Kongres Pemuda 2 diadakan di kota mana Jakarta Sejarah Sumpah Pemuda

Kongres Pemuda 2 diadakan di kota mana adalah pertanyaan yang membuka pintu menuju salah satu momen paling bersejarah dalam narasi kebangsaan kita. Jawabannya, tentu saja, adalah Batavia—yang kini kita kenal sebagai Jakarta. Tapi lebih dari sekadar nama kota, lokasi ini adalah panggung di mana semangat persatuan dari berbagai penjuru Nusantara akhirnya menemukan bentuknya yang paling luhur. Bayangkan, di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban kolonial, sekelompok anak muda justru merancang masa depan sebuah bangsa yang bahkan belum ada di peta politik dunia.

Peristiwa monumental itu berlangsung di sebuah gedung di Jalan Kramat Raya 106, yang kala itu menjadi rumah kos untuk para pelajar dan aktivis pergerakan. Suasana Jakarta akhir Oktober 1928 sarat dengan dinamika; di satu sisi, tekanan politik dari pemerintah kolonial Belanda terasa mencekam, namun di sisi lain, gelora untuk bersatu dan berbicara dalam satu suara justru semakin membara. Kongres ini bukanlah yang pertama, melainkan kelanjutan dari upaya serupa di tahun 1926, namun dengan tekad yang jauh lebih matang dan visi yang lebih konkret untuk mempersatukan tanah air, bangsa, dan bahasa.

Latar Belakang dan Konteks Sejarah Kongres Pemuda II

Untuk memahami mengapa Kongres Pemuda II bisa melahirkan ikrar yang begitu monumental, kita perlu menengok ke belakang, ke kondisi Hindia Belanda di akhir dekade 1920-an. Saat itu, meski politik etis telah membuka sedikit ruang pendidikan bagi pribumi, rasa tidak adil dan keinginan untuk menentukan nasib sendiri justru semakin mengkristal. Berbagai organisasi pemuda kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, dan Jong Ambon, telah tumbuh subur.

Namun, mereka masih berjuang dalam sekat-sekat kesukuan dan kedaerahan. Di sinilah benih-benih pemikiran tentang persatuan yang lebih luas mulai bertunas, didorong oleh kesadaran bahwa kolonialisme hanya bisa dilawan dengan satu suara.

Kongres Pemuda II bukanlah sebuah peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ia adalah kelanjutan logis dan pematangan dari Kongres Pemuda Pertama yang diselenggarakan setahun sebelumnya, pada 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia. Jika kongres pertama lebih bersifat exploratif dan belum menghasilkan kesepakatan bulat, terutama mengenai cita-cita persatuan dan bahasa, maka kongres kedua dirancang untuk menjawab tantangan itu. Para pemuda pelajar dari berbagai daerah itu merasa urgensi untuk segera merumuskan sebuah platform bersama yang bisa memayungi seluruh pergerakan.

Tokoh-Tokoh Penggagas dan Panitia Inti

Kongres bersejarah ini digerakkan oleh para pemuda dengan visi yang jauh melampaui zamannya. Soegondo Djojopoespito dari PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) ditunjuk sebagai ketua kongres, sebuah pilihan yang tepat mengingat sifatnya yang moderat dan mampu mempertemukan berbagai kepentingan. Wakil ketua dijabat oleh R.M. Djoko Marsaid dari Jong Java. Panitia pelaksana juga diisi oleh wajah-wajah yang nantinya akan tercatat dalam sejarah, seperti Mohammad Yamin yang menjabat sebagai sekretaris, serta Amir Sjarifuddin dan Djohan Mohammad Tjai yang bertugas di bidang keuangan.

Peran serta Wage Rudolf Supratman dengan biolanya pun telah dipersiapkan untuk memberikan warna tersendiri.

Perbandingan Kongres Pemuda I dan II

Dua kongres ini bagai dua babak dalam satu naskah besar pergerakan nasional. Untuk melihat evolusi pemikiran dan pencapaiannya, berikut tabel perbandingan mendasar antara keduanya.

Kongres Pemuda 2, yang berlangsung di Batavia (sekarang Jakarta), adalah momen bersejarah yang memadatkan semangat persatuan. Nah, dalam ilmu kimia, ada juga ‘unsur’ yang sulit bersatu, seperti gas mulia yang dikenal sebagai Unsur yang tidak dapat membentuk senyawa biner ionik atau kovalen karena konfigurasi elektronnya yang stabil. Mirip, tapi beda konteks, peristiwa di Batavia itu justru berhasil menyatukan berbagai ‘unsur’ bangsa dalam satu ikatan yang kokoh: Sumpah Pemuda.

Aspect Kongres Pemuda I (1926) Kongres Pemuda II (1928)
Tujuan Utama Mencari formula untuk memajukan persatuan antar organisasi pemuda kedaerahan, membahas isu pendidikan, dan memperkuat rasa kebangsaan. Mewujudkan cita-cita persatuan Indonesia dengan merumuskan ikrar bersama yang mencakup tanah air, bangsa, dan bahasa.
Karakter Peserta Didominasi oleh perwakilan organisasi pemuda berdasarkan suku/daerah (seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond). Semangat kedaerahan masih cukup kuat. Masih melibatkan organisasi kedaerahan, tetapi dengan kesadaran persatuan yang lebih matang. Juga melibatkan organisasi seperti PPPI yang bersifat nasional.
Hasil & Pencapaian Mengusulkan pembentukan badan sentral untuk mempersatukan organisasi pemuda (belum terwujud). Mengangkat pentingnya bahasa persatuan, tetapi belum ada kesepakatan. Melahirkan Sumpah Pemuda (Ikrar Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa). Lagu “Indonesia Raya” diperdengarkan untuk pertama kali secara instrumental. Konsensus kuat untuk mengutamakan kepentingan nasional di atas kedaerahan.
BACA JUGA  Sikap Duduk Tanpa Penopang pada Anak Usia Tahap Penting Perkembangan

Lokasi dan Tempat Pelaksanaan

Kongres Pemuda II berlangsung di sebuah gedung yang menjadi saksi bisu lahirnya janji setia terpenting bangsa Indonesia. Lokasinya bukan di kantor pemerintah yang megah, melainkan di sebuah rumah tinggal yang disewakan, mencerminkan sifat pergerakan yang akar rumput namun penuh tekad.

Gedung Jalan Kramat Raya 106

Kongres dilaksanakan di rumah milik seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liang, yang terletak di Jalan Kramat Raya 106, Batavia (sekarang Jakarta). Gedung ini merupakan bangunan berarsitektur Indische Empire, gaya yang populer pada awal abad ke-20, dengan ciri pilar-pilar besar, langit-langit tinggi, dan ventilasi yang lebar untuk menyesuaikan dengan iklim tropis. Pada masa itu, bangunan seperti ini sering disewakan untuk acara-acara pertemuan atau pesta.

Pemilihan tempat yang “biasa” ini justru strategis; ia tidak menarik perhatian berlebihan dari polisi kolonial Belanda yang selalu waspada terhadap pertemuan politik kaum pribumi.

Suasana Batavia Akhir Oktober 1928

Bayangkan Batavia di akhir Oktober 1928: kota ini adalah pusat pemerintahan Hindia Belanda dengan wilayah yang terpisah jelas antara daerah elite Eropa di selatan dan kampung-kampung pribumi. Infrastruktur seperti trem listrik dan jalan beraspal sudah ada, tetapi terbatas di daerah tertentu. Di sekitar Kramat, suasana lebih padat dan hidup dengan aktivitas warga. Peserta kongres yang datang dari berbagai daerah pasti merasakan kontras ini, sekaligus semakin yakin bahwa ketimpangan inilah yang harus diakhiri.

Pertimbangan Strategis Pemilihan Lokasi

Pemilihan Batavia, dan khususnya gedung di Kramat Raya 106, bukanlah tanpa alasan. Beberapa pertimbangan utamanya adalah:

  • Aksesibilitas: Sebagai ibu kota, Batavia menjadi titik temu yang relatif mudah dijangkau oleh perwakilan pemuda dari Jawa, Sumatera, dan lainnya.
  • Faktor Keamanan: Menyelenggarakan acara di rumah pribadi yang disewa dianggap lebih rendah profilnya dibandingkan di gedung pertemuan umum, sehingga mengurangi kecurigaan pemerintah kolonial.
  • Netralitas: Lokasi tersebut tidak dikaitkan secara khusus dengan satu organisasi pemuda tertentu, sehingga menciptakan suasana yang setara bagi semua delegasi.
  • Kapasitas dan Kesesuaian: Gedung tersebut cukup luas untuk menampung puluhan peserta dan memiliki ruang yang memadai untuk sesi pleno dan diskusi komisi.

“Gedung di Kramat 106 itu sederhana, tidak seperti gedung rapat umum. Lantainya dari ubin, dindingnya dicat putih, dan kursi-kursi kayu disusun rapi untuk peserta. Suasana di sekitarnya pada hari-hari kongres tampak seperti biasa, tidak ada pengawalan ketat, sehingga para pemuda bisa berdiskusi dengan lebih leluasa meski tetap waspada.” – Kutipan berdasarkan rekonstruksi sejarah dari berbagai kesaksian panitia.

Peristiwa dan Agenda Selama Kongres

Kongres Pemuda II berlangsung selama dua hari, dari tanggal 27 hingga 28 Oktober 1928. Agenda utamanya padat dengan pembahasan mendalam tentang masa depan bersama. Setiap sesi bukan sekadar formalitas, melainkan arena perdebatan intelektual dan pergulatan emosional untuk mencari titik temu dari keberagaman yang ada.

Jadwal dan Urutan Peristiwa Penting

Hari pertama, Sabtu 27 Oktober, dibuka dengan pidato ketua PPPI, Soegondo, yang menekankan pentingnya kongres ini untuk memperkuat rasa persatuan. Sesi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan tentang pendidikan oleh Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, yang menekankan pendidikan nasional yang harus terjangkau dan menumbuhkan rasa kebangsaan. Hari itu ditutup dengan pidato berapi-api dari Mohammad Yamin tentang arti dan hubungan sejarah persatuan Indonesia. Hari kedua, Minggu 28 Oktober, menjadi puncak yang mendebarkan.

Setelah pembahasan tentang peran perempuan oleh Siti Soendari, kongres memasuki sesi perumusan ikrar. Di sinilah terjadi diskusi seru, terutama mengenai butir bahasa persatuan. Setelah melalui pembahasan yang alot, akhirnya disepakati rumusan “Bahasa Indonesia”. Ikrar Sumpah Pemuda kemudian dibacakan dan disetujui oleh seluruh peserta. Momen haru pun tiba ketika Wage Rudolf Supratman, atas permintaan para peserta, memainkan lagu “Indonesia Raya” dengan biolanya untuk pertama kalinya di depan forum resmi.

Dinamika Diskusi dan Debat

Tidak semua proses berjalan mulus. Perdebatan paling sengit terjadi seputar pemilihan bahasa persatuan. Beberapa delegasi, terutama dari Jawa, mengusulkan bahasa Jawa karena penuturnya paling banyak. Yang lain mengusulkan bahasa Melayu, yang sudah berfungsi sebagai lingua franca di seluruh Nusantara. Mohammad Yamin dengan gigih membela bahasa Melayu, yang dianggap lebih demokratis karena tidak terikat pada hierarki sosial suatu daerah tertentu.

BACA JUGA  Kelompok Hewan Laut Bagian Pohon dan Alat Musik Ditiup Klasifikasinya

Akhirnya, dengan semangat untuk mencari yang paling mempersatukan, disepakatilah bahasa Melayu yang kemudian dinamakan “Bahasa Indonesia”. Debat ini menunjukkan kedewasaan berpikir para peserta; mereka mampu mengesampingkan sentimen kedaerahan untuk kepentingan yang lebih besar.

Rangkuman Topik, Pembicara, dan Reaksi

Sesi / Topik Pembicara Utama Inti Pembahasan Reaksi & Hasil
Pendidikan Nasional Sarmidi Mangoensarkoro Pentingnya sistem pendidikan yang merata, terjangkau, dan nasionalistik untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang bersatu. Disetujui sebagai prinsip perjuangan. Peserta sepakat pendidikan adalah alat utama untuk mencapai cita-cita persatuan.
Sejarah & Persatuan Mohammad Yamin Menelusuri akar sejarah Nusantara untuk membuktikan bahwa persatuan bukanlah hal baru, tetapi sesuatu yang harus dihidupkan kembali. Membangun semangat dan legitimasi historis bagi perjuangan persatuan. Pidatonya sangat mempengaruhi suasana kongres.
Peran Perempuan Siti Soendari Menekankan bahwa perjuangan persatuan dan kemerdekaan juga memerlukan partisipasi aktif kaum perempuan dalam berbagai bidang. Mendapat sambutan baik. Kongres mengakui kontribusi perempuan, meski perjuangan kesetaraan gender masih panjang.
Perumusan Ikrar Tim Perumus (termasuk Yamin) Membahas dan menyepakati rumusan final tentang Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Persatuan. Diskusi alot, terutama tentang bahasa. Akhirnya disepakati dengan suara bulat. Menjadi momen puncak dan paling bersejarah.

Makna dan Dampak dari Sumpah Pemuda

Ikrar yang dibacakan pada penutupan Kongres Pemuda II itu bukan sekadar kata-kata indah. Ia adalah kristalisasi dari sebuah mimpi kolektif yang akhirnya menemukan bentuknya yang paling konkret. Proses perumusannya yang demokratis dan penuh perdebatan justru membuat hasilnya kuat dan bisa diterima oleh semua pihak.

Proses Perumusan dan Pembacaan Ikrar

Rumusan Sumpah Pemuda disusun oleh sebuah tim kecil yang termasuk Mohammad Yamin. Kata-katanya dipilih dengan hati-hati untuk mencakup dimensi spasial (tanah air), dimensi sosial-politik (bangsa), dan dimensi kultural-komunikatif (bahasa). Pada hari Minggu, 28 Oktober 1928, ikrar tersebut dibacakan oleh Soegondo sebagai ketua kongres, dan kemudian diikrarkan bersama oleh seluruh peserta. Suasana saat itu digambarkan sangat khidmat dan penuh emosi. Sebuah prasasti peringatan pun langsung dipersiapkan setelah kongres usai, menunjukkan betapa seriusnya mereka memandang ikrar ini sebagai sebuah titik balik.

Makna Mendalam Setiap Butir Sumpah

Setiap baris dalam Sumpah Pemuda memiliki lapisan makna yang dalam. “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” adalah trilogi yang saling menguatkan. “Tanah Air Indonesia” merujuk pada kesatuan geografis Nusantara dari Sabang sampai Merauke, sebuah konsep yang melampaui batas-batas kerajaan atau daerah asal peserta. “Bangsa Indonesia” adalah deklarasi bahwa identitas bersama sebagai sebuah bangsa yang berdaulat lebih penting daripada identitas kesukuan.

Ini adalah konsep modern yang revolusioner pada masa itu. “Bahasa Indonesia” adalah alat pemersatu yang paling praktis dan strategis; ia menjadi medium untuk membangun imajinasi kebangsaan yang sama melalui pendidikan, sastra, dan komunikasi sehari-hari.

Dampak Langsung dan Jangka Panjang

Dampak langsung Sumpah Pemuda adalah memberikan arah dan platform yang jelas bagi pergerakan nasional. Organisasi-organisasi pemuda mulai lebih intens berkoordinasi, dan semangat persatuan merasuk ke organisasi pergerakan yang lebih tua seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Dalam jangka panjang, Sumpah Pemuda menjadi fondasi ideologis yang kokoh untuk perjuangan kemerdekaan. Ia menjadi rujukan utama dalam perumasan UUD 1945, menjadi semangat yang dipegang selama revolusi fisik, dan akhirnya menjadi roh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lagu “Indonesia Raya” yang pertama kali diperdengarkan di kongres itu pun resmi menjadi lagu kebangsaan.

“Sumpah Pemuda adalah titik di mana ‘Indonesia’ sebagai sebuah proyek politik-budaya yang disadari bersama benar-benar lahir. Sebelumnya ada gagasan, setelahnya ada komitmen. Ikrar itu mengubah wacana menjadi tekad kolektif, dan dari tekad itulah kemudian lahir tindakan-tindakan politik konkret yang akhirnya membawa kita ke Proklamasi 1945.” – Pendapat yang merefleksikan konsensus para sejarawan seperti Benedict Anderson dan Taufik Abdullah.

Warisan dan Peringatan di Masa Kini

Gedung di Jalan Kramat Raya 106 masih berdiri kokoh hingga hari ini, berubah fungsi dari rumah sewaan menjadi Museum Sumpah Pemuda. Ia bukan lagi tempat rahasia, melainkan destinasi publik yang sengaja dikunjungi untuk belajar dan mengenang. Transformasi ini simbolis: dari tempat lahirnya sebuah ikrar bawah tanah, menjadi monumen terbuka yang mengingatkan kita akan janji yang telah diucapkan.

Kondisi Gedung dan Fungsinya Sekarang

Museum Sumpah Pemuda telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk menjaga keasliannya. Pengunjung dapat melihat ruangan utama tempat kongres berlangsung, yang diatur dengan kursi-kursi replika, bendera organisasi peserta, dan foto-foto dokumentasi. Di sana juga tersimpan benda-benda bersejarah seperti biola asli milik W.R. Supratman, naskah asli lagu “Indonesia Raya”, serta prasasti peringatan kongres. Suasana di dalamnya dirancang untuk membawa pengunjung menyelami atmosfer Oktober 1928.

Fungsi utamanya kini adalah edukasi; museum ini menjadi ruang kelas hidup bagi siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk memahami akar persatuan bangsa.

BACA JUGA  Ucing Turun Dulu Filosofi Kesopanan Sunda dalam Tiga Kata

Kegiatan Peringatan di Lokasi Bersejarah

Kongres Pemuda 2 diadakan di kota mana

Source: mediaindonesia.com

Setiap tanggal 28 Oktober, Museum Sumpah Pemuda menjadi pusat dari berbagai upacara dan kegiatan. Beberapa tradisi yang rutin dilaksanakan antara lain:

  • Upacara Bendera: Upacara kenegaraan yang dihadiri oleh Presiden, Wakil Presiden, atau perwakilan pemerintah, serta diikuti oleh ratusan pelajar dan pemuda.
  • Ziarah dan Tabur Bunga: Peletakan karangan bunga di halaman museum dan di depan patung atau relief yang menggambarkan peristiwa Sumpah Pemuda.
  • Pameran Temporer: Menampilkan tema-tema khusus terkait kepemudaan, kebangsaan, atau sejarah pergerakan.
  • Pentas Seni dan Diskusi: Menampilkan pertunjukan musik, teatrikal, atau dialog interaktif yang mengangkat nilai-nilai Sumpah Pemuda.
  • Napak Tilas: Kegiatan jalan kaki mengikuti rute sejarah yang terkait dengan kongres, sering diikuti oleh komunitas dan pelajar.

Nilai-Nilai yang Tetap Relevan

Di tengah tantangan globalisasi dan fragmentasi sosial di era digital, nilai-nilai Kongres Pemuda II justru semakin relevan. Semangat untuk berdialog mencari titik temu di tengah perbedaan latar belakang (suku, agama, daerah) adalah pelajaran utama. Kemampuan untuk mengutamakan kepentingan nasional yang lebih besar di atas kepentingan kelompok atau golongan adalah sikap yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa saat ini. Selain itu, komitmen untuk menggunakan Bahasa Indonesia yang baik sebagai alat pemersatu dan kemauan untuk berkontribusi sesuai bidang masing-masing (seperti yang dilakukan para pemuda 1928 dari disiplin yang berbeda) adalah teladan yang konkret bagi generasi Z dan Alpha.

Evolusi Peringatan Sumpah Pemuda, Kongres Pemuda 2 diadakan di kota mana

Cara bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda telah berevolusi seiring perubahan rezim dan konteks sosial politik. Tabel berikut membandingkan corak peringatan pada tiga periode penting.

Periode Konteks Politik Corak Peringatan Penekanan Pesan
Masa Kolonial (setelah 1928) Tekanan dan pengawasan dari pemerintah Hindia Belanda. Bersifat tertutup, dalam lingkup internal organisasi pergerakan. Lebih pada refleksi dan konsolidasi internal. Sebagai momentum penyemangat dan penguatan solidaritas internal pergerakan nasional yang masih bawah tanah.
Orde Baru (1966-1998) Stabilitas nasional, pembangunan ekonomi, dan kontrol negara yang kuat. Upacara kenegaraan yang sangat formal, seragam, dan terpusat. Diisi dengan pidato resmi dan penampilan massal yang teratur. Kepatuhan, disiplin nasional, dan kontribusi pemuda dalam pembangunan. Sering dikaitkan dengan program negara seperti KB dan P4.
Era Reformasi (1998-sekarang) Demokratisasi, desentralisasi, kebebasan berekspresi, dan kemajuan teknologi. Lebih beragam dan partisipatif. Selain upacara resmi, banyak digelar diskusi publik, festival seni, kampanye media sosial, dan aksi sosial oleh komunitas. Keberagaman, kreativitas, toleransi, serta peran pemuda dalam mengawal demokrasi, HAM, dan mengatasi masalah kontemporer seperti hoaks dan intoleransi.

Kesimpulan Akhir

Jadi, ketika kita bertanya “Kongres Pemuda 2 diadakan di kota mana?”, jawaban geografisnya memang Jakarta. Namun, makna sejatinya terletak pada ruang imajinasi bersama yang diciptakan para pemuda di sana—sebuah ruang yang melampaui batas geografi pulau dan etnis. Gedung di Kramat Raya 106 itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan kapsul waktu yang menyimpan detik-detik ketika identitas Indonesia dirumuskan dengan penuh kesadaran.

Warisannya masih hidup, mengingatkan kita bahwa persatuan bukanlah sesuatu yang given, melainkan sebuah proyek yang harus terus diperjuangkan, dirawat, dan dihidupi dalam tindakan sehari-hari oleh setiap generasi.

Jawaban untuk Pertanyaan Umum: Kongres Pemuda 2 Diadakan Di Kota Mana

Apakah ada kontroversi atau penolakan selama perumusan Sumpah Pemuda di Kongres Pemuda II?

Ya, ada dinamika dan perdebatan sengit, terutama terkait penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan. Beberapa perwakulan dari daerah yang memiliki bahasa dan sastra kuat, seperti Jawa dan Sunda, sempat mengusulkan bahasa daerahnya. Namun, setelah melalui diskusi yang panjang, akhirnya disepakati bahwa bahasa Melayu-lah yang paling memenuhi syarat sebagai lingua franca yang dapat mempersatukan seluruh Nusantara.

Bagaimana kondisi gedung tempat kongres setelah acara selesai, apakah langsung dijadikan museum?

Kongres Pemuda 2 yang melahirkan Sumpah Pemuda ternyata digelar di Jakarta, tepatnya di Jalan Kramat Raya 106. Sejarah ini bisa kita baca seperti sebuah puisi yang penuh semangat, di mana Unsur Puisi yang Mengungkap Perasaan dan Pikiran Penyair —seperti tema dan nada—secara akademis mencerminkan gejolak jiwa para pemuda saat itu. Jadi, momentum bersejarah di Jakarta itu bukan sekadar rapat, melainkan lanskap emosi yang diabadikan menjadi ikrar persatuan.

Tidak langsung. Gedung di Kramat Raya 106 tetap berfungsi sebagai rumah kos dan mengalami beberapa kali perubahan kepemilikan serta fungsi. Baru pada tahun 1973, gedung ini direnovasi dan diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, untuk mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut.

Apakah semua peserta kongres hadir secara fisik di gedung utama, atau ada yang mengikuti dari luar?

Seluruh peserta hadir secara fisik di dalam gedung. Kongres Pemuda II dirancang sebagai pertemuan tatap muka yang intens selama dua hari (27-28 Oktober 1928) untuk memungkinkan diskusi dan pengambilan keputusan yang solid. Tidak ada konsep daring atau delegasi virtual seperti sekarang, kehadiran fisik dan komitmen penuh adalah mutlak.

Mengapa dipilih tanggal 28 Oktober sebagai puncak acara dan pembacaan Sumpah Pemuda, apakah ada makna khusus?

Tanggal 28 Oktober dipilih secara praktis sebagai hari terakhir rangkaian kongres yang berlangsung dua hari. Tidak ada makna simbolis khusus seperti hari besar lainnya. Justru, keputusan penting seperti Sumpah Pemuda sengaja ditempatkan di akhir acara sebagai klimaks dari seluruh proses diskusi dan perdebatan yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa ikrar tersebut adalah hasil konsensus matang, bukan sesuatu yang dipaksakan di awal.

Leave a Comment