Menentukan Nilai a Grafik Kuadrat Menyentuh Sumbu X di Titik Maksimum

Menentukan Nilai a pada Grafik Kuadrat Menyentuh Sumbu X di Titik Maksimum itu seperti menemukan resep rahasia untuk parabola yang sempurna. Bayangkan, puncak tertinggi grafikmu justru bersandar lembut pada sumbu X, cuma sentuhan, tanpa memotong. Situasi spesial ini nggak cuma sekadar teori, tapi punya logika matematis yang cantik banget untuk kita telusuri bareng-bareng.

Kita akan mengupas tuntas syarat-syaratnya, mulai dari memahami peran sentral si koefisien ‘a’ yang negatif, hingga kondisi diskriminan nol yang bikin grafik cuma menyinggung. Dengan contoh dan visualisasi, kamu akan melihat bagaimana semua elemen—titik puncak, sumbu X, dan nilai a—berkaitan erat dalam sebuah harmoni aljabar yang memesona.

Konsep Dasar Grafik Fungsi Kuadrat dan Titik Maksimum

Sebelum kita menyelami cara menentukan nilai a, mari kita sepakati dulu bahasanya. Fungsi kuadrat itu punya bentuk standar yang familiar: f(x) = ax² + bx + c. Di sini, si a adalah bintang utamanya. Dia yang menentukan arah dan “keceriaan” parabola kita. Kalau a > 0, parabola akan tersenyum lebar membuka ke atas.

Sebaliknya, kalau a < 0, parabola akan cemberut membuka ke bawah. Nah, kasus kita kali ini spesial: kita bicara tentang titik maksimum, yang artinya puncak tertinggi grafik. Itu hanya mungkin terjadi saat parabola cemberut, alias a harus bernilai negatif.

Titik maksimum ini, sebut saja koordinatnya (h, k), adalah puncak gunung pada grafik kita. Sekarang, bagaimana hubungan grafik ini dengan sumbu X? Itu ditentukan oleh diskriminan (D), yang rumusnya D = b²
-4ac
. Diskriminan ini seperti detektor hubungan sosial parabola dengan sumbu X.

Ada tiga kemungkinan: memotong di dua titik (D > 0), tidak menyentuh sama sekali (D < 0), atau yang paling intim: menyinggung di satu titik (D = 0). Kondisi menyinggung inilah yang akan jadi fokus utama kita, terlebih lagi ketika titik singgungnya itu sendiri adalah titik maksimum. Untuk memudahkan, lihat tabel perbandingan di bawah ini.

Kondisi Diskriminan Nilai Diskriminan Posisi Grafik terhadap Sumbu X Nilai Koefisien a
D > 0 Positif Memotong di dua titik berbeda a bisa positif atau negatif
D = 0 Nol Menyinggung di satu titik a bisa positif atau negatif
D < 0 Negatif Tidak menyentuh/memotong a bisa positif atau negatif

Kondisi Grafik Menyinggung Sumbu X di Titik Puncak, Menentukan Nilai a pada Grafik Kuadrat Menyentuh Sumbu X di Titik Maksimum

Menentukan Nilai a pada Grafik Kuadrat Menyentuh Sumbu X di Titik Maksimum

BACA JUGA  Arti Bestie Lebih Dari Sekadar Teman Biasa

Source: amazonaws.com

Sekarang kita kombinasikan dua ide besar tadi. Kita ingin parabola yang cemberut (a < 0) dan hanya menyentuh sumbu X di satu titik tepat di puncaknya. Ini adalah skenario spesial dari kondisi menyinggung. Secara matematis, dua syarat mutlak harus terpenuhi bersamaan:

  • Syarat 1: Diskriminan harus nol (D = 0). Ini memastikan grafik hanya menyentuh sumbu X di satu titik.
  • Syarat 2: Ordinat titik puncak harus nol (k = 0). Karena titik puncak itu sendiri yang menyentuh sumbu X, maka nilai y-nya (k) pasti 0.

Kalau dipikir-pikir, ini sangat logis. Titik puncak kita adalah (h, k). Jika titik ini berada persis di sumbu X, maka otomatis nilai k-nya 0, jadi koordinatnya menjadi (h, 0). Karena hanya ada satu titik potong dengan sumbu X (yaitu titik ini), maka diskriminan harus nol. Dua kondisi ini saling mengunci.

Untuk memastikan sebuah titik maksimum berada di sumbu X, langkah-langkah pemeriksaannya adalah:

  • Pastikan koefisien a < 0 (parabola terbuka ke bawah).
  • Hitung ordinat titik puncak (k) menggunakan rumus k = f(h) atau k = -(D/(4a)).
  • Verifikasi bahwa nilai k tersebut sama dengan 0.
  • Sebagai konsekuensinya, diskriminan D juga akan bernilai 0.

Menurunkan Rumus dan Persamaan untuk Menentukan Nilai a

Bagaimana kita memanfaatkan syarat-syarat tadi untuk mengungkap nilai misterius si a? Kita mulai dari rumus titik puncak. Absis titik puncak (h) diketahui rumusnya: h = -b / (2a). Dari sini, kita bisa ekspresikan b dalam bentuk a dan h, menjadi: b = -2a.h.

Nah, kalau kamu lagi pusing mikirin cara menentukan nilai a pada grafik kuadrat yang cuma menyentuh sumbu X di titik puncaknya, ingat aja konsep dasar ini: mirip kayak saat kamu Hitung volume silinder dengan jari‑jari 5 cm dan tinggi 4,2×jari‑jari , di mana presisi rumus dan angka itu kunci. Jadi, balik lagi ke persamaan kuadrat, nilai a yang bikin grafik cuma nyinggung sumbu X itu adalah kunci utama untuk memahami bentuk parabola yang sempurna.

Sekarang, ingat syarat utama kita: titik puncak di sumbu X, artinya k = 0. Ordinat titik puncak juga punya rumus: k = f(h) = a.h² + b.h + c. Substitusikan b = -2a.h ke dalam rumus ini:

k = a.h² + (-2a.h).h + c
k = a.h²

2a.h² + c

k = -a.h² + c

Karena k = 0, maka persamaannya menjadi: 0 = -a.h² + c. Ini menghasilkan hubungan: c = a.h².

Jadi, jika kita tahu koordinat titik puncak (h, 0), kita sudah bisa menyatakan seluruh fungsi kuadrat hanya dalam variabel a dan h: f(x) = ax² + (-2a.h)x + (a.h²). Atau, lebih rapi lagi: f(x) = a(x²
-2h.x + h²) = a(x – h)²
. Tada! Ini adalah bentuk vertex yang sangat sederhana, langsung menunjukkan bahwa titik puncaknya di (h,0) dan grafik menyinggung sumbu X di sana.

Prosedur sistematis untuk menghitung nilai a jika diketahui titik puncak maksimum di (h,0) adalah:

  1. Gunakan bentuk fungsi f(x) = a(x – h)².
  2. Jika ada informasi tambahan (misalnya grafik melalui titik lain selain puncak), substitusikan titik tersebut ke dalam persamaan.
  3. Selesaikan persamaan untuk menemukan nilai a.
BACA JUGA  Cara Mengatasi Gambar di Atas Langkah Praktis dan Solusi

Contoh Soal dan Penyelesaian Bertahap

Mari kita bawa konsep ini ke dalam dunia nyata yang sedikit disederhanakan. Bayangkan seorang arsitek merancang lengkungan sebuah gerbang taman. Dia ingin bentuk lengkungan itu berupa parabola yang puncaknya tepat menyentuh garis tanah (sumbu X) pada koordinat (4, 0). Diketahui juga, salah satu kaki lengkungan menempel pada tiang vertikal di titik (2, -4). Kita ingin menemukan persamaan parabola yang memenuhi kriteria ini.

Berikut adalah penyelesaian langkah demi langkah yang didokumentasikan dalam tabel.

Langkah Konsep yang Digunakan Proses Perhitungan Penjelasan
1. Identifikasi Data Titik Puncak dan Titik Lain Titik Puncak (h, k) = (4, 0). Titik Lain (x, y) = (2, -4). Karena puncak menyentuh sumbu X, kita gunakan bentuk spesial f(x) = a(x – h)².
2. Substitusi Titik Puncak Bentuk Fungsi Menyinggung f(x) = a(x – 4)² Nilai h = 4 langsung kita masukkan ke dalam bentuk fungsi.
3. Substitusi Titik Lain Menyelesaikan Persamaan Gunakan titik (2, -4):
-4 = a(2 – 4)²
-4 = a(-2)²
-4 = 4a
Koordinat titik (2, -4) memenuhi persamaan fungsi. Ini kunci untuk mencari nilai a.
4. Menghitung Nilai a Aljabar Dasar 4a = -4
a = -4 / 4
a = -1
Kita dapatkan nilai a = -1. Nilai negatif ini konsisten dengan parabola yang memiliki titik maksimum.
5. Menulis Fungsi Akhir Substitusi Balik f(x) = -1(x – 4)²
atau
f(x) = -(x²

8x + 16)
f(x) = -x² + 8x – 16

Ini adalah persamaan lengkungan gerbang taman yang dimaksud. Kita bisa verifikasi diskriminannya: D = 8²

4(-1)(-16) = 64 – 64 = 0.

Visualisasi dan Interpretasi Grafik

Mari kita bayangkan grafik dari contoh kita, f(x) = -x² + 8x – 16. Visualnya adalah sebuah parabola yang elegan dan simetris. Karena a = -1 (negatif), parabola ini membuka ke bawah seperti sebuah bukit atau gerbang yang melengkung. Puncak bukitnya tepat menempel di tanah, pada koordinat (4,0). Grafik ini tidak memotong sumbu X di tempat lain; dia hanya menyentuhnya dengan lembut di titik itu lalu turun kembali.

Titik potong dengan sumbu Y dapat ditemukan dengan mengambil x=0, menghasilkan f(0) = –
16. Jadi, grafik memotong sumbu Y di (0, -16). Bayangkan jika nilai a kita ubah, misalnya menjadi a = -0.5, sementara titik puncak tetap di (4,0). Bentuk parabolanya akan menjadi:

  • Lebih “gemuk” atau landai: Parabola dengan nilai a yang mendekati nol (misal -0.1) akan terlihat lebih lebar dan kurang curam.
  • Lebih “kurus” atau curam: Parabola dengan nilai a yang lebih negatif (misal -5) akan terlihat lebih sempit dan tajam, seperti huruf V yang dibulatkan.

Meskipun ketiga parabola imajiner (dengan a = -0.5, -1, dan -5) sama-sama menyinggung sumbu X di (4,0), “karakter” mereka berbeda. Nilai a mutlak yang lebih besar memberikan grafik yang lebih curam. Dalam ilustrasi grafik yang akurat, elemen kunci yang harus tampak adalah: letak titik puncak (4,0) yang merupakan satu-satunya titik sentuh dengan sumbu X, arah pembukaan ke bawah, dan titik potong dengan sumbu Y di (0, -16) untuk fungsi contoh kita.

Sumbu simetri yang tegak lurus, yaitu garis x = 4, juga menjadi poros keindahan grafik ini.

Simpulan Akhir

Jadi, begitulah ceritanya. Menemukan nilai a saat parabola menyentuh sumbu X di puncaknya itu seperti mengunci sebuah hubungan yang pas. Semua syarat harus klop: a harus negatif, diskriminannya harus nol, dan ordinat titik puncaknya pasti nol. Setelah memahami logika di balik rumusnya, kamu bisa menaklukkan soal-soal variatif dengan percaya diri. Ingat, matematika yang terlihat rumit seringkali hanya menyembunyikan pola yang indah dan konsisten.

Selamat berjelajah di dunia parabola!

Bagian Pertanyaan Umum (FAQ): Menentukan Nilai A Pada Grafik Kuadrat Menyentuh Sumbu X Di Titik Maksimum

Apakah mungkin grafik dengan a positif menyentuh sumbu X di titik minimumnya?

Ya, sangat mungkin. Konsepnya sama persis, hanya nilai a-nya yang positif (a > 0). Syaratnya tetap diskriminan D = 0 dan ordinat titik puncak (k) = 0. Hanya saja, titik singgungnya adalah titik minimum, bukan maksimum.

Bagaimana jika yang diketahui hanya satu titik lain selain titik singgung?

Itu cukup! Jika diketahui titik puncak (h, 0) adalah titik singgung di sumbu X dan satu titik lain (x1, y1) yang dilalui grafik, kamu bisa substitusikan kedua titik ke dalam bentuk verteks f(x) = a(x – h)² + 0 untuk langsung mencari nilai a.

Apa bedanya “menyinggung sumbu X” dengan “memotong sumbu X di satu titik”?

Nah, dalam matematika, menentukan nilai a saat grafik kuadrat cuma menyentuh sumbu X di titik puncak itu mirip lagi-lagi soal presisi. Sama kayak kita ngitung energi potensial dalam gerak harmonik sederhana, di mana detail massa, amplitudo, dan frekuensi harus pas biar ketemu angkanya yang akurat, seperti yang dijelaskan dalam ulasan tentang Energi Potensial Benda Harmonik 100 g, Amplitudo 10 cm, Frekuensi 10 Hz pada Simpangan 0,05 m.

Prinsip ketelitian yang sama ini akhirnya kita balik lagi ke fungsi kuadrat: nilai a yang bikin grafiknya cuma nyenggol sumbu X di satu titik itu harus ditemukan dengan perhitungan yang nggak boleh asal.

Kedua istilah itu berarti hal yang sama secara matematis. Ketika diskriminan D = 0, grafik fungsi kuadrat akan menyentuh atau menyinggung sumbu X tepat di satu titik, yang juga merupakan titik puncak (maksimum atau minimum) grafik tersebut.

Bisakah nilai a ditemukan jika hanya diketahui titik puncaknya berada di (h, 0)?

Tidak bisa. Informasi itu hanya memberi tahu kita bahwa k=0 dan grafik menyinggung sumbu X di x=h. Namun, untuk menentukan nilai a yang spesifik, kita butuh informasi tambahan, seperti titik lain pada grafik atau nilai koefisien b atau c.

Leave a Comment