Pertunjukan Musik Kontemporer di Indonesia bukan sekadar alunan nada yang enak didengar, melainkan sebuah ruang eksperimen yang hidup. Ia adalah percakapan intens antara akar tradisi Nusantara yang mendalam dengan kegelisahan serta teknologi era modern, menghasilkan sebuah bahasa artistik yang benar-benar baru. Di sini, bunyi bisa lahir dari gesekan kaca, visual proyeksi menjadi partitur, dan tubuh penampil adalah instrumen itu sendiri, menantang segala batasan konvensional tentang apa itu musik.
Lebih dari sekadar pertunjukan, gerakan ini merekam denyut nadi sosial budaya Indonesia dengan cara yang unik. Melalui eksplorasi bunyi non-konvensional dan kolaborasi lintas disiplin, komposer dan musisi kontemporer kerap mengangkat isu-isu seperti identitas, lingkungan, hingga kritik sosial, mengemasnya dalam pengalaman audio-visual yang mendalam. Perkembangannya, yang dipelopori institusi seperti Institut Kesenian Jakarta dan tokoh seperti Sapto Raharjo, menunjukkan dinamika yang terus berevolusi dari era 70-an hingga kini, menawarkan panggung bagi suara-suara yang paling personal sekaligus relevan dengan konteks zamannya.
Pengertian dan Ciri Khas Pertunjukan Musik Kontemporer Indonesia
Dalam khazanah kesenian Indonesia, musik kontemporer seringkali muncul sebagai bentuk ekspresi yang membingungkan sekaligus memesona. Ia bukan sekadar genre, melainkan sebuah pendekatan atau sikap berkesenian. Secara sederhana, musik kontemporer Indonesia dapat dipahami sebagai praktik bermusik yang lahir dari kesadaran masa kini, merespon konteks kekinian, dan seringkali melakukan dekonstruksi terhadap bahasa musik yang sudah mapan, baik itu tradisi Nusantara maupun Barat.
Perbedaannya dengan musik tradisional terletak pada niat dan kerangkanya. Musik tradisional berakar pada nilai, fungsi, dan aturan yang diwariskan, sementara kontemporer mengambil elemen tradisi sebagai bahan untuk dieksplorasi ulang, bahkan dikritisi. Berbeda pula dengan musik Barat modern yang sering terikat pada sistem notasi dan teori harmoninya sendiri, musik kontemporer Indonesia lebih bebas, sering mengabaikan sistem tersebut atau menciptakan logika bunyinya sendiri.
Ciri Khas Utama Musik Kontemporer Indonesia
Ada beberapa karakter yang konsisten muncul dan menjadi penanda identitasnya. Ciri-ciri ini yang membedakannya dari pertunjukan musik pop atau konser klasik.
- Eksplorasi Bunyi Non-Konvensional: Segala sesuatu berpotensi menjadi sumber bunyi. Ini bisa berarti memainkan alat musik tradisi dengan teknik yang tidak lazim, menggunakan benda sehari-hari seperti botol, kertas, atau besi, atau memanfaatkan teknologi digital untuk memproses suara secara real-time.
- Struktur yang Cair dan Bebas: Komposisi seringkali tidak mengikuti bentuk baku seperti verse-chorus-bridge. Alur musik bisa berkembang secara organik, mengikuti narasi konseptual, atau bahkan bersifat acak (aleatorik) yang memberikan kebebasan interpretasi pada pemain.
- Pendekatan Interdisipliner: Pertunjukan jarang berdiri sendiri. Musik sering menjadi bagian integral dari sebuah pertunjukan yang melibatkan tari, teater, seni visual, video art, atau instalasi. Batas antara disiplin seni sengaja dikaburkan.
- Konsep yang Kuat di Atas Keindahan Auditori: Karya lahir dari sebuah ide, gagasan, atau pertanyaan filosofis, sosial, atau politik. Keindahan bunyi dalam pengertian konvensional bisa saja dikorbankan untuk menyampaikan konsep tersebut. Dengarannya mungkin “tidak enak”, tetapi bermakna.
- Interaksi yang Unik antara Pemain dan Penonton: Pertunjukan bisa menghilangkan jarak fisik dan psikologis. Penonton mungkin diajak terlibat, ditempatkan di tengah panggung, atau justru dibuat tidak nyaman dengan sajian yang disajikan, memicu refleksi yang lebih dalam.
Perbandingan Elemen Musik: Tradisional, Populer, dan Kontemporer
Untuk melihat perbedaannya secara lebih teknis, tabel berikut membandingkan ketiga ranah musik ini berdasarkan beberapa aspek fundamental. Perlu diingat, ini adalah generalisasi, dan dalam praktiknya bisa terjadi tumpang tindih.
| Aspek | Musik Tradisional Indonesia | Musik Populer Indonesia | Musik Kontemporer Indonesia |
|---|---|---|---|
| Melodi | Berdasarkan laras (slendro, pelog) dengan pola-pola yang khas daerah. Sering vokalis. | Menggunakan tangga nada diatonis Barat, catchy, dan mudah diingat. Dominan vokal. | Bisa diatonis, pentatonis, atau mikrotonal. Melodi bisa fragmentaris, tidak repetitif, atau bahkan tidak ada. |
| Harmoni | Secara konseptual homofonik dengan garis melodi utama, atau heterofonik. Tidak berdasarkan progresi akord Barat. | Mengikuti progresi akord standar pop/rock (I-IV-V-vi). Harmoni berfungsi mengiringi melodi. | Sering atonal atau menggunakan harmoni yang disonans. Bisa juga polifoni kompleks atau menghindari harmoni sama sekali. |
| Ritme | Pola ritmis silat dan konstan, seperti dalam gamelan atau musik rakyat. Siklus yang jelas. | Beat stabil dalam birama 4/4, mengutamakan groove dan ketukan dansa. | Birama asimetris, perubahan tempo mendadak, poliritme, atau ritme yang didekonstruksi hingga tidak terasa. |
| Instrumentasi | Alat musik tradisional spesifik daerah, disusun dalam ensembel yang tetap (gamelan, gondang, dll). | Format band standar (gitar, bass, drum, keyboard) plus teknologi studio modern. | Campuran bebas: alat tradisi, alat Barat klasik, elektronik, found objects, dan tubuh manusia sebagai instrumen. |
Perkembangan dan Sejarah Singkat
Benih musik kontemporer di Indonesia mulai tumbuh subur pada akhir 1960-an dan 1970-an, bersamaan dengan gelombang eksperimen seni rupa dan teater modern. Saat itu, para seniman mulai mempertanyakan batas-batas bentuk seni dan mencari bahasa ekspresi yang relevan dengan kondisi sosial-politik pasca-kemerdekaan. Mereka tidak ingin hanya menjadi penerus tradisi atau peniru Barat belaka.
Pusat-pusat pendidikan seni seperti Akademi Musik Indonesia (AMI) Yogyakarta (sekarang ISI Yogyakarta) dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menjadi kawah candradimuka. Tokoh seperti Slamet Abdul Sjukur, yang belajar komposisi di Prancis, kembali ke Indonesia dan membawa serta pemikiran avant-garde. Bersama komposer seperti Trisutji Kamal, Franki Raden, dan Sapto Raharjo, mereka mulai menciptakan karya yang menantang pendengaran umum, menggabungkan elemen gamelan dengan teknik komposisi Barat, atau menciptakan karya sepenuhnya berdasarkan ide konseptual.
Pergeseran Tema dan Eksperimen Bentuk, Pertunjukan Musik Kontemporer di Indonesia
Pada dekade 1970-1980-an, eksperimen banyak berkutat pada pencarian identitas dan sintesis budaya. Kemudian, memasuki era Reformasi 1998, nuansa kritik sosial dan politik menjadi sangat kuat. Musik kontemporer menjadi medium protes dan refleksi atas kekacauan politik, kerusakan lingkungan, dan dampak globalisasi. Di era digital seperti sekarang, eksplorasi bergeser ke interaksi manusia-teknologi, realitas virtual, dan jaringan global. Komposer muda kini dengan mudah berkolaborasi dengan seniman di belahan dunia lain melalui internet, memperluas lagi definisi tentang apa itu “musik kontemporer Indonesia”.
Tonggak Sejarah Penting Musik Kontemporer Indonesia
Perjalanan musik kontemporer di tanah air ditandai oleh beberapa momen kunci yang membuka jalan dan memperluas wacana.
- Pendirian Komunitas dan Festival: Kelahiran kelompok seperti Kyai Fatahillah pimpinan Sapto Raharjo dan festival rutin seperti Indonesian Composers Festival sejak 1970-an menciptakan ekosistem dan jaringan bagi para komposer.
- Dekade 1990-an: Ledakan Eksperimen Interdisipliner: Munculnya banyak kolaborasi antara musisi, koreografer, dan perupa. Band-band seperti Sirkus Barock dan Teater Salihara menjadi ruang percobaan yang sangat produktif.
- Era Reformasi 1998: Kebebasan berekspresi yang meluas memicu ledakan karya dengan tema politik dan kritik sosial yang sangat tajam, yang sebelumnya sulit diungkapkan.
- Internasionalisasi dan Pengakuan Global: Karya-karya komposer seperti Tony Prabowo dan penampilan ensemble seperti Ensemble Tikoro atau Mekar Bhuana di panggung dunia membawa musik kontemporer Indonesia ke percakapan global.
- Era Digital dan Media Baru (2000-an hingga sekarang): Integrasi teknologi digital, pemrograman, live electronics, dan seni media menjadi arus utama dalam penciptaan, mengubah secara fundamental cara komposisi dan pertunjukan disajikan.
Unsur dan Teknik Pertunjukan
Menonton pertunjukan musik kontemporer ibarat memasuki laboratorium bunyi. Di sana, segala aturan baku tentang musik sering dibongkar. Unsur-unsur yang dianggap sampingan dalam musik konvensional justru diangkat menjadi primadona. Suara gesekan, dengung, desis, atau bahkan keheningan, memiliki nilai dan makna yang setara dengan sebuah melodi indah.
Integrasi multimedia bukan lagi sekadar hiasan, tetapi menjadi tulang punggung narasi. Proyeksi video bisa menjadi partner dialog dengan musisi, atau sensor gerak mengubah gerakan penari menjadi modulasi suara secara real-time. Interaksi dengan seni lain seperti tari dan teater seringkali bersifat simbiotik; musik tidak lagi menjadi pengiring, tetapi penari dan pemusik saling merespons, menciptakan sebuah entitas pertunjukan yang utuh dan tak terpisahkan.
Proses Kreatif Menyusun Komposisi
Prosesnya bisa dimulai dari mana saja: sebuah puisi, fenomena sosial, visual tertentu, atau bahkan sebuah pertanyaan filosofis. Misalnya, seorang komposer terinspirasi oleh kepadatan lalu lintas di Jakarta. Ia mungkin merekam bunyi klakson, mesin, dan obrolan di jalan, lalu menjadikannya bahan baku digital (sample). Selanjutnya, ia menciptakan notasi grafis yang menggambarkan kemacetan, bukan notasi balok biasa. Notasi itu bisa berupa gambar abstrak yang memberi kebebasan interpretasi pada pemain.
Latihan tidak hanya tentang ketepatan nada, tetapi lebih pada memahami “ruang” dan “respons” antar pemain. Pementasan pun bisa dilakukan di lokasi non-tradisional, seperti bawah jembatan atau bekas pabrik, untuk memperkuat konsep.
Contoh Teknik Penyajian dalam Sebuah Adegan Pertunjukan
Lima pemain duduk melingkar di lantai yang dipenuhi berbagai objek: mangkuk keramik, lembaran seng, gelas berisi air, dan seperangkat gender wayang yang telah dimodifikasi. Konduktor, atau lebih tepatnya “pengarah acara”, memberikan isyarat dengan senter kecil. Pemain pertama menggesek pinggiran mangkuk keramik dengan ujung busur cello, menghasilkan dengungan tinggi yang menusuk. Pemain kedua meneteskan air dari ketinggian berbeda ke dalam gelas, menciptakan pola ritme titik-titik yang tidak beraturan. Sementara itu, pemain ketiga dengan sangat pelan menggosok lembaran seng dengan vibrator kecil, memunculkan gemuruh rendah yang terasa di tulang dada penonton. Cahaya dari proyektor menyorot uap yang keluar dari mulut mereka di ruangan ber-AC, mengubah napas menjadi visual. Semua elemen ini tidak berjalan bersama dalam harmoni, tetapi saling timbul-tenggelam, seperti percakapan fragmentaris dalam mimpi, membangun suasana yang asing namun akrab, sebuah ingatan kolektif tentang ritual yang sudah terlupakan.
Komposer dan Ensemble Terkemuka
Peta musik kontemporer Indonesia diwarnai oleh sosok-sosok visioner dan kelompok yang konsisten menantang status quo. Mereka adalah arsitek bunyi yang karyanya tidak hanya didengar, tetapi dialami. Latar belakang mereka yang beragam—dari pesantren hingga konservatorium Eropa—membentuk warna yang unik dan memperkaya khazanah.
Profil Singkat Tiga Figur Penting
Berikut adalah tiga nama yang pengaruhnya sangat besar dalam membentuk wajah dan arah musik kontemporer di Indonesia.
| Nama Komposer/Ensemble | Periode Aktif | Karya Pentas Terkenal | Ciri Khas Gaya Bermusik |
|---|---|---|---|
| Slamet Abdul Sjukur | 1960-an – 2010-an | “Hujan” (untuk piano preparasi), “Kota” | Minimalis, penggunaan hening (silence) sebagai elemen musikal, eksplorasi tekstur dan warna bunyi sederhana yang diulang-ulang dengan variasi halus. Sering disebut sebagai Bapak Musik Kontemporer Indonesia. |
| Tony Prabowo | 1980-an – sekarang | Opera “Kebangkitan dan Keguguran Sang Superstar”, “The King’s Witch” | Naratif dramatik yang kuat, paduan yang intens antara teknik vokal Barat (opera) dengan idiom musik Indonesia, tema-tema sosial-politik yang dalam dan provokatif. |
| Ensemble Tikoro (Didirikan oleh Mohamad Oemar dan Rully Shabara) | 2000-an – sekarang | “Tikoro Edan”, Kolaborasi dengan Senyawa, “Salihara 12 Jam” |