Kebutuhan Klorin untuk Mengoksidasi 1,5 kg Ferrosulfat bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan kunci presisi dalam mengendalikan kualitas air. Di balik perhitungan stoikiometri yang tampak teknis, tersimpan narasi penting tentang efisiensi, keamanan, dan keberlanjutan operasional instalasi pengolahan. Proses mengubah besi ferro yang larut menjadi besi ferri yang mudah diendapkan ini merupakan fondasi dari air jernih yang kita andalkan sehari-hari.
Mengapa klorin menjadi pilihan? Reaksi kimia antara FeSO₄ dan Cl₂ merupakan sebuah transformasi yang efisien, namun penerapannya di lapangan dipengaruhi oleh banyak faktor praktis. Dari tingkat keasaman (pH) air hingga keberadaan pengganggu lain, setiap detail perlu diperhitungkan untuk memastikan oksidasi berjalan sempurna tanpa pemborosan bahan kimia atau menimbulkan risiko.
Dasar-dasar Reaksi Oksidasi Ferrosulfat dengan Klorin
Dalam dunia pengolahan air, ferrosulfat atau fero sulfat (FeSO₄) sering digunakan sebagai koagulan sekaligus sumber ion besi ferro (Fe²⁺). Namun, untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai koagulan, besi ferro yang larut ini perlu diubah menjadi besi ferri (Fe³⁺) yang lebih mudah mengendap. Proses konversi ini memerlukan oksidator kuat, dan klorin (Cl₂) merupakan salah satu pilihan yang efektif dan banyak digunakan.
Reaksi antara klorin dan ferrosulfat pada dasarnya adalah transfer elektron. Klorin bertindak sebagai oksidator, menerima elektron dari ion Fe²⁺. Penerimaan elektron ini mengoksidasi Fe²⁺ menjadi Fe³⁺, sementara klorin sendiri tereduksi menjadi ion klorida (Cl⁻). Reaksi ini sangat penting dalam pretreatment air baku yang mengandung besi tinggi atau dalam proses koagulasi menggunakan garam besi.
Persamaan Kimia dan Stoikiometri Reaksi
Reaksi lengkap antara ferrosulfat dan klorin dalam medium air dapat dituliskan sebagai berikut:
2 FeSO₄ + Cl₂ → Fe₂(SO₄)₃ + 2 Cl⁻
Persamaan yang sudah setara ini menunjukkan bahwa setiap 2 mol ferrosulfat membutuhkan 1 mol gas klorin untuk teroksidasi sempurna menjadi feri sulfat. Koefisien ini menjadi fondasi perhitungan kebutuhan bahan kimia secara teoritis. Dalam konteks ion, reaksi intinya adalah: 2 Fe²⁺ + Cl₂ → 2 Fe³⁺ + 2 Cl⁻.
Perubahan sifat kimia dari reaktan ke produk dapat diamati dengan jelas. Berikut adalah perbandingan sifat FeSO₄ sebelum dan sesudah mengalami oksidasi.
| Parameter | Ferrosulfat (FeSO₄)
|
Feri Sulfat [Fe₂(SO₄)₃]
|
Dampak dalam Pengolahan Air |
|---|---|---|---|
| Bilangan Oksidasi Besi | +2 (Ferro) | +3 (Ferri) | Besi ferri membentuk hidroksida [Fe(OH)₃] yang tidak larut dan mudah diendapkan. |
| Warna Larutan | Hijau kebiruan (pucat) | Kuning kecoklatan | Perubahan warna menjadi indikator visual awal terjadinya reaksi oksidasi. |
| Kelarutan & Kestabilan | Larut, tetapi mudah teroksidasi oleh udara secara perlahan. | Larut, lebih stabil secara kimiawi. | Produk feri lebih stabil dalam penyimpanan dan lebih efektif sebagai koagulan primer. |
| Kemampuan Koagulasi | Lemah, harus dioksidasi dulu menjadi Fe³⁺. | Sangat baik, langsung membentuk flok hidroksida. | Menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi pengolahan pada unit koagulasi-flokulasi. |
Perhitungan Stoikiometri Kebutuhan Klorin
Menghitung kebutuhan klorin secara teoritis adalah langkah kunci dalam mendesain sistem injeksi yang akurat dan ekonomis. Perhitungan ini berdasar pada hukum dasar stoikiometri, menggunakan berat molekul dan rasio dari persamaan reaksi yang telah setara.
Dengan massa ferrosulfat yang diketahui, kita dapat menurunkan massa klorin yang dibutuhkan.
Langkah-langkah Perhitungan Teoritis, Kebutuhan Klorin untuk Mengoksidasi 1,5 kg Ferrosulfat
Untuk mengoksidasi 1,5 kg (1500 gram) ferrosulfat murni (FeSO₄.7H₂O), kita ikuti langkah sistematis. Pertama, tentukan berat molekul (BM) dari reaktan. BM FeSO₄.7H₂O adalah sekitar 278,05 g/mol, sedangkan BM Cl₂ adalah 70,9 g/mol. Dari persamaan 2 FeSO₄ + Cl₂ → Fe₂(SO₄)₃, rasio molnya adalah 2:1.
| Variabel | Ferrosulfat (FeSO₄.7H₂O) | Klorin (Cl₂) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Massa | 1500 g | ? g (dicari) | Massa awal bahan. |
| Berat Molekul (BM) | 278,05 g/mol | 70,9 g/mol | Massa per mol senyawa. |
| Jumlah Mol | 1500 g / 278,05 g/mol ≈ 5,395 mol | Berdasarkan rasio stoikiometri | Mol = Massa / BM. |
| Rasio Stoikiometri | 2 | 1 | Dari persamaan reaksi setara. |
Dari tabel, mol FeSO₄ adalah 5,
395. Karena rasio FeSO₄ : Cl₂ = 2:1, maka mol Cl₂ yang dibutuhkan adalah setengahnya, yaitu 5,395 / 2 = 2,6975 mol. Massa Cl₂ teoritis = mol × BM = 2,6975 mol × 70,9 g/mol ≈ 191,3 gram. Jadi, secara teori dibutuhkan sekitar 0,191 kg klorin untuk 1,5 kg ferrosulfat murni.
Perhitungan kebutuhan klorin untuk mengoksidasi 1,5 kg ferrosulfat didasarkan pada stoikiometri reaksi kimia yang presisi, mirip bagaimana kita menganalisis hubungan linguistik. Menariknya, pola kesamaan dan perbedaan dalam bahasa juga ditemukan pada Kesamaan Mandarin dan Korea seperti Indonesia dan Malaysia , yang meski serumpun memiliki karakter unik. Kembali ke konteks teknis, ketepatan dosis klorin ini krusial untuk memastikan efisiensi proses oksidasi dan keberhasilan pengolahan air atau limbah secara keseluruhan.
Pengaruh Kemurnian Bahan Kimia
Dalam aplikasi nyata, ferrosulfat teknis jarang memiliki kemurnian 100%. Ia sering mengandung pengotor seperti air bebas atau senyawa lain. Oleh karena itu, perhitungan kebutuhan klorin aktual harus mempertimbangkan faktor kemurnian ini. Jika hanya kandungan FeSO₄ murni yang bereaksi, maka massa efektif ferrosulfat harus disesuaikan terlebih dahulu.
Contoh untuk Ferrosulfat 90%:
Massa FeSO₄ murni = 1,5 kg × 90% = 1,35 kg = 1350 g.
Mol FeSO₄ = 1350 g / 278,05 g/mol ≈ 4,855 mol.
Mol Cl₂ yang dibutuhkan = 4,855 mol / 2 = 2,4275 mol.
Massa Cl₂ = 2,4275 mol × 70,9 g/mol ≈ 172,1 g (0,172 kg).
Contoh untuk Ferrosulfat 70%:
Massa FeSO₄ murni = 1,5 kg × 70% = 1,05 kg = 1050 g.
Mol FeSO₄ = 1050 g / 278,05 g/mol ≈ 3,776 mol.
Mol Cl₂ yang dibutuhkan = 3,776 mol / 2 = 1,888 mol.
Massa Cl₂ = 1,888 mol × 70,9 g/mol ≈ 133,9 g (0,134 kg).
Terlihat jelas bahwa penurunan kemurnian secara signifikan mengurangi kebutuhan klorin teoritis, karena jumlah spesies Fe²⁺ yang tersedia untuk dioksidasi juga lebih sedikit. Selalu lakukan analisis kemurnian atau mengacu pada data sheet supplier untuk perhitungan yang presisi.
Faktor Praktis dan Kondisi Operasional yang Mempengaruhi: Kebutuhan Klorin Untuk Mengoksidasi 1,5 kg Ferrosulfat
Perhitungan teoritis memberikan angka dasar, tetapi efisiensi reaksi di lapangan sangat dipengaruhi oleh sejumlah kondisi operasional. Faktor-faktor seperti pH, suhu, dan keberadaan senyawa lain akan menentukan seberapa cepat dan lengkap oksidasi Fe²⁺ menjadi Fe³⁺ terjadi. Memahami dinamika ini penting untuk mengoptimalkan dosis dan menghindari kekurangan atau kelebihan klorin.
Dalam konteks pengolahan air, kebutuhan klorin untuk mengoksidasi 1,5 kg ferrosulfat harus dihitung dengan presisi berdasarkan stoikiometri reaksi. Namun, jika Anda merasa kewalahan dengan perhitungan teknis yang rumit, jangan ragu untuk Minta Bantuan Teman-Teman yang memiliki keahlian serupa. Kolaborasi semacam ini justru dapat memperkaya perspektif dan memastikan akurasi perhitungan klorin yang dibutuhkan untuk mengkonversi besi fero tersebut secara optimal.
Pengaruh pH, Suhu, dan Waktu Kontak
pH air merupakan faktor pengendali utama. Reaksi oksidasi besi oleh klorin berlangsung paling efisien pada pH antara 6,5 hingga 8. Pada pH lebih rendah (asam), reaksi berjalan lebih lambat. Pada pH sangat tinggi, meski oksidasi cepat, besi dapat mengendap sebagai hidroksida sebelum tersebar merata. Suhu air juga berperan; kenaikan suhu umumnya mempercepat laju reaksi kimia.
Namun, dalam pengolahan air konvensional, pengaruh suhu seringkali kurang signifikan dibanding pengaruh pH dan pencampuran.
Waktu kontak yang memadai mutlak diperlukan. Injeksi klorin harus diikuti dengan unit pencampuran cepat yang intensif (seperti static mixer atau bak berpengaduk cepat) untuk mendistribusikan klorin secara homogen, kemudian dialirkan melalui bak atau pipa yang memberikan waktu kontak beberapa menit sebelum masuk ke unit koagulasi. Tanpa pencampuran dan waktu kontak yang cukup, reaksi tidak akan sempurna.
Senyawa Pengganggu dan Kompetitor Klorin
Klorin adalah oksidator yang relatif tidak spesifik. Dalam air baku, selain besi, bisa terdapat senyawa lain yang juga akan mengonsumsi klorin. Senyawa-senyawa ini termasuk:
- Amonia (NH₃): Bereaksi dengan klorin membentuk kloramin, yang mengurangi klorin bebas tersedia untuk mengoksidasi besi.
- Mangan (Mn²⁺): Juga membutuhkan oksidasi menjadi Mn⁴⁺, sehingga bersaing dengan besi untuk mendapatkan klorin.
- Senyawa Organik: Bahan organik alami (NOM) dapat bereaksi dengan klorin, menciptakan demand klorin dan berpotensi membentuk produk sampingan desinfeksi yang tidak diinginkan.
- Sulfida (H₂S): Sangat reaktif terhadap klorin dan akan dikonsumsi terlebih dahulu.
Oleh karena itu, dosis klorin teoritis untuk besi harus ditambah dengan “chlorine demand” dari senyawa-senyawa pengganggu ini. Seringkali, diperlukan jar test atau analisis berkala untuk menentukan dosis optimal di lapangan.
Langkah Memastikan Reaksi Optimal
Untuk memastikan reaksi oksidasi ferrosulfat oleh klorin berjalan optimal dalam instalasi pengolahan, beberapa langkah operasional dapat diterapkan.
- Lakukan karakterisasi air baku secara rutin, termasuk pengukuran pH, kandungan Fe²⁺, Mn²⁺, amonia, dan COD/KMnO₄.
- Tentukan titik injeksi klorin yang tepat, biasanya sebelum atau bersamaan dengan titik injeksi ferrosulfat, dengan jarak yang memungkinkan pencampuran sempurna.
- Pastikan sistem pencampuran cepat (rapid mixing) berfungsi dengan baik untuk mencapai dispersi klorin yang merata dalam aliran air.
- Rancang atau verifikasi waktu kontak (contact time) antara injeksi dan koagulasi minimal 2-5 menit.
- Monitor residual klorin bebas setelah titik reaksi untuk memastikan masih ada sisa klorin, menandakan oksidasi telah lengkap.
- Lakukan adjustment dosis berdasarkan hasil jar test dan analisis residual besi terlarut setelah proses.
Aplikasi dalam Pengolahan Air dan Limbah
Proses oksidasi ferrosulfat dengan klorin menemukan aplikasinya di berbagai skenario pengolahan air, mulai dari air minum hingga limbah industri. Intinya, proses ini digunakan ketika dibutuhkan koagulan besi ferri yang dihasilkan secara in-situ, atau ketika air baku mengandung besi ferro yang perlu dihilangkan melalui oksidasi-presipitasi.
Skenario Penerapan di Instalasi Pengolahan
Salah satu skenario umum adalah pada pengolahan air tanah yang mengandung besi dan mangan tinggi. Air tanah dipompa dan klorin diinjeksikan untuk mengoksidasi Fe²⁺ dan Mn²⁺. Ferrosulfat kemudian dapat ditambahkan sebagai koagulan pendukung atau, dalam beberapa desain, klorin mengoksidasi Fe²⁺ yang sudah ada sekaligus yang berasal dari injeksi ferrosulfat. Skenario lain adalah pada pengolahan limbah, khususnya limbah yang mengandung fosfat.
Ferrosulfat yang dioksidasi menjadi ferri sulfat bereaksi dengan fosfat membentuk endapan ferri fosfat yang sukar larut, sehingga efektif untuk removal fosfat.
Perbandingan Klorin dengan Oksidator Lain
Pemilihan klorin sebagai oksidator memiliki pertimbangan kelebihan dan kekurangan dibanding oksidator alternatif seperti kalium permanganat (KMnO₄) atau oksigen dari udara.
| Oksidator | Kelebihan | Kekurangan | Aplikasi Khas |
|---|---|---|---|
| Klorin (Cl₂) | Reaksi cepat, biaya relatif murah, tersedia dalam berbagai bentuk (gas, cair, bubuk), sekaligus memberikan disinfeksi. | Membentuk produk sampingan desinfeksi (DBP) berbahaya dengan organik, beracun jika bocor, mempengaruhi rasa air. | Pengolahan air minum dengan kandungan organik rendah, pengolahan limbah industri. |
| Kalium Permanganat (KMnO₄) | Oksidasi spesifik untuk besi & mangan, tidak membentuk THM secara signifikan, indikator warna (merah muda). | Harga lebih mahal, overdosis menyebabkan air berwarna merah muda, membentuk endapan MnO₂ yang dapat menyumbat. | Pengolahan air minum dengan masalah spesifik besi & mangan, terutama pada pH netral hingga basa. |
| Oksidasi Udara (Aerasi) | Sangat aman, tidak menambah bahan kimia, biaya operasi rendah. | Laju oksidasi sangat lambat, membutuhkan waktu kontak dan area kontak yang besar, kurang efektif pada pH <7. | Pengolahan awal air tanah dengan kandungan besi rendah, sebagai pretreatment sebelum proses kimia. |
Prosedur Operasional Standar Singkat untuk Injeksi Klorin
Berdasarkan perhitungan kebutuhan klorin dan kondisi lapangan, berikut adalah prosedur operasional standar singkat yang dapat dijadikan acuan.
- Tentukan dosis klorin teoritis berdasarkan konsentrasi Fe²⁺ (dari ferrosulfat yang diinjeksi dan dari air baku) plus faktor keamanan untuk senyawa pengganggu (biasanya 1,2 hingga 1,5 kali dari teoritis).
- Kalibrasi alat injeksi (chlorinator) secara berkala untuk memastikan akurasi laju alir klorin sesuai dengan dosis yang ditetapkan.
- Lakukan injeksi klorin pada titik yang telah ditentukan, idealnya pada aliran air yang memiliki turbulensi tinggi untuk pencampuran cepat.
- Monitor parameter kunci seperti pH air setelah pencampuran dan residual klorin bebas setelah waktu kontak yang ditetapkan.
- Lakukan penyesuaian dosis injeksi secara real-time berdasarkan pembacaan residual klorin dan hasil analisis kandungan besi terlarut di effluent.
- Catat semua data operasi termasuk dosis, residual, dan hasil analisis untuk evaluasi dan optimasi berkelanjutan.
Ilustrasi Diagram Alir dan Titik Injeksi
Dalam sebuah diagram alir pengolahan air konvensional, titik injeksi klorin untuk oksidasi ferrosulfat biasanya ditempatkan pada awal proses, setelah screening dan sebelum atau bersamaan dengan koagulasi. Bayangkan sebuah aliran: air baku masuk dari sumber, kemudian melewati saringan kasar. Segera setelah itu, pada sebuah pipa bertekanan atau bak penerima, klorin diinjeksikan melalui nozzle atau ejector. Beberapa meter di hilirnya, atau pada titik yang sama untuk pencampuran instan, larutan ferrosulfat diinjeksikan.
Campuran kemudian langsung masuk ke dalam “flash mixer” atau “rapid mixing chamber” yang dilengkapi pengaduk berkecepatan tinggi, di mana terjadi dispersi dan kontak intensif selama 30-60 detik. Dari sini, air mengalir melalui “flocculation basin” yang lebih tenang, memberikan waktu kontak tambahan beberapa menit bagi reaksi oksidasi untuk menyelesaikan dan bagi flok besi ferri hidroksida mulai terbentuk sebelum masuk ke sedimentasi.
Aspek Keamanan dan Penanganan Bahan Kimia
Baik klorin maupun ferrosulfat merupakan bahan kimia yang memerlukan penanganan serius. Klorin, terutama dalam bentuk gas, bersifat sangat beracun dan korosif. Ferrosulfat, meski tidak seberbahaya klorin, dapat menyebabkan iritasi dan pencemaran lingkungan jika tidak ditangani dengan benar. Memahami prosedur keselamatan dan penanganan darurat adalah bagian integral dari operasi yang bertanggung jawab.
Prosedur Keselamatan dan Penyimpanan
Penyimpanan klorin gas membutuhkan ruang terisolasi, berventilasi baik, dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran dan scrubber netralisasi (biasanya menggunakan larutan NaOH atau sodium tiosulfat). Tabung gas harus diamankan dan dicegah dari panas berlebih. Klorin cair (sodium hipoklorit) harus disimpan di tempat sejuk dan gelap untuk mencegah degradasi. Ferrosulfat, biasanya dalam bentuk kristal atau larutan, harus disimpan di tempat kering dan terpisah dari bahan pengoksidasi kuat.
Kontak dengan kulit dan mata harus dihindari dengan menggunakan APD lengkap: sarung tangan tahan bahan kimia, pelindung mata, apron, dan sepatu safety.
Perhitungan kebutuhan klorin untuk mengoksidasi 1,5 kg ferrosulfat dalam pengolahan limbah tak lepas dari konteks reaksi redoks yang juga terjadi di alam, seperti pada fenomena hujan yang mengandung Jenis Asam Umum dalam Hujan Asam. Pemahaman terhadap sifat asam tersebut, terutama sulfat dan nitrat, relevan karena produk samping oksidasi ferrosulfat dapat berkontribusi pada potensi asiditas. Oleh karena itu, penentuan dosis klorin yang tepat tidak hanya efisien secara teknis, tetapi juga penting untuk meminimalkan dampak lingkungan dari residu proses tersebut.
Produk Sampingan Reaksi dan Implikasinya
Reaksi utama menghasilkan feri sulfat dan klorida, yang relatif tidak berbahaya. Namun, jika air baku mengandung bahan organik alami (NOM), klorin bebas yang berlebih dapat bereaksi membentuk produk sampingan desinfeksi (DBP) seperti trihalometana (THM) dan asam haloasetat (HAA), yang bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, kontrol ketat terhadap dosis klorin untuk meminimalkan residual bebas berlebih sangat penting, terutama untuk air minum.
Selain itu, penurunan pH akibat reaksi mungkin terjadi dan perlu dikoreksi.
Data Bahaya Singkat Klorin dan Ferrosulfat
| Bahan Kimia | Bentuk Umum | Bahaya Utama | Tindakan Pencegahan |
|---|---|---|---|
| Klorin (Cl₂) | Gas bertekanan, cair (NaOCl), bubuk (Ca(OCl)₂) | Toksik jika terhirup (iritasi saluran napas parah), korosif, pengoksidasi kuat. Kebocoran gas membentuk awan hijau kekuningan. | Gunakan di area berventilasi, pakai respirator cartridge untuk klorin, simpan terpisah dari bahan mudah terbakar dan reduktor. |
| Ferrosulfat (FeSO₄.7H₂O) | Kristal hijau kebiruan atau larutan | Iritan pada kulit, mata, dan saluran pencernaan. Korosif terhadap logam. Pencemar air (dapat menurunkan oksigen terlarut). | Pakai APD, hindari produksi debu. Simpan di tempat kering, terpisah dari bahan pengoksidasi. |
Panduan Penanganan Tumpahan atau Kebocoran
Source: slidesharecdn.com
Untuk tumpahan kecil, prosedur berikut dapat menjadi acuan. Prioritas utama adalah melindungi personel dan mencegah penyebaran.
- Kebocoran Klorin Gas (Kecil): Evakuasi area, gunakan APD lengkap termasuk SCBA. Semprotkan kebocoran dengan air kabut untuk mengendapkan gas. Netralkan genangan dengan larutan soda abu (Na₂CO₃) atau alkali lainnya. Jangan menyemprot air langsung ke sumber kebocoran jika berbentuk cair.
- Tumpahan Natrium Hipoklorit (Cair): Cegah masuk ke saluran air. Netralkan dengan larutan sodium tiosulfat atau bisulfit. Bilas area dengan air berlimpah.
- Tumpahan Ferrosulfat Kristal: Sapu material dan kumpulkan dalam wadah tertutup. Jangan biarkan masuk saluran pembuangan umum. Untuk larutan, serap dengan material inert seperti vermikulit atau pasir, lalu buang sebagai limbah B3 sesuai peraturan.
- Paparan pada Personel: Untuk kontak kulit, bilas dengan air mengalir selama 15 menit. Untuk terhirup klorin, bawa korban ke udara segar, berikan bantuan pernapasan jika diperlukan, dan segera cari pertolongan medis. Cuci mata yang terkena dengan banyak air.
Ringkasan Penutup
Dengan demikian, menghitung kebutuhan klorin untuk 1,5 kg ferrosulfat hanyalah titik awal. Nilai teoritis tersebut harus diterjemahkan ke dalam tindakan operasional yang mempertimbangkan dinamika riil di lapangan. Pemahaman mendalam tentang reaksi, faktor pengaruh, serta prosedur keamanan akan mengubah perhitungan rumit menjadi solusi praktis yang andal. Pada akhirnya, presisi dalam perhitungan kimia ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang menjamin keberlangsungan pasokan air yang aman dan berkualitas bagi masyarakat.
Panduan Tanya Jawab
Apakah klorin adalah satu-satunya oksidator yang bisa digunakan untuk ferrosulfat?
Tidak. Oksidator lain seperti kalium permanganat (KMnO₄), ozon (O₃), atau bahkan oksigen dari udara (aerasi) juga dapat digunakan. Pemilihannya bergantung pada faktor biaya, efisiensi, kemudahan penanganan, dan dampaknya terhadap kualitas air akhir.
Bagaimana jika saya menambahkan klorin berlebihan dari hasil perhitungan teoritis?
Penambahan berlebihan (overdosing) dapat menyebabkan beberapa masalah: terbentuknya produk samping desinfeksi yang tidak diinginkan seperti trihalometan, rasa dan bau klorin pada air, korosi pada perpipaan, serta pemborosan biaya. Klorin sisa yang tinggi juga mungkin perlu dinetralisir sebelum air dibuang.
Apakah hasil perhitungan ini sama untuk semua bentuk klorin (gas, bubuk, cair)?
Perhitungan stoikiometri dasarnya sama karena mengacu pada kandungan klorin aktif (Cl₂). Namun, perhitungan dosis untuk aplikasi praktis harus mempertimbangkan konsentrasi atau kemurnian dari bentuk klorin yang digunakan. Misalnya, untuk kaporit (bubuk) atau sodium hipoklorit (cair), perlu dikonversi dulu menjadi massa ekivalen klorin murni.
Apa yang terjadi pada sulfat (SO₄²⁻) dari ferrosulfat setelah reaksi?
Ion sulfat umumnya tidak terpengaruh dalam reaksi oksidasi ini. Ia akan tetap berada dalam air sebagai ion sulfat terlarut. Perhatian justru lebih pada endapan besi ferri hidroksida (Fe(OH)₃) yang terbentuk, yang kemudian akan dipisahkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.