Perbedaan Kohesi dan Koherensi Beserta Contohnya itu bikin pusing? Gak usah khawatir, mate. Bayangin lagi nulis caption atau ngejelasin sesuatu ke your mates, trus tulisannya berantakan dan gak nyambung. Nah, itu tandanya lo perlu ngeh tentang dua konsep kunci ini biar tulisan lo makin solid dan gampang dicerna.
Intinya, kohesi itu soal lem yang nempelin kata-kata dan kalimat secara teknis, kayak pake konjungsi atau repetisi kata. Sementara koherensi itu cerita tentang alur logika dan makna yang bikin satu teks utuh itu nyambung dan make sense di kepala pembaca. Dua-duanya vital banget buat bikin pesan lo gak cuma sampai, tapi juga nancep.
Pengantar Dasar: Memahami Konsep Kohesi dan Koherensi
Untuk membangun sebuah wacana yang utuh dan mudah dipahami, dua pilar utama yang harus diperhatikan adalah kohesi dan koherensi. Meski sering terdengar bersamaan, keduanya merujuk pada aspek yang berbeda namun saling melengkapi dalam kekuatan sebuah teks. Memahami perbedaannya bukan hanya penting untuk analisis linguistik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan menulis kita secara praktis.
Kohesi merujuk pada keterkaitan antarbagian dalam teks yang tampak secara fisik melalui kata, frasa, atau struktur gramatikal. Ia bersifat mekanis dan dapat diidentifikasi dengan mudah. Sementara itu, koherensi adalah keterkaitan makna dan logika di balik teks tersebut. Ia bersifat semantis dan membutuhkan penalaran pembaca untuk menghubungkan ide-ide yang disampaikan. Sebuah teks bisa saja memiliki banyak alat kohesi, tetapi jika ide-idenya melompat-lompat tanpa alur logis, teks itu tetap sulit dipahami.
Definisi Kohesi dan Koherensi
Kohesi adalah keserasian hubungan antarunsur dalam suatu teks yang ditandai oleh penggunaan penanda linguistik secara eksplisit. Fokusnya adalah pada bagaimana kalimat dan klausa direkatkan menjadi satu kesatuan tekstual melalui alat-alat bahasa. Di sisi lain, koherensi adalah kesatuan makna yang menjadikan teks tersebut masuk akal sebagai sebuah keseluruhan. Koherensi terletak pada konsistensi topik, urutan kejadian yang logis, dan hubungan kausalitas yang jelas antarproposisi.
| Aspek | Kohesi | Koherensi |
|---|---|---|
| Fokus | Bentuk dan struktur permukaan teks. | Makna dan logika yang mendasari teks. |
| Alat | Kata ganti, konjungsi, repetisi, sinonim, dll. | Urutan ide, hubungan logis, konsistensi topik, pengetahuan dunia. |
| Tingkat Analisis | Linguistik tekstual (mikro). | Semantik dan pragmatik (makro). |
| Sifat | Eksplisit, terlihat dalam teks. | Implisit, ada dalam interpretasi pembaca. |
Analog Perbedaan Mendasar
Bayangkan sebuah teks adalah sebuah bangunan. Kohesi adalah semen, baut, dan paku yang menyatukan batu bata, balok kayu, dan besi menjadi satu struktur fisik. Tanpa semen dan baut, bahan-bahan itu akan berantakan. Alat kohesi dalam teks berfungsi persis seperti itu. Sementara itu, koherensi adalah desain arsitekturalnya—denah lantai, alur ruangan, dan tujuan fungsional bangunan tersebut.
Anda bisa saja menyatukan batu bata dengan semen secara kuat (kohesi tinggi), tetapi jika susunannya tidak membentuk ruangan yang layak huni (tidak koheren), bangunan itu tidak akan berguna. Teks yang baik membutuhkan kedua-duanya: perekat yang kuat (kohesi) dan rancangan makna yang logis (koherensi).
Alat dan Penanda Kohesi dalam Teks
Kohesi dalam sebuah teks dapat dikenali melalui penanda-penanda linguistik yang spesifik. Penanda ini umumnya dikelompokkan menjadi dua jenis besar: kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Memahami berbagai jenis alat ini membantu kita tidak hanya dalam menganalisis teks orang lain, tetapi juga dalam menyusun tulisan kita sendiri agar lebih padu dan mengalir.
Jenis Alat Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal merujuk pada perekatan teks yang dicapai melalui tata bahasa dan struktur kalimat. Alat-alat ini bekerja secara sistematis dan seringkali bersifat wajib dalam pembentukan teks yang gramatikal.
- Referensi: Penggunaan kata untuk merujuk pada sesuatu yang telah atau akan disebut. Contoh: “Andi terlambat. Dia lupa mengatur alarm.” Kata “Dia” merujuk kembali ke “Andi”.
- Substitusi: Mengganti suatu unsur dengan unsur lain. Contoh: “Apakah kamu mau kopi? Aku mau yang manis.” Kata “yang” menggantikan “kopi”.
- Elipsis: Penghilangan suatu unsur yang dapat dipahami dari konteks. Contoh: “Dia membeli dua buku, dan saya [membeli] tiga.” Kata “membeli” dihilangkan.
- Konjungsi: Kata penghubung yang menunjukkan hubungan logis antar klausa atau kalimat. Contoh: “Hujan turun sangat deras. Oleh karena itu, jalanan menjadi banjir.”
Jenis Alat Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal dicapai melalui pilihan kata (kosakata) yang saling terkait maknanya. Alat ini memperkaya teks dan menciptakan jaringan makna yang erat.
- Repetisi: Pengulangan kata atau frasa yang sama. Contoh: ” Pendidikan adalah kunci kemajuan. Pendidikan yang baik melahirkan generasi unggul.”
- Sinonim: Penggunaan kata yang berbeda tetapi bermakna sama atau mirip. Contoh: “Dia cerdas. Kepintarannya itu yang membawanya sukses.”
- Antonim: Penggunaan kata yang berlawanan makna. Contoh: “Hidup ini penuh suka dan duka.”
- Kolokasi: Pasangan kata yang sering muncul bersama. Contoh: ” Menaati peraturan”, ” Melanggar hukum”.
- Hiponimi: Hubungan antara kata umum (hipernim) dan kata khusus (hiponim). Contoh: “Bunga (hipernim) itu indah. Terutama mawar dan melati (hiponim).”
Ilustrasi Alur Kohesi dalam Paragraf
Bayangkan sebuah paragraf sederhana: “Fahri membeli sepeda baru. Kendaraan roda dua itu sangat ia impikan. Setiap akhir pekan, dia mengayuhnya ke taman. Aktivitas tersebut membuatnya sehat dan bahagia.” Diagram alur kohesinya dapat dideskripsikan sebagai berikut: Kalimat pertama memperkenalkan unsur “sepeda baru”. Kalimat kedua merujuk padanya dengan sinonim deskriptif “Kendaraan roda dua itu”.
Kalimat ketiga menggunakan referensi kata ganti “dia” untuk merujuk pada “Fahri” di kalimat pertama, sekaligus kata “mengayuhnya” yang merujuk kembali ke “sepeda”. Kalimat keempat menggunakan kata “Aktivitas tersebut” sebagai substitusi untuk seluruh kegiatan “mengayuh sepeda ke taman” di kalimat sebelumnya. Semua tautan ini membentuk jejaring yang membuat paragraf tersebut terasa menyatu.
Prinsip dan Pembentukan Koherensi
Berbeda dengan kohesi yang kasat mata, koherensi lebih bersifat abstrak karena berada di tataran makna. Pembentukan koherensi bergantung pada kemampuan penulis menyusun ide secara logis dan pada kemampuan pembaca untuk mengaktifkan pengetahuan latar serta penalarannya. Sebuah teks disebut koheren jika pembaca dapat menemukan ‘benang merah’ dan merasakan kesatuan pesan dari awal hingga akhir.
Prinsip-Prinsip Koherensi, Perbedaan Kohesi dan Koherensi Beserta Contohnya
Agar sebuah teks dapat dikatakan koheren, beberapa prinsip umum perlu dipenuhi. Prinsip-prinsip ini seringkali bekerja secara simultan.
- Kesatuan Topik: Seluruh bagian teks harus berkontribusi pada pengembangan topik utama, tanpa menyimpang ke hal-hal yang tidak relevan.
- Keteraturan Urutan: Ide disusun dalam urutan yang logis, misalnya kronologis (untuk narasi), sebab-akibat, atau dari umum ke khusus (untuk eksposisi).
- Kepaduan Proposisi: Setiap pernyataan (proposisi) yang diajukan harus memiliki hubungan yang jelas dengan pernyataan sebelum dan sesudahnya, baik hubungan penambahan, pertentangan, sebab-akibat, maupun waktu.
- Konsistensi Sudut Pandang: Penulis perlu konsisten dalam hal persona, waktu (tenses), dan gaya penceritaan agar tidak membingungkan pembaca.
- Kelengkapan Informasi: Teks harus memberikan informasi yang cukup bagi pembaca untuk membuat inferensi logis tanpa harus menebak-nebak bagian yang hilang.
Faktor Pengganggu Koherensi
Koherensi sebuah wacana dapat rusak atau terputus karena beberapa hal. Faktor-faktor ini sering kali muncul tanpa disadari oleh penulis.
- Lonjakan Topik yang Tiba-tiba: Beralih ke topik baru tanpa transisi atau penjelasan yang memadai.
- Urutan Waktu atau Logika yang Kacau: Menyebutkan akibat sebelum sebab, atau mencampuradukkan kronologi peristiwa.
- Kontradiksi Internal: Menyatakan hal yang bertentangan dalam bagian teks yang berdekatan.
- Informasi yang Hilang: Mengasumsikan pembaca telah mengetahui informasi tertentu yang sebenarnya krusial untuk memahami alur cerita atau argumentasi.
- Ketidakkonsistenan: Misalnya, memulai cerita dengan sudut pandang orang pertama (“aku”), lalu tiba-tiba beralih ke sudut pandang orang ketiga (“dia”).
Contoh Teks Koheren dan Tidak Koheren
Teks A (Koheren): “Hujan deras mengguyur kota sejak pagi. Sistem drainase yang buruk tidak mampu menampung volume air yang besar. Akibatnya, genangan air mulai muncul di persimpangan jalan rendah. Beberapa ruas jalan utama pun mengalami kemacetan panjang.”
Alasan: Teks ini koheren karena menunjukkan hubungan sebab-akibat yang jelas dan berurutan: Hujan (sebab 1) + Drainase buruk (sebab 2) → Genangan (akibat 1) → Kemacetan (akibat 2).Alur logisnya mudah diikuti.
Teks B (Tidak Koheren): “Kemacetan terjadi di jalan utama. Ibu membeli sayur di pasar. Drainase kota ini perlu diperbaiki. Hujan turun semalam. Ayah pergi ke kantor lebih awal.”
Alasan: Teks ini tidak koheren karena terdiri dari pernyataan-pernyataan yang terputus-putus.Tidak ada hubungan logis yang jelas antar kalimat. Topiknya melompat dari kemacetan, ke aktivitas ibu, ke infrastruktur, ke cuaca, lalu ke ayah, tanpa ada upaya untuk menyatukan ide-ide tersebut menjadi sebuah pesan yang utuh.
Langkah Memeriksa Koherensi Paragraf
Untuk memastikan paragraf yang kita tulis telah koheren, kita dapat mengikuti prosedur pemeriksaan sederhana. Pertama, baca paragraf tersebut secara keseluruhan dan tanyakan pada diri sendiri, “Apa ide utamanya?” Kedua, telusuri setiap kalimat dan tanyakan, “Apa hubungan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya? Apakah ia menambah informasi, memberikan contoh, menunjukkan kontras, atau menjelaskan sebab?” Ketiga, periksa apakah ada kalimat yang terasa “melenceng” dari topik utama paragraf.
Keempat, pastikan tidak ada informasi penting yang terlewat sehingga membuat pembaca bertanya-tanya. Terakhir, baca paragraf dengan suara lantang; seringkali telinga kita dapat menangkap ketidaklogisan yang terlewat oleh mata.
Analisis Perbandingan dengan Studi Kasus: Perbedaan Kohesi Dan Koherensi Beserta Contohnya
Menganalisis teks nyata memberikan pemahaman yang lebih konkret tentang bagaimana kohesi dan koherensi bekerja, atau terkadang tidak bekerja, dalam praktiknya. Dengan membandingkan contoh, kita dapat melihat bahwa kekuatan pada satu aspek tidak selalu menjamin kekuatan pada aspek lainnya.
Analisis Alat Kohesi dalam sebuah Paragraf
Mari kita ambil contoh paragraf berikut: ” Penelitian terbaru tentang tidur mengungkapkan dampak signifikan terhadap memori. Penelitian ini dilakukan di Universitas X. Hasilnya menunjukkan bahwa fase tidur nyenyak membantu konsolidasi memori jangka panjang. Tanpa fase penting tersebut, informasi yang dipelajari sehari sebelumnya mudah terlupakan.”
- Repetisi: “Penelitian” diulang dengan “Penelitian ini”.
- Referensi: “ini” dalam “Penelitian ini” merujuk pada “Penelitian terbaru”. “Hasilnya” merujuk pada hasil dari penelitian tersebut.
- Sinonim/Kolokasi: “dampak signifikan” berhubungan dengan “membantu konsolidasi” dan “mudah terlupakan”.
- Referensi Demonstratif: “fase penting tersebut” merujuk pada “fase tidur nyenyak”.
Paragraf ini memiliki kohesi yang kuat karena berbagai alat tersebut saling merajut kalimat-kalimatnya.
Analisis Koherensi Paragraf yang Sama
Dari segi koherensi, paragraf tersebut juga sangat koheren. Alasannya, paragraf itu mempertahankan kesatuan topik yang ketat, yaitu hubungan antara tidur (khususnya fase nyenyak) dan memori. Urutan logisnya juga jelas: dimulai dari pengantar topik penelitian, lokasi penelitian, temuan utama, dan diakhiri dengan konsekuensi jika fase tidur itu tidak terpenuhi. Kepaduan proposisinya terjaga karena setiap kalimat secara langsung terkait dan mengembangkan kalimat sebelumnya, membentuk alur sebab-akibat yang mudah diikuti.
Perbandingan Dua Paragraf Kontras
| Aspek | Paragraf A: Kohesi Kuat, Koherensi Lemah | Paragraf B: Kohesi Lemah, Koherensi Kuat |
|---|---|---|
| Contoh Teks | “Ani pergi ke perpustakaan. Dia melihat banyak buku di sana. Buku-buku itu berjajar rapi. Ia lalu pergi ke pasar. Di pasar, Ani membeli ikan.” | “Tidur yang cukup sangat penting. Kesehatan fisik dan mental bergantung padanya. Kurang istirahat memicu stres. Produktivitas kerja juga menurun.” |
| Analisis Kohesi | Sangat kuat. Menggunakan repetisi nama (“Ani”), referensi kata ganti (“Dia”, “Ia”), repetisi dan referensi (“buku”
|
Lemah. Hanya mengandalkan hubungan makna. Hampir tidak ada kata ganti, repetisi, atau konjungsi yang eksplisit menghubungkan kalimat. |
| Analisis Koherensi | Lemah. Topik melompat dari “perpustakaan dan buku” ke “pasar dan ikan” tanpa hubungan logis atau transisi. Tidak ada kesatuan ide. | Kuat. Topik tentang pentingnya tidur konsisten. Kalimat-kalimatnya saling terkait secara logis (menjelaskan pentingnya dan akibat kekurangannya), meski tanpa penanda gramatikal yang jelas. |
Memperbaiki Teks dengan Kohesi tapi Tanpa Koherensi
Mari perbaiki Paragraf A dari tabel di atas. Masalahnya adalah lonjakan topik dari perpustakaan ke pasar. Untuk memperbaikinya, kita perlu menciptakan hubungan logis atau memisahkan ide yang tidak berkaitan. Opsi perbaikan: ” Ani pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi tentang budidaya ikan. Dia melihat banyak buku di sana.
Buku-buku itu berjajar rapi. Setelah itu, ia pergi ke pasar untuk mengamati harga ikan langsung. Di pasar, Ani membeli ikan.” Perbaikan dilakukan dengan menambahkan tujuan logis (“untuk mencari referensi…”) dan konjungsi transisi (“Setelah itu”) serta menghubungkan ide (“untuk mengamati harga ikan langsung”) sehingga aktivitas di perpustakaan dan pasar kini memiliki hubungan yang koheren sebagai bagian dari sebuah penelitian atau proyek.
Penerapan dalam Berbagai Jenis Teks
Kohesi dan koherensi tidak diterapkan dengan cara dan intensitas yang sama di semua jenis tulisan. Tuntutan genre teks yang berbeda—mulai dari narasi yang mengalir hingga eksposisi yang sistematis—membuat penekanan pada alat perekat dan struktur logika juga bervariasi. Memahami variasi ini memungkinkan kita untuk menyesuaikan strategi penulisan sesuai dengan tujuan komunikatif teks.
Kohesi dalam Teks Narasi dan Eksposisi
Dalam teks narasiteks eksposisi (seperti artikel ilmiah atau esai informatif), alat kohesi lebih berfungsu untuk menunjukkan hubungan logis antarargumen. Konjungsi kausalitas (“oleh karena itu”, “akibatnya”), pertentangan (“namun”, “sebaliknya”), dan penegasan (“misalnya”, “dengan kata lain”) lebih banyak digunakan. Repetisi kata kunci istilah teknis justru diperlukan untuk presisi dan kejelasan.
Kompleksitas Koherensi dalam Teks Ilmiah dan Persuasif
Teks ilmiah menuntut tingkat koherensi yang sangat tinggi dan eksplisit. Koherensi dibangun melalui struktur yang baku (pendahuluan, metode, hasil, pembahasan), urutan logika yang ketat, dan konsistensi data serta interpretasi. Setiap paragraf harus secara jelas terkait dengan pertanyaan penelitian, dan lonjakan logika yang tidak didukung bukti dianggap fatal. Di sisi lain, teks persuasif (seperti iklan atau pidato politik) juga membutuhkan koherensi yang kuat, tetapi sering kali dibangun dengan strategi yang berbeda.
Koherensi di sini bisa dibentuk melalui narasi emosional, pengulangan pesan inti (sebagai bentuk kohesi sekaligus koherensi tematik), dan penyusunan argumen dari yang paling lemah ke yang paling kuat (atau sebaliknya). Logika tetap penting, tetapi sering dipadukan dengan daya tarik emosional untuk menciptakan kesatuan pesan yang meyakinkan.
Analisis Unsur pada Berbagai Genre Teks
- Kutipan Berita: “Presiden mengadakan konferensi pers siang ini. Acara tersebut membahas pemulihan ekonomi pasca-bencana. Menurutnya, beberapa sektor sudah mulai menunjukkan pertumbuhan.”
Analisis: Kohesi melalui referensi (“Acara tersebut”) dan referensi kata ganti (“Menurutnya”). Koherensi terjaga dengan topik tunggal (konferensi pers presiden) dan urutan informasi dari umum ke khusus. - Kutipan Cerpen: “Langit kelam ketika Dian melangkah keluar. Gadis itu menarik napas dalam. Hatinya masih berdebar-debar setelah kejadian tadi sore.”
Analisis: Kohesi kuat melalui repetisi tokoh (“Dian”
-“Gadis itu”) dan referensi kepemilikan (“Hatinya”). Koherensi dibangun melalui deskripsi suasana dan keadaan batin tokoh yang saling melengkapi. - Kutipan Karya Ilmiah: “Metode yang digunakan adalah kuantitatif eksperimen. Selanjutnya, data dianalisis dengan uji statistik T-test. Hasil analisis ini kemudian didiskusikan pada bagian berikutnya.”
Analisis: Kohesi melalui konjungsi (“Selanjutnya”) dan referensi (“Hasil analisis ini”). Koherensi sangat ketat mengikuti struktur metodologi penelitian, menunjukkan urutan prosedur yang standar.
Ilustrasi Koherensi dalam Teks Argumentasi Panjang
Dalam sebuah teks argumentasi panjang (seperti tesis atau opini mendalam), koherensi dibangun layaknya sebuah bangunan bertingkat. Fondasinya adalah tesis atau klaim utama yang dinyatakan di awal. Pada setiap lantai (paragraf), dibangun sebuah argumen pendukung yang secara logis menguatkan fondasi tersebut. Antarlantai dihubungkan oleh tangga transisi yang berupa kalimat penghubung atau paragraf transisi yang merangkum dan mengarahkan. Di dalam setiap lantai, terdapat “ruangan” yang berisi bukti, data, atau contoh (evidence) yang koheren dengan argumen di lantai itu.
Terakhir, terdapat sebuah “atap” atau kesimpulan yang menyatukan kembali semua argumen dan menunjukkan bagaimana mereka secara kolektif mendukung fondasi awal. Jika salah satu lantai (paragraf) tidak terkait secara logis dengan fondasi (tesis), atau jika tangga transisi hilang, bangunan tersebut (teks) akan terasa runtuh dan tidak koheren.
Ringkasan Penutup
Jadi, gitu lah penjelasannya. Intinya, kohesi dan koherensi itu kayak duo serangkai yang bikin tulisan lo gak cuma rapi di permukaan, tapi juga punya jiwa dan alur yang bener di dalamnya. Kalo udah ngerti bedanya, lo bisa lebih jago nge-debug tulisan sendiri atau nge-rate tulisan orang lain. Cheers!
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kalo teksnya pake banyak banget alat kohesi, apa otomatis jadi koheren?
Nggak juga. Bisa aja teks penuh repetisi dan konjungsi (kohesi kuat), tapi ide-idenya loncat-loncat dan gak nyambung secara logika (koherensi lemah).
Manakah yang lebih penting antara kohesi dan koherensi?
Koherensi lebih fundamental. Teks yang koheren (nyambung maknanya) bisa masih dipahami meski alat kohesinya minimal. Tapi teks yang cuma kohesif tanpa koherensi akan sulit dimengerti.
Apakah koherensi hanya bergantung pada penulis?
Nggak sepenuhnya. Koherensi juga dibangun di pikiran pembaca, yang menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan latar belakang mereka. Konteks pembaca sangat berpengaruh.
Bisakah teks yang koheren dibuat tanpa alat kohesi gramatikal sama sekali?
Sangat sulit dan biasanya hanya pada bentuk puisi atau teks sangat pendek tertentu. Alat kohesi, terutama gramatikal, sangat membantu dalam membangun koherensi yang jelas dan mudah diikuti.