Perbedaan Yoga dan Meditasi serta Statusnya dalam Islam Tinjauan Lengkap

Perbedaan Yoga dan Meditasi serta Statusnya dalam Islam merupakan topik yang relevan di tengah maraknya praktik kebugaran dan pencarian ketenangan jiwa. Dalam masyarakat modern yang serba cepat, banyak orang, termasuk umat Islam, mencari solusi untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan fisik. Yoga dan meditasi sering kali hadir sebagai jawaban, namun keduanya membawa serta latar belakang filosofis dan spiritual yang kompleks.

Hal ini menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana menyikapinya tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Secara esensial, yoga berasal dari tradisi spiritual India yang tidak terpisahkan dari filosofi Hindu, mencakup penyatuan dengan sang diri sejati (Atman) dan alam semesta. Sementara meditasi, dalam pengertian universal, adalah latihan memusatkan pikiran untuk mencapai kedamaian batin dan fokus, yang dapat dilepaskan dari ikatan agama tertentu. Pemahaman mendalam tentang perbedaan mendasar ini, mulai dari asal-usul, tujuan inti, hingga komponen praktiknya, menjadi langkah krusial sebelum menimbang status hukumnya dalam Islam.

Pengertian dan Esensi Dasar Yoga serta Meditasi

Memahami perbedaan mendasar antara yoga dan meditasi adalah langkah awal yang krusial sebelum menilik lebih jauh posisinya dalam perspektif Islam. Keduanya sering dianggap sama, padahal memiliki akar filosofi, tujuan, dan praktik yang berbeda, meski dalam beberapa aspek saling bersinggungan.

Perdebatan seputar Yoga dan Meditasi dalam Islam seringkali menyentuh aspek akidah, karena keduanya dianggap memiliki muatan ritual non-Muslim. Untuk memahami batasan dalam agama, penting juga menelaah terminologi keagamaan secara mendasar, seperti memahami Arti Kata “Nabi” Menurut Bahasa yang mendudukkan posisi seorang utusan. Pemahaman linguistik ini dapat menjadi lensa untuk mengkaji lebih objektif mana praktik yang bersinggungan dengan keyakinan dan mana yang murni teknik relaksasi, sehingga umat Muslim dapat mengambil sikap yang tepat berdasarkan ilmu.

Filosofi dan Praktik Asal Yoga

Yoga, yang berasal dari tradisi India kuno, jauh lebih dari sekadar latihan fisik. Kata “yoga” sendiri berasal dari bahasa Sanskerta “yuj” yang berarti menyatukan atau menghubungkan. Secara filosofis, yoga adalah sebuah disiplin spiritual yang bertujuan untuk menyatukan kesadaran individu (Atman) dengan kesadaran universal (Brahman). Praktiknya yang holistik mencakup delapan anggota (Ashtanga) yang meliputi norma etika (Yama dan Niyama), postur fisik (Asana), teknik pernapasan (Pranayama), penarikan indera (Pratyahara), konsentrasi (Dharana), meditasi (Dhyana), dan penyerapan diri tertinggi (Samadhi).

Asana, atau postur fisik yang populer di dunia modern, hanyalah satu dari sekian banyak komponen dalam sistem yang bertujuan mencapai pembebasan spiritual (Moksha).

Meditasi dalam Konteks Universal

Meditasi, di sisi lain, adalah praktik melatih perhatian dan kesadaran untuk mencapai keadaan mental yang tenang dan stabil. Ia tidak secara inheren melekat pada satu agama tertentu, meski ditemukan dalam berbagai bentuk di hampir semua tradisi spiritual dunia. Dalam konteks sekuler, meditasi dipraktikkan terutama untuk manfaat kesehatan mental dan fisik, seperti mengurangi stres, meningkatkan fokus, dan mengelola emosi. Tekniknya beragam, mulai dari memusatkan perhatian pada napas, sensasi tubuh, hingga latihan mindfulness yang mengamati pikiran tanpa terikat.

Tujuan Utama Yoga dan Meditasi

Perbandingan tujuan utama keduanya memperjelas perbedaannya. Tujuan akhir yoga, dalam bentuk aslinya, adalah spiritual dan filosofis, yaitu penyatuan dengan realitas tertinggi. Meditasi, secara universal, lebih berfokus pada penguasaan dan pemahaman atas kondisi pikiran sendiri untuk mencapai kesejahteraan mental. Dalam yoga, meditasi (Dhyana) adalah sebuah tahapan pencapaian, sementara dalam praktik sekuler, meditasi sering menjadi tujuan tunggal itu sendiri.

Tabel Perbandingan Yoga dan Meditasi

Aspek Yoga (Tradisional) Meditasi (Universal/Sekuler)
Asal-usul Berasal dari filsafat dan spiritualitas India kuno (Veda, Upanishad). Ditemukan dalam berbagai budaya dan agama, dapat dipisahkan dari konteks agama tertentu.
Tujuan Inti Penyatuan diri individu dengan yang transenden (Moksha), mencakup fisik, mental, dan spiritual. Mencapai ketenangan pikiran, fokus, kesadaran penuh (mindfulness), dan pengurangan stres.
Komponen Utama Ashtanga Yoga (8 anggota): termasuk etika, postur (asana), pernapasan (pranayama), konsentrasi, meditasi. Teknik perhatian (fokus pada napas, tubuh, atau objek), observasi pikiran, latihan kesadaran tanpa penilaian.
Konteks Pelaksanaan Seringkali terikat dengan filosofi Hindu/Buddha, melibatkan simbolisme (seperti ucapan “Om”), dan niat spiritual tertentu. Dapat dilakukan secara netral, tanpa ritual, simbol, atau keyakinan agama, murni untuk kesehatan mental.
BACA JUGA  Sunarto Beli Sepeda di Pasar Malang Diterjemah ke Krama Alus

Tinjauan Hukum Islam atas Praktik Yoga dan Meditasi: Perbedaan Yoga Dan Meditasi Serta Statusnya Dalam Islam

Islam memiliki pandangan yang detail dan proporsional dalam menyikapi praktik yang berasal dari tradisi lain. Penilaiannya tidak serta-merta hitam putih, tetapi melihat pada unsur-unsur pokok (ushul), niat, dan praktik turunannya, sehingga menghasilkan pandangan yang beragam di kalangan ulama.

Hukum Aktivitas Fisik (Asana) Yoga

Status gerakan fisik atau asana yoga dalam Islam menjadi bahan ijtihad para ulama. Mayoritas ulama kontemporer memandang bahwa gerakan-gerakan peregangan dan keseimbangan tersebut, jika dipisahkan sepenuhnya dari unsur spiritual, mantra, atau pemujaan, pada dasarnya adalah mubah (diperbolehkan) karena termasuk dalam kategori olahraga atau fisioterapi. Dalil yang menjadi landasan adalah kaidah fikih, “Al-ashlu fil asy-ya’i al-ibahah hatta yadulla ad-dalilu ‘ala at-tahrim” (Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sampai ada dalil yang mengharamkannya).

Namun, kehati-hatian ekstrem diperlukan karena kekhawatiran akan “asy-syubhat” (hal yang samar) dan kekuatan ikatan antara gerakan dengan filosofi aslinya yang mungkin sulit dipisahkan oleh orang awam.

Meditasi (Muraqabah) dalam Islam

Islam sangat menganjurkan praktik perenungan dan penghadiran hati yang dikenal dengan muraqabah. Muraqabah secara bahasa berarti merasakan pengawasan Allah. Ia adalah bagian dari tasawuf yang sahih, bertujuan untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs), mendekatkan diri kepada Allah (taqarrub), dan mencapai ketenangan (ithmi’nan). Tata caranya berlandaskan dzikir mengingat Allah, merenungi ciptaan-Nya, dan introspeksi diri (muhasabah). Niatnya tulus ikhlas karena Allah, berbeda dengan meditasi sekuler yang bertujuan relaksasi duniawi semata.

Rasulullah SAW sendiri sering berkhalwat (menyendiri) untuk bertafakkur di Gua Hira sebelum turunnya wahyu pertama.

Titik Kritis Kontroversial dalam Praktik Yoga

Beberapa elemen dalam yoga modern, meski diklaim sekuler, tetap menyisakan titik kritis yang memantik perdebatan di kalangan muslim.

  • Ucapan Mantra (seperti “Om” atau “Namaste”): “Om” dianggap sebagai simbol suci yang merepresentasikan realitas tertinggi dalam Hindu. Mengucapkannya dapat dianggap sebagai bentuk pengakuan atau partisipasi dalam keyakinan lain.
  • Penyembahan kepada Matahari (Surya Namaskar): Rangkaian gerakan ini secara harfiah berarti “penghormatan kepada matahari”. Meski banyak yang melakukannya sekadar gerakan, nama dan asal-usulnya bersifat ritualistik.
  • Pengajaran Filosofi dan Chakra: Banyak instruktur menyelipkan ajaran tentang chakra (pusat energi) dan Kundalini yang berasal dari kepercayaan tantra, yang bertentangan dengan konsep energi dan ruh dalam Islam.
  • Niat dan Dedikasi (Intention Setting): Ritual mengatur niat di awal kelas sering kali ditujukan kepada “alam semesta” atau “dewa/dewi dalam diri”, yang merupakan bentuk kesyirikan dalam akidah Islam.

Perbedaan Meditasi Sekuler dan Muraqabah Islam

Berikut adalah perbedaan mendasar antara praktik meditasi sekuler yang populer dan muraqabah dalam Islam.

  • Landasan Filosofis: Meditasi sekuler berlandaskan psikologi dan neurosains, sementara muraqabah berlandaskan tauhid dan keimanan kepada Allah.
  • Objek Fokus: Meditasi sekuler berfokus pada napas, tubuh, atau pikiran sendiri. Muraqabah berfokus pada Dzat Allah, Asmaul Husna, dan keagungan ciptaan-Nya.
  • Tujuan Akhir: Tujuan meditasi sekuler adalah kesehatan mental, produktivitas, dan kebahagiaan duniawi. Tujuan muraqabah adalah ridha Allah, ketenangan hati yang datang dari iman (sakinah), dan penyucian jiwa.
  • Status Pikiran: Dalam meditasi sekuler, pikiran diobservasi dan dibiarkan berlalu. Dalam muraqabah, pikiran diarahkan untuk mengingat Allah, dan jika melenceng ditarik kembali dengan dzikir.

Analisis Perbandingan dan Batasan yang Diperlukan

Untuk mengambil sikap yang tepat, diperlukan analisis mendalam yang membandingkan konsep-konsep inti dan mengidentifikasi batasan yang tidak boleh dilanggar. Ini memungkinkan umat Islam untuk bijak memilah antara manfaat duniawi dan keselamatan akidah.

Ketenangan Jiwa dalam Yoga dan Ithmi’nan dalam Islam

Konsep ketenangan dalam yoga (disebut Shanti atau Santosha) dicapai melalui penyelarasan tubuh, pikiran, dan spirit, dengan tujuan akhir merasakan kesatuan dengan alam semesta. Ketenangan ini bersifat imanen, dicari dari dalam diri melalui penguasaan teknik. Sementara itu, ketenangan hati (ithmi’nan) dalam Islam bersifat transenden. Ia adalah buah dari keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, seperti firman-Nya dalam QS. Ar-Ra’d: 28, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.

Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ketenangan ini adalah pemberian (hadiah) dari Allah, bukan semata hasil upaya teknis manusia.

BACA JUGA  Ekstensi File Microsoft Excel 2007 Panduan Lengkap Format XLSX

Elemen Yoga Modern yang Berpotensi Bertentangan dengan Akidah

Beberapa elemen dalam kelas yoga modern, meski dikemas secara ringan, dapat secara halus menggerus akidah jika tidak diwaspadai.

  • Konsep “Tuhan dalam Diri” (The Divine Within): Ajaran bahwa tuhan atau energi ilahi bersemayam dalam setiap manusia bertentangan frontal dengan konsep tauhid, di mana Allah adalah Khaliq (Pencipta) yang Maha Tinggi dan berbeda dari makhluk-Nya.
  • Penyembuhan Energi dan Chakra: Keyakinan bahwa penyakit fisik dan mental disebabkan oleh tersumbatnya chakra dan dapat disembuhkan dengan manipulasi energi tertentu, dapat menggiring seseorang kepada keyakinan pada sebab-sebab selain Allah.
  • Relativisme Kebenaran Lingkungan yoga sering mengusung paham “semua agama menuju jalan yang sama”. Pandangan ini bertentangan dengan prinsip Islam bahwa satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran: 85).

Mengambil Manfaat Kesehatan Tanpa Tergelincir

Seorang muslim dapat mengambil manfaat fisik dari gerakan-gerakan yang mirip yoga dengan langkah-langkah protektif. Pertama, ia harus memiliki ilmu dasar tentang akidah dan titik-titik penyimpangan. Kedua, ia dapat memilih kelas yang benar-benar sekuler dan fokus pada fisioterapi atau pilates, yang tidak menyertakan unsur spiritual sama sekali. Ketiga, ia harus aktif mengganti niat, simbol, dan terminologi. Misalnya, melakukan gerakan peregangan dengan niat menjaga kesehatan sebagai bentuk syukur pada Allah, dan menghindari mengucapkan “Om” atau “Namaste”, menggantinya dengan doa atau dzikir dalam hati.

Kutipan Pandangan Ulama Kontemporer

“Prinsipnya, mengambil manfaat dari olahraga atau teknik pernapasan dari manapun asalnya adalah boleh, selama dibersihkan dari unsur syirik dan khurafat. Namun, karena yoga adalah satu paket utuh yang dalam tradisinya tidak terpisah antara gerak, nafas, dan konsentrasi spiritual kepada selain Allah, maka lebih selamat untuk meninggalkannya dan mencari alternatif lain yang sudah jelas kesucian dan kehalalannya. Kehati-hatian dalam menjaga akidah adalah prioritas utama.”

Panduan Praktis bagi Muslim yang Berminat pada Gerakan Sejenis

Bagi muslim yang tertarik dengan manfaat fleksibilitas dan kekuatan dari gerakan-gerakan mirip yoga, diperlukan panduan operasional yang jelas untuk melindungi akidah. Pendekatan ini bersifat preventif dan edukatif.

Memisahkan Unsur Fisik dan Spiritual Yoga

Pemisahan ini membutuhkan kesadaran dan upaya aktif. Caranya dengan hanya mengikuti tutorial atau kelas yang secara eksplisit menyatakan diri sebagai “yoga sekuler”, “stretching exercise”, atau “physical yoga”. Saat instruktur mulai membahas filosofi, chakra, atau mengajak mengatur niat kepada alam semesta, secara mental kita menolak dan mengalihkan fokus pada niat kita sendiri untuk kesehatan. Lebih baik lagi jika mencari sumber atau membuat rangkaian gerakan sendiri dari kanal-kanal kebugaran umum yang tidak memakai label yoga sama sekali.

Contoh Niat untuk Aktivitas Fisik Non-Spiritual

Niat memegang peranan sentral dalam menyelamatkan sebuah amalan. Sebelum memulai sesi peregangan, seorang muslim dapat membentuk niat dalam hatinya: “Aku niat melakukan gerakan olahraga ini untuk menguatkan dan meregangkan tubuhku, menjaga kesehatan sebagai bentuk menunaikan hak tubuh yang merupakan amanah dari Allah, serta agar dapat lebih optimal dalam beribadah kepada-Nya.” Niat ini memfokuskan tujuan pada ibadah dan kesehatan fisik semata, memutuskan hubungan dengan tujuan spiritual yoga.

Pertanyaan Pemeriksaan Diri Sebelum Mengikuti Kelas

Perbedaan Yoga dan Meditasi serta Statusnya dalam Islam

Source: aliburgan.com

Sebelum mendaftar atau menghadiri sebuah kelas kebugaran yang mengandung unsur yoga, ajukan pertanyaan-pertanyaan kritis berikut kepada diri sendiri atau kepada penyelenggara.

  • Apakah kelas ini secara resmi menghilangkan semua ucapan mantra (seperti Om) dan simbol-simbol keagamaan?
  • Apakah nama gerakan yang bersifat ritual (seperti Surya Namaskar) diubah menjadi istilah netral (sebagai contoh, “rangkaian pemanasan A”)?
  • Sejauh mana instruktur akan menyelipkan ajaran filosofi, chakra, atau meditasi yang bersumber dari kepercayaan non-Islam?
  • Apakah ada alternatif kelas lain (seperti Pilates, Callisthenics, atau senam stretching) yang memberikan manfaat serupa tanpa embel-embel yoga?

Alternatif Gerakan Olahraga dalam Islam dengan Manfaat Serupa

Banyak olahraga dan ibadah dalam Islam yang memberikan manfaat kebugaran, kelenturan, dan ketenangan mirip dengan pose-pose yoga tertentu.

Manfaat/Goal Yoga Pose Yoga Umum Alternatif dalam Islam/Tradisi Lain Keterangan
Kelenturan & Peregangan Punggung Paschimottanasana (Duduk membungkuk ke depan) Gerakan pemanasan dalam Senam atau Taekwondo (toe touch), atau gerakan sujud dalam shalat. Sujud yang panjang dan khusyuk meregangkan otot punggung bawah dengan sangat baik.
Kekuatan Inti & Keseimbangan Navasana (Pose Perahu) Gerakan “sit-up” atau “plank” dalam latihan fisik umum, atau berdiri di atas satu kaki (dalam konteks latihan). Latihan dasar kebugaran yang universal dan bebas filosofi.
Pelegaan Dada & Pernapasan Bhujangasana (Pose Kobra) Gerakan “cobra stretch” dalam latihan peregangan atletik biasa, atau tarik napas dalam-dalam saat duduk tasyahud. Peregangan dada dapat dilakukan tanpa menyandang nama dewa atau binatang dalam mitologi.
Ketenangan & Fokus Pikiran Meditasi duduk diam (Sukhasana) Duduk tahiyat/tasyahud akhir yang khusyuk, duduk dzikir dan muraqabah pasca shalat, atau tilawah Quran dengan tartil. Ketenangan dari mengingat Allah (dzikir) lebih utama dan terjaga akidahnya.
BACA JUGA  Hitung Total Harga 2 Pasang Sepatu dan 3 Tas Panduan Lengkap

Konteks Sosial dan Budaya Popularitas Yoga

Yoga telah menjadi fenomena budaya global yang tidak terelakkan, menciptakan dinamika sosial tersendiri bagi umat Islam. Menyikapinya memerlukan kearifan, baik dalam menjaga identitas maupun berinteraksi dengan lingkungan yang plural.

Fenomena Popularitas Yoga dan Tantangan Identitas

Yoga dipasarkan secara masif sebagai simbol gaya hidup sehat, seimbang, dan modern. Tekanan sosial untuk ikut serta bisa sangat kuat, terutama di perkotaan dan kalangan profesional. Tantangannya adalah ketika praktik ini mendikotomi diri: di satu sisi ingin menjaga kemurnian akidah, di sisi lain tidak ingin dianggap kolot atau eksklusif. Identitas keislaman diuji untuk tetap teguh pada prinsip tanpa terjebak pada sikap apologetik atau, sebaliknya, menghakimi secara gegabah.

Menyikapi Lingkungan Sosial yang Mendorong Yoga

Ketika berada dalam lingkungan yang mendorong praktik yoga secara utuh, sikap tegas namun santai diperlukan. Kita dapat menolak dengan halus namun jelas, misalnya dengan mengatakan, “Terima kasih undangannya, tapi saya memilih untuk tidak ikut karena pertimbangan keyakinan. Saya biasanya olahraga dengan cara lain.” Penolakan yang disertai alasan singkat dan tanpa menyalahkan pihak lain sering kali dapat dipahami. Lebih baik lagi jika kita aktif menawarkan atau menginisiasi alternatif kegiatan kebugaran kelompok yang netral secara agama.

Narasi Penjelasan kepada Non-Muslim

Untuk menjelaskan posisi Islam kepada non-muslim, gunakan narasi yang mudah dipahami dan berfokus pada prinsip keyakinan, bukan pada penilaian terhadap yoga itu sendiri. Contoh narasinya: “Dalam Islam, kami sangat menjaga kemurnian keyakinan kepada satu Tuhan. Karena yoga dalam akar sejarah dan filosofinya terkait erat dengan konsep ketuhanan dan spiritualitas agama lain, kami memilih untuk tidak melibatkan diri di dalamnya sebagai bentuk kehati-hatian.

Kami tetap mendukung semua upaya hidup sehat, dan kami memiliki cara kami sendiri untuk mencapai kesehatan fisik dan ketenangan mental, yaitu melalui shalat, dzikir, dan olahraga yang netral.”

Peran Komunitas dan Institusi Keislaman, Perbedaan Yoga dan Meditasi serta Statusnya dalam Islam

Edukasi yang jelas dan proaktif dari komunitas dan institusi keislaman sangat penting untuk mengisi kekosongan pemahaman. Majelis ulama dan organisasi Islam dapat menerbitkan panduan resmi yang detail namun mudah dicerna. Komunitas masjid atau remaja muslim dapat mengadakan workshop “Sehat Ala Rasulullah” yang memadukan olahraga sunnah, senam, dan muraqabah. Sekolah-sekolah Islam perlu mengintegrasikan pembahasan kritis tentang budaya populer seperti ini dalam pelajaran akidah atau fiqh kontemporer, sehingga generasi muda memiliki filter yang kuat sejak dini.

Penutup

Dengan demikian, navigasi yang cermat antara mengambil manfaat dan menjaga akidah adalah kuncinya. Seorang muslim dapat mengambil sikap proaktif dengan melakukan filter ketat, memisahkan gerakan fisik dari mantra atau simbolisme religius, serta menguatkan niat semata untuk kesehatan. Komunitas dan institusi keagamaan juga dituntut untuk memberikan panduan yang jelas dan kontekstual, bukan sekadar larangan tanpa solusi. Pada akhirnya, ketenangan sejati dalam Islam—ithmi’nan—telah tersedia melalui ibadah yang khusyuk, dzikir, dan muraqabah, yang menawarkan keteduhan jiwa sekaligus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Jawaban yang Berguna

Apakah mengucapkan “om” atau mantra dalam yoga membatalkan syahadat?

Dalam diskursus kontemporer, perbedaan antara yoga dan meditasi serta statusnya dalam Islam seringkali memerlukan pendekatan yang kontekstual dan penuh kehati-hatian. Seperti halnya upaya menerjemahkan tindakan sehari-hari ke dalam tingkatan bahasa yang lebih halus, sebagaimana diulas dalam artikel Sunarto Beli Sepeda di Pasar Malang, Diterjemah ke Krama Alus , pemahaman mendalam tentang esensi dan niat menjadi kunci. Demikian pula, menilai praktik spiritual seperti yoga dan meditasi dalam perspektif Islam menuntut pemilahan yang cermat antara aspek fisik, mental, dan ritual agar tidak terjebak dalam kesalahpahaman.

Mengucapkan mantra seperti “om” yang memiliki makna pemujaan dalam keyakinan Hindu dapat dikategorikan sebagai tindakan syirik kecil jika dilakukan dengan meyakini atau mengikuti makna spiritualnya. Syahadat bisa terancam jika hal itu menggerus keyakinan tauhid. Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk menghindarinya dan fokus hanya pada aspek gerakannya.

Perbedaan yoga dan meditasi kerap disamakan, padahal yoga melibatkan gerak fisik sementara meditasi fokus pada ketenangan pikiran. Dalam Islam, statusnya pun berbeda; meditasi untuk mendekatkan diri pada Allah diperbolehkan, sedangkan yoga dengan ritual tertentu memerlukan kehati-hatian. Mirip seperti bagaimana Fencing: Olahraga Pedang dengan Baju Hitam memiliki aturan dan filosofinya sendiri yang terpisah dari konteks peperangan, penilaian terhadap suatu praktik harus melihat esensi dan tujuannya.

Oleh karena itu, umat Muslim perlu memahami secara mendalam sebelum memutuskan untuk mengikuti suatu disiplin, baik itu olahraga maupun latihan spiritual.

Bisakah meditasi mindfulness yang sekuler diamalkan oleh muslim?

Ya, dengan catatan. Meditasi mindfulness yang murni sebagai teknik melatih fokus dan kesadaran pikiran, tanpa ritual atau ikatan kepercayaan lain, dapat digunakan. Namun, sebaiknya diisi dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dan dikombinasikan dengan dzikir agar bernilai ibadah.

Bagaimana jika tanpa sengaja ikut kelas yoga yang ada unsur meditasi Hindu?

Jika tidak tahu dan tidak berniat mengikuti keyakinannya, maka dosa tidak ditanggung. Namun, setelah mengetahui, sebaiknya menghindari atau mencari kelas yang benar-benar sekuler (seperti chair yoga atau purely physical yoga). Penting untuk melakukan klarifikasi niat dan minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang syubhat.

Adakah gerakan shalat yang mirip dengan pose yoga?

Beberapa gerakan dalam shalat, seperti ruku’ dan sujud, memiliki kemiripan dengan pose tertentu dalam yoga dalam hal peregangan dan penguatan otot. Namun, konteks, niat, dan makna spiritualnya sangat berbeda. Shalat adalah ibadah mahdhah yang tata caranya telah ditetapkan, sementara yoga berasal dari tradisi lain.

Leave a Comment