Pengertian ADSL dan Fungsinya mungkin terdengar seperti pelajaran teknis yang berat, tapi sebenarnya ini adalah cerita tentang bagaimana kita dulu pertama kali benar-benar ‘terhubung’ di rumah. Bayangkan, di suatu masa, menelepon dan berselancar di internet adalah dua hal yang mustahil dilakukan bersamaan. Lalu datanglah ADSL, sang pahlawan yang mengubah saluran telepon biasa menjadi gerbang dunia digital, membawa kita dari era derit modem dial-up yang menyiksa ke dunia broadband yang selalu aktif.
Teknologi ini bukan sekadar kabel dan modem; ia adalah fondasi yang memungkinkan obrolan daring pertama, download lagu berjam-jam, dan revolusi cara kita belajar serta bekerja dari rumah.
Pada intinya, ADSL atau Asymmetric Digital Subscriber Line adalah teknologi yang memanfaatkan kabel telepon tembaga eksisting untuk mengirimkan data internet dengan kecepatan unduh (download) dan unggah (upload) yang berbeda atau asimetris. Perbedaan kecepatan inilah yang menjadi ciri khas dan fungsinya, dirancang sesuai pola konsumsi pengguna zaman itu yang lebih banyak menerima konten daripada mengirim. Melalui sebuah perangkat kecil bernama splitter, saluran telepon dibagi menjadi dua: satu untuk suara dan satu lagi untuk data, sehingga kita bisa browsing sambil menelepon nenek tanpa gangguan.
Kehadirannya merupakan lompatan besar yang menjembatani masa analog menuju digital dengan infrastruktur yang sudah ada.
Asimetri Digital yang Menghubungkan Dunia Rumah Tangga
Sebelum ADSL menjadi populer, mengakses internet seringkali berarti memutuskan komunikasi suara. Teknologi ini hadir dengan janji revolusioner: mengizinkan percakapan telepon dan berselancar di dunia maya berjalan secara bersamaan melalui satu jalur kabel telepon yang sama. Inti dari revolusi ini terletak pada kata “Asymmetric” dalam namanya, yang merujuk pada pembagian kecepatan data yang tidak seimbang namun disesuaikan dengan kebutuhan pengguna rumahan pada masanya.
ADSL, atau Asymmetric Digital Subscriber Line, bekerja dengan mengalokasikan porsi bandwidth yang lebih besar untuk kegiatan mengunduh data dibandingkan dengan mengunggah. Alasan di balik desain asimetris ini sangat praktis. Pola penggunaan internet rumahan di akhir 1990-an dan awal 2000-an didominasi oleh konsumsi konten. Pengguna lebih banyak menerima data—seperti membuka halaman web yang kian kompleks, mengunduh file musik, atau menonton video berdurasi pendek—daripada mengirim data besar ke internet.
Dengan membagi saluran tembaga yang ada menjadi kanal frekuensi terpisah, ADSL menyediakan jalur lebar untuk downstream (dari internet ke pengguna) dan jalur lebih sempit untuk upstream (dari pengguna ke internet), sementara masih menyisakan pita frekuensi rendah untuk percakapan suara analog. Efisiensi inilah yang membuatnya menjadi lompatan besar dari era dial-up.
Perbandingan Kecepatan untuk Aktivitas Digital
Untuk memahami peningkatan yang dibawa ADSL, kita dapat membandingkannya dengan teknologi sebelum dan sesudahnya dalam menangani aktivitas digital sehari-hari. Tabel berikut memberikan gambaran umum tentang pengalaman pengguna.
| Aktivitas | Dial-Up (56 Kbps) | ADSL (Misal: 10/1 Mbps) | Kabel (Misal: 100/10 Mbps) | Fiber Optik (Misal: 300/100 Mbps) |
|---|---|---|---|---|
| Streaming SD Video | Hampir tidak mungkin, buffer terus-menerus. | Lancar, bisa dijalankan dengan kualitas standar. | Sangat lancar, bisa sambil menjalankan aktivitas lain. | Instan, multiple stream 4K sekaligus. |
| Online Gaming | Latency sangat tinggi, tidak feasible untuk game real-time. | Dapat diterima untuk game casual, latency bergantung pada kualitas line. | Baik untuk kebanyakan game, latency rendah. | Optimal, latency sangat rendah dan stabil. |
| Video Call | Hanya audio, video sangat patah-patah. | Video call definisi standar mungkin, kualitas menurun jika ada aktivitas unduh. | Video HD lancar untuk beberapa peserta. | Video call grup HD/4K tanpa gangguan. |
| Upload File Besar (10MB) | ± 25 menit | ± 1.5 menit | ± 8 detik | ± 1 detik |
Prinsip Kerja Splitter dan Revolusi Koneksi Always-On
Source: kantinit.com
Kunci dari kemampuan ADSL untuk membagi saluran adalah sebuah perangkat kecil bernama splitter. Splitter berfungsi sebagai filter yang memisahkan sinyal frekuensi rendah (0-4 kHz) untuk suara telepon dari sinyal frekuensi tinggi (25 kHz hingga 1.1 MHz) untuk data internet. Pemisahan ini mencegah interferensi antara modem digital dan telepon analog, memungkinkan keduanya beroperasi secara independen. Pada masanya, ini adalah terobosan besar karena mengubah internet dari sesuatu yang “dihidupkan” dengan proses dial yang lambat menjadi koneksi “always-on” yang langsung tersedia begitu komputer dinyalakan.
Koneksi yang terus-menerus ini mendorong perubahan budaya dalam menggunakan internet, dari sesi browsing terencana menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terintegrasi.
“Dulu, kalau mau internetan, keluarga harus sepakat tidak akan nelpon atau menerima telepon. Bunyi ‘tit-tit-tit’ modem dial-up itu seperti ritual. Setelah ADSL dipasang, rasanya dunia terbuka. Kita bisa chatting di Yahoo Messenger berjam-jam sambil dengar radio online, sementara Ibu masih bisa terima telepon dari nenek. Download lagu satu album yang sebelumnya bisa semalaman, kini selesai saat kita makan malam. Itu adalah kemewahan yang tiba-tiba menjadi normal.” — Kenangan pengguna internet awal 2000-an.
Secara sederhana, ADSL adalah teknologi koneksi internet yang memisahkan pita frekuensi untuk data dan suara, memungkinkan kita berselancar di dunia digital sambil menelepon. Akses informasi yang lancar ini sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, yang di Indonesia dijamin melalui Empat Undang‑Undang yang Mengatur HAM di Indonesia. Nah, dengan memahami fungsi ADSL yang menghubungkan kita pada jaringan, kita jadi lebih menghargai bagaimana teknologi dan regulasi bersama-sama mendukung hak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi.
Anatomi Teknis Sinyal pada Kabel Tembaga
Keajaiban ADSL terletak pada kemampuannya menyemburkan data digital berkecepatan tinggi melalui sepasang kabel tembaga tipis yang awalnya hanya dirancang untuk membawa sinyal suara analog. Sihir ini dimungkinkan oleh teknik modulasi canggih yang disebut Discrete Multi-Tone (DMT). Berbeda dengan pendekatan tunggal, DMT membagi spektrum frekuensi yang tersedia di kabel tembaga menjadi banyak sekali “sub-kanal” atau “tona” yang lebih kecil, masing-masing lebarnya sekitar 4.3125 kHz.
Secara teknis, modem ADSL di sisi pelanggan dan perangkat DSLAM di sisi penyedia layanan akan melakukan negosiasi cerdas saat pertama kali tersambung. Mereka memindai semua sub-kanal yang tersedia—bisa ratusan—untuk menguji kondisi masing-masing. Sub-kanal yang berada pada frekuensi rentang kebisingan tinggi atau mengalami attenuasi parah akan dihindari atau dialokasikan bit data yang lebih sedikit. Sub-kanal yang bersih dan kuat akan diberi tugas membawa lebih banyak bit data.
Proses adaptif ini memaksimalkan kapasitas kabel tembaga yang ada dengan mendistribusikan data secara optimal di seluruh spektrum frekuensi, mirip seperti lalu lintas yang diatur untuk menghindari jalan rusak dan memanfaatkan jalan tol yang mulus.
Faktor Penentu Kualitas Koneksi ADSL
Kinerja ADSL sangat bergantung pada kondisi fisik jalur tembaga. Beberapa faktor kunci yang langsung mempengaruhi kecepatan dan stabilitas antara lain attenuasi, atau pelemahan sinyal, yang meningkat seiring panjang kabel dan kualitasnya; interferensi elektromagnetik atau crosstalk dari kabel ADSL lain dalam satu bundel yang dapat mengotori sinyal; dan jarak fisik dari rumah pelanggan ke DSLAM. Semakin jauh jaraknya, biasanya di atas 3-4 kilometer, sinyal akan semakin melemah dan kecepatan maksimum yang bisa dicapai pun turun drastis.
Faktor lain seperti sambungan kabel yang buruk, penggunaan kawat ekstensi, atau perangkat telepon lama tanpa filter juga dapat mengganggu.
Komponen Instalasi ADSL di Sisi Pelanggan
Instalasi ADSL standar di rumah melibatkan beberapa komponen penting yang bekerja berurutan. Berikut adalah daftar komponen utama tersebut.
- Jack Telepon (Titik Sambung): Titik awal berupa stop kontak telepon di dinding yang terhubung ke jaringan PSTN.
- Splitter (Pemisah): Perangkat kecil dengan minimal tiga port: input dari jack dinding, output ke modem ADSL, dan output ke telepon analog.
- Kabel RJ-11: Kabel telepon standar yang menghubungkan splitter ke jack dinding dan ke perangkat telepon.
- Modem ADSL: Jantung dari koneksi. Modem ini menerjemahkan sinyal digital dari komputer menjadi sinyal frekuensi tinggi untuk dikirim via kabel tembaga, dan sebaliknya. Modem terhubung ke port ADSL pada splitter.
- Kabel Ethernet atau USB: Menghubungkan modem ADSL ke komputer pengguna. Beberapa modem juga telah mengintegrasikan fungsi router Wi-Fi.
Proses Pemecahan Sinyal Digital Menjadi Sub-Kanal
Proses pengiriman data dimulai ketika komputer mengirimkan aliran data digital ke modem ADSL. Modem kemudian tidak mengirimkan aliran ini sebagai satu sinyal utuh. Alih-alih, prosesor di dalam modem akan memetakan bit-bit data tersebut ke dalam ratusan sub-kanal frekuensi yang telah disurvei sebelumnya. Setiap sub-kanal dimodulasi secara independen, biasanya menggunakan teknik seperti QAM (Quadrature Amplitude Modulation). Kumpulan sinyal dari semua sub-kanal ini kemudian digabungkan menjadi satu sinyal komposit yang kompleks dan dikirimkan sebagai gelombang elektromagnetik melalui kabel tembaga menuju DSLAM.
Di sisi DSLAM, proses sebaliknya terjadi: sinyal komposit diurai kembali, setiap sub-kanal dianalisis, dan data asli direkonstruksi sebelum diteruskan ke jaringan internet yang lebih luas. Keanggunan DMT terletak pada sifatnya yang adaptif terhadap kondisi line yang dinamis.
Posisi ADSL dalam Evolusi Infrastruktur Telekomunikasi
Dalam peta evolusi konektivitas internet, ADSL berperan sebagai teknologi transisi yang sangat sukses. Ia menjembatani kesenjangan antara era dial-up yang terbatas dan lambat dengan era broadband berkecepatan tinggi yang kita nikmati sekarang. Keberhasilan utamanya adalah membuktikan bahwa permintaan publik akan internet yang selalu aktif dan lebih cepat sangat besar, sekaligus memberikan waktu dan landasan ekonomi bagi penyedia layanan untuk mengembangkan infrastruktur generasi berikutnya seperti fiber optik.
ADSL menjadi solusi pragmatis karena memanfaatkan aset yang sudah terpasang luas: jaringan kabel telepon tembaga PSTN (Public Switched Telephone Network). Daripada harus menarik kabel serat optik baru ke setiap rumah—investasi yang sangat mahal dan memakan waktu—penyedia layanan hanya perlu menambahkan perangkat DSLAM di gardu atau sentral telepon yang ada. Hal ini memungkinkan mereka menawarkan layanan internet broadband dengan biaya deployment yang relatif rendah dan waktu yang cepat, menjangkau jutaan pelanggan potensial yang sudah memiliki sambungan telepon.
Dengan cara ini, ADSL mempercepat adopsi internet rumahan secara massal.
Evolusi Teknologi DSL dari ADSL hingga VDSL
Teknologi DSL sendiri terus berevolusi untuk mengekstrak lebih banyak bandwidth dari kabel tembaga lama. Perkembangan ini melahirkan beberapa varian dengan kemampuan yang berbeda, seperti terlihat pada tabel berikut.
| Teknologi | Bandwidth Maksimum (Down/Up) | Jangkauan Efektif | Aplikasi yang Didukung |
|---|---|---|---|
| ADSL | Hingga 24 Mbps / 1 Mbps | Hingga 5.5 km | Web browsing, email, streaming SD/HD, gaming casual. |
| ADSL2+ | Hingga 24 Mbps / 3.5 Mbps | Hingga 6.5 km (lebih baik di jarak menengah) | Streaming HD lebih stabil, video call berkualitas baik, upload lebih cepat. |
| VDSL / VDSL2 | Hingga 100 Mbps / 100 Mbps (VDSL2) | Hingga 1.5 km (sangat sensitif jarak) | Streaming 4K, cloud gaming, upload konten kreatif, smart home intensif. |
Dukungan untuk Tren Kerja Jarak Jauh
Warisan dan ketahanan infrastruktur ADSL diuji pada awal pandemi COVID-19 ketika kebijakan kerja dan belajar dari rumah diterapkan secara masif. Di banyak wilayah, terutama di pinggiran kota dan daerah yang belum terjangkau fiber optik, ADSL menjadi tulang punggung konektivitas bagi keluarga. Koneksi yang selalu aktif ini memungkinkan rapat via Zoom, pengumpulan tugas sekolah secara online, dan akses ke cloud office.
Meskipun dengan keterbatasan bandwidth upload yang sering menjadi bottleneck untuk video call multipeserta, kehadiran ADSL mencegah terputusnya akses informasi dan komunikasi bagi sebagian besar populasi, menunjukkan peran kritisnya sebagai infrastruktur dasar digital bahkan di era modern.
Dampak Sosio-Ekonomi dari Konektivitas Asimetris
Ketersediaan ADSL yang relatif terjangkau dan luas menjangkau membawa transformasi mendasar dalam kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan dan pinggiran kota. Koneksi “always-on” mengubah internet dari utilitas khusus menjadi utilitas sehari-hari seperti listrik dan air. Perubahan ini berdampak pada tiga pilar utama: produktivitas, pendidikan, dan dinamika sosial keluarga. Orang tua bisa menyelesaikan pekerjaan darurat dari rumah di malam hari, anak-anak dapat mengakses referensi belajar di luar buku paket, dan keluarga yang terpisah jarak bisa berkomunikasi lebih intensif melalui email atau messenger, meski belum secara visual real-time.
Di bidang pendidikan, ADSL membuka pintu awal untuk konsep pendidikan jarak jauh dan e-learning. Meski materi yang diakses masih terbatas pada teks dan gambar, atau video beresolusi rendah, hal ini sudah menjadi lompatan dari ketergantungan penuh pada buku fisik dan tatap muka. Komunitas online mulai tumbuh di forum-forum, memungkinkan pertukaran pengetahuan yang lintas geografi. Pola asimetris ADSL, yang fokus pada konsumsi konten, justru cocok dengan model pembelajaran awal di internet dimana siswa lebih banyak menerima materi daripada menghasilkan konten video.
Keterbatasan dalam Ekonomi Kreatif dan Solusi Sementara
Ketika ekonomi kreatif berbasis konten seperti live streaming, podcasting, dan pembuatan video YouTube mulai berkembang, keterbatasan utama ADSL menjadi sangat jelas: bandwidth upload yang sangat kecil. Seorang kreator yang perlu mengunggah video HD berdurasi satu jam bisa menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan semalaman, dan proses ini sering mengganggu koneksi download untuk anggota keluarga lain. Solusi sementara yang umum digunakan adalah menjadwalkan upload pada dini hari ketika lalu lintas jaringan rendah, atau menggunakan teknik kompresi file yang agresif untuk mengurangi ukuran sebelum diunggah.
Keterbatasan ini menjadi pendorong kuat bagi para profesional dan kreator untuk bermigrasi ke koneksi symmetric seperti dedicated lease line atau fiber optik begitu layanan tersebut tersedia di area mereka.
Refleksi Pola Konsumsi Konten Era 2000-an
Model kecepatan asimetris ADSL bukanlah sebuah kekurangan, melainkan cerminan yang cermat dari pola konsumsi internet pengguna rumahan pada era tersebut. Internet masih dilihat sebagai perpustakaan dan sumber hiburan raksasa. Pengguna adalah “pembaca” dan “penonton”, bukan “penerbit” dan “penyiar”. Aktivitas utama seperti browsing, membaca berita, mendengarkan musik online, dan menonton klip video semuanya bersifat download-intensive. Bahkan email dan pesan instan pada masa itu lebih banyak berisi teks.
Desain ADSL yang mengoptimalkan downstream adalah respons efisien terhadap realita ini, memastikan sumber daya jaringan digunakan untuk memenuhi kebutuhan mayoritas pengguna.
Model Usaha Rumahan yang Tumbuh Berkat ADSL
Koneksi ADSL yang stabil dan selalu aktif menjadi landasan bagi munculnya berbagai bentuk usaha rumahan dan UMKM digital. Beberapa di antaranya termasuk:
- Online Shop Berbasis Marketplace: Penjualan di platform seperti eBay atau forum jual beli lokal, yang mengandalkan upload foto produk beresolusi rendah dan komunikasi via chat.
- Jasa Desain Grafis dan Programming: Freelancer yang menerima order dan mengirimkan hasil kerja berupa file digital (logo, website, software) melalui email atau layanan berbagi file.
- Warung Internet (Warnet): Bisnis penyewaan komputer dengan koneksi ADSL menjadi pusat akses digital bagi masyarakat yang belum memiliki koneksi di rumah.
- Administrasi Virtual: Jasa input data, transkripsi, atau administrasi online yang bisa dikerjakan dari rumah dan hasilnya dikirimkan secara digital.
- Trading Saham Online: Akses real-time (meski dengan delay minimal) ke pasar saham bagi retail investor dari rumah mereka.
Warisan ADSL dalam Konfigurasi Jaringan Modern
Meski teknologi intinya telah banyak digantikan, konsep dan pengalaman yang dikembangkan di era ADSL terus membentuk cara kita mengelola jaringan rumah modern. Tantangan utama ADSL—bandwidth yang terbatas dan harus dibagi—memaksa pengguna awal dan teknisi untuk memikirkan manajemen lalu lintas data. Konsep seperti Quality of Service (QoS), yang memprioritaskan lalu lintas penting (seperti panggilan VoIP atau game) di atas lalu lintas yang bisa ditunda (seperti download torrent), menjadi populer pertama kali di router ADSL rumahan.
Logika pengaturan ini adalah cikal bakal fitur “Gaming Mode” atau “Prioritize Video Call” yang ada di router Wi-Fi modern.
Router ADSL juga merupakan perangkat pertama bagi banyak keluarga yang menggabungkan beberapa fungsi: modem, router, switch Ethernet, dan seringkali titik akses nirkabel awal. Arsitektur all-in-one ini menjadi standar de facto untuk perangkat konsumen hingga sekarang. Pengalaman menghadapi koneksi yang fluktuatif berdasarkan jarak dan kualitas kabel juga mengajarkan pengguna untuk memahami metrik dasar koneksi, pengetahuan yang masih relevan saat mendiagnosis masalah Wi-Fi.
Terminologi Teknis ADSL dan Padanan Modern, Pengertian ADSL dan Fungsinya
Banyak parameter diagnostik yang kita lihat di antarmuka router modern adalah warisan langsung dari masa ADSL. Tabel berikut memetakan beberapa istilah kunci.
| Terminologi ADSL | Konsep Padanan dalam Jaringan Wi-Fi Rumah | Fungsi Diagnostik |
|---|---|---|
| SNR Margin (Signal-to-Noise Ratio Margin) | Kekuatan Sinyal (RSSI) & Kualitas Sinyal | Mengukur “kejelasan” sinyal; margin rendah berarti rentan terhadap gangguan. |
| Line Attenuation | Attenuasi atau Redaman Sinyel pada Jarak dari Router | Mengukur pelemahan sinyal; semakin tinggi nilainya, semakin jauh/jelek koneksinya. |
| Downstream/Upstream Speed | Kecepatan Download/Upload yang Terukur | Kapasitas bandwidth aktual yang tersedia untuk lalu lintas data. |
| DSL Synchronization | Status Koneksi ke ISP / “Internet Light” | Menunjukkan apakah perangkat telah terhubung secara fisik dan logikal ke jaringan penyedia. |
Pemahaman Limitasi Fisik dan Migrasi ke Fiber
Pengalaman menggunakan ADSL memberikan pelajaran penting tentang limitasi fisik medium tembaga: kecepatan maksimumnya terbatas, sangat bergantung pada jarak, dan rentan terhadap gangguan elektromagnetik. Pemahaman ini menjadi alasan fundamental yang mudah dipahami mengapa migrasi ke fiber optik (FTTH) diperlukan. Fiber optik menggunakan cahaya untuk mentransmisikan data melalui kaca, yang kebal terhadap interferensi listrik, memiliki attenuasi yang sangat rendah, dan menyediakan bandwidth yang secara teoritis hampir tak terbatas.
Jadi, ketika pengguna ADSL yang terbiasa dengan kecepatan 10 Mbps merasakan kecepatan 100 Mbps dari fiber tanpa fluktuasi, mereka langsung mengapresiasi lompatan teknologi yang terjadi, dari dunia yang dibatasi oleh hukum fisika elektron ke dunia yang digerakkan oleh cahaya.
Untuk mengoptimalkan bandwidth ADSL yang terbatas untuk beberapa perangkat, atur QoS di router. Prioritaskan lalu lintas untuk aplikasi video call (Zoom/Meet) dan gaming online. Jadwalkan download besar dan update sistem untuk dilakukan pada malam hari. Gunakan fitur bandwidth limiter untuk aplikasi seperti torrent atau cloud backup agar tidak memonopoli koneksi siang hari. Pastikan hanya perangkat penting yang terhubung ke jaringan 5GHz untuk mengurangi kongesti, dan gunakan kabel Ethernet untuk perangkat statis seperti PC atau TV box.
Penutupan: Pengertian ADSL Dan Fungsinya
Jadi, meskipun kini banyak tergantikan oleh serat optik yang super cepat, warisan ADSL dalam dunia konektivitas kita tidak boleh dilupakan. Ia adalah batu loncatan penting yang mendemokratisasikan akses internet rumahan, membuka pintu bagi bisnis online, kerja remote, dan pembelajaran daring jauh sebelum istilah-istilah itu menjadi tren global. Keterbatasannya pada kabel tembaga justru mengajarkan kita tentang manajemen bandwidth dan optimasi jaringan, prinsip yang masih diterapkan pada router Wi-Fi modern.
ADSL mungkin bukan lagi primadona, tetapi fungsinya sebagai pionir yang menghubungkan jutaan rumah ke dunia maya akan selalu menjadi bab penting dalam sejarah revolusi digital.
Panduan Tanya Jawab
Apakah ADSL masih layak digunakan di era sekarang?
Di area yang belum terjangkau fiber optik atau kabel broadband, ADSL masih menjadi pilihan yang layak untuk kebutuhan dasar seperti browsing, email, dan streaming SD. Namun, untuk kebutuhan upload besar, gaming online, atau streaming 4K, teknologinya sudah sangat tertinggal.
Mengapa kecepatan upload ADSL selalu lebih lambat dari download?
Desain asimetris ini mencerminkan pola penggunaan internet era 2000-an, di mana pengguna lebih banyak mengonsumsi konten (download) seperti melihat halaman web atau video, daripada membuat dan mengunggah konten (upload) berukuran besar.
Bagaimana cara mengetahui koneksi saya menggunakan ADSL?
Ciri paling mudah adalah penggunaan splitter yang menghubungkan telepon rumah dan modem, serta ketergantungan pada saluran telepon PSTN. Jika internet Anda mati saat telepon rumah digunakan (tanpa splitter), atau Anda berlangganan paket “Indihome” DSL, kemungkinan besar itu ADSL.
Apakah cuaca bisa mempengaruhi kualitas sinyal ADSL?
Ya, secara tidak langsung. Kabel tembaga rentan terhadap gangguan elektromagnetik. Cuaca buruk seperti hujan lebat atau petir dapat meningkatkan interferensi pada saluran, yang berpotensi menyebabkan koneksi menjadi lemah atau putus-putus.
Apakah jarak rumah ke gardu telepon benar-benar mempengaruhi kecepatan?
Sangat mempengaruhi. Sinyal pada kabel tembaga melemah (attenuasi) seiring jarak. Semakin jauh rumah dari DSLAM di gardu telepon, semakin rendah kecepatan maksimal yang bisa didapatkan. Ini adalah limitasi fisik utama teknologi ADSL.