Hubungan Belanda Inggris Spanyol Portugis dalam Persaingan Pelayaran ke Nusantara

Hubungan Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis dalam Persaingan Pelayaran ke Nusantara bagai angin barat yang mengguncang pala dan cengkih di tanah Maluku. Laut yang dahulu adalah jalur persaudaraan para pedagang dari jauh, berubah menjadi gelanggang perseteruan bangsa-bangsa asing yang harem akan keharuman rempah. Di bawah langit tropis yang sama, kapal-kapal besi mereka saling sikut, meriam mereka menggema, sementara para sultan dan raja lokal menyaksikan dengan mata yang tajam, mencari celah di antara badai persaingan ini.

Persaingan sengit pada abad ke-16 dan 17 itu bukan sekadar perebutan komoditas, melainkan pergulatan teknologi, ambisi geopolitik, dan strategi dagang yang akan mengubah wajah Nusantara selamanya. Portugis dan Spanyol yang lebih dahulu datang dengan semangat “gold, glory, and gospel”, kemudian mendapat tantangan dari Belanda dan Inggris yang membawa model perusahaan dagang yang lebih terorganisir dan agresif. Perairan kita menjadi saksi bisu dari pertarungan yang menentukan alur sejarah perdagangan global.

Latar Belakang Persaingan Pelayaran ke Nusantara Abad ke-16 & 17

Di suatu masa ketika peta dunia masih dipenuhi oleh bayangan dan teka-teki, Nusantara muncul bagai mimpi di ujung timur. Aromanya, cengkeh dan pala yang harum, telah sampai ke Eropa melalui jalur darat yang panjang dan mahal, mengubah kepulauan ini menjadi legenda yang harus ditemukan. Impian akan kekayaan dan kejayaan inilah yang menarik empat bangsa maritim Eropa—Portugis, Spanyol, Belanda, dan Inggris—untuk mengarungi lautan tak dikenal, memicu sebuah persaingan yang akan mengubah wajah dunia selamanya.

Mereka bukan hanya mencari rempah, tetapi juga mencari jalur, mencari dominasi, dan mencari takdir mereka di bawah matahari tropis.

Faktor Pendorong dan Keunggulan Teknologi

Hubungan Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis dalam Persaingan Pelayaran ke Nusantara

Source: slidesharecdn.com

Di balik layar, dorongan utama adalah ekonomi yang sederhana namun dahsyat: menguasai sumber untuk mengendalikan harga. Rempah-rempah Nusantara bukan sekadar bumbu, melainkan komoditas yang setara dengan emas, simbol status, dan bahkan obat. Kejatuhan Konstantinopel ke tangan Ottoman pada 1453 memutus rute darat tradisional, membuat Eropa kelaparan akan jalur baru. Semangat Reconquista di Semenanjung Iberia melahirkan keberanian dan fanatisme religius untuk menyebarkan Kristen, sementara di utara, semangat kebangsaan dan kapitalisme modern mulai bersemi, mendorong pembentukan perusahaan saham gabungan yang ambisius.

Masing-masing bangsa membawa keahliannya sendiri. Portugis, dengan caravel dan carrack-nya yang lincah, menguasai seni berlayar mengitari angin (volta do mar) dan membuat peta rute rahasia, portolan. Spanyol, belajar dari Portugis, mengandalkan kapal-kapal galleon yang besar dan kokoh untuk pelayaran samudera yang ekstrem. Belanda, dengan fluyt-nya yang efisien, murah, dan dengan awak yang minimalis, membawa revolusi logistik di laut. Inggris, meski agak terlambat, mengembangkan kapal yang lebih cepat dan meriam yang lebih gesit, memadukan perniagaan dengan kemampuan tempur yang tangguh.

Perbandingan Tujuan, Rute, dan Komoditas

Meski tujuan akhirnya sama—kekayaan Nusantara—motivasi dan jalur yang ditempuh keempat bangsa ini memiliki nuansa yang berbeda. Perbedaan ini tercermin dalam tabel berikut, yang menggambarkan awal mula petualangan mereka.

Bangsa Tujuan Awal Rute Pelayaran Andalan Komoditas yang Dicari
Portugis Menguasai sumber rempah & menyebarkan agama. Mengitari Afrika (Tanjung Harapan), lalu ke Goa, Malaka, dan Maluku. Cengkeh, pala, bunga pala, juga kayu cendana dan hasil bumi lainnya.
Spanyol Mencapai “Kepulauan Rempah” dari timur, sesuai Perjanjian Tordesillas. Melintasi Samudera Pasifik dari Meksiko (via Manila) ke Maluku. Cengkeh, serta perak dari Amerika untuk perdagangan di Asia.
Belanda Mematahkan monopoli Portugis & meraih keuntungan maksimal bagi pemegang saham. Rute Selatan via Tanjung Harapan, lalu langsung ke Selat Sunda atau Banten. Cengkeh, pala, lada, dan monopoli mutlak atas seluruh rantai perdagangan.
Inggris Mendapatkan bagian dalam perdagangan rempah & membuka pasar. Mencoba rute timur laut (gagal), lalu mengikuti rute Portugis/Belanda via Tanjung. Lada dari Sumatra dan Jawa, kemudian teh, kain, serta komoditas lain yang lebih beragam.
BACA JUGA  Hasil 5√3 dalam Bentuk Desimal Nilai dan Aplikasinya

Peta Jalur Pelayaran dan Titik Konflik

Bayangkan sebuah peta yang di atasnya terurai benang-benang takdir dari barat dan timur. Dari Lisboa, garis Portugis membelah pantai Afrika, berbelok di Tanjung Harapan, merayap ke timur melalui Mozambik, lalu menuju Goa di India sebagai markas, sebelum akhirnya menerjang ke Selat Malaka. Garis Spanyol datang dari arah yang berlawanan, melintasi Atlantik yang luas, menyusuri pantai Amerika Selatan, lalu membelah Pasifik dari Acapulco menuju Manila, dan dari sana menjulur ke selatan menuju Ternate dan Tidore.

Garis Belanda dan Inggris tumpang tindih dengan jalur Portugis di samudera selatan, tetapi mereka sering memilih untuk langsung menuju Banten atau Jayakarta sebagai titik pijak pertama, menghindari pusat-pusat Portugis yang sudah kuat.

Titik-titik persinggahan dan konflik pun bermekaran seperti kembang api. Selat Malaka adalah gerbang yang diperebutkan sengit. Kepulauan Banda adalah jantung pala yang berdarah-darah. Perairan Makassar menjadi ajang perang urat saraf antara VOC dan pedagang bebas. Laut Jawa dan Selat Sunda menjadi saksi bisu perjumpaan dan pertikaian armada-armada asing yang saling mengintai, sementara di timur, perairan Maluku menyaksikan perseteruan segitiga yang rumit antara Portugis, Spanyol, dan kesultanan-kesultanan lokal yang terpecah belah.

Konflik dan Aliansi Strategis di Perairan Nusantara: Hubungan Belanda, Inggris, Spanyol, Dan Portugis Dalam Persaingan Pelayaran Ke Nusantara

Laut Nusantara, yang dahulu adalah jalur perdamaian bagi para pedagang dari berbagai penjuru, berubah menjadi medan permainan catur yang kejam. Setiap teluk bisa menjadi tempat sekutu berbalik menjadi musuh, setiap perjanjian dagang menyimpan pisau di baliknya. Persaingan ini tidak hanya terjadi di meja perundingan, tetapi lebih sering diselesaikan dengan dentuman meriam di bawah gelombang biru yang tak memihak, di mana hukum yang berlaku adalah hukum siapa yang memiliki kapal dan keberanian lebih besar.

Bentuk Persaingan Langsung dan Aliansi Temporer

Persaingan dimulai dari hal yang paling dasar: memonopoli pasokan. Bangsa Eropa saling bersaing menawarkan harga yang lebih tinggi kepada produsen lokal, atau sebaliknya, memaksa penguasa untuk hanya menjual kepada mereka. Ketika diplomasi ekonomi gagal, ancaman dan blokade pelabuhan menjadi senjata berikutnya. Bentuk paling ekstrem adalah konflik bersenjata langsung, baik dalam bentuk penyergapan terhadap kapal dagang lawan di laut lepas maupun penyerangan terhadap benteng dan pos dagang milik pesaing.

Perang ini adalah perang ekonomi yang diperjuangkan dengan peluru dan darah.

Dalam atmosfer persaingan yang kacau, aliansi bersifat sangat cair dan pragmatis. Inggris dan Belanda, yang sama-sama Protestant dan awalnya bersekutu melawan Spanyol di Eropa, justru bertempur sengit di perairan Banda dan Jawa. Sebaliknya, Portugis Katolik dan penguasa Muslim di Ternate atau Aceh bisa bersekutu sesaat untuk menghadapi ancaman bersama dari Belanda. Contoh paling gamblang adalah konflik di Maluku, di mana Spanyol (berbasis di Manila) bersekutu dengan Kesultanan Tidore, sementara Belanda mendukung musuhnya, Ternate, untuk melawan Portugis yang juga berusaha bertahan di sana.

Permusuhan dan persekutuan berganti secepat musim, tergantung pada kepentingan dagang yang sedang dipertaruhkan.

Pertempuran Laut Penting di Nusantara

Beberapa pertempuran laut menjadi penanda penting dalam pergeseran kekuasaan di Nusantara. Pertempuran-pertempuran ini tidak hanya menentukan nasib suatu bangsa Eropa, tetapi juga masa depan kerajaan-kerajaan lokal yang terlibat.

  • Pertempuran di Perairan Banda (1601 & 1621): Serangkaian konfrontasi antara armada Belanda (VOC) melawan armada gabungan Inggris, Portugal, dan penduduk Banda. Puncaknya adalah pembantaian dan pengusiran besar-besaran oleh VOC pada 1621, yang menegaskan monopoli mutlak mereka atas pala.
  • Pertempuran Teluk Manila (1647): Armada Spanyol yang berbasis di Manila berhasil mengusir serangan besar Belanda yang ingin merebut Filipina, mengamankan posisi Spanyol di utara Nusantara dan memastikan perdagangan Galeon Manila-Meksiko tetap berjalan.
  • Pertempuran di Selat Malaka (1615, 1629): Konfrontasi berulang antara armada Portugis dari Malaka melawan armada Belanda dan sekutu lokalnya dari Kesultanan Aceh. Perlahan-lahan melemahkan cengkeraman Portugis di selat strategis tersebut.
  • Pengepungan dan Pertempuran di Laut Jawa (1684-1750an): Bukan satu pertempuran tunggal, melainkan rangkaian patroli, penyergapan, dan blokade oleh VOC terhadap kapal-kapal Inggris, Prancis, dan pedagang “bajak laut” Makassar yang berusaha menerobos monopoli mereka.

Strategi Pertahanan Portugis dan Spanyol

Sebagai pendatang awal, Portugis dan Spanyol menghadapi gelombang baru pesaing dengan strategi yang dibentuk oleh watak kolonial mereka. Portugis mengandalkan jaringan benteng ( feitorias) dari Afrika hingga Maluku—seperti Goa, Malaka, dan Ternate—sebagai titik-titik kunci untuk mengontrol jalur pelayaran. Mereka berusaha mempertahankan sistem monopoli kerajaan yang kaku, bergantung pada aliansi dengan penguasa lokal dan upaya kristenisasi untuk menjaga loyalitas. Namun, sistem ini menjadi kaku dan rentan ketika dihadapkan pada perusahaan yang lebih efisien seperti VOC.

Spanyol, yang fokusnya terbagi antara Amerika dan Asia, mengambil pendekatan berbeda dari Manila. Mereka lebih mengandalkan perdagangan sirkuler menggunakan perak dari Amerika sebagai modal utama, membeli rempah dari Maluku untuk diperdagangkan kembali ke Meksiko. Ketika Belanda dan Inggris menekan, strategi Spanyol lebih defensif: memperkuat pertahanan Manila dan armada Galeon, serta memainkan politik devide et impera di antara kesultanan-kesultanan Maluku untuk mencegah satu kekuatan Eropa lain mendominasi wilayah sumber rempah yang terlalu dekat dengan Filipina.

BACA JUGA  Cara Meminta Bantuan Keterampilan Sosial yang Penting

Mereka lebih memilih untuk menjaga wilayah pengaruhnya yang sudah mapan daripada berekspansi agresif seperti Belanda.

Dampak Persaingan terhadap Politik dan Ekonomi Kerajaan-Kerajaan Lokal

Gelombang persaingan Eropa yang menerjang Nusantara bukanlah sebuah tsunami yang menghancurkan segala sesuatu dengan seketika. Lebih mirip arus pasang yang kompleks, yang oleh penguasa-penguasa lokal yang cerdik justru dijadikan tenaga untuk menggerakkan perahu mereka sendiri. Kerajaan-kerajaan seperti Banten, Makassar, dan Ternate tidak sekadar menjadi objek pasif, tetapi menjadi aktor yang aktif memanfaatkan perseteruan antar bangsa asing untuk memperkuat posisi tawar, mendapatkan senjata, dan mengalahkan rival lokal mereka.

Namun, permainan api ini penuh risiko, dan seringkai keuntungan jangka pendek berubah menjadi penjajahan jangka panjang.

Pemanfaatan oleh Penguasa Lokal

Di Malaka, setelah jatuh ke Portugis pada 1511, keturunannya yang tersisa membangun Kesultanan Johor dan bersekutu dengan Belanda untuk merebut kembali kejayaan lama, sebuah mimpi yang akhirnya terwujud dengan bantuan VOC pada 1641. Di Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dengan cermat memainkan Belanda dan Inggris satu sama lain, mengizinkan mereka berdagang sambil saling bersaing, sehingga harga lada tetap tinggi dan kedaulatannya relatif terjaga—setidaknya hingga konflik internal dimanfaatkan VOC.

Makassar di bawah Sultan Hasanuddin menjadi simbol perlawanan terhadap monopoli, membuka pelabuhannya bagi semua pedagang (Portugis, Inggris, Denmark) yang ingin melemahkan VOC, menjadikannya pusat perdagangan bebas yang makmur sekaligus target utama kemarahan Belanda. Sementara di Ternate dan Tidore, persaingan abadi antara kedua kerajaan saudara ini diperuncing oleh dukungan yang saling bertentangan dari Portugis, Spanyol, dan kemudian Belanda, mengubah persaingan lokal menjadi proxy war antar kekuatan Eropa.

Perjanjian Eksklusif dan Konflik Antar Kerajaan

Perjanjian dagang eksklusif sering menjadi bumerang. Contoh klasik adalah Perjanjian Bongaya (1667) yang dipaksakan VOC kepada Kesultanan Gowa (Makassar) setelah kekalahan perang. Perjanjian ini melarang pedagang Makassar berdagang dengan bangsa lain selain Belanda dan memaksa mereka mengusir pedagang Portugis dan Melayu non-VOC. Hal ini secara langsung memicu kemarahan dan perlawanan dari sekutu-sekutu lama Makassar, seperti Kerajaan Wajo, yang melihat perjanjian itu sebagai pengkhianatan terhadap jaringan perdagangan bebas Nusantara dan kedaulatan bersama.

Konflik pun bergeser dari perang terbuka menjadi pergolakan internal di Sulawesi Selatan selama puluhan tahun.

Reaksi Penguasa Lokal terhadap Kedatangan Bangsa Eropa

Suara dari masa lalu memberikan gambaran yang jelas tentang kecurigaan dan strategi para penguasa lokal. Seorang duta Kesultanan Aceh, yang menghadap Ratu Elizabeth I dari Inggris pada akhir abad ke-16, dilaporkan menyampaikan pesan dari Sultan-nya dengan nada yang setara dan penuh kesadaran politik.

“…bahwa kami di sini mendengar bahwa di negeri Anda ada banyak kapal perang. Kami memohon dengan hormat bahwa Anda mengirimkan beberapa dari mereka kepada kami, sehingga dengan bantuan mereka kami dapat mengusir Portugis… Sebagai imbalannya, kami akan memberikan kepada Anda hak eksklusif atas perdagangan lada di kerajaan kami.”

Pernyataan ini menunjukkan bagaimana penguasa lokal seperti Sultan Aceh tidak melihat bangsa Eropa sebagai atasan atau penyelamat, tetapi sebagai mitra potensial dalam pertukaran strategis yang saling menguntungkan, dengan tujuan yang sangat spesifik: mengusir pesaing Eropa lainnya.

Pergeseran Pusat Perdagangan Rempah

Persaingan dan agresi Eropa secara drastis mengubah peta ekonomi Nusantara. Malaka, yang selama berabad-abad menjadi emporium utama, secara bertahap kehilangan pamornya setelah dikuasai Portugis dan kemudian VOC, karena banyak pedagang Muslim lebih memilih berlabuh di pelabuhan saingannya seperti Aceh dan Banten. Banten sendiri sempat mencapai puncak kejayaannya sebagai penghasil lada, sebelum akhirnya ditundukkan VOC dan digantikan oleh Batavia sebagai pusat administrasi dan perdagangan yang dikendalikan ketat.

Di timur, pusat perdagangan cengkeh bergeser dari pantai Maluku yang terbuka ke pulau-pulau terpencil yang lebih mudah dikontrol, sebelum akhirnya VOC memusatkan dan membatasi penanaman cengkeh hanya di Ambon. Jaringan perdagangan Nusantara yang dahulu luas, cair, dan multi-pusat, perlahan-lahan dibentuk ulang menjadi sistem yang tersentralisasi, dengan Batavia sebagai jantungnya dan jalur-jalur yang mengarah ke sana sebagai pembuluh nadi yang dimonopoli.

Warisan dan Transformasi Sistem Perdagangan Global

Persaingan sengit di perairan Nusantara pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menguasai pohon pala terakhir, tetapi tentang kelahiran sebuah tatanan ekonomi dunia yang baru. Dari kancah persaingan multinasional yang kacau balau, muncul sebuah model korporasi yang begitu kuat hingga memiliki kedaulatan mirip negara: VOC Belanda. Kemenangannya menandai transisi dari era penjelajah- pedagang menuju era perusahaan-kolonial, meninggalkan jejak yang dalam, baik yang terpahat di batu benteng maupun yang tersembunyi dalam birokrasi, yang masih dapat kita rasakan hingga hari ini.

BACA JUGA  Pembagian f(x)=2x³ - x² - 8x + 7 oleh 2x-5 Metode dan Hasilnya

Perbandingan Model Monopoli Perdagangan

Portugis dan Spanyol menjalankan monopoli sebagai perpanjangan tangan mahkota ( Crown Monopoly). Segala keuntungan, risiko, dan administrasi menjadi tanggung jawab langsung kerajaan. Model ini sentralistik namun lamban, bergantung pada birokrasi kerajaan yang jauh di Eropa. Sebaliknya, VOC (Belanda) dan EIC (Inggris) adalah perusahaan saham gabungan. Modal raksasa dikumpulkan dari ribuan pemegang saham, memberikan mereka sumber daya yang hampir tak terbatas.

Mereka diberi hak-hak istimewa ( octrooi) oleh negara untuk berperang, membuat perjanjian, mencetak uang, dan membangun benteng. Model ini sangat agresif, fleksibel, dan berorientasi pada laba pemegang saham di atas segalanya, menjadikan perdagangan sebagai operasi militer-komersial yang terintegrasi secara vertikal.

Perubahan Permanen pada Jaringan Pelayaran Global

Persaingan ini secara permanen memusatkan rute rempah dunia melalui satu jalur laut: dari Eropa, mengitari Afrika, langsung ke Nusantara, dan kembali. Rute darat Jalur Sutra dan rute laut Arab-Persia memudar signifikansinya. Lebih penting lagi, persaingan mendorong pembuatan peta yang lebih akurat, pengetahuan tentang angin muson yang lebih detail, dan kemajuan dalam teknik pembuatan kapal. Yang juga berubah adalah konsep “pasar global”.

Nusantara tidak lagi menjadi titik akhir misterius, tetapi menjadi simpul terintegrasi dalam jaringan yang menghubungkan Eropa, Afrika, Asia, dan (via Spanyol) Amerika. Komoditas pun terdiversifikasi; setelah rempah, datanglah permintaan akan kopi, teh, gula, dan kain, mengubah pola tanam dan ekonomi lokal secara paksa.

Warisan Fisik dan Non-Fisik di Nusantara

Setiap bangsa meninggalkan capnya yang unik, sebuah lapisan budaya yang membentuk mozaik Indonesia modern.

Bangsa Warisan Fisik Warisan Non-Fisik
Portugis Benteng Fort Rotterdam (Makassar), gereja-gereja tua, permukiman di Sunda Kelapa & Timor. Kata serapan (meja, jendela, gereja), pengaruh pada musik Kroncong, nama keluarga (Da Silva, Pereira).
Spanyol Pengaruh arsitektur di Filipina, jejak di benteng-benteng Maluku Utara. Penyebaran Katolik secara intensif di Filipina & sebagian NTT, tanaman dari Amerika (jagung, cabai, kentang).
Belanda (VOC) Benteng Vredeburg, Spelwerk, kota tua Batavia, kanal, rumah-rumah gudang. Sistem hukum, birokrasi modern, sistem perkebunan skala besar, konsep tanah partikelir, bahasa Belanda dalam istilah hukum/militer.
Inggris (EIC) Jejak di Bengkulu (Fort Marlborough), bangunan di Jawa selama pendudukan singkat (1811-1816). Pengenalan tanaman teh dan sistem perkebunannya, pengaruh pada perkembangan pendidikan modern dan pemikiran liberal di kalangan elite.

Transisi Menuju Dominasi VOC, Hubungan Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis dalam Persaingan Pelayaran ke Nusantara

Dominasi VOC bukanlah takdir yang tak terelakkan, tetapi hasil dari kombinasi faktor yang mematikan. Pertama, konsentrasi modal dan efisiensi organisasi yang tak tertandingi memungkinkan mereka menanggung kerugian jangka pendek untuk mengusir pesaing. Kedua, strategi kekerasan yang sistematis, seperti pembantaian di Banda dan pengepungan di Makassar, menciptakan iklim ketakutan dan kepatuhan. Ketiga, intervensi dalam suksesi kerajaan lokal, dengan mendukung pihak yang pro-VOC dalam konflik internal, seperti yang terjadi di Mataram dan Banten.

Keempat, kontrol fisik atas produksi melalui ekstirpasi (pemusnahan tanaman) di luar pulau yang ditentukan, memusnahkan pasokan di sumbernya. Secara bertahap, satu per satu titik perdagangan bebas jatuh, aliansi lokal direbut atau dihancurkan, hingga akhirnya pada akhir abad ke-17 dan ke-18, VOC telah menjadi kekuatan hegemon yang mengendalikan sebagian besar perdagangan strategis Nusantara, mengubah lautan yang dahulu ramai menjadi perairan yang diawasi ketat oleh kapal-kapal bersiul tiga warnanya.

Penutup

Demikianlah, gelombang persaingan bangsa-bangsa Eropa itu akhirnya surut meninggalkan jejak yang dalam di pantai Nusantara. VOC Belanda berhasil memenangkan pertarungan dengan cengkeraman monopoli yang kuat, mengubah lanskap politik dan ekonomi kita. Namun, warisan mereka—dari benteng kokoh hingga sistem administrasi—tetap berdiri bagai karang, mengingatkan kita pada era ketika rempah-rempah Maluku begitu berharga hingga menarik kapal-kapal dari penjuru dunia. Kisah ini adalah pengingat bahwa Nusantara pernah menjadi pusat magnet dunia, dan gelombang lautnya mencatat setiap manuver dari hubungan yang rumit antara Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis.

FAQ dan Panduan

Mengapa Belanda akhirnya lebih dominan daripada Portugis yang datang lebih dulu?

Belanda, melalui VOC, memiliki struktur organisasi yang lebih modern, efisien, dan agresif secara militer serta finansial. Mereka juga lebih fokus pada monopoli perdagangan murni dibanding Portugis yang mencampurkan misi dagang dengan penyebaran agama dan penguasaan wilayah secara langsung, sehingga sumber dayanya lebih tersebar.

Apakah ada kerajaan lokal yang berhasil sepenuhnya menangkal pengaruh keempat bangsa Eropa tersebut?

Beberapa kerajaan seperti Makassar di bawah Sultan Hasanuddin dan Kesultanan Banten sempat berhasil menjaga kedaulatan dan memainkan persaingan antar bangsa Eropa untuk keuntungan mereka. Namun, tekanan militer dan blokade ekonomi yang berkelanjutan, terutama dari VOC, pada akhirnya sangat sulit untuk dilawan sepenuhnya dalam jangka panjang.

Bagaimana persaingan ini mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara di pesisir?

Masyarakat pesisir mengalami transformasi besar: munculnya kota-kota pelabuhan baru, masuknya budaya dan barang baru, serta meningkatnya konflik dan ketidakstabilan. Di sisi lain, beberapa komunitas juga mendapat keuntungan ekonomi sebagai penyedia jasa, buruh, atau supplier bagi kapal-kapal asing yang bersaing.

Apakah Inggris benar-benar kalah dalam persaingan ini?

Tidak sepenuhnya. Meski kalah bersaing di Kepulauan Rempah (Maluku), Inggris melalui EIC justru lebih fokus dan akhirnya berhasil menguasai wilayah dagang lain di Asia, terutama di India. Mereka juga tetap menjaga pos dagang di tempat seperti Bengkulu (Bencoolen), yang menjadi pijakan meski tidak sekuat dominasi VOC di Nusantara.

Leave a Comment