Keberagaman Anugerah Tuhan Kekayaan dan Pemersatu Bangsa

Keberagaman: Anugerah Tuhan merupakan fondasi filosofis yang mengakar dalam dalam kehidupan bangsa Indonesia, menawarkan perspektif mendalam bahwa perbedaan suku, agama, dan budaya bukanlah sebuah kebetulan melainkan sebuah pemberian Ilahi yang penuh makna. Prinsip Bhinneka Tunggal Ika secara tegas merefleksikan pandangan ini, mengajarkan bahwa kesatuan sejati justru lahir dari pengakuan dan penghormatan terhadap keragaman yang ada, menjadikannya sumber kekayaan moral dan kultural yang tak ternilai.

Topik ini mengajak kita untuk mengeksplorasi bagaimana anugerah keberagaman ini termanifestasi dalam realitas sosial masyarakat, diperkuat melalui peran sentral keluarga dan pendidikan, serta dirayakan melalui ekspresi seni dan media. Pemahaman ini menjadi krusial dalam menghadapi tantangan kontemporer, sekaligus merancang solusi praktis untuk merawat keragaman sebagai kekuatan pemersatu yang mampu memperkuat ketahanan dan identitas nasional.

Makna Filosofis Keberagaman sebagai Anugerah: Keberagaman: Anugerah Tuhan

Keberagaman seringkali dipersepsikan sebagai tantangan, sebuah puzzle kompleks yang sulit disatukan. Namun, jika kita menyelami lebih dalam, banyak tradisi agama dan kebijaksanaan lokal justru melihatnya sebagai hadiah istimewa, sebuah rancangan ilahi yang penuh makna. Perspektif ini mengajak kita untuk bergeser dari sekadar mentolerir perbedaan, menjadi mensyukuri dan merayakannya sebagai bagian dari rencana yang lebih besar.

Konsep Keberagaman dalam Lintas Agama

Agama-agama utama di Indonesia, dalam kitab suci dan ajarannya, memiliki fondasi yang kokoh mengenai penghargaan terhadap perbedaan. Dalam Islam, Surah Al-Hujurat ayat 13 secara eksplisit menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Penciptaan yang beragam ini bukanlah kesalahan, melainkan tanda kekuasaan-Nya. Kekristenan, melalui surat-surat Paulus, menggambarkan jemaat sebagai satu tubuh dengan banyak anggota yang fungsinya berbeda-beda, di mana setiap perbedaan justru memperkuat kesatuan.

Hindu dengan konsep “Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa” yang jauh mendahului Indonesia modern, mengajarkan bahwa kebenaran itu satu tetapi jalannya bermacam-macam. Sementara Buddha mengajarkan Metta (cinta kasih) dan Karuna (welas asih) yang universal, tanpa batas, kepada semua makhluk dengan segala perbedaannya.

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika sendiri adalah kristalisasi dari filosofi ini. Frasa ini bukan sekadar semboyan pemersatu, tetapi sebuah pengakuan mendalam bahwa kesatuan yang hakiki hanya bisa dibangun di atas pengakuan terhadap keragaman yang ada. Ia merefleksikan ide bahwa anugerah Tuhan itu berwujud dalam berbagai bahasa, warna kulit, dan tradisi, dan justru dalam mozaik itulah keindahan bangsa Indonesia bersemi.

Agama/Kepercayaan Sumber Ajaran Konsep Kunci Pandangan terhadap Keberagaman
Islam Al-Qur’an (Surah Al-Hujurat: 13) Li Ta’arafu (Saling Mengenal) Keragaman suku dan bangsa adalah medium untuk mencapai tujuan ilahi: saling mengenal dan menghormati.
Kristen 1 Korintus 12:12-27 Tubuh Kristus Keberagaman karunia dan peran dalam komunitas adalah analogi dari satu tubuh yang membutuhkan setiap anggotanya.
Hindu Kitab Sutasoma Bhinneka Tunggal Ika Kebenaran (Dharma) itu esa, tetapi cara pemujaan dan manifestasinya beragam dan sah.
Buddha Ajaran Metta & Karuna Cinta Kasih Universal Welasm asih dan kebijaksanaan harus dipraktikkan kepada semua makhluk tanpa diskriminasi.

Nilai Luhur dari Pengakuan Keberagaman, Keberagaman: Anugerah Tuhan

Mengakui keberagaman sebagai pemberian Ilahi melahirkan nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi masyarakat yang beradab. Nilai pertama adalah kerendahan hati, karena kita menyadari bahwa kebenaran atau cara hidup kita bukanlah satu-satunya. Kedua, tumbuhnya rasa syukur, karena kita dapat belajar dan memperkaya diri dari kearifan orang lain. Ketiga, nilai kesabaran dan keingintahuan untuk memahami, alih-alih langsung menghakimi. Keempat, solidaritas yang inklusif, di mana ikatan kemanusiaan mengatasi sekat-sekat primordial.

Nilai-nilai ini, ketika dipraktikkan, mentransformasi keberagaman dari potensi konflik menjadi sumber kekuatan moral dan spiritual bersama.

Manifestasi Keberagaman dalam Masyarakat Indonesia

Keberagaman bukanlah konsep abstrak di Indonesia; ia hidup, bernapas, dan terasa dalam denyut nadi keseharian. Dari Sabang sampai Merauke, anugerah ini termanifestasi dalam bentuk yang begitu nyata dan warna-warni, membentuk sebuah tapestri budaya yang mungkin adalah yang paling kompleks dan indah di dunia.

BACA JUGA  Urutan Pemerintahan Pajajaran Islam Mataram Belanda 1575‑1677

Bentuk-Bentuk Keberagaman Nusantara

Keberagaman: Anugerah Tuhan

Source: divisi.id

Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 1.300 suku bangsa dan 700 lebih bahasa. Setiap suku, dari Aceh hingga Papua, membawa serta adat istiadat, sistem kekerabatan, hukum adat, dan filosofi hidup yang unik. Keragaman bahasa tidak hanya pada bahasanya sendiri, tetapi juga pada sastra lisan seperti pantun, mantra, dan cerita rakyat. Dalam seni, kita mengenal ribuan bentuk tarian, musik, dan ragam hias yang masing-masing memiliki makna dan sejarahnya sendiri.

Keberagaman ini juga terlihat dalam arsitektur rumah adat, pola tenun kain, hingga ritual pertanian dan daur hidup.

Contoh Pengayaan Kehidupan Bangsa

Keberagaman budaya bukan sekadar koleksi museum, ia aktif memperkaya kehidupan. Kuliner Indonesia, misalnya, adalah hasil dialog panjang antar budaya. Soto Betawi terpengaruh oleh Arab dan India, sementara Bika Ambon dari Medan menunjukkan pertukaran dengan wilayah Indocina. Dalam seni pertunjukan, Wayang Kulit Purwa mengolah epos India menjadi media penyebaran nilai-nilai Jawa, sementara Tari Saman dari Gayo memukau dunia dengan presisi dan kekompakannya.

Sistem gotong royong, meski dengan nama yang berbeda-beda seperti ‘Sambatan’ di Jawa atau ‘Mapalus’ di Minahasa, adalah nilai universal yang diekspresikan dalam keragaman bentuk praktik.

Interaksi harmonis antar kelompok berbeda ini dapat dengan mudah ditemui dalam keseharian:

  • Warga dari berbagai latar belakang agama bergantian menjaga keamanan selama ibadah hari besar di tempat ibadah yang berbeda.
  • Di pasar tradisional, pedagang dan pembeli bertransaksi dengan bahasa dan logat yang berbeda, namun saling memahami dengan semangat kekeluargaan.
  • Acara syukuran atau hajatan di lingkungan perumahan sering dihadiri dan didukung oleh tetangga tanpa memandang asal usul.
  • Organisasi karang taruna di tingkat RT/RW biasanya terdiri dari pemuda dari berbagai suku yang bersama-sama mengadakan kegiatan sosial.
  • Dalam dunia pendidikan, kelompok belajar di sekolah sering secara alami terdiri dari siswa dengan latar belakang yang beragam, saling membantu dalam mengerjakan tugas.

Ilustrasi Upacara Adat yang Memadukan Keragaman

Bayangkan sebuah upacara pernikahan adat di Kota Solo, Jawa Tengah. Pengantin perempuan mengenakan kebaya dengan motif batik Parang Rusak, simbolisasi dari petunjuk jalan hidup yang lurus, didampingi keluarga yang memakai beskap dengan blangkon. Tiba-tiba, iring-iringan musik pengantin tidak hanya diisi dengan gamelan Jawa, tetapi juga diselingi dentuman energik dari alat musik Tanjidor, warisan budaya Betawi. Ternyata, keluarga pengantin laki-laki berasal dari Jakarta.

Di pelaminan, selain seserahan berupa buah dan jajanan tradisional Jawa, terdapat juga hantulan berisi sirih pinang lengkap, sebuah adat Melayu. Para tamu undangan pun berbaur; ada yang memakai baju bodo dari Sulawesi Selatan, ada yang memakai ulos dari Sumatra Utara, dan ada yang memakai kemeja modern. Upacara ini menjadi pentas hidup di mana berbagai unsur budaya tidak saling menegasikan, tetapi justru saling menghiasi, menciptakan sebuah makna baru tentang persatuan dalam perbedaan yang dirayakan dengan sukacita.

Peran Keluarga dan Pendidikan dalam Menghargai Anugerah Keberagaman

Pemahaman bahwa keberagaman adalah anugerah tidak muncul begitu saja. Ia perlu ditanamkan, dipupuk, dan dibiasakan sejak dini. Dua institusi fundamental yang memegang peran kunci dalam proses ini adalah keluarga sebagai sekolah pertama dan pendidikan formal sebagai penjembatani nilai-nilai tersebut ke ruang publik yang lebih luas.

Strategi Keluarga dalam Menanamkan Nilai

Orang tua dapat menjadi teladan utama dengan cara bersikap terbuka dan menghormati dalam membicarakan atau berinteraksi dengan orang yang berbeda. Strategi praktisnya bisa dimulai dari hal sederhana: mengenalkan cerita rakyat dan kuliner dari berbagai daerah, mengajak anak mengunjungi festival budaya atau rumah ibadah yang berbeda (setelah memahami tata kunjungan yang santun), serta membiasakan dialog di meja makan tentang teman-teman sekolah yang mungkin memiliki tradisi berbeda.

Kuncinya adalah mengaitkan keberagaman dengan pengalaman positif, rasa ingin tahu, dan keindahan, bukan dengan beban atau prasangka.

Kurikulum Pendidikan Formal tentang Keberagaman

Pendidikan formal memiliki tanggung jawab sistematis untuk membentuk pemahaman ini. Kurikulum yang baik tidak hanya menyebutkan keberagaman sebagai fakta, tetapi menempatkannya sebagai nilai. Mata pelajaran seperti PPKn, Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya dapat dirancang untuk menampilkan kontribusi berbagai kelompok terhadap pembangunan bangsa. Pembelajaran tidak boleh sentris pada satu budaya mayoritas, tetapi inklusif. Lebih dari itu, metode pembelajaran kolaboratif yang mengelompokkan siswa secara heterogen dapat melatih keterampilan sosial langsung dalam mengelola perbedaan.

Contoh Dialog Edukatif dalam Keluarga

Berikut adalah contoh percakapan antara seorang ibu dan anaknya yang masih duduk di bangku SD setelah pulang sekolah:

Anak: Ma, si Rina bilang besok dia tidak masuk sekolah karena mau merayakan Waisak. Itu apa, Ma?
Ibu: Oh, Waisak itu hari raya penting bagi teman-teman kita yang beragama Buddha. Hari itu memperingati kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha. Mirip seperti kita merayakan Idul Fitri atau Natal.

Anak: Kalau begitu, mereka pergi ke gereja?
Ibu: Bukan ke gereja, tapi ke vihara. Tempat ibadah umat Buddha namanya vihara. Nanti mungkin mereka akan melakukan semedi, mendengarkan ajaran, dan berbuat baik. Kita bisa menghormati hari rayanya dengan mengucapkan selamat, seperti “Selamat Hari Raya Waisak”.

Anak: Bolehkah kita ikut ke vihara?
Ibu: Bisa saja untuk belajar, nak, tapi tentu dengan izin dan tujuan untuk mengenal, bukan untuk beribadah. Yang penting, kita menghargai bahwa cara teman-teman Rina beribadah dan bersyukur kepada Tuhan berbeda dengan cara kita, dan itu adalah hal yang baik.

Aktivitas Pembelajaran di Sekolah Dasar

Sebuah aktivitas yang efektif untuk kelas 4 atau 5 SD adalah proyek “Pasar Budaya Mini”. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok, masing-masing mewakili satu provinsi atau pulau besar di Indonesia. Tugas mereka adalah mempelajari satu aspek budaya daerah tersebut (misalnya: pakaian adat, makanan khas, lagu daerah sederhana, atau permainan tradisional) dan mempresentasikannya dalam sebuah stan di “pasar” yang diadakan di aula sekolah.

BACA JUGA  Pembagian √2 dengan √2 ditambah √7 dan Penyederhanaannya

Mereka harus menyiapkan penjelasan, mungkin mencoba menyanyikan lagu, atau bahkan membagikan sample makanan ringan khas (dengan memperhatikan alergi). Aktivitas ini tidak hanya melatih keterampilan penelitian dan presentasi, tetapi secara langsung membuat siswa menjadi “duta” budaya, belajar dengan cara yang menyenangkan, dan melihat teman-temannya sebagai sumber pengetahuan yang menarik tentang kekayaan Nusantara.

Tantangan dan Solusi dalam Merawat Keberagaman

Meski telah diakui sebagai anugerah, kesadaran akan keberagaman tetap rentan terkikis oleh berbagai tantangan zaman. Arus globalisasi, ketimpangan ekonomi, dan dinamika politik sering kali mempersempit pandangan, mengubah perbedaan dari sesuatu yang patut disyukuri menjadi alat untuk memecah belah. Merawat anugerah ini memerlukan kewaspadaan dan upaya kolektif yang terus-menerus.

Tantangan Kontemporer Pengikis Kesadaran

Beberapa tantangan utama termasuk penyebaran informasi yang tidak akurat dan hoaks melalui media sosial, yang dengan cepat membangun narasi negatif terhadap kelompok tertentu. Kemudian, terdapat kecenderungan hidup dalam gelembung atau echo chamber, di mana kita hanya berinteraksi dengan orang yang sepemikiran, sehingga prasangka tidak pernah terkoreksi. Ketimpangan ekonomi dan persaingan memperebutkan sumber daya juga dapat memicu sentimen kesukuan atau keagamaan.

Selain itu, pemahaman agama yang dangkal dan tertutup bisa melahirkan klaim kebenaran tunggal yang menafikan keberagaman itu sendiri.

Langkah Praktis Komunitas Mengatasi Prasangka

Komunitas, mulai dari tingkat RT hingga organisasi kemasyarakatan, dapat berperan aktif. Langkah pertama adalah membuka ruang dialog yang aman dan terbimbing, misalnya melalui forum kelompok belajar lintas iman atau diskusi budaya. Kedua, mengadakan kegiatan kolektif yang membutuhkan kerjasama semua warga, seperti kerja bakli lingkungan atau penyelenggaraan posyandu, di mana identitas primordial dikesampingkan untuk tujuan bersama. Ketiga, melibatkan tokoh-tokoh agama dan adat dari berbagai latar belakang dalam setiap acara penting komunitas, memberikan pesan inklusif yang kuat.

Keempat, membuat perpustakaan atau pojok baca komunitas yang menyediakan literatur tentang berbagai budaya dan agama di Indonesia.

Tantangan Akar Masalah Dampak Solusi yang Direkomendasikan
Hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Literasi digital rendah, algoritma yang memperkuat bias, anonimitas. Meningkatnya prasangka, polarisasi sosial, potensi konflik horizontal. Menggalakkan kampanye literasi digital dan verifikasi fakta; mendorong pembuatan konten positif oleh influencer lokal.
Minimnya interaksi langsung antar kelompok berbeda. Segregasi tempat tinggal, homogenitas pergaulan, individualisme. Stereotip berkembang tanpa koreksi, rasa asing dan curiga. Mendorong program pertukaran budaya di tingkat sekolah/kelurahan; menyelenggarakan festival budaya inklusif.
Politik identitas yang eksploitatif. Pencarian dukungan massa dengan cara murah, sentimen sejarah yang belum tuntas. Hubungan sosial yang transaksional, menguatnya sentimen “kami vs mereka”. Pendidikan politik yang menekankan isu substansial; penegakan hukum tegas terhadap politik ujaran kebencian.
Pemahaman agama yang eksklusif. Pendidikan agama yang tertutup, penafsiran teks yang literal tanpa konteks. Intoleransi, klaim kebenaran sepihak, penutupan ruang publik bersama. Memperbanyak forum dialog antarumat beragama; mengintegrasikan wawasan kebhinekaan dalam pengajian atau khotbah.

Kutipan Inspiratif tentang Merawat Perbedaan

“Kebhinekaan adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa yang harus kita syukuri. Perbedaan itu indah, seperti pelangi yang memiliki banyak warna. Mari kita jaga dan rawat bersama-sama, karena persatuan dan kesatuan bangsa adalah harga mati.”

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Keberagaman dalam Bingkai Seni dan Media

Seni dan media memiliki kekuatan bahasa universal yang mampu menembus batas-batas rasional dan langsung menyentuh hati. Dalam konteks keberagaman, mereka bukan hanya cermin yang memantulkan realitas, tetapi juga kuas yang bisa melukiskan visi tentang masyarakat yang lebih harmonis. Melalui cerita, irama, dan gambar, pesan tentang keindahan perbedaan dapat disampaikan dengan cara yang menghibur sekaligus mendalam.

BACA JUGA  Minta Bantuan Kumpulkan Besok Strategi Efektif Persiapan Mendesak

Karya Seni sebagai Medium Pesan Keberagaman

Sastra, seperti novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja atau puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, sering mengolah konflik batin tokohnya dalam menghadapi perbedaan ideologi dan budaya. Musik, dari lagu-lagu nasional seperti “Bhinneka Tunggal Ika” yang dikumandangkan paduan suara, hingga karya kontemporer seperti fusion musik tradisi dan modern, adalah bukti nyata bahwa harmonisasi nada yang berbeda melahirkan komposisi yang lebih kaya. Film, misalnya “Kucumbu Tubuh Indahku” garapan Garin Nugroho atau “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak”, sering menyoroti kehidupan kelompok marginal dengan cara yang memanusiakan, mengajak penonton memahami sudut pandang yang asing bagi mereka.

Pesan Toleransi di Media Sosial dan Konten Digital

Platform digital menawarkan peluang besar untuk menyebarkan pesan positif. Konten seperti thread Twitter yang menjelaskan filosofi di balik berbagai upacara adat, video TikTok yang menampilkan kolaborasi masakan dari daerah berbeda, atau podcast yang mewawancarai pasangan beda agama tentang pengalaman hidup mereka, semua dapat membangun narasi alternatif dari hoaks. Media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan “wajah-wajah” di balik sebuah kelompok, menceritakan kisah personal yang melampaui stereotip, dan membangun komunitas daring yang berlandaskan pada rasa hormat dan ketertarikan pada keberagaman.

Dalam membuat konten media yang menghormati latar belakang yang beragam, terdapat beberapa prinsip etis yang penting untuk dipegang:

  • Prinsip Representasi yang Akurat dan Manusiawi: Hindari karikatur dan stereotip. Tampilkan individu atau kelompok dalam kompleksitas dan kemanusiaannya yang utuh, bukan sebagai simbol monolitik.
  • Prinsip Pelibatan dan Kolaborasi: Saat bercerita tentang suatu kelompok, libatkan anggota dari kelompok tersebut dalam proses kreatif, baik sebagai narasumber, konsultan, atau kreator.
  • Prinsip Konteks dan Kedalaman: Jangan mengambil elemen budaya secara dangkal atau hanya untuk estetika. Berikan konteks yang memadai dan hormati makna sakral di balik simbol atau ritual tertentu.
  • Prinsip Tanggung Jawab atas Dampak: Pertimbangkan bagaimana konten akan diterima oleh komunitas yang diceritakan dan khalayak luas. Hindari konten yang meski tidak bermaksud buruk, berpotensi memperkuat prasangka atau menimbulkan salah paham.

Sinopsis Cerita Pendek tentang Keberagaman

Judul: Melodi untuk Lestari

Lestari, seorang gadis SMA dari Bali yang mahir memainkan gamelan, pindah ke sebuah sekolah di Manado karena pekerjaan ayahnya. Awalnya ia merasa terasing, hingga suatu hari ia mendengar kelompok musik sekolah, yang didominasi alat musik modern dan brass band, sedang berlatih dengan kesulitan untuk sebuah kompetisi. Lestari melihat partitur lagu yang mereka mainkan, dan diam-diam mencoba menerjemahkan melodi utamanya ke dalam notasi gamelan di ponselnya.

Ia memberanikan diri menawarkan bantuan pada pemimpin band, Johan, seorang anak Minahasa yang awalnya skeptis. Kolaborasi pun dimulai: dentingan metalofon dan saron gamelan Lestari menyelusupi celah-celah harmonisasi brass band, menciptakan warna suara yang sama sekali baru. Awalnya canggung, latihan bersama justru menjadi ajang saling mengenal budaya. Johan belajar tentang konsep “tri hitakarana” dalam musik Bali, Lestari diajak menyanyikan lagu “O Ina Ni Keke”.

Pada hari kompetisi, penampilan fusion mereka yang unik memukau juri dan penonton, tetapi kemenangan terbesar adalah persahabatan yang terjalin dan kesadaran bahwa kekuatan terbesar mereka justru lahir dari perpaduan keunikan masing-masing, bukan dari penyeragaman.

Penutupan Akhir

Sebagai kesimpulan, memandang keberagaman sebagai anugerah Tuhan bukan sekadar retorika, melainkan sebuah paradigma hidup yang menuntut komitmen aktif untuk dipelihara dan dirawat. Dari ruang keluarga hingga ruang publik, dari kurikulum pendidikan hingga karya seni, setiap upaya untuk membangun apresiasi dan interaksi harmonis antar perbedaan merupakan bentuk syukur atas pemberian Ilahi tersebut. Dengan demikian, kekayaan budaya dan keyakinan yang dimiliki Indonesia dapat terus menjadi sumber inspirasi dan kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih inklusif dan damai.

FAQ Lengkap

Bagaimana jika ada kelompok yang menggunakan ayat kitab suci untuk menolak keberagaman?

Setiap agama memiliki penafsiran yang beragam. Penting untuk melihat pesan utama cinta kasih dan penghormatan terhadap sesama dalam kitab suci, serta merujuk pada penafsiran yang inklusif dan kontekstual dari para pemuka agama yang mendukung kerukunan. Dialog antaragama yang konstruktif sangat diperlukan untuk mengatasi perbedaan penafsiran ini.

Apakah mengakui keberagaman berarti mengorbankan keyakinan pribadi?

Sama sekali tidak. Menghargai keberagaman berarti mengakui hak orang lain untuk memiliki keyakinan dan cara hidup yang berbeda, sambil tetap memegang teguh keyakinan pribadi. Prinsipnya adalah “Bersatu dalam perbedaan”, di mana identitas masing-masing dihormati dalam bingkai persatuan.

Bagaimana peran generasi muda yang lebih terpapar globalisasi dalam menjaga keberagaman sebagai anugerah?

Generasi muda justru dapat menjadi agen pemersatu yang efektif. Dengan literasi digital yang tinggi, mereka dapat menyebarkan narasi positif tentang toleransi, membuat konten kreatif yang merayakan keragaman, serta membangun jejaring lintas budaya yang lebih luas, sekaligus tetap mencintai dan melestarikan akar budaya lokal mereka.

Apakah konsep “anugerah Tuhan” ini relevan bagi warga negara yang tidak beragama?

Konsep ini dapat dipahami dalam kerangka yang lebih luas sebagai “kekayaan alamiah bangsa”. Nilai-nilai inti seperti penghormatan, toleransi, dan pengakuan atas martabat setiap individu tetap universal dan dapat dijunjung tinggi oleh semua warga negara, terlepas dari latar belakang keyakinan spiritualnya, demi terciptanya kohesi sosial.

Leave a Comment