 4 atm

Hitung volume obat untuk pasien 60 kg, dosis 2 mg/kg, tekanan osmotik 4 atm – Hitung volume obat untuk pasien 60 kg, dosis 2 mg/kg, tekanan osmotik 4 atm bukan sekadar angka biasa, melainkan sebuah narasi presisi di jantung praktik farmasi klinis yang memadukan ilmu pasti dengan seni perawatan. Di balik perhitungan yang tampak teknis ini, tersimpan prinsip fundamental untuk memastikan keamanan, kenyamanan, dan efektivitas terapi bagi setiap individu pasien. Proses ini menuntut ketelitian tinggi, mulai dari menentukan jumlah zat aktif berdasarkan berat badan hingga memformulasikan sediaan cair yang sesuai dengan fisiologi tubuh.

Perhitungan ini mengintegrasikan dua aspek krusial: farmakokinetik dan farmasetika. Aspek pertama menjawab berapa banyak obat yang dibutuhkan tubuh untuk bekerja optimal, sementara aspek kedua memastikan bagaimana obat tersebut disiapkan secara fisik agar aman saat masuk ke aliran darah. Tekanan osmotik sebesar 4 atm, yang mendekati kondisi isotonik dengan cairan tubuh, menjadi salah satu penjaga gerbang utama untuk mencegah kerusakan sel dan meminimalkan rasa nyeri saat pemberian.

Dasar-Dasar Perhitungan Dosis Obat: Hitung Volume Obat Untuk Pasien 60 kg, Dosis 2 mg/kg, Tekanan Osmotik 4 atm

Dalam dunia medis, ketepatan adalah segalanya, terutama ketika menghitung dosis obat. Kesalahan kecil dalam perhitungan dapat berakibat fatal, mulai dari efek terapi yang tidak tercapai hingga munculnya efek samping yang serius. Prinsip dasar yang paling umum digunakan, khususnya untuk banyak obat dengan indeks terapi sempit, adalah perhitungan berdasarkan berat badan pasien. Metode ini memastikan bahwa jumlah obat yang diberikan proporsional dengan ukuran tubuh individu, sehingga konsentrasi obat di dalam darah mencapai tingkat yang efektif dan aman.

Perhitungan berdasarkan berat badan sering kali menjadi pilihan utama karena kesederhanaannya dan relevansinya yang tinggi terhadap farmakokinetik obat. Selain metode ini, terdapat pendekatan lain yang digunakan dalam situasi tertentu, seperti perhitungan berdasarkan luas permukaan tubuh (BSA) yang dianggap lebih akurat untuk obat kemoterapi, atau berdasarkan usia, khususnya pada populasi pediatrik dan geriatrik.

Perbandingan Metode Perhitungan Dosis

Pemilihan metode perhitungan dosis tidaklah sembarangan. Masing-masing metode memiliki landasan ilmiah dan aplikasi klinis yang spesifik. Tabel berikut menguraikan perbandingan tiga metode utama.

Metode Perhitungan Basis Perhitungan Aplikasi Klinis Utama Kelemahan
Berat Badan Massa tubuh pasien (kg) Obat dengan indeks terapi sempit, antibiotik, anestesi, pasien dengan obesitas atau malnutrisi. Mungkin kurang akurat untuk obat yang distribusinya lebih dipengaruhi komposisi tubuh.
Luas Permukaan Tubuh (BSA) Luas permukaan tubuh (m²), dihitung dari berat dan tinggi badan. Obat kemoterapi, terapi target onkologi, dosis tinggi untuk transplantasi. Perhitungan lebih kompleks, memerlukan data tinggi dan berat badan yang akurat.
Usia Rentang usia (misal: neonatus, bayi, anak, dewasa, lansia). Populasi pediatrik dan geriatrik dimana fungsi ginjal/hepar berbeda signifikan, untuk obat dengan dosis tetap. Sangat umum, tidak mempertimbangkan variasi individu dalam berat atau fungsi organ.

Langkah Perhitungan Dosis Berdasarkan Berat Badan

Mari kita ambil contoh kasus yang diberikan: pasien dengan berat badan 60 kg memerlukan obat dengan dosis 2 mg/kg. Perhitungannya bersifat linier dan langsung. Pertama, tentukan dosis total dalam miligram (mg) dengan mengalikan dosis per kilogram dengan berat badan pasien. Hasilnya adalah 2 mg/kg x 60 kg = 120 mg. Ini adalah jumlah total obat yang dibutuhkan oleh pasien tersebut.

Namun, angka 120 mg ini baru menjawab separuh pertanyaan. Di lapangan, obat sering tersedia dalam bentuk sediaan cair dengan konsentrasi tertentu. Misalkan obat tersebut tersedia dalam vial dengan konsentrasi 10 mg/mL. Untuk mengetahui berapa volume yang harus diambil dari vial, kita melakukan konversi sederhana: Volume (mL) = Dosis Total (mg) / Konsentrasi (mg/mL). Dengan demikian, volume yang diambil adalah 120 mg / 10 mg/mL = 12 mL.

Proses konversi ini adalah jembatan krusial antara perhitungan teoritis dan eksekusi praktis di ruang farmasi atau tempat tidur pasien.

Konsep Tekanan Osmotik dalam Sediaan Farmasi

Selain menghitung jumlah zat aktif yang tepat, aspek fisika-kimia dari sediaan obat juga tak kalah pentingnya, terutama untuk obat yang diberikan secara parenteral (melalui suntikan atau infus). Salah satu aspek kunci adalah tekanan osmotik. Secara sederhana, tekanan osmotik adalah tekanan yang dibutuhkan untuk menghentikan aliran pelarut murni (seperti air) melalui membran semipermeabel ke dalam larutan yang lebih pekat. Dalam konteks tubuh manusia, membran sel kita bersifat semipermeabel.

BACA JUGA  Hitung Kapasitas Tangki Bensin Mobil Ali Berdasarkan Perbandingan dengan Budi

Relevansi tekanan osmotik dalam formulasi obat sangat besar. Larutan obat yang akan disuntikkan atau diinfuskan harus memiliki tekanan osmotik yang sedekat mungkin dengan cairan tubuh, yaitu sekitar 280-300 mOsmol/kg, yang setara dengan tekanan sekitar 7.4 atm pada suhu tubuh, namun nilai 4 atm yang disebutkan mungkin mengacu pada tekanan osmotik relatif atau dalam konteks pengukuran tertentu. Prinsip ini disebut isotonisitas.

Larutan yang isotonik akan meminimalkan perpindahan air masuk atau keluar dari sel darah merah dan jaringan di sekitarnya, sehingga mencegah kerusakan sel dan rasa nyeri pada saat pemberian.

Faktor Penentu Tekanan Osmotik, Hitung volume obat untuk pasien 60 kg, dosis 2 mg/kg, tekanan osmotik 4 atm

Tekanan osmotik suatu larutan obat tidak muncul begitu saja. Nilainya ditentukan oleh beberapa faktor fundamental. Konsentrasi total partikel zat terlarut dalam larutan adalah penentu utama; semakin banyak partikel, semakin tinggi tekanan osmotiknya. Sifat partikel itu sendiri juga berperan, di mana larutan elektrolit seperti natrium klorida (NaCl) akan memberikan kontribusi osmotik yang lebih besar per gramnya dibandingkan non-elektrolit seperti glukosa, karena kemampuan elektrolit untuk terdisosiasi menjadi ion-ion.

Suhu larutan juga mempengaruhi, dimana tekanan osmotik meningkat seiring dengan kenaikan suhu.

Perhitungan volume obat untuk pasien 60 kg dengan dosis 2 mg/kg dan tekanan osmotik 4 atm memerlukan presisi farmasi, mirip dengan ketelitian dalam menentukan pH air murni pada 0 °C (Kw = 1,2×10⁻¹⁵) yang mengungkap sifat unik air pada suhu rendah. Kembali ke konteks klinis, akurasi perhitungan dosis dan konsentrasi larutan ini sangat krusial untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi bagi pasien.

Pentingnya Larutan Isotonik

Mencapai tonisitas yang tepat bukan sekadar masalah teori, melainkan langsung berkaitan dengan keamanan dan kenyamanan pasien. Berikut adalah poin-poin kritisnya:

  • Mencegah hemolisis: Larutan hipotonik (tekanan osmotik lebih rendah dari cairan tubuh) akan menyebabkan air masuk ke dalam sel darah merah, mengakibatkan sel membengkak dan pecah (hemolisis).
  • Mencegah krenasi: Larutan hipertonik (tekanan osmotik lebih tinggi) akan menarik air keluar dari sel, menyebabkan sel mengerut dan rusak.
  • Mengurangi iritasi dan nyeri: Pemberian larutan yang tidak isotonik, terutama secara intravena atau intramuskular, dapat menyebabkan rasa perih, panas, atau kerusakan jaringan di tempat suntikan.
  • Memastikan stabilitas obat: Kondisi osmotik yang sesuai dapat membantu menjaga stabilitas kimia dan fisik dari zat aktif dalam formulasi.

Tonisitas dan Nilai 4 ATM

Konsep ‘tonisitas’ mengacu pada sifat relatif suatu larutan terhadap cairan tubuh. Larutan dikatakan isotonik jika tekanan osmotiknya sama dengan cairan tubuh, hipotonik jika lebih rendah, dan hipertonik jika lebih tinggi. Nilai tekanan osmotik 4 atm yang disebutkan dalam kasus perlu dilihat konteksnya. Pada suhu ruang (25°C), larutan NaCl 0.9% (larutan fisiologis yang isotonik dengan darah) memiliki tekanan osmotik sekitar 7.4 atm.

Nilai 4 atm mungkin mengindikasikan bahwa sediaan obat tersebut, pada konsentrasi kerja tertentu, memiliki tekanan osmotik yang lebih rendah (hipotonik) dan mungkin memerlukan penyesuaian dengan penambahan agen pengisotonis seperti NaCl atau dekstrosa untuk mendekati nilai isotonik sebelum pemberian.

Integrasi Data Klinis untuk Perhitungan Akurat

Dalam praktik nyata, perhitungan dosis dan volume obat tidak berhenti pada angka berat badan dan konsentrasi. Parameter lain seperti karakteristik fisika sediaan, khususnya tekanan osmotik, harus diintegrasikan ke dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini menciptakan suatu alur kerja terstruktur yang memastikan keamanan pasien dari segi dosis farmakologis maupun toleransi fisik terhadap sediaan yang diberikan.

Prosedur ini dimulai dari data klinis pasien dan parameter obat, kemudian melalui serangkaian langkah kalkulasi dan pertimbangan, dan diakhiri dengan instruksi penyiapan yang jelas. Pendekatan sistematis ini meminimalkan risiko kesalahan dan memastikan bahwa obat yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan individual pasien.

Variabel dalam Perhitungan Volume Obat

Hitung volume obat untuk pasien 60 kg, dosis 2 mg/kg, tekanan osmotik 4 atm

Source: slidesharecdn.com

Untuk merancang perhitungan yang komprehensif, penting untuk mengidentifikasi semua variabel input dan output yang terlibat. Variabel input adalah data yang harus diketahui sebelum memulai, sedangkan output adalah hasil yang perlu dicari.

Variabel Input Contoh Nilai Variabel Output Rumus/Keterangan
Berat Badan Pasien (kg) 60 kg Dosis Total (mg) Berat Badan x Dosis per kg
Dosis per kg Berat Badan (mg/kg) 2 mg/kg Volume Teoritis (mL) Dosis Total / Konsentrasi Stok
Konsentrasi Stok Obat (mg/mL) 10 mg/mL Tonisitas Larutan Akhir Dievaluasi berdasarkan nilai tekanan osmotik
Tekanan Osmotik Target/Tersedia 4 atm (atau isotonik ~7.4 atm) Volume Penyesuaian/ Pelarut Tambahan Jika diperlukan untuk mencapai tonisitas yang diinginkan

Studi Kasus Perhitungan Lengkap

Mari kita terapkan kerangka kerja ini pada studi kasus: “Hitung volume obat untuk pasien 60 kg, dosis 2 mg/kg, tekanan osmotik 4 atm”, dengan asumsi konsentrasi stok obat adalah 10 mg/mL.

BACA JUGA  Jumlah Bayangan Benda pada Cermin Datar Bersudut 90 Derajat

Pertama, hitung dosis total: 60 kg x 2 mg/kg = 120 mg. Kedua, hitung volume teoritis dari stok obat: 120 mg / 10 mg/mL = 12 mL. Sekarang, kita memasuki tahap integrasi data fisika. Informasi “tekanan osmotik 4 atm” pada sediaan stok ini menjadi alarm. Seperti dibahas sebelumnya, nilai ini mengindikasikan larutan yang hipotonik dibandingkan cairan tubuh.

Perhitungan volume obat untuk pasien 60 kg dengan dosis 2 mg/kg dan tekanan osmotik 4 atm memerlukan ketelitian dalam konversi satuan dan penerapan prinsip farmasi. Logika perhitungan yang sistematis ini juga relevan dalam bidang lain, seperti saat Hitung Gaya Listrik untuk Muatan Total 9 µC, Jarak 3 m, q1=2q2 yang mengandalkan rumus dan pemahaman konsep dasar. Kembali ke dunia medis, ketepatan hasil akhir perhitungan volume obat sangat krusial untuk menjamin keamanan dan efektivitas terapi bagi pasien.

Memberikan 12 mL larutan hipotonik secara intravena, terutama jika volume besar, berisiko menyebabkan hemolisis.

Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian. Dalam praktik farmasi rumah sakit, 12 mL obat ini tidak akan disuntikkan langsung. Ia harus dilarutkan atau diencerkan lebih lanjut ke dalam suatu volume pelarut yang isotonik (seperti NaCl 0.9% atau Dekstrosa 5%), sehingga larutan akhir yang akan diinfuskan mencapai tonisitas yang aman. Keputusan volume pengenceran tergantung pada protokol, stabilitas obat, dan rute pemberian. Sebagai contoh, 12 mL obat tersebut mungkin dimasukkan ke dalam infus bag berisi 100 mL NaCl 0.9%, sehingga total volume menjadi 112 mL dengan tonisitas yang telah disesuaikan.

Formulasi dan Persiapan Sediaan Cair

Proses transformasi dari zat aktif murni menjadi sediaan obat yang aman dan efektif untuk disuntikkan adalah seni dan ilmu dari farmasi formulasi. Dalam konteks sediaan cair injeksi, selain zat aktif, terdapat komponen-komponen pendukung yang sangat mempengaruhi sifat akhir produk, termasuk tekanan osmotiknya. Pemahaman tentang komponen ini memungkinkan apoteker atau tenaga preparasi untuk melakukan penyesuaian jika diperlukan.

Komponen utama tersebut meliputi zat aktif itu sendiri, pelarut (biasanya air untuk injeksi), agen pengisotonis (seperti NaCl, dekstrosa), buffer untuk mengatur pH, serta bahan tambahan seperti pengawet atau antioksidan. Agen pengisotonislah yang secara khusus ditambahkan untuk menaikkan tekanan osmotik larutan mendekati nilai isotonik, jika zat aktif saja tidak mencukupi.

Penyesuaian Tonisitas Larutan

Misalkan kita memiliki larutan zat aktif dengan tekanan osmotik terukur 4 atm, dan kita ingin membuatnya isotonik sebelum pemberian intravena. Salah satu metode praktis adalah dengan mengencerkannya ke dalam larutan yang sudah isotonik. Cara lain adalah dengan menghitung dan menambahkan langsung agen pengisotonis seperti Natrium Klorida (NaCl).

Sebagai ilustrasi, jika 12 mL larutan obat (4 atm) akan diinfuskan, metode paling umum dan aman adalah menambahkan volume tersebut ke dalam sejumlah volume cairan infus isotonik (NaCl 0.9% atau Dekstrosa 5%). Pengenceran ini secara otomatis akan meningkatkan tonisitas campuran akhir mendekati nilai isotonik. Perhitungan yang lebih teliti dapat menggunakan metode ekivalensi NaCl, di mana setiap zat aktif memiliki nilai ekivalen (E-value) yang menunjukkan jumlah NaCl yang setara secara osmotik.

Penambahan NaCl murni langsung ke vial obat jarang dilakukan di tingkat peracikan individu karena memerlukan perhitungan dan penimbangan yang sangat presisi.

Poin-Poin Kritis Pemeriksaan Sebelum Pemberian Obat:
1. Verifikasi identitas pasien dan obat (nama, dosis, rute, waktu).
2. Konfirmasi kebenaran hasil perhitungan dosis dan volume yang diambil.
3.

Periksa integritas fisik sediaan (tidak ada partikel, perubahan warna, kebocoran).
4. Pastikan kompatibilitas jika obat dicampur dengan cairan infus atau obat lain.
5. Verifikasi kecepatan infus atau teknik penyuntikan yang tepat.

6. Periksa label pada syringe atau infus bag yang telah disiapkan.

Langkah Visual Persiapan di Ruang Farmasi

Bayangkan seorang apoteker di ruang preparasi steril. Pertama, ia mengambil lembar permintaan dan memverifikasi semua data. Kedua, ia melakukan perhitungan ganda untuk dosis dan volume. Ketiga, ia menyiapkan vial obat, syringe, jarum, dan media pengencer (jika ada) di dalam area kerja laminar airflow cabinet. Keempat, dengan teknik aseptik, ia menarik volume obat yang tepat dari vial ke dalam syringe.

Kelima, jika perlu pengenceran, ia menyuntikkan isi syringe ke dalam bag infus yang berisi pelarut isotonik, lalu mengocok campuran dengan lembut. Seluruh proses dilakukan dengan dokumentasi yang teliti, mencakup nomor batch, waktu penyiapan, dan inisial apoteker yang bertanggung jawab.

Perhitungan volume obat untuk pasien 60 kg dengan dosis 2 mg/kg dan tekanan osmotik 4 atm memerlukan ketelitian, layaknya ketepatan dalam menyelesaikan persoalan distribusi yang kompleks. Prinsip keadilan dan proporsionalitas dalam sains ini juga tercermin dalam kasus Pembagian warisan 9 Miliar: istri, ibu, 2 putri, 1 putra , di mana setiap pihak mendapat bagian sesuai porsinya. Kembali ke konteks farmasi, hasil perhitungan dosis dan volume akhir obat harus presisi, memastikan terapi yang efektif dan aman bagi pasien.

BACA JUGA  Banyaknya Cara Mengisi Bendahara dan Sekretaris dari 4 Guru

Aplikasi dan Pertimbangan Klinis

Integrasi antara perhitungan dosis berbasis berat badan dan pertimbangan tekanan osmotik bukanlah hal yang akademis semata. Penerapannya sangat krusial dalam berbagai skenario klinis yang kompleks, dimana margin of safety pasien sangat tipis. Pada pasien-pasien ini, kesalahan kecil dapat dengan cepat berubah menjadi komplikasi besar.

Skenario tersebut termasuk pada pasien pediatrik, terutama neonatus, dimana sistem regulasi cairan dan elektrolit masih sangat rentan. Pasien dengan gangguan ginjal atau jantung yang parah, yang kemampuan menangani kelebihan cairan atau pergeseran osmotiknya terganggu. Selain itu, pemberian obat-obat dengan sifat vesikan (dapat merusak jaringan) atau yang harus diberikan dalam volume besar juga memerlukan perhatian ekstra terhadap tonisitas untuk mencegah kerusakan vena dan jaringan.

Implikasi Tonisitas terhadap Jaringan Tubuh

Pemahaman tentang apa yang terjadi pada tingkat seluler ketika larutan dengan tonisitas berbeda bersentuhan dengan tubuh adalah kunci untuk menghargai pentingnya formulasi yang tepat.

Larutan hipotonik, dengan tekanan osmotik lebih rendah dari cairan sel (misal, < 280 mOsmol/kg), menyebabkan air bergerak masuk ke dalam sel. Pada sel darah merah, hal ini menyebabkan pembengkakan dan akhirnya pecah (hemolisis), yang dapat membebani sistem retikuloendothelial dan berpotensi menyebabkan ikterus atau gagal ginjal akut jika masif. Pada sel endotel vena, dapat menyebabkan iritasi dan nyeri.

Larutan isotonik, seperti NaCl 0.9%, menjaga keseimbangan air masuk dan keluar sel. Ini adalah kondisi ideal untuk kebanyakan pemberian intravena karena meminimalkan trauma pada sel darah dan dinding pembuluh darah, sehingga nyaman dan aman.

Larutan hipertonik, dengan tekanan osmotik lebih tinggi (misal, > 300 mOsmol/kg), menarik air keluar dari sel. Sel darah merah akan mengerut (krenasi). Pemberian larutan hipertonik secara perifer dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat, flebitis kimia, dan bahkan nekrosis jaringan jika terjadi ekstravasasi. Larutan seperti ini sering memerlukan pemberian melalui central venous catheter yang memiliki aliran darah tinggi untuk segera mengencerkannya.

Parameter Personalisasi Dosis Lainnya

Meskipun berat badan dan tonisitas sangat penting, personalisasi dosis yang optimal mempertimbangkan gambaran yang lebih luas tentang kondisi pasien. Parameter lain yang sering dievaluasi meliputi:

  • Fungsi organ: Fungsi ginjal (dengan estimasi laju filtrasi glomerulus/eGFR) dan fungsi hati (dengan enzim hati dan albumin) secara langsung mempengaruhi klirens dan metabolisme obat.
  • Kondisi klinis spesifik: Adanya sepsis, luka bakar luas, edema, atau ascites dapat mengubah volume distribusi obat secara dramatis.
  • Interaksi obat: Adanya obat lain yang dikonsumsi secara bersamaan dapat mempengaruhi metabolisme atau ekskresi obat utama.
  • Faktor genetik: Farmakogenomik mulai berperan, misalnya dalam menentukan dosis obat seperti warfarin atau beberapa agen kemoterapi berdasarkan profil genetik pasien.

Pencantuman dalam Literatur Farmakologi

Informasi mengenai dosis dan sifat fisika sediaan biasanya tercantum secara rinci dalam sumber resmi seperti monografi pada Farmakope, leaflet produk (Package Insert), atau buku acuan seperti Martindale. Dalam dokumen-dokumen ini, dosis biasanya dinyatakan dalam rentang “mg/kg berat badan” atau “mg/m² luas permukaan tubuh” untuk obat yang memerlukan individualisasi. Sementara itu, informasi mengenai tonisitas mungkin tidak selalu dinyatakan secara eksplisit sebagai “tekanan osmotik 4 atm”, tetapi lebih sering dijelaskan sebagai “larutan isotonik” atau “larutan hipotonik yang memerlukan pengenceran dalam larutan natrium klorida 0.9% sebelum pemberian”.

Petunjuk reconstitution dan compatibility juga diberikan untuk memandu tenaga kesehatan dalam menyiapkan sediaan yang aman.

Ringkasan Penutup

Dengan demikian, menguasai perhitungan seperti untuk pasien 60 kg dengan dosis 2 mg/kg dan tekanan 4 atm adalah fondasi dari terapi yang bertanggung jawab. Ini lebih dari sekadar menjumlah dan mengalikan; ini adalah bentuk konkret dari prinsip “first, do no harm” dalam dunia medis. Presisi dalam setiap langkah, dari kalkulasi di atas kertas hingga formulasi di ruang farmasi, secara langsung berkontribusi pada kesuksesan terapi dan pengalaman pasien yang lebih baik.

Pada akhirnya, setiap mililiter yang dihitung dengan cermat merepresentasikan komitmen untuk memberikan pengobatan yang tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga manusiawi.

Detail FAQ

Apakah tekanan osmotik 4 atm selalu ideal untuk semua jenis injeksi?

Tidak selalu. Nilai 4 atm mendekati tekanan osmotik darah (isotonik) dan ideal untuk injeksi intravena atau intramuskular untuk menghindari kerusakan sel. Namun, untuk rute pemberian lain (misalnya subkutan) atau obat tertentu, rentang yang dapat diterima mungkin sedikit berbeda.

Bagaimana jika konsentrasi stok obat tidak diketahui dalam soal?

Perhitungan volume tidak dapat dilakukan tanpa mengetahui konsentrasi stok obat (misal, 10 mg/mL). Informasi ini harus selalu tersedia dalam kemasan obat atau literatur resmi. Tanpa itu, kita hanya bisa menghitung dosis total dalam miligram, bukan volume dalam mililiter yang akan disuntikkan.

Apakah perhitungan ini sama untuk pasien anak-anak dan lansia?

Prinsip dasarnya sama, tetapi memerlukan pertimbangan ekstra. Untuk anak-anak, perhitungan berdasarkan luas permukaan tubuh terkadang lebih akurat. Pada lansia, fungsi ginjal dan hati yang menurun sering kali membutuhkan penyesuaian dosis meskipun berat badannya sama, karena mempengaruhi eliminasi obat dari tubuh.

Bagaimana cara menyesuaikan tekanan osmotik jika sediaan obat tidak isotonik?

Tekanan osmotik dapat disesuaikan dengan menambahkan pelarut (seperti air untuk injeksi) untuk mengencerkan larutan hipertonik, atau menambahkan agen pengisotonis (seperti NaCl atau dekstrosa) ke dalam larutan hipotonik. Penyesuaian ini harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat dan mengikuti prosedur steril.

Leave a Comment