Stoichiometry dan Titrasi Analisis Kadar Seng dan Besi dalam Sampel

Stoichiometry dan Titrasi: Kadar Seng serta Kandungan Besi dalam Sampel bukan cuma teori di buku teks, tapi kunci untuk membuka rahasia komposisi material di sekitar kita. Bayangkan, dengan prinsip perhitungan molekul dan teknik titrasi yang presisi, kita bisa mengungkap berapa persisnya kandungan logam dalam suplemen, air limbah, atau bahkan bijih mineral. Ini adalah cerita tentang bagaimana ilmu kimia yang terlihat rumit ternyata punya aplikasi yang sangat nyata dan powerful.

Melalui pendekatan analitik yang detail, proses ini melibatkan serangkaian langkah sistematis mulai dari preparasi sampel, pemilihan metode titrasi yang tepat—seperti kompleksometri untuk seng atau redoks untuk besi—hingga interpretasi data akhir. Setiap tetes titran yang ditambahkan membawa kita lebih dekat pada jawaban kuantitatif, mengubah reaksi kimia menjadi bilangan yang dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan di industri, penelitian, dan pengawasan kualitas.

Konsep Dasar Stoikiometri dan Titrasi

Bayangkan kita sedang membongkar resep rahasia alam semesta, tepatnya resep reaksi kimia. Di situlah stoikiometri berperan. Ia adalah ilmu hitung-hitungan kimia yang memastikan semua atom ‘bertemu’ dengan pasangannya secara proporsional dalam sebuah reaksi, tanpa ada yang tersisa atau kurang. Prinsip ini mutlak, terutama saat kita berurusan dengan logam seperti seng (Zn) dan besi (Fe), di mana kita perlu tahu persis berapa gram atau mol yang bereaksi.

Titrasi adalah alat praktis untuk menerapkan prinsip stoikiometri itu. Metode ini memungkinkan kita menentukan kadar suatu zat yang tidak diketahui dengan cara mereaksikannya secara bertahap dengan larutan standar yang konsentrasinya sudah diketahui pasti. Proses penambahan titran ini dihentikan tepat saat reaksi selesai, yang ditandai dengan perubahan warna indikator. Titik henti ini, yang disebut titik akhir titrasi, adalah kunci untuk menghitung berapa banyak zat target yang ada dalam sampel kita.

Jenis-Jenis Titrasi untuk Analisis Logam

Pemilihan metode titrasi sangat bergantung pada sifat logam yang dianalisis. Dua jenis yang paling relevan untuk analisis seng dan besi adalah titrasi kompleksometri dan titrasi redoks. Berikut perbandingan keduanya.

Jenis Titrasi Prinsip Dasar Aplikasi Utama Contoh Reagen Titran
Kompleksometri Pembentukan senyawa kompleks yang stabil antara ion logam dengan ligan. Penentuan kadar logam multivalen seperti Zn²⁺, Ca²⁺, Mg²⁺. EDTA (Ethylenediaminetetraacetic acid)
Redoks Transfer elektron antara zat pengoksidasi (oksidator) dan zat pereduksi (reduktor). Penentuan kadar besi (Fe²⁺), tembaga (Cu⁺), atau senyawa pengoksidasi seperti KMnO₄, K₂Cr₂O₇. Kalium Dikromat (K₂Cr₂O₇), Kalium Permanganat (KMnO₄)

Contoh Reaksi Kimia Setara

Untuk memberikan gambaran konkret, berikut persamaan reaksi setara yang menjadi dasar analisis untuk seng dan besi. Reaksi pelarutan seng dalam asam menghasilkan gas hidrogen, sementara reaksi oksidasi besi(II) menjadi besi(III) adalah jantung dari banyak titrasi redoks.

Pelarutan Seng: Zn(s) + 2H⁺(aq) → Zn²⁺(aq) + H₂(g)
Oksidasi Besi: 6Fe²⁺(aq) + Cr₂O₇²⁻(aq) + 14H⁺(aq) → 6Fe³⁺(aq) + 2Cr³⁺(aq) + 7H₂O(l)

Prinsip Analisis Kadar Seng (Zn) dalam Sampel

Menentukan kadar seng dengan tepat itu seperti mengundangnya untuk berdansa, lalu mencatat berapa banyak langkah yang dibutuhkan hingga ia menyerah. Dalam dunia analisis, ‘tarian’ ini dilakukan oleh EDTA, sebuah ligan yang akan mengikat ion Zn²⁺ membentuk kompleks sangat stabil. Metode ini dikenal sebagai titrasi kompleksometri dan terkenal akan akurasi dan presisinya untuk logam-logam seperti seng.

Prosedur Titrasi Kompleksometri dengan EDTA

Prosedur dimulai dengan melarutkan sampel yang mengandung seng dalam asam, sehingga semua seng berada dalam bentuk ion Zn²⁺. Larutan ini kemudian dinetralkan sebagian dan ditambahkan larutan buffer amonia untuk menjaga pH sekitar 10, kondisi optimal agar EDTA dapat mengikat seng secara efektif. Indikator yang tepat ditambahkan sebelum titrasi dimulai.

BACA JUGA  Mencari Fakta Sejarah dan Imajinasi Pengarang dalam Novel Kemelut Majapahit

Indikator dan Perubahan Warna

Pemilihan indikator krusial. Untuk seng, indikator Eriochrome Black T (EBT) atau Calmagite sering digunakan. Indikator ini sendiri akan membentuk kompleks berwarna dengan ion Zn²⁺, namun kompleks tersebut lebih lemah daripada kompleks Zn-EDTA.

Sebelum titrasi: Zn-Indikator (Kompleks merah anggur/wine red).
Selama titrasi: EDTA bebas akan mengambil semua ion Zn²⁺ dari kompleks Zn-Indikator.
Titik Akhir: Semua ion Zn²⁺ telah terikat EDTA, indikator dibebaskan dan menunjukkan warna biru murni larutan buffer.

Perhitungan Stoikiometri Kadar Seng

Perhitungannya mengikuti prinsip stoikiometri 1:1 antara EDTA dan ion logam bervalensi dua seperti Zn²⁺. Misalkan kita menitrasi 25 mL larutan sampel dengan larutan EDTA 0,01 M, dan volume titran yang dibutuhkan hingga titik akhir adalah 12,5 mL.

Mol EDTA = Molaritas EDTA × Volume EDTA (L) = 0,01 mol/L × 0,0125 L = 1,25 × 10⁻⁴ mol.
Karena perbandingan 1:1, mol Zn²⁺ = mol EDTA = 1,25 × 10⁻⁴ mol.
Massa Zn = mol Zn × Ar Zn = 1,25 × 10⁻⁴ mol × 65,38 g/mol = 0,0081725 g.
Jika sampel awal adalah 0,1 g, maka kadar Zn = (0,0081725 g / 0,1 g) × 100% = 8,17%.

Sumber Kesalahan dan Minimasi

Tidak ada analisis yang sempurna, tetapi kesalahan dapat dikendalikan. Sumber kesalahan potensial meliputi pembacaan volume buret yang kurang teliti, pH larutan yang tidak tepat (mempengaruhi kestabilan kompleks dan kinerja indikator), atau adanya ion logam pengganggu lain yang juga dapat terikat EDTA. Cara meminimalkannya adalah dengan kalibrasi alat, menggunakan buffer yang tepat, dan jika perlu, menambahkan masking agent untuk mengikat logam pengganggu atau melakukan pemisahan awal.

Prinsip Analisis Kandungan Besi (Fe) dalam Sampel

Analisis besi seringkali bercerita tentang pertukaran elektron, sebuah drama redoks yang penuh ketegangan. Di satu sisi ada besi dalam bentuk ferro (Fe²⁺) yang siap mendonorkan elektron, di sisi lain ada titran kuat seperti ion dikromat (Cr₂O₇²⁻) yang lapar elektron. Titik temu keduanya dalam titrasi akan memberitahu kita secara persis berapa banyak besi yang hadir dalam sampel.

Langkah Analisis dengan Titrasi Redoks Kalium Dikromat

Prosedur umumnya dimulai dengan menjamin semua besi dalam sampel berada dalam bentuk Fe²⁺. Sampel yang mungkin mengandung Fe³⁺ harus direduksi terlebih dahulu, misalnya dengan logam seng atau dengan SnCl₂. Larutan Fe²⁺ yang telah disiapkan kemudian dititrasi dengan larutan standar kalium dikromat (K₂Cr₂O₇) dalam lingkungan asam kuat (biasanya H₂SO₄ atau HCl).

Preparasi Sampel Besi

Sampel padat seperti bijih besi atau suplemen perlu didestruksi untuk melarutkan besi. Metode destruksi basah dengan asam kuat (campuran HNO₃ dan HCl atau H₂SO₄) umum digunakan. Setelah pelarutan, langkah kritis adalah mereduksi semua besi menjadi Fe²⁺. Reduktor seperti SnCl₂ ditambahkan tetes demi tetes hingga warna kuning dari Fe³⁺ hilang. Kelebihan reduktor harus dihilangkan (misalnya dengan HgCl₂) untuk mencegah gangguan selama titrasi.

Reagen dalam Titrasi Besi

Berikut adalah peran masing-masing reagen dalam panggung titrasi besi dengan kalium dikromat.

Reagen Fungsi Utama Konsentrasi Umum Catatan Penting
Kalium Dikromat (K₂Cr₂O₇) Titran standar primer, pengoksidasi. ~0,1 N atau ~0,0167 M Stabil, dapat ditimbang langsung untuk membuat larutan standar.
Asam Sulfat (H₂SO₄) pekat Menyediakan suasana asam, mencegah pengendapan besi. Sebagai penambah, ~5-10% v/v akhir Ditambahkan sebelum titrasi.
Indikator Difenilamin atau Barium Difenilamin sulfonat Menunjukkan titik akhir melalui perubahan warna. Larutan ~1% Bereaksi dengan kelebihan dikromat.
Asam Fosfat (H₃PO₄) Mengikat Fe³⁺ yang terbentuk menjadi kompleks tak berwarna [Fe(PO₄)₂]³⁻. Ditambahkan beberapa mL Memperjelas titik akhir dengan menghilangkan warna kuning Fe³⁺.

Mekanisme Reaksi Redoks

Inti dari titrasi ini adalah transfer elektron dari ion besi(II) ke ion dikromat. Setiap ion Fe²⁺ kehilangan satu elektron untuk menjadi Fe³⁺. Sementara itu, satu ion Cr₂O₇²⁻ menerima total 6 elektron, dengan setiap atom kromium mengalami reduksi dari biloks +6 menjadi +3. Reaksi bersihnya telah ditunjukkan sebelumnya. Indikator seperti difenilamin sendiri bersifat reduktor lemah; ia akan teroksidasi dan berubah warna menjadi ungu atau biru-violet hanya setelah semua Fe²⁺ dalam sampel telah habis teroksidasi dan ada kelebihan sedikit Cr₂O₇²⁻.

Teknik Preparasi dan Pengolahan Sampel: Stoichiometry Dan Titrasi: Kadar Seng Serta Kandungan Besi Dalam Sampel

Stoichiometry dan Titrasi: Kadar Seng serta Kandungan Besi dalam Sampel

Source: slidesharecdn.com

Sebelum titrasi yang elegan itu terjadi, sampel harus melalui proses ‘pembukaan’ yang kadang keras. Tujuannya satu: melepaskan ion seng atau besi dari matriksnya—entah itu bijih, alloy, pupuk, atau makanan—ke dalam larutan air sebagai ion yang siap dianalisis. Tahap ini seringkali menjadi penentu utama keakuratan hasil akhir.

BACA JUGA  Daftar Khalifah Setelah Nabi Muhammad dan Jumlahnya Selengkapnya

Destruksi dan Pelarutan Sampel Padat

Untuk sampel anorganik seperti bijih atau katalis logam, metode destruksi asam adalah yang paling umum. Sampel digerus halus, lalu dididihkan dengan asam kuat. Campuran aqua regia (HNO₃ : HCl = 1:3) sangat efektif melarutkan banyak logam, termasuk seng dan besi. Untuk sampel organik atau biologis yang mengandung logam, destruksi mungkin memerlukan asam kuat dan pemanasan tinggi, bahkan dengan bantuan microwave, untuk menguraikan matriks organik sepenuhnya.

Perbandingan Metode Preparasi Basah dan Kering

Dua pendekatan utama preparasi sampel adalah basah dan kering, masing-masing dengan kelebihan dan tantangannya.

  • Metode Basah (Destruksi Asam): Kelebihan: Lebih cepat, umumnya lebih sedikit kehilangan unsur volatil, dapat dilakukan pada suhu lebih rendah. Kekurangan: Memerlukan penggunaan asam korosif dalam jumlah besar, berpotensi kontaminasi dari reagen, perlu fume hood.
  • Metode Kering (Pembakaran): Kelebihan: Tidak menggunakan asam, relatif sederhana, baik untuk sampel organik dalam jumlah besar. Kekurangan: Memerlukan suhu sangat tinggi (400-1000°C), berisiko kehilangan logam yang volatil seperti seng, residu abu mungkin sulit larut sempurna, risiko kontaminasi dari crucible.

Set-Up Alat untuk Preparasi Sampel, Stoichiometry dan Titrasi: Kadar Seng serta Kandungan Besi dalam Sampel

Bayangkan sebuah labu destruksi Kjeldahl atau labu leher panjang yang terbuat dari kaca borosilikat. Labu ini ditempatkan di atas pemanas listrik atau pemanas pasir di dalam lemari asam (fume hood). Sebuah pendingin balik (condenser) dipasang vertikal pada leher labu untuk mencegah uap asam dan pelarut menguap keluar, sehingga mendorong refluks. Sampel dan asam dimasukkan ke dalam labu, lalu pemanasan dimulai.

Uap yang naik akan terkondensasi oleh pendingin dan menetes kembali ke labu, memastikan proses pelarutan/destruksi berlangsung efisien dan aman. Setelah larutan jernih dan tidak ada lagi residu, proses dihentikan dan larutan didinginkan sebelum diencerkan dan diproses lebih lanjut.

Aplikasi dan Interpretasi Data Hasil Titrasi

Setelah buret berhenti dan warna berubah, data mentah kita adalah volume titran. Seni sesungguhnya terletak pada mengubah angka itu menjadi sebuah cerita yang bermakna tentang sampel—sebuah laporan yang jelas, perhitungan yang teliti, dan interpretasi yang cerdas terhadap apa yang sebenarnya terjadi di dalam labu titrasi kita.

Penyusunan Laporan Hasil Analisis

Laporan yang baik tidak hanya menampilkan angka akhir. Ia harus menceritakan kembali seluruh proses secara sistematis. Struktur umumnya mencakup: Judul dan tujuan analisis, deskripsi sampel, metode dan prosedur singkat, data pengamatan (termasuk volume titran dari beberapa replikasi), contoh perhitungan lengkap, tabel hasil (rata-rata, standar deviasi), dan pembahasan singkat jika ada keanehan.

Contoh Perhitungan Paralel Seng dan Besi

Mari kita ambil data hipotetis dari dua analisis berbeda. Untuk Zn: Volume sampel 25.0 mL, [EDTA] = 0.01020 M, volume titran rata-rata = 12.45 mL. Untuk Fe: Massa sampel 0.5000 g, [K₂Cr₂O₇] = 0.1021 N, volume titran rata-rata = 14.80 mL.

Kadar Seng:
Mol EDTA = 0.01020 M × 0.01245 L = 1.2699×10⁻⁴ mol = mol Zn.
Massa Zn = 1.2699×10⁻⁴ mol × 65.38 g/mol = 0.008302 g.
Kadar = (0.008302g / (berat dalam 25mL)) × 100%. (Jika seluruh sampel 0.2g dilarutkan jadi 100mL, maka berat dalam 25mL = 0.05g). Kadar = (0.008302/0.05)×100% = 16.60%.

Kadar Besi (sebagai Fe):
Mekanisme: 1 mol K₂Cr₂O₇ (6 ekivalen) ≈ 6 mol Fe²⁺.
Ekivalen K₂Cr₂O₇ = 0.1021 N × 0.01480 L = 0.001511 ekiv.
Massa Fe = (0.001511 ekiv × 55.845 g/mol) / 1 (karena BM Fe = BE Fe untuk reaksi Fe²⁺→Fe³⁺) = 0.08438 g.
Kadar Fe = (0.08438 g / 0.5000 g) × 100% = 16.88%.

Interpretasi Hasil yang Tidak Biasa

Hasil yang jauh dari ekspektasi atau replikasi yang tidak presisi adalah sinyal untuk menyelidiki. Nilai yang terlalu tinggi bisa disebabkan oleh kontaminasi, titran yang lebih pekat dari seharusnya, atau titik akhir yang terlambat (over-titration). Nilai terlalu rendah mungkin karena sampel tidak larut sempurna, kehilangan sampel selama preparasi, titik akhir yang terlalu awal, atau adanya zat pengganggu yang ikut bereaksi. Perbedaan antar replikasi yang besar sering menunjuk pada teknik yang kurang konsisten, seperti pembacaan meniskus yang bervariasi atau penambahan titran yang tidak terkontrol.

Langkah Validasi Hasil Analisis

  • Melakukan analisis replikasi minimal tiga kali untuk menghitung presisi (standar deviasi).
  • Menggunakan bahan referensi bersertifikat (CRM) dengan matriks serupa untuk memeriksa akurasi.
  • Melakukan uji perolehan kembali (recovery test) dengan menambahkan sejumlah standar logam yang diketahui ke dalam sampel.
  • Membandingkan hasil dengan metode analisis lain yang telah divalidasi, jika memungkinkan.
  • Memastikan semua alat volumetrik (buret, pipet, labu takar) telah dikalibrasi.
BACA JUGA  Berapa Jumlahnya Memahami Makna dan Metode Penghitungan

Studi Kasus Terintegrasi: Analisis Dua Logam

Dunia nyata jarang menyajikan sampel yang hanya mengandung satu logam. Bayangkan menganalisis kuningan (alloy tembaga-seng) yang juga terkontaminasi besi, atau sampel limbah industri. Tantangannya adalah menentukan kadar seng dan besi secara akurat dalam campuran yang sama, di mana metode titrasi untuk satu logam bisa saja terganggu oleh kehadiran logam lainnya.

Skenario Analisis Sampel Campuran Seng dan Besi

Skenario: Sebuah sampel padat diduga merupakan campuran oksida seng dan besi. Tujuannya adalah menentukan persentase massa baik Zn maupun Fe total dalam sampel tersebut. Kompleksitasnya, EDTA akan mengikat kedua ion Zn²⁺ dan Fe³⁺ (atau Fe²⁺), sehingga titrasi langsung hanya akan memberikan total logam. Di sisi lain, titrasi redoks dengan dikromat hanya sensitif terhadap Fe²⁺.

Strategi Pemisahan dan Penentuan Selektif

Strategi yang mungkin adalah pemisahan selektif atau penentuan berurutan. Satu pendekatan klasik adalah mengendapkan besi sebagai Fe(OH)₃ pada pH tertentu (misalnya dengan pengaturan pH menggunakan buffer amonia), sementara seng tetap dalam larutan sebagai ion kompleks [Zn(NH₃)₄]²⁺. Endapan besi disaring, dilarutkan kembali dalam asam, dan ditentukan dengan titrasi redoks. Filtrat yang mengandung seng kemudian diasamkan untuk menghilangkan amonia, diatur pH-nya, dan dititrasi dengan EDTA.

Pendekatan lain adalah menggunakan masking agent: setelah titrasi total logam dengan EDTA, kita tambahkan fluorida (F⁻) yang akan mengikat Fe³⁺ membentuk kompleks sangat stabil [FeF₆]³⁻, sehingga melepaskan EDTA yang terikat Fe. EDTA yang dibebaskan ini kemudian dapat dititrasi dengan larutan standar ion logam lain (seperti Zn²⁺), yang ekivalen dengan jumlah besi dalam sampel.

Bagan Alir Prosedur Analisis Campuran

Berikut adalah bagan alir deskriptif untuk analisis sampel padat campuran Zn dan Fe:

  1. Preparasi Sampel: Timbang sampel → Destruksi dengan asam (HCl/HNO₃) → Panaskan hingga larut sempurna → Dinginkan → Encerkan dalam labu takar (Larutan Induk, S).
  2. Penentuan Besi Total (Fe): Pipet aliquote larutan S → Reduksi Fe³⁺ menjadi Fe²⁺ (dengan SnCl₂) → Titrasi dengan K₂Cr₂O₇ standar menggunakan indikator difenilamin → Hitung kadar Fe.
  3. Penentuan Seng (Zn) setelah Pemisahan Fe: Pipet aliquote larutan S lain → Atur pH dengan NH₃ hingga Fe mengendap sebagai Fe(OH)₃ → Saring, cuci endapan → Kumpulkan filtrat dan cucian (berisi Zn).
  4. Titrasi Seng: Asamkan filtrat → Atur pH ~10 dengan buffer amonia → Tambah indikator EBT → Titrasi dengan EDTA standar → Hitung kadar Zn.
  5. Pelaporan: Hitung % massa Fe dan % massa Zn berdasarkan berat sampel awal. Periksa massa balance (jumlah % mendekati 100% jika tidak ada logam lain).

Perbandingan Sensitivitas dan Selektivitas

Dalam sampel yang sama, sensitivitas dan selektivitas metode untuk Zn dan Fe sangat berbeda. Titrasi kompleksometri EDTA untuk seng sangat sensitif dan akurat, tetapi tidak selektif; ia akan mengikat hampir semua logam bervalensi dua atau tiga. Sebaliknya, titrasi redoks dengan dikromat untuk besi jauh lebih selektif karena hanya spesies yang dapat teroksidasi pada potensial tertentu (seperti Fe²⁺) yang akan bereaksi.

Namun, sensitivitasnya bergantung pada proses reduksi awal yang sempurna. Oleh karena itu, dalam campuran, analisis besi dengan redoks sering dapat dilakukan langsung setelah reduksi, sementara analisis seng hampir selalu memerlukan pemisahan atau masking dari pengganggu, terutama besi.

Kesimpulan

Jadi, perjalanan analisis dari konsep stoikiometri hingga titik akhir titrasi telah menunjukkan bahwa menentukan kadar seng dan besi adalah lebih dari sekadar rutinitas laboratorium. Ini adalah bentuk penerapan logika kimia yang elegan, di mana ketelitian dalam preparasi, pemahaman mendalam tentang mekanisme reaksi, dan kecermatan dalam perhitungan menyatu untuk menghasilkan data yang valid. Hasilnya bukan sekadar angka, melainkan sebuah cerita yang menjelaskan komposisi dan kualitas suatu materi.

Jawaban yang Berguna

Apakah metode titrasi untuk seng dan besi bisa digunakan untuk sampel biologis seperti darah atau urin?

Bisa, tetapi memerlukan preparasi sampel yang lebih kompleks. Sampel biologis harus melalui proses destruksi (misalnya dengan asam kuat) terlebih dahulu untuk mengurai matriks organik dan melepaskan ion logamnya sebelum dianalisis, karena metode titrasi konvensional umumnya untuk ion logam bebas dalam larutan.

Bagaimana jika sampel yang dianalisis warnanya pekat sehingga mengganggu pengamatan titik akhir titrasi?

Dalam kasus ini, dapat digunakan indikator instrumental seperti elektrode selektif ion atau pengukur pH untuk mendeteksi titik akhir secara potensiometri, sehingga tidak bergantung pada pengamatan visual perubahan warna.

Apakah EDTA dalam titrasi seng hanya spesifik untuk Zn²⁺ saja?

Tidak. EDTA mengikat banyak ion logam divalen dan trivalen. Oleh karena itu, jika dalam sampel terdapat logam pengganggu seperti Ca²⁺ atau Cu²⁺, diperlukan penambahan masking agent (agen pembentuk) atau pemisahan selektif terlebih dahulu agar titrasi menjadi spesifik untuk seng.

Mengapa dalam titrasi besi dengan K₂Cr₂O₇ sering digunakan indikator senyawa organik seperti difenilamin, bukan indikator yang lebih sederhana?

K₂Cr₂O₇ sendiri berwarna oranye, tetapi perubahan warnanya saat bereaksi dengan Fe²⁺ kurang tajam untuk diamati mata. Indikator redoks seperti difenilamin memberikan perubahan warna yang sangat jelas (dari tak berwarna menjadi biru tua/violet) pada titik ekuivalen, sehingga meningkatkan akurasi penentuan titik akhir.

Seberapa akurat hasil analisis titrasi ini dibandingkan dengan metode instrumentasi modern seperti AAS atau ICP?

Titrasi sangat akurat untuk analisis kadar makro (konsentrasi relatif tinggi >0.1%). Keunggulannya terletak pada kesederhanaan, biaya rendah, dan akurasi tinggi jika dilakukan dengan benar. Metode seperti AAS atau ICP lebih sensitif (dapat mendeteksi kadar mikro/trace), lebih cepat untuk banyak sampel, dan lebih spesifik, tetapi memerlukan instrumen yang mahal.

Leave a Comment