Perkembangan Kajian Sejarah dengan Pendekatan Ilmu Sosial di Eropa ini, nak, ibaratnya seperti randang yang dimasak dengan bumbu baru. Dulu, kisah masa lalu mungkin diceritakan bak kaba, fokus pada raja dan perang saja. Tapi di abad ke-20, para sejarawan di Eropa mulai merasa bahwa cerita itu kurang lengkap, kurang meresap ke dalam daging kehidupan masyarakat biasa. Mereka pun mulai membuka pikiran, mencoba resep baru dari ilmu sosial seperti sosiologi dan antropologi untuk memahami sejarah secara lebih kaya dan mendalam.
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Dorongan untuk melihat sejarah bukan sekadar narasi kronologis, tetapi sebagai analisis sosial yang kompleks, muncul dari keinginan untuk menjawab pertanyaan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat berubah, tentang kekuasaan, ekonomi, dan budaya sehari-hari. Pendekatan baru ini menggeser fokus dari istana ke pasar, dari jenderal ke petani, dan dari peristiwa besar ke struktur yang berjalan dalam jangka panjang.
Konvergensi Sejarah dan Ilmu Sosial di Eropa
Pada awal abad ke-20, benteng historiografi tradisional di Eropa mulai retak. Sejarah yang selama ini didominasi oleh narasi politik, kisah para raja dan pahlawan, serta kronologi peristiwa-peristiwa besar, mulai dianggap tidak memadai untuk memahami kompleksitas masyarakat manusia. Munculah gelombang pemikiran yang ingin menjadikan sejarah sebagai ilmu yang lebih analitis, bukan sekadar seni bercerita. Integrasi pendekatan ilmu sosial—terutama sosiologi, ekonomi, dan antropologi—ke dalam penulisan sejarah menjadi jalan keluarnya.
Perubahan paradigma ini didorong oleh beberapa faktor kunci. Pertama, dampak Perang Dunia I dan II yang menghancurkan, memunculkan pertanyaan mendasar tentang pola-pola sosial, ekonomi, dan budaya yang membawa bencana. Sejarah tidak lagi cukup hanya menyalahkan individu. Kedua, berkembangnya ilmu sosial modern yang menawarkan kerangka teori dan metodologi untuk menganalisis struktur dan proses sosial. Ketiga, keinginan untuk membuat sejarah lebih relevan dan inklusif, dengan memasukkan suara rakyat biasa, kehidupan sehari-hari, serta fenomena ekonomi dan budaya jangka panjang.
Perbandingan Historiografi Tradisional dan Interdisipliner
Pergeseran dari sejarah naratif ke sejarah analitis dapat dilihat dari perbedaan mendasar dalam karakteristik keduanya. Tabel berikut merangkum kontras tersebut dalam beberapa aspek utama.
| Aspect | Sejarah Tradisional (Narratif) | Sejarah dengan Pendekatan Ilmu Sosial (Analitis) |
|---|---|---|
| Fokus Kajian | Peristiwa politik, tokoh besar, diplomasi, dan militer (histoire événementielle). | Struktur sosial, ekonomi, mentalitas kolektif, kehidupan sehari-hari, dan proses perubahan jangka panjang (longue durée). |
| Metode Utama | Kritik filologis terhadap dokumen tertulis, narasi kronologis. | Analisis kuantitatif, komparasi, model teoritis, kombinasi sumber beragam (arsip, statistik, material). |
| Sumber Data | Dokumen arsip resmi (negara, gereja), catatan pribadi elite, kronik. | Database statistik, catatan paroki, sensus, artefak arkeologi, sejarah lisan, sumber visual. |
| Tujuan Penulisan | Menceritakan “kisah” masa lalu secara linear, seringkali dengan muatan pelajaran moral atau legitimasi kekuasaan. | Menganalisis pola, menjelaskan sebab-akibat struktural, menguji teori sosial, dan memahami dinamika masyarakat. |
Mazhab dan Tokoh Kunci dalam Historiografi Eropa Modern
Gerakan untuk memperbarui penulisan sejarah di Eropa menemukan wujudnya yang paling berpengaruh melalui beberapa mazhab dan aliran pemikiran. Tokoh-tokoh dari berbagai disiplin tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga membuktikan melalui karya monumental bahwa sejarah bisa ditulis dengan cara yang sama sekali baru.
Mazhab Annales dari Prancis
Source: slidesharecdn.com
Didirikan oleh Marc Bloch dan Lucien Febvre pada 1929 melalui jurnal Annales d’histoire économique et sociale, mazhab ini menjadi motor utama revolusi historiografi. Mereka menyerukan “sejarah total” yang mengintegrasikan geografi, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Bloch, dalam karya seperti Feudal Society, menganalisis struktur dan mentalitas masyarakat feodal. Febvre menekankan sejarah mentalitas. Puncaknya adalah Fernand Braudel dengan konsep waktu berlapis: peristiwa (waktu singkat), konjungtur (siklus sosial-ekonomi), dan longue durée (struktur geografis dan lingkungan yang hampir tak berubah).
Karyanya, The Mediterranean and the Mediterranean World in the Age of Philip II, adalah contoh masterpiece yang menempatkan lingkungan dan ekonomi sebagai aktor sejarah utama, melampaui narasi politik tentang raja Spanyol tersebut.
Pengaruh Marxisme dan Teori Max Weber, Perkembangan Kajian Sejarah dengan Pendekatan Ilmu Sosial di Eropa
Di luar Prancis, teori sosial Karl Marx dan Max Weber memberikan fondasi kokoh bagi sejarah sosial dan ekonomi. Marxisme, dengan penekanannya pada perjuangan kelas, mode produksi, dan determinisme ekonomi, mempengaruhi generasi sejarawan seperti E.P. Thompson di Inggris. Dalam The Making of the English Working Class, Thompson menggunakan kerangka Marxis tetapi memberi ruang bagi agensi dan pengalaman budaya kelas pekerja. Sementara itu, Max Weber menawarkan perspektif komplementer dengan menekankan peran ide, nilai-nilai (seperti etika Protestan), dan birokrasi dalam perubahan sosial.
Kombinasi pendekatan Marxis dan Weberian memungkinkan analisis yang lebih halus tentang interaksi antara basis material dan superstruktur ideologis dalam sejarah Eropa.
Perkembangan Historiografi di Jerman Pasca-Perang Dunia II
Jerman pasca-Nazi mengalami pergolakan historiografi yang intens. Dua fenomena penting adalah Historikerstreit (Pertentangan Para Sejarawan) pada 1980-an dan munculnya Alltagsgeschichte (Sejarah Kehidupan Sehari-hari). Historikerstreit adalah debat publik sengit tentang keunikan Holocaust, apakah bisa dibandingkan dengan kejahatan rezim lain seperti Stalin, yang menyentuh saraf politik memori nasional Jerman. Di sisi lain, Alltagsgeschichte yang dipelopori oleh sejarawan seperti Alf Lüdtke, adalah gerakan “dari bawah” yang berusaha merekonstruksi pengalaman orang biasa di masa Nazi dan rezim lainnya.
Pendekatan ini menggunakan sumber-sumber personal seperti diary, surat, dan foto untuk memahami bagaimana masyarakat menjalani, beradaptasi, atau bahkan mendukung rezim totaliter dalam keseharian mereka.
Penerapan Teori dan Konsep Ilmu Sosial dalam Kajian Sejarah
Adopsi teori ilmu sosial bukan sekadar tempelan. Konsep-konsep ini menjadi lensa analitis yang powerful, memungkinkan sejarawan mengajukan pertanyaan baru terhadap bukti-bukti lama dan menemukan pola yang sebelumnya tak terlihat.
Konsep Strukturasi Anthony Giddens
Teori strukturasi Giddens menawarkan solusi atas debat lama antara determinisme struktur dan kebebasan agen individu. Konsep “dualitas struktur” menjelaskan bahwa struktur sosial (aturan, sumber daya) dibentuk oleh tindakan manusia, tetapi sekaligus menjadi medium yang membatasi dan memungkinkan tindakan tersebut. Dalam konteks sejarah Eropa, konsep ini diterapkan untuk menganalisis perubahan sosial jangka panjang, seperti transisi dari feodalisme ke kapitalisme. Sejarawan dapat menunjukkan bagaimana tindakan kolektif petani, pedagang, dan tuan tanah—yang dimediasi oleh struktur hukum, hak milik, dan norma feodal—pada akhirnya justru mengikis dan mengubah struktur itu sendiri, menciptakan tatanan sosial baru.
Teori Kekuasaan dan Wacana Michel Foucault
Pengaruh Michel Foucault sangat terasa dalam kajian sejarah institusi dan pengetahuan. Foucault tidak melihat kekuasaan sebagai sesuatu yang hanya dimiliki negara dan digunakan untuk menindas, tetapi sebagai jaringan produktif yang tersebar, menciptakan pengetahuan, kebenaran, dan bahkan subjektivitas manusia. Sejarawan yang terpengaruh Foucault meneliti sejarah penjara, rumah sakit jiwa, klinik, atau sistem pendidikan bukan hanya sebagai kemajuan kemanusiaan, tetapi sebagai mekanisme disiplin dan pengawasan yang membentuk “tubuh yang patuh” dan kategori sosial seperti “penjahat” atau “orang gila”.
Kajiannya tentang episteme (sistem pengetahuan suatu zaman) juga mempengaruhi sejarah intelektual dengan meneliti aturan-aturan tak terucap yang membatasi apa yang bisa dipikirkan dan dikatakan pada periode tertentu.
Konsep-Konsep Sosiologi dan Antropologi yang Diadopsi
Selain teori besar, sejumlah konsep operasional dari sosiologi dan antropologi telah menjadi perangkat standar dalam kotak alat sejarawan Eropa.
- Dari Sosiologi: Konsep kelas sosial (dengan segala kompleksitasnya), modal sosial (jaringan dan kepercayaan), habitus Pierre Bourdieu (kecenderungan bertindak yang dibentuk oleh lingkungan sosial), serta identitas dan memori kolektif.
- Dari Antropologi: Konsep budaya material (studi benda-benda untuk memahami nilai dan praktik sosial), ritual (upacara sebagai performa yang memperkuat ikatan sosial), pertukaran hadiah, serta pendekatan etnografi yang diterjemahkan menjadi pembacaan “mendalam dan detail” terhadap sumber sejarah.
Metodologi dan Sumber Penelitian Interdisipliner
Pergeseran paradigma teoritis harus diikuti oleh inovasi metodologis. Sejarawan Eropa modern mengembangkan dan mengadopsi berbagai metode untuk mengumpulkan dan menganalisis data baru, seringkali dengan bantuan teknologi.
Sejarah Kuantitatif dan Database Statistik
Sejarah kuantitatif berkembang pesat, terutama dalam bidang demografi dan ekonomi sejarah. Dengan mengumpulkan data dari catatan baptis, pernikahan, kematian (registrasi paroki), sensus, dan catatan pajak, sejarawan membangun database besar. Data ini kemudian dianalisis untuk merekonstruksi pola kematian, fertilitas, migrasi, struktur keluarga, dan pertumbuhan ekonomi. Proyek seperti Cambridge Group for the History of Population and Social Structure menghasilkan pemahaman revolusioner tentang transisi demografi dan struktur rumah tangga di Inggris pra-industri, mengungkap bahwa keluarga inti sudah umum jauh sebelum Revolusi Industri.
Sejarah Lisan dan Etnografi Sejarah
Untuk menangkap pengalaman kelompok yang sering tak tercatat dalam arsip resmi—pekerja, perempuan, minoritas—sejarawan beralih ke sejarah lisan. Metode wawancara mendalam dengan pelaku sejarah digunakan untuk mengkaji topik seperti pengalaman buruh pabrik, kehidupan di komunitas imigran, atau trauma perang. Tantangannya adalah mengintegrasikan ingatan subjektif ini dengan sumber arsip. Ingatan bisa bias, berubah oleh waktu, namun justru di situlah nilainya: ia mengungkap bagaimana peristiwa diingat dan diberi makna.
Etnografi sejarah menerapkan prinsip observasi partisipan terhadap dokumen, “membaca” arsip pengadilan atau catatan komunitas seolah-olah peneliti sedang mengamati sebuah masyarakat.
Integrasi Analisis Sastra dan Data Kuantitatif
Kombinasi sumber yang tampaknya berbeda sering menghasilkan insight yang kaya. Sebuah studi tentang mobilitas sosial di Inggris Victoria, misalnya, dapat menggabungkan analisis terhadap novel-novel Charles Dickens atau Anthony Trollope—yang penuh dengan deskripsi tentang aspirasi dan kecemasan kelas menengah—dengan data sensus yang melacari pergerakan pekerjaan dan tempat tinggal antar-generasi.
Sebagai contoh, penelitian oleh sejarawan sosial dapat membandingkan karakter fiktif seperti Pip dalam Great Expectations (yang mengalami mobilitas sosial dramatis) dengan profil ribuan individu dari database sensus 1851 dan 1871. Analisis terhadap teks sastra mengungkapkan mentalitas dan ambisi mobilitas, sementara data sensus menguji seberapa umum pola seperti itu terjadi dalam realitas statistik, sehingga memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang dinamika sosial abad ke-19.
Studi Kasus: Kajian Sejarah dengan Pendekatan Interdisipliner
Keampuhan pendekatan interdisipliner paling jelas terlihat dalam studi kasus konkret. Di sini, berbagai teori, metode, dan sumber data menyatu untuk menjawab pertanyaan sejarah yang kompleks.
Revolusi Industri Melalui Lensa Lingkungan dan Teknologi
Studi tentang Revolusi Industri di Inggris telah lama melampaui daftar penemuan mesin dan pertumbuhan PDB. Pendekatan sejarah lingkungan meneliti dampak ekologis yang masif: deforestasi untuk bahan bakar mesin uap, polusi udara dan air yang belum pernah terjadi sebelumnya di kota-kota industri, serta perubahan lanskap akibat kanal dan rel kereta api. Sejarah teknologi, di sisi lain, tidak hanya melihat “siapa penemu apa”, tetapi mengkaji bagaimana teknologi diterima, diadaptasi, dan disebarkan dalam konteks sosial-budaya tertentu.
Gabungan kedua pendekatan ini menunjukkan bahwa Revolusi Industri bukan hanya cerita kemajuan, tetapi juga transformasi hubungan manusia dengan alam dan sumber dayanya, yang memiliki konsekuensi jangka panjang hingga era perubahan iklim saat ini.
Kerangka Analisis Urbanisasi Abad ke-19
Mengkaji urbanisasi di Eropa abad ke-19 membutuhkan kerangka analitis yang interdisipliner. Sebuah penelitian komprehensif dapat dirancang dengan memasukkan tiga perspektif utama. Pertama, geografi manusia akan menganalisis pola spasial kota: segregasi permukiman kelas, lokasi industri, dan jaringan transportasi. Kedua, sosiologi perkotaan akan mengeksplorasi pembentukan identitas perkotaan, solidaritas baru (seperti serikat buruh), serta masalah kemiskinan, kejahatan, dan kesehatan publik. Ketiga, sejarah ekonomi akan melacak arus modal, perkembangan pasar tenaga kerja, dan siklus boom-bust properti.
Ketiganya saling mengisi: keputusan ekonomi (sejarah ekonomi) membentuk tata ruang (geografi), yang pada gilirannya mempengaruhi interaksi sosial (sosiologi).
Penelitian Keluarga dan Gender Abad Pertengahan
Ilustrasi penelitian tentang keluarga dan gender di Eropa abad pertengahan menunjukkan bagaimana sumber data yang beragam dapat saling melengkapi. Seorang peneliti akan memanfaatkan catatan gereja (registrasi pernikahan, baptis, dan kematian) untuk mendapatkan data demografi dasar tentang usia menikah, ukuran keluarga, dan mortalitas. Artefak arkeologi dari rumah-rumah—seperti ukuran ruangan, lokasi perapian, dan alat-alat domestik—mengungkapkan praktik kehidupan sehari-hari, pembagian ruang berdasarkan gender, dan standar hidup.
Sementara itu, karya seni seperti lukisan altar yang menggambarkan Keluarga Kudus atau naskah iluminasi yang memperlihatkan adegan domestik, memberikan wawasan tentang ideal, norma, dan representasi peran keluarga dan gender dalam budaya visual masa itu. Dengan menggabungkan ketiganya, sejarawan dapat membedakan antara norma yang diharuskan (dari seni dan hukum gereja), praktik yang sebenarnya (dari arkeologi), dan dampak demografisnya (dari catatan gereja).
Tantangan dan Kritik terhadap Pendekatan Interdisipliner: Perkembangan Kajian Sejarah Dengan Pendekatan Ilmu Sosial Di Eropa
Meskipun sangat produktif, pendekatan interdisipliner dalam sejarah tidak lepas dari tantangan dan kritik. Banyak sejarawan yang memperingatkan agar antusiasme terhadap teori ilmu sosial tidak mengorbankan kekuatan inti dari disiplin sejarah itu sendiri.
Kritik atas Reduksionisme Teoretis
Kalangan sejarawan tradisional, dan bahkan beberapa sejarawan sosial, mengkritik kecenderungan untuk “menjejalkan” realitas sejarah yang kompleks dan kontingen ke dalam kerangka teori yang kaku. Mereka berargumen bahwa teori Marxis, Strukturalis, atau Foucaultian sering kali mereduksi motivasi manusia, kebetulan, dan keunikan peristiwa menjadi sekadar contoh dari sebuah hukum atau struktur sosial. Sejarah, dalam pandangan ini, kehilangan “rasa” manusiawinya, narasinya yang memikat, dan apresiasi terhadap peran agensi individu.
Kritik ini mengingatkan bahwa teori harus menjadi pelayan interpretasi sejarah, bukan majikannya.
Tantangan Metodologis Integrasi
Menggabungkan data dan teori dari disiplin yang berbeda dalam satu naskah koheren adalah pekerjaan yang sulit. Tantangan utamanya termasuk perbedaan epistemologis (apa yang dianggap sebagai “bukti” yang valid dalam antropologi vs. ekonomi), kesulitan teknis dalam menyelaraskan data kualitatif dan kuantitatif, serta risiko menghasilkan analisis yang terkesan “tempel-tempelan” karena penguasaan penulis terhadap salah satu disiplin ilmu mungkin dangkal. Sejarawan interdisipliner yang baik harus mampu melakukan penerjemahan yang cermat antar-disiplin, bukan hanya mengimpor jargon.
Pemetaan Tantangan dan Solusi Penelitian Interdisipliner
Berikut adalah pemetaan beberapa tantangan konkret yang dihadapi peneliti, disertai contoh dan potensi solusinya.
| Tantangan | Contoh Konkret | Potensi Solusi |
|---|---|---|
| Ketidakcocokan Data | Mencoba menggabungkan data upah nominal dari abad ke-17 (dalam bentuk shilling) dengan data harga beras yang diukur dalam volume lokal yang berbeda-beda. | Menggunakan unit standar yang disepakati (seperti gram perak atau daya beli upah), dan secara transparan menjelaskan asumsi dan metode konversi yang digunakan. |
| Dominasi Satu Disiplin | Kajian sejarah yang hanya meminjam konsep sosiologi sebagai “hiasan” di pendahuluan, tanpa benar-benar mengintegrasikannya dalam analisis. | Membangun kolaborasi nyata dengan ahli dari disiplin lain, atau melakukan pelatihan mendalam pada disiplin yang diadopsi. |
| Komunikasi yang Sulit | Kesulitan menyajikan tempan penelitian yang melibatkan analisis statistik kompleks dan interpretasi teks sastra dalam satu argumen yang mudah diikuti. | Mengembangkan struktur penulisan yang jelas, menggunakan visualisasi data yang efektif, dan menghindari jargon yang tidak perlu tanpa mengorbankan ketelitian. |
| Keterbatasan Sumber | Ingin menerapkan teori sejarah lisan untuk periode abad pertengahan, di mana tidak ada pelaku yang masih hidup untuk diwawancarai. | Menggunakan sumber “proto-lisan” seperti pengakuan di pengadilan, kesaksian saksi, atau otobiografi spiritual sebagai pengganti, dengan kesadaran penuh atas batasannya. |
Kesimpulan
Jadi, begitulah kira-kira perjalanannya. Perkembangan kajian sejarah dengan ilmu sosial di Eropa telah membuka mata kita bahwa masa lalu itu seperti sawah yang luas, tidak bisa hanya dilihat dari pinggir jalan. Dengan alat-alat dari berbagai disiplin ilmu, kita bisa turun ke lumpur, memahami setiap alur dan tanamannya. Meski ada tantangan dan kritik, perjalanan ini telah memperkaya khazanah pengetahuan kita secara luar biasa, membuat sejarah menjadi lebih hidup, relevan, dan dekat dengan denyut nadi manusia biasa.
Hasilnya, pemahaman kita tentang Eropa dan dunia pun menjadi lebih berwarna dan bermakna.
Pertanyaan Populer dan Jawabannya
Apakah pendekatan ilmu sosial membuat sejarah menjadi terlalu teoretis dan kehilangan cerita manusianya?
Tidak justru sebaliknya. Banyak aliran seperti
-Alltagsgeschichte* (sejarah kehidupan sehari-hari) justru lahir dari pendekatan ini, yang fokus pada pengalaman orang biasa, menggunakan sumber seperti kesaksian lisan dan dokumen personal untuk merekonstruksi cerita yang selama ini tersembunyi.
Bagaimana pendekatan ini memengaruhi cara menulis buku sejarah populer atau buku teks sekolah?
Pengaruhnya besar. Buku teks sekarang lebih sering menyertakan analisis sosial ekonomi, statistik demografi, dan topik seperti sejarah gender atau lingkungan, yang semuanya berasal dari integrasi dengan ilmu sosial, sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif kepada pembaca.
Apakah sejarawan yang menggunakan pendekatan ini masih harus menguasai metode penelitian sejarah tradisional seperti kritik sumber?
Mutlak harus. Metode sejarah tradisional seperti verifikasi dan kritik sumber arsip tetap menjadi fondasi utama. Pendekatan ilmu sosial memberikan kerangka analitis tambahan untuk menafsirkan sumber-sumber yang telah diverifikasi tersebut, bukan menggantikan metode dasar ilmu sejarah.
Dapatkah pendekatan ini diterapkan untuk mengkaji sejarah masyarakat di luar Eropa, seperti sejarah Indonesia?
Sangat bisa dan sudah banyak dilakukan. Konsep seperti strukturasi, kekuasaan/wacana Foucault, atau analisis kelas dan budaya material banyak dipakai sejarawan Indonesia untuk mengkaji kolonialisme, nasionalisme, dan perubahan sosial di Nusantara, menunjukkan universalitas alat analisis ini.