23. Its = It Is; Theyre = They Are. Pernah nggak sih, jari kita ngetik lebih cepat dari pikiran, lalu secara otomatis menulis “it’s” atau “they’re” dalam chat? Itu bukan sekadar kebiasaan, lho. Di balik kontraksi kecil itu, tersimpan cerita panjang tentang bagaimana bahasa hidup, bernapas, dan beradaptasi mengikuti zaman.
Dari novel klasik Jane Austen hingga cuitan di Twitter, perubahan dua huruf itu mencerminkan percepatan hidup kita.
Membahas “it’s” dan “they’re” jauh lebih dari sekadar pelajaran grammar sekolah. Ini adalah eksplorasi tentang bagaimana otak kita memproses informasi, bagaimana identitas sosial terbentuk dari pilihan kata, dan bagaimana perdebatan sengit antara inovasi dan aturan baku terus berkecamuk. Kontraksi yang terlihat sederhana ini ternyata adalah jendela untuk memahami evolusi linguistik, psikologi kognitif, dan dinamika sosial dalam komunikasi manusia, terutama di era digital yang serba cepat ini.
Kontraksi Linguistik sebagai Cermin Percepatan Interaksi Digital
Perkembangan teknologi komunikasi, dari surat menyurat yang memakan waktu berminggu-minggu hingga pesan instan yang terjawab dalam hitungan detik, telah meninggalkan jejak yang dalam pada cara kita menulis. Salah satu jejak yang paling terlihat adalah meluasnya penggunaan kontraksi seperti “it’s” dan “they’re”. Bentuk singkat ini bukanlah hal baru; mereka telah ada dalam percakapan lisan selama berabad-abad. Namun, ruang digital—dengan karakter terbatas, kecepatan tinggi, dan sifatnya yang mirip percakapan—telah mengangkat kontraksi dari sekadar pelengkap informal menjadi tulang punggung komunikasi tertulis sehari-hari.
Pergeseran ini mencerminkan keinginan bawaan manusia untuk efisiensi, di mana setiap ketukan keyboard dan setiap detik waktu pembaca dihargai.
Evolusi penggunaan kontraksi dari ranah formal ke digital dapat dilacak melalui perubahan medium. Dalam dokumen hukum, akademik, atau bisnis formal era pra-digital, kontraksi sering dihindari karena dianggap merusak kesan serius dan objektif. Tata bahasa preskriptif mengajarkan bahwa “it is” lebih tepat daripada “it’s” dalam penulisan yang baik. Namun, dengan datangnya email, SMS, dan platform media sosial, batas antara ucapan lisan dan tulisan semakin kabur.
Platform seperti Twitter dengan batasan 280 karakter secara langsung menghargai ekonomi bahasa. Aplikasi perpesanan mendorong ritme percakapan yang cepat, di mana mengetik “they’re” alih-alih “they are” tidak hanya menghemat waktu tetapi juga menciptakan nuansa yang lebih akrab dan langsung, mirip dengan berbicara. Kontraksi menjadi alat untuk meniru intonasi dan kecepatan bicara, memberikan “rasa” manusiawi pada interaksi yang terjadi melalui layar.
Perbandingan Kontraksi dalam Konteks Modern
Tabel berikut membandingkan beberapa kontraksi umum, menunjukkan bagaimana konteks penggunaan membentuk persepsi nada dan kesesuaiannya.
| Kontraksi | Bentuk Panjang | Konteks Penggunaan Umum | Persepsi Nada |
|---|---|---|---|
| it’s | it is / it has | Pesan teks, email informal, media sosial, dialog dalam fiksi. | Santai, langsung, akrab. |
| they’re | they are | Diskusi online, posting blog, komunikasi sehari-hari. | Kontemporer, inklusif, informal. |
| can’t | cannot | Hampir semua konteks informal, bahkan dalam beberapa tulisan persuasif. | Emosional lebih kuat, tegas, atau bersahabat. |
| won’t | will not | Pernyataan tegas dalam percakapan, judul berita yang menarik perhatian. | Dinamis, penuh tekad, kurang formal. |
Pengaruh kontraksi terhadap ritme dan nuansa pesan sangat jelas. Perhatikan perbedaan dalam dua pesan berikut:
“I can’t believe they’re already here! It’s going to be an amazing night. Don’t worry, we’re ready for them.”
Dibandingkan dengan versi tanpa kontraksi:
“I cannot believe they are already here! It is going to be an amazing night. Do not worry, we are ready for them.”
Versi pertama terasa seperti desahan atau teriakan bersemangat yang spontan, mengalir cepat seperti ucapan. Versi kedua terasa lebih terkendali, terukur, dan sedikit kaku, seolah-olah dibacakan dari pernyataan resmi. Dalam media sosial, ritme yang pertama lebih mudah diterima dan terhubung dengan pembaca.
Kesalahan Umum dan Konsekuensi Ambigu
Meskipun kontraksi sangat berguna, kesalahan dalam penggunaannya justru menimbulkan ambiguitas. Berikut tiga kesalahan umum yang sering terjadi:
- Its vs. It’s: “Its” adalah kata posesif (milik “it”), sementara “it’s” adalah kontraksi untuk “it is” atau “it has”. Kesalahan menulis “The company updated it’s logo” seharusnya “its logo” karena merujuk pada logo milik perusahaan. Kesalahan ini dapat mengaburkan makna dan dianggap sebagai kesalahan tata bahasa dasar.
- Your vs. You’re: “Your” adalah posesif, sedangkan “you’re” adalah kontraksi dari “you are”. Kalimat “Your going to love this” salah dan seharusnya “You’re going…”. Kesalahan ini sangat umum dan dapat mengurangi kredibilitas penulis dalam konteks profesional.
- Their vs. They’re vs. There: “Their” (posesif), “they’re” (they are), dan “there” (keterangan tempat/penunjuk). Kalimat “They’re going to put their books over there” menggunakan ketiganya dengan benar. Mencampuradukkan ketiganya, seperti “There going to put they’re books over their,” tidak hanya salah tetapi juga sangat membingungkan bagi pembaca dan mengganggu pemahaman.
Dampak Neurolinguistik dari Pemendekan Tata Bahasa pada Pemahaman Pembaca
Ketika kita membaca, otak kita bukan sekadar memindai huruf. Ia melakukan proses decoding yang kompleks, menghubungkan simbol dengan suara, makna leksikal, dan struktur gramatikal. Kontraksi, sebagai unit linguistik yang unik, menawarkan jalan pintas kognitif dalam proses ini. Penelitian dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa otak memproses kata-kata yang sering muncul dan bentuk-bentuk yang familier, seperti kontraksi umum, dengan lebih cepat dan efisien dibandingkan bentuk lengkapnya.
Ini karena “it’s” telah disimpan dalam memori leksikal kita sebagai satu unit tersendiri, bukan sebagai dua kata terpisah yang harus digabungkan setiap saat.
Pemrosesan yang lebih cepat ini terkait erat dengan teori “prediktif coding” di mana otak terus-menerus memprediksi kata apa yang akan datang berdasarkan konteks. Dalam alur kalimat yang cepat dan informal, otak mengharapkan kontraksi. Ketika harapan itu terpenuhi, pemahaman berjalan lancar dengan beban kognitif minimal. Membaca “It’s cold!” membutuhkan satu fiksasi mata dan aktivasi satu unit makna. Sebaliknya, membaca “It is cold!” meski hanya satu kata lebih panjang, memerlukan sedikit usaha ekstra untuk memproses dua unit terpisah, yang dapat—dalam skala mikro—sedikit memperlambat ritme membaca.
Efisiensi ini meningkatkan fluiditas membaca, yang pada gilirannya dapat meningkatkan retensi karena lebih banyak sumber daya kognitif dialokasikan untuk memahami ide besar, bukan mengurai struktur kata.
Keuntungan dan Kerugian Kognitif Penggunaan Kontraksi
Penggunaan kontraksi yang sering dalam bahan bacaan membawa implikasi ganda bagi pemrosesan kognitif.
- Keuntungan:
- Mempercepat Kecepatan Baca: Otak mengenali dan memproses unit tunggal lebih cepat daripada frasa.
- Mengurangi Beban Kognitif: Mengalihkan sumber daya mental dari pemrosesan sintaksis dasar ke pemahaman konseptual yang lebih dalam.
- Meningkatkan Kefasihan dan Keterlibatan: Teks yang mengalir seperti ucapan alami lebih mudah diikuti dan lebih menyenangkan, meningkatkan motivasi membaca.
- Memperkuat Memori Prosodik: Kontraksi membantu “menyuarakan” teks dalam kepala, mengaktifkan area otak terkait bicara yang juga membantu memori.
- Kerugian:
- Potensi Ambiguitas: Kontraksi seperti “it’s” (it is vs. it has) atau “he’d” (he had vs. he would) memerlukan konteks untuk dipahami, menambah lapisan disambiguasi.
- Kesulitan bagi Pembelajar Bahasa: Mereka yang belum familier harus memecah kontraksi ke bentuk aslinya, menambah beban kognitif secara signifikan.
- Penurunan Paparan pada Struktur Lengkap: Pembaca, terutama anak-anak, mungkin menjadi kurang terpapar pada bentuk tata bahasa standar, yang berpotensi mempengaruhi kemampuan menulis formal.
- Over-reliance pada Pemrosesan Otomatis: Dalam teks yang sangat kompleks, kontraksi yang berlebihan mungkin membuat kalimat terasa terlalu ringkas dan kehilangan bobot atau kejelasan yang diperlukan.
Untuk merasakan perbedaan neurologis ini, bayangkan membaca paragraf berikut:
“You’re probably wondering how we’re going to manage this. Well, I’ve looked at the data, and it’s clear that we can’t proceed as we are. They’ve all said they’re not satisfied, and we’d be foolish to ignore that. Let’s rethink our approach.”
Sekarang, bandingkan dengan versi tanpa kontraksi:
“You are probably wondering how we are going to manage this. Well, I have looked at the data, and it is clear that we cannot proceed as we are. They have all said they are not satisfied, and we would be foolish to ignore that. Let us rethink our approach.”
Versi pertama terasa seperti aliran pikiran yang lancar dan personal, langsung masuk ke pusat pemahaman. Versi kedua, meski artinya sama, terasa lebih berjarak, lebih lambat, dan setiap klausa seolah diberi penekanan individual, yang dapat mengalihkan perhatian dari pesan utuh yang kohesif.
Kategori Kemudahan Pemrosesan Otak untuk Kontraksi
Tingkat kemudahan pemrosesan otak terhadap kontraksi bervariasi berdasarkan frekuensi penggunaan dan kompleksitas strukturalnya.
| Tingkat Pemrosesan | Jenis Kontraksi | Contoh | Alasan |
|---|---|---|---|
| Mudah | Kontraksi subjek + kata kerja bantu (be, have, will) yang sangat umum. | I’m, you’re, he’s, it’s (is), we’ve, they’ll | Frekuensi paparan sangat tinggi, telah menjadi unit leksikal mandiri yang langsung dikenali. |
| Sedang | Kontraksi dengan “not” atau kontraksi yang memiliki dua kemungkinan bentuk panjang. | can’t, don’t, won’t, it’s (has), he’d (had/would), she’d (had/would) | Memerlukan disambiguasi kontekstual yang cepat. Otak perlu memilih makna yang tepat dalam sepersekian detik. |
| Kompleks | Kontraksi ganda, yang kurang umum, atau yang digunakan dalam konstruksi kalimat yang sudah kompleks. | mightn’t, you’d’ve (you would have), she’d’n’t (she had not – sangat jarang) | Struktur yang tidak biasa memaksa otak untuk “membongkar” kontraksi secara aktif, mengganggu fluiditas membaca dan meningkatkan beban kognitif. |
Jejak Artefak Kontraksi dalam Evolusi Bahasa Inggris Pasca-Revolusi Industri
Untuk memahami mengapa “it’s” dan “they’re” begitu mengakar hari ini, kita perlu menelusuri kembali ke masa ketika bahasa Inggris tertulis mulai menyatu dengan percakapan sehari-hari. Pasca-Revolusi Industri, terjadi perubahan sosial yang masif: urbanisasi, literasi yang mulai menyebar, dan yang terpenting, ledakan media cetak. Koran, pamflet, dan novel murah menjadi konsumsi publik yang luas. Medium-medium baru ini membutuhkan gaya penulisan yang lebih menarik dan dapat diakses daripada prosa yang sangat formal abad sebelumnya.
Kontraksi, yang sebelumnya lebih banyak hidup di ranah lisan dan drama (untuk menandakan dialog kelas bawah atau percakapan santai), mulai merayap ke dalam narasi tertulis.
Stabilisasi kontraksi dalam korpus sastra bukanlah proses yang linear atau diterima secara universal. Pada abad ke-18 dan awal ke-19, para penulis sering menggunakan apostrof untuk menandakan huruf yang dihilangkan dalam kata apa pun (seperti “ev’ry” untuk “every”), sebuah praktik yang dikenal sebagai “poetic contraction”. Namun, kontraksi subjek-kata kerja seperti “it’s” dan “they’re” masih sering dianggap terlalu kasual untuk prosa serius.
Novelis seperti Jane Austen menggunakan kontraksi dengan sangat hati-hati dan strategis, hampir selalu dalam dialog, untuk membedakan karakter, kelas sosial, atau suasana hati. Dalam narasi, bentuk lengkap lebih disukai. Hal ini mencerminkan sikap preskriptif zaman itu, di mana tata bahasa dianggap sebagai penjaga kemurnian dan ketertiban bahasa.
Kontraksi dalam Karya Sastra Abad ke-18 dan ke-19
Penggunaan kontraksi dalam novel sering menjadi alat karakterisasi yang canggih.
Dari Pride and Prejudice (1813) karya Jane Austen:
“‘It is a truth universally acknowledged, that a single man in possession of a good fortune, must be in want of a wife.'”
Pembukaan ikonik ini menggunakan “It is” yang formal, menetapkan nada narasi yang bijaksana dan sedikit ironis. Bandingkan dengan dialog Mr. Bennet: “‘For what do we live, but to make sport for our neighbours, and laugh at them in our turn?'” Di sini, “do we” bukan kontraksi penuh (“we’d live”?), tetapi ritme percakapannya jelas.Austen menggunakan “cannot” yang tidak dikontraksi secara konsisten dalam narasi, tetapi “can’t” mungkin muncul dalam dialog karakter yang lebih emosional atau kurang sopan.
Dari The Adventures of Huckleberry Finn (1884) karya Mark Twain:
“‘You don’t know about me without you have read a book by the name of The Adventures of Tom Sawyer; but that ain’t no matter.'”
Twain, yang berusaha mereproduksi bahasa lisan dan dialek Amerika secara autentik, membanjiri narasi Huck dengan kontraksi (“don’t”, “ain’t”) dan bentuk non-standar. Ini adalah pemberontakan sengaja terhadap konvensi tata bahasa formal, menggunakan kontraksi bukan hanya sebagai fitur, tetapi sebagai inti dari suara dan identitas narator.
Peta Frekuensi dan Sikap Preskriptif terhadap Kontraksi
Tabel berikut memberikan gambaran umum tentang bagaimana frekuensi dan penerimaan kontraksi berfluktuasi dalam beberapa periode.
| Periode (Dekade) | Frekuensi Kontraksi dalam Korpus | Genre Tulisan yang Menonjol | Sikap Preskriptif Gramatika |
|---|---|---|---|
| 1750-1790 | Sangat Rendah | Esai filosofis, puisi, drama (dalam dialog). | Sangat menentang. Dianggap vulgar dan tidak pantas untuk tulisan serius. |
| 1800-1850 | Sedang (meningkat) | Novel Romantis & Victoria, surat kabar populer. | Mulai diterima dalam dialog fiksi untuk realisme, tetapi masih dihindari dalam narasi dan tulisan formal. |
| 1860-1900 | Tinggi (stabil) | Novel realis, jurnalisme sensasional, iklan. | Pertempuran antara preskriptivis (melawan) dan deskriptivis (menerima). Kontraksi menjadi penanda gaya “modern” dan langsung. |
| 1910-1950 | Sangat Tinggi | Majalah, novel modernis, siaran radio. | Penerimaan luas dalam sebagian besar tulisan non-akademik. Dianggap penting untuk gaya yang hidup dan persuasif. |
Peran mesin cetak dan media massa awal sangat menentukan. Koran, dengan ruang yang terbatas dan keinginan untuk menjangkau pembaca dari berbagai kelas, secara alami mengadopsi bahasa yang lebih ringkas dan langsung. Iklan-iklan awal menggunakan kontraksi untuk menciptakan kesan percakapan dan mendesak (“Don’t miss out!”). Dengan membaca koran dan majalah, publik tidak hanya mengonsumsi berita tetapi juga secara tidak sadar menginternalisasi bentuk-bentuk singkat ini sebagai bagian dari bahasa tertulis yang sah.
Dengan demikian, mesin cetak bertindak sebagai katalis yang memindahkan kontraksi dari pinggiran ke arus utama, membentuk landasan bagi adopsi massalnya di era digital berikutnya.
Konstruksi Identitas dan Grup Sosial Melalui Pilihan Mengontraksi atau Tidak
Bahasa bukan hanya alat untuk menyampaikan informasi; ia juga merupakan pakaian sosial yang kita kenakan. Pilihan kosakata, struktur kalimat, dan—yang sangat halus—penggunaan atau penghindaran kontraksi, berfungsi sebagai sinyal identitas. Memilih untuk menulis “it is” daripada “it’s” dalam email dapat menjadi penanda profesionalisme, kewenangan, atau keinginan untuk menjaga jarak. Sebaliknya, menggunakan “it’s” bisa menyiratkan pendekatan yang lebih kolaboratif, modern, atau santai.
Sinyal-sinyal linguistik ini membantu kita memposisikan diri dalam hierarki sosial, menunjukkan afiliasi kelompok, atau bahkan menyamarkan latar belakang tertentu.
Perbedaan ini sangat terlihat melintasi generasi dan ranah profesional. Generasi yang lebih tua yang dididik dengan tata bahasa preskriptif yang ketat mungkin merasa bahwa kontraksi dalam dokumen bisnis terlihat “tidak matang”. Sementara itu, generasi digital native yang tumbuh dengan pesan teks dan media sosial menganggap kontraksi sebagai norma komunikasi tertulis yang efisien dan bersahabat. Dalam konteks profesional, seorang pengacara yang merancang kontrak akan menghindari kontraksi untuk mencapai presisi mutlak dan nada yang tak terbantahkan.
Seorang copywriter iklan atau manajer media sosial, di sisi lain, akan sengaja mencari kontraksi untuk menciptakan suara yang relatable dan engaging. Pilihan ini bukan tentang benar atau salah secara gramatikal, melainkan tentang kesesuaian kontekstual dan performansi identitas.
Ilustrasi: Dua Dunia, Dua Pilihan Bahasa
Bayangkan dua skenario. Di Skenario A, Lena, seorang direktur keuangan senior, sedang menyusun memo internal tentang audit yang akan datang. Tulisannya berbunyi: “It is imperative that all departments submit their reports by Friday. We cannot afford any delays. The data must be accurate and complete.” Kata-katanya padat, menggunakan “It is” dan “cannot”, menciptakan atmosfer otoritas, urgensi, dan formalitas yang tidak personal.
Di Skenario B, Rio, seorang community manager untuk sebuah game online populer, menulis pengumuman di forum: “Hey everyone! It’s time for the weekly raid! Don’t forget to gear up—we’re starting at 8 PM sharp. They’re predicting a tough boss, so let’s bring our A-game!” Di sini, “It’s”, “Don’t”, “we’re”, “They’re”, dan “let’s” membangun komunitas, antusiasme, dan rasa memiliki yang kolektif.
Penggunaan kontraksi secara konsisten menandakan bahwa Rio adalah bagian dari grup, berbicara dengan mereka, bukan kepada mereka.
Migrasi Slang dan Kontraksi Grup ke Bahasa Umum
Dinamika grup sering menjadi tempat kelahiran bentuk singkat baru yang akhirnya bermigrasi. Komunitas gamers melahirkan “grind” (berlatih berulang) dan “OP” (overpowered). Kontraksi slang seperti “gonna” (going to) dan “wanna” (want to), yang awalnya dianggap tidak gramatikal, kini diterima luas dalam representasi percakapan informal di media populer bahkan dalam komunikasi digital sehari-hari. Migrasi ini biasanya dimulai dari tulisan online (forum, chat) yang sangat mirip ucapan, kemudian meresap ke dalam bahasa lisan yang lebih luas, dan akhirnya mendapatkan pengakuan dalam kamus sebagai bentuk informal.
Sinyal Sosial dari Penghindaran Kontraksi
Menghindari kontraksi dalam komunikasi tertulis, terutama di konteks di mana kontraksi biasa digunakan, mengirimkan sinyal sosial yang spesifik:
- Otoritas dan Formalitas: Menegaskan hierarki, jarak profesional, atau keseriusan topik (dokumen hukum, peringatan resmi).
- Presisi Mutlak: Menghilangkan ambiguitas sekecil apa pun, penting dalam bidang ilmiah, teknis, atau medis.
- Penegasan Nilai Tradisional: Dapat menyiratkan pendidikan klasik, kekakuan, atau penolakan terhadap tren bahasa yang dianggap “longgar”.
- Pembesaran atau Penekanan: Dalam pidato atau tulisan persuasif, menggunakan “do not” alih-alih “don’t” dapat memberikan penekanan yang lebih kuat dan dramatis.
- Keterpisahan dari Grup Informal: Secara tidak sadar menandakan bahwa penulis bukan bagian dari kelompok yang menggunakan bahasa santai tersebut, atau sengaja menjaga batas.
Ambang Batas antara Inovasi Bahasa dan Degradasi Tata Bahasa dalam Wacana Publik: 23. Its = It Is; Theyre = They Are
Debat tentang kontraksi mencerminkan ketegangan abadi dalam linguistik antara preskriptivisme dan deskriptivisme. Di satu sisi, para pendukung penggunaan kontraksi yang luas melihatnya sebagai inovasi bahasa yang alami dan efisien, sebuah evolusi yang merespons kebutuhan komunikasi manusia yang berubah. Mereka berargumen bahwa bahasa adalah makhluk hidup, dan aturannya harus mendeskripsikan bagaimana bahasa benar-benar digunakan, bukan memaksakan standar kaku dari masa lalu.
Dalam konteks pendidikan, pendekatan ini menekankan bahwa mengajarkan kesesuaian kontekstual—kapan menggunakan “it’s” dan kapan menggunakan “it is”—lebih penting daripada melarang salah satunya. Mereka melihat kontraksi sebagai alat untuk membuat tulisan lebih jelas, lebih persuasif, dan lebih mudah diakses bagi khalayak modern.
Di sisi lain, penentang mengkhawatirkan apa yang mereka lihat sebagai degradasi tata bahasa dan kejelasan. Dalam komunikasi resmi dan pendidikan, mereka berpendapat bahwa penghindaran kontraksi menjaga standar kejelasan, objektivitas, dan ketelitian. Kekhawatiran utama adalah bahwa normalisasi kontraksi dalam tulisan dapat mengikis pemahaman siswa tentang struktur gramatikal dasar. Jika “they’re” selalu dilihat sebagai satu kata, apakah mereka akan memahami peran “they” sebagai subjek dan “are” sebagai kata kerja?
Nah, dalam bahasa Inggris, singkatan seperti “It’s” untuk “It is” atau “They’re” untuk “They are” itu penting banget. Mirip kayak memahami kenapa fenomena alam terjadi, misalnya Mengapa suara di permukaan bumi mudah didengar. Penjelasan ilmiahnya ada, dan kita terima saja faktanya. Begitu pula dengan aturan grammar dasar ini, penerapannya yang tepat membuat komunikasi kita jadi lebih jelas dan mudah ‘didengar’ maksudnya.
Argumen ini sering dikaitkan dengan nilai yang lebih luas tentang disiplin, perhatian terhadap detail, dan penghormatan terhadap tradisi linguistik yang dianggap menjaga kekayaan dan presisi bahasa.
Perbandingan Kesan dalam Pidato
Perbedaan kesan ini dapat diilustrasikan dengan dua versi kutipan pidato yang hipotetis.
Versi dengan Kontraksi:
“We can’t ignore the challenges before us. It’s a moment that demands courage. We’re at a crossroads, and we’ve got to choose the path of innovation. Don’t let anyone tell you it isn’t possible.”
Versi tanpa Kontraksi:
“We cannot ignore the challenges before us. It is a moment that demands courage. We are at a crossroads, and we have to choose the path of innovation. Do not let anyone tell you it is not possible.”
Versi pertama terasa seperti ajakan dari seorang pemimpin yang energik dan dekat dengan rakyat, berbicara dengan semangat dan ketegasan yang personal. Versi kedua terdengar lebih seperti proklamasi negara yang khidmat, bernuansa kepresidenan dan penuh wibawa, namun mungkin terasa lebih berjarak secara emosional. Pilihan gaya ini secara langsung membingkai hubungan antara pembicara dan audiens.
Sikap Profesi terhadap Kontraksi, 23. Its = It Is; Theyre = They Are
Source: capitalizemytitle.com
| Bidang Profesi | Sikap Umum terhadap Kontraksi | Alasan Dasar | Pengecualian yang Umum |
|---|---|---|---|
| Jurnalisme (Berita Hard) | Menghindari dalam tubuh berita. | Menjaga objektivitas, formalitas, dan keseragaman gaya. | Dalam kutipan langsung, judul yang menarik, atau feature yang lebih ringan. |
| Hukum | Sangat Menghindari. | Presisi mutlak, menghilangkan ambiguitas, tradisi formalitas yang panjang. | Hampir tidak ada dalam dokumen pengadilan atau kontrak. |
| Akademik (Sains, Teknik) | Menghindari dalam jurnal dan tesis. | Menekankan objektivitas data dan metodologi, norma disiplin. | Mungkin dalam abstrak untuk keterbacaan, atau dalam humaniora dengan gaya yang lebih esai. |
| Pemasaran & Media Sosial | Mendorong dan banyak menggunakan. | Menciptakan suara yang relatable, bersahabat, dan mudah dipahami; mendorong keterlibatan. | Dalam komunikasi krisis atau pernyataan resmi perusahaan, mungkin dikurangi. |
Pengaruh Teknologi Prediktif dan Auto-Correct
Teknologi telah menjadi penengah tak terlihat dalam keputusan kita untuk mengontraksi. Keyboard ponsel dengan prediksi teks sering menawarkan kontraksi (“it’s”, “don’t”) sebagai pilihan pertama karena frekuensi penggunaannya yang tinggi. Fitur auto-correct secara agresif mengubah “its” menjadi “it’s” (sering kali secara keliru), atau sebaliknya. Hal ini menciptakan lingkungan di mana penggunaan kontraksi menjadi jalur yang paling tidak memiliki hambatan—secara harfiah membutuhkan lebih sedikit ketukan dan koreksi.
Di sisi lain, software pemeriksa tata bahasa seperti Grammarly mungkin menandai kontraksi dalam dokumen formal sebagai “terlalu informal”, mendorong pengguna untuk mengubahnya. Dengan demikian, pengguna sering kali tidak membuat pilihan sadar; mereka didorong oleh algoritme yang mencerminkan dan sekaligus membentuk norma linguistik. Teknologi ini mempercepat adopsi kontraksi dalam komunikasi sehari-hari sambil juga mengkristalkan aturan tentang kapan kontraksi tidak boleh digunakan, membuat ambang batas antara inovasi dan “degradasi” semakin kompleks untuk didefinisikan.
Simpulan Akhir
Jadi, di mana kita sekarang setelah menyelami dunia “it’s” dan “they’re”? Ternyata, kontraksi ini lebih dari sekadar cara cepat mengetik. Mereka adalah artefak hidup dari bahasa yang terus bergerak, penanda nada percakapan yang hangat, sekaligus cermin dari bagaimana teknologi membentuk ulang cara kita berinteraksi. Pilihan antara menggunakan atau menghindarinya bukan lagi soal benar-salah mutlak, melainkan soal kesadaran konteks: kapan kita butuh keformalan yang tegas, dan kapan kita mengutamakan kedekatan yang cair.
Pada akhirnya, memahami kontraksi adalah memahami fleksibilitas bahasa itu sendiri. Bahasa bukan museum yang statis, melainkan taman yang terus tumbuh. “It’s” dan “they’re” mengajarkan kita bahwa dalam setiap keputusan linguistik, terselip keseimbangan antara mempertahankan kejelasan dan merangkul perubahan. Dengan begitu, kita bukan hanya menjadi pengguna bahasa yang lebih cakap, tetapi juga pengamat yang apresiatif terhadap keindahan dinamisnya.
FAQ Lengkap
Apakah kontraksi seperti “it’s” boleh digunakan dalam tulisan akademik atau skripsi?
Aturan bervariasi tergantung pedoman gaya (style guide) yang digunakan. Umumnya, dalam tulisan akademik formal seperti skripsi atau jurnal, kontraksi dihindari untuk menjaga nada objektif dan serius. Namun, beberapa pedoman gaya modern di bidang humaniora atau sosial mulai lebih fleksibel. Selalu periksa panduan dari institusi atau penerbit Anda.
Mengapa otak lebih cepat membaca “they’re” daripada “they are”?
Karena otak kita cenderung memproses informasi dalam “chunk” atau potongan. “They’re” dibaca sebagai satu unit makna tunggal, sementara “they are” memerlukan pemrosesan dua kata terpisah. Efisiensi ini mengurangi beban kognitif dan mempercepat pemahaman, terutama dalam konteks bacaan yang sudah familiar.
Bagaimana cara terbaik mengajarkan perbedaan “its” (kepemilikan) dan “it’s” (it is) kepada pemula?
Gunakan analogi yang sederhana. Katakan bahwa apostrof dalam kontraksi seperti “it’s” adalah pengganti huruf yang hilang (i dalam “is”). Sedangkan “its” tanpa apostrof berperilaku seperti kata kepemilikan lainnya: his, her, our, their. Buat latihan dengan mengisi titik-titik pada kalimat yang konteksnya sangat jelas.
Apakah AI atau alat autocorrect berkontribusi pada kesalahan penggunaan kontraksi?
Ya, bisa. Alat prediktif teks sering menyarankan kontraksi untuk kecepatan, yang mungkin tidak sesuai dengan konteks formal. Selain itu, autocorrect terkadang salah “mengoreksi” “its” yang sudah benar menjadi “it’s”, atau sebaliknya, justru memperparah kebingungan. Pengguna harus tetap waspada dan tidak bergantung sepenuhnya.
Apakah ada kontraksi dalam bahasa Indonesia yang mengalami dinamika serupa?
Sangat ada. Contohnya seperti “gue” (saya), “lo” (kamu), “nggak” (tidak), atau “aja” (saja) yang awalnya dianggap sangat informal, kini telah digunakan luas dalam percakapan digital dan bahkan di beberapa konten media tertentu. Dinamikanya mirip: mulai dari percakapan kasual, lalu menyebar, dan memicu perdebatan soal kelaziman.