MPLS Apa Saja Kegiatannya Pengenalan Lingkungan Sekolah

MPLS: Apa saja kegiatannya? Pertanyaan ini kerap muncul di benak peserta didik baru dan orang tua menyambut tahun ajaran. Lebih dari sekadar serangkaian acara formal, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) merupakan gerbang awal yang krusial untuk membangun fondasi adaptasi, mengenal karakter institusi, dan menanamkan nilai-nilai positif. Kegiatannya dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan gedung dan peraturan, tetapi juga untuk merajut benang-benang keakraban serta menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap sekolah yang akan menjadi rumah kedua mereka.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, MPLS wajib dilaksanakan dengan prinsip-prinsip edukatif, kreatif, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Tujuannya jelas: memfasilitasi transisi yang mulus dari jenjang pendidikan sebelumnya, mengurangi kecemasan, dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif serta menyenangkan sejak hari pertama. Melalui kegiatan yang terstruktur, peserta didik baru diajak untuk memahami visi-misi sekolah, tata tertib, serta berbagai peluang pengembangan diri yang tersedia.

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) mencakup beragam kegiatan, mulai dari pengenalan fasilitas hingga pembinaan karakter. Dalam konteks membangun empati, peserta didik juga diajak memahami nilai-nilai kehidupan, termasuk penghormatan kepada yang telah berpulang. Pengetahuan tentang Niat Khusus Mengirim Doa dan Membaca Al‑Quran untuk Almarhum dapat menjadi bagian dari edukasi spiritual yang memperkaya batin. Dengan demikian, kegiatan MPLS tidak hanya membekali pengetahuan praktis, tetapi juga mengasah kepekaan sosial dan rohani siswa dalam lingkungan baru mereka.

Pengenalan dan Tujuan MPLS

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, atau yang biasa disingkat MPLS, merupakan pintu gerbang pertama bagi peserta didik baru untuk memasuki dunia pembelajaran di satuan pendidikan yang baru. Kegiatan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sebuah program yang diselenggarakan dengan landasan hukum yang jelas, yakni Permendikbudristek Nomor 47 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan. Aturan ini menegaskan bahwa MPLS harus dilaksanakan dalam rangka adaptasi peserta didik dengan lingkungan yang baru, dengan prinsip yang aman, edukatif, dan menyenangkan.

Tujuan utama MPLS adalah menciptakan ekosistem sekolah yang positif sejak hari pertama. Bagi siswa baru, ini adalah momen untuk mengenal fisik sekolah, memahami nilai-nilai dan budaya yang dianut, serta membangun relasi sosial awal dengan guru, staf, dan kakak kelas. Proses ini dirancang untuk mengurangi kecemasan dan rasa asing, sehingga siswa dapat lebih fokus pada proses pembelajaran ketika tahun ajaran dimulai.

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bukan sekadar seremonial belaka. Kegiatannya dirancang untuk membangun karakter, mengenalkan budaya sekolah, dan mengasah keterampilan sosial peserta didik baru. Proses pembentukan karakter ini memerlukan ketelitian dan logika berhitung yang sistematis, serupa dengan prinsip penyelesaian Operasi 6 3/4 - 2 2/5 ÷ 1 1/3 dalam matematika, di mana setiap langkah harus runtut dan tepat. Dengan demikian, esensi MPLS adalah mempersiapkan fondasi mental dan akademik yang kokoh bagi siswa untuk menjalani tahun ajaran dengan penuh percaya diri dan integritas.

Selain itu, MPLS juga menjadi media efektif untuk menanamkan karakter dan sikap sesuai dengan profil Pelajar Pancasila.

Prinsip Pelaksanaan MPLS

Agar tujuan tersebut tercapai, pelaksanaan MPLS wajib berpegang pada beberapa prinsip fundamental. Prinsip-prinsip ini menjadi rambu-rambu yang menjamin kegiatan berlangsung sesuai dengan semangat pendidikan.

  • Edukatif dan Bermakna: Setiap aktivitas harus memiliki nilai pembelajaran yang jelas, baik secara akademis, sosial, maupun karakter.
  • Rekreatif dan Menyenangkan: Suasana kegiatan harus dibuat cair dan gembira, menghindari kesan menakutkan atau membebani secara psikologis.
  • Tanpa Kekerasan dan Perpeloncoan: Segala bentuk aktivitas yang bersifat fisik maupun verbal yang merendahkan martabat peserta didik dilarang keras.
  • Inklusif dan Non-Diskriminatif: MPLS harus dapat diakses dan dinikmati oleh semua peserta didik baru tanpa memandang latar belakang, kondisi fisik, atau status sosial.
  • Partisipatif dan Interaktif: Desain kegiatan harus mendorong keterlibatan aktif semua pihak, bukan sekadar mendengarkan ceramah satu arah.

Jenis-Jenis Kegiatan dalam MPLS

Kegiatan MPLS dirancang secara komprehensif untuk menjangkau berbagai aspek adaptasi siswa baru. Secara garis besar, aktivitas ini dapat dikelompokkan ke dalam dua ranah besar: pengenalan lingkungan fisik dan pengenalan sosial-budaya sekolah. Pengenalan lingkungan fisik membantu siswa menguasai navigasi dasar di area sekolah, sementara pengenalan sosial-budaya membekali mereka dengan pemahaman tentang norma, nilai, dan sistem yang berlaku di komunitas barunya.

BACA JUGA  Arti I Wait Until Anytime Ungkapan Komitmen Tanpa Batas

Kedua kategori ini saling melengkapi. Pengetahuan tentang letak ruang UKS menjadi kurang bermakna jika tidak disertai pemahaman tentang budaya saling menolong yang ingin dibangun sekolah. Demikian pula, pemahaman tentang tata tertib akan lebih mudah diterima jika siswa sudah merasa nyaman dan diterima di lingkungan fisik sekolahnya. Integrasi kedua aspek inilah yang menciptakan pengalaman MPLS yang holistik.

Kategori Kegiatan Pengenalan Lingkungan Fisik

Kegiatan pada kategori ini berfokus pada orientasi spasial dan fungsional. Siswa diajak untuk mengenal bukan hanya nama dan lokasi ruangan, tetapi juga fungsi serta aturan penggunaannya. Contohnya, pengenalan perpustakaan tidak hanya menunjukkan rak buku, tetapi juga cara meminjam, etika di ruang baca, dan fasilitas digital yang tersedia. Demikian halnya dengan lab IPA, lapangan olahraga, kantin, dan ruang ibadah. Tujuannya adalah membangun rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap fasilitas bersama sejak dini.

Kategori Kegiatan Pengenalan Sosial dan Budaya Sekolah

Pada ranah ini, kegiatan difokuskan pada pembentukan ikatan emosional dan pemahaman normatif. Siswa diperkenalkan pada sejarah sekolah, visi-misi, tata tertib, serta nilai-nilai unggulan seperti kejujuran, kedisiplinan, dan penghormatan pada keberagaman. Kegiatan ini juga mencakup perkenalan dengan struktur organisasi sekolah, OSIS, dan para guru. Intinya, siswa diajak untuk memahami “karakter” dan “kepribadian” sekolah tempat mereka akan menghabiskan waktu belajar selama beberapa tahun ke depan.

Jenis Kegiatan Tujuan Spesifik Metode Pelaksanaan Contoh Aktivitas
Orientasi Sekolah Mengenali denah dan fungsi fasilitas utama sekolah. Tur keliling sekolah dipandu guru/OSIS. Kunjungan ke perpustakaan, lab, UKS, dan lapangan dengan penjelasan aturan penggunaan.
Penyampaian Visi-Misi Memahami tujuan pendidikan sekolah dan nilai inti yang dianut. Dialog interaktif dan presentasi multimedia oleh kepala sekolah. Diskusi kelompok kecil tentang makna salah satu nilai sekolah dalam kehidupan sehari-hari.
Ice Breaking & Games Mencairkan suasana dan membangun keakraban antar peserta didik baru. Permainan kelompok yang membutuhkan kerja sama dan komunikasi. Permainan “Two Truths and a Lie” atau “Human Bingo” untuk saling mengenal.
Pengenalan Ekstrakurikuler Memberikan gambaran pilihan kegiatan pengembangan diri di luar jam pelajaran. Demo atau performance dari masing-masing eskul, serta booth informasi. Pentas seni singkat dari eskul teater, demo robotik, atau pertandingan persahabatan futsal.

Contoh Rincian Kegiatan dan Jadwal

Sebuah jadwal MPLS yang terstruktur dengan baik memastikan alur kegiatan berjalan lancar dan tujuan setiap sesi tercapai. Rancangan jadwal biasanya memadukan antara kegiatan serius seperti penyampaian materi dengan aktivitas yang lebih ringan dan rekreatif untuk menjaga stamina dan semangat peserta. Berikut adalah contoh pengaturan waktu selama tiga hari yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan sekolah.

Contoh Jadwal Kegiatan MPLS Tiga Hari

  • Hari Pertama: Adaptasi Awal dan Pengenalan Dasar
    • 07.00 – 07.30: Registrasi dan pembagian kelompok.
    • 07.30 – 08.15: Upacara pembukaan dan sambutan kepala sekolah.
    • 08.15 – 09.30: Ice breaking massal dan games pengenalan antar anggota kelompok.
    • 09.30 – 10.30: Pengenalan visi, misi, dan sejarah sekolah oleh kepala sekolah.
    • 10.30 – 12.00: Tur keliling sekolah mengenal fasilitas utama.
  • Hari Kedua: Pemahaman Norma dan Budaya
    • 07.30 – 09.00: Penyampaian tata tertib sekolah dan kode etik siswa.
    • 09.00 – 10.30: Materi tentang pencegahan perundungan dan kekerasan.
    • 10.30 – 12.00: Pengenalan program OSIS dan struktur organisasi sekolah.
    • 13.00 – 14.30: Workshop atau diskusi kelompok tentang karakter Pelajar Pancasila.
  • Hari Ketiga: Eksplorasi Potensi Diri
    • 07.30 – 10.00: Festival ekstrakurikuler: demo dan pendaftaran awal.
    • 10.00 – 11.30: Pengenalan program prestasi akademik & non-akademik sekolah.
    • 11.30 – 12.30: Refleksi dan sharing pengalaman selama MPLS.
    • 12.30 – 13.00: Penutupan dan pembagian simbolis atribut sekolah.

Deskripsi Kegiatan Ice Breaking “Human Bingo”

Salah satu ice breaking yang sangat efektif untuk MPLS adalah “Human Bingo”. Aktivitas ini dirancang untuk memecah kebekuan dan mendorong interaksi aktif antar peserta didik baru. Setiap siswa diberikan sebuah kartu “bingo” yang berisi kotak-kotak dengan pernyataan unik seperti “Pernah memenangkan lomba menyanyi”, “Memiliki hobi fotografi”, atau “Bisa berbicara bahasa daerah selain bahasa Indonesia”. Tugas mereka adalah menemukan teman yang sesuai dengan pernyataan tersebut dan meminta tanda tangan atau namanya ditulis di kotak itu.

Pemenangnya adalah yang pertama berhasil melengkapi satu garis (vertikal, horizontal, atau diagonal).

BACA JUGA  Menentukan Panjang AOC pada Segitiga dengan AB=CD dan AB=3OB

Manfaat dari kegiatan ini sangat beragam. Selain tentunya menciptakan suasana ceria, “Human Bingo” melatih kemampuan komunikasi dan inisiatif siswa. Mereka belajar untuk memulai percakapan dengan orang yang belum dikenal berdasarkan topik yang netral dan positif. Aktivitas ini juga mengungkapkan keragaman minat dan latar belakang dalam kelompok, sehingga memperkaya persepsi mereka tentang teman-teman sebayanya.

Prosedur Pengenalan Fasilitas Sekolah

Pengenalan fasilitas sekolah perlu dilakukan secara sistematis agar informasi tersampaikan dengan jelas dan tidak membingungkan. Berikut adalah contoh prosedur yang dapat diterapkan, khususnya untuk pengenalan perpustakaan sebagai jantung ilmu di sekolah.

Langkah-langkah pengenalan perpustakaan sekolah:
Pertama, kumpulkan peserta didik di depan perpustakaan. Jelaskan pentingnya perpustakaan sebagai sumber belajar mandiri.
Kedua, pandu mereka masuk secara bergiliran per kelompok. Perkenalkan petugas perpustakaan dan perannya.
Ketiga, jelaskan zoning yang ada: area baca senyap, area koleksi referensi, area komputer untuk katalog digital, dan area sirkulasi.

Keempat, demonstrasikan cara mencari buku menggunakan katalog, baik manual maupun digital.
Kelima, terangkan prosedur peminjaman dan pengembalian, termasuk sanksi untuk keterlambatan.
Keenam, beri kesempatan tanya jawab dan anjurkan mereka untuk langsung mempraktikkan dengan mencari satu buku berdasarkan minat mereka.

Peran dan Tanggung Jawab

Kesuksesan MPLS bukanlah tanggung jawab satu pihak saja, melainkan hasil kolaborasi sinergis dari seluruh elemen komunitas sekolah. Dari pimpinan, guru, tenaga kependidikan, peserta didik senior, hingga orang tua, masing-masing memiliki peran strategis yang saling menguatkan. Pemahaman yang jelas tentang peran ini akan menciptakan ekosistem pendukung yang solid bagi peserta didik baru.

Peran Guru dan Staf Sekolah

MPLS: Apa saja kegiatannya?

Source: sukabumiupdate.com

Guru dan staf sekolah bertindak sebagai perencana, pengarah, dan pengawas utama jalannya MPLS. Mereka membentuk panitia inti yang merancang tema, menyusun jadwal, dan menyiapkan materi yang esensial. Selama kegiatan, peran mereka bergeser menjadi fasilitator dan narasumber. Guru wali kelas baru, misalnya, berkesempatan membangun ikatan emosional pertama dengan siswa didiknya. Sementara itu, staf tata usaha dan pustakawan bertanggung jawab memberikan pengenalan teknis tentang layanan administrasi dan perpustakaan.

Kehadiran dan keterlibatan aktif mereka memberikan rasa aman dan legitimasi terhadap seluruh proses MPLS.

Tanggung Jawab Peserta Didik Senior (OSIS)

Peserta didik senior, khususnya yang tergabung dalam OSIS, berperan sebagai teman sebaya yang mendampingi dan menjadi teladan. Mereka adalah wajah pertama yang ramah dari lingkungan sosial sekolah bagi siswa baru. Tanggung jawab mereka mencakup memandu kelompok, membantu dalam permainan, menjelaskan budaya sekolah dari perspektif siswa, serta memastikan tidak ada tindakan yang menyimpang dari prinsip MPLS. Penting untuk ditekankan bahwa peran mereka adalah membimbing, bukan menguji atau mempermalukan.

Pelatihan sebelumnya mutlak diperlukan untuk memastikan para senior memahami etika pendampingan ini.

Harapan terhadap Peran Serta Orang Tua atau Wali

Dukungan orang tua sangat krusial dalam masa transisi ini. Peran serta mereka dimulai dari memastikan kehadiran dan kesiapan fisik anak mengikuti MPLS. Selama kegiatan berlangsung, diharapkan orang tua dapat memberikan ruang kepada anak untuk beradaptasi secara mandiri, sambil tetap siap menjadi pendengar yang baik ketika anak bercerita tentang pengalamannya. Komunikasi positif antara orang tua dan sekolah, termasuk menghadiri pertemuan awal jika diadakan, akan memperkuat pesan-pesan positif yang disampaikan selama MPLS.

Pada intinya, orang tua diharapkan menjadi mitra sekolah dalam menciptakan lingkungan yang konsisten dan mendukung bagi pertumbuhan siswa.

Ide Kegiatan Kreatif dan Bermakna: MPLS: Apa Saja Kegiatannya?

MPLS tidak harus identik dengan ceramah dan pengarahan yang monoton. Dengan sentuhan kreativitas, kegiatan ini dapat dikemas menjadi pengalaman yang mendalam, berkesan, dan benar-benar membekas dalam memori serta karakter peserta didik. Ide-ide berikut bertujuan untuk melampaui sekadar pengenalan formal, menuju pada pembentukan ikatan, nilai, dan identitas bersama.

Kegiatan Pengembangan Karakter dan Nilai Kebangsaan

Nilai-nilai kebangsaan dan karakter dapat disisipkan melalui aktivitas yang konkret. Misalnya, mengadakan “Proyek Peta Budaya”, di mana setiap kelompok siswa baru ditugaskan untuk meneliti dan mempresentasikan satu kekayaan budaya daerah (tarian, alat musik, kuliner, dll.) dari berbagai provinsi di Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya mengasah keterampilan penelitian dan presentasi, tetapi juga menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap keanekaragaman bangsa. Contoh lain adalah simulasi musyawarah untuk mengambil keputusan sederhana mengenai masalah di sekolah, yang melatih nilai-nilai demokrasi, menghargai pendapat, dan gotong royong.

Proyek Kolaboratif Membangun Keakraban, MPLS: Apa saja kegiatannya?

Untuk membangun keakraban yang lebih substansial, proyek kolaboratif kecil bisa menjadi pilihan. Salah satu ide adalah “Membuat Mural atau Mozaik Kelas”. Setiap kelas baru diberikan satu bidang dinding atau kanvas besar, serta bahan-bahan seni. Tanpa arahan detail, mereka harus berdiskusi menentukan tema (misalnya, “Harapan Kami untuk Sekolah Ini”), lalu bekerja sama mewujudkannya. Proses ini memaksa interaksi, negosiasi, dan kerja tim.

BACA JUGA  Nilai CAD + CDA pada Segitiga ABC dengan Titik D di Garis BC

Hasil akhirnya tidak hanya karya seni, tetapi juga kebanggaan kolektif dan cerita bersama yang menjadi fondasi ikatan sosial di kelas tersebut.

Konsep Pengenalan Ekstrakurikuler yang Interaktif

Pengenalan ekstrakurikuler dapat dirancang seperti sebuah “Edufair” atau “Festival Bakat”. Alih-alih hanya mendengarkan penjelasan dari pimpinan eskul, siswa baru diajak untuk mengalami secara langsung. Setiap eskul mendirikan booth atau station dengan aktivitas “coba gratis”. Eskul jurnalistik bisa mengajak siswa mewawancarai guru, eskul robotik bisa memberikan tantangan merakit sederhana, eskul paduan suara bisa mengajak bernyanyi satu lagu pendek, dan eskul olahraga bisa menyediakan area untuk mencoba teknik dasar.

Dengan konsep ini, siswa tidak hanya melihat, tetapi merasakan, sehingga pilihan mereka untuk bergabung nanti lebih berdasarkan pada minat dan pengalaman nyata.

Panduan Penyusunan Materi

Materi yang disampaikan selama MPLS menjadi fondasi pemahaman siswa baru terhadap identitas dan aturan main di sekolah. Oleh karena itu, penyusunannya harus dilakukan dengan cermat, sistematis, dan komunikatif. Materi yang baik adalah materi yang informatif namun tidak menggurui, jelas namun tidak kaku, dan mampu memicu keterlibatan emosional positif dari peserta didik.

Poin Penting Materi Visi-Misi dan Tata Tertib

Penyampaian visi-misi dan tata tertib sering kali dianggap membosankan. Kuncinya adalah menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari siswa. Untuk visi-misi, jelaskan bukan hanya sebagai slogan di dinding, tetapi sebagai kompas yang akan membimbing setiap kegiatan sekolah. Beri contoh konkret bagaimana nilai “berprestasi dan berakhlak mulia” diterjemahkan dalam lomba sains, pertandingan olahraga, atau aksi sosial. Untuk tata tertib, fokuskan pada “alasan di balik aturan”.

Jelaskan bahwa seragam yang rapi bukan sekadar keharusan, tetapi bentuk penghormatan terhadap institusi dan diri sendiri. Sampaikan dengan narasi yang memposisikan siswa sebagai subjek yang bertanggung jawab, bukan objek yang hanya harus patuh.

Kerangka Materi Program dan Jalur Prestasi

Pengenalan program prestasi bertujuan membuka wawasan dan motivasi siswa. Susun kerangka materinya sebagai peta peluang. Mulailah dengan menjelaskan bahwa prestasi memiliki banyak wajah: akademik (Olimpiade Sains), seni (festival, pameran), olahraga (kejuaraan), dan kepemimpinan (organisasi). Kemudian, jabarkan program unggulan sekolah untuk masing-masing bidang, lengkap dengan prestasi yang pernah diraih kakak kelas. Jangan lupa tunjukkan “jalurnya”: bagaimana seorang siswa yang berminat bisa bergabung dengan klub olimpiade, atau mengikuti seleksi tim kesenian.

Sertakan testimoni atau profil singkat alumni/siswa berprestasi sebagai figur yang dapat diinspirasi.

Penyampaian Materi Pencegahan Perundungan dan Kekerasan

Materi ini sensitif namun sangat krusial. Sampaikan dengan bahasa yang lugas, empatik, dan bebas dari stigma. Awali dengan mendefinisikan apa itu perundungan (fisik, verbal, sosial, siber) dengan contoh yang relevan dengan dunia mereka. Tekankan bahwa sekolah adalah zona bebas bullying dan bahwa setiap laporan akan ditangani serius dengan prinsip keadilan dan pemulihan. Lebih penting dari sekadar larangan, berikan keterampilan praktis: bagaimana menjadi “upstander” (pembela) alih-alih bystander (penonton), cara melaporkan (melalui siapa dan channel apa), serta mekanisme dukungan psikologis yang tersedia di sekolah seperti konseling.

Tujuan utamanya adalah membangun rasa aman dan keyakinan bahwa sekolah akan melindungi mereka.

Penutupan

Pada akhirnya, keberhasilan MPLS tidak diukur dari banyaknya aktivitas yang diselenggarakan, melainkan dari sejauh mana peserta didik baru merasa diterima, aman, dan termotivasi untuk memulai perjalanan akademiknya. Kegiatan-kegiatan yang dirancang dengan kreatif dan penuh makna tersebut berperan sebagai katalisator, mempercepat proses integrasi sosial dan akademik. Dengan fondasi yang kokoh dari masa pengenalan ini, diharapkan setiap siswa dapat melangkah lebih percaya diri, siap menjelajahi potensi diri, dan aktif berkontribusi dalam membangun atmosfer sekolah yang positif serta berprestasi.

MPLS bukan sekadar pengenalan lingkungan sekolah, melainkan ruang untuk membangun karakter dan mengenal kekayaan budaya Indonesia. Salah satu kegiatan kreatif yang bisa diintegrasikan adalah workshop musik tradisional, misalnya dengan mempelajari Alat Musik Papua yang Dipukul dan Cara Memainkannya. Pengalaman ini tak hanya mengasah keterampilan seni, tetapi juga memperkaya wawasan kebhinekaan, yang pada akhirnya memperkuat esensi MPLS sebagai fondasi awal tahun ajaran yang bermakna.

FAQ Terkini

Apakah MPLS itu wajib diikuti oleh semua siswa baru?

Ya, MPLS merupakan kegiatan wajib bagi semua peserta didik baru sebagai bagian dari proses penerimaan mereka menjadi anggota sekolah, sesuai dengan regulasi yang ditetapkan pemerintah.

Bagaimana jika ada siswa yang tidak bisa mengikuti MPLS karena sakit atau halangan lain?

Sekolah biasanya memiliki kebijakan untuk memberikan materi atau tugas pengganti, serta pengenalan secara khusus setelah siswa tersebut kembali, untuk memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat.

Apakah orang tua boleh mengantar atau menemani anak selama kegiatan MPLS?

Umumnya, orang tua diimbau untuk melepas anak di pintu gerbang sekolah untuk melatih kemandirian. Namun, seringkali ada sesi khusus pertemuan orang tua dengan pihak sekolah di hari yang terpisah.

Apakah boleh ada kegiatan perploncoan atau tugas yang tidak wajar dalam MPLS?

Tidak boleh sama sekali. Seluruh kegiatan MPLS harus edukatif, menghargai martabat peserta didik, dan bebas dari segala bentuk kekerasan fisik maupun verbal, serta perundungan sesuai prinsip yang diatur pemerintah.

Apakah ada sanksi bagi panitia atau senior jika melanggar aturan selama MPLS?

Ya, sekolah memiliki mekanisme sanksi tegas bagi siapa pun, baik panitia guru maupun siswa senior, yang melanggar pedoman penyelenggaraan MPLS, termasuk pembatalan keikutsertaan hingga sanksi administratif.

Leave a Comment