Mohon Penjelasan Seni Mengkomunikasikan Pemahaman

Mohon penjelasan. Tiga kata sederhana yang sering terucap, tapi punya daya ungkit luar biasa dalam percakapan sehari-hari hingga diskusi paling kompleks. Frasa ini bukan sekadar pengantar pertanyaan, melainkan sebuah pintu gerbang menuju kejelasan, pemahaman bersama, dan kolaborasi yang lebih efektif. Dalam dunia yang dipenuhi informasi namun seringkali kabur, kemampuan untuk meminta dan memberikan penjelasan dengan baik hampir setara dengan sebuah superpower.

Mari kita telusuri lebih dalam. Dari makna harfiahnya yang sopan hingga konteks penggunaannya yang beragam, frasa ini menyimpan lapisan psikologis dan sosial yang menarik. Bagaimana cara merespons permintaan “mohon penjelasan” dengan jawaban yang runtut dan memuaskan? Lalu, bagaimana kita mengadaptasinya untuk berbagai situasi, dari obrolan santai hingga presentasi teknis? Diskusi ini akan membedah seni komunikasi yang satu ini, lengkap dengan strategi praktis untuk mengasah kemampuan tersebut dalam interaksi sehari-hari.

Makna dan Konteks Penggunaan “Mohon Penjelasan”

Dalam percakapan sehari-hari, baik di dunia kerja maupun interaksi sosial, frasa “Mohon penjelasan” sering kali meluncur begitu saja. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan lapisan makna dan aturan tak tertulis yang menentukan seberapa efektif permintaan itu terdengar. Memahami nuansanya adalah kunci untuk berkomunikasi dengan lebih elegan dan mendapatkan respons yang diharapkan.

Secara harfiah, “mohon” adalah kata yang menyiratkan permintaan dengan rasa hormat dan kerendahan hati, sementara “penjelasan” merujuk pada upaya untuk membuat sesuatu yang tidak jelas menjadi jelas. Jadi, frasa ini pada dasarnya adalah permintaan yang sopan untuk kejelasan. Penggunaannya sangat fleksibel, mulai dari email resmi yang mempertanyakan kebijakan baru atasan, hingga obrolan santai dengan teman yang sedang bercerita tentang teori konspirasi yang terlalu rumit.

Perbandingan Nuansa dengan Frasa Serupa

Pilihan kata dalam meminta klarifikasi dapat mengubah dinamika percakapan. Sebuah tabel dapat membantu memetakan perbedaan nuansa dari beberapa frasa yang umum digunakan, sehingga kita dapat memilih yang paling tepat sesuai konteks.

Frasa Tingkat Formalitas Nuansa & Implikasi Konteks Penggunaan Ideal
Mohon penjelasan. Tinggi – Formal Sangat sopan, struktural, sering mengasumsikan adanya otoritas atau prosedur yang perlu diikuti. Terkesan profesional dan menjaga jarak. Komunikasi tertulis resmi (email, surat), rapat formal, permintaan kepada atasan atau institusi.
Bisa dijelaskan? Rendah – Informal Santai, langsung, dan kolaboratif. Lebih merupakan undangan untuk berbagi pemahaman daripada permintaan resmi. Percakapan sehari-hari, diskusi antar rekan kerja yang sudah akrab, klarifikasi cepat dalam obrolan.
Saya ingin bertanya. Menengah – Netral Jelas, transparan, dan sedikit lebih personal. Menunjukkan inisiatif dan ketertarikan pribadi tanpa terlalu kaku. Presentasi, ruang kelas, pertemuan kerja, memulai percakapan dengan orang yang belum terlalu dikenal.
Maksudnya bagaimana? Rendah – Sangat Informal Spontan, mungkin terdengar kurang persiapan atau bahkan skeptis tergantung intonasi. Risiko terdengar blak-blakan. Obrolan kasual dengan teman dekat, saat kebingungan muncul secara spontan dalam diskusi.

Pengaruh Intonasi dan Medium Komunikasi, Mohon penjelasan

Penafsiran “Mohon penjelasan” sangat dipengaruhi oleh cara dan medium penyampaiannya. Dalam bentuk tulisan, seperti email atau chat, frasa ini bisa terasa sangat formal dan dingin jika tidak dibarengi dengan konteks kalimat yang hangat. Sebaliknya, dalam percakapan lisan, intonasi adalah penentu utama. Diucapkan dengan nada datar dan jeda, ia bisa terdengar seperti teguran atau ketidakpercayaan. Namun, dengan nada yang tulus dan penuh perhatian, frasa yang sama dapat menyampaikan rasa ingin tahu yang genuin dan keinginan untuk memahami.

Dalam chat, penggunaan tanda baca seperti “Mohon penjelasan.” (dengan titik) sering kali dibaca lebih kaku daripada “Mohon penjelasan ya” (dengan kata tambahan yang merapalkan).

Struktur dan Komponen Penjelasan yang Efektif

Ketika seseorang meminta penjelasan, mereka sebenarnya menyerahkan sepercik kebingungan mereka kepada kita. Tanggung jawab kita adalah mengembalikannya dalam bentuk yang lebih terang. Penjelasan yang baik bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi membangun jembatan pemahaman dari titik yang diketahui menuju yang belum diketahui. Ia memiliki arsitektur yang jelas, meski tidak selalu kaku.

Permintaan klarifikasi atau ‘mohon penjelasan’ sering kali jadi langkah awal yang krusial, terutama saat kita mendapati ketidaksesuaian nilai. Nah, ketika Anda tidak sependapat dengan pemimpin tentang perilaku tidak etis, ada protokol bertahap yang perlu dijalani, mulai dari klarifikasi internal hingga eskalasi formal, seperti yang dijelaskan dalam panduan Langkah saat tidak sependapat dengan pemimpin tentang perilaku tidak etis. Pada akhirnya, esensi dari ‘mohon penjelasan’ ini bukan untuk konfrontasi, melainkan membangun pemahaman dan menjaga integritas kolektif di tempat kerja.

BACA JUGA  Manfaat Ekologis Hutan Mangrove Pilar Penting Kehidupan Pesisir

Kerangka umum sebuah penjelasan yang komprehensif biasanya dimulai dengan pengakuan terhadap pertanyaan atau kebingungan tersebut, sebagai bentuk empati. Kemudian, dilanjutkan dengan pernyataan inti atau jawaban langsung secara singkat. Bagian tubuh penjelasan menguraikan jawaban itu dengan logika, data, atau analogi, sebelum diakhiri dengan ringkasan dan penawaran untuk klarifikasi lebih lanjut. Struktur ini memandu pendengar tanpa membuatnya tersesat di tengah argumen.

Komponen Penting dalam Penjelasan yang Memuaskan

Untuk memastikan penjelasan tidak hanya informatif tetapi juga mudah dicerna, beberapa elemen kunci harus hadir. Komponen-komponen ini berfungsi sebagai penanda arah dalam proses pemahaman.

  • Poin Awal yang Disepakati: Mulailah dari pengetahuan atau fakta yang sudah dipahami bersama oleh kedua pihak. Ini menciptakan landasan yang aman sebelum melangkah lebih jauh.
  • Jawaban Inti yang Jelas dan Ringkas: Sampaikan kesimpulan atau jawaban utama di awal, sebelum masuk ke detail. Ini membantu pendengar mengetahui tujuan akhir penjelasan.
  • Urutan Logis yang Sistematis: Susun penjelasan secara bertahap, dari yang sederhana ke kompleks, atau secara kronologis. Hindari loncat-loncat topik yang dapat membingungkan.
  • Kontekstualisasi dan Contoh: Hubungkan konsep abstrak dengan situasi nyata atau contoh konkret yang relatable. Contoh berfungsi sebagai batu loncatan untuk memahami prinsip.
  • Bahasa yang Aksesibel dan Minim Jargon: Sesuaikan kosakata dengan tingkat pengetahuan lawan bicara. Jika jargon teknis harus digunakan, segera jelaskan maknanya dengan bahasa sederhana.
  • Visualisasi Verbal atau Aktual: Gunakan analogi, metafora, atau deskripsi visual untuk membantu pembentukan gambaran mental. Pernyataan seperti “Bayangkan prosesnya seperti…” sangat efektif.

Elemen yang Membuat Penjelasan Menjadi Tidak Efektif

Di sisi lain, beberapa kebiasaan justru dapat mengaburkan penjelasan yang diberikan. Kesalahan umum sering kali berasal dari asumsi bahwa pendengar memiliki latar belakang pengetahuan yang sama dengan pemberi penjelasan.

  • Asumsi Pengetahuan yang Berlebihan: Melompat langsung ke bagian teknis tanpa memastikan dasar pemahaman pendengar sudah kuat.
  • Struktur yang Berantakan: Menjelaskan hal-hal secara tidak berurutan, mencampuradukkan sebab dan akibat, atau kembali ke poin yang sudah dibahas tanpa alasan yang jelas.
  • Penggunaan Jargon Tanpa Penjelasan: Membanjiri pendengar dengan istilah-istilah khusus sebagai pengganti pemahaman, yang justru membuat mereka merasa dikucilkan.
  • Kurangnya Contoh atau Analogi: Hanya berkutat pada definisi teoritis tanpa menghubungkannya dengan dunia nyata, membuat penjelasan terasa mengawang.
  • Volume Informasi yang Overload: Memberikan terlalu banyak detail sekaligus, sehingga poin utama justru tenggelam.

Contoh Penjelasan yang Efektif dan Analisisnya

Mari kita lihat sebuah contoh sederhana tentang mengapa langit berwarna biru, yang disusun dengan mempertimbangkan komponen-komponen efektif di atas.

“Pertanyaan yang bagus. Singkatnya, langit biru karena cara cahaya matahari berinteraksi dengan atmosfer bumi. Mari kita uraikan. Cahaya matahari terlihat putih, tapi sebenarnya terdiri dari semua warna pelangi. Setiap warna memiliki panjang gelombang berbeda. Molekul udara di atmosfer kita sangat kecil, dan mereka lebih baik dalam menghamburkan cahaya dengan panjang gelombang pendek, yaitu biru dan ungu, ke segala arah. Nah, mata kita lebih sensitif terhadap biru daripada ungu. Jadi, ketika kita melihat ke langit, warna biru yang dihamburkan ke mana-mana itulah yang dominan kita tangkap. Bayangkan seperti menyinari ruangan berdebu dengan senter; debu-debu kecil itu akan menghamburkan cahaya dan membuat berkas senter terlihat, mirip dengan bagaimana molekul udara ‘mewarnai’ langit dengan biru.”

Penjelasan ini efektif karena langsung memberikan jawaban inti di kalimat kedua. Kemudian, penjelasan diurai secara logis: dari sifat cahaya matahari, ke karakteristik molekul udara, hingga sensitivitas mata manusia. Penggunaan analogi senter dan debu di akhir membantu menciptakan gambaran mental yang kuat, mengaitkan fenomena besar dengan pengalaman sehari-hari. Bahasa yang digunakan aksesibel dan tidak teknis berlebihan.

Variasi dan Adaptasi dalam Komunikasi: Mohon Penjelasan

Kemampuan menjelaskan bukanlah tentang menghafal satu naskah sempurna, melainkan tentang kemampuan beradaptasi. Penjelasan yang sama persis tentang, katakanlah, cara kerja blockchain, akan gagal total jika disampaikan dengan cara yang sama kepada seorang profesor komputer, mahasiswa semester awal, dan nenek yang baru bisa kirim WA. Keberhasilan terletak pada bagaimana kita memetakan jalan pemahaman yang sesuai dengan titik awal lawan bicara kita.

Adaptasi dimulai dengan diagnosis cepat terhadap tingkat pengetahuan lawan bicara. Untuk pemula, fokus pada konsep besar, manfaat, dan analogi yang kuat, sambil menghindari detail teknis. Untuk tingkat menengah, kita bisa mulai memasukkan terminologi yang tepat dan mekanisme dasar. Sementara untuk ahli, penjelasan bisa langsung masuk ke aspek teknis, trade-off, atau diskusi tentang batasan dan perkembangan terkini, karena landasan konseptualnya sudah mapan.

BACA JUGA  Menulis Karangan Dari Umum ke Khusus dengan Jenis Paragraf

Struktur Penjelasan di Berbagai Konteks

Kerangka penjelasan juga perlu menyesuaikan diri dengan konteks dan tujuannya. Penjelasan di ruang akademis memiliki tuntutan yang berbeda dengan penjelasan dalam meeting proyek atau obrolan di warung kopi.

Konteks Tujuan Utama Struktur Khas Bahasa & Gaya
Akademis Membangun pemahaman teoritis yang mendalam dan kritis. Definisi, landasan teori, metodologi, hasil analisis, diskusi implikasi, keterbatasan. Baku, objektif, kaya referensi, penuh terminologi disiplin ilmu.
Profesional Mendukung pengambilan keputusan dan eksekusi tugas. Latar belakang masalah, rekomendasi/kesimpulan utama, data pendukung, langkah tindak lanjut. Jelas, ringkas, berorientasi hasil, menggunakan jargon industri yang relevan.
Teknis Memastikan pemahaman operasional dan prosedural yang tepat. Prinsip kerja, spesifikasi, alur proses, troubleshooting potensial. Sangat spesifik, sistematis, penuh istilah teknis, sering disertai diagram atau kode.
Sehari-hari Berbagi pemahaman dan menghubungkan dengan pengalaman hidup. Pengantar relatable, analogi sentral, poin-poin sederhana, contoh konkret, ringkasan yang mudah diingat. Santai, conversational, minim jargon, banyak menggunakan “misalnya” dan “ibaratnya”.

Strategi Menyederhanakan Konsep Kompleks

Menyederhanakan bukan berarti mendangkalkan. Esensi konsep harus tetap utuh. Caranya adalah dengan menemukan inti prinsip (the core principle) dan kemudian membungkusnya dalam bungkus yang familiar. Teknik “First Principle Thinking” bisa diterapkan: uraikan konsep kompleks menjadi elemen dasar yang paling fundamental. Kemudian, bangun kembali pemahaman dari sana menggunakan blok-blok pengetahuan yang sudah dimiliki audiens.

Analogi adalah alat terkuat di sini, karena ia meminjam struktur pemahaman dari domain yang sudah dikuasai untuk menerangi domain yang baru.

Teknik Memvalidasi Pemahaman

Setelah penjelasan diberikan, penting untuk memastikan pesan telah sampai dengan benar. Beberapa teknik yang elegan dan tidak terkesan menguji adalah dengan meminta parafrase, meminta contoh, atau mengajukan pertanyaan lanjutan kontekstual. Misalnya, “Berdasarkan penjelasan tadi, kira-kira bagaimana kamu akan menerapkan ini dalam skenario X?” atau “Bisa kasih contoh lain yang mirip dengan analogi tadi?” Mendengarkan respons mereka akan menunjukkan apakah mereka hanya menghafal kata-kata kita atau benar-benar memahami konsepnya.

Perhatikan juga bahasa tubuh dan ekspresi kebingungan yang mungkin masih tersisa.

Contoh Penerapan dalam Berbagai Disiplin

Teori tentang penjelasan yang baik akan lebih bermakna ketika dilihat dalam praktiknya di berbagai bidang. Dari urusan administrasi yang berbelit hingga narasi sejarah yang pelik, prinsip-prinsip kejelasan, adaptasi, dan empati tetap berlaku. Berikut adalah simulasi penerapannya dalam beberapa situasi yang berbeda.

Nah, terkadang kita memang perlu mengajukan permintaan “Mohon penjelasan” untuk hal-hal yang tampak sederhana, seperti konversi satuan kertas. Ambil contoh, ketika bertanya-tanya 30 rim berapa lembar , jawabannya sebenarnya bisa dihitung secara pasti berdasarkan standar industri. Memahami konversi ini dengan benar justru memperjelas bahwa permintaan penjelasan seringkali merupakan langkah awal yang krusial untuk menghindari kesalahan dalam proyek atau pekerjaan kita.

Penjelasan Prosedur Administrasi yang Rumit

Misalnya, menjelaskan prosedur pengajuan restitusi pajak kepada seorang wiraswasta yang belum pernah melakukannya. Penjelasan efektif dimulai dengan mengakui bahwa proses ini memang terlihat rumit. Kemudian, berikan peta besar terlebih dahulu: “Pada intinya, Bapak akan mengumpulkan bukti-bukti pembayaran, mengisi formulir, dan mengajukan ke kantor pajak. Mari kita pecah jadi tiga tahap.” Selanjutnya, uraikan setiap tahap dengan urutan kronologis yang jelas. Gunakan daftar bullet point untuk dokumen yang diperlukan.

Sertakan peringatan untuk hal-hal yang sering menjadi kendala, seperti “Pastikan meterai sudah tersedia sebelum datang,” atau “Nomor transaksi harus terbaca jelas.” Akhiri dengan garis waktu perkiraan dan cara mengecek status pengajuan.

Penjelasan Fenomena Ilmiah dengan Analogi

Menjelaskan teori relativitas umum Einstein kepada audiens awam. Esensinya adalah bahwa massa membelokkan ruang-waktu, dan kita merasakannya sebagai gravitasi. Analogi yang powerful adalah menggunakan gambar mental sebuah trampolin. “Bayangkan ruang-waktu itu seperti permukaan trampolin yang elastis. Jika kita taruh bola bowling (matahari) di tengahnya, permukaan akan melengkung ke dalam.

Kemudian, jika kita gelindingkan kelereng (bumi) di sekitarnya, kelereng itu akan bergerak mengelilingi lekukan tersebut, bukan karena ditarik secara ajaib, tapi karena ia mengikuti ‘jalan’ yang sudah melengkung. Gravitasi itu seperti lekukan itu. Bumi kita ‘jatuh’ mengelilingi matahari karena berjalan di atas ‘jalan’ ruang-waktu yang ditekuk oleh massa matahari.”

Penjelasan Konflik Sejarah dengan Multi-Perspektif

Menguraikan konflik di balik Perang Diponegoro. Penjelasan yang komprehensif tidak hanya menyebut Pangeran Diponegoro melawan Belanda, tetapi juga memetakan perspektif berbagai pihak. Dari sisi bangsawan Jawa, konflik ini adalah perlawanan terhadap erosi kedaulatan dan campur tangan Belanda dalam suksesi kerajaan serta penyewaan tanah. Dari perspektif petani dan rakyat kecil, ini adalah pemberontakan terhadap beban pajak dan tekanan ekonomi yang semakin berat.

Sementara dari kacamata kolonial Belanda, ini adalah pemberontakan yang mengancam stabilitas dan kepentingan ekonomi pemerintah Hindia Belanda. Dengan menyajikan ketiga sudut pandang ini, penjelasan menjadi lebih kaya dan membantu memahami mengapa perang ini mendapatkan dukungan luas serta berlangsung begitu lama.

BACA JUGA  3 Teater Daerah Beserta Asalnya Lenong Ludruk Mak Yong

Visualisasi Proses Siklus

Mendeskripsikan siklus air (hidrologi) secara visual tanpa gambar. Bayangkan sebuah diagram melingkar yang dimulai dari lautan. Panas matahari menyebabkan penguapan, gambarkan dengan panah berlabel ‘evaporasi’ yang naik dari laut menuju awan. Di atmosfer, uap air mendingin dan berkondensasi membentuk awan, gambarkan sebagai kumpulan titik-titik air kecil di dalam gambar awan. Angin membawa awan ini ke daratan.

Ketika awan jenuh, terjadi presipitasi, gambarkan dengan panah turun dari awan berupa hujan atau salju ke gunung dan daratan. Air yang jatuh ini kemudian mengalir di permukaan (aliran permukaan) atau meresap ke dalam tanah (infiltrasi) menuju sungai, dan sungai akhirnya mengalirkan air kembali ke laut, di mana panah ‘aliran permukaan & air tanah’ menyelesaikan lingkaran itu. Deskripsi ini membangun diagram mental bertahap yang mudah diikuti.

Pengembangan Kemampuan Memberi Penjelasan

Seperti keterampilan lainnya, kemampuan memberikan penjelasan yang jernih adalah hasil dari latihan dan refleksi. Ini bukan bakat bawaan, melainkan seni yang bisa dipelajari dan diasah. Pengembangannya melibatkan tidak hanya latihan teknis berbicara atau menulis, tetapi juga mengatasi hambatan psikologis yang sering menghalangi kita untuk bertanya atau menjelaskan dengan percaya diri.

Latihan terbaik sering kali dimulai dari hal-hal yang paling kita pahami. Cobalah menjelaskan profesi atau hobi kita kepada seorang anak berusia 10 tahun. Batasan ini memaksa kita untuk menemukan analogi, menghilangkan jargon, dan berpegang pada konsep inti. Latihan lain adalah merekam diri sendiri menjelaskan suatu topik selama dua menit, lalu mendengarkannya kembali untuk mengidentifikasi kalimat yang berbelit-belit, pengulangan yang tidak perlu, atau titik-titik di mana logika menjadi loncat.

Hambatan Psikologis dalam Meminta dan Memberi Penjelasan

Di balik kesulitan komunikasi, sering kali bersemayam rasa takut. Takut dianggap bodoh jika bertanya, atau takut terlihat tidak kompeten jika tidak bisa menjelaskan dengan sempurna. Pemberi penjelasan mungkin juga dihantui oleh “Kutukan Pengetahuan”, yaitu ketidakmampuan untuk membayangkan bagaimana rasanya tidak mengetahui hal yang sudah ia ketahui, sehingga penjelasannya melompat-lompat. Di sisi lain, budaya organisasi yang tidak aman secara psikologis dapat membuat orang enggan mengucapkan “Mohon penjelasan” karena khawatir dianggap menantang otoritas.

Mengakui keberadaan hambatan-hambatan ini adalah langkah pertama untuk mengatasinya.

Skenario Role-Play Klarifikasi Miskomunikasi

Mohon penjelasan

Source: googleapis.com

Dalam sebuah proyek tim, Andi mengirim pesan: “Presentasi untuk klien diajukan ke besok siang.” Budi membalas: “Mohon penjelasan. Apakah yang dimaksud presentasi harus sudah selesai dibuat besok siang, atau presentasinya akan dilaksanakan besok siang? Saya memahami timeline kita adalah penyelesaian materi dua hari lagi.” Dalam skenario ini, Budi menggunakan frasa formal “Mohon penjelasan” yang tepat untuk komunikasi kerja tertulis. Ia tidak hanya menunjuk pada ambiguitas (“diajukan”), tetapi juga langsung memberikan dua interpretasi yang mungkin dan menyebutkan pemahaman awalnya tentang timeline.

Ini mempermudah Andi untuk langsung mengoreksi: “Maaf, maksudnya presentasinya dilaksanakan besok siang. Materi harus kita selesaikan hari ini.” Role-play semacam ini melatih ketepatan dan kejelasan dalam mengklarifikasi.

Manfaat Jangka Panjang dalam Hubungan Kolaboratif

Membangun kebiasaan meminta dan memberikan penjelasan yang jelas adalah investasi untuk kolaborasi yang sehat dan produktif. Dalam jangka panjang, ini menciptakan budaya kepercayaan di mana anggota tim tidak takut untuk mengakui ketidaktahuan atau meminta klarifikasi. Hal ini secara signifikan mengurangi risiko kesalahan akibat asumsi yang salah dan mengulang pekerjaan. Proses diskusi menjadi lebih dalam karena setiap pihak berusaha untuk benar-benar memahami perspektif lain, bukan sekadar menunggu giliran berbicara.

Pada akhirnya, ini menghemat waktu, meningkatkan kualitas output, dan memperkuat ikatan tim karena setiap orang merasa didengarkan dan dipahami.

Penutupan Akhir

Jadi, pada akhirnya, “mohon penjelasan” adalah lebih dari sekadar frasa; itu adalah fondasi dari dialog yang sehat. Menguasai seni meminta dan memberi penjelasan bukan cuma membuat kita lebih paham, tetapi juga membangun jembatan antar persepsi. Dalam hubungan kolaborasi jangka panjang, kebiasaan ini menjadi minyak yang melicinkan roda komunikasi, mencegah salah paham, dan mendorong inovasi. Mari kita jadikan kejelasan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai budaya dalam setiap percakapan.

Sudut Pertanyaan Umum (FAQ)

Apakah “Mohon penjelasan” selalu terdengar formal dan kaku?

Tidak selalu. Nuansanya sangat bergantung pada intonasi (saat lisan) dan konteks kalimat (saat tulisan). Dalam chat informal, menambahkan emoji atau kata “dong” bisa membuatnya terasa lebih santai dan akrab.

Bagaimana cara terbaik merespons jika kita tidak tahu jawabannya saat diminta penjelasan?

Jujur adalah kebijakan terbaik. Anda bisa merespons dengan, “Mohon maaf, untuk hal ini saya perlu cek lagi detailnya” atau “Saya akan cari tahu dulu dan infokan setelahnya.” Ini lebih baik daripada memberikan penjelasan yang salah atau menyesatkan.

Apakah ada risiko dianggap tidak percaya diri atau kurang kompeten jika terlalu sering mengatakan “mohon penjelasan”?

Justru sebaliknya. Di lingkungan profesional yang sehat, mengajukan pertanyaan klarifikasi adalah tanda keterlibatan aktif, keinginan untuk memahami secara mendalam, dan tanggung jawab untuk menghindari kesalahan. Ini menunjukkan pemikiran kritis, bukan ketidakmampuan.

Bagaimana cara meminta penjelasan ulang tanpa menyinggung perasaan pemberi penjelasan?

Gunakan teknik “parafrase”. Mulailah dengan, “Boleh saya konfirmasi, apakah maksudnya…” lalu ulangi pemahaman Anda dengan kata-kata sendiri. Atau, fokus pada bagian spesifik: “Untuk poin tentang X, bisa dielaborasi sedikit lagi?” Ini menunjukkan Anda menyimak, bukan mengabaikan.

Leave a Comment