Soal Kimia: Stabilitas Atom dan Pembentukan Senyawa Ion bukan sekadar materi hafalan, melainkan pintu masuk untuk memahami bagaimana segala materi di alam semesta ini saling terikat. Bayangkan, dari garam dapur yang kita konsumsi hingga mineral dalam tanah, semuanya bermula dari “keinginan” atom-atom untuk menjadi stabil, menciptakan tarian elektron yang memesona dan penuh aturan.
Dunia mikroskopis ini diatur oleh prinsip dasar bagaimana atom logam dan nonlogam berinteraksi, saling memberi dan menerima elektron, untuk mencapai konfigurasi elektron yang stabil layaknya gas mulia. Proses fundamental inilah yang melahirkan senyawa ionik, dengan sifat-sifat unik yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari daya hantar listrik hingga titik lelehnya yang tinggi.
Konsep Dasar Stabilitas Atom
Dalam dunia kimia, setiap atom memiliki keinginan dasar yang kuat: menjadi stabil. Stabilitas ini bukan sekadar konsep abstrak, melainkan kondisi yang menentukan bagaimana atom berinteraksi dan membentuk segala materi di sekitar kita. Inti dari pencapaian stabilitas ini terletak pada susunan elektron di kulit terluarnya, yang sering kita sebut sebagai kulit valensi.
Atom-atom gas mulia, seperti helium, neon, dan argon, dianggap sebagai bangsawan di tabel periodik karena kestabilannya yang luar biasa. Kestabilan ini berasal dari konfigurasi elektron valensi mereka yang penuh. Khusus untuk helium, ia stabil dengan 2 elektron (duplet), sementara gas mulia lainnya stabil dengan 8 elektron (oktet) di kulit terluarnya. Konfigurasi inilah yang menjadi “cita-cita” bagi semua unsur lain.
Perbandingan Kestabilan Atom Logam dan Gas Mulia
Atom logam, terutama dari golongan IA (seperti natrium) dan IIA (seperti magnesium), memiliki sangat sedikit elektron valensi. Natrium, dengan satu elektron di kulit terluarnya, jauh lebih tidak stabil dibandingkan neon yang memiliki konfigurasi oktet. Ketidakstabilan ini membuat atom natrium cenderung sangat reaktif; ia lebih mudah melepaskan satu elektron itu untuk mencapai konfigurasi stabil seperti gas mulia terdekat. Begitu pula magnesium yang dengan dua elektron valensi, akan lebih stabil jika melepaskan keduanya.
Dalam kimia, stabilitas atom dicapai melalui transfer elektron, membentuk senyawa ion yang kuat. Prinsip keseimbangan ini mirip dengan konsep dalam keuangan, seperti Pengertian Spread‑Based dan Fee‑Based , di mana stabilitas sistem dibangun dari dua model pendapatan yang berbeda. Dengan memahami dualitas ini, kita dapat kembali menganalisis ikatan ion dengan perspektif lebih luas tentang bagaimana entitas mencapai konfigurasi yang stabil dan menguntungkan.
Kecenderungan atom untuk mencapai kestabilan dapat diidentifikasi dari posisinya di tabel periodik. Atom logam, yang terletak di sebelah kiri, cenderung mencapai kestabilan dengan melepaskan elektron membentuk ion positif (kation). Sebaliknya, atom non-logam di sebelah kanan, yang kekurangan sedikit elektron untuk mencapai oktet, cenderung menangkap elektron membentuk ion negatif (anion). Sementara itu, unsur-unsur non-logam tertentu dapat mencapai kestabilan dengan memakai bersama elektron melalui ikatan kovalen, sebuah strategi yang umum dilakukan oleh unsur-unsur yang sama-sama memiliki afinitas tinggi terhadap elektron.
Karakteristik Unsur dalam Mencapai Kestabilan
Perilaku unsur dalam upaya mencapai konfigurasi gas mulia sangat bervariasi, bergantung pada klasifikasinya sebagai logam, non-logam, metaloid, atau gas mulia itu sendiri. Perbedaan mendasar ini dapat dirangkum untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.
| Jenis Unsur | Posisi (Umum) | Strategi Mencapai Stabilitas | Hasil Akhir |
|---|---|---|---|
| Logam (Na, Mg) | Golongan IA, IIA | Melepaskan elektron valensi | Membentuk kation (+) |
| Non-Logam (Cl, O) | Golongan VIA, VIIA | Menangkap elektron | Membentuk anion (-) |
| Metaloid (Si) | Garis batas | Dapat melepaskan atau memakai bersama elektron | Membentuk kation atau ikatan kovalen |
| Gas Mulia (Ne, Ar) | Golongan VIIIA | Sudah stabil, tidak berusaha mencapai | Tidak membentuk ion secara spontan |
Proses Pembentukan Ikatan Ion
Ikatan ion adalah buah dari ketertarikan elektrostatis antara dua ion yang bermuatan berlawanan, yang lahir dari proses transfer elektron. Proses ini dapat diamati dengan sangat jelas pada pembentukan garam dapur, senyawa natrium klorida (NaCl), dari atom natrium yang sangat reaktif dan atom klorin yang beracun.
Langkah-langkah pembentukannya dimulai ketika atom natrium (Na, konfigurasi elektron: 2,8,1) mendekati atom klorin (Cl, konfigurasi elektron: 2,8,7). Natrium memiliki satu elektron valensi yang mudah lepas, sementara klorin membutuhkan satu elektron untuk melengkapi oktetnya. Ketika energi ionisasi natrium yang relatif rendah terpenuhi, satu elektron dari kulit terluar natrium berpindah ke kulit terluar klorin. Peristiwa transfer ini mengubah kedua atom menjadi ion: natrium kehilangan satu elektron menjadi ion Na⁺ (konfigurasi seperti Ne: 2,8), dan klorin mendapatkan satu elektron menjadi ion Cl⁻ (konfigurasi seperti Ar: 2,8,8).
Perubahan Struktur Lewis dalam Pembentukan NaCl
Struktur Lewis memberikan representasi visual yang intuitif untuk proses ini. Sebelum ikatan, struktur Lewis natrium digambarkan sebagai ‘Na•’ (titik mewakili satu elektron valensi) dan klorin sebagai ‘••Cl••••’ (tujuh titik mewakili tujuh elektron valensi). Setelah transfer elektron terjadi, ion Na⁺ tidak lagi memiliki elektron valensi untuk digambarkan, sementara ion Cl⁻ digambarkan dengan delapan titik (oktet) dan tanda muatan negatif di sekelilingnya: ‘[••Cl••••]⁻’.
Gaya tarik elektrostatik yang kuat antara Na⁺ dan Cl⁻ inilah yang kemudian mengunci kedua ion bersama dalam suatu ikatan ionik.
Peran Energi Ionisasi dan Afinitas Elektron
Kesuksesan pembentukan ikatan ion sangat bergantung pada dua sifat atom yang terlibat: energi ionisasi dan afinitas elektron. Energi ionisasi adalah energi minimum yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari atom netral dalam wujud gas. Atom logam seperti natrium memiliki energi ionisasi yang rendah, membuat pelepasan elektron menjadi proses yang mudah dan melepaskan energi. Di sisi lain, afinitas elektron adalah besarnya energi yang dilepaskan ketika atom menangkap satu elektron.
Memahami stabilitas atom melalui pembentukan senyawa ion, seperti dalam soal kimia, mengajarkan prinsip keseimbangan gaya. Konsep keseimbangan ini ternyata juga fundamental dalam fisika terapan, misalnya saat Menghitung Luas Penampang Besar Pompa Hidrolik untuk memperoleh gaya angkat yang optimal. Demikian halnya, ikatan ion terbentuk demi mencapai konfigurasi elektron yang stabil, sebuah “keseimbangan” alami di tingkat atom.
Non-logam seperti klorin memiliki afinitas elektron yang tinggi, sehingga proses penangkapan elektronnya sangat eksotermik. Kombinasi antara pelepasan elektron yang mudah dari logam dan penangkapan elektron yang sangat disukai oleh non-logam menciptakan dorongan termodinamika yang kuat bagi terbentuknya ikatan ion.
Syarat Terbentuknya Senyawa Ionik
Senyawa ionik terbentuk ketika terjadi transfer elektron dari atom logam ke atom non-logam. Syarat utama proses ini adalah perbedaan keelektronegatifan yang sangat besar antara kedua atom, biasanya lebih dari 1.7 menurut skala Pauling. Logam, dengan energi ionisasi rendah, bertindak sebagai pendonor elektron (reduktor), sementara non-logam dengan afinitas elektron tinggi bertindak sebagai akseptor elektron (oksidator). Hasil transfer ini adalah pembentukan kation dan anion yang kemudian terikat oleh gaya elektrostatik yang kuat dalam suatu struktur kristal raksasa yang khas.
Sifat-Sifat Senyawa Ionik
Sifat fisika senyawa ionik secara langsung merupakan cerminan dari kekuatan ikatan ionik dan struktur internalnya. Ikatan elektrostatik yang kuat antara ion-ion bermuatan ini memberikan ciri khas yang membedakannya dari senyawa kovalen atau logam.
Senyawa ion umumnya memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi. Hal ini disebabkan karena untuk melelehkan atau mendidihkan senyawa ion, diperlukan energi yang sangat besar untuk mengatasi gaya tarik-menarik elektrostatik yang kuat yang mengikat ion-ion dalam posisinya di dalam kisi kristal. Selain itu, dalam keadaan padat, senyawa ion tidak dapat menghantarkan listrik karena ion-ionnya terikat kuat dan tidak dapat bergerak bebas.
Namun, ketika dilelehkan atau dilarutkan dalam air, ion-ion tersebut menjadi bebas bergerak dan dapat membawa muatan listrik, sehingga larutan atau lelehannya bersifat konduktif.
Kekuatan Ikatan Ion dalam Berbagai Senyawa
Kekuatan ikatan ion tidaklah sama untuk semua senyawa. Kekuatan ini bergantung pada dua faktor utama: besarnya muatan ion dan ukuran jari-jari ion. Muatan ion yang lebih besar meningkatkan gaya tarik elektrostatik, sementara jari-jari ion yang lebih kecil memungkinkan ion-ion untuk saling mendekat, sehingga gaya tarik juga semakin kuat. Sebagai contoh, MgO memiliki titik leleh (2852°C) yang jauh lebih tinggi daripada NaCl (801°C).
Hal ini karena Mg²⁺ dan O²⁻ memiliki muatan ganda (2+ dan 2-) dibandingkan Na⁺ dan Cl⁻ (1+ dan 1-), sehingga gaya tariknya jauh lebih kuat meskipun ukuran ionnya relatif kecil. Sementara itu, KBr memiliki titik leleh yang lebih rendah (734°C) daripada NaCl, karena ion K⁺ dan Br⁻ memiliki jari-jari yang lebih besar, sehingga muatan efektifnya lebih tersebar dan gaya tariknya sedikit lebih lemah.
Stabilitas atom dalam pembentukan senyawa ion ditentukan oleh kecenderungan mencapai konfigurasi elektron yang stabil, serupa dengan bagaimana mata manusia membutuhkan koreksi untuk mencapai penglihatan yang jelas. Dalam konteks ini, prinsip fisika optika, seperti yang dijelaskan dalam analisis mengenai Kekuatan Lensa Kacamata untuk Umron dengan Titik Dekat 50 cm , mengajarkan kita tentang keseimbangan dan penyesuaian. Demikian halnya, atom-atom saling menyesuaikan jumlah elektron untuk mencapai kestabilan, membentuk ikatan ionik yang kuat melalui proses transfer muatan.
Hubungan Sifat Fisik dan Struktur Kristal, Soal Kimia: Stabilitas Atom dan Pembentukan Senyawa Ion
Source: slidesharecdn.com
Sifat-sifat makroskopik senyawa ionik seperti kekerasan, kerapuhan, dan kelarutan sangat ditentukan oleh arsitektur mikroskopiknya, yaitu struktur kristal ionik. Kisi kristal yang tersusun rapi ini menjelaskan banyak perilaku senyawa ion.
| Sifat Fisik | Penyebab Berdasarkan Struktur | Contoh Senyawa | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Titik Leleh/Titik Didih Tinggi | Diperlukan energi besar untuk memutus ikatan elektrostatik kuat di seluruh kisi. | MgO, CaO | Semakin kuat ikatan, semakin tinggi titik leleh. |
| Rapuh (Brittle) | Geseran pada kisi dapat membuat ion bermuatan sama berhadapan, sehingga tolak-menolak dan kristal pecah. | NaCl, KCl | Sifat khas kebanyakan kristal ionik. |
| Larut dalam Pelarut Polar | Molekul pelarut polar (seperti air) dapat menyolvasi dan menarik ion keluar dari kisi. | NaCl, KI | Tidak semua ionik larut; kelarutan bergantung pada keseimbangan energi. |
| Isolator Listrik (padat) | Ion-ion terikat tetap pada posisi kisi, tidak ada pembawa muatan bebas. | Semua senyawa ion padat | Konduktivitas muncul saat ion bebas bergerak (lelehan/larutan). |
Kelarutan Senyawa Ion dalam Air
Air merupakan pelarut yang sangat efektif untuk banyak senyawa ion karena sifatnya yang polar. Molekul air memiliki momen dipol, di mana atom oksigen bersifat sedikit negatif dan atom hidrogen bersifat sedikit positif. Ketika kristal ionik seperti NaCl dimasukkan ke dalam air, ujung positif (H) dari molekul air akan mengelilingi dan menarik ion Cl⁻, sementara ujung negatif (O) akan mengelilingi dan menarik ion Na⁺.
Proses ini disebut hidrasi atau solvasi. Gaya tarik antara ion dan dipol air ini mampu mengatasi gaya tarik elektrostatik antar ion dalam kisi kristal, sehingga ion-ion terlepas dan terlarut. Proses pelarutan ini bersifat dinamis dan bergantung pada perbandingan kekuatan antara energi kisi senyawa ion dan energi hidrasi ion-ionnya.
Representasi dan Penamaan Senyawa Ion: Soal Kimia: Stabilitas Atom Dan Pembentukan Senyawa Ion
Komunikasi yang tepat dalam kimia sangat bergantung pada kemampuan untuk menuliskan rumus kimia dan memberi nama senyawa dengan benar dan sistematis. Untuk senyawa ion, aturan ini didasarkan pada prinsip kenetralan muatan, di mana total muatan positif dari kation harus sama dengan total muatan negatif dari anion.
Untuk senyawa ion biner (terdiri dari dua unsur), rumus kimia ditulis dengan menempatkan kation (logam atau ion positif) di depan, diikuti oleh anion (non-logam atau ion negatif). Subskrip angka (indeks) digunakan untuk menunjukkan jumlah masing-masing ion yang diperlukan untuk menetralkan muatan. Misalnya, dalam CaCl₂, satu ion Ca²⁺ (muatan 2+) dinetralkan oleh dua ion Cl⁻ (muatan 1- masing-masing), sehingga diperlukan subskrip 2 untuk klorin.
Meramalkan Rumus Senyawa Ion dari Ion Penyusun
Meramalkan rumus menjadi mudah jika kita mengetahui muatan ion yang terlibat. Sebagai latihan, mari kita ramalkan senyawa yang terbentuk dari kation besi (Fe²⁺ dan Fe³⁺) dengan anion oksida (O²⁻) dan klorida (Cl⁻). Prinsipnya adalah mengalikan silang muatan (tanpa tanda +/-) untuk menjadi subskrip bagi ion yang berlawanan, lalu disederhanakan jika mungkin.
- Fe²⁺ dan O²⁻: Muatan sudah setara (2+ dan 2-). Subskrip silang (2 untuk Fe, 2 untuk O) dapat disederhanakan menjadi 1:1. Rumusnya adalah FeO.
- Fe³⁺ dan O²⁻: Muatan 3+ dan 2-. Subskrip silang: 2 untuk Fe (dari muatan O) dan 3 untuk O (dari muatan Fe). Rumusnya adalah Fe₂O₃.
- Fe²⁺ dan Cl⁻: Muatan 2+ dan 1-. Subskrip silang: 1 untuk Fe dan 2 untuk Cl. Rumusnya adalah FeCl₂.
- Fe³⁺ dan Cl⁻: Muatan 3+ dan 1-. Subskrip silang: 1 untuk Fe dan 3 untuk Cl. Rumusnya adalah FeCl₃.
Panduan Penamaan Senyawa Ion
Penamaan senyawa ion mengikuti konvensi yang jelas. Untuk kation dengan bilangan oksidasi tunggal (seperti Na⁺, Ca²⁺, Al³⁺), penamaannya sederhana: nama logam diikuti nama anion yang diakhiri “-ida”. Contoh: NaCl (Natrium Klorida), CaO (Kalsium Oksida).
Untuk kation dengan bilangan oksidasi jamak (seperti Fe²⁺/Fe³⁺, Cu⁺/Cu²⁺), bilangan oksidasi kation harus ditunjukkan dengan angka Romawi dalam tanda kurung setelah nama logam. Contoh: FeO adalah Besi(II) Oksida (Fe bermuatan 2+), sedangkan Fe₂O₃ adalah Besi(III) Oksida (Fe bermuatan 3+). CuCl adalah Tembaga(I) Klorida, dan CuCl₂ adalah Tembaga(II) Klorida.
Kesalahan Umum dalam Penulisan dan Penamaan
Beberapa kesalahan sering terjadi saat menulis rumus dan memberi nama senyawa ion. Menghindari kesalahan ini meningkatkan keakuratan komunikasi ilmiah.
- Menukar Posisi Kation dan Anion: Menulis ClNa alih-alih NaCl. Kation selalu ditulis pertama.
- Keliru Menyederhanakan Subskrip: Menulis MgO₂ untuk senyawa dari Mg²⁺ dan O²⁻. Muatan sudah setara 1:1, jadi rumusnya MgO, bukan MgO₂.
- Lupa Menunjukkan Bilangan Oksidasi: Menyebut FeCl₂ dan FeCl₃ sama-sama sebagai “Besi Klorida” tanpa membedakan. Harus disebut Besi(II) Klorida dan Besi(III) Klorida.
- Kesalahan dalam Akhiran Nama Anion: Menyebut O²⁻ sebagai “Oksigen” atau “Oksida” yang salah. Nama anionnya adalah “oksida”. Aturan: unsur tunggal biasanya berakhiran “-ida” (klorida, sulfida, oksida).
- Menulis Muatan dalam Rumus Kimia Akhir: Menulis Na⁺Cl⁻ sebagai rumus senyawa. Rumus senyawa netral adalah NaCl, tanpa tanda muatan.
Aplikasi dan Contoh Soal Analisis
Memahami teori tentang stabilitas atom dan ikatan ion menjadi lebih mantap ketika diterapkan dalam menyelesaikan permasalahan. Analisis terhadap soal-soal membantu mengasah kemampuan untuk memprediksi, menghitung, dan membandingkan berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajari.
Contoh Soal Pemahaman Konsep
Berikut tiga contoh soal yang menguji pemahaman dari tingkat dasar hingga analisis.
Soal 1: Unsur X memiliki nomor atom 12, dan unsur Y memiliki nomor atom 9. Tentukan rumus senyawa ion yang mungkin terbentuk dari kedua unsur ini dan berikan nama senyawanya.
Strategi Penyelesaian: Pertama, tentukan konfigurasi elektron dan kecenderungannya. X (nomor 12: 2,8,2) adalah logam golongan IIA (Mg), cenderung melepaskan 2 elektron menjadi X²⁺. Y (nomor 9: 2,7) adalah non-logam golongan VIIA (F), cenderung menangkap 1 elektron menjadi Y⁻. Untuk menetralkan muatan, diperlukan 1 ion X²⁺ (memberi 2 muatan +) dan 2 ion Y⁻ (masing-masing memberi 1 muatan -, total 2-). Jadi, rumus senyawanya adalah XY₂.
Namanya: Magnesium Fluorida.
Soal 2: Diberikan data titik leleh dua senyawa ion: Senyawa A = 772°C, Senyawa B = 2800°C. Keduanya memiliki struktur kristal yang sama. Analisis perbedaan titik leleh yang signifikan ini berdasarkan kemungkinan perbedaan muatan dan jari-jari ion penyusunnya.
Analisis: Titik leleh yang jauh lebih tinggi pada Senyawa B mengindikasikan ikatan ionik yang jauh lebih kuat. Dalam struktur kristal yang sama, kekuatan ikatan terutama dipengaruhi oleh muatan ion dan jari-jarinya. Kemungkinan besar, Senyawa B tersusun dari ion-ion dengan muatan lebih tinggi (misalnya, 2+ dan 2- atau 3+ dan 2-) dibandingkan Senyawa A (mungkin 1+ dan 1-). Atau, ion-ion dalam Senyawa B memiliki jari-jari yang lebih kecil, sehingga jarak antar inti ion lebih pendek dan gaya tarik elektrostatiknya lebih kuat.
Kombinasi kedua faktor ini biasanya memberikan efek peningkatan titik leleh yang dramatis.
Soal 3: Gambarkan dan jelaskan proses disosiasi senyawa NaCl ketika dimasukkan ke dalam air, serta kaitkan dengan daya hantar listrik larutannya.
Ilustrasi Deskriptif: Bayangkan sebuah kristal kubus NaCl. Di dalam air, molekul air yang bersifat polar (ujung O negatif, ujung H positif) akan menyerang permukaan kristal. Ujung positif (H) dari molekul air akan mengorientasikan diri mengelilingi ion Cl⁻, sedangkan ujung negatif (O) akan mengelilingi ion Na⁺. Gaya tarik dipol-ion antara air dengan masing-masing ion ini secara bertahap melemahkan dan akhirnya memutuskan gaya tarik elektrostatik yang mengikat Na⁺ dan Cl⁻ dalam kisi.
Ion-ion tersebut terlepas dari permukaan kristal, terbungkus oleh selubung molekul air (terhidrasi), dan bebas bergerak acak dalam larutan. Ion-ion yang bebas bergerak inilah yang menjadi pembawa muatan. Ketika dua elektroda dimasukkan ke dalam larutan dan diberi beda potensial, ion Na⁺ akan bergerak menuju katoda (elektroda negatif) dan ion Cl⁻ bergerak menuju anoda (elektroda positif), sehingga arus listrik dapat mengalir. Inilah sebabnya larutan NaCl menghantarkan listrik, sementara kristal NaCl padat tidak.
Akhir Kata
Dengan demikian, menjelajahi stabilitas atom dan pembentukan senyawa ion ibarat memecahkan kode dasar alam materi. Pemahaman ini tidak berhenti di teori, tetapi menjadi pondasi kokoh untuk menganalisis sifat senyawa, meramalkan rumus kimia, hingga menerka kelarutannya. Menguasai konsep ini berarti memiliki kunci untuk membaca bahasa kimia yang ditulis oleh atom-atom di seluruh jagat raya.
FAQ Terperinci
Apakah semua senyawa yang terbentuk dari logam dan nonlogam pasti bersifat ionik?
Tidak selalu. Meski banyak senyawa ion terbentuk dari logam dan nonlogam, ada pengecualian. Beberapa unsur, seperti aluminium dan berilium, dapat membentuk ikatan yang lebih bersifat kovalen meski berikatan dengan nonlogam, terutama jika perbedaan keelektronegatifannya tidak terlalu besar atau jika kationnya sangat bermuatan tinggi dan berukuran kecil.
Mengapa senyawa ion padat tidak menghantarkan listrik, tetapi larutannya bisa?
Dalam bentuk padat, ion-ion dalam senyawa ion terikat kuat pada posisinya dalam kisi kristal dan tidak dapat bergerak bebas. Saat dilarutkan dalam air (pelarut polar), kisi kristal ini terurai (terdisosiasi) menjadi ion-ion yang bebas bergerak. Ion-ion yang bebas bergerak inilah yang membawa muatan listrik sehingga larutannya dapat menghantarkan listrik.
Bagaimana cara membedakan senyawa ion dan kovalen hanya dari namanya?
Penamaan sistematis (IUPAC) sering kali memberikan petunjuk. Senyawa ion biner biasanya dinamai dengan menyebutkan nama kation (logam) diikuti nama anion (nonlogam) dengan akhiran “-ida”. Jika kation logam memiliki lebih dari satu bilangan oksidasi, akan disebutkan dengan angka Romawi. Sementara senyawa kovalen (antar nonlogam) sering menggunakan awalan numerik seperti mono-, di-, tri-.
Apakah gas mulia benar-benar tidak dapat membentuk senyawa ion?
Secara umum, gas mulia sangat stabil dan sulit bereaksi. Namun, beberapa gas mulia yang lebih berat seperti xenon (Xe) dan kripton (Kr) dapat membentuk senyawa, misalnya XeF₂ atau XeO₄, di mana mereka bertindak sebagai atom pusat dalam senyawa kovalen. Pembentukan senyawa ion murni yang melibatkan gas mulia sebagai kation atau anion sangatlah langka dan tidak umum.