Ubah Kalimat Langsung menjadi Tidak Langsung itu seperti punya skill rahasia biar cerita kita nggak kayak robot yang cuma nge-repeat perkataan orang. Bayangin aja, lagi nulis novel, bikin laporan berita, atau sekadar ngerangkemin percakapan di meeting, pasti butuh banget trik yang satu ini. Tanpa kemampuan mengubah direct speech jadi indirect speech, tulisan kita bisa jadi kaku, bertele-tele, dan kehilangan alur yang enak dibaca.
Padahal, di balik perubahan kata ganti dan tanda baca itu, ada seni menyelaraskan suara orang lain dengan narasi kita sendiri.
Pada dasarnya, transformasi ini bukan sekadar mengganti “kata dia bilang”. Ini adalah proses rekonstruksi kalimat yang melibatkan pergeseran perspektif, penyesuaian waktu, dan modifikasi konteks. Ketika kalimat langsung yang diapit tanda petik diubah menjadi tidak langsung, kita melakukan lebih dari sekadar menghilangkan kutipan; kita mengintegrasikan ide, pernyataan, atau pertanyaan tersebut ke dalam alur cerita atau penjelasan kita dengan lebih halus dan kohesif.
Pemahaman mendalam tentang aturan pronomina, keterangan waktu, dan struktur verba menjadi kunci utamanya.
Pengertian dan Konsep Dasar
Source: slidesharecdn.com
Dalam menulis atau bercerita, kita seringkali perlu menyampaikan ucapan orang lain. Di sinilah kita berhadapan dengan dua pilihan: menuliskannya persis seperti yang diucapkan, atau menyaringnya kembali dengan kata-kata kita sendiri. Dua pilihan ini melahirkan konsep kalimat langsung dan kalimat tidak langsung. Memahami perbedaannya bukan sekadar urusan tata bahasa sekolah, tapi lebih pada kejelasan menyampaikan pesan.
Kalimat langsung adalah kutipan yang persis sama dengan ucapan asli, termasuk intonasi dan jedanya, yang ditandai dengan tanda petik. Sementara kalimat tidak langsung adalah bentuk pelaporan ulang dari ucapan tersebut dengan penyederhanaan struktur dan penyesuaian kata ganti. Fungsi utama kalimat tidak langsung adalah untuk merangkum, menyaring, dan mengintegrasikan ucapan seseorang ke dalam narasi kita tanpa harus memotong alur dengan kutipan yang panjang.
Ciri khasnya terletak pada hilangnya tanda petik, perubahan kata ganti orang, serta seringnya ditandai dengan kata penghubung seperti bahwa, untuk, supaya, atau agar.
Pergeseran Struktur Kalimat
Perubahan dari langsung ke tidak langsung mengikuti pola yang sistematis. Struktur dasarnya bergeser dari kutipan menjadi pernyataan pelaporan. Mari kita lihat sebuah contoh untuk memvisualisasikan pergeseran ini.
Langsung: Ibu berkata, “Aku akan pergi ke pasar besok pagi.”
Tidak Langsung: Ibu berkata bahwa ia akan pergi ke pasar besok pagi.
Pada contoh di atas, terlihat bahwa tanda petik menghilang, kata ganti aku berubah menjadi ia, dan kata penghubung bahwa digunakan untuk menyambungkan. Kata besok tetap karena pelaporan diasumsikan terjadi pada hari yang sama dengan ucapan.
Aturan Perubahan Pronomina dan Kata Ganti
Bagian ini adalah jantung dari transformasi kalimat. Perubahan kata ganti seringkali menjadi sumber kesalahan karena kita harus menempatkan diri pada konteks pelapor. Prinsip dasarnya adalah sudut pandang bergeser: ucapan yang semula dari si pembicara asli, kini dilaporkan oleh si pelapor. Kata ganti harus disesuaikan agar hubungan antar-pihak dalam cerita tetap logis.
Mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung itu kayak ngerangkai ulang cerita; intinya tetap, tapi struktur dan nadanya berubah. Nah, prinsip pergeseran konteks ini mirip banget sama cara kita menganalisis Konfigurasi Elektron, Golongan, dan Periode Nomor Atom 32 dan 46 —data dasarnya sama, tapi penyajian dan interpretasinya yang berbeda. Jadi, skill parafrase dalam linguistik dan kimia sama-sama butuh ketelitian untuk menyampaikan makna tanpa mengubah esensi.
Tabel Perubahan Kata Ganti Orang
Berikut adalah panduan praktis untuk mengubah kata ganti orang saat mengonversi kalimat langsung menjadi tidak langsung. Perubahan ini sangat bergantung pada siapa yang melaporkan dan kepada siapa ucapan itu ditujukan.
| Dalam Kalimat Langsung | Menjadi dalam Kalimat Tidak Langsung | Catatan Konteks |
|---|---|---|
| Saya, Aku | Ia, Dia, Nama orang, atau Anda | Menyesuaikan dengan subjek pelapor. Jika pelapor adalah si pembicara sendiri, bisa tetap “saya”. |
| Kamu, Anda, -mu | Saya, Nama orang, Ia, atau Kami | Bergantung pada siapa yang dilaporkan sedang diajak bicara. |
| Dia, Ia, -nya | Ia, Mereka, atau Nama orang | Biasanya tetap, kecuali ada ambiguitas. |
| Kami | Mereka atau Kami | Jika “kami” dalam ucapan tidak termasuk pelapor, berubah menjadi “mereka”. |
| Kalian | Kami, Mereka, atau Anda sekalian | Sangat tergantung pada posisi pelapor. |
| Mereka | Mereka | Umumnya tetap. |
Perubahan Kata Ganti Kepemilikan dan Kata Tunjuk
Selain kata ganti orang, kata ganti kepemilikan dan kata tunjuk juga mengalami penyesuaian. Kata seperti milikku, milikmu, miliknya mengikuti pola yang sama dengan kata ganti orang: milikku menjadi miliknya (jika bukan milik pelapor), milikmu menjadi milik saya/miliknya, dan seterusnya. Untuk kata tunjuk, prinsipnya adalah menyesuaikan dengan jarak dari si pelapor saat melaporkan. Kata ini, di sini cenderung berubah menjadi itu, di sana, di situ karena yang dirujuk sudah bukan lagi berada dalam konteks langsung saat ucapan diulang.
Contoh: “Bawa buku ini!” dilaporkan menjadi Dia menyuruh saya membawa buku itu.
Modifikasi Kata Kerja dan Keterangan Waktu
Waktu adalah elemen relatif. Apa yang “besok” bagi si pembicara asli, bisa jadi sudah menjadi “kemarin” atau “hari ini” bagi si pelapor. Oleh karena itu, keterangan waktu dan kata kerja yang terkait waktu harus diperbarui agar sesuai dengan momen pelaporan. Jika tidak, cerita akan menjadi kacau secara kronologis.
Tabel Perubahan Keterangan Waktu
Perubahan ini mengikuti logika “geser mundur” dalam waktu. Asumsikan ucapan terjadi di masa lalu, maka saat dilaporkan, semua acuan waktu bergeser ke masa yang lebih lampau.
| Keterangan dalam Kalimat Langsung | Menjadi dalam Kalimat Tidak Langsung |
|---|---|
| sekarang, saat ini | saat itu, pada waktu itu |
| besok, esok | besoknya, hari berikutnya |
| kemarin | sehari sebelumnya |
| hari ini | pada hari itu |
| lusa | dua hari setelahnya |
| nanti | setelah itu, kemudian |
Pergeseran Makna Kata Kerja dan Keterangan Tempat
Selain waktu, keterangan tempat seperti di sini dan di sana juga berubah. Di sini (tempat si pembicara) biasanya menjadi di sana atau di tempat itu dari sudut pandang pelapor. Kata kerja tertentu, terutama yang bersifat imperatif atau seru, juga mengalami pergeseran makna melalui penambahan kata kerja pelapor seperti menyuruh, meminta, atau menegaskan. Contoh, kalimat seru “Pergi!” dalam laporan menjadi Dia menyuruh saya untuk pergi. Makna perintahnya tetap, tetapi disampaikan secara lebih deskriptif.
Perubahan Tanda Baca dan Intonasi: Ubah Kalimat Langsung Menjadi Tidak Langsung
Perubahan dari kalimat langsung ke tidak langsung bukan hanya soal kata, tapi juga soal “rasa”. Hilangnya tanda petik secara visual menandai hilangnya suara asli si pembicara. Kita kehilangan intonasi tanya, seru, atau tekanan emosi yang mungkin ada dalam ucapan asli. Tanda seru (!) dan tanya (?) dalam kutipan lenyap, digantikan oleh titik (.) atau koma, dan makna pertanyaan atau perintah dibawa oleh struktur kalimat pelapor.
Dampak pada Intonasi dan Penekanan Makna
Dalam kalimat langsung, pembaca seolah-olah mendengar langsung suara si pembicara. Dalam kalimat tidak langsung, yang didengar pembaca adalah suara si pelapor yang sedang bercerita. Penekanan makna bergeser dari isi ucapan itu sendiri menjadi fakta bahwa ucapan itu terjadi. Efeknya, kalimat tidak langsung terasa lebih ringkas, terintegrasi dengan narasi, namun seringkali kehilangan nuansa emosional atau karakter dari pembicara asli. Misalnya, perbedaan antara ” Dia berteriak, ‘Aku benci kamu!’” dengan ” Dia mengatakan bahwa ia membenciku“.
Versi langsung jauh lebih dramatis dan penuh emosi.
Aplikasi dalam Berbagai Konteks Kalimat
Aturan perubahan ini diterapkan secara konsisten di berbagai jenis kalimat, baik pernyataan, pertanyaan, maupun perintah. Konteks kalimat menentukan kata kerja pelapor yang digunakan, seperti mengatakan untuk pernyataan, menanyakan untuk pertanyaan, dan menyuruh/meminta untuk perintah.
Contoh dalam Berbagai Jenis Kalimat, Ubah Kalimat Langsung menjadi Tidak Langsung
Pernyataan:
Langsung: Guru menjelaskan, “Matahari adalah pusat tata surya.”
Tidak Langsung: Guru menjelaskan bahwa matahari adalah pusat tata surya.
Pertanyaan:
Langsung: Ia bertanya kepadaku, “Kapan kamu akan pulang?”
Tidak Langsung: Ia bertanya kepada saya kapan saya akan pulang.
Perintah:
Langsung: Manager memerintahkan, “Selesaikan laporan ini sebelum jam lima!”
Tidak Langsung: Manager memerintahkan agar kami menyelesaikan laporan tersebut sebelum jam lima.
Tantangan dalam Mengubah Ungkapan dan Metafora
Tantangan terbesar muncul ketika kalimat langsung mengandung idiom, metafora, atau ungkapan khas. Dalam konteks jurnalistik atau akademik yang ketat, kita harus mempertimbangkan apakah metafora itu perlu dipertahankan atau dijelaskan makna denotatifnya. Misalnya, ucapan ” Dia bilang proyek ini ‘titanic’ banget“. Dalam kalimat tidak langsung formal, mungkin perlu diubah menjadi Dia menyatakan bahwa proyek tersebut diperkirakan akan mengalami kegagalan besar. Nuansa kiasannya hilang, tetapi makna informatifnya tersampaikan dengan lebih universal.
Latihan dan Evaluasi Mandiri
Teori tanpa praktik ibarat mobil tanpa bensin. Bagian ini dirancang untuk mengasah pemahaman dengan menerapkan semua aturan yang telah dibahas. Mulailah dari soal yang sederhana, lalu naikkan tingkat kesulitannya secara bertahap.
Soal Latihan Bertingkat
- Ubah kalimat langsung ini: Rina berkata, “Aku sangat lelah.”
- Ubahlah: Ayah bertanya, “Di mana kunci mobilku?”
- Transformasikan: Temanku berteriak, “Hati-hati, ada lubang di depanmu!”
- Ubah kalimat kompleks ini: “Besok kita akan rapat,” kata Direktur, “dan kamu harus menyiapkan presentasi.”
- Laporkan ucapan ini: Dengan galau, ia berbisik, “Apakah ini memang takdirku?”
Kunci Jawaban dan Tips Pemeriksaan
- Jawaban 1: Rina berkata bahwa ia sangat lelah. (Periksa: tanda petik hilang, ‘aku’ berubah menjadi ‘ia’, ditambah ‘bahwa’).
- Jawaban 2: Ayah bertanya di mana kunci mobilnya. (Periksa: tanda tanya hilang, ‘-ku’ berubah menjadi ‘-nya’, struktur menjadi pernyataan).
- Jawaban 3: Temanku berteriak agar saya hati-hati karena ada lubang di depan saya. (Periksa: inti peringatan diubah menjadi klausa dengan ‘agar’, ‘depanmu’ menjadi ‘depan saya’).
- Jawaban 4: Direktur mengatakan bahwa besoknya mereka akan rapat dan saya harus menyiapkan presentasi. (Periksa: dua kutipan digabung, ‘besok’ menjadi ‘besoknya’, ‘kita’ menjadi ‘mereka’ (asumsi pelapor bukan bagian dari ‘kita’), ‘kamu’ menjadi ‘saya’).
- Jawaban 5: Dengan galau, ia berbisik apakah itu memang takdirnya. (Periksa: tanda tanya hilang, ‘ini’ berubah menjadi ‘itu’, ‘-ku’ menjadi ‘-nya’).
Tips Memeriksa: Setelah mengubah, baca kembali kalimat tidak langsung Anda. Tanyakan: Apakah semua kata ganti sudah logis dari sudut pandang pelapor? Apakah keterangan waktu dan tempat sudah sesuai dengan konteks pelaporan? Apakah inti pesan dari ucapan asli tetap utuh tersampaikan? Jika jawabannya ya, kemungkinan besar transformasi Anda sudah tepat.
Kesimpulan
Jadi, menguasai teknik mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung itu ibaratnya memperlengkapi diri dengan pisau bedah untuk bedah kalimat. Hasilnya, kita bisa menyajikan informasi yang berasal dari berbagai sumber dengan lebih rapi, elegan, dan sesuai konteks tanpa kehilangan esensinya. Latihan terus-menerus dengan berbagai jenis kalimat kompleks, termasuk yang mengandung idiom atau metafora, akan mengasah insting kebahasaan kita. Pada akhirnya, skill ini bukan cuma untuk nilai ujian, tapi untuk membuat setiap tulisan kita—entah itu di blog, media sosial, atau laporan resmi—menjadi lebih berbunyi dan punya nyawa.
Tanya Jawab (Q&A)
Apakah semua kata kerja dalam kalimat langsung berubah saat menjadi tidak langsung?
Tidak selalu. Perubahan kata kerja, terutama tense, sangat tergantung pada konteks waktu pelaporan. Jika kata pengantar seperti “dia berkata” dalam bentuk lampau (past tense), maka kata kerja dalam kalimat tidak langsung seringkali “bergerak mundur” satu tense. Namun, jika yang dilaporkan adalah fakta umum atau kebenaran yang masih berlaku, perubahan tense bisa tidak diperlukan.
Bagaimana cara mengubah kalimat langsung yang berupa perintah atau permintaan?
Kalimat perintah dalam bentuk langsung diubah menjadi tidak langsung dengan menggunakan kata kerja seperti “menyuruh”, “meminta”, “memerintahkan”, diikuti oleh klausa yang diawali “agar”, “supaya”, atau “untuk” + kata kerja. Contoh: “Dia berkata, ‘Tolong tutup pintunya!'” menjadi “Dia meminta agar pintu ditutup.”
Nah, mengubah kalimat langsung menjadi tidak langsung itu intinya soal melaporkan ulang ucapan dengan struktur kita sendiri. Prinsip serupa berlaku saat kita perlu mengonversi satuan, misalnya menghitung 30 rim berapa lembar kertas—sebuah konversi faktual yang membutuhkan presisi. Dengan logika yang sama, dalam reported speech, kita wajib merekonstruksi pesan asli secara akurat tanpa mengubah makna dasarnya, sebuah keterampilan bahasa yang fundamental.
Apa yang terjadi pada kata seru atau interjeksi seperti “Wah!”, “Aduh!” dalam kalimat tidak langsung?
Kata seru biasanya dihilangkan atau diganti dengan deskripsi tentang perasaan si pembicara. Makna emosionalnya diintegrasikan ke dalam narasi. Misal, “Dia berteriak, ‘Wah, indah sekali!'” bisa menjadi “Dia berteriak dengan kagum bahwa pemandangan itu sangat indah.”
Apakah selalu perlu menggunakan konjungsi ‘bahwa’ dalam kalimat tidak langsung?
Tidak. Konjungsi “bahwa” umumnya digunakan untuk kalimat berita. Untuk kalimat tanya, digunakan “apakah” atau kata tanya lainnya. Untuk kalimat perintah, digunakan “agar/supaya”. Penggunaan “bahwa” bisa dihilangkan jika struktur kalimat sudah jelas tanpa merusak makna, membuat kalimat lebih efisien.