Kurangnya peran OKI dalam dinamika politik dunia bukan sekadar isu yang terpendam di ruang sidang, melainkan sebuah realitas yang terus menggerus pengaruh kolektif 57 negara anggotanya di panggung global. Organisasi yang didirikan dengan semangat solidaritas dan pembelaan terhadap Palestina serta Masjid Al-Aqsa itu, kini kerap terdengar sayup-sayup suaranya ketika berhadapan dengan kompleksitas geopolitik modern. Bayangkan sebuah entitas yang mewakili lebih dari seperempat populasi dunia, namun suaranya seperti teredam di tengah hiruk-pikuk persaingan negara-negara adidaya dan blok-blok kekuatan regional lainnya.
Dari konflik yang berkepanjangan di tanah Palestina hingga krisis kemanusiaan di berbagai penjuru dunia Muslim, harapan akan peran aktif OKI sering kali berakhir pada pernyataan-pernyataan diplomatik yang minim implementasi nyata. Kesenjangan antara potensi yang dimiliki dan realitas pengaruh yang dihasilkan menciptakan sebuah paradoks yang menarik untuk dikulik. Bagaimana sebuah organisasi dengan sumber daya dan cakupan geografis yang begitu luas bisa tersandung oleh perbedaan kepentingan internal dan struktur pengambilan keputusan yang lamban, menjadi pertanyaan kunci yang menggambarkan dilema OKI saat ini.
Peran Historis dan Potensi OKI
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) lahir dari api keprihatinan yang membara. Didirikan pada 1969, tepatnya pasca peristiwa pembakaran Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, organisasi ini dibangun dengan semangat solidaritas untuk membela hak-hak dan kepentingan dunia Islam. Tujuan awalnya mulia: menjadi wadah kolektif yang memperjuangkan kedaulatan Palestina, melindungi situs-situs suci, dan memajukan solidaritas politik di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim. Dalam bayangan pendirinya, OKI diharapkan menjadi kekuatan penyeimbang dalam politik global yang saat itu didominasi oleh Perang Dingin.
Namun, jalan dari cita-cita menuju realitas ternyata berliku. Potensi besar yang dimiliki OKI, dengan 57 negara anggota yang tersebar di empat benua dan menguasai sumber daya strategis, seringkali tidak teraktualisasi dalam pengaruh nyata. Organisasi ini kerap gagal bertindak sebagai mediator yang efektif dalam konflik internal sesama anggotanya, seperti perseteruan Arab Saudi dan Iran, atau konflik di Yaman. Suara kolektifnya sering terdengar lirih ketika berhadapan dengan kepentingan nasional yang saling berbenturan di antara negara-negara anggotanya sendiri.
Catatan Keterlibatan OKI dalam Beberapa Peristiwa Politik
Tabel berikut mengilustrasikan kontras antara harapan dan realitas peran OKI dalam beberapa momen penting sejarah dunia Islam. Data ini menunjukkan pola di mana OKI lebih aktif dalam merespons isu-isu yang melibatkan pihak eksternal (seperti Israel) dibandingkan konflik internal yang kompleks.
| Periode Waktu | Peristiwa Politik Besar | Keterlibatan OKI | Hasil yang Dicapai |
|---|---|---|---|
| 1979-1989 | Invasi Soviet ke Afghanistan | Mengeluarkan resolusi kutukan dan memberikan dukungan politik serta pengakuan kepada mujahidin Afghanistan. | Berkontribusi pada tekanan diplomatik global, tetapi peran militer dan politik utama dipegang oleh AS dan Pakistan. |
| 1990-1991 | Invasi Irak ke Kuwait | Terpecah belah. Sebagian anggota (seperti negara-negara GCC) mendukung koalisi pimpinan AS, sementara lainnya (seperti Yordania, Yaman) bersimpati pada Irak. | Mengalami kegagalan menjaga solidaritas internal. Tidak ada tindakan kolektif dari OKI sebagai organisasi. |
| 2011-sekarang | Perang Saudara Suriah | Mensponsori resolusi di PBB, menangguhkan keanggotaan Suriah, dan mendukung oposisi. Namun, sikap negara anggota terpolarisasi antara blok pro dan anti-Assad. | Minim dampak dalam menghentikan konflik. Kebuntuan internal OKI mencerminkan kebuntuan di lapangan. |
| 2017-sekarang | Krisis Qatar (Pengepungan oleh Arab Saudi, UAE, dll.) | Upaya mediasi oleh Turki dan Kuwait, tetapi OKI sebagai institusi tidak dapat bertindak efektif karena konflik melibatkan anggota inti dan donor utama. | Krisis diselesaikan melalui diplomasi bilateral dan tekanan regional di luar kerangka OKI. |
Faktor Internal yang Membatasi Pengaruh: Kurangnya Peran OKI Dalam Dinamika Politik Dunia
Kelemahan OKI dalam panggung dunia bukan semata-mata karena tekanan eksternal, melainkan juga karena borok dalam tubuhnya sendiri. Organisasi yang beranggotakan monarki absolut, republik Islam, dan negara sekuler ini secara alami memiliki DNA kepentingan yang berbeda-beda, bahkan sering bertolak belakang.
Fragmentasi Kepentingan Politik dan Ekonomi
Spektrum kepentingan di tubuh OKI sangatlah lebar. Arab Saudi dan Iran, misalnya, bukan hanya bersaing secara geopolitik tetapi juga mewakili aliran Islam yang berbeda. Negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi dan UAE memiliki agenda ekonomi dan keamanan yang sangat terkait dengan Barat, sementara negara miskin seperti Niger atau Bangladesh lebih fokus pada isu pembangunan dan bantuan. Perbedaan mendasar ini membuat sulit tercapainya konsensus yang kuat dan berkelanjutan, kecuali pada isu-isu simbolis seperti Palestina yang telah menjadi common cause.
Ketergantungan Finansial dan Kedaulatan Terbatas
Banyak negara anggota OKI, termasuk beberapa yang paling berpengaruh, memiliki ketergantungan struktural pada kekuatan di luar organisasi. Keamanan negara-negara Teluk, misalnya, sangat bergantung pada aliansi militer dengan Amerika Serikat. Sementara itu, bantuan ekonomi dan program stabilisasi dari lembaga seperti IMF sering kali menjadi penopang bagi anggota lainnya. Ketergantungan ini secara praktis membatasi ruang gerak dan otonomi kebijakan luar negeri mereka, sehingga suara kolektif OKI sering kali diredam oleh pertimbangan hubungan bilateral yang lebih vital dengan negara-negara besar tersebut.
Kendala Struktural dalam Pengambilan Keputusan
Struktur pengambilan keputusan OKI yang berdasarkan konsensus (musyawarah untuk mufakat) justru menjadi bumerang dalam situasi krisis yang membutuhkan respons cepat dan tegas. Satu negara saja dapat memveto atau melunakkan resolusi yang penting. Selain itu, Sekretariat Jenderal OKI memiliki otoritas dan sumber daya yang terbatas dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki negara-negara anggota utama. Pada akhirnya, OKI lebih sering menjadi forum untuk menyatakan posisi daripada mesin penggerak aksi kolektif yang terkoordinasi.
Dinamika Politik Global dan Posisi OKI
Peta politik global pasca-Perang Dingin, dan terutama dalam dua dekade terakhir, ditandai dengan persaingan strategis antara Amerika Serikat, China, dan Rusia. Dalam arena besar ini, organisasi regional seperti OKI sering kali terjepit atau dimanfaatkan sebagai alat untuk kepentingan kekuatan-kekuatan tersebut, alih-alih menjadi aktor independen.
Peminggiran dalam Persaingan Blok Global
Isu-isu yang menjadi perhatian utama dunia Islam, seperti konflik di Suriah atau Yaman, dengan cepat diinternasionalisasi dan menjadi proxy war bagi kepentingan negara-negara besar. OKI tidak memiliki leverage yang cukup untuk mendikte jalannya perundingan atau menjadi penengah utama. Suaranya sering kali hanya menjadi salah satu dari banyak suara dalam keriuhan diplomasi global, dan jarang menjadi penentu.
Suara Kolektif yang Tersamar di Forum Dunia
Di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), blok OKI secara nominal memiliki jumlah suara yang signifikan. Namun, dalam pemungutan suara yang krusial, solidaritas ini mudah pecah. Contoh nyata adalah sikap terhadap invasi Rusia ke Ukraina. Sebagian anggota OKI (seperti Albania dan Kuwait) mengutuk Rusia, sementara lainnya (seperti Pakistan dan Sudan) bersikap abstain atau bahkan mendekati Moskow. Perpecahan seperti ini membuat “suara dunia Islam” menjadi konsep yang abstrak dan tidak operasional dalam tataran kebijakan PBB yang konkret.
Isu Global dengan Posisi Resmi Minim Implementasi
OKI telah mengeluarkan banyak deklarasi dan rencana aksi mengenai berbagai isu penting. Namun, jurang antara deklarasi dan implementasi terlihat sangat lebar dalam beberapa kasus berikut:
- Penodaan Agama: OKI secara konsisten mendorong adopsi resolusi di PBB untuk melawan penodaan agama. Namun, upaya ini tidak diikuti dengan program edukasi global yang komprehensif dari negara-negara anggota untuk mempromosikan pemahaman antariman.
- Islamofobia: Meski telah membentuk observatorium untuk memantau Islamofobia, laporan-laporannya jarang diterjemahkan menjadi tekanan diplomatik yang sistematis terhadap pemerintah di negara-negara di mana fenomena ini meningkat.
- Pembangunan Ekonomi: Rencana aksi untuk kerjasama ekonomi dan perdagangan preferensial among member states (Trade Preferential System among OIC Member States) progresnya sangat lamban, tertutup oleh perjanjian bilateral dengan negara-negara non-Muslim.
- Krisis Pengungsi Muslim: Resolusi untuk membantu pengungsi Rohingya atau Palestina sangat bergantung pada sumbangan sukarela beberapa negara anggota, tanpa mekanisme pendanaan dan distribusi bantuan yang terlembaga dan berkelanjutan di tingkat organisasi.
Studi Kasus: Respons OKI terhadap Isu Kontemporer
Ujian terberat bagi klaim solidaritas sebuah organisasi adalah saat menghadapi penderitaan langsung dari komunitas yang diklaim dibelanya. Respons OKI terhadap konflik Palestina dan krisis Rohingya menjadi cermin yang jujur atas kapasitas dan keterbatasannya.
Respons terhadap Palestina dan Rohingya
Pada isu Palestina, OKI memiliki rekam jejak yang panjang dan konsisten dalam hal dukungan politik dan diplomatik. Organisasi ini menjadi sponsor utama resolusi-resolusi pro-Palestina di PBB. Namun, dukungan ini belum berhasil mengubah realitas pendudukan di lapangan. Sementara itu, dalam kasus Rohingya di Myanmar, OKI melakukan tekanan diplomatik dan mengirimkan misi kemanusiaan. Akan tetapi, pengaruhnya terhadap pemerintah Myanmar sangat minim, dan beban terbesar penanganan pengungsi justru jatuh pada satu negara anggota: Bangladesh.
Perbandingan dengan Organisasi Regional Lain
Respons ini kontras dengan tindakan organisasi regional lain. ASEAN, di mana Myanmar adalah anggota, menerapkan prinsip non-interferensi yang ketat, sehingga aksinya lebih lambat dan hati-hati. Di sisi lain, Uni Afrika memiliki mekanisme yang lebih tegas untuk menangguhkan keanggotaan negara yang mengalami kudeta, menunjukkan tingkat enforcement internal yang lebih tinggi. OKI berada di tengah-tengah: lebih vokal dari ASEAN tetapi kurang memiliki instrumen enforcement seperti Uni Afrika, terutama karena kompleksitas hubungan antaranggota yang lebih besar.
Kesenjangan Pernyataan dan Aksi dalam Komunikasi Resmi, Kurangnya peran OKI dalam dinamika politik dunia
Pernyataan-pernyataan resmi OKI sering kali mengandung retorika yang kuat, tetapi perlu dibaca dengan kritis.
“OKI menegaskan kembali dukungannya yang teguh dan berdiri di pihak rakyat Palestina dalam perjuangan sah mereka untuk memperoleh hak-hak nasional mereka yang tidak dapat dicabut, termasuk hak untuk menentukan nasib sendiri dan kembalinya pengungsi.”
Kurangnya peran OKI dalam dinamika politik global seringkali diibaratkan seperti arus listrik yang lemah, tidak cukup kuat untuk menggerakkan perubahan signifikan. Prinsip ini dapat dianalogikan dengan rumus dasar kelistrikan, sebagaimana dijelaskan dalam analisis Hitung Arus Lampu 20 Ω Saat Tegangan Naik dari 6 V ke 12 V , di mana peningkatan tegangan berbanding lurus dengan kuat arus. Demikian halnya, tanpa ‘tegangan’ politik yang memadai dari negara-negara anggotanya, pengaruh dan ‘arus’ diplomasi OKI di panggung dunia pun tetap stagnan dan kurang terdengar.
Dari berbagai komunike KTT OKI.
Analisis kesenjangan: Pernyataan ini diulang puluhan tahun, namun tidak ada mekanisme kolektif OKI untuk menerapkan sanksi ekonomi yang nyata terhadap Israel atau untuk memaksa implementasi resolusi PBB. Dukungan “teguh” lebih banyak termanifestasi dalam kata-kata daripada dalam tindakan terukur yang mengubah kalkulus politik pihak lawan.
“OKI menyerukan kepada pemerintah Myanmar untuk mengambil tindakan segera untuk menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap minoritas Rohingya.”
Pernyataan Sekjen OKI, 2017.
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sering dinilai kurang memiliki peran signifikan dalam dinamika politik global, seolah memilih untuk bertahan dengan strategi reaktif. Mirip seperti Bunglon mengubah warna tubuhnya agar tidak terlihat pemangsa , sikap defensif ini justru membuat visibilitas dan pengaruh organisasi memudar di kancah internasional. Tanpa inisiatif strategis yang lebih ofensif, OKI berisiko terus tersisih dalam percaturan kekuatan dunia yang semakin kompleks.
Analisis kesenjangan: Seruan ini tidak memiliki gigi. OKI tidak memiliki leverage ekonomi atau politik yang signifikan terhadap Myanmar, yang bukan anggotanya dan lebih dekat dengan China. Seruan tersebut pada dasarnya hanya masuk ke ruang kosong, tanpa disertai strategi untuk melibatkan aktor-aktor kunci seperti China atau ASEAN yang sebenarnya memiliki pengaruh.
Dampak terhadap Negara Anggota dan Dunia Muslim
Minimnya peran efektif OKI bukanlah fenomena yang terjadi di ruang hampa. Ia memiliki konsekuensi riil, baik bagi stabilitas internal negara-negara anggotanya maupun bagi citra dan agensi kolektif dunia Muslim di mata internasional.
Konsekuensi terhadap Stabilitas Internal Negara Anggota
Ketika konflik pecah di sebuah negara anggota, seperti perang saudara di Yaman atau ketegangan di Kashmir, harapan sering kali tertuju pada OKI sebagai mediator yang netral. Namun, ketidakmampuan OKI untuk turun tangan secara efektif—karena terbelah oleh dukungan anggota terhadap pihak-pihak yang bertikai—membiarkan konflik berkepanjangan dan memperdalam penderitaan masyarakat. Hal ini pada gilirannya dapat merusak legitimasi pemerintah yang berkuasa dan menciptakan ruang bagi aktor non-negara atau intervensi asing untuk masuk.
Persepsi Dunia terhadap Kesatuan Dunia Muslim
Dinamika internal OKI yang sering terlihat pecah dan tidak kompak memproyeksikan citra dunia Muslim yang terfragmentasi dan tidak memiliki kepemimpinan kolektif. Dalam diplomasi global, pihak lain dengan mudah melakukan “forum shopping” atau “divide et impera”, mendekati negara anggota OKI secara individual alih-alih berurusan dengan organisasi tersebut sebagai satu kesatuan. Hal ini melemahkan daya tawar kolektif dan memperkuat narasi bahwa dunia Islam adalah objek, bukan subjek, dalam politik global.
Harapan dan Realitas Dukungan OKI bagi Anggota
Tabel berikut memberikan gambaran spesifik tentang bagaimana berbagai negara anggota menghadapi tantangan dan respons yang mereka dapatkan—atau tidak dapatkan—dari OKI.
| Contoh Negara Anggota | Tantangan Politik Utama | Dukungan yang Diharapkan dari OKI | Realitas yang Diterima |
|---|---|---|---|
| Palestina | Pendudukan Israel, pemukiman ilegal, blokade Gaza. | Dukungan diplomatik penuh, tekanan ekonomi kolektif terhadap Israel, dan mekanisme bantuan yang terlembaga. | Dukungan diplomatik kuat di forum internasional, tetapi tanpa alat tekanan ekonomi yang efektif. Bantuan bersifat sukarela per negara. |
| Yaman | Perang saudara yang telah diinternasionalisasi, krisis kemanusiaan terburuk di dunia. | Mediasi netral yang mempertemukan pihak-pihak bertikai, dan koordinasi bantuan kemanusiaan. | OKI terbelah dengan beberapa anggota utama (KSA, UAE) terlibat langsung dalam konflik. Mediasi lebih banyak dilakukan oleh PBB atau negara individu. |
| Kashmir (klaim Pakistan) | Sengketa wilayah dengan India, pelanggaran HAM yang dilaporkan. | Advokasi internasional yang kuat, tekanan politik terhadap India, dan penyediaan platform untuk menyuarakan isu. | Pernyataan dukungan politik rutin dari OKI dan Pakistan, tetapi tidak mampu mengubah status quo atau menarik intervensi internasional yang berarti. |
| Mali | Ancaman milisi jihadis, ketidakstabilan politik pasca-kudeta. | Dukungan keamanan dan kontraterorisme, serta bantuan untuk konsolidasi pemerintahan. | Bantuan dan intervensi keamanan lebih banyak datang dari mantan penjajah Prancis, operasi PBB (MINUSMA), dan kelompok negara Sahel. Peran OKI sangat marginal. |
Skenario dan Potensi Perubahan di Masa Depan
Meski tampak suram, masa depan OKI tidak harus statis. Relevansinya masih bisa dibangkitkan melalui kombinasi reformasi internal yang berani dan kapitalisasi terhadap peluang eksternal. Titik baliknya terletak pada kemauan politik dari negara-negara anggota inti untuk sedikit mengesampingkan kepentingan sempit jangka pendek demi kekuatan kolektif jangka panjang.
Skenario Peningkatan Relevansi melalui Reformasi Internal
Skenario yang paling mungkin adalah evolusi bertahap. OKI dapat meningkatkan relevansinya jika mampu beralih dari sekadar “konferensi seremonial” menjadi organisasi yang berorientasi pada proyek dan solusi. Ini membutuhkan reformasi di bidang pengambilan keputusan, misalnya dengan menerapkan voting mayoritas kualifikasi pada isu-isu kemanusiaan dan perdamaian, bukan konsensus mutlak. Penguatan Sekretariat Jenderal dengan mandat dan sumber daya yang lebih jelas untuk mediasi dan monitoring juga krusial.
Faktor Eksternal yang Membuka Peluang
Source: reporter.id
Pergeseran global menuju multipolaritas sebenarnya bisa menjadi peluang. Ketika kekuatan besar seperti AS, China, dan Rusia saling bersaing, ruang untuk organisasi regional seperti OKI untuk melakukan manuver dan menjadi mitra yang dibutuhkan justru terbuka. Misalnya, OKI dapat memposisikan diri sebagai mitra yang stabil dalam menjaga keamanan energi dan jalur perdagangan, atau sebagai blok pemilih yang kohesif dalam negosiasi global tentang perubahan iklim dan tata kelola digital, dengan syarat bisa menyatukan suara.
Langkah Operasional Memperkuat Diplomasi Kolektif
Sekretariat Jenderal OKI, dengan dukungan negara anggota, dapat mengambil beberapa langkah konkret untuk mentransformasi potensi menjadi pengaruh:
- Membentuk Unit Krisis dan Mediasi Permanen yang terdiri dari diplomat-diplomat senior dan ahli dari negara anggota. Unit ini memiliki mandat untuk langsung diterjunkan ke lokasi konflik atas undangan pihak yang bertikai, sebelum konflik meluas dan diinternasionalisasi.
- Mengembangkan Sistem Peringatan Dini yang mengintegrasikan data politik, sosial, dan ekonomi dari negara anggota untuk mengidentifikasi potensi konflik atau krisis kemanusiaan, sehingga OKI dapat bertindak preventif, bukan reaktif.
- Menciptakan Dana Abadi (Endowment Fund) untuk Kemanusiaan dan Pembangunan yang dikelola secara profesional, bukan mengandalkan sumbangan ad-hoc. Dana ini digunakan untuk respons cepat bencana dan program pembangunan di negara anggota termiskin, meningkatkan ketahanan dan loyalitas.
- Menyelenggarakan Pemilihan Rutin dan Kompetitif untuk Sekjen OKI dengan masa jabatan tunggal yang lebih panjang, untuk memastikan kepemimpinan yang independen dan visioner, bukan sekadar hasil pembagian kursi di antara kekuatan regional.
- Mengintensifkan Diplomasi Parlemen dan Masyarakat Sipil dengan membentuk jaringan kuat antar-parlemen negara anggota dan melibatkan organisasi masyarakat sipil dalam penyusunan agenda, agar kebijakan OKI lebih grounded dan memiliki dukungan publik yang luas.
Ulasan Penutup
Pada akhirnya, relevansi OKI di masa depan tidak akan ditentukan oleh jumlah negara anggotanya atau ketinggian menara sekretariatnya di Jeddah, melainkan oleh kemampuannya untuk bertransformasi. Transformasi dari forum retorika menjadi kekuatan diplomasi yang kohesif dan efektif. Dunia yang semakin multipolar sebenarnya membuka jendela peluang, di mana suara kolektif dari Global South bisa menjadi penyeimbang. Namun, peluang itu hanya akan menjadi kenangan manis jika internalisasi reformasi, mulai dari penyederhanaan birokrasi hingga penyelarasan agenda, tidak segera diwujudkan.
Masa depan peran OKI terletak pada pilihannya hari ini: tetap menjadi penonton yang terhormat, atau bangkit menjadi aktor yang diperhitungkan dalam peta politik dunia.
Daftar Pertanyaan Populer
Apakah ada contoh di mana OKI justru berhasil memainkan peran yang signifikan?
Ya, meski terbatas. Pada masa lalu, OKI relatif cukup vokal dan berperan dalam mengkampanyekan boikot terhadap Israel pasca-Perang Yom Kippur 1973 dan dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Bosnia di awal 1990-an. Namun, keberhasilan tersebut sering kali masih bersifat politis dan deklaratif, dibandingkan dengan intervensi operasional yang langsung mengubah situasi di lapangan.
Bagaimana peran individu negara anggota besar seperti Arab Saudi dan Turki mempengaruhi efektivitas OKI?
Dalam dinamika politik global, peran Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sering dinilai kurang signifikan, ibarat parabola yang puncaknya tak terlampaui. Mirip seperti kurva pada Gambar Grafik Fungsi y = -x² + 8x – 15 yang mencapai titik optimum lalu menurun, pengaruh OKI seakan memudar setelah momentum tertentu. Analisis ini menunjukkan bahwa tanpa strategi yang lebih kohesif dan progresif, posisi organisasi tersebut dalam percaturan dunia akan terus berada di ‘lengkungan’ yang kurang berdampak, jauh dari puncak pengaruh yang diharapkan.
Pengaruhnya sangat besar dan sering kali menjadi faktor pembatas. Arab Saudi sebagai penyandang dana terbesar memiliki pengaruh kuat dalam agenda, sementara Turki dengan ambisi geopolitiknya sendiri kadang memiliki pendekatan yang berbeda. Kompetisi dan perbedaan prioritas antara negara-negara anggota besar ini sering membuat OKI sulit menghasilkan kebijakan yang benar-benar solid dan independen, karena keputusan akhir kerap mencerminkan kompromi atau dominasi kepentingan negara tertentu.
Apakah masyarakat di negara-negara anggota OKI peduli dengan kinerja organisasi ini?
Secara umum, kesadaran dan ekspektasi publik bervariasi. Di negara-negara yang sedang mengalami konflik atau krisis, seperti Palestina atau Rohingya, harapan terhadap OKI masih tinggi meski mulai memudar karena kekecewaan yang berulang. Sementara di negara anggota yang lebih stabil, OKI sering dipandang sebagai organisasi elit yang jauh dari urusan sehari-hari masyarakat, sehingga tingkat kepedulian dan tekanan publik untuk reformasi cenderung rendah.
Bagaimana posisi OKI dibandingkan dengan organisasi regional lain seperti Uni Afrika atau ASEAN dalam hal pengaruh global?
OKI sering kali dianggap kurang kohesif dan kurang efektif dibandingkan dengan Uni Afrika atau ASEAN. Meski memiliki cakupan yang lebih luas, kedua organisasi regional tersebut umumnya lebih mampu menyepakati posisi bersama dan bertindak secara kolektif untuk kepentingan anggotanya, seperti dalam negosiasi perdagangan atau penanganan krisis regional. OKI, dengan keragaman dan kompleksitas kepentingan anggotanya yang ekstrem, lebih sulit mencapai tingkat solidaritas operasional yang sama.